rara0894

All about TaeTiSeo and GG

11:11 Pt. 01

2 Comments

01 | TRY TO FORGET YOU

[M-V] 태연X제시카 TAENGSIC — “11-11”.mp4_000001592

 

 

Sometimes you have to learn how to let it go…

Tidak ada percakapan hanya ada rasa sedih mendalam yang tak terkatakan. Di atas kapal mereka berdiri dengan segenggam bunga di tangannya Taeyeon hanya diam menghormati perasaan kakaknya. Dia menaburkan bunganya di lautan lepas.  taeyeon melirik Jinwoo dan kembali fokus untuk menaburkan bunganya. Hanya dengan Taeyeon, kakaknya menunjukan sisi seperti ini. Sisi rapuhnya. Walaupun sebenarnya Taeyeon juga memendam rasa sakit yang hampir sama. sama menyakitkannya.

“Geumanhaera”

Taeyeon menepuk pundak Jinwoo dan memberikannya sebuah senyum tulus. Dia meyakinkan kakaknya. Dan, memberinya sebuah pelukan menenangkan.

“Tidak ada salahnya menumpahkan semua yang kamu pendam selama ini tetapi berjanjilah satu hal padaku bahwa setelah ini kamu harus kembali bahagia” Taeyeon melepaskan pelukannya. Jinwoo mengangguk dan menghapus air matanya. Berusaha terlihat tegar. Dengan sesenggukan dia telah menangis layaknya anak kecil. Air mata seorang pria dewasa tidak semudah itu jatuh begitu derasnya kecuali jika memang terlalu menyakitkan untuk di simpan.

Dan, melepaskan memang akan selalu jadi pilihan terbaik.

– 11:11 –

Tidak ada yang berbeda dengan langit Januari bulan ini. Salju kadang turun tak tepat waktu di saat aku berusaha menjauh sejauh-jauhnya. Salju masih turun terus-menerus membuat seisi kota menjadi rata dengan warna putihnya. Udara dingin begitu menusuk, suasana yang nyaman untuk bergulung dalam selimut seharian. Aku sangat lelah. Pada malam-malam yang jauh dan larut aku hanya bisa terjaga dengan menghabiskan semua energi untuk hal yang membuatku stress. Aku tidak bisa tidur selama dua hari ini dan sekarang kepalaku seperti mau pecah rasanya. Aku ingin sekali tidur. Udara yang dingin, tidak ada suara-suara apapun dari jalanan, tidak ada cahaya apapun yang menusuk mata, sempurna, waktu yang sempurna untuk tidur tapi aku tidak bisa. Hanya tidak bisa.

Dan lagi, semua ini pasti akan berlalu.

Untuk ketiga kalinya mataku kembali terbuka dengan sendirinya menatap langit-langit kamarku. Ada ratusan sticker warna-warni berbagai karakter melintang  di atas sana. Aku ingat itu, dia yang memasangnya. Dia bilang suasana kamarku terlalu murung apalagi ketika terbangun pada pagi hari dan menatap langit-langit kamar yang berwarna putih pucat. Walaupun di atas sana sekarang sudah penuh warna tetapi tetap ada sesuatu yang rasanya akan tetap sama. Tetap begitu dingin dan kosong.

Kupikir aku menyerah untuk berusaha kembali tidur. Benar-benar menyerah. Aku bisa melihatnya dengan jelas di setiap mimpiku bahkan dalam mimpi buruk sekalipun. biasanya aku tidak akan bisa mengingat mimpi yang aku alami setiap bangun tidur tetapi anehnya aku selalu bisa mengingat dia dengan jelas dan terasa amat nyata.

Beranjak berjalan ke arah jendela dan membuka tirai kamar. Menarik sebuah kursi, aku menempatkan diriku dengan menaikan kedua kaki di atas kursi dan merangkul lututku sendiri. Kondisi di luar amat dingin. Aku mengusap jendela kaca yang berembun, membuat lingkaran dengan ujung jariku, berusaha membuat sebuah celah untuk bisa melihat susana di luar. Menatap bangunan-bangunan yang berselimut salju dari atas. Putih. Semuanya putih dan terlihat mati. Mungkin aku tidak perlu menemui siapaun hari ini. Berdiam di rumah sendirian pasti akan jauh lebih baik. Aku selalu terkurung dari dunia manusia dan segala hiruk-pikuknya selalu berusaha nyaman dengan dunia kecil yang aku ciptakan sendiri. Hanya ditemani suara dentingan jam dinding yang teratur. Sungguh sepi.

When this time passes…

Will this break up be over?

Will I forget you?

Aku benci ketika mengingat kehangatan yang pernah hidup di kamar ini. Di sisi lain tempat tidur itu. saat aku selalu melihatnya tertidur. Tak pernah menyentuh dan tak pernah memiliki karena terlalu mencintai dan tenggelam terlalu dalam. Terbangun kembali karena hembusan napasnya yang hangat itu menerpa kelopak mataku. Saat membuka mata untuk pertama kalinya dan mendapati diri berada dalam sebuah pelukan yang erat. Ketika dia juga ikut terbangun karena mendengar suara detak jantungku yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Juga ketika dia- oh tidak, ini tidak bisa begini lagi. Aku tidak bisa memanggil semua memori itu kembali. Itu adalah kenangan yang manis. Masih manis, mungkin rasanya akan segera memudar seiring jalannya waktu.

Dan lagi, melupakannya adalah hal tersulit yang harus aku lakukan.

Everything finds its place and leaves

You took all of me and left…

Ginger masuk dari celah kecil pintu berlari dan berhenti tepat di bawah kakiku masih terus menggonggong dan berputar-putar mengeliling berusaha menangkap ekornya sendiri. Ginger tidak pernah seperti ini akhir-akhir ini. seharusnya dia tidak bertingkah seperti ini. Dia hanya seperti ini jika Tiffany datang.

Mungkinkah dia datang?

“Ginger-ah,”Aku meraih Ginger dan meletakannya di pangkuanku. Dia masih aktif dan berusaha memanjat bajuku. “Kamu rindu mommy?” aku berusaha membuat Ginger menghadapku. Begitu aku mengatakan ‘mommy’ dia mulai diam.

Aku mengerti, aku juga sangat rindu dia” anjing poodle itu masih menatapku. “Tetapi, mulai sekarang kamu harus terbiasa tanpa dia, okay?” dia mulai bergerak aktif lagi dan berusaha turun tetapi aku kembali mendiamkannya, dengan sedikit paksaan.

“Ginger-ah,”

“Aku tahu,  memang sulit tapi tidak apa-apa. Kita belajar sama-sama ya?” ujarku padanya. mungkin dia mengerti dan muai diam di pangkuanku lagi. Kami menatap pemandangan luar melalui jendela. Suasana sepi yang nyaman.

Tak berapa lama dalam kesunyian. Aku mendengar derap langkah. Seketika aku menoleh ke belakang. Ke pintu kamar yang masih terbuka. Tapi langkah itu masih terdengar. Aku memilih mengabaikannya. Namun ginger kembali mengongong begitu aku lengah dia langsung melompat meninggakanku. “Ginger-ah!” teriakku setengah malas. Mau tidak mau aku harus mengejar anjing itu kembali.

Aku berhenti melangkah ketika melihat siluet seseorang. Aku berjalan melewati ruang tamu dan membuat jalanku ke arah siluet itu tadi. Aku hanya berusaha membuat pemikiran bahwa aku hanya sedang berhalusinasi akan kehadirannya di sini karena aku terlalu banyak memikirkannya. dia hanya ada di alam pikiranku. Aku terus meyakinkan hal itu di kepalaku. Aku tidak tahu mengapa aku terus melanjutkan langkahku hingga sampai ke dapur. Rasa aneh kembali menghinggapi diriku, aku tidak tahu di sebut apa namanya ini yang jelas akal sehatku tidak ingin melihat ke dapur tetapi hatiku tetap membulatkan tekad untuk memeriksa dapur… Aku tidak tahu. Aku hanya benci ketika hatiku tidak sejalan dengan akal sehatku.

Tidak ada seorangpun di sini. Seperti dugaanku. Dia tidak ada di sana. Aku menurunkan pandanganku dan yang ada hanya anjing poodlee itu berada disana. Terdiam tanpa suara apapun.

“Aishh” desisku menatap raut muka anjing itu. Jika dia bisa bicara pasti dia akan berkata betapa malasnya dia behadapan dengan orang yang kelewat melodrama sepertiku yang masih berlarut-larut dalam kenangan.

“Kamu bilang kamu bisa hidup tanpa aku? Tch, pembohong”

Mendengar suara itu aku segera berbalik. Ginger langsung mengonggong dan kembali berlari mengeliling lagi. mengitari Tiffany. begitu Tiffany berjongkok Ginger langsung melompat ke arahnya. Tiffany bermain-main dengan anjing itu beberapa saat dan memberikan ginger tempat makanannya yang terisi penuh lalu dia mendongak menatapku, dari atas ke bawah lalu dari bawah ke atas dan menatap tepat pada mataku. Matanya begitu teduh ketika kami bertemu pandang.

“Lihat dirimu sekarang, kamu begitu menyedihkan Taeyeon”

Dia mencondongkan tubuhnya ke arahku, tubuhnya menekanku dan bibirnya hanya berjarak beberapa inci dari milikku. Tiffany menggengam kerah kemejaku kasar dan menariku dalam sebuah pelukan erat cukup menggeretakan tulang. Sesakit itu, aku tetap menyukainya. sebelum menempatkan sebuah kecupan ringan di pipi dan terakhir di bibirku. Aku sama sekali tidak sadar jika aku menahan tengkuknya, hanya karena aku ingin lebih lama merasakan bibir lembut dengan rasa strawberry miliknya.

“Sorot matamu itu tidak pernah berbohong. Aku tahu kamu memendam semua ini sendiri dan menyakitimu dirimu sendiri” ujarnya dengan nada amat rendah. Aku bisa merasakan sesuatu terbakar dari dalam diriku setiap aku menatap sepasang mata itu.

“Kamu tidak tahu apa-apa, Tiffany” elakku dan aku berusaha untuk menatap ke arah lain menghindari tatapan matanya aku mundur beberapa  langkah menjauh darinya.

“Berhenti menyakiti dirimu sendiri dan bertingkah seakan kamu adalah yang paling terluka di sini. Aku juga merasakan hal yang sama sepertimu” dia mendekat selangkah dan menangkup pipikku dengan kedua tangnnya dan melanjutkan kalimatnya, “Kita masih belum berakhir, aku menginginkanmu dan aku tak akan melepasmu semudah itu, tidakkah kita pantas untuk memperjuangkan hubungan kita?”

“Aku benci permusuhan, aku yakin jika kita terlalu memaksakan hubungan ini, itu bukanlah hal baik, ini bisa merusak hubunganku dengan keluargaku, merusak hubungan baik keluarga kita, merusak hubunganmu dengan appamu… ini terlalu rumit bagiku Fany-ah”

“Kau tahu kamu terlalu mengkhawatirkan banyak hal. Kamu tidak akan selamanya mengalah Taeyeon” Tiffany menatapku, tatapannya sendu.

“Tapi kita tidak akan pernah bisa, Tiffany.” dia dengan erat mencengkram pundakku.

“Siapa bilang? Kita bisa! Aku akan membatalkan semua ini sebelum terlambat. Aku dapat posisi lebih bagus di New York dan kita bisa memulai hidup kita sendiri di sana, Taeyeon-ah. Kau dan aku”

dia sudah tahu apa yang harus dia imajinasikan ketika kami membicarakan masa depan denganku. Kami sudah membicarakannya ratusan kali dan tidak pernah bosan dengan topik itu. kami telah membicarakan segala detailnya impian masa depan kami. aku juga tidak bisa mengendalikan diriku untuk berhenti memikirkan masa depan yang lain selain dengan dia. Dia segalanya bagiku…

Tetapi, bagaimana dengan Jinwoo?


 Author’s Note :

credit picture to its owner; holgacity

basicly, ini adalah songfict. sambil dengerin eleven eleven biar makin rileks dengerin suaranya mbak TT. did u guys prefer wattpad than wordpress?


 

Advertisements

Author: 히러니

Your freakin' author, find me on twitter @hireonie

2 thoughts on “11:11 Pt. 01

  1. haii.. ffnya pas banget ama keadaan gw skrg entahlah lagi nyari pelarian dengan baca ff tpi malah kayak kisah gw
    bedanya gk bakal bisa ke new york sih wkwkwk
    sorry jadi curhat
    tapi terkadang untuk disaat” tertentu memang harus mengalah🙂

Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s