rara0894

All about TaeTiSeo and GG

Remember Me (Chapter 19)

15 Comments

Title         : Remember Me

Author    : 4riesone

Genre      : Fluff, Romance, Yuri

remember me

As Time Goes By – Chapter 19

Hari itu mereka melakukan video call mereka seperti biasa.

Setelah perpisahan mereka, Yuri meninggalkan Seoul dan tinggal bersama dengan keluarganya di Goyang. Dia juga melanjutkan studinya disana. Dan meskipun hubungan romantisnya dengan Jessica telah berakhir, Yuri tetapi menjaga kontak dengan gadis itu. Baik melalui telepon atau dengan video chat. Kadangkala dia juga akan mengunjungi Seoul.

Menghubungi Jessica adalah sesuatu yang biasa untuk Yuri. Dia telah menghapus segala sesuatu tentang 100 hari mereka bersama dari jurnalnya, sehingga tidak ada lagi yang tersisa untuk mengingatkannya akan hubungannya dengan Jessica. Dia hanya ingat kalau Jessica adalah sahabatnya, sehingga alamiah saja baginya untuk tetap menjaga hubungan dengan temannya itu.

Kali ini mereka sedang membicarakan semester baru.

“Benarkah? Kalian semua berada di kelas yang sama? Yang benar?! KALIAN SEMUA?!” Gadis di layar itu membulatkan matanya dan berteriak.

“Yeah! Memang gila kan?! Ini benar-benar luar biasa. Aku tidak bisa mempercayainya juga. Geez, aku tidak pernah menyangka Mr. Lee akan sangat baik hati seperti ini.”

“Kalian benar-benar beruntung!!”

“Yup. Bahkan Taeyeon berada di kelas yang sama. Bisa kau bayangkan kan betapa senangnya Tiffany.”

Yuri tertawa. “Yeah. She is so whipped about that glasses girl.”

“Tak perlu dibilang. Taeyeon is more whipped, you know.”

“Benarkah?”

“Yup, two whipped in one package.”

“Wah, bagaimana kau bisa tahan dengan mereka? Pasti ada banyak sekali PDA setiap saat.”

“Tidak perlu kau ingatkan,” Jessica mengerang. “Mereka itu benar-benar…eww!” Gadis berambut coklat itu bergidik.

Yuri tertawa melihat ekspresi temannya itu. “Separah itu, huh? Aku kira kau terlalu dingin untuk bisa terpengaruh oleh mereka.”

“Yah! Kau tahu aku tidak seperti itu. Aku masih punya hati,” gadis itu mencebil.

“Just kidding,” Yuri menunjukkan seringaian lebarnya.

“Geez,” Jessica mendecak sebelum terkekeh. “Tapi tidak apa-apa. Walaupun kadangkala perilaku mereka terasa berlebihan, tetapi aku tahu itu karena mereka saling mencintai. Kita tidak bisa menghentikan mereka untuk mencintai satu sama lain, kan?”

Yuri merasa kalau dia mendengar sesuatu yang lebih dari sekedar opini biasa dari kata-kata Jessica tersebut. Tetapi dia mengabaikannya. Mungkin itu hanya efek dari sound system dan koneksi internet.

“Ya, kau benar. Jadi, bagaimana denganmu? Apa ada cowo yang menarik? Gebetan?” Yuri melihat ke arah kamera dengan tatapan berharap dan penasaran, menunggu temannya di ujung sana untuk menjawab. Walaupun dia menganggap Jessica sebagai sahabatnya, tetapi dia masih perlu tahu jika saja sahabatnya itu sudah menemukan seseorang.

Ketika Jessica tidak juga mengatakan apapun, akhirnya Yuri lah yang bersuara terlebih dahulu. “Sica? Apa kau baik-baik saja?”

Gadis yang lebih tua itu mendongak kea rah layar, menatapnya selama beberapa saat. “Uhm…Yuri-yah?”

“Ya?”

Hening.

“Ada apa, Sica?”

“Err, bukan apa-apa,” Jessica mengayunkan tangannya di depan layar. “Tak perlu dipikirkan. Lupakan saja.” Dia tersenyum canggung.

“Huh? Kau yakin?”

“Uh huh,” dia mengangguk.

“Kenapa kau diam sekali kalau begitu? Apa kau sedang menemui seseorang? Ooo! Sica sudah punya pacar?!!” Yuri bertepuk tangan begitu bersemangat.

Jessica membalasnya dengan tatapan super dingin miliknya. “Hell. No. Tidak ada seorang pun disini yang membuatku tertarik. Dan jujur saja, aku tidak begitu tertarik untuk pacaran juga saat ini.”

“Huh? Kenapa tidak?”

“Aku sedang menunggu orang yang tepat bagiku. Kurasa,” Jessica menangkat bahu acuh tak acuh.

“Tapi kau tetap pergi berkencan, kan? Walaupun aku tidak ingat apa yang telah terjadi selama beberapa bulan belakangan ini tetapi sangatlah tidak mungkin seseorang secantik dirimu tidak sering mendapatkan ajakan berkencan.”

Yuri yakin sekali dia melihat Jessica sedikit tersipu mendengar kata-katanya.

“Aku selalu menolak mereka. Sudah kubilang, aku tidak tertarik.” Jessica bergerak di kursinya. “Bisakah kita mengganti topik pembicaraannya, please? Tidak banyak cerita dariku mengenai hal ini. Next!”

“Kau harus lebih membuka hatimu, Sica. Mungkin salah satu dari pria-pria itu adalah orang yang tepat bagimu. Siapa yang tahu, kan? Seperti apa yang terjadi pada Fany dan Taeyeon. Siapa yang akan menyangka kalau Fany, cewek populer dan super berisik itu, ternyata jatuh cinta pada seorang gadis kutu buku tidak populer seperti Taeyeon? Dan bahkan dia melakukan penguntitan terlebih dahulu. Bahkan sekarang pun, masih lucu jika aku mengingat bagaimana dia begitu tergila-gila pada Taeyeon kali itu.” Dia tertawa. “Kau juga masih mengingatnya, kan?”

Ketika dia tidak mendapatkan respons apapun, dia mendekat ke arah kamera. “Hei, Sica-yah? Apa kau mendengarku? Apa kau bisa melihatkan? Apa koneksinya terputus?” Dia memeriksa konfeksi wifi dan program chatnya.

“T-tidak…Semuanya baik-baik saja. Aku hanya sedikit…hilang.”

Yuri mengernyitkan alisnya. “Apa kau baik-baik saja.”

“Y-yeah…Maaf…Sepertinya aku lupa melakukan sesuatu. Uhm…Aku harus pergi, Yuri-yah.”

“Eh? Kenapa? Ini adalah sesi mingguan kita dan ini baru…” Dia memeriksa durasi panggilan. “Dua puluh menit! Kita biasanya bicara minimal satu jam, Sica-yah. Ada apa denganmu?”

“Tidak ada apa-apa. Sungguh. Aku benar-benar minta maaf. Aku akan membayar semua ini minggu depan. Aku akan menghubungimu lagi nanti, oke? Bye bye,” Jessica melambai padanya, mengakhiri chat dan berganti status menjadi offline. Yuri bahkan belum sempat mengucapakan kata selamat tinggal.

***

“Tidak ada apa-apa. Sungguh. Aku benar-benar minta maaf. Aku akan membayar semua ini minggu depan. Aku akan menghubungimu lagi nanti, oke? Bye bye,” Jessica melambai pada Yuri dan cepat-cepat menutup program chat dan mematikan laptopnya. Dia berjalan menuju tempat tidurnya dan berbaring disana, memeluk erat bantal miliknya.

Dia harus menghentikan pembicaraan itu secepat mungkin karena dia tidak tahu berapa lama dirinya akan mampu bertahan. Dia tahu dia tidak akan bertahan jika dia harus melihat senyuman itu lagi dan lagi, dan harus berdiskusi mengenai cinta. Padahal kenyataannya dia memiliki perasaan pada gadis berkulit coklat itu.

Selama tiga bulan dia telah mencoba untuk merelakan apa yang telah terjadi. Putusnya hubungan mereka membuat Jessica tenggelam dalam keputusasaan pada mulanya. Hal itu terjadi selama kurang lebih seminggu. Butuh bnayak usaha dari teman-teman serta orang tuanya untuk menghibur dia kembali. Dia akhirnya memutuskan untuk mengikuti audisi drama kembali. Aktivitas yang sibuk membantunya untuk mengalihkan rasa sakitnya, sedikit. Walauun begitu, rasa sakit yang dia rasakan tidak pernah sembuh sepenuhnya, terlebih lagi luka itu akan kembali berdarah setiap kali dia berbicara dengan Yuri.

Awalnya, Jessica berakting seolah-olah hubungan mereka baik-baik saja. Tetapi itu menggerogoti hatinya. Keinginan Jessica untuk bertemu dengan Yuri kembali memang besar, tetapi rasa sakit yang dia rasakan saat melihatnya pun sama bsarnya.

Karena Yuri hanya akan memandang dirinya sebagai seorang sahabat di saat Jessica masih memiliki perasaan yang sama untuk gadis itu. Yuri akan tersenyum seperti biasanya, layaknya tidak ada yang terjadi. Jessica tahu itu semua bukanlah kesalahan Yuri jika dia bersikap seperti itu. Tapi itu tetap saja menyakitinya. Hatinya lebih terluka saat melihat senyuman Yuri.

Dia tidak mampu lagi menahan rasa sakit itu.

Sejak video cal itu, Jessica mulai meminimalkan kontak mereka secara perlahan. Chat harian mereka telah berubah menjadi pesan sesekali. Video chat mingguan mereka tertunda menjadi sebulan, dua bulan, tiga bulan dan akhirnya tidak pernah terjadi lagi. Pertemuan bulanan mereka pun tidak pernah ada lagi.

Akhirnya, Jessica menjauhkan dirinya dari Yuri.

***

Waktu telah berlalu hinga ke hari yang telah mereka semua nantikan. Hari kelulusan.

“Oh my god! Aku tidak bisa percaya ini. Kita akhirnya lulus! Selesai! Tidak ada lagi sekolah!”

Sooyoung dan Yoona sedang bergandengan tangan dan meloncat naik turun seperti maniak gila di tengah-tengah lapangan sekolah. Saat itu tepat setelah upacara kelulusan mereka.

“Benar?! Tidak ada lagi sekolah! Kita akan segera menjadi mahasiswa! Mahasiswa keren dan dewasa! Kyaaa!”

Beberapa siswa lainnya dan orang tua mereka menoleh saat berjalan melewati pasangan hyper itu. Yang lainya hanya bisa berdiri diam dan menonton teman kkab mereka beraksi.

Meskipun mereka selalu saja bertengkar setiap harinya, Sooyoung dan Yoona adalah pasangan yang sempurna di departemen humor. Setelah kehilangan seorang member, Yuri, lelucon hampir selalu dibuat oleh mereka. Tetapi lebih sering lagi mereka terlalu hyper dan membuat kekacauan. Seperti kali ini.

“Hey, kids. Tenanglah!!” tegur gadis berambut coklat dengan nada dinginnya.

Tiffany tertawa tetapi kedua gadis hyper itu tidak memperhatikan tatapan mematikan teman mereka itu. Malahan mereka tertawa lebih keras. Taeyeon yang sedari tadi menonton saja kini akhirnya ikut tertawa bersama pacarnya.

Jessica menghembuskan nafas menyerah. “Bagaimana bisa mereka lulus dari sekolah menengah tetapi masih seperti anak-anak seperti itu?” gumamnya.

Tiffany tertawa lagi mendengar kata-kata temannya itu. “Mereka itu sudah tidak ada harapan. Tapi bukankah ini benar-benar luar biasa? Kita akhirnya lulus.” Tiffany menunjukkan antusiasme yang tinggi saat memikirkan tentang kehidupan universitasnya nanti.

“Benar! Selama ini memang menyenangkan, tetapi aku tidak sabar lagi akan apa yang menanti saat kita di perkuliahan nanti,” Taeyeon menambahkan.

“Yeah,” ujar Jessica.

Tiffany menyadari aura sedih pada teman berambut coklatnya dan menghampiri dia. “Hey…” panggil Tiffany, memandangnya dengan tatapan khawatir. Dia melihat air mata di pelupuk temannya. “Whoa, Sica! Apa kau menangis? Aw…jangan menangis. Apa yang terjadi?”

Jessica menggeleng, mencoba untuk menyembunyikan air matanya.

“Sica-yah,” Tiffany menarik sahabatnya itu ke dalam sebuah pelukan.

“Maafkan aku, Fany-ah. Aku tidak tahu kenapa aku seperti ini. Aku…Aku hanya berharap dia ada di sini…merayakannya bersama-sama dengan kita…” isaknya.

“Aku juga berharap hal yang sama, Sica-yah. Rasanya sangat aneh tidak melihat dia bersama dengan pasangan kkab disana lagi.”

Mendengar itu, Jessica menangis semakin keras dalam pelukan Tiffany. Gadis berambut hitam itu pun hanya bisa membelai lembut kepala Jessica, menenangkannya.

“Hey, ada apa dengan pelukan dan tangisan ini?” Yoona menyadari apa yang terjadi dan segera berlari menuju Jessica, melepaskan kawanan kkabnya.

“Huh? H-hey… ada apa, guys?” Sooyoung mendatangi mereka. “Aw…Sica-yah,” dia menepuk lembut kepala Jessica. “Jangan menangis. Kau akan membuatku menangis juga. Kau tahu aku mudah menangis.”

Jessica melepaskan pelukan Tiffany dan menghapus air matanya.

“Maaf,” ujarnya. “Aku tidak bisa menahannya.”

“Tidak apa-apa. Kami mengerti,” ujar Taeyeon, memberikan tisu pada Jessica. “Rasanya juga sedih untuk kami. Kami juga berharap untuk melihatnya disini.”

Tak lama kemudian mereka mendengar sebuah suara yang familiar memanggil dari arah gedung sekolah.

“Sica-yah!”

Mereka semua segera menoleh untuk melihat siapa orang tersebut.

Sosok tersebut berjalan menuju ke arah mereka dengan senyuman lebar dan sebuah buket bunga di tangan. Dia menghampiri gadis berambut coklat itu dan menyerahkan buket itu kemudian. “Selamat, Sica-yah.” Dia memeluk gadis itu sebelum tersenyum padanya.

Semua yang ada di situ memandangitamu tidak diundang tersebut itu dengan tatapan terkejut.

“Apa yang kau lakukan, Sukjin?” Tiffany bertanya dengan mata lebar, sepenuhnya tidak mengerti akan kehadiran dan tingkah laku tidak wajar laki-laki itu.

Laki-laki tersebut memutar badan dan bertemu dengan empat wajah terkejut. Dia melingkarkan lengannya di sekitar Jessica sebelum tersenyum pada mereka. “Kalian tidak tahu?”

“Tahu apa?” tanya Taeyeon.

“Sica adalah pacarku sekarang.”

Butuh waktu semenit penuh sebelum mereka dapat mencerna apa yang baru saja mereka dengar.

“APA?!” teriak Tiffany dalam decibel maksimal. Yang lainnya mengernyit akibat suara tajam di telinga mereka yang tiba-tiba itu.

“Kau bercanda, kan, Sica?” Sooyoung menatap gadis yang terdiam itu dengan mata membelalak.

“Err…Aku…” Jessica menggesek-gesek ujung rambutnya, memandangi tanah. “Itu benar.” Dia akhirnya menjawab.

“Kapan ini terjadi?” Yoona memandangi sahabatnya itu tidak percaya.

“Uhm…sudah beberapa lama sebenarnya.” Kata-kata itu membuat keempat gadis lainnya lebih terkejut.

“Dan kapan kau berencana untuk memberitahu kami soal ini?” Taeyeon bertanya dengan suara tenangnya yang berbahaya.

“A—aku berusaha untuk mencari waktu yang tepat untuk memberi tahu kalian! Sungguh!” Jessica menjelaskan cepat-cepat. “Itu alasannya kenapa aku mengajak kalian makan siang besok. A-aku tidak bermaksud untuk menyembunyikan hal ini dari kalian…Maafkan aku…” Dia menunduk kembali.

Tiffany menarik napas dalam sebelum menghadap pada pasangan itu. “Apa kau bisa meninggalkan kami untuk saat ini, Sukjin?”

Laki-laki itu memandang pacarnya yang hanya mengangguk lemah. “Baiklah. Maafkan aku. Aku akan meneleponmu nanti,” ucapnya pada Jessica sebelum meninggalkan para gadis itu.

“Sekarang, katakana pada kami apa maksud ini semua, Jessica,” tegas Tiffany.

Jessica tahu temannya itu sedang tidak dalam mood yang baik. Dia tidak pernah menggunakan kata ‘Jessica’ kecuali ketika dia sedang sangat marah. “Ini persis seperti yang kalian lihat. Aku pacaran dengannya.” Dia mencoba untuk menjawab setenang mungkin.

“Itu tidak masuk diakal, Sica,” gadis yang paling tua menjawab.

“Yeah, kau tidak pernah menyukainya.”

“Dan kau sudah berulang kali menolaknya.”

“Lalu?” tanyanya acuh tak acuh.

“LALU??!!” Tiffany meledak, matanya melebar. “Apa maksudmu dengan ‘lalu’, Jessica? Apa kau sadar akan apa yang kau lakukan?”

“Aku tidak melakukan sesuatu yang buruk. Kenapa kau begitu marah seperti ini?”

“Gadis ini!!” Tiffany tanpa sadar mengepalkan tangannya, begitu kesal akan sikap acuh tak acuh temannya ini.

“Hey, hey, Fany-ah,” Taeyeon meraih kepalan tangan Tiffany. “Tenanglah dulu. Kalian tidak bisa berbicara dengan kepala panas seperti ini.”

Kepalan tangan Tiffany meregang setelah merasakan sentuhan Taeyeon. “Maafkan aku. Tapi teman kita yang satu ini benar-benar pabo, Tae.”

“Siapa yang kau panggil pabo?” Jessica melemparkan tatapan sedingin esnya.

“Kau!” Tiffany menantang balik dengan tatapan matanya.

“Hey, hey, Fany-ah.” Taeyeon mencoba untuk menghentikan kekasihnya agar tidak menambah masalah dalam kekacauan ini.

Yoona pun mengambil inisiatif dan memandang Jessica. “Kalau begitu beritahu kami kenapa kau pacaran dengannya, Sica. Buat kami mengerti.”

“Yah,” dia mengangkat bahu. “Dia tampan. Dia baik. Dan dia telah menembakku berulang kali. Apa salahnya jika aku memberinya kesempatan?”

“Apa itu alasanmu?” Sooyoung bertanya tidak percaya.

Jessica tidak menjawab.

“Kau benar-benar dalam masalah, Sica.”

“Masalah besar.”

Jessica memandangi mereka. “Kenapa kalian tidak bisa mendukungku saja dalam hal ini?”

“Bagaimana kami bisa mendukungmu saat kau melibatkan dirimu dalam masalah?” jawab Tiffany tajam.

Jessica memilih diam. Seketika itu juga mereka mendengar suara gemuruh di langit.

“Oh luar biasa, dan sekarang akan hujan juga?!” Yoona berteriak ke atas.

“Hey. Ayo kita pergi ke dormku dan membicarakan masalah ini. Oke, teman-teman?” Taeyeon mencoba menenangkan mereka semua. “Dormku adalah yang terdekat untuk tempat kita menunggu hujan berhenti dan kita bisa memesan pizza atau sesuatu yang lain. Bagaimana?”

Tidak ada seorang pun yang menjawab tetapi ada beberapa yang mengangguk.

Taeyeon meraih tangan Tiffany dan Jessica dan mulai berjalan. “Ayo, sebelum hujannya turun.” Yang lainnya mengikuti.

Mereka pergi menuju dorm Taeyeon dan Tiffany. Semuanya diam, menunggu gadis berambut coklat itu untuk menjelaskan berita yang baru mereka dengar tadi. Di luar, hujan mulai turun dan Taeyeon telah memesankan pizza untuk mereka.

“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk menyembunyikan ini dari kalian.” Jessica akhirnya berbicara.

“Kau masih tidak mengerti, huh?”

Jessica menatap gadis berambut hitam itu, mempertanyakan ucapannya.

“Ini bukan soal kau tidak memberi tahu kami. Tapi kami tidak ingin kau menyeret dirimu dalam sesuatu yang akan kau sesali nantinya.” Tiffany mencoba untuk tetap tenang selama berbicara.

“A…Aku…”

“Kami ingin yang terbaik untukmu, Sica. Kami ingin kau menemukan kebahagiaanmu.”

Jessica menunduk. “Aku…Aku hanya berusaha untuk bahagia, Fany-ah. Kau tahu betapa sulitnya bagiku selama tahun-tahun terakhir ini. Sangat sulit untuk melepaskannya. Jadi mungkin…mungkin jika aku mencoba…jika aku mencoba untuk…” Jessica bergumam pada dirinya sendiri, suaranya bergetar.

“Hey, maafkan aku,” Tiffany memeluk sahabatnya itu. “Kami tahu ini pasti sulit untukmu. Tapi kamu juga tidak mau kau melakukan hal yang salah. Kami tidak ingin kau menyesal nanti. Tidak apa-apa jika kau ingin pacaran dengannya, tetapi jangan permainkan hatinya. Kau tahu betapa dia menyukaimu, Sica-yah.”

Tangisan Jessica pecah dalam pelukan Tiffany.

“Aku tahu. Maafkan aku…hanya saja…sakit rasanya…kau tahu…”

“Yeah, aku tahu.” Tiffany mengangguk dan mengusap lembut gadis dalam pelukannya. “Sudah. Sudah. Tidak apa. Aku mengerti.

“Hey guys,” tiba-tiba saja Taeyeon memanggil semua orang.

“Ya?” jawab Sooyoung.

“Ada panggilan dari Yuri.”

Jessica menghentikan tangisannya dan semuanya menghentikan aktivitas yang mereka lakukan sebelumnya. Empat pasang mata sekarang menuju pada Taeyeon, menatap laptop yang dia pegang.

“Haruskah aku menjawabnya?” dia berjalan mendekati teman-temannya dan meletakkan laptop itu di meja.

Tidak ada seorang pun yang menjawab pertanyaannya. Panggilan pertama sudah berakhir, tetapi kemudian masuk panggilan kedua.

“Guys?” Taeyeon tidak yakin apa yang harus dia lakukan.

“Kita jawab saja,” Jessica akhirnya berbicara di antara isakannya.

“Apa kau yakin?”

Jessica mengangguk.

“Hey guys!!!” Suara bahagia Yuri langsung menyambut mereka segera setelah Taeyeon menjawab video call tersebut. Ekspresi senangnya langsung terlihat di layar. “Selamat!!!” Dia meniup terompet beberapa kali dan mulai bertepuk tangan riang, mengharapkan kehebohan yang sama dari teman-temannya.

Saat dia hanya mendapatkan ucapan hi dan terima kasih yang tanpa semangat, dia berhenti meniup dan menaruh terompetnya. “Guys? Ada apa?”

Semua orang menghindari menatap layar.

“Guys? Tidak ada yang terluka, kan?” Dia mendekati layar laptopnya dengan tatapan khawatir. “Tunggu…dimana Sica?” Isyarat panik terdengar dalam nada suaranya.

“Dia ada disini, Yuri-yah. Jangan khawatir.” Taeyeon menjawab.

“Dimana??!”

“Aku disini.” Jessica berpindah ke depan layar, tetapi masih menghindari untuk menatap langsung layar tersebut. Dia tidak ingin Yuri melihat mata sembabnya. Dia bisa mendengar Yuri menghela nafas lega.

“Aku kira sesuatu terjadi padamu,” ujar Yuri dengan jujur. “Ummm…tunggu…ada apa dengan matamu?” dia mengerutkan dahinya.

Jessica menunduk untuk menyembunyikan wajahnya, tetapi malah terisak.

“Apa kau menangis?” potong Yuri. “Ada apa sebenarnya?”

“…”

“Sica-yah? Guys? Siapapun?”

Diam.

“Tidak ada yang akan memberitahuku apapun, huh?”

Diam.

“Dan aku pikir kita masih sahabat.” Yuri jelas sekali merasa kecewa. Bukan hanya karena dia satu-satunya yang tidak bisa bergabung merayakan momen bahagia mereka, tetapi kini dia tidak dilibatkan dalam sesuatu yang penting. “Baiklah kalau begitu, Aku menger-“

“Aku pacaran dengan Sukjin.”

Pada saat itu, tidak ada satupun yang bergerak dari tempat mereka. Begitu pula dengan Yuri. Dia membeku di tempatnya, dengan mata membelalak dan mulut menganga.

Tidak ada satu pun yang menyangka ucapan yang keluar dari gadis berkulit kecoklatan itu.

“Benarkah? Wah, selamat Sica! Aku harap kau bahagia dengannya.” Dia menunjukkan senyumannya.

Gadis lainnya hanya menatap pada Yuri, mempertanyakan sikapnya, sedangkan Jessica bahkan tidak mampu mengangkat kepalanya.

“Hey ada apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu? Kita harus bahagia untuknya, bukan?” Dan kenapa kalian begitu tegang tadi? Itu hanya berita pacaran. Bukan masalah besar.” Yuri terdengar luar biasa tenang dan dia tertawa kemudian.

“Ah iya, aku rasa ummaku memanggilku sekarang. Aku akan menghubungi kalian lagi nanti, oke? Selamat ya sekali lagi!! See ya!”

Yuri melambai ke arah layar dan memutus panggilan itu. Tidak ada yang sempat mengucapkan apapun padanya. Dan pada saat yang singkat itu, Jessica dapat melihat sesuatu yang berbeda pada ekspresi Yuri. Bukan sesuatu yang riang melainkan ekspresi yang dia masih dapat ingat dengan jelas. Ekspresi yang sama persis dengan ketika Yuri mengatakan untuk mengakhiri hubungan mereka.

Kenapa Yuri-yah. Kenapa kau tampak seperti itu?

 

To be continued…

***

A/N: Annyeong semuanya!! I’m back hahaha Ga sepenuhnya kembali sih, tapi author lagi liburan aja. Yes, I’m having a HO-HO-HOLIDAY! Hohoho Siapa yang udah ga sabar dengan comeback soshi?!!

Ngomong, Happy Anniversary buat teman2 sones! dan Happy 10th Anniversary buat soshi!

Author caw dulu ya~ Annyeong!

PS: ditunggu komennya guys 🙂

 

Advertisements

Author: 4riesone

SONE. Follow me on Twitter @4riesone for updates and questions

15 thoughts on “Remember Me (Chapter 19)

  1. Apa Yuri sudah mulai mengingat masa pacaran nya dengan Sica n Yuri kecewa dengan keputusan Sica yg berpacaran dengan yg lain???
    Chayoo tuk next cepter.

  2. akhir nya author update juga…^^
    huuuaaaaa kenapa aku nyesek yah sica kenapa malah jadian sama sukjinT_T
    yulsic… kapan yulsic ketemuan hiks hiks hiks

  3. Yg trakhirnya bikin hati nyut2an,perih Sangat 😦
    Jgn lama2lah Thor klnjutannya 🙂

  4. yakin deh,pasti yuri juga sefih sica jadian sama org lain,,hadehhhh,,kpan yulsic bersatu lagi sih???
    😕😕😕

  5. Mudahmudahan ada keajaiban.. ingatan yuri kembali lg 😂😂

  6. Ini ff udha lama sekali gk post.
    Tp ceritanya masih keinget.
    Kapan ingatan yuri bisa balik, ato setidaknya punya perasaan sama sica.
    Kasian sica harap harap cemas😢

    • wow luar biasa #prokprok masih inget loh, saya terharu huhuuhu
      hmm, apa yakin yuri ga ada perasaan sama sica?? 😉 #wink #smirk

  7. Haduh lama bngt nih yg di tunggu2, akhirnya nongol jg😊
    Ntuh yuri msh ilang ingatan apa gk sih?miris bngt deh kl hubngan yulsic kyk gitu, knp sica malah menjauh dr yuri, trus malah pacaran sm sukjin, percuma jg kl di hatinya sica cm ada yuri. Ntuh yuri psti sedih jg krn sica akhirnya memilih orang lain

  8. Aku berharap yuri bisa ingat kembali soalnya kasihan jessica selalu merasa sakit hati😢

Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s