rara0894

All about TaeTiSeo and GG

Remember Me (Chapter 12)

28 Comments

Title         : Remember Me

Author    : 4riesone

Genre      : Fluff, Romance, Yuri

remember me

Wake Up – Chapter 12

Jessica sedang duduk di sofa, menunggu dokter dan para perawat menyelesaikan pekerjaan mereka. Mereka sedang melakukan beberapa pemeriksaan pada Yuri, untuk memeriksa fungsi motoriknya, kemampuan sensoriknya dan terutama adalah ingatannya. Jessica menunggu dengan khawatir bersama ibu Yuri di sisinya. Wanita itu pun tidak tampak santai sama sekali. Jessica melihat bagaimana wanita itu terus menerus mengetukkan kakinya sejak tadi sambil terus menatap tegang pria dalam balutan jas putih di seberang ruangan. Sayangnya, ayah Yuri dan kakaknya harus sudah kembali ke Goyang karena urusan pekerjaan mereka.

Jessica segera beranjak dari tempat duduknya saat akhirnya dokter menyelesaikan pemeriksaannya pada Yuri. Dengan cepat dirinya telah menghampiri dokter tersebut, diikuti oleh ibu Yuri.

“Bagaimana kondisinya?” Tanya ibu Yuri.

“Dia baik-baik saja. Semuanya berfungsi dengan baik.” Dokter itu menjelaskan.

Jessica dapat merasakan semua perasaan tegang dalam dirinya meluluh seketika mendengar kata-kata tersebut. Tetapi masih ada satu hal lain yang dia perlu konfirmasi sebelum bisa tenang sepenuhnya.

“Bagaimana dengan ingatannya, Sonsaengnim?”

“Ingatannya juga baik. Walaupun sepertinya dia tidak bisa mengingat kecelakaan itu. Tapi itu masih normal mengingat benturan yang terjadi pada otaknya. Kami akan terus memantau kondisinya untuk memastikan lebih lanjut,” ucap pria itu.

Dokter itu melanjutkan penjelasan mengenai kondisi Yuri saat ini dan pengobatan yang dia butuhkan ke depannya yang terutama ditujukan kepada ibu Yuri. Jessica pun tidak terlalu memperhatikan. Saat itu, yang diinginkan Jessica adalah berlari dan memeluk gadis yang terbaring itu. Dia sangat bahagia. Pertama-tama, Yuri sudah bangun. Dan kedua, Yuri baik-baik saja. Tidak ada hal buruk yang terjadi. Saat itu, dia harus benar-benar berusaha sekuat tenaga untuk mengontrol dirinya agar tidak bertingkah gila di depan keluarga Yuri, dokter dan para perawat.

Dia menunggu hingga dokter dan para perawat pergi dan kemudian menunggu lagi giliran ibu Yuri untuk berbicara dengan putrinya. Dia berusaha untuk tetap tenang, walaupun dia tidak mampu menahan dirinya untuk terus tersenyum sepanjang waktu.

“Sica,” Ibu Yuri akhirnya memanggilnya setelah mengobrol dengan Yuri selama kurang lebih sepuluh menit.

“Ya, Ahjumma!” Jessica sudah sigap berdiri dalam sekejap mata.

“Kamu mau berbicara dengan Yuri, kan?”

“I…I…iya, Ahjumma.” Jessica tidak tahu apa yang salah dengan dirinya. Kenapa dia tergagap seperti itu? Dia menangkup wajahnya sendiri dalam hati. Bagaimana bisa dia kehilangan ketenangannya secepat itu di depan keluarga Yuri.

Pabo, Sica. Pabo. Ada apa denganmu?

Wanita yang lebih itu tertawa kecil melihatnya. “Kemarilah kalau begitu.”

Jessica malu-malu berjalan mendekati Yuri. Dengan gugup, dirinya memandang Yuri.

Hening.

Ibu Yuri menyadari kegugupan gadis itu. Dia tertawa kecil sebelum bicara, “Aku akan keluar sebentar kalau begitu. Kalian berdua bisa berbicara sepuas kalian.” Dia tersenyum dan mencium dahi putrinya sebelum meninggalkan ruangan.

Dan hanya ada keheningan lagi setelah itu.

Jessica hanya memandangi Yuri saja.

Apakah ini nyata?

Apakah dia benar-benar, Yuri?

Apakah Yuri benar-benar di depan mataku, good and awake?

Jessica masih belum bisa mempercayainya. Bagaimana semuanya begitu baik. Betapa beruntungnya dirinya untuk memiliki kesempatan kedua ini.

Dia terbaring disana, di depan matanya. Senyuman manisnya terulas di wajahnya. Mata coklat jernihnya sedang memandangnya, menatap lekat, seperti tidak ingin memutuskan kontak mata mereka sama sekali. Dan terutama, dia adalah Yuri. Yuri yang sama yang dia kenal.

”Sica-yah?” Yuri akhirnya mengakhiri keheningan di antara mereka.

Apakah itu benar-benar suaranya? Apakah ini benar-benar dirinya yang memanggil namaku lagi?

”Sica-yah?”

Yuri memiringkan kepalanya sambil tetap mempertahankan senyumannya.

Oh my god, berhenti tersenyum padaku, Yuri-yah.

Pipi Jessica berubah merah seketika dan kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya. Dia dapat merasakan sensasi menggelitik yang menyenangkan di seluruh tubuhnya. Perasaan yang sama seperti yang dia rasakan kemarin, di taman bermain.

“Sica-yah, ada apa?” Yuri pun bingung dengan sikap aneh Jessica.

Snap out of it, Sica. Oh, come on. Come on. Kenapa kau begitu memalukan? Sica menggeleng-geleng panik. Ada apa denganmu? Jangan gugup seperti ini, Sica. Dia ituYuri. Sahabatmu. Dan kalian cuma akan berbicara saja. Bukan hal lainnya. Kau tidak perlu gugup. Dia mencoba memberi semangat pada dirinya sendiri.

“Hey, Sica.” Yuri mencoba untuk menyentuh Jessica tetapi dia pun terkaget saat Jessica menyentak menjauh dari dirinya. “Uhm, maaf, Sica. Aku tidak bermaksud untuk—“

“Ah, tidak, tidak, tidak. Bu…bukan seperti itu, Yuri-yah. Aku…maafkan aku. Aku hanya kaget saja. Yeah. Itu saja. Hanya kaget. S-sungguh. Itu hanya reaksi terkejutku.” Jessica memotong dan segera menjelaskan, dengan banyak tergagap.

Pabo! Ada apa denganmu! Yang benar saja, Sica?!! Jangan bodoh. Dia bisa berpikir kalau kau membencinya atau semacamnya. Jessica memarahi dirinya sendiri dalam hati karena begitu gugup. Cepatlah bicara padanya, dengan benar!! Tanpa tergagap!!! Cepat!!

“E..emm, Y…Yu-Yuri-yah.”

Oh great Jessica Jung. Kau bahkan tidak bisa memanggil namanya dengan benar sekarang. You just become the biggest stuttering pabo in town. Dia menangkup wajahnya sendiri dalam hati.

“Sica-yah, apa ada sesuatu yang terjadi? Kau tampak gugup sekali,” Yuri mengangkat alisnya. “Walaupun aku tidak keberatan dengan versi gugupmu ini, karena kau tampak sangat menggemaskan, tetapi aku masih tetap khawatir. Jada apa ada sesuatu yang terjadi?”

Is…is she flirting with me?

Pipi Jessica semakin merona merah dan dia bisa meraskan jantungnya berdegup keras tidak karuan di dalam dadanya.

”Sica-yah?”

Aigoo, Sica. GET A GRIP, WILL YA!!

Jessica terkekeh canggung sambil menggaruk punggung kepalanya yang tidak gatal. “Ah, tidak. Yuri-yah. Tidak ada yang terjadi.”

“Lalu kenapa kau begitu gugup?”

Jessica terkekeh lagi. “Aku sendiri juga tidak tahu, Yuri-yah. Ada apa denganku sebenarnya?” Dia pun terkekeh lagi.

“Kau benar-benar menggemaskan, kau tahu,” Yuri ikut terkekeh, tidak sadar akan efek kata-katanya pada gadis di hadapannya. Pipi Jessica sudah semerah tomat rebus sekarang. Dia menunduk untuk mencoba menyembunyikannya.

Is she flirting again? Oh my god, please stop her. I don’t think I can handle it.

“Sica-yah,” panggil Yuri lembut.

Jessica mengangkat wajahnya dan melihat Yuri sedang tersenyum padanya.

“Aku merindukanmu. Apa kau tidak merindukanku juga? Apa kau tidak mau memberikanku sebuah pelukan?”

Rahang Jessica jatuh perlahan setelah mendengar ucapan Yuri. A…apa…apa dia baru sja bilang kalau…kalau dia merindukanku? Mata Jessica mengerjap beberapa kali. Dia tidak bisa percaya apa yang baru saja didengarnya. Apa aku tidak salah dengar? Yuri merindukanku!!! Dia merindukanku!!! Apa dia tidak tahu betapa aku juga merindukannya? Dan, dan lengan itu. Dia memandang lengan Yuri yang terbuka. Yuri sedang mengharapkan sebuah pelukan dari Jessica. Dia ingin aku peluk!! Sebuah pelukan!! Oh my god, aku tidak bisa percaya ini.

“Jadi kau tidak merindukanku.” Dengan enggan Yuri menurunkan lengannya. “Baik—“ Sebelum dia sempat menyelesaikan perkataannya, dirinya telah diserang dengan sebuah pelukan tiba-tiba dari gadis berambut coklat itu. “Unggh, Sica-yah.” Yuri benar-benar tidak memperkirakannya.

“Pabo! Bagaimana mungkin aku tidak merindukanmu? Tentu saja aku merindukanmu, pabo-yah!!” ucap Jessica di antar pelukannya.

Bagaimana bisa aku tidak merindukanmu, Yuri-yah. Semua yang aku pikirkan sepanjang hari ini hanyalah dirimu. Kamu dan hanya kamu, Yuri-yah. Sebegitu besarnya rasa rinduku padamu. Bahkan pikiranku sendiri pun tidak bisa berhenti memikirkanmu.

“Aku benar-benar merindukanmu,” dia membisikkannya pelan kali ini.

Yuri tersenyum dan membalas pelukan itu.

Jessica bisa merasakan kehangatan mulai menyelimuti tubuhnya seketika lengan Yuri melingkarinya. Pelukan itu terasa sama seperti yang dia ingat. Rasa hangatnya, rasa nyamannya, rasa amannya, baunya dan juga lengan yang melingkari tubuhnya, semua terasa sama. Hanya saja kali ini, Sica ingin menikmati sebisa mungkin pelukan itu. Dia mengeratkan pelukannya dan meletakkan kepalanya di bahu Yuri. Dia menarik napas dalam, sedalam yang dia mampu, meningat aroma kehadiran gadis berkulit coklat itu.

Setelah hampir lima menit mereka berdua sama-sama tidak ingin melepaskan pelukan, Jessica akhirnya melepaskan Yuri. “Tapi aku membencimu,” Jessica berkata setelah berbuat demikian.

“Eh?” Yuri terkesiap mendengar ucapan yang tidak disangka-sangka itu.

“Kau hampir saja membuatku mendapat serangan jantung, kau tahu. Bersikap layaknya pahlawan seperti itu. Aku kira kau akan meninggal.”

“Apa aku separah itu?”

Jessica mengangguk. “Aku takut, Yuri-yah. Aku sangat takut. Berjanjilah padaku kau tidak akan melakukan aksi seperti itu lagi selamanya. Oke?”

Yuri memandangi Jessica. Ada tanda-tanda kebingungan di wajahnya. Tetapi itu semua segera menghilang sebelum dia bicara lagi. “Aku janji aku tidak akan melakukan itu lagi,” Yuri membuat tanda “peace” dengan jarinya. “Tidak peduli apapun itu yang aku lakukan yang sudah membuatmu ketakutan.”

“Eh, kau tidak ingat?”

Yuri menggelengkan kepalanya lemah.

“Jadi kau tidak ingat kecelakaan itu? Sama sekali?” Suara Jessica sedikit meninggi karena terkejut.

“Nope.” Gadis yang sakit itu menggelengkan kepalanya lagi.

“Hemm, baiklah kalau begitu,” Jessica mengangkat bahunya. “Lagipula kau tidak perlu mengingatnya. Itu bukanlah hal yang baik untuk diingat pula.”

“Syukurlah kalau begitu. Aku kira aku melewatkan sesuatu yang seru.” Yuri tertawa. “Apa aku melewatkan turnamen gulat antara Yoona dan Sooyoung?”

Jessica tertawa. “Untungnya kau tidak melewatkannya, Yuri-yah. Itu akan menjadi kompetisi terbesar tahun ini. Kau tentu saja tidak boleh melewatkannya.”

“Aku tahu.”

Jessica tersenyum. “Tapi, Yuri-yah. Aku mohon jangan pernah lagi dirimu meloncat ke depan sebuat truk untuk menyelamatkanku. Jangan pernah, oke? Aku juga janji aku tidak akan seceroboh itu lagi. Oke?” Dia memandangi bola mata coklat Yuri, menunggu jawaban dari pemiliknya.

“I…iya, Sica-yah,” jawab Yuri, terkesiap.

“Terima kasih, Yuri-yah.” Jessica mencondongkan tubuhnya untuk memeluk gadis itu lagi. Dia melingkarkan lengannya di sekeliling bahu Yuri. “Aku benar-benar tidak ingin kehilanganmu,” bisiknya, cukup keras untuk terdengar oleh Yuri.

Yuri mengerjapkan matanya beberapa kali. “Si…Sica-yah…” Ada keheningan sejenak sebelum akhirnya Yuri dengan malu-malu membalas pelukan Jessica dan mengusap punggungnya lembut.

“Kau tidak akan kehilanganku, Sica. Aku tidak akan pergi kemanapun.”

***

“Terima kasih,” ujar Yuri pada perawat sebelum memasuki ruangan. Dia segera disambut oleh senyuman dari gadis berambut coklat yang familiar.

“Hey, where have you been?”

“A test I’m supposed.”

“Oh. Bagaimana tesnya?” Jessica mendekati Yuri dan membantunya menuju tempat tidur. Dia menyadari wajah Yuri sedikit pucat dan ekspresinya pun tidak tampak terlalu cerah.

“Aku tidak tahu, kemungkinan hasilnya belum keluar.”

“Hemm, baiklah kalau begitu,” Jessica diam sejenak. “Apa kau baik-baik saja?”

“Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit sakit kepala,” ujar Yuri sambil memijat-mijat pelipisnya.

“Apa kau ingin istirahat?”

Mungkin aku harus menundanya lain kali.

“Aissh, no way!” Yuri melambaikan tangannya. “Kau sudah disini. Bagaimana bisa aku tidur? Selain itu sakit kepalaku sudah membaik setelah melihatmu.” Dia tersenyum lebar.

Cheesy, Yuri-yah.

Jessica tertawa.

“Jadi apa yang ingin kau lakukan sekarang?”

“Hemm, aku juga tidak tahu.”

“Oh, come on, Yuri-yah. You’re the best prankster in town. Bagaimana bisa kau kehabisan ide?”

“Ney Ney Ney. Correction, young lady. Not in town. Seharusnya itu ‘In The World’.” Yuri membuat tanda kutip dengan tangannya pada frase terakhir dan tertawa.

“Aish. Tentu saja, Yuri-yah. Kau bahan yang terbaik di seluruh jagad raya.” Jessica tertawa.

“Well, sekeren itulah diriku. Terima saja.”

“Yeah. Yeah. Aku tahu betapa kerennya dirimu. Tapi berhentilah memuji-muji dirimu sendiri.”

“Eehh, aku baru saja memulainya. Bagaimana bisa aku berhenti sekarang.”

“Tidak, tidak. Hentikan sekarang Kwon Yuri.:

“Haisshh. Kau ini tidak seru, Sica.”

Merong.

Yuri tertawa dan mencubit hidung Jessica.

“Heyy!!” Jessica memprotes.

“Sorry, terlalu menggemaskan.”

“Haissh,” Jessica cemberut. Walaupun jantungnya saat ini berdegup begitu kencang, dia hanya tidak ingin memperlihatkannya. Dia ingin bermain aman hari ini. Bukan menjadi seorang pabo memalukan yang tergagap-gagap seperti tiga hari yang lalu.

“Kotak apa itu, Sica-yah?” Tiba-tiba saja Yuri bertanya.

Jessica menoleh pada kotak yang dimaksud.

Ya ampun. Bagaimana aku bisa lupa? Dia seharusnya tidak melihat kotak itu dulu.

“A…ah, itu bu-bukan apa-apa.”

Geez, here comeback the biggest stuttering pabo in town. Apa sebenarnya yang salah dengan dirimu, Sica? Bagaimana dengan rencana bermain amanmu? Bukankah sudah cukup mempermalukan dirimu tiga hari yang lalu?

“Benarkah? Apa aku boleh melihatnya?”

“TIDAK!! Tidak tidak tidak tidak tidak! Kau tidak boleh melihatnya.” Jessica berteriak panik.

“Eh, kenapa?”

“Karena tidak ada apa-apa di dalamnya.” Jessica menyampaikan alasan yang paling tidak masuk akal.

“Kalau begitu tidak masalah kan kalau aku melihatnya?”

“Aihh, tidak, Yuri.”

Yuri turun dari ranjangnya dan berjalan menuju kotak itu.

“Yuri, jangan!” Jessica menghalangi jalan Yuri.

“Haish, Sica. Kenapa kau pelit sekali? Aku hanya ingin melihatnya. Tidak ada maksud lain. Lagipula tidak ada yang bisa aku lakukan juga.”

“Tapi tapi tapi. Errgh. Pokoknya tidak. Jangan lihat, Yuri-yah. Jangan sekarang.”

Kau benar-benar mencurigakan, Sica. Kau membuatku semakin ingin melihatnya. “Geser, geser, aku ingin lihat.”

Yuri mencoba untuk menyingkirkan Jessica yang menghalangi jalannya, tetapi Jessica juga tidak mau menyerah. Mereka akhirnya terlibat dalam permainan “aku tidak akan membiarkanmu lewat’, hingga….

Brukk…

Tubuh Yuri sedikit condong ke depan dan membuat mereka kehilangan keseimbangan. Mereka tersandung dan terjatuh di atas sofa, untungnya. Jessica di bawah. Yuri di atasnya.

Jessica menyadari betapa dekatnya wajah Yuri dengannya. Napas hangatnya menyentuh kulit wajahnya. Matanya beradu kontak dengan bola mata coklat milik Yuri. Pandangan itu seketika memicu gejolak di perutnya. Detak jantungnya tidak terkendali. Dan rasanya seperti dia tidak mampu menghentikan dirinya untuk lebih terjerumus dalam pandangan Yuri yang begitu lekat itu.

Mereka terdiam dalam posisi seperti itu sepanjang satu menit penuh.

Yuri berdeham gugup dan kembali berdiri. Dia pergi ke tempat tidur dan duduk di pinggirnya. Di lain pihak, Jessica tidak bisa menahan rasa malunya. Wajahnya merona merah seluruhnya. Dia pun duduk dan menghindari menatap Yuri.

Yuri memiringkan kepalanya ketika dia melihat kotak yang mereka perebutkan sebelumnya. Dia bergerak dari tempat tidurnya.

“Kenapa kau membawa foto-foto kita kemari?”

Jessica terkejut mendengarnya. Yuri sudah membuka kotak itu dan sedang memegang sebuat foto.

“Tidak!!!” Jessica segera merebut foto dari tangan Yuri.

“Yah, Sica!” protes Yuri.

Geez. Gagal. Gagal total.

“Biarkan aku melihatnya.” Yuri mencoba untuk mendapatkan foto itu kembali dari tangan gadis berambut coklat.

Jessica menggeleng.

“Aww, ayolah, Sica-yah. Lagipula itu hanya foto kita saja.”

“Tidak, Yuri. Ini bukan sekedar sebuah foto.”

Yuri berhenti.

“Jadi?”

Jessica menghela napas kekalahan. “Baiklah. Ayo kita duduk di tempat tidur dulu.”

Jika dia memang sangat menginginkannya, aku akan melakukannya sekarang.

Yuri tersenyum dan mengikutinya.

Jessica meletakkan kotak itu di ranjang dan menepuk area di sampingnya. Yuri menurut dan duduk di sana.

“Jadi apa aku boleh melihatnya sekarang?” Tanya Yuri.

Jessica mengangguk. “Ini.”

Yuri mengambil foto itu. Itu adalah foto mereka. Kepala Jessica sedang bersandar di bahu Yuri.

“Seharusnya itu adalah pertemuan pertama kita,” ujar Jessica.

“Yeah, pertemuan yang tidak bisa kau ingat,” komentar Yuri sebelum tertawa.

“Yah! Kenapa kau selalu saja mengungkitnya?”

“Menggodamu itu menyenangkan, Sica. Kau itu terlalu menggemaskan.” Yuri tertawa lagi.

Sica pun cemberut mendengarnya.

“Tapi bagaimana kau mendapatkannya?”

“Oh, aku mencarinya di folder dokumentasi di sekolah,” jawab Jessica.

“Hah? Apa kau meretasnya?” Yuri terkejut dengan penjelasan Jessica.

“Ah, tentu saja tidak. Aku tidak se-hi-tech itu, Yuri-yah.” Jessica tertawa. “Gadget terbaikku hanyalah handphoneku saja,” dia menyeringai.

Yuri tertawa. “Yay a, kau dan handphonemu itu sudah seperti belahan jiwa saja. Aku tahu itu.”

“Kau tahu aku sekali.” Jessica tertawa.

“Kau meremehkanku,” Yuri mengeluarkan merongnya. “Tapi aku baru tahu kalau kau tertidur di bahuku.” Yuri tertawa. “Pasti itu terjadi saat aku sudah terlelap.”

“Mungkin. Tapi itu lebih baik daripada tidak mengingatnya sama sekali.”

Yuri menatap Jessica. “Hey, hey, tidak apa-apa. Sungguh. Aku hanya bercanda saja.”

“Tetap saja.”

Yuri mengacak-acak rambut Jessica. “Tidak apa-apa, Sica. Aku serius. Jangan pikirkan itu lagi.” Dia tersenyum sambil merapikan kembali rambut Jessica kemudian melanjutkan ucapannya, “Ngomong-ngomong, foto ini mengingatkanku akan sesuatu.”

“Apa itu?”

“Tentang sebuah cerita. Judulnya adalah ‘On Your Shoulder’.” (authornya self-advertising banget hahaha)

“Cerita apa itu?”

“Itu adalah sebuah fanfiction. Tentang Girls’ Generation.”

“Kau membaca fanfiction juga?”

“Kadang-kadang. Kalau aku sedang bosan.”

“Oh, jadi tentang apa cerita itu?”

“Cerita itu tentang dua orang anak SMA. Mereka bertemu pertama kali di bus. Dan perjalanan mereka dimulai saat salah satu di antara mereka tertidur di bahu yang lainnya.”

“Wow. Itu mirip sekali dengan pertemuan pertama kita.” Jessica terkekeh.

Yuri tertawa. “Tidak juga. Karena mereka berdua ingat tentang kejadian itu. Sedangkan kita berdua sama sekali tidak mengingatnya.”

“Yah!” Jessica memukul lengan Yuri. “Kau mengungkitnya lagi.”

“Tsk, such a violent girl. Tapi aku juga tidak mengingatnya, kan? Kita seri.” Yuri mengeluarkan merongnya.

“Oke, oke, kau menang.”

Yuri tersenyum.

“Ada yang lain?”

“Hemm, ini.”

Jessica memberikan foto yang lain.

“Bukankah itu adalah hari pertama kita sekolah?”

“Yup.”

“Bagaimana kau bisa mendapatkannya?”

“Oh, Yuri-yah. Aku mungkin memang tidak high tech. Tapi aku tahu bagaimana mencari sumber yang tepat.” Dia terkekeh. “Ini kudapat dari kamera keamanan.”

“Oh my god, Sica-yah. Luar biasa. Kau benar-benar berusaha sejauh itu untuk mendapatkan foto kita? Luar biasa.” Yuri sangat takjub mendengarnya, dia bahkan bertepuk tangan untuk Jessica.

Jessica tersenyum. “Yeah, seperti itu.” Apapun untukmu, Yuri-yah.

Dan Jessica pun lanjut menunjukkan foto-foto mereka. Yang diambil dengan kamera. Yang diambil dengan handphone. Foto polaroid. Screenshot dari video. Semua hal yang menangkap kenangan mereka bersama.

“Sekarang setelah kupikirkan, apa kau sadar betapa seringnya kita berada di samping satu sama lain dalam semua foto-foto ini? Maksudku di foto-foto kelompok ini,” ujar Yuri.

“Yeah, aku tahu. Aku juga sadar dengan hal itu, Yuri-yah.”

“Mungkin kita punya semacam magnet,” canda Yuri.

“Mungkin juga. Tapi aku punya teori lain.”

Jessica meletakkan foto-foto itu dan menatap Yuri dengan senyuman merekah di wajahnya.

“Teori apa?” Yuri menatap balik Jessica.

“Kalau kita sangat menyukai kehadiran satu sama lain. Kalau kita merasa paling nyaman di sisi satu sama lain.”

Yuri terkesiap. “Si-Sica-yah.”

Jessica menggenggam tangan Yuri. “Yuri-yah.” Dia menarik napas dalam. “Apa kau tidak merasakannya juga? Karena aku merasakannya. Aku sangat suka setiap kali aku berada di sisimu. Aku bisa merasa nyaman. Aku bisa merasa aman. Aku bisa menjadi diriku sendiri. Dan aku merasa senang setiap kali kau ada di sekitarku. Walaupun terkadang kau ini benar-benar mengesalkan, tapi tetap saja, aku menyukai kehadiranmu.”

“Dan ini.” Jessica perlahan menyatukan jari-jari mereka satu persatu hingga telapak tangan mereka bertemu. “Aku sangat menyukai saat-saat dimana tanganmu menggenggam tanganku. Mungkin ini terkesan seperti hal-hal biasa, tapi ini sangat berarti bagiku. Kehadiranmu di sampingku. Koneksi antara kita berdua. Itu semua begitu menakjubkan.”

“Juga, disana. Semua foto-foto itu. Ada begitu banyak sekali foto. Dan maksudku bahwa itu bukanlah sekedar foto karena itu adalah kenangan kita juga. Walaupun aku tahu itu tidak benar-benar menunjukkan semua kenangan kita bersama karena kenangan kita terlampau banyaknya. Tetapi tetap saja, itu adalah potongan dari kenangan-kenangan kita.”

“Saat aku melihatnya, aku bisa melihat begitu banyak waktu yang telah kita habiskan bersama selama bulan-bulan belakangan ini. Yang baik dan yang buruk. Tawa dan juga tangis. Bahagia dan juga sedih. Semangat dan juga rasa takut. Ada begitu banyak.”

“Intinya adalah,” Jessica berhenti sejenak. “Aku tahu aku tidak bisa mengingat pertemuan pertama kita sama sekali dan aku sangat menyesal soal itu. Tetapi lihatlah, kita sudah punya banyak sekali kenangan. Dan aku tidak melupakan satupun dari kenangan itu. Aku mengingat semuanya. Karena itu semua begitu berharga. Kenangan itu sendiri. Dan terlebih lagi adalah dia yang bersamaku saat aku menjalaninya.”

Jessica tersenyum. “Jadi Yuri-yah.” Dia menatap lekat mata Yuri. “Aku sangat ingin melanjutkan petualangan ini denganmu, membuat lebih banyak kenangan berharga lainnya bersama-sama. Dan mulai dari saat ini, bukan hanya sebagai sahabatku saja, tetapi sebagai pacarku. Apa kau ingin ikut ambil bagian dalam perjalanan ini bersamaku?”

….

….

….

“Sica-yah…” Yuri kehilangan kata-kata. “Tapi…bukankah kau hanya menganggapku sebagai sahabatmu saja?”

“Ah yeah. Itu adalah kebodohanku. Maafkan aku karena begitu tidak peka saat itu.” Jessica pun hanya bisa tertawa mengingat kebodohannya.

“Jadi ini sungguhan?”

“Iya, Yuri-yah. Seratus persen nyata. Jadi?”

“Jadi?”

“Jadi?”

“Tentu saja iya!!!” Yuri menjawab dengan senang. Dia kemudian meloncat dari tempat tidurnya dan mulai melakukan tarian gilanya.

“Yuhuuu! Akhirnya!! Akhirnya!! Sica menjadi pacarku!! Yuhuuu.”

Jessica hanya bisa tertawa melihatnya. “What am I getting myself into? Apa aku bisa menarik kembali kata-kataku?”

“Yah yah yah! Apa itu? Tentu saja kau tidak bisa. Kau sudah terikat denganku. Tidak ada jalan keluar lagi.” Yuri menyeringai.

“Oh tidak. Aku terperangkap dengan seorang weirdo.” Jessica memasang wajah sedih.

“Tapi kau menyukai weirdo ini, kan?”

Jessica tertawa mendengarnya. “Yeah, sayangnya.”

“Yah! Kenapa kau bicara seperti itu?” Yuri cemberut.

Jessica tertawa lagi. “Anyway,” Jessica berdiri dari tempat tidur dan melingkarkan lengannya di sekeliling tubuh Yuri. “I’m happy with this weirdo.” Sebuah senyuman manis merekah di wajahnya.

“Benarkah?”

“Iya, Yuri-yah.”

“Aku senang mendengarnya.” Yuri tersenyum lebar.

Jessica terkekeh sebelum mengarahkan pandangannya pada Yuri. Dia menatap gadis yang lebih tinggi darinya itu dengan pandangan lembut. “Aku tahu mungkin kau bosan mendengar hal ini, tapi biarkan aku mengatakannya untuk terakhir kalinya.”

“Aku mendengarkan.”

“Aku minta maaf karena aku tidak bisa ingat saat pertama kali kita bertemu, Tapi,” Jessica mengangkat tangannya dan menaruhnya di wajah Yuri dengan lembut. “Aku akan selalu mengingatmu di seumur hidupku, Kwon Yuri. Aku menyukaimu.” Dan dia pun mencium Yuri.

“Aku juga menyukaimu, Jessica Jung,” ujar Yuri sambil membalas ciuman Jessica.

Itu adalah ciuman yang lemah-lembut dimana mereka menuangkan seluruh perasaan yang sudah mereka pendam untuk satu sama lain selama ini. Sebuah ciuman yang sederhana namun sempurna untuk ciuman paling pertama dari pacar paling pertama.

 

To be continued…

***

A/N: Yeay, Yulsic bersatu juga akhirnya! Ini hadiah untuk anniv ke 2 ff ini hahaha tepat 2 tahun yg lalu, ff ini pertama kali ditulis. ga kerasa juga udh tua ff nya hahaha

Oh ya, aku punya satu pertanyaan nih: apa yang kalian harapin selanjutnya untuk hubungan Yulsic ke depannya? Tell me tell me. Jangan malu-malu.

Oke deh, sampai jumpa di chapter selanjutnya. annyeong~

P.S.: Selamat hari raya natal ya buat yang merayakan!! May the joy of Christmas be with you~

Advertisements

Author: 4riesone

SONE. Follow me on Twitter @4riesone for updates and questions

28 thoughts on “Remember Me (Chapter 12)

  1. kyaaaaaaaa yulsic jadian.. acik acik acikkk
    mkasih thor… udah bikin yulsic sekarang jarang ada ff yulsic…TT
    & harapan buat yulsic sllu sweet… hihiii

  2. Whooaaa akhirnya pacaran jg tuh yulsic, yeeeeyyyy😊😊😊
    Emng bkn yuri kl kelakuannya gak aneh, tp justru itu yg bikn sica suka sm yuri
    Yg psti berharap yulsic gak pisah donk, langgeng trus deh hehe

  3. YulSic memaaaangggg so sweeeeettt😚😚😚😚

  4. betapa manis’y mereka
    smga mereka ttp brsma

  5. pengen sequel na.. ditambahi NC yg hot…. hahaha….

  6. yulsic harus menikah,,,,,di chap 13
    bahagia x yulsic bisa bersatu

  7. Ah greget banget nih bacanya thor. Lanjut thor jangan update lama lama yah 😉

  8. Yyeeeaayyy, akhirnyaaa yulsic bersatuuu 😘😘😘
    Gw pengen chap selanjutnya banyak adegan romantis, (kalau bisa adegan chu chu nya lebih diceritain mendetail thor 😝😝😝) dan banyakin lagi trio gilanyaa. Biar makin heboh n seru ceritanya thor 😁😁😁

  9. yuhuuuuu….yulsic jadiann
    selamat,selamat,bikin tumpengan thor..
    😀
    😀
    😀
    😀

  10. Yeaayyy akhirnya yulsic bersatu dan beruntung nya yuri cuma lupa sama kejadian tentang kecelakaan nya bukan lupa tentang sosok sica hahaha
    Cukup moment manis2 aja dah buat yulsic, badai nya nanti2 dulu wkwkw. Double date sama taeny dong XD

  11. Gni kan enak bcax endingx manis hahaha, hbungan yulsic kdpanx? Q sih suka kl ada drama2 jd gak trlalu lurus2 j entah itu org ktiga atau emang dr mreka brdua sndri, q jd pnsaran author ni bs bwt ff nc gak ya, gak usah malu2 thor hihihi

  12. Akhirnya yulsic jadian juga, 😀😀😀😀😀
    Bener2 sweet bgt yulsic😀😀😀😘😘😘

  13. YEEEEESSSSHHHHH!!!!!AKHIRNYA YULSUC BERSATU
    WUUHHUUUUU!!!!
    #efekterlalusenang#abaikan

  14. wuhuuuu yulsic Official, gua kira yuri bakalan hilang ingatan😝..

Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s