rara0894

All about TaeTiSeo and GG

Remember Me (Chapter 9)

24 Comments

Title         : Remember Me

Author    : 4riesone

Genre      : Fluff, Romance, Yuri

remember me

Accident – Chapter 9

Yuri sedang berjalan di sepanjang trotoar, kedua tangannya terjaga dalam kantung jaket biru tebal miliknya, melindunginya dari cuaca dingin kota Seoul. Di sampingnya adalah Jessica yang sama sekali tidak mengutarakan sepatah kata pun lagi sejak mereka meninggalkan taman bermain.

Yuri melirik ke arah gadis berambut coklat itu berkali-kali. Jessica menyilangkan lengannya dan menunduk sepanjang perjalanan. Yuri heran apa yang sedang ada dalam pikiran temannya itu. Dia terus saja melamun sejak pertemuan dengan Tiffany dan pacar barunya itu. Sebagai gantinya, Yuri pun tidak diacuhkan oleh temannya itu.

Yuri mengira bahwa idenya untuk membawa Jessica ke taman bermain akan membuat gadis berambut coklat itu berhenti berpikir terlalu keras. Dia senang saat melihat Jessica tertawa dan tersenyum sepanjang pertarungan bola salju mereka. Tetapi ternyata, hal itu tidak berlangsung lama. Jessica kembali tenggelam dalam pikirannya.

Apakah ini tentang Tiffany dan Taeyeon?

Dia menoleh ke arah Jessica dan melihat wajah putih indahnya itu memberengut.

Mungkin saja. Bagaimanapun juga itu adalah berita yang mengejutkan untuknya.

Yuri mengangguk sambil tetap mengamati gadis berambut coklat itu.

Tapi, tunggu. Walaupun itu sedikit mengejutkan, dia terlalu memikirkannya. Seharusnya dia sudah melupakan hal itu setelah pertarungan bola salju kami. Itu bukan hal besar. Hanya soal pacaran saja. Tiffany dan Taeyeon.

Dia mendesah dan mengalihkan pandangannya dari Jessica. Dia memandang ke kejauhan dan memikirkan pasangan baru itu.

Yeah, tentu saja mereka berdua sama-sama perempuan. Tapi itu bukan masalah besar, kan?

Dia mengangkat sebelah alisnya, bertanya pada dirinya sendiri.

Ataukah…itu masalah besar? Baginya?

Yuri mengangkat bahunya dan menghela nafas sebelum melihat lampu lalu lintas. Lampu itu menunjukkan lampu merah untuk para pejalan kaki yang ingin menyeberang jalan. Yuri berhenti dan menunggu lampu itu berubah hijau.

Mungkin itu memang masalah be—

Yuri tidak menyelesaikan pikirannya saat dia melihat seorang gadis berambut coklat melangkah menyeberangi jalan, saat lampu masih menunjukkan lampu merah untuk para pejalan kaki. Matanya seketika membelalak dan mulutnya ternganga.

“Sica!!” Yuri berteriak sekencang mungkin.

Apa yang dia lakukan?!!

Yuri memandang temannya itu dan kemudian menolehkan kepalanya ke kanan untuk melihat apakah aka nada kendaraan yang akan melewati jalan tersebut.

“Sica!!!!” Dia mencoba memanggil Jessica lagi tapi percuma saja. Gadis itu tidak mendengarkan.

Jantungnya berdegup kencang dan tubuhnya penuh keringat saat dirinya melihat sebuah truk besar datang dari arah sebelah kanan. Yuri pun panik.

Oh no! Oh no!

“Sica!!” Dia mencoba memanggil Jessica untuk terakhir kalinya sebelum membuat keputusan.

Maafkan aku, Umma.

Yuri bisa mendengar suara keras dari klakson mobil yang datang dari sisi kanan saat dia melangkahkan kakinya begitu cepat, berlari ke tengah-tengah jalan. Suara klakson itu bergema di kepalanya, begitu nyaring, ketika cahaya putih menerangi jalanan beserta sosok di hadapannya.

Kejadian setelahnya berlangsung begitu cepat.

Yuri bahkan tidak berpikir ketika dia akhirnya mendorong tubuh Jessica sejauh yang dia bisa sebelum dirinya menunggu benturan yang akan terjadi. Dalam sekejap, suara ban berdecit di atas jalanan beraspal terdengar memekakkan telinga. Tetapi dia sadar kalau itu belum cukup untuk mencegah kendaraan berukuran besar itu menghantam tubuh kecilnya. Hal terakhir yang dia tahu adalah rasa dingin besi pada kulitnya yang mengeluarkan suara dentuman keras.

***

Kepalanya berputar keras. Tidak mampu untuk memproses semua yang baru saja terjadi dalam waktu yang singkat itu.

Pertama dia berhadapan dengan sebuah truk dengan cahaya menyilaukan dan suara klakson yang memekakkan. Dia mengira kalau dirinya akan segera tertabrak oleh kendaraan besar itu. Tapi kemudian, dalam waktu kurang dari sedetik, kekuatan yang besar mendorongnya menjauh dari tempat dia berdiri. Dorongan itu membuatnya mendarat dengan keras pada jalanan yang kasar dan segera tenggelam dalam kegelapan.

Hal pertama yang Jessica lihat setelah memperoleh kesadarannya kembali adalah wajah seorang pria dengan setelan putih. Mulutnya bergerak-gerak, mengucapkan kata-kata yang tidak bisa dia mengerti. Otaknya dipenuhi dengan suara-suara tidak jelas. Terlalu banyak kebisingan di dalam kepalanya. Suara berdengung sirene ambulans. Suara bergema dari sirene lampu mobil polisi. Juga suara samar-samar dari ocehan orang-orang di kejauhan.

Dia mencoba untuk mendorong tubuhnya bangun dengan siku kanannya. Dia bisa merasakan tekstur kain di kedua tangannya setelah berhasil mendudukkan dirinya. Dia mengacuhkan rasa perih dari luka-luka di wajah dan kakinya dan melihat ke sekelilingnya yang buram.

“Nona, apa anda baik-baik saja?” Itu adalah suara dari pria berbaju putih.

Jessica menggelengkan kepalanya lemah.

“Anda sebaiknya berbaring saja,” ujar pria itu.

Gadis itu tidak menghiraukan saran pria itu dan kembali mencoba untuk melihat ke sekeliling. Kali ini dia mendapatkan penglihatan yang lebih jernih. Dia bisa melihat jalanan dipenuhi dengan orang. Dan juga sebuah truk besar disana, yang dia ingat dengan jelas akan segera menabrak dirinya jika dia tidak didorong menjauh.

Tiba-tiba saja dirinya sadar akan sesuatu.

Yuri!! Dimana dia?

Dia pun turun dari tandu, tidak menghiraukan seruan-seruan panik dari pria berbaju putih tadi. Dia begitu kalut saat tidak bisa menemukan Yuri dalam pandangannya. Jessica segera berjalan, meski tergopoh-gopoh, ke kerumunan beberapa meter dari tempatnya berada. Dia kemudian menerobos kumpulan orang-orang tersebut untuk melihat apa yang menarik perhatian disana.

Jessica pun bisa melihat Yuri. Disana. Terbaring tak sadarkan diri. Di atas tandu lipat. Dikerumuni oleh tim beranggotakan pria dan wanita dalam balutan pakaian putih.

Pemandangan di depannya itu begitu jelas. Darah terlihat di kepala, dada, lengan dan kaki Yuri. Di mana-mana. Cairan merah dari dadanya itu telah merembes ke baju dan jaket birunya. Kedua matanya tertutup. Rambut coklatnya basah dan tertutup darah. Tim paramedik sedang memasangkan masker transparan ke wajahnya dan menusuk vena di punggung tangannya dengan sebuah jarum yang menyambung ke sebuah selang.

Jessica berteriak histeris dan segera berlari menuju gadis yang tak sadarkan diri itu.

“Yuri!!”

Ini tidak mungkin terjadi!!

“Tidak, Yuri!! Kau tidak boleh seperti ini! Aku mohon bangunlah! Bangunlah! Ini tidak lucu!” Suara Jessica bergetar meskipun terdengar kencang. Dia tidak bisa menghentikan air matanya di hadapan gadis yang berlumuran darah itu.

Salah satu paramedik menghampiri Jessica dan mencegahnya untuk mendekati Yuri karena mereka akan membawa Yuri dengan tandu menuju ke ambulans.

“Kau sebaiknya mendapatkan pertolongan pertama terlebih dahulu.”

“Tidak!!” Jessica berlari menerobos pria it, berusaha untuk mendekati Yuri kembali. Para petugas medis sudah membawa Yuri ke depan pintu ambulans, bersiap-siap untuk memasukkannya ke dalam mobil. “Bangun!!” Dia berteriak pada gadis yang terbaring itu. “Bangun! Bangunbangunbangunbangun!” Tetapi gadis itu tidak bergerak. Tidak sedikitpun.

“Kami akan mengupayakan yang terbaik untuk menyelamatkannya,” salah satu paramedik berkata lembut pada Jessica sebelum mendorong Yuri masuk ke dalam ambulans. Petugas lain yang telah masuk terlebih dahulu ke dalam ambulans mengatur kembali sambungan IV dan monitor dengan satu tangan.

“Tolong, selamatkan dia, aku mohon.” Jessica memohon pada petugas wanita yang sedang mengurus Yuri. Air matanya telah membasahi seluruh pipi serta jaket miliknya. Suaranya pecah akibat tangisan kerasnya.

Wanita itu hanya mengangguk sedikit sebelum petugas lainnya naik ke dalam mobil, dan menutup pintu ambulans.

Kaki Jessica terasa lemas, semua energinya telah terkuras habis. Kakinya bergetar begitu hebat hingga akhirnya tidak lagi mampu menopang tubuhnya dan terkulai lemas. Jessica terduduk lunglai di atas aspal yang keras. Dia memandangi ambulans yang mulai berjalan menjauh dari temapatnya berada.

Ini semua seperti pengingat baginya.

Bahwa ada kemungkinan kalau dirinya tidak akan pernah bisa melihat Yuri lagi.

Yuri yang naif dan polos.

Yuri yang manis dan lembut.

Yuri yang rupawan dan tak bercela.

Yuri yang dia sukai.

***

Koridor rumah sakit dipenuhi hawa murung, menggambarkan perasaan orang yang berada disana. Jessica telah menunggu di luar ruang operasi sejak dokter membawa Yuri menuju ruangan berpintu metal tersebut. Dan sejak saat itu pula, suara isakan pelan tidak pernah berhenti terdengar, semakin menyeruakkan aura muram di tengah-tengah koridor sempit itu.

Gadis itu sedikit mendongakkan wajahnya dan menoleh kea rah ruangan di ujung koridor. Lampu di atas pintu metal itu menunjukkan warna merah, mengindikasikan operasi sedang berlangsung. Dia mengalihkan pandangannya kembali dan lanjut berdoa, berharap agar gadis di dalam sana akan baik-baik saja. Dia berharap dia tidak akan dihadapkan dengan skenario terburuk.

Lima belas menit…

Tiga puluh menit…

Empat puluh lima menit…

Gadis yang terisak itu kembali menoleh ke arah ruang operasi tetapi hanya mendapatkan lampu merah yang tidak berubah.

Satu jam…

Satu setengah jam…

Tiba-tiba saja, lampu merah itu berubah hijau. Dan pintu metal tersebut terbuka, memperlihatkan seorang dokter dalam balutan pakaian hijau. Jessica segera berdiri dan menghampiri ujung koridor tersebut. Dirinya dipenuhi rasa takut menantikan kabar dari sang dokter.

Apakah itu akan seperti yang dia harapkan? Ataukah akan seperti yang sangat dia takutkan?

Saat dia semakin mendekat, dia dapat melihat wajah dokter itu. Tampak tatapan lelah yang disertai dengan mata muram yang dikelilingi lingkaran hitam. Kerutan terulas di wajahnya dan bibirnya mengerucut ke bawah.

Dalam sekejap, batin Jessica telah mengerti apa yang akan dokter itu sampaikan.

“Nona,” pria dalam pakaian hijau tersebut memanggil dengan nada lembut.

Jessica hanya memandangi pria bertubuh tinggi itu. Rasa takut dalam hatinya sudah mengambil kendali.

“Saya menyesal harus menyampaikan ini pada anda, tetapi Nona Yuri—“

“Tidak, aku mohon, tidak, Sonsaengnim, jangan bohongi aku,” Jessica memotong. “Tidak ada yang terjadi pada Yuri, kan?” Jessica menatap dokter itu dengan matanya yang sudah dipenuhi air mata. “Benar, kan, Sonsaengnim? Dia baik-baik saja, kan? Dia akan segera keluar, kan?” Jessica mengoceh tidak karuan. Suaranya pecah menjadi permohonan yang menyayat hati.

“Nona, saya tahu ini berat untuk—“

“Tidak! Jangan bohong padaku, Sonsaengnim!!”

Dokter itu menggelengkan kepalanya pelan. “Dia sudah meninggal, Nona,” ucap dia dengan penuh penyesalan, tanpa adanya interupsi kali ini.

“Tidak!! Tidak!! Anda bohong padaku!! Tidak ada yang terjadi pada Yuri!! Jessica berteriak kencang di antara isak tangisnya.

“Dia kehilangan begitu banyak darah dan organ-organ vitalnya mengalami kerusakan berat,” pria itu mencoba menjelaskan kembali.

Jessica merasakan seluruh tubuhnya bergetar saat pikirannya mencerna kata-kata tersebut. Seluruh tenaganya terkuras habis, meninggalkannya dalam keadaan tak berdaya. Kakinya segera menyerah, membuatnya jatuh ke tanah.

Ini tidak mungkin terjadi. Kenapa Yuri meninggalkannya begitu cepat seperti ini?

Bayang-bayang Yuri memenuhi pikiran Jessica. Dia masih dapat dengan jelas menggambarkan setiap detail dari gadis itu. Alisnya yang melengkung indah. Mata lembutnya. Hidungnya yang sempurna. Kulih kecoklatannya. Semua yang ada pada dirinya begitu indah.

Dan juga pandangan lembut dan hangatnya. Pandangan yang telah banyak Jessica terima selama persahabatan mereka. Gambaran lain memasuki pikirannya. Wajah yang sama itu sedang tersenyum, bersendau-gurau, dan tertawa sepenuh hati layaknya seorang anak kecil. Gambar itu berganti menjadi sebuah wajah yang sedang cemberut yang kemudian berubah menjadi gambaran senyuman manis. Jessica sadar bertapa dirinya mengagumi semua reaksi-reaksi dari gadis yang lebih tinggi darinya itu.

Jessica menyukai perasaan saat tangan Yuri, yang terasa begitu pas, menggenggam tangannya. Juga perasaan hangat dan aman yang dia rasakan ketika gadis berkulit kecoklatan itu melingkarkan lengannya pada tubuhnya. Dia tidak tahu sejak kapan semua kontak fisik antara dirinya dan Yuri begitu berarti baginya. Dia merasa seperti semua itu natural saja. Seperti tidak ada yang salah. Semuanya sudah dirancang sedemikian rupa. Bahwa mereka ditakdirkan untuk memperhatikan satu sama lain. Untuk memberikan kehangatan dan kenyamanan satu sama lain.

Jessica merindukan semua itu. Dia membayangkan dirinya memeluk Yuri untuk terakhir kalinya. Tetapi, dirinya tidak mampu untuk membayangkan hal itu tanpa melihat dirinya menangis, air matanya membasahi pakaian gadis yang lebih tinggi darinya itu.

Yuri tidak akan pernah lulus dari sekolah menengah atas. Dia tidak akan pernah bertemu dengan Girls’ Generation atau menyelesaikan candy crush saga miliknya atau memelihara seekor anjing Pomeranian. Tidak akan pernah pergi berkencan atau berciuman atau jatuh cinta atau menikah atau menjadi ibu bagi anaknya.

Ini semua begitu tidak adil. Masih banyak kehidupan yang bisa Yuri alami.

Dan…Dan masih begitu banyak kehidupan yang ingin Jessica lalui bersama dengan Yuri.

Sejak pertama kali mereka bertemu di bus, yang masih tidak bisa Jessica ingat, hingga kecelakaan yang baru saja terjadi, Jessica telah membuat banyak kenangan yang mengesankan bersama dengan Yuri.

Saat telat pertama kali. Bencana akibat tidak bisa mengingat pertemuan pertama. Kejahilan mutual yang tidak pernah berakhir. Kelas sejarah yang begitu heboh. Kehebohan saat latihan drama. Operasi mata-mata di perputaskaan. Perjalanan manis dan menyenangkan ke Jeju. Hari drama yang tak terlupakan. Penyaksian kegembiraan Tiffany akan pacar barunya. Kejutan pertarungan bola salju.

Semuanya begitu berharga.

Dia menghargai semua itu karena mereka melakukannya bersama.

Itu adalah kenangan mereka bersama. Satu-satunya hal yang tidak akan sirna. Satu-satunya yang akan abadi selamanya.

Tetapi Jessica serakah. Dia menginginkan lebih. Kenangan bersama yang lebih banyak.

Dia ingin mengobrol tanpa henti dengan Yuri. Dia ingin menjahili Yuri, ataupun dijahili olehnya. Dia ingin melihat yuri tersenyum dan mendengarnya tertawa dan melihat aksi kalutnya dan mendengarkan gurauannya. Dia ingin menghabiskan sarapan mereka bersama atau makan siang atau makan malam atau bahkan cemilan. Itu tidak masalah. Selama dia bisa menghabiskannya bersama dengan Yuri. Dia ingin melalui sisa-sisa sekolah menengah atas bersama Yuri dan kemudian lulus bersama dan masuk ke universitas bersama-sama. Ada begitu banyak hal yang ingin di lakukan bersama dengan Yuri.

Tetapi Jessica tahu, itu semua hanyalah khayalan semata. Karena sudah tidak ada lagi.

Semuanya telah berakhir.

 

To be continued…

***

A/N: Annyeong semuanya!!

Maafkan author yang lama menghilang karena disibukkan dengan perkuliahan. Terima kasih buat fitri226 yg udah mengingatkan author untuk update ff ini :’) Berhubung ini udah malam, dan author sudah ngantuk jadi sekian dulu ya cuap-cuapnya. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.

P.S: Jangan lupa komen yaaa~

Advertisements

Author: 4riesone

SONE. Follow me on Twitter @4riesone for updates and questions

24 thoughts on “Remember Me (Chapter 9)

  1. Kan udah ditinggalin aja nyesel.. Tdi pas nyebrang apa tu telinga gak denger dipanggil sma yul.. klok udah kayak gini gmn ayo.. percuma mau nangis seperti apapun kmu gak bakal bisa ngidupin yul lagi sica.. sok sana minta tolong sama author suruh ngidupin yul lagi.. banyak tingkah sih jadi orang

  2. Hallo thor, ijin baca yaaaa
    Yuri meninggal? Oh tidakkkkkk
    Padahal yulsic belum pacaran
    Thor yuri masih idupkan??? Huaaa

  3. Yulnya sdh mninggal???
    Lah jdinya gmna donk??
    Jalan ceritanya udh end apa ada keajaiban??
    Segera ya thor ditunggu updatenya 🙂

  4. Drama dimulai, agak aneh baca versi bahasa,

  5. Thor authooor knp d akhirx gni siiih…tanggung jawab pkokx gak blh sad ending ntr…yulsic thor yulsic

  6. terima kasih kembali thor.. udh update…. tapi knp mah bikin mewek.? ini gk nyata kan..? mau na nie cuma mimpi sica ja…. krna gk nau kehilangan yul…. sekali na kangen ma yulsic mallah baca sad ff….. ehe.. ehek…

  7. Ini kenapa sekalinya apdet setelah sekian lama gak apdet malah ngebawa cerita yg menyedihkan beginiii:( yul beneran mati kah?dia cuma bercanda kli tuh seperti bercanda2nya dia yg lain….
    Duhh makanya sica klo mau main kuping nya dikorek duluu biar klo dipanggil denger. Klo denger kan kejadiannya gabakal begini haha XD

  8. Woaaa.. yuri kecelakaan,mati lagii
    Ga mati bnrn kan thor? Kan? Kan?
    Krna yuri pasti hidup lg tp ingatanny hilang
    Poor sica.. moga happy ending ya thor..
    Lanjut tbc by thor, walau sudah ada d aff tp gw lbh suka yg versi indo nya. So I’ll wait!! Figthing thor!

  9. Wkwkwk yul meninggal? Mimpi kali ya
    Wkakakakakakakkakaa
    Aduh
    Moga2 boong
    Hrs Happy thorr
    Wkwkwkw
    Lanjut

  10. ini gak bener kan thot?yuri gak meninggal kan?gak mau aq kalo sad gini..ntar sica sama siapa dong..
    😥
    😥

  11. Apa yg kau lakukan pada yuriii authooorrrr?????? Kenapa dibuat mati yurinyaaaa!!!!!
    Tegaaaa bgt daaaah 😱😱😱😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭

  12. ANNDDWWWEEEEE!!!!YURRRIIIII!!!HUUUAAA…HIKS..HIKS..HIKS…😢😭😭😭😭😭😭😭😭😭

  13. owh ternyata yuri yg kecelakaan 😱, jjinja doi beneran meninggal? duh jang dong kasian sica yg udah menyadari perasaannya😂

Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s