rara0894

All about TaeTiSeo and GG

Remember Me (Chapter 11)

23 Comments

Title         : Remember Me

Author    : 4riesone

Genre      : Fluff, Romance, Yuri

remember me

Between Normal – Chapter 11

 

“Mom?”

Keheningan sejenak mengisi ruangan itu sebelum akhirnya ibu Jessica berbicara.

“Ah, maaf. Aku kehilangan keseimbangan,” ujarnya sebelum dia berlutut untuk mengambil barang-barang yang terjatuh.

Jessica baru saja akan turun dari tempat tidurnya, tetapi sahabatnya menghentikan perbuatannya itu. “Kau tunggu saja disini. Biarkan aku yang membantu.” Dengan sigap Tiffany menghampiri ibu sahabatnya itu dan membantunya.

“Terima kasih,” kata ibu Jessica.

Tiffany mengangguk. Dan keheningan kembali mengisi setelah itu.

“Ehm,” Tiffany berdeham saat dia melirik sahabatnya. Jessica tidak memiliki keberanian untuk melihat ibunya. Begitu juga ibu Jessica. Dia hanya berdiri terpaku di tempatnya, memandangi barang-barang yang dia bawa.

“Aku akan pergi ke tempat Yoona dan Sooyoung. Aku akan kembali lagi nanti.” Tiffany berjalan ke arah Jessica karena dia meletakkan handphone miliknya di meja sebelah ranjang. Dia mengambil barang miliknya itu dan memberi tatapan terakhir kali pada gadis yang terdiam di ranjang itu. “Maafkan aku. Aku harap semuanya akan baik-baik saja,” bisiknya dan kemudian menepuk pundak Jessica pelan sebelum meninggalkan ruangan.

Sekarang ruangan itu benar-benar sunyi. Mereka berdua tidak bergerak sedikitpun atau mengatakan sepatah katapun. Hal itu berakhir saat sang ibu berpindah dari tempatnya dan berjalan menuju samping ranjang. Dia meletakkan barang-barangnya di meja sebelah ranjang dan kemudian duduk. Dia menatap putrinya.

“Jessica,” panggilnya lembut.

Jessica tidak menolehkan wajahnya. Dia begitu takut untuk melihat wajah ibunya.

“Hey sayang.” Ibu Jessica bergerak mendekati putrinya. “Lihat aku.”

Jessica dengan enggan menolehkan wajahnya untuk melihat ibunya itu. “Mom,” gumamnya sebelum menunduk.

“Hey, jangan takut, sayang. Mom tidak akan memakanmu.” Ibu Jessica mengangkat dagu Jessica agar putrinya itu menatap dirinya.

“Tapi aku…aku…Mom…aku…,” Jessica terbata-bata. “Kau mendengar apa yang aku katakan, kan?”

“Yeah. Kurang lebih.” Ibu Jessica memalingkan wajahnya dari putrinya. Dia menatap ke langit-langit.

“Maafkan aku, Mom. Kau pasti malu akan diriku.” Jessica mulai menangis lagi.

Ibu Jessica tidak langsung membalas ucapan Jessica melainkan dia memejamkan matanya untuk sejenak. Kemudian dia menghirup napas dalam sebelum membuka matanya kembali.

“Jessi,” ibunya memanggil kembali dengan lembut.

“Ya, Mom?” jawab Jessica di sela isak tangisnya.

“Apakah yang aku dengar tadi itu benar? Kalau kau menyukai Yuri?”

Jessica mengangguk lemah.

“Iya, Mom,” dia berhenti sejenak untuk menyeka hidungnya yang berair. “Memang benar kalau aku menyukai dia,” lanjutnya dengan sangat pelan. Dia benar-benar takut akan reaksi ibunya.

Ibu Jessica hanya menghela napas sebelum dia bersandar ke kursi. “Baiklah kalau begitu.”

“Ehm, Mom?” Jessica memandangi ibunya kebingungan. “Apa maksudmu?”

Bukannya menjawab pertanyaan anaknya, ibu Jessica malah menanyakan pertanyaan lain. “Dia terlibat dalam kecelakaan yang sama denganmu, kan?”

Jessica mengangguk. “Iya, Mom. Dia menyelamatkanku dari tabrakan truk. Karena itu dia lah yang tertabrak, bukan aku.”

“Hemm, jadi Jessi,” panggil ibunya lagi.

“I…iya, M…Mom?” Jessica tergagap begitu hebat.

Ibu Jessica menatap putrinya yang ketakutan. “Hey sayang, jangan takut. Mom tidak akan memakanmu.”

“Aku…aku tahu itu, Mom. Tapi ada kemungkinan kalau kau akan membentakku atau mungkin menamparku atau lebih parahnya tidak mau mengakuiku sebagai anakmu lagi.” Jessica menjawab dengan sejujur-jujurnya.

Mendengar hal itu sontak membuat ibu Jessica tertawa. “Ah, jadi itu lebih menyeramkan dibandingkan jika aku memakanmu?”

“Tentu saja, Mom. Lebih baik jika kau memakanmu saat ini dibanding jika kau tidak menginginkanku lagi sebagai putrimu. Itu akan jauh lebih mudah, Mom. Aku tidak perlu menjalani kehidupan seperti di neraka.”

Ibu Jessica tertawa lagi. “Oh, sayang.” Dia berdiri dan memeluk putrinya dengan erat. “Jangan menangis,” dia mengelus punggung gadis muda itu dengan lembut. “Putriku tampak jauh lebih cantik ketika dia tersenyum.”

“Bagaimana aku bisa tersenyum saat ini, Mom? Hidupku sedang dalam bahaya sekarang,” gumam Jessica.

“Ya ampun, Jessi,” dia tertawa lagi. “Aku tidak akan memungkirimu sebagai putriku, jadi kamu tidak perlu begitu takut lagi, oke?” dia melepaskan putrinya supaya dapat melihat wajahnya dengan jelas.

“Benarkah, Mom?”

“Iya, sayang. Bagaimana mungkin aku melakukan hal itu pada putriku tercinta?” Dia menyeka air mata di pipi Jessica. “Hemm?”

“Aku tidak tahu, Mom. Mungkin karena putrimu tercinta ini adalah seorang gay?”

Ibunya tertawa lagi. “Jadi sekarang putriku menganggap dirinya sebagai seorang gay?”

“Aku tidak tahu, Mom. Tapi bukankah begitu? Pada kenyataannya aku memang menyukai seorang perempuan. Bukankah itu membuatku menjadi seorang gay?”

“Hemm yeah, kau benar juga.” Dia tertawa lagi untuk kesekian kalinya.

“Mom?” Jessica menatap ibunya. “Untuk ukuran seseorang yang baru saja menemukan putrinya menyukai seorang perempuan, kau benar-benar banyak sekali tertawa.”

“Begitukah?”

“Iya, Mom,” ucap Jessica sambil dia mencoba mengendalikan isak tangisnya.

“Oh, oke. Ini karena kamu terlalu menggemaskan sayang,” jawabnya sebelum mencubit pipi Jessica.

“Mom, sakit!” Jessica cemberut, sepenuhnya telah berhenti menangis.

“Lihat? Kau itu menggemaskan!” Dia tertawa lagi.

Jessica semakin cemberut yang membuat ibunya tersenyum lebar.

“Baiklah, baiklah. Mom serius sekarang.” Dia mengubah ekspresinya menjadi mode sangat serius. Dia mengarahkan pandangannya pada putrinya.

“Aku rasa aku sudah memperkirakan hal ini akan terjadi…entah bagaimana…”

Mendengar itu, Jessica terkesiap dan segera menoleh padanya.

“Aku tahu aku tidak selalu di sini, di Seoul, tapi aku juga menyadarinya, Jessica. Kau banyak berubah sejak kau memasuki sekolah menengah. Sejak kau berteman dengan sahabat-sahabat barumu. Kau lebih banyak tersenyum, lebih banyak bicara, dan mempunyai lebih banyak kehidupan sosial. Sebelum kau mengenal mereka, kau benar-benar seperti kayu yang tertidur.” Dia terkekeh pada bagian yang terakhir.

Jessica dongkol mendengar sebutan yang diberikan ibunya itu.

“Loh? Itu memang benar kan? Kamu dan tidur itu sudah seperti belahan jiwa, sangat tidak bisa dipisahkan. Yang kau lakukan selama ini hanya tidur dan tidur. Kau tidak terlalu suka untuk pergi atau berkumpul dengan teman-temanmu. Hingga pada suatu waktu aku benar-benar takut apa yang salah dengan dirimu.”

“Mom, aku tidak separah itu. Aku masih suka pergi bersama Fany kadang-kadang.”

“Kadang-kadang, Jessi,” ibunya menekankan. “Sebelum ini, aku bisa menghitung dengan jariku berapa banyak kau pergi keluar dalam satu tahun,” ibu Jessica tertawa sambil menghitung dengan jarinya.

Jessica hanya bisa mencebil mendengarnya. Ibunya memang benar.

“Lalu kamu pun mulai lebih sering pergi keluar. Hingga aku kehilangan hitunganku. Kau hampir menghabiskan waktumu setiap hari dengan mereka, walaupun kau sudah bertemu dengan mereka di sekolah. Dan bagusnya adalah kau selalu tampak lebih ceria setiap kali kau berkumpul dengan mereka.”

“Dan di antara semua sahabat barumu itu, kau paling sering menghabiskan waktumu dengan Yuri. Ada banyak sekali ‘Aku akan pergi bersama Yuri’, “Aku akan pergi ke tempat Yuri’, “Yuri akan menemaniku’, “Yuri akan main kesini’ dan hal-hal lain yang berkaitan dengan Yuri sepanjang beberapa bulan belakangan ini. Dan apakah kamu sadar betapa seringnya kau membicarakan tentang Yuri setiap kali kau bercerita tentang sahabatmu?

Pipi Jessica merona merah. Dia tidak menyadari hal itu.

“Aku…” Ibu Jessica berdeham. “Pada satu titik, aku sempat berpikir kalau kalian berdua sudah bersama…”

“Apa?” Sekarang Jessicalah yang terkejut mendengar pengakuran ibunya.

Dia mengangguk. “Aku bisa melihatnya saat kalian berinteraksi, Jessi. Juga, semua perhatian yang dia berikan padamu. Jauh melebihi apa yang akan sahabatmu yang lain lakukan untukmu. Perlu sesuatu yang lebih dari sekedar pertemenan untuk membuat seseorang pergi di malam hari hanya untuk menghiburmu dengan sebungkus coklat atau menemanimu sepanjang malam hanya untuk melatih naskah dramamu berulang kali. Dan caramu tersenyum dan tertawa yang hanya terlihat setiap kali kau bersama dengan dia. Kalian berdua pada dasarnya sudah tidak terpisahkan.

“Mom, itu…” pipi Jessica semakin memerah tidak karuan.

“Tapi dulu, aku sempat berpikir kalau itu semua hanyalah imajinasi bodohku. Bahwa aku terlalu banyak memikirkan kalian berdua. Jadi aku meyakinkan diriku kalau kalian berdua hanyalah sahabat yang sangat sangat dekat.”

“Aku juga sempat berpikir seperti itu, Mom,” gumam Jessica.

“Jadi kau sudah menyadarinya sekarang?”

Jessica mengangguk. “Pikiran tentang ini semua benar-benar membuatku gila, Mom. Pada awalnya, aku menyangkal ini semua. Aku tidak bisa percaya kalau aku sebenarnya memiliki perasaan untuk Yuri, yang pada kenyataannya adalah seorang perempuan. Aku takut akan hal itu, Mom. Aku merasa ada sesuatu yang salah dengan diriku. Kalau diriku ini tidak normal. Tapi sekarang akhirnya aku bisa menyadari perasaanku dengan baik. Terima kasih pada kecelakaan ini.”

“Aku bisa memahami ketakutanmu, sayang. Kita, aku dan kamu, tinggal di dunia yang dibangun oleh masyarakat. Ada hal-hal yang lazim dan tidak lazim. Dan orang-orang cenderung untuk mendefinisikan normal berdasarkan apa yang terjadi pada populasi terbesar, meninggalkan mereka yang tidak umum dengan label abnormal.”

Ibu Jessica menyisipkan rambut Jessica ke telinganya agar bisa melihat putrinya itu dengan lebih baik. Dia kembali melanjutkan. “Dan selama ini, kita tahu kalau perempuan akan menyukai laki-laki, wanita mencintai pria, mereka akan menikah dan memiliki anak. Layaknya aku dan ayahmu. Itulah yang kita sebut sebagai hubungan yang normal. Untuk selama ini.”

“Iya. Itulah alasannya aku begitu takut ketika kau mengetahui hal ini.”

“Wajar bagimu untuk merasa takut saat pilihan tidak lazimmu terungkap padaku, yang kemungkinan akan menganggapmu sebagai abnormal karena aku telah menjalani pilihan yang berbeda darimu. Itu sangat-sangat bisa dimengerti.

Ibu Jessica mengambil napas dalam. “Dan kau benar. Aku benar-benar terkejut ketika aku mendengar apa yang kau katakana tadi. ‘Mengapa putriku satu-satunya menyukai seorang perempuan? Itu tidak normal.” Itulah hal pertama yang terlintas di pikiranku. Tetapi seiring pikiranku kembali memahami kondisimu, aku bepikir kembali, ‘apakah benar seperti itu? Apakah kau benar-benar tidak normal?’”

“Kau tahu, sayang. Kau sangat berharga bagiku. Aku mencintaimu lebih dari diriku sendiri. Aku tahu aku bukanlah ibu terbaik di dunia ini. Justru belakangan ini aku bukanlah ibu yang baik karena sudah meninggalkanmu sendirian berulang kali. Tetapi itu tidak mengubah fakta bahwa aku sangat mencintaimu.”

“Jadi aku berpikir, tidaklah penting apa itu normal dan tidak normal. Itu hanyalah omong kosong yang ditentukan oleh masyarakat semata. Tidak ada yang namanya normalitas absolut. Dan lebih dari itu, kau adalah putriku. Bagaimana mungkin aku bisa memarahi putriku satu-satunya karena jatuh cinta? Dan lebih parahnya lagi, tidak mengakuimu sebagai putriku? Itu tidak akan pernah terjadi, sayang. Kau terlalu berharga bagiku. Aku sangat mencintaimu dan aku tidak mungkin sanggup kehilangan dirimu tidak peduli apapun.” Dia menggenggam tangan gadis muda itu.

“Tapi aku mohon padamu untuk pelan-pelan dahulu. Untukku dan juga ayahmu. Aku yakin ayahmu akan memberikan reaksi yang sama denganku, tapi walaupun begitu kami membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Seperti yang aku katakan sebelumnya, ini bukanlah hal yang familiar untuk kami, jadi kami akan membutuhkan waktu untuk menerimanya seutuhnya. Bisakah kau melakukan itu untuk kami?”

“Iya. Iya, Mom. Aku bisa melakukan itu untuk kalian.”

Jessica merasa sangat bersyukur mengetahui ibunya tidak memberikan reaksi seperti yang dia takutkan. Melainkan benar-benar sebaliknya.

“Oh Jessi, kenapa kau menangis lagi?” ibu Jessica bergerak mendekati putrinya. Matanya pun menjadi berair.

“Kau membuatku menangis, Mom.”

“Astaga, kemarilah sayang,” wanita itu menarik Jessica dalam pelukannya. Tanpa disadari, air mata telah terjatuh dari pelupuk matanya. Dia menangis sambil memeluk putrinya dengan erat.

“Jadi Mom, apakah itu berarti kau akan mendukungku?” gumam Jessica.

“Aku belum sampai pada fase itu, sayang. Aku harus yakin bahwa Yuri ini memang pantas untuk kau perjuangkan. Tapi aku tidak akan menghentikanmu,” dia menatap putrinya dengan mata yang berlinangan. “Untuk jatuh cinta,” dia menambahkan.

“Bagaimanapun juga, cinta adalah sesuatu yang alamiah. Kau tidak tahu siapa yang akan kau cintai. Dan, sekali hatimu telah menentukan pilihannya, dorongan ini tidak bisa dengan mudah dipatahkan. Dan aku tidak akan menghentikan semua ini terjadi padamu. Kau sudah bukan anak kecil lagi, Jessi. Kau layak untuk jatuh cinta tanpa memandang siapa orang yang kau cintai itu.”

“Mom, terima kasih, terima kasih banyak. Ini sangat berarti bagiku.”

“Jangan sungkan, sayang.:

Dia tersenyum tulus pada putri kesayangannya itu.

“Apa yang akan kamu lakukan sekarang kalau begitu? Aku dengar dia masih tidak sadarkan diri sejak kecelakaan itu.”

“Aku…aku akan menunggu hingga dia terbangun.” Pikiran tentang Yuri yang tak sadarkan diri entah bagaimana membuat Jessica kembali ketakutan. Memang benar kalau Yuri berhasil melewati operasi. Tapi lalu apa? Dia masih tidak sadar. Ada banyak kemungkinan untuk itu.

“Jessi,” panggil ibunya. Dia menyadari perubahan tiba-tiba pada ekspresi Jessica. “Ada apa, sayang?”

Jessica menggeleng keras.

“Oh Jessi. Kita sudah membicarakan tentang kisah cinta ‘tidak biasa’-mu.” Ibu Jessica membuat tanda kutip dengan jarinya. “Apa lagi yang tidak bisa kau ceritakan padaku? Aku ada disini untukmu, sayang. Kau bisa membicarakan padaku apapun.”

Jessica menunduk. “Aku takut, Mom.”

“Apa yang kau takutkan?”

“Kondisi Yuri. Aku membuatnya seperti itu, Mom. Dia tertabrak karena aku.”

“Hey, hey, Jessi. Jangan bicara seperti itu. Kau tidak sengaja melakukannya.”

“Tapi jika saja aku lebih hati-hati, dia tidak akan tertabrak hanya demi menyelamatkanku.”

“Itu adalah sebuah kesalahan, Jessi. Itu bukan salahmu. Dia tidak akan menyalahkanmu juga.”

“Bagaimana jika dia menyalahkanku, Mom?”

“Dia tidak akan menyelamatkanmu jika seperti itu, Jessi.”

“Tapi Mom…bagaimana jika….bagaimana jika…” Jessica mulai menangis lagi. “Bagaimana jika dia tidak terbangun lagi?”

“Hey, hey, apa yang kau pikirkan? Kamu tidak boleh berpikir seperti itu, Jessi. Bukankah kau baru saja mengatakan kalau kau menyukainya? Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu?”

“Aku takut, Mom. Aku takut kalau aku tidak pernah bisa melihatnya lagi.” Air mata mulai berjatuhan tidak terkendali di pipinya. “Aku tahu operasinya berjalan dengan sukses. Tapi itu tidak menjamin apapun. Aku tidak tahu kapan dia akan bangun. Dan bagaimana dia akan sadar? Apakah dia akan baik-baik saja? Ataukah dia akan kehilangan penglihatannya atau pendengarannya atau bahkan ingatannya? Itu semua membuatku takut, Mom.”

Wanita itu menarik Jessica dalam pelukannya. Gadis muda itu menangis dengan deras.

“Bagaimana…bagaimana jika dia sama sekali tidak ingat apa yang terjadi di antara kami? Bagaimana jika dia sama sekali tidak mengingat diriku?”

“Jessi…”

“Aku benar-benar takut, Mom.”

Dan selama dua puluh menit Jessica menangis dalam pelukan ibunya sembari sang ibu mengusap pelan punggung putrinya itu. Jessica akhirnya bisa berhenti menangis sepenuhnya.

“Jessi.”

Ibu Jessica menatap putrinya. Matanya sudah memerah karena terlalu banyak menangis.

“Dengarkan aku,” ucapnya lembut. “Aku tahu kalau tidak ada jaminan akan apapun. Dan itu memang menyedihkan. Tapi bukankah kau bilang kalau kau menyukainya, hemm?”

Jessica mengangguk.

“Aku yakin dia juga menyukaimu, sayang. Untuk dirinya bisa melakukan aksi menghebohkan itu demi menyelamatkanmu dari tertabrak tru, dia pasti sangat menyukaimu. Aku yakin dia tidak akan menyerah akan dirimu begitu mudah. Dia akan berjuang keluar dari semua mimpi yang dia alami saat ini dan kembali pada kesadarannya lagi. Dia akan kembali padamu lagi.”

“Akankah begitu?”

“Iya, sayang. Kamu harus yakin dengan itu. Dan sambil dia berjuang untuk kembali bangun, kamu perlu melakukan bagianmu juga.”

Jessica memandang ibunya yang tersenyum. Dia mengerti. Iya. Ibunya benar. Bagaimana bisa dia tidak percaya dengan Yuri. Gadis kuat itu pasti akan kembali. Yuri tidak akan menyerah dengan mudah. Dirinya benar-benar konyol bisa berpikir sebaliknya.

Dan terima kasih untuk ibunya, sekarang dia tahu apa yang harus dia lakukan.

“Aku mencintaimu, Mom.”

“Aku lebih mencintaimu, sayang.” Dan dia mencium kening Jessica lembut.

***

Jessica melangkah perlahan memasuki ruangan Yuri dimana gadis itu masih terbaring tidak sadarkan diri di ranjang rumah sakit. Setelah pembicaraan dari hati-ke-hati dengan ibunya juga percakapan dengan Tiffany, Yoona dan Sooyoung, Jessica pamit untuk mengunjungi Yuri. Dia perlu melihat Yuri dengan mata kepalanya sendiri. Bahwa Yuri masih ada disana, dengan darah mengalir di dalam tubuhnya, udara mengisi paru-parunya beserta jantungnya yang berdetak. Bahwa Yuri masih hidup.

Jessica menarik tiang IV nya dan duduk di kursi di samping ranjang pasien. Dia memandang gadis yang terbaring itu.

Ini adalah kali pertama Jessica memandangi Yuri yang sedang terlelap. Selama ini yang terjadi selalu sebaliknya, Yuri memperhatikan Jessica tertidur. Yuri saat ini tertidur dengan damai, walaupun dirinya tampak lemah. Dan ada beberapa perban di tubuhnya, menutupi kulitnya yang terluka akibat kecelakaan serta sebuah perban putih melingkari kepalanya. Tetapi walaupun begitu, dia masihlah orang yang sama, Kwon Yuri yang sama yang dia kenal. Dan dia masih hidup. Benar-benar hidup.

Jessica menggenggam tangan Yuri. Rasanya begitu rentan dan dingin. Bukan tangan yang biasa terasa hangat dan kuat yang Jessica sukai. Dia membelai lembut tangan itu sebelum menyatukannya dengan tangannya. Dia memandangi wajah Yuri.

“Yuri-yah,” panggilnya pelan. “Bagaimana tidurmu? Apakah nyenyak? Apa kau sedang bermimpi? Apa yang kau mimpikan? Aku harap kau bermimpi indah. Tidak seperti diriku. Tadi itu benar-benar mimpi yang buruk.” Jessica mengusap tangan Yuri dengan ibu jarinya selama dirinya berbicara.

“Aku bermimpi tentangmu. Tapi di mimpiku itu, kau tidak selamat dari kecelakaan. Kau meninggalkan dunia ini. Kau meninggalkan aku. Aku sangat ketakutan, Yuri-yah.” Setetes air mata terjatuh di tangan Yuri.

“Aku bodoh, ya? Aku seharusnya tidak berpikir seperti itu. Kau tidak akan meninggalkan dunia ini begitu cepat. Kau tidak akan menyerah dengan mudah. Kau akan hidup untuk waktu yang sangat panjang dan mewujudkan semua mimpi-mimpimu. Satu kecelakaan mobil tidak akan mengalahkanmu begitu saja, bukan? Aku tahu kau adalah orang yang kuat, Yuri-yah.”

“Tapi, Yuri-yah,” Jessica mengangkat tangan Yuri dan meletakkannya di pipinya sendiri. “Aku sangat merindukanmu.” Dia ingin mengungkapkan perasaannya pada Yuri. Betapa dia sangat merindukannya.

Mungkin ini gila, karena belum enam jam lamanya sejak mereka berpisah. Tetapi Jessica merasa seperti mereka telah berpisah sekian lama. Kemungkinan besar karena mimpi buruknya, dimana dia harus mengalami waktu yang sangat panjang dan menyiksa, memikul rasa sesal, duka dan bersalah. Tetapi juga karena waktu-waktu lainnya ketika dia dengan bodohnya memberi label ‘sahabat’ semata pada Yuri. Jessica sudah tahu saat ini kalau Yuri lebih dari sekedar sahabat untuk dirinya.

Selain itu, dia ingin Yuri merasakan kehadirannya, walaupun dia masih menutup matanya dengan sempurna.

“Yuri-yah, aku mohon segeralah bangun. Jangan tidur terlalu lama. Punggungmu akan terasa sakit. Yeah, aku tahu itu karena aku sering sekali tertidur untuk waktu yang lama. Tapi bagiku itu sudah biasa. Aku terlahir sebagai pecinta tidur. Tapi kau tidak, Yuri-yah. Kau adalah orang yang sangat aktif. Aku tahu betapa senangnya dirimu menggoyangkan seluruh otot-otot di badanmu itu setiap hari.” Jessica tersenyum tipis, membayangkan Yuri dalam gerakan bergoyang. Dia dapat menggambarkannya dengan jelas bagaimana gadis tinggi itu akan melakukan tarian gilannya setiap kali dia bersemangat atau ketika dia menjadi sangat hiperaktif.

“Apa kau tidak merindukan keluargamu? Appa dan umma-mu ada disini, Yuri-yah. Dan oppa-mu juga. Mereka semua datang dari Goyang saat mendengar tentang kecelakaanmu. Mereka sangat khawatir. Begitu juga teman-teman. Mereka semua sudah menunggu dirimu sejak operasi.”

Jessica menatap Yuri. Gadis itu tidak memberikan reaksi apapun. Hanya ada keheningan di antara mereka.

“Apa kau tidak merindukanku, Yuri-yah? Aku merindukanmu, Yuri-yah. Semuanya. Keanehan hingga sikap manismu. Aku rindu kita.”

Jessica menurunkan tangan Yuri tetapi tetap menggenggamnya.

“Aku juga minta maaf telah membuatmu seperti ini. Aku tidak bermaksud sama sekali.”

Tetes air mata yang lain jatuh ke tangan Yuri.

“Jadi aku mohon bangunlah, Yuri-yah. Aku akan menunggumu.”

Dan aku tidak akan menyia-nyiakan waktu lagi. Aku akan memberitahumu tentang perasaanku yang sebenarnya kali ini.

Jessica meneruskan pembicaraannya dengan Yuri yang tidak tersadar. Dia membicarakan tentang apapun yang ada di pikirannya. Tentang kenangan mereka bersama. Mengingat kembali waktu-waktu indah maupun buruk yang mereka lalui bersama. Dan juga hal-hal random lainnya. Bunga di depan rumahnya. Anjing milik Sooyoung. Ikan di akuarium kelas mereka. Dan bahkan tentang cuaca.

Bagi seorang Jessica, itu adalah pertama kalinya dia berbicara begitu banyak dalam waktu satu jam. Biasanya Jessica akan menghemat kata sebisa mungkin. Hanya bicara yang dia butuhkan. Tetepai kali ini, dia benar-benar banyak bicara. Jessica hanya ingin untuk terus terhubung dengan Yuri. Dan berbicara seperti itu membuatnya merasa terhubung dengan Yuri.

Tak lama setelahnya, ruangan itu dipenuhi oleh lebih banyak orang. Orang tua Yuri. Kakak Yuri. Tiffany. Sooyoung. Yoona. Gadis-gadis itu berusaha untuk mencairkan suasana dengan lelucon mereka yang berhasil membuat keluarga Yuri merasa lebih baik.

Jessica sendiri kembali ke ruangannya untuk menjalani pemeriksaan. Dokter mengatakan kalau kondisinya sudah baik jadi Jessica dapat segera pulang. Apalagi dia tidak begitu suka dengan jarum yang menempel pada punggung tangannya. Benar-benar sangat merepotkan.

Setelah mengurus berkas pulangnya, Jessica memutuskan untuk mengunjungi ruangan Yuri lagi. Ibunya, walaupun enggan, memperbolehkannya untuk menginap di rumah sakit setelah menerima rayuan bertubi-tubi dari putrinya. Keluarga Yuri juga tidak keberatan. Mereka tahu betapa dekatnya Jessica dan Yuri. Dan mempertimbangkan kecelakaan yang baru saja terjadi, mereka pikir kalau Jessica ingin membalas budi pada Yuri.

Jessica bangun dari tidurnya. Semalam dia tidur di kursi, kepalanya berada di pinggir tempat tidur dan sepanjang malam menggenggam tangan Yuri. Dia mengusap matanya dan menatap Yuri. Gadis itu masih tertidur pulas.

“Pagi, Yuri.”

Dia melihat meja di samping ranjang. Sudah jam sembilan.

“Masih pagi kok,” Jessica terkekeh sendiri. Dia pasti sangat lelah, terjaga di malam hari untuk menjaga Yuri. Dia kemudian melihat ke sekeliling ruangan. Tidak ada siapapun. Keluarga Yuri kemungkinan sedang keluar untuk membeli sarapan.

“Ya, kurasa hanya aku dan kau lagi sekarang. Bagaimana perasaanmu hari ini? Aku harap kau bermimpi indah tadi malam,” dia tersenyum.

Jessica kembali menggenggam tangan Yuri. Tangan itu terasa lebih hangat dibanding kemarin.

“Yuri-yah, apa kau tahu betapa aku menyukai saat-saat kau menggenggam tanganku? Aku tidak tahu sejak kapan, tetapi aku suka hal itu. Apa kau sadar bagaimana tanganmu terasa begitu pas dengan tanganku? Apa kita bisa lebih sering melakukannya sejak saat ini?” Dia sedikit mengeratkan genggamannya.

“Aku berharap aku bisa mendengarmu memanggil namaku lagi, bahkan jika hanya sebuah bisikan. Aku merindukanmu, Yuri-yah. Caramu memanggilku yang tidak sama dengan yang lainnya.”

Dia menelan ludah. “Ketika dokter memberi tahu kami kalau ada kemungkinan, walaupun kecil, kalau kau akan kehilangan ingatanmu tentang kejadian-kejadian sebelum kecelakan itu terjadi…” Suaranya tercekat.

Dia menghela napas. “Aku mohon jangan lupakan aku, Yuri-yah. Jangan lupakan tentang kita. Aku mohon jangan lupakan bulan-bulan yang telah kita lalui bersama. Itu adalah bulan-bulan terbaik dalam hidupku. Aku harap begitu juga denganmu. Kau bisa melupakan hal-hal buruk tetapi jangan hal-hal baiknya. Aku mohon, Yuri-yah. Dan kau tahu, kita punya lebih dari itu semua. Tidak hanya kita berdua, tetapi dengan teman-teman yang lainnya juga.

Tiba-tiba saja Jessica merasa bahwa dirinya membeku di tempat.

“Sica, apa kau sudah bangun?” Ibu Yuri berjalan masuk ke dalam ruangan.

Tidak ada jawaban.

“Aku membelikan sarapan untuk—“ Dia terkesiap ketika matanya melihat apa yang terjadi…apa yang membuat gadis berambut coklat itu terpaku.

Jari-jari Yuri bergerak. Tangannya menggenggam tangan Jessica.

“Oh my god, Yuri??!!” Ibu Yuri akhirnya berhasil berbicara.

“SUSTER! DOKTER!”

 

To be continued…

Advertisements

Author: 4riesone

SONE. Follow me on Twitter @4riesone for updates and questions

23 thoughts on “Remember Me (Chapter 11)

  1. Akhirnya yuri bagun juga, semoga yuri tidak hilang ingatan kan kasian sicanya. Kirain mommy jung akan marah syukurlahhhhh

  2. kyaaaaaa yuri bangun………
    smoga yuri gk hilang ingatan
    syukur lah omma jessica gk marah
    HIDUP YULSIC…!!!!!!!

  3. update juga….. mmmmm….yuri lom sadar….. kyk na yuri amnesia ma jessi…

  4. Yah knp coba tbcx pas kyk gni…hahaha kereeen thooor bnr2 bkin pnsaran apa yuri bkal hlg ingatan ta gmn yg psti kykx bkal ada drama2x deh ya

  5. Akhirnya yuri ngerespon apa yg sica omongin, semoga yuri cepet sadar dan yg paling penting dia gak kehilangan ingatannya
    Sempet degdegan tuh pas mrs jung mulai ngomong serius tentang yulsic dan untung nya aja mrs jung nerima walaupun belum sepenuhnya, setidaknya restu udh dapet tinggal meyakinkan aja haha

  6. Aku udah nebak kalau Yuri itu orangnya kuat, jadi bisa sadar lagi deh. Sequelnya kapan kak? Hehe

  7. Woohooo yul bngunnn
    Wkwkww
    Jgn lupa ingetan aja
    Penasarannn
    Lanjutt

  8. baru baca dan baru nemu ff ini.ijin baca ya thor.

  9. Oh My God!!!! Jari yuri bergoyaaaang 😱😱😱😱

  10. yeayyy..yuti udah mulai sadar..semoga yuri ingat sica dan kenangan mreka berdua…
    😀

  11. yeayyy..yuri udah mulai sadar..semoga yuri ingat sica dan kenangan mreka berdua…
    😀

  12. aye aye yuri banguuuun 😂😂😂,, kelanjutan yulsic pasti dramatis deh. tapi yg penting mommy sica udah nerima perasaan sica ke yuri. walaupun masih lampu kuning sih. tapi lumayanlah, seenggaknya ga ngelarang sica jatuh sinta ke yuri😊

Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s