rara0894

All about TaeTiSeo and GG

Remember Me (Chapter 15)

27 Comments

Title         : Remember Me

Author    : 4riesone

Genre      : Fluff, Romance, Yuri

remember me

Loop – Chapter 15

Jessica memicingkan matanya dan mengerjap beberapa kali hingga mendapatkan pandangan yang lebih jelas akan apa yang ada di hadapannya. Perlahan gambaran sebuah wajah berkulit coklat dapat dilihatnya setelah matanya yang baru saja terbangung berhasil memprosesnya. Dia tersenyum namun tak lama kemudian senyuman itu berubah muram.

Kau memelukku dalam tidur.

Dia sangat menyukai perasaan ini. Tidak aneh jika dirinya bisa tidur dengan nyenyak kemarin malam meskipun perasaannya sangat buruk di hari kemarin. Dan walaupun dia menginginkan lebih dari ini, dia tetap tidak bisa. Yuri akan terkejut jika dia terbangun saat masih memeluk Jessica.

Gadis itu dengan hati-hati melonggarkan lengan yang melingkari tubuhnya dan beranjak dari sofa. Dia memandangi gadis yang tertidur itu. Yuri terlihat cantik dan damai, seolah tidak ada yang terjadi. Sekali lagi Jessica tersenyum sedih. Dia mengambil selimut dan memperbaiki posisinya di tubuh gadis yang lebih tinggi itu. Dia menyeka poni gadis berambut coklat itu agar bisa melihat wajah pacarnya tersebut dengan lebih jelas.

Dia pun mencium pipi Yuri.

“Terima kasih, Yuri-yah.”

***

“Yuri-yah!! Bangun!!”

Yuri merasakan sentakkan di pundaknya.

“Bangun, Yuri-yah.”

Sentakan lagi.

“Enggg, lima menit lagi.” Yuri memutar tubuhnya dan menutupi dirinya dengan selimut.

“Ayo, Yuri-yah. Ini sudah jam sepuluh.”

“Engg,” Yuri menarik selimutnya lebih tinggi.

“Yah, Yuri-yah!”

Bukannya bangun, gadis itu malah menarik orang yang berusaha membangunkannya dan memeluknya dalam posisi berbaringnya itu.

“Yu…Yuri-yah.”

Jessica menelan ludah melihat pemandangan di hadapannya. Wajah mereka hanya berjarak beberapa inci saja. Dia bisa merasakan napas Yuri di wajahnya, memberikan sentuhan hangat di kulitnya. Matanya menangkap setiap detail sempurna dari wajah Yuri. Alis mata hitamnya. Pangkal hidung ke ujungnya. Bulu matanya yang melengkung. Bentuk tulang pipinya. Dan…

Bibir merah mudanya.

Rasa hangat tiba-tiba saja menyerbu tubuhnya, memancar hingga setiap jengkal tubuhnya. Hal itu disertai dengan peningkatan denyut jantungnya, hampir mencapai angka 160, dan sensasi menggelitik di dalam perutnya. Semua itu tampak jelas sebagai rona kemerahan di kulit kedua pipinya.

Jessica sekali lagi menelan ludahnya.

Apa aku boleh menciummu lagi?

Perasaannya mendorong Jessica untuk merasakan bibir itu kembali untuk kedua kalinya. Dorongan untuk mencium bibir Yuri begitu tinggi. Dia pun menutup matanya dan mulai mendekat.

Tetapi…dia berhenti.

Tidak, tidak, tidak. Tidak seharusnya aku melakukan ini. Ini sama saja seperti mengambil keuntungan darinya saat dia tertidur.

Dia itu pacarmu. Tiba-tiba saja bayangan sosok hitam kecil bertanduk muncul di pundak kirinya. Gambaran pikiran jahat tipikal.

Tapi dia tidak tahu itu. Jessica membalas.

Kau tetap menginginkannya, bukan? Dia memaksa.

Iya, aku menginginkannya. Tapi…

Tapi itu akan mengejutkannya. Sesosok putih menjawab untuk Jessica. Dia seperti gambaran sosok-sosok malaikat biasanya, komplit dengan sayap dan lingkaran emas di atasnya.

Kejutan sekali dua kali itu tidak apa-apa. Dia akan menyukainya juga. Bahkan dia menarik tubuhmu. Balas si sosok hitam.

Tapi dia sedang tertidur. Sosok satunya lagi beralasan.

Di hadapannya. Si sosok hitam menjawab lagi, komplit dengan sebuah seringaian.

Betul. Jessica menyetujui.

Dengan bibir yang bebas terbuka di hadapanmu. Ujar sosok hitam itu lagi.

Kau benar lagi.

Seperti memanggilmu…Sica…Sica…ayo, cium aku. Aku sedang menunggumu. Sosok itu membuat gerakan seperti memanggil, dalam cara yang menggoda.

Kau gila. Si sosok putih membalas sambil menunjukkan ekspresi sangat kesal.

Yeah, kau gila. Jessica mengulangi.

Aku tahu kau menyukainya. Si sosok hitam tersenyum lebar.

Dengan mengambil keuntungan darinya? Tanya si sosok putih.

Jessica menutup kedua telingannya dan menggeleng dalam hati. Haish, kalian berdua berisik sekali. Pergi sana. Shoo. Shoo. Shoo. Dia mengusir kedua sosok itu. Kedua bayangan itu menghilang setelah menunjukkan merong pada satu sama lain.

“Tidak, tidak, tidak.” Jessica membebaskan dirinya dari gadis itu dan berdiri. “Bangun, Yuri-yah. Now. N.O.W.”

Dalam sekejap, Yuri pun menjadi awas dan terbangun. Nada dingin dan kata-kata itu, yang hanya dimiliki oleh satu orang saja. Dia segera bangun dan bertemu dengan tatapan dingin menusuk milik sahabatnya.

“Oh, ha…hai..Sica-yah…P-pagi.” Yuri menelan ludah.

Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan? Apa aku tadi baru saja menariknya untuk kupeluk? Oh my god, tolong aku… Aku tidak sengaja melakukannya. Aku masih ingin hidup.

“Kenapa kau begitu susah untuk dibangunkan, huh?”

Yuri tersenyum gugup. “Tanya pada dirimu sendiri, Sica.”

Dia tidak akan membekukanku, kan? Dengan hati-hati Yuri memperhatikan Si Ice Princess.

“Yah!!” Jessica memprotes.

Yuri tersenyum lebih lagi. Kurasa tidak. “Aku terkejut si tukang tidur membangunkanku.” Dia menambahkan merong di akhir.

“Haish, si tukang tidur ini berbaik hati padamu, tahu.”

“Aku tahu. Aku tahu. Terima kasih, Sica-yah.” Yuri menunjukkan tampang puppynya.

Jessica menghela napas. “Baiklah, baiklah. Hentikan tampangmu itu, Yuri-yah.”

Yuri melakukan sebaliknya. Dia tetap menunjukkannya.

“Yah, Yuri-yah!”

Akhirnya Yuri menghentikannya dan tertawa puas.

“Geez,” Jessica mencubit lengan Yuri keras.

“Yah, yah, yah, Sica-yah! Sakit. Sakit. Lepaskan aku.”

“Rasakan akibatnya, Kwon Yuri.” Jessica menjulurkan lidahnya dan memalingkan muka. Diam-diam dia tersenyum. Meskipun kondisi Yuri kurang baik, tetapi interaksi mereka tidak berubah.

Yuri mencebil. “Kenapa kau ada disini.”

“Membangunkanmu, Kwon Yuri.”

“Maksudku, kenapa kau ada di dorm ku, Sica-yah?”

“Oh, itu…” Sica berhenti sejenak. “Kita sudah janjian di rumah Sooyoung. Tapi kau tidak menjawab apapun di chat.”

“Ada Yoona disini, kan? Kau tidak perlu repot-repot kemari.”

“Dia sedang tidak disini. Dia sudah pergi sejak pagi.”

“Sulit dipercaya,” Yuri tertawa.

“Percaya saja.” Jessica terkekeh. “Nah, nah, sudah cukup ngobrolnya. Pergi mandi sana,” Jessica menarik Yuri agar bangkit dari tempat tidurnya. “Shoo. Shoo. Shoo.” Dia mendorong gadis yang lebih tinggi itu ke kamar mandi.

Yuri tertawa. “Yes, Madam. I’m going.” Setelah berkata demikian Yuri pun menghilang menuju kamar mandi.

***

“Dimana Tiffany?” Tanya Yuri yang baru saja berjalan masuk bersama dengan Jessica. Mereka menuju tempat di samping Yoona.

“Dia masih di jalan,” jawab Yoona tanpa melepaskan kentang goreng di tangannya.

“Oh oke.” Yuri mengambil satu kentang dari Sooyoung.

Sooyoung menatap horor saat kentang goreng itu secara perlahan tapi pasti masuk ke mulut Yuri. “TIDAAAAAAAKKKKK!!!”

Seluruh mata berpaling pada gadis yang berteriak itu.

“Yah, Kwon Yuri!! Berani sekali kau memakan kentang gorengku!!!” Mata Sooyoung berapi-api. Hidungnya melebar. Dia bersiaga seperti banteng yang sudah siap menyerang bendera merah.

“Woo wooo, santai, Sooyoung-ah.” Yuri bergeser mundur. Shiksin yang satu ini benar-benar menyeramkan jika sudah berurusan dengan kehilangan makanan. “Ini, ini. Aku akan mengeluarkannya lagi.” Yuri mencoba untuk membatukkan kentang goreng yang tadi dimakannya.

“Yah, Yuri. Jijik!” Jessica memukul lengan Yuri.

“Hidupku sedang dalam bahaya ini. Lihat si shikshin yang sedang marah itu.” Yuri menunjuk Soyoung.

“Kau tidak akan bisa selamat, Kwon Yuri!” Sooyoung mempersiapkan dirinya.

Satu…

Dua…

Tiga…

Dia berjalan maju.

“Hentikan!!” Tiba-tiba saja Jessica sudah berdiri di antara Sooyoung dan Yuri, membuat Sooyoung berhenti. Tangan Jessica kokoh di dahinya, mencegahnya untuk berjalan lebih jauh.

“Minggir, Sica!”

“Jangan, Sica. Kau harus menyelamatkanku dari monster kentang itu,” Yuri memelas.

Jessica mengerang. “Chill off, Soo. Kau ini berlebihan sekali. Tadi itu cuma satu kentang goreng.” Dia tidak menggeser tangannya.

“Tetap saja, itu adalah kentangku,” protes Sooyoung. Dia menatap teman shikshinnya. “Yoona, kau tahu bagaimana perasaanku, kan?”

Yoona menjawab dengan mengangkat bahu dan menjulurkan lidahnya.

“Yah! Aku benci kau, Im Yoona.”

“Cukup, cukup. Kau harus belajar tenang dalam hal makanan!” Jessica akhirnya mengeluarkan tatapan tajam mematikannya pada si gadis jangkung.

Sooyoung akhirnya menyerah. Dia pun cemberut. “Ini tidak adil.”

“Apa? Kau tadi akan menyerangku,” bela Yuri.

“Kau punya Sica yang melindungimu. Sedangkan aku? Hanya ada si choding disana yang bahkan tidak mau menolongku walaupun dia merasakan hal yang sama denganku. Ini tidak adil. Dua lawan satu itu tidak adil.”

“Sudah terima sajalah, Soo.” Yoona berkomentar sebelum tertawa puas.

“Haish, diam kau choding!”

Sebuah merong. Dan tawa terbahak-bahak.

“Apa yang kalian tertawakan?” Tiffany akhirnya tiba.

“Fany-ah,” Jessica adalah yang pertama menyapa gadis berambut hitam itu. “Oh, Taeyeon juga datang?” tambahnya setelah melihat seorang gadis berkacamata.

“Hai semuanya,” ujar gadis itu malu-malu.

“Kau!!” Sebuah sahutan datang dari salah satu dari mereka. Itu adalah Yuri. “Kau si gadis berkacamata!!” Yuri berdiri dan berjalan menuju Taeyeon, yang tiba-tiba saja merasa tidak nyaman berada disana.

“I-iya, Yuri-yah.”

“Kenapa kau memanggilku seperti itu?” Yuri terkejut akan cara Taeyeon memanggilnya.

“Here it comes again,” gumam Sooyoung.

“Kita sudah saling memanggil seperti belakangan ini, Yuri-yah.” Gadis berkacamata itu mencoba menjelaskan. Temannya yang lainnya entah menghela napas atau menutupi muka mereka.

“Apa?” Yuri jelas tidak mengerti akan apa yang dikatakan gadis berkacamata itu.

“Kita sudah bersama sejak sebulan yang lalu.”

“APA??!!” Itu adalah reaksi langsung Yuri.

Penjelasan Taeyeon menimbulkan gelak tawa dari teman-temannya yang lain.

“Kenapa kau mengatakannya seperti itu, Tae? Itu aneh.” Tiffany menoel Taeyeon sambil menahan tawanya.

Taeyeon menatap Tiffany, tidak segera mengerti kenapa yang lainnya tertawa sedangkan dia harus menghadapi saat-saat yang sulit dengan Yuri.

“Apa maksudmu kita bersama? Aku tidak pernah berpacaran denganmu.” Yuri bicara lagi.

Oh. Akhirnya otak Taeyeon mengerti.

“Ah, maksudku bukan seperti itu. Kita sudah menjadi teman, sejak Fany mengenalkanku padamu bulan lalu.”

“Itu tidak mungkin!!”

“Itu benar, Yuri-yah,” ujar Fany.

“Ada apa ini, Fany-ah?” Mata Yuri tertuju pada tangan mereka yang bergenggaman. Matanya melebar seketika. “Dan kenapa kalian berpegangan tangan? Apa kalian berdua pacaran?” Suaranya setengah meninggi.

Tiffany segera melepaskan tangan Taeyeon. “Yuri-yah, ini…”

Yuri memandangi teman-temannya yang lain yang tidak tampak terkejut dengan hubungan yang baru ini. Dia segera berpaling lagi pada temannya yang berambut hitam.

“Yang benar saja, Fany-ah? Kau menyembunyikan hal seperti ini dariku? Kau sudah memberi tahu mereka, tapi tidak padaku? Aku pikir kita dekat. Tapi kau bahkan tidak memberi tahuku hal penting seperti ini. Kau benar-benar sulit dipercaya, Fany-ah.”

“Bukan seperti itu, Yuri-yah.”

“Lalu apa? Jelaskan padaku kenapa hanya aku seorang yang tidak tahu soal hubunganmu?

“Itu karena…” Tiffany tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya.

“Tenang dulu, Yuri-yah. Kami akan menjelaskannya.” Jessica menghampiri Yuri yang tampak tidak senang dengannya saat ini.

“Aku merasa sangat terkhianati, Sica-yah.”

“Aku tahu, aku tahu, tapi kami bisa menjelaskannya.”

“Menjelaskan bagaimana dia berbohong padaku?” ujar Yuri sedikit kasar.

“Yuri-yah!!!” teriak Taeyeon.

“APA?!” teriak Yuri balik.

Gadis berambut coklat itu menutup matanya dan menghela napas sebelum berbicara. “Kau tahu Fany tidak seperti itu, Yuri-yah. Dia tidak akan melakukannya.”

“Aku juga dulu berpikir seperti itu, tapi ternyata aku salah.”

“Yuri-yah!!” Taeyeon berteriak lagi.

“Apa?!! Berhenti memanggilku seperti itu, gadis berkacamata!” engah Yuri.

Kata-kata itu membuat keheningan mengisi ruangan tersebut dan kepala kedua gadis tertuduh itu tertunduk rendah. Taeyeon dan Tiffany benar-benar terkejut akan kemarahan Yuri.

“Yuri-yah, kumohon, tenanglah dulu. Ini tidak seperti dirimu. Kumohon, duduklah dulu. Hemm?” Jessica menunjukkan tampang memelasnya, yang dipenuhi kesedihan.

Saat Yuri melihat wajah Jessica, amarah itu perlahan menghilang. Dia juga tidak tahu kenapa dia merasa begitu marah seperti itu. Dia bukanlah tipe yang mudah marah. Apa itu karena dia merasa kecewa? Atau karena dia merasa cemburu? Apapun itu, ini tidak benar. Pasti tadi dia sudah kehilangan akalnya.

“Maafkan aku,” ucap Yuri setelah sedikit lebih tenang.

“Tidak apa, Yuri-yah,” Jessica mengelus punggung Yuri pelan. “Ini, bisa membantumu lebih tenang lagi.” Dia menyerahkan secangkir the madu hangat.

“Terima kasih, Sica-yah,” ujar Yuri sebelum meneguk minuman itu.

Sebuah senyuman sebagai balasannya.

“Apa aku bisa jelaskan sekarang?” Jessica bertanya pada Yuri.

“Tentu. Aku akan mendengarkan.”

Jessica menarik napas dalam sebelum menatap Yuri. “Kau memiliki anterograde amnesia, Yuri-yah.”

“Hah? An…antelope apa?”

Sooyoung dan Yoona tertawa terbahak-bahak.

“Yeah, yeah, kau ini antelope, Yuri-yah,” goda Sooyoung sebelum tertawa lagi.

“Antelope Yuri!” Yoona menambahkan.

“Yah, yah. Aku bukan antelope,” Yuri cemberut.

“Cute antelope Yuri,” Jessica mencubit pipi Yuri.

Gadis yang lainnya langsung mengeluarkan suara ‘ewww’ sedangkan pipi Yuri merona merah. Jessica menunjukkan merongnya pada teman-temannya dan tertawa kemudian.

“Anyway, bukan antelope, Yuri-yah. Tapi anterograde amnesia.” Jessica bicara lagi.

“An…ante apa?”

“Anterograde,” Jessica mengulang.

“Haish,” Yuri mengacak-acak rambutnya, “terserahlah. Apa itu?” Dia menatap Jessica.

“Itu adalah kondisi dimana kau tidak bisa mengubah memori jangka pendekmu menjadi memori jangka panjang.”

“Yah, Sica-yah. Aku tidak separah itu, tahu. Walaupun aku tidak memiliki ingatan yang tajam sepertimu, aku masih bisa mengingat banyak hal.” Yuri memprotes.

“Aku tahu, Yuri-yah. Tapi memang seperti itu adanya. Kau menderitanya setelah kecelakaan yang melukai bagian dari otakmu.”

“Kecelakaan?”

Jessica mengangguk. “Kecelakaan mobil, kurang lebih sebulan yang lalu.”

“Aku…” Suara Yuri menghalang. Jelas ekspresi wajahnya menunjukkan kalau dia sangat terkejut.

“Itulah kenapa kau tidak bisa mengingat soal Taeyeon dan Tiffany. Percaya aku, kau ini yang pertama mengucapkan selamat pada mereka.’

“Iya, Yuri-yah. Itu benar,” Tiffany mengkonfirmasi. “Aku tidak akan pernah menyembunyikan hal ini darimu.”

“Iya, Yuri-yah,” si gadis berkacamata meyakinkan.

“Aku…” Air mata mulai jatuh ke pipinya. “Maafkan aku sudah menyalahkan kalian,” dia melayangkan pandangan meminta maaf pada Taeyeon dan Tiffany dengan matanya yang sudah berair.

“Tidak apa, Yuri-yah. Kami bisa mengerti. Hanya sedikit tidak nyaman saja. Tapi tidak apa,” Tiffany tersenyum, mengubah matanya menjadi bentuk bulan sabit.

“Jangan khawatirkan soal aku juga,” Taeyeon tersenyum.

Yuri tersenyum meskipun masih menangis. “Apa lagi yang aku lewatkan?”

“Hemm, tidak terlalu banyak hal yang terjadi karena sekarang ini masih masa liburan. Tapi sekarang Sooyoung dan Yoona sudah mencapai pertandingan ke-527 mereka dengan skor 264 vs 264,” ujar Jessica.

“Siapa yang menang?”

“Menurutmu siapa?”

“Aku bertaruh untuk Yoona.”

“Yep, benar.”

Di sisi yang lain, Yoona menjulurkan lidahnya pada Sooyoung.

“Dan apa lagi?”

“Hemm…”

“Ya?”

“Kita…kita…” pipi Jessica sudah berubah merah. Sorakan keras dan beberapa ucapan menggoda terdengar di belakang, membuatnya merona semakin merah saja. Jessica menggeleng.

“Ayo kita bicara di luar.”

“Eh?!” Yuri terkejut saat Jessica menarik tangannya tiba-tiba dan menariknya keluar.

“Yah, Sica-yah. Kau tidak seru!”

“Yep, pelit!”

“Kami sedang menonton drama disini.”

“Tetaplah disini, Sica-yah.”

Teman-temannya tidak juga berhenti menggodainya meskipun dia sudah keluar dari ruangan itu. Dia masih bisa mendengar tawa keras setelahnya.

Fiuh. Untung saja aku segera pergi. Mereka tidak boleh melihat versi gagapku. Ini memalukan.

Mereka pun berhenti dan duduk di kursi taman belakang.

“Yuri-yah…”

“Hemm?”

“Soal yang tadi…” Jessica menarik napas dalam dan menghembuskannya. Dia melakukan hal itu beberapa kali untuk menenangkan diri. Namun tetap saja merah di pipinya tidak mau menghilang.

“Se…sebenarnya, kita berdua sudah bersama. Hampir satu bulan sekarang. Dan bukan sebagai teman, seperti yang terjadi antara kau dan Taeyeon. Tetapi sebagai…” dia berhenti sejenak saat merasakan jantungnya berdegub semakin kencang. “Sebagai sepasang ke…kekasih. Jika ini membuatmu bingung, ketahuilah saja kalau…aku…aku menyukaimu, Yuri-yah. Suka seperti pada pasangan, bukan pada sahabat.” Jessica berhenti lagi. “Ahh… ini memalu—“ dia benar-benar berhenti ketika merasakan sebuah beban menimpa baunya.

“Yu-Yuri-yah.”

Yuri ternyata tertidur di pundak Jessica.

Jessica hanya bisa tersenyum melihatnya dan mengusap rambut coklat di wajah Yuri. “Pasti ini sangat berat untukmu.” Dia membetulkan posisi dirinya dan Yuri agar pacarnya itu bisa tidur dengan lebih nyaman.

“Apa kau tahu, Yuri-yah, sudah berapa kali aku menyatakan perasaanku padamu?” Dia bertanya pada gadis yang tertidur itu. “Ini sudah ke-18 kalinya.” Dia tertawa kecil. “Tapi lucunya adalah aku masih saja gugup setiap kali melakukannya. Aku sudah tergagap berulang kali bulan ini, bahkan lebih banyak daripada yang pernah aku lakukan di sepanjang hidupku sebelumnya.” Dia tertawa lagi.

“Walaupun begitu, aku akan tetap melakukannya lagi dan lagi agar kau mengetahui perasaanku. Selain itu ekspresi lucu dan terkejutmu setelahnya sangat mengesankan.” Jessica melingkarkan lengannya di bahu Yuri dan menepuknya disana dengan lembut sambil menatap ke langit biru.

Jessica sudah berhadapan dengan beberapa versi terkejut Yuri. Pertama kalinya Yuri melihat Taeyeon dan Tiffany setelah kecelakaan, reaksi Yuri mirip dengan hari ini, hanya dengan alasan yang berbeda. Dia merasa dia perlu mendengarnya langsung dari mulut Tiffany, bukan memergokinya tiba-tiba seperti itu. Jadi kali berikutnya, Taeyeon dan Tiffany memutuskan untuk melakukan pengumuman tentang hubungan mereka sekali lagi. Reaksi Yuri baik. Dia menyelamati pasangan itu dan tertawa bersama. Sisa-sisa hari itu berjalan dengan baik.

Mereka melakukannya lagi dan lagi, seperti sudah dinaskahkan. Hal itu berubah pada kali kelima. Yuri mempertanyakan reaksi tenang dan bahagia Jessica terhadap hubungan Tiffany. Dia kemudian menanyakan pendapat Jessica. Akhirnya Jessica pun menyatakan perasaannya lagi pada Yuri. Yuri menerimanya dengan hati senang. Jadi sejak saat itu, Jessica selalu memberi tahu Yuri tentang perasaannya. Berulang kali.

Hal itu terjadi lagi, berulang dalam putaran yang sama.

Namun hal itu membuat teman-temannya yang lain menjadi lelah dan frustasi, terutama Taeyeon dan Tiffany. Berapa lama lagi mereka harus berpura-pura di hadapan Yuri? Berapa lama lagi mereka harus berbohong padanya? Rasanya mereka seperti terus-terusan berbohong pada Yuri jika mereka meneruskan akting mereka.

Hari ini mereka memutuskan untuk mengakhirinya dan bersikap biasa saja. Walaupun pada akhirnya Yuri bisa menerimanya namun hasil ini tidak sepenuhnya menyenangkan, dengan teriakan-teriakan dan tuduhan-tuduhan itu. Mereka berpikir kalau ini untuk yang terbaik, tetapi nyatanya hanya semakin buruk. Hal ini membuat Jessica bepikir keras. Dia tidak lagi yakin apa yang harus mereka lakukan ke depannya.

Pasti ada suatu cara untuk keluar dari semua kebohongan dan keterkejutan yang mereka hadapi setiap kali mereka pergi bersama. Selain itu, Jessica sangat menginginkan satu hari yang menyenangkan bersama Yuri. Berdua saja. Seperti sepasang kekasih. All lovey dovey. Dia memerlukan cara yang lebih halus dan baik untuk mengungkap berita itu pada Yuri. Tanpa berbohong dan tanpa membebani.

Apapun itu cara yang lebih baiknya, Jessica sudah meyakinkan dirinya untuk terus bersama dengan Yuri. Selama Yuri ada di sisinya, dia akan berusaha leboh keras, dia akan bertahan lebih lama.

Jessica memeluk Yuri lebih erat. “Aku menyukai ini, Yuri-yah. Kita harus melakukannya lebih sering.”

Yeah. Selama mereka tetap menyukai satu sama lain dan tetap bersama, mereka pasti akan melakukannya lebih sering di hari-hari ke depan.

To be continued…

***

Advertisements

Author: 4riesone

SONE. Follow me on Twitter @4riesone for updates and questions

27 thoughts on “Remember Me (Chapter 15)

  1. kasian miss jung,,,,ttp semangat aku yakin yuri akan baik-baik saja.hidup pasangan taeny
    couple shiksin lebih berjaya

  2. ksian bgt sica smga mereka nemuin cra biar yul sembuh

  3. Haaaa.. Akhirnya Update juga 👍

    Yah yuri malah tidur 😃 Jessica nya lagi ngomong malah tidur AMPUN DJ 😔

  4. Bener2 cobaan banget buat jessi 😢😢
    Untung aja dy sabar banget

  5. Sabar ye jess, pasti ada jalan buat yul sembuh 😭😭😭😭
    Choi shikshin seremnya kalo lagi marah 😂😂😂😂

  6. makin bingung ksna na…. itu otak yuri gk nyambung2…

  7. yulll kapan sembuh…T_T
    ksian jessica…

  8. Suruh authorny sembuhin jess
    Itu satu2ny jalan
    Wkakkaakakkakaa
    Semmgatt sicaaa
    Taeny taeny 😍😍
    Akkakakaa
    Lanjut2

  9. Jessica fighting, jgn nyerah bwt slalu ingetin yuri ya💪💪💪
    Haduh mo nyium yuri aja pake mikir lama, kl aq sih lngsung aja, sayangkn tuh bibir di anggurin hehehe

  10. Terharu gue sama lu sica tabah amat sama si yul gue makin suka sama karakter sica di ff ini

  11. Waduh makin runyam gni ya bs sembuh gak ya yurix kan kasian kl dsruh kaget trus2an jess jg hebat bs nembak yuri sampek 18x hahaha hei thor lama gak mampir ksini

  12. Skrg jadi jessica yg mesti bersabar dan berjuang demi perasaan nya. Semangat!! Cepet sembuh kek itu yuri, kan gasabar mau liat lovey dovey nya mereka duhduh☺️

  13. omg..berulang kali sica mnyatakan prasaannya..yuri sembuhlah..biar bisa lovey dovey sama sica..

  14. *Ninggalin jejak.. ’cause q bacanya dr part 16 😁

  15. mengulang dalam posisi yg tetep tidak berubah, mohon bersabar sica ini ujian hahahaha…

Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s