rara0894

All about TaeTiSeo and GG

Remember Me (Chapter 20)

17 Comments

Title         : Remember Me

Author    : 4riesone

Genre      : Fluff, Romance, Yuri

remember me

Without You – Chapter 20

Keenam sekawan sedang makan siang bersama. Saat itu tetap satu bulan sebelum kuliah dimulai dan mereka memutuskan untuk bertemu. Mereka baru saja selesai makan dan Yuri memutuskan itu adalah saat yang tepat untuk berbicara pada teman-temannya mengenai kepergiannya ke Amerika untuk kuliah.

“Ini tidak lucu, Yuri-yah.” Tiffany cemberut.

“Maafkan aku. Aku juga terkejut saat melihat surat penerimaan dari universitas pagi ini,” Yuri menunduk.

“Dan aku kira kita bisa bersama-sama lagi,” Yoona menghela napas. “Pertama, kita tidak bisa bersamamu selama sekolah menengah kemarin. Kami benar-benar rindu kau berada di dalam tim kami, tahu. Rasanya sangat aneh tidak ada kau yang ikut bertingkah kkab bersama kami selama tahun-tahun terakhir ini. Kita selalu melakukannya bersama-selama untuk waktu yang lama. Tetapi lalu aku berpikir kalau kau akan kembali ke Seoul untuk kuliahmu jadi mungkin aku bisa bersama sahabatku kembali. Sekarang kalau kau pergi seperti ini, aku merasa aku akan kehilanganmu.”

Yuri pun tak elak merasa bersalah. “Hey, kau tidak akan kehilanganku, oke?” Dia memeluk wanita bertumbuh ramping itu dari samping. “Aku tidak pergi untuk selamanya. Ini hanya untuk kuliah saja. Aku akan kembali lagi dan aku berjanji untuk tetap berhubungan dengan kalian dan berkunjung selama musim panas.”

Yoona tidak membalas apapun.

“Aku minta maaf untuk segalanya. Tapi aku harus melakukan ini untuk masa depanku. Aku juga akan kembali lagi suatu hari nanti tapi tidak sebelum aku mendapatkan semua pengetahuan dan pengalaman yang aku butuhkan. Walaupun otakku tidak bekerja seperti orang normal, tapi aku juga memiliki mimpi, Yoona-yah. Seperti Fany, seperti Taeyeon, seperti Sooyoung, seperti Sica, dan kau… seperti kita semua. Kumohon?”

Yoona menarik nafas dalam. “Yeah, aku tahu. Maaf telah bersikap egois. Hanya saja aku sangat merindukanmu.

Yuri tersenyum. “Tentu saja. Aku juga merindukanmu, choding.” Dia mengusap rambut gadis bermata bulat itu.

“Hey jangan pegang-pegang!!” Yoona membebaskan dirinya dari gadis berkulit kecoklatan itu dan memberikan tatapan garang.

Yuri tertawa melihatnya. “Aku sangat merindukanmu. Aku juga rindu kita bersama.”

“Yeah, aku pikir kuliah akan benar-benar asyik. Tetapi aku tidak pernah menyangkan perpisahan akan seberat ini.”

Yuri meremas tangan sahabatnya itu. “Aku tahu. Aku juga merasakannya. Tapi kurasa inilah hidup. Ada pertemuan da nada perpisahan. Tapi kau pasti tahu kalau tidak peduli dimanapun kita berada, kita masih akan tetap memiliki satu sama lain, yak an? Walaupun aku tidak bersama kalian selama tahun-tahun terakhir ini, tapi kalian tetap penting bagiku. Aku tidak akan pernah mau kehilangan kalian satupun, selamanya.” Dia menatap Yoona sebelum beralih kepada temannya yang lain.

Yoona memandang balik Yuri dengan mata berlinang air mata dan tersenyum. “You are so cheesy! Ugh…” Dia berpura-pura bergidik. “Tapi aku juga merasakan hal yang sama denganmu.” Dia tersenyum dan mengusap matanya yang basah.

“Good luck, Yuri-yah. Kami akan selalu mendukungmu dari sini,” ujar gadis berkacamata.

“Yeah, walaupun ini benar-benar mengejutkan, tapi kau mendapatkan dukungan penuh dariku,” Sooyoun menambahkan.

“Pastikan kau akan menghubungi kami sering-sering. Atau aku akan menghantuimu.” Tiffany memperingatkan dengan nada bercanda.

“Yes, Mam! Tentu.” Yuri tertawa dan memberikan hormat.

Di sisi lain, ada satu orang yang diam saja dari tadi. Dia sedang memandangi Yuri yang sedari tadi berbicara. Dia melihat Yuri melirik ke arahnya ketika masih berbincang-bincang dengan yang lain. Dia menatap kedua mata itu selama beberapa detik sebelum memalingkan mukanya.

“Hey guys,” dia memanggil semuanya. “Aku pulang duluan. Aku merasa tidak enak badan tiba-tiba.”

Semuanya berhenti berbicara dan mengalihkan pandangan mereka pada gadis itu, bertanya-tanya tentang sikapnya yang tiba-tiba itu.

Namun dia tidak merasa perlu menjelaskan. “Aku akan bertemu kalian lagi lain waktu, oke?” Dia berdiri dan mengambil tasnya. “Bye.” Dia berjalan keluar dari café, meninggalkan semua temannya dalam kebingungan.

***

Buzz.

“Ya sebentar!” Gadis itu beranjak dari sofa. Dia terkejut saat melihat wajah yang dia kenali dengan baik muncul di layar. Dia cepat-cepat membukakan pintu untuk tamunya tersebut.

Semenit kemudian, Jessica sudah berdiri di pintu masuk rumahnya. “Hey, Yuri-yah.”

“Hey, apa yang kau lakukan disini? Apa kau datang sendiri? Umma sedang memasak makan malam, kau tepat waktu sekali!” Dia berbicara dengan keriangannya seperti biasa, mengisyaratkan temannya itu untuk masuk.

“Uhm…apa kau sibuk? Apa kita bisa…jalan sebentar atau semacamnya?” Jessica ragu, tidak bergerak dari tempatnya.

“Huh?” Yuri bingung dengan sikap Jessica. “Yah, aku sebenarnya sedang sibuk mempelajari seni remote control TV…kau tahu, liburan dan semacamnya…” Dia berusaha untuk membuat lelucon tetapi Jessica tidak bereaksi. Dia pun menghela nafas. “Hmm…Baiklah. Aku akan bilang pada Umma dulu.”

Beberapa menit kemudian dan mereka sudah berjalan keluar walaupun Yuri tidak tahu kemana mereka akan pergi. Jessica tidak bicara apapun dan dia pun tidak tahu ada apa dengan temannya itu.

Tanpa disadari mereka pun sudah mencapai pinggir sungai. “Wow! Aku tidak tahu kalau sungai ini akan terlihat indah di malam hari!” Dia berbicara pada temannya yang sunyi senyap.

 Ketika Jessica masih saja tidak memberi respons padanya, Yuri tidak lagi dapat menahan rasa penasarannya. “Sica! Sadarlah!” Dia mengayunkan tangannya di depan wajah temannya itu. “Kau sudah menculikku dan membawaku berjalan sejauh ini, terpisah dari makanan umma yang enak, dan kau tidak berbicara sepatah katapun padaku!”

Jessica menatapnya selama satu detik sebelum menarik nafas dalam dan memalingkan muka, ke arah sungai. “Maafkan aku, Yuri-yah. Aku juga tidak tahu kenapa aku melakukan ini.”

“Huh? Kau menculikku tanpa alasan? Come on, Sica. Aku tahu ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiranmu saat ini. Kau tahu kan kalau kau bisa menceritakan apapun padaku.” Gadis yang lebih tinggi itu memeluk temannya dari samping. Tapi kemudian dia merasakan temannya sedikit bergesar menjauh darinya, sesuatu yang tidak biasa terjadi.

“Ada apa, Sica-yah?” Yuri memutuskan untuk melepaskan pelukannya.

“Kenapa kau pergi?”

“Huh?! Oh…Oh! Itu…” Yuri gelagapan.

Jessica pun menunggu.

Yuri menjauhkan tatapan matanya dari Jessica. “Ini untuk masa depanku, Sica. Ini akan memberikanku karir yang lebih baik. Dan aku tidak mungkin menolak tawaran yang bagus seperti ini, kan?” Dia menoleh ke arah Jessica, menunggu gadis itu untuk memberi respons. Dia kembali melanjutkan saat gadis berambut coklat itu tidak juga mengatakan apapun. “Aku tahu ini memang sangat tiba-tiba untukmu, dan percayalah padaku, ini juga tidak mudah untukku. Tapi aku akan mencoba untuk tetap berhubungan dengan kalian semua. Jadi aku mohon kau tidak perlu khawatir.” Yuri tersenyum.

Anehnya, ekspresi Jessica tetaplah sama. Sebenarnya, Yuri merasakan kalau ekspresinya entah bagaimana berubah menjadi lebih sedih. Dia semakin bingung saat ini. Helaan nafas terdengar dari mulutnya. “Apa yang sebenarnya ada dalam pikiranmu, Sica? Beri tahu aku.”

Jessica menatap balik pada gadis yang lebih tinggi darinya itu dan ekspresinya tidak bisa terbaca. “Bagimu aku ini apa?”

Untuk kesekian kalinya malam itu, Yuri tercengang dengan perkataan temannya dan harus menahan dirinya sendiri untuk kembali mengucapkan ‘Huh?’

“Pertanyaan macam apa itu, Sica?! Tentu saja aku ini adalah sahabatmu! Kau tahu itu! Walaupun kau ini tukang tidur dan punya tatapan tajam mematikan, tapi kau tetaplah sahabatku. Yang terbaik yang bisa aku bayangkan.” Dia tersenyum dan memeluk temannya, tetapi terkejut ketika mendengar suara isakan. Dia melepaskan pelukannya dan menatap gadis yang menangis di depannya. “Hey, jangan menangis. Walaupun kita akan terpisah ribuan mil, tapi aku tetaplah sahabatmu, Sica. Kau akan selalu menjadi sahabatku. Tidak peduli apapun.”

Jessica memalingkan wajahnya dan mendorong Yuri sedikit.

“Apa yang sebenarnya terjadi, Sica? Kenapa kau menangis? Kenapa kau menanyakan semua ini padaku? Dan kenapa barusan kau mendorongku? Apa yang telah aku lakukan? Apa yang telah aku katakan?” Yuri mencengkeram lengan temannya itu.

“Tidak ada apa-apa. Lupakan saja. A-aku…” Jessica tidak mampu menyelesaikan kalimatnya. “Aku minta maaf. Maaf, aku rasa aku hanya merasa sedih memikirkan kalau kau akan pergi meninggalkanku…” Dia mencoba untuk menjelaskan. “Aku akan merindukanmu.”

Yuri tahu Jessica masih belum menceritakan segalanya padanya tetapi dia tidak ingin memaksa gadis itu. “Aku juga akan sangat merindukanmu, Sica.” Dia memeluk erat Jessica.

***

Jessica belum pernah menangis sederas malam itu sejak hari dia putus dengan Yuri lebih dari dua tahun yang lalu. Dia merasa lemah dan sakit teramat dalam. Dia mengeluarkan segalanya malam itu, dia menangisi isi hatinya sekeras mungkin. Tanpa peduli jika matanya akan bengkak keesokan harinya atau jika orang tuanya akan bertanya-tanya. Hatinya terlalu sakit untuk merasakan hal lain.

Dia berpikir kalau dirinya akan merasa lebih baik dengan menjauhkan diri dari Yuri, membatasi kontak mereka. Tetapi ternyata dia salah. Hal itu hanya membuatnya menjadi lebih menderita. Itu seperti sebuah siksaan baginya. Dia hanya merasa lebih merindukan Yuri lagi. Betapa dia rindu mendengarkan candaan Yuri, jahilan-jahilan Yuri dan semua tingka anehnya. Dia merindukan percakapan mereka. Dia merindukan mereka. Dan dia tidak bisa merasakan kebahagiaan seperti yang dulu dia rasakan.

Keputusan untuk menerima Sukjin adalah suatu kesalahan lainnya. Pada saat itu, dia berpikir kalau mungkin jika dia berpacaran dengan orang lain, itu akan membantunya untuk melupakan perasaannya terhadap Yuri. Nyatanya yang terjadi adalah sebaliknya. Dia tidak bisa berhenti membandingkan Sukjin dengan Yuri. Dia akan mengingat masa-masa bahagia mereka bersama dulu. Dan dia tidak pernah merasa bahagia di samping Sukjin. Hubungan mereka tidak bertahan lama, hanya berjalan selama kurang lebih dua bulan.

Lalu dia harus mendengar berita mengejutkan dari Yuri. Dia akan meninggalkan mereka, meninggalkan dirinya, terbang ribuan mil dari Seoul. Untuk waktu yang lama. Hal itu menghancurkan dinding pertahanan di dalam dirinya. Semua rasa takut mengisi hatinya. Bagaimana jika tidak bisa bertemu dengan Yuri lagi?

Dia benar-benar sudah kehilangan akalnya ketika dia berdiri di depan rumah Yuri dan membunyikan bel. Dia sangat merindukan Yuri dan ingin melihat wajahnya lagi, mendengar suaranya lagi, berbicara dengannya lagi. Tetapi ketika akhirnya dia bisa melihatnya lagi, dia tidak melakukan apapun. Dia menhan dirinya untuk mengucapkan kata-kata yang paling ingin dia katakana, untuk melakukan hal-hal yang ingin dia lkaukan. Karena dia tahu, jika dia membiarkan dirinya, dia akan menjadi egois. Dia akan kehilangan ketetapan hatinya dan mulai melakukan hal-hal gila. Dia tidak akan pernah membiarkan Yuri pergi, walaupun dia tahu dia tidak seharusnya melakukan hal itu.

Kemudia kata-kata Yuri seperti sebuah akhir untuknya. Untuk berhenti bermimpi. Untuk berhenti berharap.

Yuri hanya menganggapnya sebagai sahabat, seperti yang dia janjikan beberapa tahun yang lalu. Seorang sahabat. Itu seperti sebuah jawaban final, akhir dari semua penantian dan pengharapan yang telah dia pergumulkan selama bertahun-tahun. Dia dan Yuri akan tetap menjadi sahabat dan hanya sahabat. Karma yang sangat dia benci.

Mungkin setelah semua waktu tanpa adanya kontak fisik maupun nonfisik dengannya, Yuri mulai kehilangan perasaannya terhadap Jessica. Juga dengan adanya orang-orang baru yang dia temui di sekolah dan kota tempatnya berada saat ini, tidak aneh jika Yuri tidak menyukainya lagi.

***

4 tahun kemudian…

“Ayolah, Sica.” Tiffany menarik tangan sahabatnya.

“Tidak.” Jessica tidak bergeming. “Aku lelah. Kalau kau luma, bulan ini benar-benar melelahkan.” Dia membicarakan tentang kesibukannya dalam mempersiapkan drama yang akan datang.

Setelah beberapa kali bermain di drama sekolah dan universitas, Jessica sekarang akan melakukan debut musikalnya di drama musikal Korea adaptasi dari Legally Blonde. Dia telah dipilih sebagai pemeran utama wanita dan akan memainkan peran sebagai Elle Woods. Drama musical itu sendiri akan dimulai kurang dari dua minggu lagi dan membuatnya benar-benar sibuk latihan, terutama selama satu bulan terakhir. Dia ingin menampilkan yang terbaik pada drama ini, oleh karena itu dia mendedikasikan lebih banyak waktu dan usaha untuk melatih semuanya lagi.

Tiffany berhenti menarik dan melepaskan tangan Jessica. “Aku tahu itu. Itulah kenapa kau butuh untuk keluar, bersenang-senang dan bersantai sedikit. Kau terlalu stress akhir-akhir ini.”

“Aku hanya butuh tidur untuk menghilangkan stressku.” Jessica pergi ke dalam kamarnya. “Aku rindu kasurku.”

“Kau sudah menghindari orang-orang terlalu lama, Sica.” Tiffany duduk di kasur sahabatnya itu.

“Aku tidak menghindari orang-orang.” Dia membuka lemari pakaiannya dan mengambil sepasang piyama baru. “Aku bekerja dengan artis lain dan juga para staff.”

“Di tempat kerja? Ya. Kemudian kau akan langsung pulang ke rumah dan menumpuk rasa stressmu,” Tiffany mengungkapkan. “Waktunya bagimu untuk pergi ke luar sana dan bersosialisasi, Sica. Kau akan bersenang-senang. Percaya padaku.”

“Aku terlalu dongkol untuk bersosialisasi. Pergi saja dan bersenang-senang sendiri.”

“Ayolah, Sica. Kita belum berkumpul untuk waktu yang cukup lama. Mereka merindukanmu dan Taeyeon juga ingin mengenalkan juniornya. Ingat Seohyun? Kau sudah berjanji kalau kau akan menemuinya.” Tiffany masih belum menyerah.

“Kalau begitu besok saja kita makan siang atau apapun. Aku pulang latihan lebih cepat dengan satu tujuan: untuk beristirahat. Di rumah.” Jessica keluar dari kamarnya untuk pergi mandi.

Tiffany cepat-cepat menghalangi jalan Jessica, bersandar di depan pintu kamar mandi. “Hanya sebuah makan malam kilat. Hanya itu, Sica. Lalu kau bisa kembali lagi memeluk kasurmu selama yang kau mau.”

“Aku mau kasurku sekarang juga,” balas wanita berambut coklat itu tidak tertarik.

“Ayolah, Sica. Mumpung mereka semua ada waktu. Setahuku Sooyoung harus pergi ke luar kota besok jadi kita tidak bisa makan siang.

Jessica menghela napas. “Seberapa cepat makan malam kilat ini?” Dia merasa sedikit bersalah karena sudah mengabaikan teman-temannya untuk waktu yang lama.

“Dua jam. Max. Aku janji.” Tiffany mengangkat telapak tangannya. “Aku sudah membuat reservasi sehingga kita tidak perlu menunggu untuk mendapatkan meja.”

“Dimana?”

“Restoran favoritmu.” Tiffany menyeringai senang.

Jessica menghela napas dengan keras. “Baiklah. Dua jam dan aku keluar dari sana.” Dia memperingatkan sahabatnya, menatap tajam sambil menunjuknya.

Tiffany mengambil piyama dari tangan Jessica, melemparkannya ke sofa dan menarik Jessica ke pintu keluar. “Aku bahkan akan membelikanmu makanan penutup.”

Jessica memutar bola matanya. “Menurutmu aku ini segampang itu?” Dia meraih tasnya dalam perjalanan keluar rumah.

***

Yuri tidak bisa berhenti tersenyum saat melihat kamarnya. Dia benar-benar berlari ke kasurnya dan melompat kesana. “Kasurku!”

Kakak Yuri berjalan masuk dan meletakkan koper adiknya itu di samping dinding dan tasnya di atas koper.

“Apa kau yakin kau sudah 22 tahun? Kau terlihat seperti anak 4 tahun bagiku,” komentar pria itu.

Yuri tidak membalas apapun. Dia sekarang sedang memeluk boneka Mickey Mousenya. “My Mickey!!”

Kakak Yuri terkekeh sebelum menghampiri tempat tidur dan duduk disana.

“Merindukanku, Oppa?” Yuri bertanya dari balik Mickeynya.

“Tidak.” Dia menunjukkan ekspresi datar.

“Apa kau yakin?” Yuri menunjukkan mata puppynya.

Kakak Yuri mendecak. “Adik macam apa kau ini? Kau hanya meneleponku tiga kali tahun ini.”

“Aww, jangan cemberut begitu, Oppa. Aku minta maaf. Kau tahu betapa gilanya proyek akhir itu. Ditambah tes tiada akhir dari si professor botak itu.”

“Kau dan obsesimu dengan professor botak,” dia mengacak-acak rambut adiknya.

“Yah!” Yuri mendorong tangan kakaknya. “Jangan macam-macam dengan rambutku! Dan aku tidak terobsesi dengannya. Dia adalah musuh terbesarku!! Dia membuatku menderita di tahun terakhirku.”

Kakak Yuri tertawa. “Aku tahu, aku tahu. Kau sudah mendeklarasikan kebencianmu padanya sebelumnya.”

“Nah, itu.” Yuri menyeringai.

“Geez, adikku ini.” Pria itu mengetok kepala Yuri dan menariknya dalam pelukan erat.

“Yah! Menjauh dariku!” Yuri mendorong kakaknya menjauh.

Pria itu tertawa sambil melepaskan Yuri. “Aku senang kau akhirnya kembali, Yuri-yah. Apa kau akhirnya rindu rumah setelah empat tahun?”

“Tentu saja aku rindu rumah, Oppa. Berat tinggal sendirian di negara orang.”

“Meskipun begitu kau hanya meneleponku tiga kali tahun ini.”

“Yah! Oppa! Aku sudah minta maaf kan? Dan aku akan lebih rindu rumah lagi jika aku menelepon terlalu sering.”

Kakak Yuri tertawa melihat ekspresi panik adiknya. “Hanya bercanda, bodoh.” Dia mengetok kepala Yuri kembali.

Yuri mencebil. “Lihat kan? Inilah kenapa aku tidak pernah memiliki nilai bagus di sekolah. Oppaku sendiri menganiaya otakku setiap hari.”

“Kau berlebihan.”

Yuri menunjukkan merongnya dan diikuti suara kekehan dari kakaknya.

“Ngomong-ngomong, bagaimana pemeriksaan terakhirmu?” Dia bertanya lagi.

“Semuanya baik-baik saja, Oppa.” Yuri tersenyum.

“Syukurlah kalau begitu.”

“Yeah, aku tahu. Aku sangat beruntung.” Yuri menyeringai lebar.

“Iya benar. Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?” Pria itu bertanya, membaringkan tubuhnya di atas kasur Yuri.

“Aku akan mencari pekerjaan, tentu saja. Tetapi sekarang, ada hal yang harus aku lakukan terlebih dahulu.”

Kakak Yuri menoleh dan melihat Yuri sedang menatap handphonenya dengan senyuman terulas di wajah. “Apa itu?”

“Aku harus menemui seseorang. Seorang teman baik.”

***

Tiffany melambai pada dua gadis di pojok restoran. “Taeyeon-ah, Seohyun-ah.” Kedua gadis itu menoleh ke arah sumber suara dan balas melampai pada gadis yang tersenyum itu.

“Maaf, sulit untuk meyakinkan putri tidur ini untuk keluar dari kandangnya,” canda Tiffany setelah memeluk mereka berdua.

“Tidak apa, Fany-ah. Aku lega kau masih hidup,” Taeyeon tertawa.

“Aku bisa mendengarmu,” ujar Jessica datar yang membuat pasangan itu semakin tertawa terbahak-bahak. Dia memutar matanya dan mengambil tempat duduk, diikuti oleh yang lainnya.

“Bercanda, Sica-yah. Oh ya, kenalkan ini Seohyun-ah,” Taeyeon menunjuk pada gadis yang tersenyum. “Juniorku dan sekaligus fanmu yang aku bicarakan sebelumnya.

Gadis berambut panjang itu berdiri dan menunduk sopan. “Senang bertemu denganmu, Jessica unnie,” dia tersenyum malu-malu.

“Hi, Seohyun-ah. Panggil saja aku Sica.” Dia balas tersenyum pada gadis yang paling muda itu.

“Baik, Je—Sica unnie.” Seohyun cepat-cepat memperbaiki kata-katanya setelah melihat pelototan Jessia.

“Jangan menakutinya, Sica. Dia hanya bersikap sopan,” Tiffany setengah bercanda. “Dan jangan khawatir, Seohyun-ah. Walaupun dia mungkin terlihat dingin dan bossy dan tatapannya bisa membekukanmu di tempat…Oww…” Jessica memukul lengan Tiffany, “…tapi dia itu selucu dan semanis Hello Kitty saat kau sudah mulai mengenalnya. Ouch! Hey!” Pukulan lainnya mendarat di punggung Tiffany.

Seohyun pun tidak bisa menahan tawanya.

“Jangan pikirkan dia. Terkadang dia bicara terlalu banyak,” kata Jessica. “Dan santai saja denganku.” Dia tersenyum lagi.

Gadis muda itu mengangguk.

“Jadi dimana para shikshin? Mereka tidak pernah terlambat kalau urusan makanan,” Jessica bicara lagi.

“Mungkin macet,” Tiffany mengangkat bahu. “Mereka tidak bilang apa-apa pada kami juga.”

“Hmm, baiklah. Kita tunggu saja mereka dulu kalau begitu.”

Tak lama kemudian, lampu tiba-tiba saja padam.

“KYAAAAA!!!!!” Jessica mengeluarkan teriakan lumba-lumbanya dan memeluk orang yang terdekat dengannya.

Ternyata itu adalah Seohyun. “Unnie? Apa kau baik-baik saja?”

“Maaf, Seohyun-ah. Aku terkejut. Apa yang terjadi?”

“Aku rasa lampunya mati.”

Jessica menghela nafas. “Apa yang harus—“

Dia belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika dia melihat sebuah sumber cahaya datang mendekat padanya dan suara teman-temannya menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun. Dia tercengang.

Lampu kembali menyala dan tampaklah sebuah kue ulang tahun beserta empat temannya mengelilingi.

“Happy Birthday, Sica-yah!!!” Mereka berteriak bersama-sama.

“Happy Birthday, Sica unnie,” Seohyun menambahkan kemudian.

Sebenarnya, hari itu adalah hari ulang tahun Jessica dan sahabat-sahabatnya menyiapkan kejutan ini untuknya. Jessica sendiri tidak ingat kalau hari itu adalah hari ulang tahunnya karena terlalu memikirkan dramanya. Dia bersyukur sahabatnya ada disana untuk merayakan ulang tahun bersama-sama dengannya. Dia begitu tersentuh dan menangis karenanya.

“Jadi kau akan pergi kemana besok?” Jessica bertanya pada temannya yang bertubuh tinggi sambil menyeruput minumannya. Kejutan ulang tahun dan makanan yang sedap telah berhasil mengangkat moodnya. Juga kehadiran para sahabatnya ini yang menciptakan atmosfir yang sangat nyaman dan santai sangatlah membantu. Jauh di dalam lubuk hatinya, dia bersyukur Tiffany bersikukuh untuk membawanya keluar dari rumah.

“Huh? Apa? Pergi kemana?” Sooyoung mengelap mulutnya yang belepotan kue.

“Fany bilang kalau kau akan pergi keluar kota besok.” Jessica memicingkan matanya pada gadis bermata indah itu penuh curiga.

Sooyoung menatap Tiffany yang sedang memberikannya sinyal-sinyal aneh melalui ekspresi wajah yang bermacam-macam. “O-oh! Itu! Yeah! Aku…err…” Dia mencoba untuk memikirkan satu alasan.

Jessica memutar bola matanya. “Kau tahu kau tidak bisa berbohong, shikshin.” Dia kemudian memelototi Tiffany yang berpura-pura tidak bersalah sambil memakan kuenya. “Yah!”

“Hmm?” Tiffany mendongak seolah-olah dia tidak tahu Jessica akan segera memarahinya. “Apa?”

“Kau bohong!?”

“Aku harus melakukannya. Kau tidak akan pergi jika aku tidak bilang seperti itu. Kami tahu kau sangat stress akhir-akhir ini jadi daripada merayakan ulang tahunmu di rumahmu seperti biasa, kami pikir di luar akan lebih baik. Kau butuh suasana lain.”

“Aku setuju, Sica,” si gadis berkacamata tiba-tiba berbicara. “Aku rasa kau telah mengisolasi dirimu terlalu lama.”

Sooyoung dan Yoona mengangguk setuju.

“Lihat?” Tiffany menjadi bersemangat setelah mendapat dukungan penuh.

“Kau akan segera menjadi biarawati jika kau terus-terusan menolak untuk pergi keluar,” goda Sooyoung.

“Sekarang kau juga single, Soo,” Jessica mengejek dan meneguk minumannya lagi.

Yoona tidak dapat menahan tawanya. “Itu tidak benar, Sica-yah.”

“Apa?!” Jessica hampir tersedak minumannya. Seohyun di sampingnya segera membantu menepuk punggungnya. “Tidak apa, Seohyun-ah,” ujarnya setelah terbatuk-batuk beberapa kali. “Benarkah itu?” Dia melirik ke arah Yoona lalu Sooyoung.

“Kau belum mengatakan apa-apa pada kami Soo,” Tiffany menambahkan.

“Siapa lagi orang tdak beruntung ini?” canda Taeyeon.

“Yah! Kau pikir aku ini apa?” Gadis bertubuh tinggi itu melempar selembar tisu pada Taeyeon yang tertawa puas. “Dan ini tidak benar. Jangan dengarkan choding satu ini.”

“Jangan bohong, Soo. Aku melihatnya,” Yoona menyeringai jahil.

“Apa yang kau lihat? Beri tahu kami.” Tiffany terdengar sangat tertarik.

“Dia dan pacarnya. Mereka tertawa-tawa dan menggodai satu sama lain dengan wajah senang. Lalu aku melihat gadis pendek itu memeluk Sooyoung, dan percayalah padaku, shikshin satu ini tersipu sangat merah!” Yoona menjelaskan dengan penuh antusias sambil menunjuk Sooyoung.

“Benarkah!! Wow. Selamat, Soo!” Tiffany menepuk punggung Sooyoung dengan riang. “I never think you will swing that way, but I’m still happy for you,” dia menunjukkan senyuman hingga ke matanya.

“Yah! Yah! Choding! Jangan menyebarkan gossip. Dia itu hanya teman.”

“Sekarang teman. Nanti pacar,” komentar Taeyeon.

“Yah, jangan kau juga, Tae!” Sooyoung cemberut.

Mereka semua tertawa melihat Sooyoung, termasuk Jessica. Rasanya menyenangkan untuk tertawa bersama dengan sahabat-sahabat yang tidak pernah gagal untuk bersikap jenaka. Dia tidak pernah berpikir Sooyoung akan menyukai seorang perempuan juga. Bagaimanapun juga, di masa lalu dia selalu mengagumi dan menyukai pria berparas tampan.

“Teman atau bukan teman, kami senang untukmu, Sooyoung-ah,” Jessica tersenyum pada temannya yang sedang cemberut, yang pelan-pelan sudah tidak cemberut lagi.

“Lalu bagaimana denganmu, Unnie?” Tiba-tiba gadis yang sejak tadi diam, memandangi Yoona.

“A—ah, itu, aku…” Yoona tersentak.

“Namja chingumu pasti sangat beruntung memiliki pacar yang lucu dan cantik sepertimu.”

Semuanya, kecuali yang paling muda, mencoba untuk menahan senyuman mereka. Yoona tersipu, sangat lucu. Itu adalah pertama kalinya mereka melihat Yoona malu-malu seperti itu. Gadis itu sebelumnya tidak pernah menunjukkan ketertarikan pada apapun selain makanan, baik pada laki-laki maupun perempuan.

“Aku tidak punya namja chingu, Seohyun-ah.”

“Oh, yeoja chingu kalau begitu?” tanya Seohyun polos.

“Tidak juga.” Yoona menggeleng malu-malu.

“Oh,” Seohyun menjadi malu-malu juga.

Tiffany tidak lagi bisa menahan reaksinya dan tertawa lepas. Kemudian tiga gadis lainnya mengikuti, tertawa terbahak-bahak, memegangi perut mereka, saat kedua gadis lainnya gelisah di tempat duduk mereka masing-masing dengan wajah merona.

***

“Mereka lucu sekali ya.”

“Yeah. Aku tidak menyangka mereka akan tertarik satu sama lain seperti itu.”

Tiffany membelokkan mobil ke kiri sebelum bicara lagi, “Sebenarnya aku sudah melihatnya pada Yoona.”

“Oh benarkah?” Jessica menoleh pada Tiffany.

Tiffany mengangguk. “Aku melihatnya menatap Seohyun beberap kali. Ketika dia sedang makan! Apa kau bisa bayangkan itu? Yoona teralihakan dari makanannya!” Tiffany melirik pada Jessica dengan penuh semangat.

“Itu pertama kalinya,” Jessica tertawa.

“Yeah, kau benar.” Tiffany ikut tertawa. “Benar-benar tidak kusangka. Yoona dan Sooyoung suka cewek juga.”

“Aku juga tidak menyangkanya. Tapi yang terpenting adalah kebahagiaan mereka, bukan?”

“Betul.” Tiffany menganggk lagi sebelum berbelok ke kiri di perempatan. “Lalu bagaimana denganmu? Apa kau sudah menemukannya?”

“Huh?”

“Kebahagiaanmu.”

“Oh…” Suaranya tiba-tiba melemah. Jessica menggeleng.

“Apa kau…?” Tiffany menatap khawatir pada gadis berambut coklat itu, tidak yakin untuk menyelesaikan kalimatnya. “Ini sudah bertahun-tahun, Sica-yah.”

Jessica tidak menjawab. Dia juga menyadari hal itu, tetapi dia tidak dapat melakukan banyak hal terhadapnya. Bukan berarti dia tidak melakukan apapun juga. Sebenarnya, dia sudah mencoba untuk move on.

Di samping kegagalan dengan Sukjin waktu itu, dia telah pergi berkencan dengan beberapa pria yang dia kenal di universitas. Dia bahkan mencoba untuk memberi kesempatan pada seorang gadis. Tapi mereka semua rasanya tidak cocok. Terasa aneh baginya.

Dia tahu, pada akhirnya, tidaklah mudah untuk menggantikan Yuri dari hatinyameskipun mereka hanya bersama-sama untuk waktu yang singkat.

“Maaf.” Tiffany sadar kalau dia telah mengangkat sebuah isu yang sangat sensitif.

Jessica tersenyum tipis. “Ngomong-ngomong, terima kasih, Fany-ah,” ujar Jessica setelah hening sejenak.

Tiffanya mengangkat alisnya.

“Untuk mengajakku keluar. Kau benar. Aku butuh keluar. Bersama-sama dengan kalian membuatku bahagia,” tutur Jessica tulus. “Aku tidak ingat kapan terakhir kalinya aku tertawa lepas seperti tadi.”

“Tiffany tersenyum.

“Walaupun aku belum menemukan kebahagiaan seperti yang kau miliki, tetapi aku bersyukur bisa merasakan kebahagiaan ini bersama dengan kalian semua,” imbuhnya.

Tiffany meremas tangan Jessica sejenak. “Aku senang jika kau senang, Sica-yah. Tapi jangan khawatir. Kau akan segera menemukan kebahagianmu. Percaya padaku.”

“Aku harap demikian, Fany-ah. Semoga saja.”

***

“Bye, Fany-ah,” Jessica melambai pada sahabatnya. Setelah mobil itu tidak lagi terlihat dia pun masuk ke dalam rumah.

Dia meletakkan hadiah ulang tahunnya di meja dan tersenyum melihatnya. Dia sudah menerima banyak hadiah di sepanjang hidupnya, tetapi hadiah dari sahabat-sahabatnya selalu lah yang terbaik, entah unik atau aneh, dan itu membuatnya menjadi lebih spesial.

Hari ini dia senang tetapi juga lelah. Apa yang dia butuhkan adalah mandi dengan air hangat dan istirahat yang panjang dan tenang. Dia berjalan keluar dari kamarnya dan mengambil piyamanya yang terabaikan dari atas sofa, bersiap untuk mandi.

Sesaat kemudian…

Buzz.

Buzz.

Buzz.

Jessica mengerang. “Ada apa dengannya? Apa dia melupakan sesuatu?” gumamnya sambil berjalan ke pintu depan. Dia tidak mengecek layar dan langsung membuka pintu depan.

“Ada apa, Fa—“

Jessica benar-benar membeku di tempatnya ketika dia melihat siapa yang berdiri disana.

“Hi.”

“Y—Yuri-yah?”

 

To be continued…

***

A/N: Annyeong semuanya!! Siapa yang udah nonton performance All Night + Holiday?? Siapa yang masih hidup?? HAHAHA

Semoga chapter ini tidak mengecewakan ya, ditulisnya mode kilat soalnya hahaha Oh iya, btw, FF ini akan segera berakhir! Diulangi, FF ini akan segera berakhir. Apa prediksi kalian untuk endingnya? Yuk dikomen~ Makin banyak komen, makin cepat update. Mwahahaha

Ya udah, ga usah banyak ngomong ini itu lagi deh, author cabut dulu ya mau spazzing Soshi lagi. Annyeong~

P.S.: Btw makasih bagi kalian yang udah sempetin komen di chapter kemaren, maaf blom sempet dibales. Tapi komen kalian semua sudah dibaca kok! Gomawoyo~ Ditunggu ya komen selanjutnya ^^

Advertisements

Author: 4riesone

SONE. Follow me on Twitter @4riesone for updates and questions

17 thoughts on “Remember Me (Chapter 20)

  1. Pas tbcnya itu nyesek bgt thor 😥

  2. udah 4 tahun 4 tahun…
    persatukan yulsic thor.. hiks hiks.. bikin yulsic bahagia..T_T

  3. (tiba-tiba) hening…

    kebayang kalo ada di posisi mereka, satu hal yang pasti… LANGSUNG PELUK

  4. yah endingnya yulsic harus happy together forever dong,LOL

  5. Kyknya sih tp gk tau jg sih, pgnnya sih yuri ingat ttg gmn hubgannya sm sica, kasian jg liat sica kl trus2an mikirin yuri eh yurinya malah lupa. Moga aja kedtangan yuri membawa berkah bwt sica😆😆

    • yah sedikit memupuskan harapanmu, tapi disini tidak mungkin bagi yuri untuk ingat hubungannya dengan sica 😦 soalnya dia ga bisa nyimpen memori kan? kalo memorinya emang ga ada ga mungkin bisa diinget dong :((((

  6. Kembalikan yulsic thor😭😭

  7. Lanjut thorrr… 😭😭😭

  8. Wkwkwk… parah banget mau sampai klimaksnya tbc pun muncul saudara/i sekalian😂😂😂

Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s