rara0894

All about TaeTiSeo and GG

Love between Dreams (Chapter 30)

20 Comments

Title        : Love between Dreams

Author   : 4riesone

Genre     : Romance, Gender bender

Cast        : 

 Jessica Jung

 Kwon Yuri

 Kim Taeyeon

 Girls’ Generation members and other

LxD cover 2

Chuseok

“Ini, Umma,” wanita berambut coklat itu menyerahkan sepiring kue beras kepada wanita yang lebih tua.

“Terima kasih, Sica,” Ny. Kim mengambil piring tersebut dan menaruhnya di meja. Dia kemudian lanjut menyiapkan makanan lainnya di meja.

“Apa lagi yang bisa aku bantu, Umma?”

Wanita itu melihat ke arah meja sebentar sebelum menoleh pada Jessica. “Apa kamu bisa membawakan beberapa soju kemari? Kamu bisa mengambilnya di lemari es.”

“Baik, Umma. Aku akan segera kembali.” Dia berjalan pergi setelah mendapatkan anggukan dari ibu mertuanya.

Malam itu adalah malam sebelum perayaan Chuseok. Taeng dan Jessica sedang berkunjung ke rumah orang tua Taeng untuk merayakan malam itu disana. Keluarga Kim berkumpul disana karena ayah Taeng adalah yang tertua di keluarga sehingga dia lah yang menjadi tuan rumah untuk perayaan kali ini. Sebagai menantu, Jessica juga turut diundang untuk ikut dalam perayaan tersebut.

Jessica mencoba sebaik mungkin untuk membantu apapun disana karena itu adalah pertama kalinya dia berpartisipasi dalam hari besar keluarga Kim. Dia pergi ke dapur dan mengambil beberapa botol soju seperti yang diminta dan menaruhnya di nampan.

“Butuh bantuan?”

Dia bertemu dengan Taeng di tengah jalan. “Tidak apa, aku bisa mengatasinya,” dia pun tersenyum sebelum kembali berjalan.

“Biar kubantu, lagipula tidak ada yang aku lakukan.” Pria itu dengan cekatan mengambil nampan dari tangan Jessica dan menunjukkan senyum lebarnya ketika wanita itu menatapnya.

“Terima kasih.”

Taeng tersenyum sebagai balasannya. “Apakah Umma menyusahkanmu?”

Jessica tertawa kecil. “Tentu saja tidak, Taeng. Umma sangat baik padaku. Aku senang bisa membantu.”

“Hanya ingin memastikan,” dia tersenyum lebar lag.

Jessica terkekeh dan menggelengkan kepalanya. “Kau terlalu banyak tersenyum untuk seusiamu.”

“Tersenyum dan tertawa itu baik untuk kesehatan,” Taeng tertawa.

“Terlalu banyak tersenyum dan tertawa itu tidak baik untuk kesehatan jiwa,” balas Jessica.

Taeng tertawa lagi. “Tidak begitu, jika ada alasan yang tepat di balikna,” dia tersenyum sambil berkata demikian yang membuat wanita itu mengangkat sebelah alisnya. “Kau adalah alasanku,” bisiknya kemudian mengecup pipi Jessica dan berjalan pergi meninggalkan wanita yang terkesiap itu di belakang.

Tindakan Taeng tadi membuat jantung Jessica berdegup cepat dan dirinya terpaku di tempatnya. Belakangan ini selalu seperti itu. Taeng senang melakukan hal-hal kecil namun manis seperti itu yang menimbulkan reaksi yang tidak mempedulikan persetujuannya. Seperti apa yang baru terjadi pagi tadi. Jessica menyukai fakta bahwa Taeng selalu bisa membuatnya lebih tenang dengan kata-katanya serta tindakannya yang penuh pengertian. Sisi kekanakannya pun menggemaskan. Rahangnya masih sedikit sakit akibat tertawa terlalu banyak. Dan kemudian situasi menjadi di luar kendali. Tubuhnya bereaksi dengan sendirinya.

Tentu saja itu menyenangkan dan dia bahagia. Bohong jika dia mengatakan sebaliknya. Hanya saja ini semua mengejutkan baginya bagaimana semuanya berjalan begitu lancer dengan Taeng. Terlebih lagi dalam rentang waktu yang singkat. Walaupun begitu, sudah menjadi keputusannya untuk membuka hatinya bagi Taeng sehingga dia pun memutuskan untuk menikmati setiap momen dan mengikuti hatinya.

Jessica memacu langkahnya untuk mengejar suaminya. “Hey.” Dia mengambil beberapa botol soju dari nampan dan membantunya untuk meletakkan botol-botol itu di meja.

“Kupikir kau akan berdiam disana sepanjang hari,” goda Taeng sembari dia pun meletakan botol-botol soju di meja lainnya.

“Ini curang. Kau sudah mencuri ciuman dariku sepanjang hari.” Bibir wanita itu membentuk sebuah cebilan.

Taeng meletakan botol terakhir dan menatap wanita itu. Dia tersenyum sebelum mencuri ciuman lagi darinya. Jessica terkesiap dan segera mencubit lengan pria itu setelah menyadari apa yang baru saja dia lakukan.

“Taeng!” geramnya, tidak ingin membuat keributan diantara keluarga besar Taeng.

Pria itu tertawa dan melingkarkan lengannya di sekitar pundak Jessica. “Jika kamu merasa ini curang, maka kamu boleh mencuri ciuman dariku juga. Aku tidak keberatan,” dia tersenyum lebar di akhir.

“Aku…” pipi wanita berambut coklat itu berubah warna menjadi merah. “Bukan itu maksudku.

Taeng tertawa kecil. “Aku membuat solusi yang bagus, kan?”

Jessica melepaskan dirinya dan menghadap ke pria yang tersenyum itu. “Bagus sekali,” dia mencubit pria itu sekali lagi yang menimbulkan suara aduh pelan darinya. “Jangan lakukan itu saat ini.”

“Kenapa? Apa kamu tidak suka?” Senyuman di wajahnya menghilang, digantikan dengan kerutan di dahinya. “Jika kamu tidak menyukainya, aku akan berhenti. Maafkan aku. Kamu pasti merasa sangat terganggu. Apalagi kita baru memulai semuanya beberapa minggu yang lalu dan pasti sulit bagimu untuk beradaptasi. Maaf, aku sangat tidak sensitif. Aku tidak memikirkannya sejauh itu. Aku hanya berpikir kalau itu adalah cara yang baik untuk menunjukkan betapa berartinya dirimu bagiku dan—“ Dia mengatakan semua itu begitu cepat, kemungkinan hanya dalam satu tarikan nafas, tetapi kemudian dihentikan di tengah kalimat oleh ciuman lembut di bibirnya. Mulutnya menganga dan matanya melebar setelah ciuman tersebut.

“Bukan seperti itu, Taeng. Aku tidak terganggu dan terima kasih untuk niat baikmu,” Jessica meletakkan sebelah tangannya di pipi pria itu. Setelah tidak mendapatkan jawaban apapun dari pria yang masih terkejut itu, Jessica melanjutkan, “Aku hanya memintamu untuk menguranginya selama kita disini. Sanak saudaramu ada disini.”

Taeng meraih tangan di pipinya serta tangannya yang lain lalu menggenggamnya bersama-sama. “Biarkan mereka melihatnya. Biarkan mereka tahu betapa aku mencintaimu. Aku bahkan akan membiarkan seluruh dunia mengetahuinya,” ucapnya sambil menatap lekat mata Jessica.

Senyuman terulas di wajah Jessica. “Aku tidak tahu harus berkata apa saat ini.”

“Sebuah ‘terima kasih’ sudah cukup bagiku,” senyuman yang sama merekah di wajah pria berambut hitam itu.

“Terima kasih.”

“Dengan senang hati. Jadi apa aku bisa menciummu sekarang?”

Jessica terkekeh dan menggelengkan kepalanya.

“Tapi kenapa? Kukira kau tidak apa-apa dengan ini.”

“Jangan lakukan itu disini. Ada sesepuh dan anak-anak disini. Beri mereka sedikit privasi. Selain itu aku juga tidak ingin mereka berpikir kalau kita ini seperti remaja yang tidak bisa mengontrol hormon kita. Oke?”

Taeng melihat ke sekeliling dan memang ada sanak saudaranya dimana-mana, mulai dari orang tua hingga anak-anak. Dia tersenyum malu-malu. “Baiklah kalau begitu. Aku akan menyimpannya untuk nanti,” dia memberi sebuah kedipan dan mendapatkan balasan tawa kecil dari Jessica.

“Taeng, Sica,” Ny.Kim menghampiri mereka. “Apa kalian sudah selesai dengan sojunya?”

“Ya, Umma. Kami sudah selesai disini,” jawab menantunya.

“Ayo makan malam terlebih dahulu. Apa kalian bisa bantu memanggilkan yang lain?”

“Baik, Umma,” jawab mereka serentak.

Makan malam pun berlalu dan segera diikuti oleh obrolan para orang dewasa dan anak-anak pergi bermain. Di sela-sela itu, salah satu sesepuh ingin bernyanyi lagu rakyat sehingga Taeng pun menawarkan untuk bermain gitar bagi mereka. Jessica tidak tahu Taeng bisa bermain instrument dan sedikit terkejut karenanya. Tetapi saat itu, dia sudah mulai terbiasa mendapatkan banyak kejutan dari pria tersebut.

Dia menikmati pertemuan kali itu. Keluarga Kim baik, hangat dan menerimanya dengan ramah. Dia juga menemukan bahwa Taeng dicintai oleh keluarganya meskipun dia hanyalah anak angkat. Dia bisa menebak alasannya. Pria itu tahu bagaimana caranya merebut hati orang-orang dengan ketulusan dan kejenakaannya.

Seiring langit malam semakin gelap, anak-anak pun mulai merasa lelah, juga para tetua, sehingga keluarga-keluarga pun mulai pamit satu per satu. Namun Taeng dan Jessica tidak pulang karena ibu Taeng meminta mereka untuk menginap malam itu dan mereka berdua tidak bisa menolak permintaan tersebut. Sekarang, mereka berempat –Tn.Kim, Ny.Kim, Taeng dan Jessica– sedang bersantai di ruang keluarga, menonton TV bersama-sama.

“Bagaimana Chuseok pertamamu bersama kami, Sica? Appa harap kau menikmatinya,” Tn.Kim memulai pembicaraan.

“Aku senang berada di sini, Appa. Semua keluarga sangat baik terhadapku.”

“Syukurlah jika menurutmu seperti itu,” balas pria paruh baya itu.

“Appa harap kau bisa lebih sering menghabiskan waktu dengan kami, Sica. Kami akan sangat senang,” tambah sang ibu. “Dan kau juga, Taeng,” dia mengalihkan perhatiannya pada putranya. “Kami mengerti kalau kau sekarang adalah seorang CEO tetapi akhir-akhir ini kau sudah jarang mengunjungi kami.”

Tn.Kim meraih tangan istrinya untuk menenangkannya. “Kau boleh bekerja keras, Taeng, tapi jangan lupakan keluargamu.”

Kepala Taeng tertunduk layaknya seorang anak yang tertangkap mencuri permen. “Maafkan aku, Appa, Umma.”

“Kami akan berkunjung lebih sering ke depannya, Appa, Umma. Ada banyak hal yang harus Taeng urus belakangan ini sehingga dia tidak bisa berkunjung lebih sering,” ujar Jessica sambil bertukar pandangan dengan pria di sampingnya yang membisikkan ‘terima kasih’. Dia tahu ini terjadi karena kesalahannya juga. Dia membuat Taeng sangat stress dan khawatir selama beberapa bulan belakangan. Selain itu dia juga membuat dirinya menghabiskan waktu menunggu dirinya semalaman saat dia pergi bersama Yul yang membuat waktu Taeng untuk keluarganya berkurang.

“Terima kasih,” balas wanita paruh baya itu. “Aku mungkin terdengar seperti ibu yang rewel, tetapi Appamu dan aku sudah tidak muda lagi. Bayangkan betapa sepinya hanya kami berdua. Selain itu Appamu juga akan segera pensiun.”

“Kapan, Appa?”

“Tepat setelah periodeku selesai.”

“Maret tahun depan?”

Pria itu mengangguk. “Aku sudah berkerja keras selama hampir setengah dekade. Sekarang aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluargaku.” Dia kembali meraih tangan istrinya dan tersenyum.

“Aku jadi teringat sesuatu,” Ny.Kim menyela.

Taeng dan Jessica menoleh padanya, menunggunya untuk melanjutkan.

“Kapan kalian akan mempunyai anak?”

Pasangan itu terkejut dan saling bertukar pandangan.

“Kalian ingin memiliki anak, kan?”

Taeng dan Jessica masih saling bertukar pandangan, tidak tahu harus berkata apa.

“Taeng?” ibunya memanggil lagi.

“Ah yeah, yeah, tentu saja, Umma. Kami…kami juga menginginkannya,” jawabnya gugup.

Ny.Kim mengernyit mendengar jawaban itu. “Apa ada sesuatu? Jawabanmu tadi tidak seperti datang dari orang yang benar-benar menginginkannya.”

“Kami menginginkannya, Umma. Sungguh,” Taeng menambahkan lagi, tanpa terpatah-patah kali ini.

“Apa kau yakin?” Ny.Kim masih belum percaya juga.

“Iya, Umma. Tapi,” dia berhenti sejenak, “kami pikir kami ingin menundanya sedikit lebih lama.”

“Berapa lama, Taeng?”

“Satu tahun?” jawab Taeng ragu-rgau.

Desahan jelas terdengar dari mulut sang ibu. “Kau tahu kami sudah tidak muda lagi, Taeng.”

Tn.Kim menggenggam tangan istrinya dan menepuknya pelan. “Sudahlah. Beri mereka waktu. Lagipula walaupun kita sudah berumur bukan berarti kita akan mati tahun depan atau semacamnya. Kita akan masih punya banyak waktu.”

“Tapi—“ Wanita itu ingin bicara lagi, tetapi setelah melihat suaminya menggelengkan kepala dia memutuskan untuk berhenti.

“Kau tidak perlu khawatir. Kami akan menunggu hingga kalian berdua siap,” Tn.Kim bicara pada kedua pasangan sambil tersenyum.

“Terima kasih, Appa,” ucap Taeng dan Jessica.

Dia mengangguk. “Mari istirahat kalau begitu. Besok kita harus pergi awal.”

“Sampai jumpa besok, Appa, Umma,” Taeng memeluk kedua orang tuanya sebelum pergi ke kamar tidurnya, diikuti oleh Jessica. Taeng duduk di atas ranjang sambil menunggu Jessica untuk masuk ke dalam. “Maaf untuk yang tadi,” ujarnya setelah wanita itu duduk di sampingnya.

“Tidak apa. Sudah sewajarnya mereka bertanya. Kita bukan baru menikah kemarin,” jawabnya sambil tersenyum.

“Aku tidak ingin hal ini menjadi beban bagimu.” Taeng memutar tubuhnya menghadap Jessica.

Jessica menggeleng. “Aku tidak apa-apa. Bahkan halmeoni pun menanyakannya.”

“Benarkah?”

“Yeah, bahkan lebih canggung dibandingkan dengan orang tuamu,” jawabnya sambil terkekeh pelan. “Syukur halmeoni bisa mengerti. Dia adalah wanita yang sangat baik.”

“Halmeoni sangat menyukaimu. Itulah mengapa dia terus berbicara denganmu sepanjang malam. Aku cemburu,” dia membuang muka sambil cemberut.

“Siapa yang membuatmu cemburu? Aku atau halmeoni?” goda Jessica.

“Kalian berdua,” Taeng semakin cemberut karenanya.

Jessica terkekeh melihatnya. “Aku benar-benar harus memeriksa umurmu yang sebenarnya,” dia mencubit pipi suaminya itu.

“Hey!”

“Jangan cemberut seperti itu. Aku mulai berpikir aku menikahi seorang berusia lima tahun.”

Taeng menunjukkan merongnya. Tidak lama kemudian, suara menguap terdengar dari mulut Jessica. “Tidurlah. Hari ini pasti melelahkan untukmu.”

Jessica mengangguk dan berdiri dari ranjang. Kemudian dia menyadari sesuatu dan pipinya tanpa diminta berubah merah akibat memikirkannya.

“Sica?” Taeng mengernyit melihat wanita itu tidak berpindah sedikit pun.

“Ehm, kita….” Jessica menunjuk dirinya kemudian Taeng bergantian beberapa kali.

Taeng masih mengernyit, tidak segera mengerti apa yang dimaksud Jessica. Kemudian dia melihat sekilas warna merah muda di pipi wanita itu dan dia pun mengerti. “Oh, aku mengerti.” Dia bangun dari tempat tidur. “Kau bisa tidur di ranjang. Aku akan tidur di sofa saja.” Dia mengambil satu buah bantal dan menuju lemarinya untuk mengambil selimut tambahan.

“Taeng,” Jessica memanggil pria itu dari arah tempat tidur sambil menggerakkan jari-jarinya gugup.

“Hemm?” Taeng menoleh.

“Kau tidak perlu tidur di sofa.”

“Tidak apa-apa, Sica.”

“Kau bisa tidur disini juga,” ujarnya pelan, sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah.

“Apa kau yakin? Aku tidak ingin membuatmu tidak nyaman.”

Dia mengangguk malu-malu.

“Yakin?” dia bertanya sekali lagi.

“Iya dan tolong hentikan ini sebelum aku mati karena malu.”

Taeng tidak bisa menahan tawa mendengarnya. “Kau lucu sekali,” ujarnya sambil naik ke atas tempat tidur, membaringkan tubuhnya di samping Jessica.

“Aku tahu itu, jadi hentikan.” Jessica sudah memejamkan matanya, tidak ingin melihat Taeng yang pasti sedang tersenyum puas.

“Baiklah, baiklah. Ayo tidur.” Dia mematikan lampu tidur. “Good night, Sica.”

“Good night, Taeng.”

Mereka berdua mencoba untuk terlelap, namun karena itu adalah pertama kalinya mereka tidur bersama, semuanya terasa canggung di antara mereka. Sudah lewat 30 melih dan tidak ada satupun di antara mereka yang sudah tertidur.

“Taeng,” panggil wanita berambut coklat itu.

“Hemm?”

“Apa kau sudah tidur?”

“Belum. Kau?”

“Belum juga. Aku tidak bisa tidur.”

“Apa ini terlalu canggung untukmu? Aku seharusnya memang tidur di sofa saja,” ujar Taeng khawatir.

“Tidak, tidak, tidak,” Jessica menggenggam pergelangan tangan suaminya sebelum dia bisa pergi. “Tetaplah disini.”

Taeng menatapnya sambil mengangkat alisnya. “Apa tidak apa-apa?”

“Aku baik-baik saja. Tolonglah,” pintanya.

“Oke.” Dia kembali berbaring santai di kasur. Setelah hening sejenak, dia kembali memulai pembicaraan. “Apa kau sedang memikirkan sesuatu?”

“Aku sedang memikirkan tentang hari ini.”

“Apa itu?”

“Aku bahagia.”

Senyuman tulus merekah di wajah Taeng. “Aku juga.”

“Benar-benar menyenangkan. Dan mengesampingkan kecanggungan soal ‘anak’ tadi,” dia membuat tanda kutip di udara, “aku benar-benar menyukai keluargamu. Mereka sangat baik kepadaku.”

“Yeah, aku tahu. Aku memang sangat beruntung, ya?”

“Benar.”

Mereka terdiam seperti itu selama beberapa saat, memandangi langit-langit, tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing sebelum akhirnya Taeng berbciara lagi. “Bagaimana denganmu, Sica?”

“Aku punya adik yang manis.”

“Bagaimana dengan keluargamu, Sica?” Taeng memperbaiki pertanyaannya.

Jessica tidak menjawabnya. Dia tahu apa maksud pertanyaan Taeng itu, tetapi dia tidak ingin memikirkannya. Hari itu sudah begitu baik dan dia tidak ingin mengacaukannya dengan memikirkan hal yang tidak menyenangkan. Tetapi sepertinya Taeng berpikiran lain. Dia bergeser dan memutar tubuhnya menghadap Jessica. “Sica.”

“Hemm?”

“Apa kau tidak merindukan ayahmu?”

“…”

“Sica,” dia kembali memanggilnya dengan lembut.

Jessica memalingkan tubuhnya dari Taeng.

“Apa kau masih marah padanya?” Taeng masih saja tidak menyerah.

“Apa kita bisa tidak membicarakan ini?” Suaranya berubah dingin.

“Apa sebenarnya yang membuatmu marah padanya? Kau bisa mengatakannya padaku,” Taeng berusaha untuk membujuknya.

“Aku tidak ingin membicarakannya.

Taeng menghela napas tetapi tetap masih berusaha. Dia bergeser mendekat. “Apa ini karena perjodohan kita?”

Jessica tetap terdiam.

“Jadi begitu.” Dia menghela napas dan berbaring kembali.

“See? Tidak ada manfaatnya kita membicarakan hal ini.”

“Tetapi kenapa memangnya?” tanyanya pelan.

Jessica membalik tubuhnya. “Dia memaksaku untuk melakukan sesuatu yang tidak aku inginkan, Taeng. Apa lagi alasannya.”

“Dia ingin kau menikahiku. Yeah, aku tahu itu. Tapi aku kira kita sudah baik-baik saja sekarang.”

Jessica bisa merasakan ada nada kekecewaan dalam perkataannya itu. “Kita memang baik-baik saja, Taeng.”

Pria itu menatap istrinya. “Lihatlah ini dari sisi lain. Karena dia, kita bersama sekarang. Bukankah itu alasan yang cukup untuk memaafkannya?”

Jessica menghela napas. “Kau tidak mengerti, Taeng.”

“Apa itu? Beritahu aku supaya aku mengerti.”

“Neraka yang dia berikan padaku.”

Itu membuat Taeng terdiam. Jessica tahu dia seharusnya tidak marah lagi terhadap ayahnya karena olehnya lah dia bisa bersama dengan Taeng sekarang ini. Tetapi setiap kali dia mengingat semua rasa sakit yang dia rasakan sebelumnya, amarah itu kembali menyeruak ke dalam hatinya.

“Meskipun begitu, dia merindukanmu.” Jessica sedikit terkejut ketika Taeng berbicara lagi setelah terdiam selama sepuluh menit. “Good night, Sica,” dia menambahkan kembali setelah tidak mendapatkan jawaban apapun.

Tanpa Taeng tahu, air mata berjatuhan dari pelupuk Jessica sembari dia mulai terlelap. Tidak peduli betapa keras dia berusaha mengingkarinya, jauh di dalam lubuk hatinya Jessica pun merindukan ayahnya.

 To be continued…

Advertisements

Author: 4riesone

SONE. Follow me on Twitter @4riesone for updates and questions

20 thoughts on “Love between Dreams (Chapter 30)

  1. Nich ff dah lma bgt w tunggu thor…yul kmna thor,kok ga di tongolin c…sica dah nyaman skrng ma taeng,huffft yulsic dah ga da harapan ghy..

  2. OMAIGAD nih epep udh lma bngt gk nongol, smpe lupa critanya, but makasih deh mo update nih epep, save dlu

  3. trm ksh bny akhirny bisa update…udh lm bgt y..^^
    yg q tggu bgt crt TaengSic,bgmn mrk akn mulai dr awl lg hub mrj.
    ush Tae utk dkti n bikin Sica nyamn didktny jg mnumbhkn cinta dkm hati mrk berhrp tdk akn sia2.
    krn skp n sifat Taeng yg melindungi n pnh cinta mmpu merangkul Sica yg bnyk almi hal yg sulit.
    smg TaengSic bisa bhgia n utk Yuri bisa bhgia jg dgn Yoona….
    ditggu Sweet moment lg TaengSic❤❤❤

  4. Setelah sekian lama akhirnya keluar juga nih ff hehee
    Makasi thor udah update kangen banget sama ff ini secara skg udah jarang banget cerita ff tentang taengsic
    Seneng liat mereka akhirnya udah lebih baik moga2 ga ada drama2 lagi deh

  5. Weww ff lama yg sudah terkubur dalam waktu yg lama akhirnya bangkit jugaa. Masih bingung sih gue sama perasaan nya sica, takut2 dia bakal main2 lagi sama yuri tapi semoga aja engga yaa. Cukup sama teyon aja, dijamin dah tuh bocah bakal bikin hidup sica lebih berwarna dan menyenangkan asekkkk wkwk. Anak dong anak, proses nya kapan nihh hihihi

    • iya dia udh ampe lumutan saking lamanya ga disentuh hahaha
      semoga ya, doain aja biar sica ga plin plan wkwkwk
      proses apa ya?? #authorpolos

  6. Yaampun
    Wkwkwkwkwk
    Ni ff kemna ajaa bru nongol gni
    Wkwkakaka
    Semoga sica bnr2 nyaman deh sma taeee
    Tpi si yul di kemnain ya
    Wkwkwkwkwkwww

  7. semoga aja sica udah nyaman dengn taeng..jdi bisa buat cucu wkwkwkwkwk

  8. apa yg membuat jessi susah banget untuk memaafkan ayah, kalau krn perjodohan, bukan nya taengsic sekarang udah baik 2 aja. bahkan tambah mesra. tapi kalau krn hubungan dgn yul, berarti jessi belum bisa menerima perpisahan nya dgn yul?.
    hmmmm…. “anak” ?. mudah 2an sica ga hamil anak yul, krn part sebelum nya mereka sdh melakukan nya. bisa mati dua kali uri taengie. 😁😁

  9. Yuri nya kapan keluar dah thor,kesian si item terlalu tersakiti 😂

  10. Btw ni ff ga di update udah setaun lebih kan?? Bener kan?
    Gara2 u thor gw jadi kangen banget ama kelanjutan nih ff 😭 ampe gw lupa link wp ini karna saking lamanya nungguin
    Sebenarnya kesel liat taengsic deket karna mereka gatau hancurnya hati yuri kaya gimana n sica kayanya udah bisa move on banget huhhh tp gw juga seneng karna gw pengen yuri bersatu ama yoona biar sica nyesel grrr
    Ya ya ya thor satuin yuri ama yoona aja plisss

    • halo!!! masih inget aja wkwk, hampir setaun. 10 bulan lah. maafkan keterbengkalaiannya ff ini T.T
      jadi setujunya yoonyul ya??

Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s