rara0894

All about TaeTiSeo and GG

Remember Me (Chapter 17)

11 Comments

Title         : Remember Me

Author    : 4riesone

Genre      : Fluff, Romance, Yuri

remember me

Memory – Chapter 17

Ada yang bilang kalau diri kita dibentuk dari memori-memori yang kita punya. Memori lah yang menyimpan identitas kita, hubungan kita dengan orang lain serta keseluruhan hidup kita. Memori juga yang membentuk seseorang menjadi diri mereka saat ini ataupun diri yang mereka inginkan.

Jessica juga mempercayai hal itu, sehingga dia pun sangat menghargai memori. Baginya, memori itu seperti kotak harta karun dari sebuah pikiran dimana kehidupan disimpan dan dipelihara. Walaupun dia mencintai tidur, tetapi membuat kenangan-kenangan baru menjadi lebih penting baginya akhir-akhir ini. Dan seperti suatu harta karun, sebuah memori pun seharusnya adalah baik adanya dan itulah mengapa dia selalu mencoba untuk membuat kenangan yang baik, terutama ketika dia sedang bersama dengan Yuri.

Sudah seratus hari sejak Jessica dan Yuri bersama. Jessica senang karena mereka bisa mencapai hari ini tanpa ada masalah yang berarti. Cara baru untuk memberitahukan kondisi Yuri pun begitu efisien dan aman. Tidak ada yang terluka serta dapat dipahami dengan baik dan cepat.

Mereka sudah sungguh seperti pasangan saat ini, kecuali fakta bahwa Yuri memang perlu untuk tetap diingatkan mengenai hubungan mereka. Tapi itu pun tidak terlalu buruk. Karena Yuri akan selalu merasa setiap saat adalah kali pertamanya mereka bersama sehingga setiap saat yang mereka habiskan bersama terasa seperti kencan pertama mereka. Jessica pun tidak keberatan. Dia juga senang bisa merasakan banyak ‘kencan pertama’ bersama dengan Yuri.

Hari ini, Jessica dan Yuri akan melakukan ‘kencan pertama’ yang kesekian kalinya, yang sebenarnya adalah perayaan hari ke-100 mereka. Yuri lah yang memutuskan untuk makan malam di restoran Jepang, tempat yang sama dimana mereka melakukan kencan pertama mereka yang sebenarnya.

“Wah, mereka punya menu baru.” Yuri berkomentar segera setelah melihat buku menu.

Jessica terkekeh. “Iya, Yuri-yah. Kelihatannya enak, ya?”

Yuri mengangguk penuh semangat. “Membuatku jadi semakin lapar.”

“Pilih yang kamu mau kalau begitu. Aku akan panggil pelayannya.” Jessica mengangkat lengannya ke arah pelayan. “Kau mau pesan apa, Yuri-yah?” tanya Jessica setelah pelayan datang.

California Temaki dan Hitsumabushi. Jessica menebak dalam hati.

“Aku mau pesan California Temaki and Hitsumabushi.”

Jessica tersenyum ketika Yuri memesan menu sesuai yang telah dia perkirakan. Sebenarnya mereka sudah sering datang ke restoran ini dan Yuri selalu memesan menu yang sama setiap kali sehingga tidaklah sulit bagi Jessica untuk menebaknya. Menu favorit Yuri sudah terukir jelas di ingatannya.

Dia pun kemudian memesan makanannya dan pelayan pun pergi.

“Aku tidak menyukainya,” ujar Jessica segera setelah pelayan itu hilang dari pandangan.

“Kenapa, dia kelihatannya baik?”

“Dia bersikap terlalu baik padamu, Yuri-yah. Dan matanya memandangimu terus. Jangan lupa juga senyumannya padamu tadi. Urgh,” keluh Jessica.

Yuri tertawa mendengarnya. “Oww, jealousy is in the air,” goda Yuri.

“Aku tidak cemburu. Aku hanya tidak suka orang lain melihatmu seperti tadi.” Jessica mencoba untuk bersikap tenang, menutupi pipinya yang hampir berubah merah.

“Itu sama saja, Sica-yah,” Yuri tertawa lagi.

Sebuah merong.

“Ngomong-ngomong, aku tidak tertarik dengannya. Aku hanya tertarik denganmu, Sica-yah.”

Pipi Jessica kini sudah berubah merah sepenuhnya.

“Tidak ada yang lain?”

Yuri menggeleng.

“Bahkan Jung Soo Yeon sekalipun?”

“Yah! Kenapa kau membawa-bawa Girls’ Generation dalam masalah ini? Itu adalah hal yang berbeda,” Yuri memprotes.

Jessica tertawa. “Can’t help it. Habisnya kau benar-benar gila soal mereka.”

“Karena aku adalah fans berat mereka yang setia. Tapi kau juga harus tahu kalau aku ini adalah pacar yang sangat setia juga. Dan kau mendapatkan kehormatan untuk menyebut gadis setia ini sebagai milikmu.” Yuri menyeringai.

Jessica memutar matanya tetapi akhirnya tersenyum. “Mine.”

“Yours.” Yuri mempertahankan seringaiannya.

“Mine. Mine. Mine.” Jessica tertawa setelahnya, diikuti oleh Yuri.

“Kau tahu tidak kalau kau tadi itu terdengar seperti burung-burung dari film Finding Nemo,” ujar Yuri setelahnya.

“Aku tidak peduli. Apapun itu kau tetap milikku,” Jessica menunjukkan merongnya.

Yuri tidak bisa menahan diri untuk tidak mencubit hidung Jessica. “Kenapa kau cute sekali, Sica-yah?”

Pipi Jessica merona dan dia pun tersenyum. “Terkadang aku merasa lega kau tidak bisa mengingat soal keposesifanku lebih lama dari satu hari. Jika tidak, mungkin kau akan merasa kalau aku ini menyeramkan ataupun menyebalkan dibandingkan cute.”

“Berita buruk. Sebenarnya aku bisa sudah bisa menyadari hal itu kurang dari sehari,” canda Yuri. Dia tertawa kemudian.

“Yah!” Jessica mencebil.

“Bercanda, Sica-yah.” Yuri mengacak-acak rambut Jessica sebelum merapikannya kembali bersama dengan pemiliknya yang sedang tersenyum.

Makanan mereka datang tidak lama setelahnya. Mereka menikmati makan malam mereka sambil terus menggodai dan tertawa satu sama lain. Dan seperti biasa, mereka mengakhiri kencan mereka dengan berfoto bersama.

“Aku harus beri tulisan apa kali ini?” Yuri bertanya pada Jessica.

“Hemm,” Jessica berpikir. “Yang sederhana saja. Hari ke-100 bersamamu.” Dia tersenyum.

“Baiklah,” Yuri mengangguk dan mengetik persis sama seperti yang Jessica katakana. Dia kemudian menaruh handphonenya kembali.

“Hari ini mengingatkanku akan kencan pertama kita,” ujar Jessica sambil pikirannya tanpa sadar kembali mengingat pertama kalinya mereka makan siang di restoran ini sebagai sepasang kekasih.

“Kenapa?”

“Kita makan bersama di restoran ini di meja yang sama ini. Dan coba tebak, bahkan pelayan yang sama,” Jessica terkekeh. “Kau juga memesan hitsumabushi waktu itu. Tanpa temaki karena itu adalah menu baru. Bedanya adalah saat itu kita makan siang sedangkan sekarang kita makan malam.” Jessica bicara dengan senyuman lebar terpampang di wajahnya. Itu adalah kenangan yang indah baginya. Pertama kalinya mereka menemukan cara untuk membuat hubungan mereka bisa berjalan. Pertama kalinya Yuri menyatakan perasaannya pada Jessica. Jessica mengingat setiap detail dari hari spesial itu.

Yuri, di lain pihak, hanya tersenyum tipis. Walaupun dia sudah melihat foto mereka dari kencan pertama, tetapi betapapun dia ingin untuk bisa mengingat apa yang baru saja Jessica katakan, dia tidak bisa. Tidak ada ingatan akan hal itu di otaknya.

“Aku berharap aku bisa mengingatnya, bahkan jika hanya sedikit saja. Kalu terlihat sangat bahagia di foto itu,” ujar Yuri, tidak mampu menyembunyikan kesedihannya.

Jessica memandang Yuri dan menyadari ekspresi yang berbeda dari miliknya. Dia memarahi dirinya dalam hati karena telah membicarakan topik seperti tadi. Memori adalah hal yang sensitif bagi mereka berdua. Dan di saat seperti ini, Jessica membenci memori. Kenapa dia tidak berbaik hati pada Yuri, bahkan sekali saja?

“Maafkan aku. Seharusnya aku tidak membicarakan itu. Itu tidaklah penting. Aku bahagia bersamamu. Dulu, sekarang, dan di masa yang akan datang.” Jessica bicara dengan tulus.

Melihat ketulusan Jessica, kesedihan Yuri pun perlahan menghilang. “Jadi, sekarang sudah hari ke-100?”

“Iya. Kenapa?”

“Kita harus merayakannya.”

“Bukankah kita baru saja merayakannya?”

“Tadi itu hanya makan malam, Sica-yah.”

“Apa salahnya dengan hanya makan malam, Yuri-yah?”

“Itu…” Yuri menghela napas. “Maafkan aku karena tidak menyiapkan apapun untukmu di hari yang spesial seperti ini.”

“Tidak apa-apa, Yuri-yah.”

“Pacar macam apa diriku ini. Kau pasti kecewa.” Rasa sedih dan bersalah itu pun kembali menyeruak.

“Hey, hey, aku tidak kecewa kok. Sungguh,” Jessica mencoba untuk meyakinkan pacarnya itu.

“Aku seharusnya melakukan lebih. Pasti rasanya sulit bagimu untuk memiliki pacar sepertiku yang tidak akan pernah bisa mengingat apapun.” Yuri menghela napas berat kembali.

“Yuri-yah, kumohon jangan bicara seperti itu,” gadis berambut coklat itu bicara lembut. Dia tidak suka dengan Yuri yang menyalahkan dirinya sendiri seperti ini.

Terkadang Yuri akan merasa sangat frustasi dengan ketidakmampuannya untuk membuat memori baru. Dia merasa bahwa dirinya tidak membuat perubahan apapun di saat banyak hal yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Rasanya seperti hidup di masa lampau. Dan terlebih lagi dia merasa sangat tak berdaya dalam hal membuat rencana ataupun merayakan sesuatu. Tidak ada yang pernah berjalan lancar untuknya. “Tapi itu benar. Aku bahkan tidak bisa melakukan sesuatu yang spesial untukmu hari ini.”

“Yuri-yah, dengarkan aku,” Jessica menggenggam tangan Yuri dan menatap matanya. “Bersama denganmu adalah hal spesial untukku. Aku tidak membutuhkan yang lain.”

Pipi Yuri merona merah seketika tapi dia mencoba untuk menyembunyikannya. “Tapi tetap saja…”

“Tetap saja kau adalah pacar terbaik yang bisa aku bayangkan.” Jessica memotong. “Tidak peduli betapa kekanakan ataupun anehnya dirimu. Tidak peduli betapa naif dan polosnya dirimu. Dan tidak peduli betapa pendeknya ingatanmu.”

Pipi Yuri semakin memerah hingga membuat Jessica tertawa.

“Sungguh, Yuri-yah. Itu tidak masalah bagiku. Aku tidak peduli apapun selain kau di sisiku.” Jessica meyakinkan dengan sebuah senyuman manis.

Yuri perlahan tersenyum. “Kau ini cheesy sekaligus menyebalkan.”

“Can’t help,” Jessica menunjukkan merongnya. “Aku hanya mengucapkan kebenarannya. Aku menyukai semua hal yang ada pada dirimu, baik ataupun buruk.”

Yuri tertawa. “Oke, oke. Selalu pintar beralasan, huh?”

Merong kembali dan tawa lain terlontar dari mulut Yuri.

“Mau pergi sekarang?” ujar Jessica setelah dia berhenti tertawa.

Mereka meninggalkan meja mereka dan kemudian Yuri meraih tangan Jessica untuk menyatukannya dengan tangannya sendiri. Jessica tersenyum dan mengeratkan genggaman tangan mereka. Mereka pun segera berjalan keluar dari restoran bergandengan tangan.

“Kau mau pergi kemana?” Yuri bertanya sambil mereka berjalan di sepanjang trotoar.

“Kemanapun. Aku hanya ingin bersamamu.”

Yuri terkekeh. “Sekarang aku mengerti kenapa ada banyak sekali catatan mengenai dirimu yang cheesy.”

“Yah!” Gadis yang lebih pendek itu melepaskan genggaman tangannya dan memukul lengan Yuri. “Tadi itu bahkan tidak cheesy. Aku serius, tahu,” dia cemberut.

Yuri semakin puas tertawa. Dia mencubit ujung hidung Jessica pelan. “Iya, iya. Kau tidak cheesy, tapi aku masih bisa memanggilmu cutie¸ kan?” Yuri menunjukkan seringaian terlebarnya pada gadis itu.

Pipi Jessica kini berubah merah padam.

Yuri melihatnya. “Oke, cutie kalau begitu,” dia tertawa kembali sebelum meraih tangan Jessica. Dia menggenggamnya erat. “Sekarang, kita lihat saja kemana kaki kita akan melangkah,” ujar Yuri.

Jessica membalas dengan sebuah ‘hmm’ dan anggukan. Dia benar-benar serius dengan kata-katanya barusan. Arah tujuan mereka tidak penting baginya, tapi yang bersama dengannya lah yang penting. Dan ternyata mereka pun pergi menuju ke arah pinggir sungai, dimana orang-orang suka berkunjung di akhir pekan karena pemandangannya yang indah serta lingkungan yang menyejukkan. Tiba-tiba saja….

“Aaaaakk…”

Yuri terkejut ketika tiba-tiba saja Jessica terjatuh, kedua lututnya menyentuh tanah. Dia buru-buru berjongkok dan menatap gadis itu.

“Apa kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?”

Jessica menggigit bibirnya dan menggeleng pelan sambil berusaha menahan rasa sakit yang berasal dari kaki bagian bawahnya.

Yuri melihat kernyitan di wajah Jessica dan melihat tangan gadis itu sedang berada di pergelangan kakinya, berusaha memijat-mijatnya.

“Kau keseleo?” Yuri mengangkat alisnya.

“Aku tidak tahu,” balas Jessica pelan.

Yuri memeriksa pergelangan kaki kanan Jessica dengan tangannya. Terasa hangat. “Berhenti memijatnya kalau begitu. Kita pergi saja ke dokter.”

Jessica menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Tidak mau.”

“Sica-yah, ayo. Kita harus mengobati pergelangan kakimu dulu.” Yuri mencoba meyakinkan gadis berambut coklat itu tetapi dia terus saja menggeleng. Yuri akhirnya menghela napas. “Kita pulang ke rumahmu saja kalau begitu.”

“Tapi…” gadis itu mencebil, “Bagaimana dengan kencan kita?”

“Dokter atau pulang?” Yuri bertanya lagi dengan nada tegas, mengisyaratkan kalau tidak ada lagi tawar menawar.

Jessica akhirnya menghela napas. Dia tahu Yuri tidak akan menyerah kali ini. “Pulang,” gumamnya.

Yuri tersenyum dan menaruh lengan Jessica di pundaknya. Kemudian dia membantu gadis itu untuk berdiri kembali. “Apa kau bisa berjalan?” tanya Yuri hati-hati sambil tetap memperhatikan Jessica, memeriksa kondisinya.

“Aku tidak apa-apa, Yuri-yah. Aku bisa melakukannya sendiri,” ujar Jessica sambil berusaha mengabaikan rasa sakit di pergelangan kaki kanannya. Dia tidak ingin membuat Yuri khawatir, terutama di saat kencan mereka seperti ini. Dia pun lalu berusaha untuk berjalan tetapi itu hana membuatnya lebih merasa sakit saja. Dia terjatuh kembali, untungnya Yuri sudah menangkap tubuhnya sebelum dia benar-benar terjatuh.

Yuri sudah cukup memperhatikan. Dia tahu Jessica tidak akan bisa berjalan pulang dalam kondisi seperti itu. Dia pun berpindah ke depan Jessica dan membungkukkan tubuhnya. “Naiklah ke punggungku. Aku akan menggendongmu.”

“Tidak, tidak. Aku bisa berjalan, Yuri-yah.” Jessica sekali lagi berusaha untuk berjalan yang berakhir dengan erangan kembali.

“Jelas sekali kalau kau tidak bisa, Sica. Ayolah, naik saja ke punggungku. Tubuhku sakit terus menerus membungkuk seperti ini,” ujar Yuri sambil menengok ke belakang bahunya.

Jessica akhirnya menurut dan melingkarkan lengannya di leher Yuri. Yuri kemudian mengangkat kaki Jessica dan memegangnya di bagian lutut.

“Apa kau tidak apa-apa seperti ini? Aku mungkin terlalu berat untuk digendong,” ujar Jessica di belakang Yuri.

Yuri tertawa mendengarnya. “Aku cukup kuat untuk menggendongmu, Sica. Dan kau sama sekali tidak berat. Pastikan saja kau berpegangan erat padaku dan tidak terjatuh,” Yuri mengingatkan.

Jessica tersenyum. Dia memastikan lengannya cukup aman tetapi tidak terlalu erat hingga mencekik Yuri. Dia kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Yuri saat Yuri mulai berjalan. Walaupun dia merasa sedikit bersalah karena sudah membebani Yuri, tetapi tidak dapat disangkal kalau itu terasa menyenangkan. Memeluk Yuri dari belakang. Mencium wangi manis rambutnya. Digendong oleh Yuri.

Mereka pun beruntung karena rumah Jessica tidak terlalu jauh dari sungai tersebut. Tetapi mereka tidak cukup beruntung karena tiba-tiba saja hujan turun membasahi mereka di saat mereka tinggal 500 meter lagi mencapai rumah Jessica.

“Hujan!” Secara refleks Jessica mengangkat tangan kanannya ke atas kepalanya.

“Aku tahu.” Yuri membalas sambil mempercepat langkahnya. Tetapi hujan semakin deras di setiap langkahnya. “Sial!” Gumamnya sebelum berteriak pada Jessica, “Pegangan!” Dia memutuskan untuk berlari saja daripada berjalan cepat. Sepatunya menginjak genangan air di setiap langkahnya, membuat celana jeansnya basah terkena cipratan dan sepatunya penuh dengan air. Namun dia tidka peduli. Sambil memastikan pegangannya pada Jessica dan pegangan Jessica padanya cukup erat, dia berlari sekuat tenaga menuju rumah secepat yang dia mampu. Dia tidak ingin Jessica sakit karena hujan ini.

Untung saja mereka bisa sampai di rumah dengan selamat. Hanya pakaian mereka yang basah kusup.

Pintu terbuka tidak lama setelah Jessica membunyikan bel. Tampak ibu Jessica yang segera terkejut melihat putrinya berada di punggung seseorang dalam kondisi basah kuyup. Dia pun langsung menyuruh kedua gadis itu masuk ke dalam dan meminta mereka untuk duduk di kursi kemudian meninggalkan mereka sebentar untuk mengambilkan handuk.

Sang ibu segera memarahi mereka berdua karena sudah bertindak ceroboh, berlarian seperti itu saat hujan dan tidak membawa paying mereka. Setelah selesai dia pun merawat pergelangan kaki Jessica yang keseleo. Sambil melakukan itu, dia menyuruh Yuri untuk mandi terlebih dahulu agar tidak sakit akibat pakaiannya yang basah. Setelah selesai diobati, kini giliran Jessica untuk mandi.

Sembari menunggu Jessica selesai mandi, ibu gadis itu menunjukkan keramah tamahannya pada Yuri di rumah itu. Dia senang karena bisa bertemu Yuri lagi dan meminta gadis itu untuk menginap dengan alasan sudah malam dan juga hujan deras di luar. Dia bahkan menawarinya berbagai macam makanan manis. Yuri benar-benar kenyang ketika akhirnya dia dan Jessica bisa berduaan saja di kamar Jessica.

“Kurasa perutku tidak bisa bertahan lagi jika aku tinggal lebih lama di bawah. Umma-mu benar-benar punya banyak sekali sediaan makanan.” Yuri membaringkan tubuhnya di ranjang Jessica dan mengusap perutnya yang kekenyangan.

Jessica yang sudah duduk di tempat tidur tertawa mendengar curhatan pacarnya itu. “Yeah, memang banyak sekali. Tapi dia juga sangat menyukaimu. Makanya dia memberimu banyak makanan.”

Yuri tertawa. “Setidaknya dia menyukaiku kalau begitu.”

“Aku menyukaimu jadi orang tuaku juga menyukaimu,” ujar Jessica sambil terkekeh.

Yuri tersenyum. “Aku lega mendengarnya. Tapi, tunggu,” dia berhenti sejenak. “Apa dia tahu soal kita?” Dia melirik pada gadis berambut coklat itu sambil mempertahankan posisinya.

“Ehem,” Jessica mengangguk. “Orang tuaku sudah tahu.”

“Benarkah?” Yuri berguling dan kini berbaring dengan perutnya, menahan kepalanya sambil menghadap Jessica.

Jessica tertawa kecil. “Iya, Yuri-yah. Waktu itu adalah sebuah kecelakaan. Mom tidak sengaja mendengar percakapanku dengan Fany tentang dirimu. Sejak saat itu aku berterus terang pada mereka soal kita.” Jessica menjelaskan.

“Bagaimana dengan orang tuaku?”

“Mereka tidak tahu.”

“Kita juga harus memberi tahu mereka.”

“Tidak perlu terburu-buru, Yuri-yah. Hubungan kita bukanlah sesuatu yang mudah untuk diterima.”

Yuri berpikir sejenak. “Baiklah. Tapi kita tetap perlu memberi tahu mereka.” Yuri berguling kembali. Dia memandang ke langit-langit.

“Yeah. Suatu saat nanti,” Jessica menyetujui.

“Bagaimana pergelangan kakimu?”

“Mom sudah merawatnya dengan baik. Jangan khawatir.” Dia tersenyum sambil menunjukkan pergelangan kakinya yang sekarang sudah dibalut dengan baik dan ditutupi oleh handuk yang membungkus beberapa es.

Yuri melihatnya sebentar. “Umma-mu pintar dalam melakukannya.”

Jessica tertawa kecil. “Yeah, dia dulu ikut dalam kegiatan pramuka saat masih muda.”

“Pantas saja.” Yuri ikut tertawa sambil kembali ke posisi berbaringnya.

“Yuri-yah,” panggil Jessica pelan.

“Hemm?” Gadis yang dipanggil itu memalingkan wajahnya dan mengangkat alis.

“Kesini.” Gadis berambut coklat itu menepuk tempat kosong di sampingnya malu-malu.

“Eh?”

“Apa kau mau tidur di sana sepanjang malam?” Jessica mengatakannya seolah-olah itu adalah hal yang sudah jelas.

“Eeng,” Yuri tampak seperti anak anjing yang tersesat hingga membuat Jessica tertawa.

“Ayo. Aku tidak akan menggigitmu,” canda Jessica.

“Pacar seperti apa yang suka mengigit? Kau ini bukan vampir,” Yuri ikut tertawa sambil berpindah ke tempat di samping Jessica.

“Yah! Tentu saja aku bukan vampir,” dia memukul lengan Yuri pelan yang menyebabkan gelak tawa kembali terdengar dari mulut Yuri. “Tapi seorang pacar juga bisa menggigit, tahu.”

“Ooh?”

“Yeah, ada orang-orang yang suka mengigit pasangan mereka juga. Memberi mereka hickey misalnya,” ujar Jessica acuh tak acuh.

Hickey,” Yuri menyeringai. “Apa kau berpikir untuk memberiku hickey?”

Pipi Jessica langsung tersipu merah. “Yah!” Dia melemparkan sebuah bantal pada gadis berkulit kecoklatan itu. “Tentu saja tidak. Aku hanya memberikan contoh.

Yuri menangkap bantal itu dengan sempurna dan tertawa puas. “Aku tidak keberatan jika mendapatkan hickey darimu sejujurnya.”

Pipi Jessica semakin memerah. “Apa yang kau bicarakan? Aku sudah bilang aku tidak akan mengigitmu,” dia pun mencebil pada akhirnya.

Yuri mencubit hidung Jessica. “Hanya bercanda, Sica-yah.”

Jessica tetap saja mencebil namun kemudian dia terkejut ketika tiba-tiba saja sebuah bibir mengecup bibirnya. Hanya sebuah kecupan singkat.

“Nah, jangan cemberut lagi ya,” Yuri menghadapnya dengan senyuman tulus. Itu membuat kupu-kupu berterbangan di perut Jessica. Bibirnya kinis udah membentuk sebuah senyuman indah sambil dia berusaha untuk menyembunyikan pipinya yang memerah.

“Kemarilah,” Yuri meletakkan lengannya di pundak Jessica dan menarik gadis itu mendekat. “Kau tahu kan kalau aku sangat sangat menyukaimu?”

Jessica mengangguk. “Dan aku sangat sangat menyukaimu juga, Yuri-yah.”

Yuri tidak bisa menahan senyumnya saat mendengar kalimat itu terucap dari mulut Jessica. “Yeah, aku tahu.” Jessica langsung memandanginya. “Entah bagaimana aku bisa merasakannya,” tambahnya. Jessica memalingkan kepalanya lagi untuk meringkuk pada tubuh Yuri. “Dan karena itu, kita tidak perlu terburu-buru. Kita masih mudah, dan walaupun aku bersyukur bisa memilikimu semuda ini, tapi mari melangkah pelan-pelan saja.”

Jessica mengangguk.

“Aku juga tidak ingin terburu-buru, Yuri-yah. Aku hanya ingin menikmati waktu kita bersama-sama. Seperti ini, memelukmu. Kehadiranmu saja sudah cukup untukku,” ujar Jessica sambil mengeratkan pelukannya pada Yuri.

Hati Yuri terasa hangat mendengarkan kata-kata Jessica. Dia tahu bahwa mereka telah bersama melalui video dan juga banyak catatan di handphonenya. Dia sangat bahagia akan hal itu. Tetapi merasakannya sendiri terasa berbeda. Dia merasa seperti segalanya tidaklah nyata. Pergi berkencan di hari ke-100. Berpengan tangan. Berpelukan. Menggendong Jessica. Dimarahi bersama-sama. Bahkan sekarang berbaring di tempat tidur yang sama. Dan kemudian mendengar kata-kata Jessica akhirnya memberikan dia kepastian kalau semua ini adalah nyata. Kalau gadis itu benar-benar menyukai sampai pada titik dimana yang dia butuhkan hanyalah kehadiran Yuri.

Yuri merasa dibutuhkan. Yuri merasa dicintai. Yuri merasa hidup.

“Kalau begitu kita harus selalu menikmati saat-saat kita bersama. Kita memiliki selamanya untuk dinikmati,” ujar Yuri.

“Selamanya bersama?”

“Selamanya.”

***

Yuri memicingkan matanya saat cahaya matahari mulai terproses dalam otaknya yang baru saja terbangun. Dia menjadi bingung saat melihat langit-langit di atasnya yang tidak tampak seperti kamar tidurnya sama sekali. Dia menjadi semakin bingung ketika merasakan ada sesuatu yang menimpa pinggangnya.

Gadis berkulit kecoklatan into langsung memekik keras dan meloncat dari atas tempat tidur, melemparkan apapun itu yang tadi menimpa pinggangnya. Dia kembali berteriak saat melihat dirinya menggunakan piyama yang bukan miliknya.

Apa ini? Apa yang kupakai ini? Apa yang terjadi padaku? Apa yang sudah kulakukan?

“Yuri-yah?” Sebuah suara yang masih parau memanggil.

“Kyaaaaaaaaa!!!” Yuri sekali lagi berteriak ketika seseorang muncul dari bawah selimut.

Orang itu pun segera terbangun sepenuhnya. “Yuri-yah. Ini aku, Sica.” Dia menggeser tubuhnya mendekati Yuri.

“Sica? Kenapa kamu ada disini? Dimana ini? Kenapa aku tidur denganmu? Dan piyama siapakah ini?” Yuri memborbardir Jessica dengan berbagai pertanyaan.

“Tenang, Yuri-yah,” ucap Jessica lembut.

“A…aku…” Yuri gemetar. “Aku tidak tahu apapun, Sica. Aku tidak tahu dimana ini ataupun mengapa aku berada disini atau milik siapakah piyama yang aku pakai ini. Aku bahkan tidak tahu apa yang sedang aku lakukan. Bagaimana aku bisa tenang???” Air mata Yuri pecah seketika.

“Sssht, sssht, Yuri-yah.” Jessica segera menarik gadis yang lebih tinggi ke dalam dekapannya. “Tidak apa-apa. Tidak apa-apa.” Dia mengusap punggung Yuri, menenangkan gadis itu. Setelah Yuri sudah sedikit lebih tenang, Jessica menarik gadis itu untuk duduk di sampingnya. “Biarkan aku menjelaskan?” Dia memandang Yuri lembut.

Yuri menggangguk sambil mengusap pipinya dengan telapak tangan.

“Ini adalah kamarku, ingat?”

Yuri melihat ke sekeliling dan akhirnya mengenali ruangan itu. Dia sudah pernah ke tempat itu sebelumnya ketika mereka belajar bersama-sama dulu.

“Kita ada disini karena kemarin malam hujan deras dan pakaian kita basah. Mom menyuruhmu untuk menginap saja. Kita tidur bersama tadi malam. Dan itu adalah piyamaku.”

Apa? Apa yang dia katakan? Yuri mengerjapkan matanya beberapa kali dan bahkan mencubit dirinya sendiri.  Tidak. Ini bukan mimpi. Lalu apa maksudnya tadi? Apa dia mabuk? Tapi itu juga tidak mungkin. Dia masih di bawah umur dan dia juga tidak akan mencuri-curi untuk minum alkohol. Yuri tidak bisa mengerti.

Jessica menyadari kebingungan di wajah Yuri. Dia pun berjalan ke mejanya dan mengambil iPad miliknya. Dia membuka folder miliknya dan memilih sebuah video.

“Ini. Kau bisa mengerti dengan lebih baik setelah menontonnya,” Jessica memberikan tabletnya pada Yuri dan tersenyum. “Aku akan melihat apa sudah ada sarapan untuk kita. Aku akan menunggu di luar.”

Yuri menggangguk sambil mengambil tablet itu dari tangan Jessica dan mulai menonton video tersebut.

“Dan selamat pagi, Yuri-yah,” Jessica mencuri sebuah ciuman dari pipi Yuri sebelum berjalan keluar dari kamarnya, meninggalkan gadis yang terkejut itu sendirian di dalam.

Jessica segera mendapat sapaan dari ibunya setelah keluar dari kamarnya. Dia pun mencium pipi wanita yang lebih tua itu.

“Bagaimana pergelangan kakimu?” Wanita itu bertanya sambil membantu putrinya untuk berjalan.

“Sudah lebih baik. Berkatmu, Mom,” Jessica tersenyum.

“Syukurlah.” Ny. Jung menepuk pelan kepala Jessica. “Ngomong-ngomong, apa yang terjadi pada Yuri? Aku mendengar banyak teriakan tadi,” dia bertanya lagi setelah memastikan Jessica sudah duduk.

“Ah, dia terkejut melihatku,” Jessica tertawa. “Yuri memang sedikit panikan.”

“Oh,” Ny. Jung ikut tertawa. “Kukira tadi terjadi sesuatu.”

“Untungnya sih tidak. Dia sempat menangis sebentar tapi aku bisa mengatasinya,” Jessica menunjukkan senyumannya pada ibunya. “Dia sedang menonton videonya sekarang.”

Ibu Jessica memandangi putrinya itu dengan seksama. “Aku bangga padamu, Jessie. Kau benar-benar gadis yang kuat.” Dia memeluk gadis itu.

“Aku adalah putrimu, Mom,” ujar Jessica di antara pelukan mereka itu.

Ibunya terkekeh. “Aku tahu. Oh ya, Jessie,” wanita itu tiba-tiba saja mengingat sesuatu, “Apa kau tidak ikut drama lagi semester ini? Aku ingat kalau sekolahmu mengadakan hari drama setiap semesternya.”

“Ah iya. Memang ada Mom,” jawab Jessica ragu.

“Apa kau akan ikut lagi kali ini?”

Jessica menggeleng pelan. “Tidak, Mom. Aku tidak akan ikut audisinya kali ini.”

“Kenapa? Bukannya kau suka berakting di drama?”

“Aku memang suka, Mom. Aku memang tidak mau ikut saja kali ini. Drama akan menyita banyak waktuku.”

Wanita itu memandangi putrinya itu. “Apa kau yakin kau tidak akan pergi, sayang?”

Gadis berambut coklat itu mengangguk. “Iya, mom. Aku ingin bersama dengan Yuri. Dia membutuhkanku,” jawabnya tegas.

Ny. Jung menepuk kepala Jessica sekali lagi. “Kau benar-benar cheesy, sayang.” Dia mengakhirinya dengan sebuah kekehan.

“Mom,” gadis itu mencebil. “Kumohon, jangan kau juga. Kenapa semua orang mengatakan kalau aku ini cheesy padahal aku sedang serius?” Dia merasa kesal. Dia tidak ingin orang lain salah paham dengan perasaannya yang sebenarnya hanya karena caranya mengekspresikan hal itu.

“Because there is too much cheese in you, honey.”

“Mom!” Jessica memprotes hingga membuat ibunya tertawa kali ini.

“Jessie,” Ny. Jung memanggil putrinya dengan lembut setelah berhenti tertawa. “Apa kau tidak masalah dengan semua ini? Dengan kondisinya?” Kecemasan jelas tergambar di wajah wanita itu.

“Aku tidak apa-apa, Mom. Memang ada kalanya aku akan merasa frustasi karena dia tidak bisa mengingat apapun yang telah kami lakukan bersama, tapi aku bisa menahannya. Aku tidak masalah dengan itu, Mom. Selama dia berada di sisiku,” ujar Jessica pada ibunya dengan jujur.

Sang ibut tersenyum, setengah bahagia setengah sedih. Dia bahagia melihat betapa besar cinta putrinya itu. Di sisi lain, dia juga sedih karena putrinya harus menjalani cinta yang seperti ini.

Dia menarik putrinya itu ke dalam dekapannya lagi. “Kalau begitu janganlah kehilangan harapanmu, sayang. Suatu hari nanti semuanya akan baik-baik saja.”

“Terima kasih, Mom,” isak Jessica.

Ini adalah pertama kalinya dia menceritakan perasaan frustasinya pada seseorang. Beberapa bulan belakangan ini dia telah mencoba segala cara yang dia mampu untuk menerima kenyataan yang begitu kejam ini, tetapi terkadang dinding pertahanannya akan runtuh, membuatnya merasa sedih dan frustasi.

Namun, perasaannya pada Yuri lebih besar dari itu semua. Hal itu sudah cukup untuk membuatnya bangkit kembali dan menghiburnya, memberinya tenaga lebih untuk menghadapi Yuri dengan senyuman dan hati yang gembira. Semua itu tidaklah percuma. Melihat senyuman Yuri, melihat tingkah lucu Yuri, melihat wajah gembira Yuri. Semua usahanya tidaklah sia-sia. Selama dia bisa bersama dengan Yuri, dia akan menahan segalanya, dia akan melakukan apapun.

Jessica memeluk ibunya dengan lebih erat dan membiarkan air matanya membasahi pipinya. Ibunya pun menepuk punggungnya lembut, menenangkannya sambil membisikkan kalau semuanya akan baik-baik saja.

Itu adalah saat-saat yang menyentuh. Tapi sepanjang itu semua terjadi, tidak ada satupun dari mereka yang menyadari bahwa ada seseorang yang menonton mereka dan mendengar percakapan mereka dari balik pintu sambil menangis dalam diam.

 

To be continued…

Advertisements

Author: 4riesone

SONE. Follow me on Twitter @4riesone for updates and questions

11 thoughts on “Remember Me (Chapter 17)

  1. hah mncintai sseorg memang berat prjuangan’y jga gk gmpang
    Cinta yaa itulah yg d namakan Cinta haha
    ksh Jessica kesabaran yg lbih yaa bair suatu saat nnti dy bsa rsain bahagia yg luar biasa dri hsil perjuangan cinta’y amin haha

  2. Wah mulai masuk ke cerita bagian baper nih, yg kuat yah yulsic

  3. Tetep sabar buat sica, sabar ngadepin kondisi yuri sekarang. Karna semuanya butuh proses dan perjuangan. Bakal ada waktu nya buat kalian bener2 bahagia tanpa perlu memikirkan yg lain….
    Btw gue melting liat yuri yg gendong jessica, dia mesti nahan beban yg ada dipunggung nya dan dia juga mesti lari biar mereka gak kehujanan. Salut bgt lah sama yul. Tetep semangat buat yulsic, nikmatin aja dulu lagian moment kalian sangat manis untuk skrg ini hihihi

  4. Sbr ya sica
    Kn ad kta (?)
    Wkkkakaa
    Nti jg ad jalan kok
    #eaa
    Wkakakaka

  5. Sica keren bgt, mampu bertahan d saat kondisi yuri yg kayak gitu 👍👍👍
    Cepet kembali donk yul ingatannya kan kasian sica 😞😞😞

  6. salut dg cinta na sica.. . tapi pa pnyakit yul gk bisa smbuh sama skli?

  7. Jessica fighting💪💪💪gk boleh nyerah bwt slalu disamping yuri, salut bngt sm perjuangan sica, moga sica slalu sabar ngadepin yuri.

  8. fighting sica…salut bnget sica bisa sabar dgan sakitx yuri..
    semoga yuri cepat smbuh..

  9. Permisi… numpang ikut baca yeh min… 😄

  10. Bener2 salut dg sifatnya jessie…
    Gak semua org bisa bertahan dg situasi kayak gitu..
    Ditambah lagi dg ada istilah “sabar itu ada batasnya”
    Mantap neng jessie,,pertahankan sifat malaikatmu itu naaak
    Hahahaha

  11. oho ho ho.. yuri udah tau. apa bakalan dia nyerah, karna melihat sica yg frustasi akan hubungan mereka?
    ayolah buat yuri normal lagi 😂😂😂

Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s