rara0894

All about TaeTiSeo and GG

Remember Me (Chapter 14)

27 Comments

Title         : Remember Me

Author    : 4riesone

Genre      : Fluff, Romance, Yuri

remember me

I Don’t Know – Chapter 14

 

“Kenapa mereka ada disini?” Yuri memandangi dua temannya di kebun belakang. Mereka sedang bekejar-kejaran satu sama lain dengan kaki ayam di tangan yang berakhir pada posisi bergulat. Ini akan menjadi pergulatan ke-520 mereka.

“Ini adalah pesta penyambutanmu.”

“Pesta apa?”

“Pesta penyambutan. Kau baru saja keluar dari rumah sakit, ingat?”

Yuri mengedip sekejap. “Oh yeah, yeah.”

“Ada apa denganmu?” Tanya Tiffany.

“Tidak ada. Mungkin asap dari barbeque ini membuat pikiranku berkabut.”

Tiffany tertawa. “Sayang sekali. Padahal kau sudah punya otak yang lambat,” Tiffany menyeringai.

“Yah!!” teriak Yuri. “Aku tidak akan memberimu daging.”

“Aku bisa memanggangnya sendiri,” dia mengeluarkan merongnya.

“Haiisssh, kau!” Yuri sudah siap dengan posisi menyerangnya saat seorang gadis berambut coklat datang menyela.

“Apa yang terjadi?”

“Cewek berisik ini menggangguku.”

“Ya?! Siapa yang berisik!!” Tiffany memprotes.

Yuri dan Jessica segera refleks menutup telinga mereka.

“Kau itu berisik, Fany-ah.” Yuri mengkonfirmasi.

Tiffany akan memprotes kembali tetapi Jessica menyela lagi. “Apa yang dia lakukan?” tanyanya pada Yuri.

Yuri menatap Jessica. “Apa yang dia lakukan?”

“Iya. Apa yang dia lakukan hingga mengganggumu, Yuri-yah?”

“Ah itu,” Yuri berhenti sejenak. Dia tampak seperti sedang berpikir. “Ada sesuatu yang menggangguku.”

Mendengar jawaban itu, Tiffany refleks tertawa. “Apa kubilang? Aku benar soal otakmu, Yuri-yah.”

Anehnya, Yuri tidak membalas perkataan Tiffany. Dia seperti sedang tenggelam dalam pikirannya.

“Dan apa itu, Yuri-yah?”

Tidak ada jawaban.

“Yuri-yah.”

“Aku tidak tahu.”

“Kau tidak tahu?” Tiffany ikut menimbrung.

Yuri menggeleng kepalanya perlahan.

“Tapi itu baru beberapa menit yang lalu, Yuri-yah. Tidak peduli betapa lambannya otakmu, tapi ini benar-benar aneh.”

“Yah!!” Yuri berteriak pada gadis yang sekarang ini sedang tertawa.

Tepat, Fany-ah. Ini aneh.

“Yuri-yah!” panggil ibu Yuri. “Apa barbequenya sudah siap?”

Yuri mengambil daging terakhir dan menaruhnya di atas piring. “Sudah, Umma.”

“Masuklah kalau begitu. Makan siang sudah siap.”

“Baiklah.”

Yuri mengambil piring-piring berisi barbeque dan berjalan masuk setelah memberi tahu Tiffany dan Jessica untuk menghentikan kedua gadis yang sedang bergulat dan segera masuk ke dalam.

Yuri, keluarganya dan teman-temannya menikmati makan siang mereka bersama. Keempat gadis lainnya dapat berbaur dengan baik dengan keluarga Yuri. Yoona dan Sooyoung, yang sudah menjadi sahabat Yuri sejak taman kanak-kanak, sudah mengenal keluarga Yuri dengan baik. Dan kemampuan melawak mereka selalu mampu membuat tawa pecah dalam keluarga itu sepanjang makan siang. Tiffany dengan pesona eye-smilenya dan juga semangatnya yang tinggi dapat membuat makan siang tersebut menjadi lebih hidup. Tinggal Jessica lah yang menghabiskan hampir sepanjang waktu makan siang tersebut dalam diam. Ada sesuatu yang memenuhi pikirannya.

“Wow, Oppa. Kau benar-benar luar biasa,” ujar Sooyoung terpukau.

“Iya, Oppa. Kau luar biasa.” Yoona menyetujui.

Kakak Yuri tertawa mendengarnya. Dia baru saja memberi tahu mereka tentang ceritanya saat di bangku kuliah ketika bertemu dengan dua pencuri dan berhasil mengusir mereka pergi.

“Apa aku bisa mendaftar sebagai pacarmu?” Sooyoung tiba-tiba saja berbicara.

“Yah!! Sooyoung-ah!” Yuri segera berteriak pada temannya itu sedangkan kakaknya hanya tertawa mendengarnya.

“Ya, ya, ya, aku juga, Oppa!” Yoona pun mengikuti jejak teman jangkungnya tersebut.

“Yah, jangan kau juga, Im Yoona. Kau memalukan!” Yuri menangkup wajahnya.

Kakak Yuri tertawa dan mengacak-acak rambut adiknya itu. “Tidak apa, Yuri-yah. Mereka lucu.”

Yoona dan Sooyoung menunjukkan merong mereka bersamaan pada Yuri.

“Dengar? Bahkan Oppamu bilang kalau kami ini lucu.”

“Kami lucu, Yuri-yah, sudahlah terima saja.”

“Haisshhhh, yeah yeah, kalian menang.” Yuri menghela napas, merasa dikalahkan.

Mereka semua tertawa, kecuali satu orang, lagi.

“Kau tidak ingin bergabung dengan mereka, Fany-ah?” ibu Yuri menggoda gadis berambut hitam itu.

“Ah,” Tiffany merona merah. “Tidak, Ahjumma. Terima kasih.” Tiffany menjawab malu-malu. Rasanya canggung sekali.

“Oh kenapa? Bukankah dia cukup tampan?” Ibu Yuri menggodainya lagi.

“Umma, hentikan,” kakak Yuri merasa canggung.

“Ah, tidak, Ahjumma. Bukan seperti itu.”

“Lalu?”

“Dia sudah tidak single lagi, Ahjumma.” Akhirnya Yoona menjawab untuk temannya yang sudah seperti kepiting rebus itu.

“Oh, benarkah? Wah, sayang sekali. Aku akan dengan senang hati menerima seorang gadis cantik ke dalam keluargaku.” Ibu Yuri tertawa kecil.

“Umma, hentikan.” Kakak Yuri memprotes lagi.

“Oke, oke. Memang menyenangkan menggodai kalian anak-anak muda. Aku akan menutup mulutku sekarang.” Dia membuat gerakan menutup ritsleting pada mulutnya dan membuat gerakan seolah-olah membuang kuncinya jauh-jauh. Sudah jelas dari mana Yuri mendapatkan kejenakaannya.

“Jadi siapa yang akan kamu pilih, Oppa?”

“Hemm…. di antara kalian berdua?”

Mereka mengangguk bersamaan. “Kau hanya bisa memilih kami. Hanya kami yang tersedia. Mereka berdua sudah ada yang punya.” Mereka menunjuk pada Tiffany dan Jessica.

“Sica juga?” Tanya kakak Yuri.

Yoona dan Sooyoung terkekeh bersamaan. “Yeah.”

“Siapa orang yang beruntung ini, huh?” kakak Yuri pun menjadi penasaran.

Pipi Jessica memerah karenanya. Dia adalah adikmu, Oppa.

“Tunggu, tunggu, tunggu!” Yuri tiba-tiba saja memotong.

Semua mata tertuju padanya.

“Apa maksudmu? Sica sudah pacaran? Bagaimana bisa? Kapan?” Yuri mengungkapkan keterkejutannya.

Empat mata yang melebar serta mulut yang menganga.

“Yuri-yah…” Jessica merasa setiap inci tubuhnya melemah. “Ini tidak lucu.”

“Seharusnya aku yang berkata seperti itu, SIca. Bagaimana bisa kau tidak memberi tahuku hal seperti ini?”

Semua mata di ruangan itu memperhatikan kedua gadis tersebut. Yang satu menatap tajam pada gadis lainnya, sedangkan yang satunya memandangi gadis satunya dengan tatapan sedih.

“Yuri-yah, jika kau sedang bercanda, ini benar-benar tidak lucu.” Tiffany mencoba untuk membantu.

“Bahkan kau juga, Fany-ah. Kau juga menyembunyikan sesuatu dariku.”

“Apa?” Tiffany terkejut.

“Hei, hei, hei, tenang dulu, oke. Yuri-yah, tenang.” Kakak Yuri mengelus punggung adiknya itu. “Pasti ada penjelasan untuk semua ini.”

“Sudah seharusnya.

Mata sekarang tertuju pada satu gadis berambut coklat. Dia sedang menatap balik ayah dan ibu Yuri.

“Ahjumma, Ahjussi,” dia memanggil kedua orang tua itu, “apa kalian bisa menjelaskan apa yang terjadi? Karena jelas sekali ada sesuatu yang tidak benar disini. Aku mohon. Kami perlu mengetahui kebenarannya. Kalian tidak bisa menyembunyikan ini selamanya dari kami,” dia memohon dengan sangat.

Ayah Yuri menghela napas berat. “Iya, SIca-yah. Kami akan memberi tahumu. Sebenarnya, kami akan memberi tahu kalian tentang hal ini pada makan siang ini.”

“Tunggu, apa?” Yuri memandang ayahnya. “Apa yang akan kau beri tahukan pada kami, Appa?”

“Tentang kondisimu, Yuri-yah.” Dia menatap putrinya dengan tatapan penuh perhatian namun juga tersirat kesedihan di dalamnya.

“Ada apa memangnya? Aku merasa baik-baik saja.”

Ayah Yuri menghela napas kembali dan mengabaikan putrinya. Dia pun memandangi putranya dan keempat gadis di seberang meja. Istrinya memberi semangat dengan menggenggam tangannya.

“Yuri mengalami anterograde amnesia.”

Bomb sudah dijatuhkan ke tanah dan membuat ledakan besar, terutama di dalam diri Jessica.

“A…apa maksudmu, Ahjussi? Amnesia? Tetapi ingatannya baik-baik saja.”

“Ini adalah tipe amnesia yang lain, Sica-yah. Kondisi ini menganggu kemampuannya untuk menyimpan ingatan dalam otaknya. Itulah mengapa dia tidak bisa mengingat apapun setelah kecelakaan tersebut.”

Dia tidak bisa mengingat apapun setelah kecelakaan tersebut.

Dia tidak bisa mengingat apapun setelah kecelakaan tersebut.

Dia tidak bisa mengingat apapun setelah kecelakaan tersebut.

Kalimat itu menggema dalam pikiran Jessica. Dia merasa sepertinya hatinya tenggelam jauh lebih dalam dan dalam di tiap gemaan. Tenaganya terserap habis dari tubuhnya.

“Lalu bagaimana dengan sekolahnya, Umma?” Tanya kakak Yuri.

“Dokter mengatakan kalau dia masih bisa menjalani aktivitasnya sehari-hari. Dia bisa mempelajari hal baru dan dia juga bisa mengobrol dengan normal, hanya perbedaannya adalah ketika pikirannya teralihkan dia akan lupa apa yang sedang dia bicarakan atau apa yang sedang dia lakukan.”

“Bagaimana dia masih bisa belajar kalau dia tidak bisa mengingat?” Tanya Yoona bingung.

“Untungnya, dokter mengatakan kalau kerusakan yang terjadi hanya pada area yang berperan dalam kemampuannya mengingat kejadian sehari-hari.” Ayah Yuri kembali menjelaskan.

“Interaksi serta apa yang dilakukannya. Bukan kemampuannya,” tambah sang ibu.

Sisa percakapan tersebut tidak begitu jelas untuk Jessica. Kepalanya berputar-putar disertai kata-kata yang tidak jelas menggema dalam pikirannya.

Bagaimana ini bisa terjadi? Ketika akhirnya Yuri menjadi miliknya. Ketika akhirnya dia bisa membuat lebih banyak dan lebih banyak kenangan bersama dengan Yuri. Kenapa? Semua mimpinya bersama Yuri hancur begitu saja, pecah berkeping-keping.

Apakah ini adalah harga yang harus dia bayar?

Jika demikian, ini sangatlah kejam. Ini bahkan lebih kejam dibandingkan dengan Yuri kehilangan ingatannya. Tidak mampu membuat ingatan yang baru itu jauh lebih parah dari apapun. Itu seperti hidup dengan masa lalumu. Tidak ada masa kini. Tidak ada masa depan.

Perlahan, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya dan jatuh membasahi pipinya.

Yuri-yah, kenapa?

***

“Apa aku bisa meminta bantuanmu?” Ibu Yuri memandang keempat teman putrinya.

“Apa itu, Ahjumma?” jawab Jessica.

“Apa kalian bisa menjaga Yuri?”

“Tentu saja, Ahjumma. Anda tidak perlu memintanya,” gadis berambut coklat itu menjawab.

“Iya, Ahjumma. Kami pasti akan menjagannya.”

“Dia adalah sahabat kami.”

“Yeah, anda tidak perlu khawatir.”

“Terima kasih. Sungguh. Aku sangat bersyukur Yuri memiliki sahabat seperti kalian.” Dia tersenyum sambil menatap mereka semua. “Pantas saja dia begitu keras kepala untuk tetap tinggal di Seoul.”

“Tetap tinggal di Seoul?”

“Iya. Kami sudah memberi tahu kondisinya dua hari yang lalu. Kami menawarkannya untuk tinggal di sini di Goyang bersama kami, tetapi dia memaksa untuk tetap tinggal di Seoul. Alasannya adalah sekolah, tapi aku yakin itu karena kalian semua.”

“Aku rasa kami sudah saling terikat satu sama lain, Ahjumma,” ujar Tiffany.

Sang ibu mengangguk. “Jaga dirinya, oke? Telepon aku jika terjadi sesuatu.”

“Iya, Ahjumma,” jawab gadis yang paling tinggi.

“Oke. Aku akan tenang seakrang.”

“Kami akan pergi kalau begitu. Terima kasih untuk semuanya, Ahjumma.”

“Terima kasih, Ahjumma,” ketiga gadis lainnya bicara bersama-sama.

Wanita paruh baya itu tersenyum dan melambai pada keempat gadis yang sekarang sedang menuju mobil. Mereka segera tertawa dan memeluk putrinya. Tanpa sadar, senyumannya pun semakin lebar. Dia tahu. Dia tahu dia bisa mempercayai gadis-gadis itu.

***

“Emm, aku akan pergi ke mini market,” ujar Yoona pada Yuri dan Jessica. “Lapar di malam hari,” dia menambahkan, tak lupa tersenyum lebar.

“Haiyaa, shikshin setiap saat,” cibir Yuri.

“Can’t help it,” dia menjulurkan lidahnya. “Perutku meraung-raung setiap saat.”

“Haish, haish, baiklah, baiklah, pergilah kalau begitu,” Yuri memukul pantat gadis yang lebih muda itu dan mendorongnya pergi.

“Apa kau mau sesuatu,” tanyanya pada kedua gadis di sofa.

“Tidak.”

“Aku juga tidak,” si gadis berambut coklat menyetujui.

“Baiklah.”

“Pulanglah dengan selamat,” ujar Yuri.

“Yes Mom,” Yoona mengeluarkan merongnya dan berjalan menuju pintu. Tetapi sebelum dia keluar dia menoleh pada Jessica dan membentuk kata ‘fighting’ dengan mulutnya pada temannya itu. Jessica tersenyum, berterima kasih atas pengertian Yoona. Gadis itu sudah mengerti kalau dia memerlukan waktu berdua dengan Yuri setelah hari yang melelahkan tadi.

“Sica-yah.”

“Hemm?”

“Sica-yah.”

“Hemm?”

“Apa kau baik-baik saja?” Yuri memperhatikan wajah gadis berambut coklat itu.

“Hemm.” Jessica mengangguk lemah.

“Apa kau yakin? Karena kau tidak tampak baik-baik saja bagiku.”

Kenapa kau harus mengerti aku dengan sangat baik, Yuri-yah?

“Sica-yah,” Yuri memalingkan wajah Jessica agar menatap dirinya. “Kau tahu kalau kau bisa memberi tahu apapun padaku, kan?” Dia memberikan pandangan khawatir namun penuh perhatian.

Bagaimana aku bisa memberi tahumu? Bagaimana bisa, Yuri-yah? Beri tahu aku bagaimana caranya.

Matanya perlahan menjadi berlinangan air mata.

“Sica-yah…” Yuri menyadari perubahan di mata Jessica itu.

Dengan hati-hati Yuri menggeser tubuhnya mendekati Jessica dan menyentuh pundaknya. Dia menepuknya pelan. “Hei, hei, hei, ssshht…Tidak apa, Sica. Tidak apa. Jangan menangis.” Yuri panik saat gadis itu semakin menangis menjadi-jadi. Dia pun terkejut saat Jessica memeluk dirinya. “Si…Sica-yah…”

Gadis itu terisak keras sambil melingkarkan lengannya di tubuh Yuri dengan erat, seolah-ola tak mau melepaskannya pergi.

Setelah kembali tenang, Yuri membalas pelukan Jessica sambil terus mengusap punggung gadis itu lembut. “Ssshtt… Tidak apa, Sica. Tidak apa. Aku disini. Aku akan ada disini untukmu.”

Dan kata-kata itu semakin membuat Jessica menangis dan menangis dan menangis lebih keras.

Yuri tidak tahu apalagi yang harus dia lakukan sehingga dia pun membiarkan Jessica menumpahkan semua perasaannya saja. Baik itu rasa sed atau rasa sakit atau apapun itu, Yuri akan ada disana untuknya. Dia lanjut mengelus punggung Jessica pelan. Itu semua berlangsung kurang lebih dua puluh menit.

“Apa yang terjadi, Sica-yah?” Yuri bertanya setelah Jessica berhenti menangis, masih dalam posisi berpelukan.

Jessica menggeleng kepalanya pelan.

“Apa kau yakin?”

Jessica kembali menggeleng kepalanya pelan.

Yuri menunggu, tetapi gadis itu tidak mengatakan apapun juga dan hanya terpaku di tempat.

“Baiklah kalau begitu.”

Yuri ingin melepaska pelukan mereka tetapi Jessica memeluknya lebih erat.

“Sica-yah?”

“Aku mohon, Yuri-yah. Tetaplah seperti ini.” Jessica berbicara dengan suara paraunya akibat tangisan panjangnya tadi.

“T…tapi..”

“Aku mohon, Yuri-yah.” Jessica mendekatkan kepalanya ke leher Yuri.

“A…aku…” Jantung Yuri berdetak tidak karuan, begitu juga perutnya. Kupu-kupu telah menginvasi dirinya. Rasanya begitu hangat bagi Yuri. Dia menyukainya. Bagaimana Jessica berada dalam pelukannya, tetapi jika dia memeluknya lebih lama dari ini, dia takut dia tidak bisa menghentikan dirinya untuk tidak mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya pada sahabatnya itu.

Yuri mencoba untuk melepaskan diri dari pelukan itu sekali lagi, tetapi Jessica pun tidak menyerah. Dia begitu keras kepala soal ini.

“Aku menyukaimu, Yuri-yah. Jadi bisakah kamu untuk tetap seperti ini saja?”

Mata Yuri melebar.

“Dan bukan hanya sebagai sahabatku, tetapi sebagai pacarku.”

“Sica-yah, aku…”

“Aku tahu, Yuri-yah.”

“Kau tahu kalau aku juga menyukaimu?”

“Eheem,” dia mengangguk. “Jadi aku mohon, biarkan aku memelukmu seperti ini sedikit lebih lama.”

“Sica-yah…”

“Aku sangat membutuhkannya sekarang ini.”

Yuri mengangguk dan mengeratkan pelukannya. “Apapun untukmu, Sica-yah.”

“Tetaplah bersamaku kalau begitu.”

“Aku akan tetap bersamamu, Sica-yah. Aku akan tetap bersamamu.”

***

Suara pintu yang terbuka terdengar saat sesosok gadis tinggi memasuki ruangan. “Aku pulang. Aku membawakan makanan untuk kalian,” ujar Yoona.

Tidak ada jawaban.

Apa mereka pergi keluar? Dia memeriksa sepatu mereka, tetapi sepatunya masih ada disana. Dia memutuskan untuk menaruh makanan yang dia beli di atas meja dan mencari teman-temannya. Dia berhenti di ruang tengah. Dia menghela napas dan tersenyum setelahnya.

Yuri dan Jessica sedang tertidur bersama-sama di atas sofa. Jessica dalam pelukan Yuri.

Yoona pergi ke kamar Yuri dan mengambil selimut. Dia kemudian menyelimuti kedua temannya itu. Dia memandangi mereka sejenak.

Yuri dan Jessica benar-benar dekat sejak mereka berlima pertama kali berkumpul bersama. Setelah mengenal Yuri begitu lama, Yoona tahu kalau sahabatnya itu tidak menganggap gadis berambut coklat itu hanya sebagai seorang teman. Di lain pihak, dia tidak begitu yakin dengan perasaan Jessica. Tetapi walaupun begitu, Yoona selalu mencurigai kalau ada sesuatu yang terjadi di antara kedua temannya ini. Jadi ketika Jessica memberi tahunya tentang hubungannya dengan Yuri, Yoona tidak terkejut. Dia bahagia untuk mereka.

Dia juga tahu bahwa sulit bagi Jessica setelah mengetahui kebenarannya. Mereka baru saja memulai hubungan mereka dan kesialan sudah hadir mencobai mereka. Jessica akan hidup di bawah bayang-bayang kenyataan bahwa Yuri tidak akan pernah bisa mengingat tentang hubungan mereka. Yoona tidak bisa membayangkan betapa menyakitkannya hal itu.

Dia menghela napas dalam.

“Kalian berdua tampak serasi bersama-sama, kalian tahu. Walaupun kalian harus melalui situasi yang tidak menyenangkan ini, aku harap kalian tidak akan pernah melepaskan satu sama lain. Oke?” Yoona memandang sedih pada mereka berdua.

“Jika tidak seperti itu aku tidak akan bisa menggodai kalian lagi. Kalian tahu, menggodai kalian berdua itu sangat menyenangkan. Dengan pipi merah dan aksi kasar kalian itu,” Yoona tertawa. “Sooyoung tidak seru untuk digodai dan Fany, hem, dia lucu juga. Tapi dua lebih baik daripada satu, kan?” Dia menyeringai.

“Aku mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua. Dan Sica-yah.” Yoona berlutut dan mendekati Jessica. “Jangan kehilangan harapanmu.”

Yoona berdiri dan merapihkan selimut agar bisa menutupi mereka berdua dengan lebih baik. “I love you guys.”

 

To be continued…

***

A/N: Please jangan marahin author ya 😦 I love you guys~

Anyway, amnesia anterograde itu asli ada kok, kalian bisa Google sendiri kalau penasaran. Cuma emg dia jauh lebih jarang terjadi dibanding amnesia yg biasa kita liat di drama2.

Kalau ada pertanyaan silahkan komen di bawah. Oke deh, author cap cus dulu, annyeong~

Advertisements

Author: 4riesone

SONE. Follow me on Twitter @4riesone for updates and questions

27 thoughts on “Remember Me (Chapter 14)

  1. Kan bener kalo yuri ini mengidap amnesia. Kasian sica 😦 yang sabar yah sica? Ingatan yul pasti kembali kok 😉

  2. tuhkn bner. .
    bru awal tpi uda dpt cbaan smga sica kuat dn sbar

  3. oh tidakkkkk yuri… pacar sica itu kamu yuri kamu.. hiks hiks ksian jessica
    tp ksian juga yuri kena amnesia anterograde..

  4. Kasian sica, berarti sica harus terus nembak yuri dong wkwkwk

  5. ach… itu penyakit kyk na blz dendam yuri k sica ..krna dlu sica tdk mengingat na….
    kasian bngt yulsic.. yuri jd kyk orng begok

  6. Kalo kayak gitu, yuri jadi lupa mulu donk kalo udah jadian sama sica??
    Masak iya sica kudu nembak yuri setiap hari??? #poorsica 😭😭😭😭

  7. Nah lho bneran kn yuri amnesia, waduh pntes aja yuri gk ingat kl sbnernya sica udh jd pacarnya, kasian sica, ntr gmn ya kl yuri slalu lupa?

  8. Dsini sica kasian skali thor, harus nembak yul tiap hari biar bisa pacaran haha..
    Tp apa daya, yul ny amnesia. Moga aja yul bisa sembuh…
    penasaran dgn kelanjutaanny.
    Semangat thor 😊

  9. Itu beneran yuri kena amnesia apa cuma mau nguji jessica bener2 suka sama yuri apa gimana. Seketika lewat pikiran begitu haha. Klo pun bener amnesia seperti apa yg dibilang yoona, semoga sica gak kehilangan harapan. Fighting!!

  10. Waduh bkal repot nih kdepanx Bkin deg2an daaah kykx yg kasian bkn cm sica j deh tp yul jg kasian,ya ak thor, authorx jg kasian dmarahin para reader hahaha semangat thor

  11. Wkakaka
    Sica hrs sabarr nya panjang lebar ya
    Wkakakaka
    Hdeh
    Bru awal

  12. Gw pikir kisah yulsic bakalan happy2 aja setelah yuri sadar. Ehh nyatanyaa, dg begitu kejamnya engkau buat si yuri amnesiaaaa……
    Kejaaaaaaam 😭😭😭😭😭😭😭

  13. kayaknya yulsic bakal jadian mulu nih..krn yuri yg amnesia…kasian sica..harus sabar..😢😢

  14. arrrght yoona, kata katamu ituloh. orang yg paling ngerti yulsic jadi inget tindakan yoona di hello baby hhehee..
    yulsic fighting😃

Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s