rara0894

All about TaeTiSeo and GG

Remember Me (Chapter 13)

20 Comments

Title         : Remember Me

Author    : 4riesone

Genre      : Fluff, Romance, Yuri

remember me

Going Home – Chapter 13

“Kau tidak bisa lari dari ini, Kwon Yuri!!”

Merong.

“Sudah terima sajalah, Sica.”

“Tidak akan.”

“Ini bukan salahku, memang kuenya seperti itu.”

“Tapi kau menghinanya.”

“Aku hanya mengatakan yang sebenarnya,” Yuri mengeluarkan merongnya lagi.

“Jahat!!!”

Merong lagi.

“Kau akan mendapatkan hukumanmu sekarang, Kwon Yuri.” Jessica menunjukkan senyuman jahilnya.

“Yah, yah, yah. Apa yang akan kau lakukan??” Yuri tampak ketakutan dengan Jessica. Dia tidak bisa pergi kemanapun saat ini karena IV yang menancap di tubuhnya. Dia sedang dalam posisi yang sulit bergerak.

Jessica tertawa puas. “You will suffer my wrath.”

“NO NO NO NO NO!!” teriak Yuri. “Menjauh dariku!!” Yuri berusaha mati-matian untuk menjauhkan Jessica dari dirinya, tetapi gadis berambut coklat itu tidak mundur sejengkal pun.

“Got you!!” Jessica meluncurkan serangan penuh pada pinggan Yuri. Dia menggelitiki gadis bertubuh tinggi itu dengan segenap tenaga.

Yuri tidak mampu menahan tawanya lagi. “Hentikan, Sica. Hentikan. Geli.”

“TIdak akan. Ini baru permulaan,” Jessica tertawa semakin puas.

“Hentikan, Sicaaaa…. Tolong aku!!” Yuri berhasil bicara di antara tawanya.

Hal itu membuat tawa Jessica semakin keras.

“Sica.” Suara seorang wanita menghentikannya.

Jessica menoleh ke belakang dan melihat kedua orang tua Yuri di pintu. “Oh, Ahjumma, Ahjussi.” Dia cepat-cepat berdiri tegak.

“Apa kami bisa bicara dengan Yuri?” Tanya wanita itu.

“Oh, tentu saja, tentu. Dia sudah selesai makan malam juga.”

“Maksudku, sendirian,” dia menambahkan.

“Oh baiklah, Ahjumma. Aku juga sebaiknya pulang sekarang. Sudah malam.”

Wanita paruh baya itu mengangguk. “Kami akan menunggu di luar kalau begitu.”

“Jadi sudah waktunya untuk pulang.” Jessica mengalihkan perhatiannya kembali pada Yuri.

“Sudah waktunya?”

“Sayangnya begitu. Aku berharap aku bisa tinggal lebih lama lagi.”

“Tinggal lebih lama lagilah kalau begitu.”

“Orang tuamu ingin berbicara denganmu, Yuri-yah.”

“Oh ya?”

“Iya, apa kau tidak mendengarkan?”

“Hemm,” dia tampak seperti sedang berpikir. “Aku tidak tahu. Mungkin pikiranku sedang di suatu tempat,” dia menyeringai.

“Haish. Kau harus mendengarkan orang tuamu, Yuri-yah.”

“Iya, ibu. Mengerti.” Dia menyeringai lagi.

“Jika seperti ini terus, aku akan menghapus seringaian itu dari wajahmu. Kau menyeringai terlalu sering dalam satu hari.”

“Bagaimana kau akan menghapusnya?”

Jessica mengangkat bahu. “Entahlah. Mungkin sebuah ciuman selamat malam akan efektif untuk menghapusnya.” Jessica menunjukkan ‘smirk’nya.

“A-apaaaa? Ciuman selamat malam?”

“Hanya di pipimu, Yuri-yah. Jangan kaget seperti itu. Atau apa kau mengharapkannya di tempat lain?” Jessica mengeluarkan ‘smirk’nya lagi.

“Ooh pipi. Oke pipi. Pipi sih tidak apa-apa.”

Pipi Yuri merona, berubah merah padam.

Jessica walaupun merasa sedikit kecewa dengan jawaban itu masih tetap tersenyum melihat sikap malu-malu pacarnya itu.

Ekspresi Yuri ini mengingatkannya tentang saat-saat mereka bersama di pulau Jeju. Yuri begitu tegang saat itu dan wajahnya sangat memerah ketika Jessica mendekatinya untuk memeriksa dahinya. Sekarang jika dipikirkan, Jessica penasaran apa yang sebenarnya membuat muka Yuri memerah saat itu. Apakah gadis itu mengharapkan sesuatu? Jessica sangat penasaran sekarang.

“Hey, Yuri-yah,” panggil Jessica.

“Hemm?”

“Apa kau ingat petualangan kita di Jeju?”

“Hemm, iya. Kenapa, Sica-yah?”

“Aku ingat kau tiba-tiba saja menjadi sangat merah waktu itu. Sebenarnya itu kenapa?”

Pikiran Yuri segera kembali ke kenangan tersebut. Tanpa disadari hal itu membuat pipinya saat ini semakin memerah.

Kenapa dia bertanya hal seperti itu?

“Kenapa kau ingin tahu?”

“Karena kau tampak seperti itu saat ini.”

“Benarkah?”

“Yeah, wajahmu sudah seperti kepiting rebus sekarang,” tawa Jessica.

“Yah!!” Yuri memasang wajah cemberut.

“Jadi kenapa?”

“Itu rahasia,” Yuri mengeluarkan merongnya.

“Yah, dasar cewek pelit.” Sekarang giliran Jessica yang cemberut.

Yuri kembali mengeluarkan merongnya. “Apa yang sebenarnya sedang kita lakukan sekarang?” Tanya Yuri tiba-tiba.

“Oh iya. Seharusnya aku mengucapkan selamat tinggal padamu.”

“Jadi kau akan pulang?”

“Iya, Yuri-yah. Aku akan kembali lagi besok.” Jessica tersenyum.

“Baiklah. Jangan lupa untuk mengajak si duo shikshin dan si gadis bersuara keras. Aku merindukan mereka.”

“Oke. A full pack of full-spirited girls for you tomorrow.”

“Great.”

“Baiklah, sampai jumpa besok.”

“Sampai jumpa.” Yuri tersenyum pada gadis itu, tetapi dia tidak bergerak sama sekali dari tempatnya. “Ehm, Sica?” Yuri bingung dengan sikap aneh Jessica.

“Selamat malam, Yuri-yah.”

Malu-malu Jessica mencium pipi Yuri sebelum meninggalkan ruang dengan senyuman lebar merekah di wajahnya.

Di lain pihak, Yuri terpaku di tempatnya akibat ciuman selamat malam itu.

Yang baru saja itu apa?

***

“Akhirnya kau pulang juga, Yuri-yah.” Tiffany memeluk Yuri.

“Yeah. Base camp kita jadi sepi tanpa dirimu. Kita kehilangan dua anggota sekaligus,” komentar Sooyoung sambil memeluk gadis itu.

“Dua?”

“Iya. Sica menghabiskan hari-harinya disini setiap hari. Dia tidak mengunjungi base camp sama sekali. Dasar pengkhianat,” ujar Yoona sambil menunjukkan merongnya pada Jessica.

“Hey, kau tahu bukan seperti itu,” bela Jessica.

“Iya, Yoona-yah. Bukan seperti itu. Dia hanya ingin berdua-duaan dengan Yuri-nya,” tambah Tiffany, tidak lupa untuk terkekeh setelahnya.

“Ah benar, si dua sejoli.” Sooyoung ikut tertawa.

“Yah, yah, apa yang kalian bicarakan?”

Yuri mengira akan ada protes lain terdengar dari mulut Jessica seperti biasanya, tetapi kali ini berbeda. Gadis itu terlihat malu-malu. Bahkan pipinya merona merah.

Sica-yah? Dia ingat sekali bagaimana Jessica biasanya tidak akan berubah merah seperti itu karena godaan teman-temannya. Apa terjadi sesuatu?

“Ngomong-ngomong, kita akan komplit kembali, yeay!!” Yoona memeluk Yuri dan Jessica dari belakang. “Aku benar-benar merindukan kalian.”

“Apa kau rindu padaku atau kau rindu mencuri makananku?” Tanya Yuri.

Yoona tertawa. “Lima puluh, lima puluh.”

“Geez,” Yuri menjitak kepala Yoona. “Dasar perut karet.”

“Yah, kenapa kau kasar sekali? Inilah jadinya kalau kau menghabiskan hari-harimu berduaan dengan Sica.”

“Yah!!” Yoona mendapatkan pukulan kedua. “Apa urusannya denganku?” protes Jessica.

“Lihat?” Yoona memelas pada siapapun. “Benar-benar pasangan yang kasar,” gumamnya.

“Kau yang memintanya, Im Yoona,” komentar Jessica.

“Yeah, kau sendiri yang memintanya, Im Yoona,” ulang Yuri.

“Haish santai. Aku hanya bercanda,” Yoona menunjukkan merongnya pada Yuri dan berusaha melarikan diri. Sayangnya gadis berkulit coklat itu lebih cepat darinya.

“Kau tidak akan kemana-mana, Im Yoona,” Yuri mengunci kepala temannya itu.

“Yah! Yah! Yah! Lepaskan aku, Kwon Yuri.” Yoona meronta-ronta dari cengkeraman Yuri.

“Tidak akan!” Yuri tertawa puas.

“Sica-yah. Tolong aku!!” Yoona memohon pada gadis berambut coklat itu.

“Kenapa aku harus menolongmu, Im Yoona?”

“Haiyaaa! Jauhkan pacarmu ini dariku, Sica!!” Yoona berteriak tidak karuan.

Jessica hanya membalasnya dengan sebuah merong.

Akhirnya Yoona bisa merasakan cengkeraman di lehernya terlepas. “Fiuh, akhirnya.”

“Apa maksudmu pacar?”

Yoona bisa melihat kebingungan di mata Yuri.

“Ah, itu,” Jessica menyela. Dia segera menghampiri Yuri. “Aku sudah memberi tahu mereka pagi ini,” ujar Sica malu-malu. “Maaf karena tidak memberi tahumu sebelumnya.”

“Memberi tahu mereka apa?” Kebingungan masih terpancar di mata Yuri.

“Tentang kita, Yuri-yah.”

Kali ini, Jessica pun sama-sama kebingungan.

Apa artinya ini, Yuri-yah?

“Kita?”

Iya, Yuri-yah. Kita. Kita sebagai pasangan.

“Ya, Yuri-yah. Kita sudah pa—“

“Hei semuanya, apa kalian sudah siap?” Tiba-tiba saja ibu Yuri memanggil, membuat Jessica berhenti berbicara lebih lanjut.

“Oh iya, umma. Kami sudah siap,” jawab Yuri. “Yuk jalan.”

Mereka berlima akhirnya meninggalkan ruangan rumah sakit dan menuju mobil. Mereka sedang menuju rumah Yuri dan akan mengadakan pesta penyambutan Yuri disana. Dalam perjalanan pulang, ada satu orang yang benar-benar tenggelam dalam pikirannya.

Jessica tidak mengerti apa yang baru saja terjadi di rumah sakit tadi. Kenapa Yuri bersikap seperti itu? Kenapa Yuri tampak sangat kebingungan? Apa ada yang salah? Apa dia melewatkan sesuatu? Sepanjang perjalanan dia berusaha untuk menemukan jawabannya tetapi hasilnya nihil. Dia sampai di rumah Yuri tanpa jawaban sedikitpun.

Orang tua Yuri dan gadis-gadis lainnya telah masuk terlebih dahulu dan hanya meninggalkan Sica dan Yuri berdua. Yuri terlelap sepanjang perjalanan dan Jessica akan membangunkannya.

“Yuri-yah,” Sica menusuk-nusuk pipi Yuri beberapa kali. “Bangun, Yuri-yah.”

“Ennnggghh.” Yuri memicingkan matanya kemudian mengerjap beberapa kali. “Sica-yah?”

Jessica merasa ini sangat menggemaskan. Wajah bangun tidur Yuri. Dia sedikit terkekeh sebelum berbicara, “Kita sudah sampai di rumah, Yuri-yah.”

“Rumah?”

“Iya, Yuri-yah. Rumah. Ayo. Mereka sudah menunggu kita.”

Jessica membuka pintu mobil dan mengulurkan tangannya pada Yuri.

“Thanks,” ujar Yuri sambil dia keluar dari mobil. Dia melepaskan tangan Jessica setelahnya. Hal itu membuat Jessica terkejut.

Apa dia tidak lagi mau menggenggam tanganku?

“Sica?” Yuri bertanya pada Jessica yang terpaku. “Ayo.”

“Ah, yeah,” dia menyelipkan tangannya kembali ke tangan Yuri.

Hal itu membuat Yuri terhenti.

“Ada apa, Yuri-yah?”

Mata Yuri beralih pada tangan mereka yang bergenggaman.

Jessica menyadarinya. “Oh ini. Maafkan aku,” cepat-cepat Jessica menarik tangannya kembali. “Aku tidak tahu kalau kau tidak nyaman melakukannya di depan orang tuamu. Aku pikir kau menyukainya,” Jessica beralasan.

Yuri mengerjap. “Apa yang kau bicarakan, Sica? Apa hubungannya dengan orang tuaku?”

“Emm, pegangan tangan itu, Yuri-yah. Aku pikir kau merasa tidak nyaman karena orang tuamu.”

“Tidak. Tidak. Tidak. Ini tidak ada hubungannya dengan orang tuaku.”

“Lalu?”

“Aneh saja rasanya kau tiba-tiba menggenggamkan tanganmu padaku seperti tadi.”

“Huh?” Jessica menjadi kebingungan. Bukankah tidak apa-apa jika mereka melakukan hal seperti itu? Mereka sudah menjadi pasangan, kan? Itu adalah hal normal yang dilakukan sepasang kekasih.

“Tidak biasa bagimu untuk bergenggaman tangan denganku seperti ini,” tambah Yuri.

“Ah yeah, tetapi sekarang sudah berbeda, kan?”

“Berbeda? Apa yang berbeda?”

“Kita.”

“Apa maksudmu? Bukankah kita masih sahabat?”

“Hah???” Jessica setengah berteriak. Dia bisa merasakan jantungnya hampir melompat keluar dari dadanya saat dia mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Yuri.

“Apa? Apa aku ini sahabatmu atau bukan, Sica-yah?”

“Apa kau tidak ingat apa yang terjadi dua hari yang lalu, Yuri-yah?”

“Dua hari yang lalu? Hmm, coba kuingat.”

“Iya, dua hari yang lalu.”

“Aku hanya menonton film sepanjang malam. Memangnya kenapa?”

“Film?”

“Iya.”

“Aku marathon nonton film.”

“Apa kau serius?”

“Iya, aku sangat serius, Sica-yah. Ada apa denganmu?” Yuri meletakkan telapak tangannya di dahi Sica. “Kau tidak demam.”

“Aku memang tidak demam, Yuri-yah.”

“Syukurlah kalau begitu.” Yuri tersenyum. “Ayo.”

Jessica mengikuti tarikan Yuri di tangannya menuju ke dalam rumah. Kepalanya terasa berputar-putar. Dia tidak bisa mengerti sedikit pun akan apa yang baru saja terjadi. Apa yang salah sebenarnya.

Kenapa dia tidak mengingatnya?

Kenapa Yuri tidak bisa mengingatnya?

 

To be continued…

***

A/N: Annyeong semuanya!! HAPPY NEW YEAR 2017!!! Apa kabarnya nih di tahun yang baru?? Semoga di tahun ini kita semua bisa menjadi dan mendapatkan yang lebih baik ya ^^

Gimana nih menurut kalian, apa yang terjadi dengan Yulsic??? hohoho Drama is coming for y’all~

Ditunggu ya kelanjutannya. Annyeong~

Advertisements

Author: 4riesone

SONE. Follow me on Twitter @4riesone for updates and questions

20 thoughts on “Remember Me (Chapter 13)

  1. Kenapa jadi gini yuri? Why!!! Kasian sica pasti sedih banget ga dianggap 😦

  2. Itu Yul sbnrnya knp siee??ko jd lupa gtu klo udh oficial sm sica??

  3. oh no.. yuri yuri yuriii kenapa jd lupa sih.. ksian sica..
    lanjut thor semangatttt

  4. kyk na yuri pura2 lupa… pengen test gmn perasaan sica ma dia….

  5. Yul lgi kesurupan ya
    Wkakakakkakakaa
    Ksian sica
    Dh lah sica merapat aja sni sma reader (?)
    Wkwkwkwkwkw

  6. Omoooo, yuri amnesiaaaaa!!!!! 😱😱😱😱😱

  7. Waduh yuri bkin msalah lg nih knp coba amnesiax pakek dcicil gini an bkin kesel palg pas mrea jadian, udah deh kelar, timpukin authorx j lah hahaha nice chap thor

  8. Nahlohh yuri kenapa tuhh bisa tiba2 lupa sama kejadian 2hari yg lalu. Amnesia mendadak apa bercanda. Yang tegar yaa sica semoga yuri nya bisa inget lagi wkwkw

  9. Nah yuri amnesia ya??? Kok sampai bisa dy lupa kalo udah jadian sama jessica??
    Sabar sica, tetep berjuang supaya ingatan yuri balik lagi 😘😘😘😘

  10. lohhhh..aq juga bingung kyk sica..kok yuri jadi lupa lagi ya..kan udah jadian kok yurix lupa..

  11. Kok yuri nggak ingat sih…padahal udah bgs mereka pacarn

  12. ow owh, kenapa ini.
    sica ga bisa ingat yuri dihari pertam bertemu padahal yuri disampingnya selama 6jam.dan yuri sekarang g bisa ingat kejadian sica nembak yuri padahal waktu itu yuri antusias dan bahagia banget mereka jadian. awwwh😲
    makin riweuh😓

Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s