rara0894

All about TaeTiSeo and GG

Dear Mom (Chapter 21)

52 Comments

Title      : Dear Mom

Author : rara0894

Genre   : Family, gender bender

Cast      :

Seo Joo Hyun as Kim Joo Hyun

Tiffany Hwang/ Hwang Miyoung

Kim Taeyeon

Jessica Jung/ Jung Sooyeon

Kwon Yuri

And other cast

DM cover 2

“ A-apa yang kau maksud adalah Nichkhun“

“ Ah! Benar sekali. Nichkhun “

****

“ Hei” Seorang pria dengan pakaian kantor yang rapi tersenyum sumringah setelah melihat wanita cantik yang ingin ditemuinya.

“ H-hei oppa, apa kabar?” ujar wanita itu dengan canggung. Pria bernama Nichkhun itu memeluk Tiffany tanpa ragu yang membuat wanita itu membelalakan matanya. Namun dia tidak menolak karena tidak ingin Nichkhun merasa kecewa karena penolakan yang dilihatkan.

“ Aku baik, bagaimana denganmu? “ Jawab pria berdarah Thailand itu.

“ Seperti yang kau lihat “ Tiffany melihat senyumannya, merasa lega setelah Nichkhun melepaskan pelukannya. “ Sudah lama ya kita tidak lagi saling bertatap muka seperti ini”

“ D-dae..” Tiffany tidak tahu apa yang harus dia katakan, itu juga membuat Nihkhun merasakan hal yang sama.

“ Tiff, kedatanganku kemari ingin membelikan gaun untuk adikku. Aku ingin kau yang merancangnya. Aku mendapatkan informasi jika designmu yang terkenal di Korea, bahkan di luar negeri. Kau benar-benar wanita yang hebat” Ujar Nichkhun dengan pujiannnya yang membuat wajah Tiffany memerah.

“ Kau bisa saja oppa, kau ingin gaun yang seperti apa untuk adikmu?“ Ujar Tiffany. “ Ah, lebih baik kita bicarakan di ruanganku saja”

“ Bagaimana kalau kita bicarakan di cafe yang tidak jauh dari sini saja? Apalagi jam makan siang sebentar lagi. Jadi sekalian kita makan siang bersama, bagaimana?“

“Hmm.. “ Tiffany bingung, dia benar-benar merasa canggung bertemu dengan teman sekolahnya itu, bahkan mereka sempat memiliki kenangan sebagai sepasang kekasih. Ya, Nichkhun merupakan kekasih pertamanya saat dia mulai mengenal yang namanya cinta dimasa remaja. Disaat dia berada di bangku sekolah menengah atas.

“ Jika kau keberatan, tidak apa-apa. Kita bicarakan di ruanganmu saja “ ujar Nichkhun yang bisa membaca jika Tiffany sedikit keberatan. Jujur, dia sedikit merasa kecewa. Namun pria itu berusaha untuk tidak melihatkannya.

“ Aku tidak keberatan oppa. Baiklah, kita bicarakan di luar saja. Apalagi aku sudah lama tidak bertemu denganmu. Jadi kita bisa berbincang lebih lama “ Tiffany mengutuk dirinya sendiri yang memberikan peluang untuk berlama-lama dengan mantan kekasihnya itu. Kalimat yang dilontarkan Tiffany membuat Nichkhun tersenyum dengan lebar.

“ Kajja “ Nichkhun dengan refleks menggenggam salah satu tangan Tiffany, namun segera Tiffany berusaha melepaskannya.

“ Ah, mianhae, aku terlalu senang karena kau menerima ajakanku” Nichkhun merasa bodoh karena perilakunya yang spontan terhadap wanita yang mungkin saja merasa tidak nyaman berada didekatnya saat ini.

“ Tidak apa-apa oppa, aku hanya tidak ingin karyawanku mengira yang tidak-tidak” Tiffany berusaha tersenyum walaupun dia merasa sedikit risih dengan perilaku Nichkhun terhadapnya.

“ Arraseo, aku tidak akan gegabah lagi” Merekapun melangkah keluar dari kantor Tiffany menuju cafe yang ingin mereka tuju. Disaat mobil Nichkhun melesat keluar dari gedung itu, tidak berapa lama kemudian sebuah mobil memasuki kawasan kantor Tiffany. Sang pemilik dengan tergesa keluar dari mobil tersebut kemudian memasuki gedung kantor Tiffany.

“ Nicole! “ Nicole yang hendak menuju keruangannya berhenti seketika setelah seorang pria memanggilnya. Dia begitu tidak asing dengan suara itu.

“ Taeyeon? “ Nicole merasa jantungnya berdetak dengan tidak normal saat Taeyeon menghampirinya.

“ Apa Tiffany sudah mulai bekerja? Apa dia ada diruangannya? “ Ujar Taeyeon to the point tanpa menanyakan kabar sahabat dari istrinya itu terlebih dahulu. Taeyeon sudah berkali-kali berusaha untuk mencari keberadaan istrinya, namun tidak ada hasil dari usahanya itu. Bahkan dia rela untuk meningalkan pekerjaannya yang terbengkalai demi ingin menemui istrinya.

“ Ti-tiffany? bukannya dia masih cuti bekerja? “ Nicole benar-benar merasa bersalah karena telah membohongi Taeyeon. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa, ini adalah permintaan Tiffany terhadapnya. “Mianhae Taeyeon-ah”

“ K-kau yakin dia tidak ada disini?” Suara Taeyeon yang begetar seolah mengiba, itu membuat Nicole rasanya ingin memberitahukan keberadaan sahabatnya.

“ Dae, aku yakin. Jika dia bekerja hari ini pasti dia akan menghubungiku” Ujar Nicole dengan tenang. Berusaha untuk tidak melihatkan kegugupannya. “ Tapi, kenapa kau menanyakan Tiffany Tae? Bukankah dia bersamamu?”

“ Ada masalah diantara kami, dan aku belum bisa menceritakannya padamu saat ini. Maafkan aku” Taeyeon tersenyum pahit.

“ Tidak apa-apa”

“ Apa kau tahu dimana keberadaan Tiffany? apa dia pernah menghubungimu”

“ A-apa? Keberadaan Tiffany? Aku tidak tahu dan dia tidak ada menghubungiku” Nicole diam-diam membuang napas beratnya. Tetap berusaha tenang di hadapan Taeyeon.

“ Baiklah, aku ingin ke ruangannya sebentar”

“ Dae? “ Taeyeon yang akan melangkah menuju ruangan Tiffany terhenti melihat Nicole yang sedikit aneh.

“ Aku ingin keruangan Tiffany sebentar” Ujar Taeyeon.

“ Ah, baiklah. Maaf aku sedikit pusing dengan pekerjaanku jadi aku tadi tidak menyimak apa yang kau katakan sebentar ini. Ingin aku temani?”

“ Tidak apa-apa. Aku bisa sendiri. Kau pasti sangat sibuk dan terima kasih sudah mengontrol butik ini selama Tiffany tidak ada” Taeyeon melihatkan senyumannya.

“ Tidak perlu berkata seperti itu Tae, Apalagi ini juga kewajibanku sebagai karyawan disini “

“ Baiklah, aku ke ruangan Tiffany sebentar “ Nicole mengangguk dan Taeyeon melangkahkan kakinya menuju ruangan Tiffany. Sesampainya disana, Taeyeon membuka pintu ruangan itu dengan perlahan. Tercium olehnya aroma ruangan yang begitu Tiffany sukai. Tanpa sadar dia meneteskan air matanya, ini benar-benar membuatnya merindukan sang istri. Taeyeon kembali melangkah dan menatap meja kerja Tiffany yang rapi. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Tiffany diruangan itu membuatnya menyerah. Mungkin Tiffany memang belum bekerja kembali. Taeyeon akhirnya memutuskan untuk meninggalkan ruangan itu namun sebelum kakinya berada diluar ruangan, seseorang sudah berada di depan pintu yang terbuka.

“ So-sorry Tae aku menganggu sebentar, ada yang harus ku ambil diruangan ini “

“ Oh tidak apa-apa, silahkan. aku juga akan keluar dari ruangan ini “ Nicole mengangguk dan melangkah menuju sebuah lemari yang ada diruangan itu. Kemudian mengambil sebuah berkas yang kini sudah berada ditangannya.

“ Kau masih ingin disini?” Tanya Nicole dengan hati-hati yang mendapatkan gelengan dari Taeyeon sebagai jawaban.

“ Aku harus kembali ke kantor. Nic, jika ada Tiffany menghubungi atau kau tahu dimana keberadaannya tolong hubungi aku. Masalah ini harus selesai secepatnya, aku tidak ingin masalah ini terus saja berlarut tanpa ada penyelesaian.” Ujar Taeyeon dengan wajah yang muram.

“ Arraseo, kau harus sabar Tae. Setiap masalah pasti ada penyelesaian “ Taeyeon mengangguk.

“ Baiklah, aku harus pergi. Sekali lagi terima kasih”

“ Kwenchana, berhati-hatilah saat menyetir “ Taeyeon kembali mengangguk dan melangkah untuk keluar dari gedung itu. Nicole kemudian bisa bernapas lega karena Taeyeon tidak bisa membaca bagimana kegugupannya.

***

       Tiffany dan Nichkhun saat ini sedang membicarakan konsep gaun yang sesuai dengan apa yang diinginkan pria itu. Tiffany begitu serius yang membuatnya terlihat begitu cantik dan membuat pria asal Thailand itu terus menatapnya tanpa sadar. Nichkhun terus saja menatap Tiffany, mulai dari matanya yang cantik, hidungnya yang mancung, bahkan sampai ke bibirnya yang dilapisi lipstick yang terlihat semakin menggoda. Namun pikirannya yang mulai kemana-mana langsung ditepisnya. Dia tidak ingin terlihat buruk didepan mantan kekasihnya itu.

“ Oppa, are you okay? “ Suara husky Tiffany membuatnya benar-benar tersadar.

“ O-oh aku baik-baik saja “

“ Kau yakin?” Tiffany berusaha meyakinkan karena dari tadi Nichkhun terus menatapnya dengan tatapan yang tak mampu diterka.

“ Ya, aku hanya sedikit kelelahan “ Nichkhun berusaha mencari alasan agar Tiffany tidak berpikir negatif terhadapnya. Tiffany kembali menjelaskan rancangan gaun tersebut kepada Nichkhun, kali ini pria itu mendengar dengan baik apa yang dikatakan Tiffany.

“ Bagaimana menurutmu oppa? Apa yang aku jelaskan sesuai dengan apa yang kau inginkan?” Nichkhun mengangguk dengan pasti.

“ Apa kau yakin? Katakan saja, aku akan berusaha untuk memberikan rancangan yang terbaik”

“ Aku serahkan saja semuanya padamu Tiff, aku percaya dengan hasil kerjamu “

“ Baiklah, nanti aku akan mengabarimu jika ada hal yang harus dibicarakan atau kau bisa menghubungiku“ Ujar Tiffany dan Nichkhun kembali mengangguk.

“ Oh ya, apa pekerjaanmu begitu banyak hingga kau kelelahan? “ Nichkhun tersenyum karena dia beranggapan Tiffany masih perhatian terhadapnya.

“Dae, beberapa minggu ini aku begitu sibuk karena ada sedikit masalah di dalam perusahaan “ Balas Nichkhun yang mendapat anggukan dari Tiffany yang kini menyesap kopi yang sudah disediakan.

“ Kau harus jaga kesehatanmu oppa. Bagaimanapu sibuknya dirimu, kau jangan sampai lupa untuk beristirahat walaupun sejenak. Kau juga harus memperhatikan pola makanmu” Nichkhun kembali tersenyum lebar. Begitulah Tiffany yang selalu care kepeda orang-orang yang dikenalnya, namun Nichkhun menanggapinya dengan berbeda. Perhatian Tiffany membuatnya serasa melayang, itu mengingatkan dimasa-masa mereka masih menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.

“ Terima kasih atas perhatianmu dan aku akan selalu mengingat pesanmu. Oh ya, apa kabar dengan suamimu Tiff? “ Pertanyaan Nichkhun membuat badan Tiffany terasa tegang seketika.

“ A-ah.. suamiku baik-baik saja” Jawab Tiffany dengan sedikit terbata.

“ Syukurlah kalau begitu “

“ Bagaimana denganmu oppa? Maaf waktu itu aku tidak bisa hadir di acara pernikahanmu “

“ Tidak apa-apa” Kemudian Nichkhun menghela napas beratnya.

“ Apa sesuatu terjadi? “ Tiffany yang bisa membaca ekspresi Nichkhun menyadari jika ada yang tidak beres.

“ Kami sudah berpisah beberapa bulan yang lalu” Ujar Nichkhun dengan nada sedih.

” Omo! Jinja? “ Tiffany begitu terkejut mendengar apa yang diucapkan pria dihadapannya itu.

“ Dae, kami sudah sepakat untuk hidup masing-masing karena tidak ada lagi kecocokan. Mungkin inilah yang terbaik “ Tanpa sadar Tiffany menggenggam tangan Nichkhun yang berada di meja. Namun Tiffany tidak bermaksud apa-apa, hanya ingin memberi sedikit kekuatan untuk Nichkhun.

“ Kau harus sabar oppa, mungkin itu memang jalan yang terbaik. Kadang, apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan harapan. Tuhan sudah memiliki rencananya sendiri. Kita sebagai manusia hanya menjalankannya. Jika itu memang rencana yang sudah ditetapkan, mau tidak mau kita harus menerima. Kita tidak akan mampu untuk menolak “ Ujar Tiffany. Wanita itu menyadari jika apa yang dikatakannya juga untuk menguatkan dirinya sendiri. Tanpa dia sadari Nichkhun sudah meletakkan tangannya diatas tangan Tiffany dan meremasnya dengan lembut.

“ Thank you” Ujar Nichkhun dengan lembut.

“ N-no problem “ Tiffany dengan perlahan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Nichkhun. “ O-oppa lebih baik kita kembali, masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan “ Tiffany mengutuk dirinya, dia menyadari jika dirinyalah yang memulai.

“ Arraseo “ Kemudian Nichkhun memanggil salah satu waiter untuk bill yang harus dibayarkan dan melangkah keluar cafe menuju parkiran. Tidak lama kemudian mobil Nichkhun melesat ke jalan raya dengan kecepatan normal.

“ Gomawo oppa “ Ujar Tiffany setelah mereka sampai di kantor.

“ Aku yang seharusnya berterima kasih padamu karena sudah menerima ajakanku “ Mereka tertawa kecil.

“ Baiklah, bye oppa ” Saat Tiffany ingin melangkah, sebuah tangan yang kekar menggenggam pergelangan tangannya yang membuat Tiffany kembali menghadap Nichkhun.

” Wae?” Tiffany sedikit tidak nyaman dengan tatapan yang dilihatkan oleh Nichkhun, merasa risih saat tangan pria dihadapannya itu menyentuh kedua pipinya.

” A-apa yang kau- “

” Tiff, kau tahu kan jika kau adalah cinta pertamaku?”

” Dae? ” Tiffany tanpa sadar menahan napasnya dengan suasana saat ini. Dia berusaha melepaskan tangan Nichkhun yang menyentuh pipinya. Dia tidak ingin para karyawan melihat mereka seperti ini. Saat Tiffany berhasil terlepas, Nichkhun dengan sigap menggenggam kedua tangan Tiffany.

” Jawab pertanyaanku Tiff ” Lidah Tiffany kelu, darahnya berdesir karena perlakuan Nichkhun.

” D-dae”

” A-aku masih mencintaimu Tiff. Aku-“

Bugh!

“ Tae-taeyeon?” Otak Tiffany seolah tidak bekerja saat melihat Taeyeon menyerang Nichkhun secara tiba-tiba.

” Taeyeon! Apa yang kau lakukan?! ” Tiffany memekik saat kepalan tangan Taeyeon menerjang tulang pipi pria itu.

” Apa kau tidak memiliki harga diri mengungkapkan perasaanmu pada wanita yang sudah bersuami?” Ujar Taeyeon dengan terengah seraya kedua tangannya berada di leher Nichkhun yang membuat pria itu mengernyit sakit. Dia tidak bisa berbuat apa-apa selain berusaha menahan Taeyeon yang berada diatas tubuhnya.

” Cukup Taeyeon! Kau bisa membunuhnya!” Teriak Tiffany berusaha melepaskan tangan Taeyeon dari Nichkhun. Namun sedikitpun Taeyeon tidak beranjak yang terus menatap pria itu dengan sangar.

“ TAEYEON!” Dengan sekuat tenaga akhirnya Tiffany berhasil melepaskan tangan Taeyeon dari leher Nichkhun, pria itu terbatuk-batuk dengan apa yang telah Taeyeon lakukan terhadapnya.

“ Oppa, kwenchana?” Tiffany berusaha membantu Nichkhun untuk berdiri sedangkan Taeyeon yang masih terduduk tidak percaya dengan apa yang dilakukan Tiffany. Bahkan istrinya mengabaikannnya.

“ Ka-kau keterlaluan Fany-ah “ Lirih Taeyeon yang mampu didengar oleh Tiffany.

“ Kau yang keterlaluan Kim Taeyeon!” Tiffany menatap dengan tajam kearah Taeyeon yang kini sudah berdiri dengan tegap.

“ Bagaimana bisa kau katakan aku yang keterlaluan setelah apa yang ku lihat? Kau masih istriku Kim Tiffany. Jadi ini alasanmu sengaja untuk bersembunyi dariku agar kau bisa dengan bebas bertemu dengannya !?“

” Kau jangan asal bicara Kim Taeyeon! Kau kira aku wanita apa sampai kau melontarkan kata-kata seperti itu padaku!? ” Ujar Tiffany dengan penuh emosi karena merasa tersinnggung dengan apa yang diucapkan suaminya itu.

” Bolehkah aku berprasangka seperti itu?”

” Kau! “

” Oppa!” Nichkhun yang ingin menghajar Taeyeon langsung ditahan oleh Tiffany. Namun saat itu juga punggungnya terhempas ke dinding mobil karena kedua tangan Tiffany mendorong bahunya. Matanya seketika melebar saat Tiffany mengapitnya sehingga dia bisa merasakan hangatnya tubuh wanita dicintainya itu. Sudah begitu lama Nichkhun tidak lagi merasakan pelukan Tiffany yang hangat, namun dia tidak ingin seolah mengambil kesempatan dengan suasana yang tidak mendukung seperti ini.

” Ti-tiff, a-apa yang ka- hmmff ” Mata Nichkhun melebar karena keterkejutannya dan juga tidak dapat melanjutkan kata-katanya saat Tiffany dengan paksa mempertemukan bibir mereka. Bagaimana reaksi Taeyeon? Pria itu tidak mampu berkata. Otaknya seolah tidak mampu memproses apa yang ditangkap panca inderanya, sehingga pergerakan tubuhnya seperti mati. Tidak mampu bergerak untuk memisahkan kontak mereka.

” Prasangkamu tepat bukan? dan kita satu sama. Kau kira hanya kau yang bisa berbuat seperti apa yang kau lakukan? Aku juga bisa!”

” Satu sama? Apa maksudmu? Apa yang sudah ku lakukan?” Taeyeon tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Tiffany.

” Ck, sampai saat ini saja kau sedikitpun tidak menyadari apa yang sudah kau lakukan. Kau sudah banyak menyakitiku Taeyeon! Dan aku tidak mmapu lagi untuk bertahan. Aku menyerah ” Nichkhun hanya diam, tidak mampu untuk berkata apapun melihat sepasang suami istri bertengkar didepannya

” Ti-tiff, lebih baik aku pergi. Selesaikanlah masalah kalian dengan kepala dingin” Ujar Nichkhun kepada Tiffany dan mengabaikan Taeyeon. Dari dulu dia begitu tahu jika Taeyeon begitu tidak menyukainya. Taeyeon sedikitpun tidak pernah melihatkan wajah ramahnya.

” Mianhae oppa, aku -“

” Tidak apa-apa, aku mengerti ” Ujar Nichkhun dengan lembut. Sedangkan Taeyeon tanpa sadar mengepalkan tangannya karena emosi yang tertahan.

” Aku pergi ” Nichkhun menepuk bahu Tiffany yang mengangguk. Tidak lama kemudian Tiffany kembali menatap Taeyeon dengan tajam setelah mobil Nichkhun sudah jauh dari jarak pandangnya.

” Apalagi yang kau inginkan?” Tanya Tiffany yang begitu dingin. ” Jika tidak ada lagi yang didebatkan, lebih baik kau pergi saja. Ini hanya membuang-buang waktuku. Permisi! ” Tiffany mmebalikkan tubuhnya, sebelum melangkah pergelangan tangannya di genggam oleh tangan itu. Dengan sentuhan saja mampu membuatmya merindukan kehangatan suaminya. Namun lagi, Tiffany dengan segera menepis perasaan tersebut. Tiffany dengan kasar menepis genggaman tangan Taeyeon dan wanita itu tidak merubah posisinya sedikitpun, tetap membelakangi Taeyeon yang menatapnya dengan tatapan yang tidak dapat diartikan jika dia melihatnya. Tiffany sengaja untuk tidak menatap Taeyeon. Dia takut jika dinding tebal yang sudah dibangunnya runtuh begitu saja hanya dengan tatapan yang diberikan suaminya.

” Fany-ah..” Lirih Taeyeon, seperti sebuah bisikan namun Tiffany mampu mendengarnya dengan jelas. Tubuh Taeyeon terasa begitu lemah saat ini, bahkan dia tidak bisa sedikit lebih keras untuk berbicara.

” Inikah yang kau mau?” Dia tidak mendapatkan respon dari bidadarinya itu. “Apa kau tidak ingin untuk memperbaiki rumah tangga kita lagi? ” Sekali lagi, tidak ada respon dari Tiffany.

” Aku tanya satu kali lagi, jika kau masih diam aku akan menganggap kau memang menginginkannya ” Taeyeon berhenti sejenak, menghirup udara untuk mengisi paru-parunya yang terasa begitu sempit. Sedangkan Tiffany tanpa sadar mengepalkan tangannya. Dia begitu merasa tegang, dirinya pun merasa bingung apa yang sebenarnya diinginkan hatinya. Perceraian atau memperbaiki?

” Tiffany, tidakkah kau ingin memperbaiki rumah tangga kita lagi? ” Taeyeon menunggu jawaban wanita yang sedikitpun tidak merubah posisinya. Seolah wanita itu begitu membenci untuk menatap wajahnya.

” Tiffany? ” Taeyeon kembali menunggu. Tidak juga mendapatkan jawaban, Taeyeon sudah dapat menarik kesimpulan. Dia tersenyum miris.

” Baiklah, jika memang perceraian yang kau inginkan. Aku akan menerimanya sekarang, mungkin memang ini yang terbaik menurutmu. Namun jujur, tidak untukku. Tapi aku akan mengalah. Jika dipertahankan namun itu akan membuatmu terbebani, lebih baik kita akhiri saja karena aku tidak bisa melihatmu menderita dan sakit, karena aku masih sangat mencintaimu dan itu tidak akan berubah. Terima kasih atas semua kebahagiaan yang kau berikan untukku Fany-ah. Aku minta maaf karena sudah begitu banyak menyakitimu ” Bukan hanya suara Taeyeon yang bergetar, seluruh badannya pun juga ikut bergetar.

” Sekali lagi, maaf atas segala kesalahan yang aku lakukan. Aku menunggu surat panggilan gugatan darimu, aku akan berusaha untuk hadir selama proses perceraian kita nantinya. Tenang saja, kali ini aku tidak akan menyulitkanmu ” Tanpa Taeyeon tahu, kedua pipi Tiffany sudah dibanjiri air mata.

” Selamat tinggal fany-ah, aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi. Permisi ” Tiffany dapat mendengar langkah Taeyeon yang menjauh dan sesaat kemudian terdengar suara mobil yang kemudian melesat menjauhi pendengarannya. Tubuh Tiffany meluruh ke tanah seraya menutup mulutnya untuk meredam suara tangisannya yang meledak. Hatinya benar-benar dilema. Apakah dia tetap bertahan dengan pendiriannya atau tidak. Hatinya mulai gamang untuk memutuskan

” Mianhae..” Tiffany teringat apa yang tadi dilakukannya dengan Nichkhun, rasa penyesalan dan bersalah tumbuh mengingat dimana Taeyeon secara langsung melihatnya. Dia tidak bermaksud, saat itu amarahnya tidak mampu untuk dikendalikan hingga membuatnya melakukan apa yang terlintas dibenaknya. Menyakiti Taeyeon dengan bercumbu dengan sang mantan kekasih.

***

       Taeyeon terlihat begitu sibuk dengan pekerjaannya. Namun sebenarnya tidak, Taeyeon hanya terus membuang napas yang begitu terasa berat. Matanya sendu karena dipikirannya hanya terlintas bagaimana Tiffany bercumbu dengan mantan kekasih istrinya itu. Beribu jarum seolah menuhus jantungnya dan seolah tidak lagi berdetak dengan semestinya. Tidak disangka jika sang istri menyakitinya dengan cara yang begitu tidak adil. Mungkin ini saatnya untuk tidak lagi memperjuangkan, tidak lagi untuk bertahan demi keutuhuan keluarganya. Mungkin inilah hukuman yang harus diterimanya setelah apa yang telah terjadi selama ini.

“ Apakah aku memang harus menyerah?” Taeyeon memijit keningnya yang terasa sakit. “ Ya, mungkin ini tidak lagi bisa untuk dipertahankan” Batinnya seraya mengusap wajahnya.

Tok Tok

       Sepasang mata onyx itu menatap pintu ruangannya setelah terdengar ketukan dari luar. Saat itu juga seseorang dengan perlahan membuka pintu itu dan terlihatlah siapa yang berada dibaliknya. Senyuman lemah terukir di wajah Taeyeon saat orang yang ditunggu-tunggu kini sudah berada dihadapannya.

“ Selamat malam Mr. Kim “ Hyoyeon berbicara dengan formal seolah sebagai karyawan sahabatnya itu.

“ Ya! Aku tidak ingin bermain-main saat ini “ Balas Taeyeon dengan ketus yang membuat Hyoyeon tertawa kecil.

“ Kenapa kau menyuruhku ke kantormu uh? Kau tahu aku ini orang sibuk “ Ujar Hyoyeon dengan santai seraya menduduki dirinya dihadapan Taeyeon yang berada di meja kerja.

“ Hyoyeon-ah? “ Hyoyeon tidak melanjutkan candaannya setelah melihat raut wajah Taeyeon yang tak biasa.

“ Taeng, kwenchana? “ Hyoyeon mulai khawatir, ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu.

“ Lebih baik kita duduk di sofa saja biar lebih nyaman “ Taeyeon berdiri kemudian berjalan menuju sofa yang juga diikuti Hyoyeon.

“ Kau baik-baik saja? “ Tanya Hyoyeon yang semakin khawatir. Pria itu mengerutkan keningnya saat sang sahabat membuang napasberatnya.

” Ini masalah keluargaku “

” Ada apa? “

” Tentang Joohyun.. ” Taeyeon berhenti sejenak, dia bingung harus bagaimana memulainya untuk menjelaskan kepasa Hyoyeon.

” Ada apa dengan Joohyun? jangan membuatku bingung Taeng”

” Apa benar jika ada seorang gadis seumuran Nayeon tinggal bersamamu? ” Hyoyeon mengangguk.

” Darimana kau tahu? ” Taeyeon tidak menjawab pertanyaan Hyoyeon.

” Apakah nama gadis itu Kim Seohyun?” Hyoyeon mengangguk cepat.

” Sebenarnya dia adalah Joohyun, anakku” Hyoyeon melebarkan matanya, seolah tidak percaya apa yang dikatakan sahabatnya itu.

” K-kau.. ” Hyoyeon tidak tahu harus mengatakan apa karena keterkejutannya. Otaknya masih memcerna apa yang diucapkan Taeyeon.

” Seohyon adalah Joohyun” Taeyeon memperjelas. Dia tahu jika sahabatnya bingung dengan apa yang sudah dikatakannya.

” Ba-bagaimana bisa?” Taeyeonpun menjelaskan semuanya, bagaimana masalah yang dihadapinya selama ini. Meenceritakan bagaimana dia kembali bisa meraih Seohyun kepelukannya, kemudian bagaimana sikap Seohyun pada Tiffany dan bagaimana sikapnya selama ini terhadap sang anak. Tidak lupa Taeyeon menceritakan kejadian malam itu dimana Tiffany mengalami kecelakaan dan Seohyun menghilang. Disanalah Hyoyeon mulai memahami kenapa Seohyun tidak sadarkan diri didepan cafenya dengan kedua lutut yang terluka dan kehujanan.

” Aku benar-benar ayah yang buruk Hyo. Aku tidak bisa membahagiakan anak dan istriku” Kemudian Taeyeon kembali bercerita jika Tiffany ingin berpisah dengannya yang membuat Hyoyeon tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya bisa memberikan sesekali usapan lembut dipunggung untuk Taeyeon saat sahabatnya itu terus bercerita dengan suara yang bergetar, berusaha untuk menguatkan.

” Kau harus sabar Taeyeon-ah, Aku tahu kau akan kuat untuk menghadapinya. Maaf aku tidak bisa menolongmu sepenuhnya, tapi aku pasti akan mendoakan yang terbaik” Ujar Hyoyeon yang sesekali menepuk lembut bahu Taeyeon.

” Sekarang kau sudah tahu dimana keberadaan Joohyun bukan? Lebih baik sekarang kau menemuinya, cairkanlah hatinya kembali. Kau tidak mau kehilangannya untuk kesekian kalinya bukan?” Taeyeon menganngguk cepat.

” Tapi aku takut jika Joohyun semakin membenciku Hyo, bagaimana jika dia tidak lagi ingin bertemu denganku? Kau tahu, selama ini sikapnya selalu dingin terhadapku. Dengan apa yang terjadi malam itu.. saat a-aku berkata kasar- ” Taeyeon tidak mampu untuk melanjutkan kata-katanya. Dia memijit pelipisnya yang terasa begitu sakit. ” sikap Joohyun pasti akan lebih dari itu” Hyoyeon hanya diam, dia tampak sedang memikirkan sesuatu.

” Aku ingat, waktu dia sadar pagi harinya. Aku bertanya bagaimana bisa anak itu berada di cafe dan menanyakan dimana orang tuanya. Dia mengatakan jika dirinya pergi dari rumah karena sudah membuat kesalahan besar dan merasa begitu bersalah ” Penjelasan Hyoyeon membuat Taeyeon meneteskan air mata. Dia bisa membayangkan bagaimana anaknya begitu tertekan dengan apa yang terjadi.

” Aku berusaha untuk membuatnya menjelaskan apa yang terjadi, namun dia tidak mau bercerita sedikitpun. Bahkan dia ingin pergi dari rumahku pagi itu dengan alasan tidak ingin merepotkan. Namun aku berhasil mencegahnya dan tidak lagi memaksa untuk bercerita. Aku tahu dia tidak nyaman dengan itu. Aku dan Nayeon berusaha sebisa mungkin untuk membuatnya nyaman tinggal bersama kami. Aku tidak ingin dia pergi jika belum jelas kemana tempat yang ingin ditujunya. Akhirnya Seohyun tinggal bersamaku sampai sekarang”

” Hyo, aku benar-benar berterima kasih padamu. Joohyun berada ditangan yang tepat saat aku tidak ada disisinya. Aku tidak tahu harus membalasnya dengan apa”

” Jangan bicara seperti itu, lebih baik kita pikirkan bagaimana kau menyelesaikan masalah ini dengan anakmu”

” Sungguh, aku belum tahu apa yang harus kulakukan. Apa lebih baik jika malam ini aku langsung menemui Joohyun di rumahmu?” Hyoyeon awalnya hanya diam karena bingung tindakan apa yang harus dilakukan dan sesaat kemudian pria itu akhirnya kembali bersuara.

” Begini saja..” Hyoyeon pun menjelaskan pendapatnya untuk membantu sahabatnya yang membutuhkan masukan.

       Disisi lain, saat ini cafe Hyoyeon begitu ramai pengunjung membuat semua karyawan sedikit kewalahan untuk melayani. Begitupun dengan dua gadis cantik yang begitu disenangi para pelanggan dengan keramahan mereka.

” Seohyun-ah, kau tidak apa-apa?” Nayeon menghampiri Seohyun saat setelah memberikan daftar pesanan kepada koki di dapur cafe. Nayeon melihat Seohyun sedikit pucat dan letih.

” Aku baik-baik saja. Wae?”

” Wajahmu terlihat pucat dan kelelahan lebih baik kau istirahat saja di kamar ” Ujar Nayeon dengan khawatir.

” Itu hanya perasaanmu saja. Aku tidak apa-apa. Kau kan tahu jika saat ini pengunjunng sedang ramai. Wajar saja kita sedikit kelelahan. Lihatlah! Kau juga terlihat letih” Seohyun memberikan colekan di bahu Nayeon untuk menggodanya yang membuat sahabatnya itu merasa geli dengan ekspresi Seohyun yang mengangkat alisnya berkali-kali.

” Ya! kau menggelikan” Nayeon menampar tangan Seohyun yang terus mengganggunya. Seohyun hanya bisa tertawa lepas dengan Nayeon yang malu dengan godaannya.

” Aigoo.. lebih baik kita kembali bekerja. Lihatlah, masih banyak yang ingin memesan. Kau mau jika Hyoyeon ahjussi dimarahi pengunjung karena kita terlalu lama memenuhi pesanan mereka? ” Nayeon menggeleng dan dua gadis itu kembali melakukan aktivitas mereka yang sempat terhenti. Masih ada sedikit kekhawatiran dihati Nayeon, namun dia berusaha percaya jika Seohyun baik-baik saja.
Hampir tiga jam berlalu, akhirnya pengunjung cafe mulai sepi sehingga membuat para karyawan beserta Nayeon dan Seohyun bisa beristirahat sejenak. Nayeon mendudukan dirinya di salah satu meja kosong, Kemudian Seohyun juga duduk dihadapannya yang terlihat begitu lelah. Gadis itu menghela napas beratnya seraya mengusap keningnya yang berkeringant.

“ Aigo, tubuhku terasa lemas sekali, benar-benar melelahkan. Hari ini sangat luar biasa ramainya “ Ujar Nayeon terkekeh yang bersandar dipunggung kursi yang didudukinya. Seohyun mengangguk membenarkan, dia juga menyandarkan tubuhnya yang terasa tidak nyaman. Kemudian Seohyun menggedarkan pandangannya kesegala arah.

” Hyoyeon ahjussi belum pulang?” Nayeon menggeleng kemudian menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.

” Tidak biasanya appa tidak memberitahuku jika pulang larut”

” Mungkin ada hal penting sehingga tidak sempat untuk menghubungimu ” Seohyun berusaha untuk membuat Nayeon tidak khawatir.

” Mungkin saja ” Mereka memutuskan untuk kembali melanjutkaan aktivitas mereka yang terhenti saat masih ada beberapa pengunjung yang datang, ingin menikmati makanan yang tersedia.

” Appa sudah pulang? ” Nayeon dengan segera menghampiri sang ayah yang sudah berada di dalam cafe kemudian dipeluknya pria itu.

” Appa darimana saja? kenapa tidak memberitahuku jika pulang terlambat? Appa membuatku khawatir” Nayeon mengerucutkan bibirnya seraya mengeratkan pelukannya. Sedangkan Seohyun hanya tersenyum melihat kedekatan ayah dan anak itu dari jauh. Ada kecemburuan dihatinya melihat pemandangan didepannya. Ini membuat otaknya memutar memory lama saat dia masih begitu belia. Sungguh, Seohyun begitu merinndukan pelukan hangat dari orang-orang yang telah membawanya ke dunia. Tanpa sadar mata yang cantik itu mulai berkaca-kaca karena ingin menangis untuk meluapkan isi hatinya. Namun, perasaan itu langsung ditepisnya saat Hyoyeon melangkah untuk menghampirinya, seolah tidak terjadi apa-apa. Seohyun benar-benar pandai untuk menyembunyikan perasaannya yang membuat orang-orang sulit menerka.

” Seohyun-ah, lebih baik kau istirahat. Ini sudah malam. Kau sudah bekerja keras hari ini “

” Tidak apa-apa ahjussi, aku senang melakukannya. Apalagi ini sudah mulai sepi, tanggung jika aku beristirahat. Sebentar lagi cafe juga akan tutup ” Hyoyeon hanya tersenyum dengan kegigihan Seohyun,

” Baiklah, tapi jangan dipaksakan. Ahjussi tidak ingin kau sakit. Arraseo?” Seohyun menggangguk dan tersenyum lebar saat Hyoyeon mengusap kepalanya.

” Ahjussi dan Nayeon ke dalam sebentar” Hyoyeon pun melangkah diikuti Nayeon yang mengatakan jika dia pergi sebentar dengan gerakan mulut. Seohyun membalas dengan kata ‘oke’ dan kemudian kembali bekerja. Hampir satu jam, Nayeon dan Hyoyeon kembali dan meminta Seohyun mengikuti mereka untuk duduk di salah satu meja yang kosong. Saat ini hanya ada satu meja yang diisi pengunjung karena hari juga semakin larut.

“ Ahjussi waeyo? “ Saat ini Seohyun duduk berhadapan dengan Hyoyeon, sedangkan Nayeon duduk disampingnya. Seohyun mengerutkan keningnya saat melihat Hyoyeon yang terlihat kebingungan, kemudian dia menatap Nayeon yang hanya tersenyum canggung yang juga tidak berkata apa-apa.

“ Ahjussi, kwencahana?” Ini juga membuat Seohyun bingung.

“ Hmm.. Seohyun-ah?” Hyoyeon bersuara.

“ Dae?”

“ Sebelumnya ahjussi minta maaf jika ini membuatmu tidak nyaman, ini tentang- “ Hyoyeon terhenti seketika. Jujur dia sedikit ragu untuk menanyakan apa yang ada dibenaknya kini. Pria itu takut jika ini membuat Seohyun seperti awal mereka bertemu. “ Kau ingat apa yang aku tanyakan disaat kau sadar setelah tidak sadarkan diri malam itu?” Seohyun mengangguk ragu. Hyoyeon bisa melihat ketidaknyamanan gadis itu dengan pertanyaannya.

“ Me-memang ada apa ahjussi?” Seohyun benar-benar gugup dibuatnya. Apakah Hyoyeon ingin memintanya untuk menceritakan semuanya? Dia berpikir jika Hyoyeon tahu, dia akan merasa malu dengan apa yang telah dilakukannya selama ini.

“ Ahjussi sudah mengetahui semua masalahmu” Seohyun melebarkan matanya, kemudian menatap Nayeon yang kini tertunduk. Tidak berani menatap Seohyun, dia tahu jika Seohyun menatapnya dengan tidak percaya.

“ Jangan berprasangka buruk dahulu pada Nayeon, ahjussi yang memaksanya” Seohyun juga menundukkan kepalanya, merasa malu dan bersalah.

“ Seohyun-ah apa kau tahu bagaimana rasanya menjadi seorang ayah?” Seohyun hanya diam yang terus saja menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Hyoyeon yang berbicara padanya. Tangannya tanpa sadar menggenggam erat nampan yang berada dipangkuannya.

“ Dulu sewaktu Nayeon lahir, itu merupakan hari yang tidak pernah terlupakan untukku. Aku sudah bisa dikatakan menjadi seorang ayah untuk anakku. Aku berasa menjadi seorang laki-laki yang paling bahagia di dunia. Ya, walaupun kenyataannya semua ayah di dunia ini pasti merasa hal yang sama seperti apa yang ku rasakan. Mendengar tangisan Nayeon untuk pertama kalinya yang baru saja keluar dari rahim ibunya membuatku tidak mampu berkata apa-apa. Aku hanya bisa meneteskan air mata melihat bayi kecilku yang terus saja menangis dalam gendonganku. Perasaanku campur aduk saat itu, dalam kebahagiaan yang ku rasakan ada juga rasa takut dihatiku. Aku bertanya apakah aku akan berhasil untuk merawat dan mendidik anakku nantinya, atau aku akan menjadi ayah yang gagal. Namun pikiran negatif itu membuatku terus berusaha untuk menjadi ayah yang terbaik untuk Nayeon. Apapun akan ku korbankan asalkan anakku bahagia dan tidak kekurangan apapun, bahkan nyawa sekalipun “ Hyoyeon menatap sayang kearah Nayeon yang sudah dibanjiri air mata. Dia begitu terharu bagaimana sang ayah begitu mencintainya.

“ Aku yakin setiap ayah di dunia ini pasti juga melakukan apa yang ku lakukan. Setiap orang tua pasti akan melakukan yang terbaik untuk anaknya, Seohyun-ah. Tidak ada orang tua yang ingin menjatuhkan anaknya sendiri. Jika mereka membuat kesalahan mungkin mereka tidak akan memaafkan diri mereka sampai sang anak bisa memaafkannya, bahkan walaupun sudah termaafkan mungkin mereka tidak bisa memaafkan diri mereka sendiri sampai kapanpun, karena itu sebuah penyesalan yang besar bagi mereka. Namun sebaliknya jika sang anak membuat kesalahan, mereka sudah memaafkan sebelum anaknya mengatakan permintaan maaf. Tidak pernah ada dendam dihati mereka walaupun sang anak melukai mereka berkali-kali” Hyoyeon tahu jika Seohyun tidak berani untuk menatapnya.

“ Seohyun-ah” Panggil Hyoyeon.

“ Dae?” Seohyun mengusap pipinya yang sudah dibanjiri air mata sebelum memberanikan diri untuk menatap pria dihadapannya itu.

“ Kau pasti mengerti apa yang ahjussi katakan bukan?”

“ Dae “ Balas Seohyun dengan suaranya yang serak.

“ Ahjussi tidak bisa berbuat apa-apa dengan apa yang sudah kau alami Seohyun-ah, ahjussi hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu “ Seohyun kembali mengangguk, dia dengan seksama mendengar apa yang Hyoyeon katakan padanya.

“ Ahjussi hanya bisa mengingatkan. Jika kau merasa menyakiti orang tuamu, minta maaflah. Ahjussi yakin bahwa mereka sudah memaafkanmu. Namun sebagai anak kita harus tetap mengucapkan maaf kepada mereka. Sebaliknya, jika mereka sudah menyakitimu maafkanlah mereka seperti mereka yang ikhlas memaafkanmu dan jangan pernah membenci atau dendam “

“ Aku ingin sekali meminta maaf, hanya saja aku merasa tidak lagi memiliki muka untuk bertemu mereka. Terutama istri appa-ku “ Suara Seohyun mulai bergetar. Bisa diketahui jika Seohyun mulai menangis, ingin kembali meluapkan perasaannya. Penyesalan itu kembali menggerogoti hatinya. Namun, hatinya sedikit tenang saat sang sahabat mengusap punggungnya dengan lembut.

“ Seohyun-ah “ Hyoyeon kembali bersuara. Seohyun kembali menatap pria didepanya itu dengan air mata yang sudah membasahi pipi putihnya.

“ Bolehkan jika ahjussi bertanya padamu? “ Seohyun mengangguk.

“ Jika ayahmu tahu dimana keberadaanmu dan menemuimu, apa yang akan kau lakukan? “ Seohyun terdiam, dia tidak tahu harus berkata apa untuk menjawab pertanyaan Hyoyeon. Jika itu memang terjadi, haruskah dia berlari untuk memeluknya ataukah lari untuk menjauh? Haruskan dia berkata maaf atau diam tanpa kata? Ini benar-benar membingungkannya. Gadis itu ingin berkata maaf namun hatinya meronta seolah belum siap untuk mengatakan. Bahkan untuk bertemu dengan ayahnya, membuatnya berpikir apakah dia masih memilki muka? Seohyun pun tidak mampu untuk mengukur berapa kesalahan dan penyesalannya yang begitu besar, dia merasa telah menjadi anak yang sangat durhaka dengan perilakunya selama ini dan tidak pantas untuk dimaafkan.

“ Seo- “ Hyoyeon teridiam saat Seohyun dengan tiba-tiba berdiri dari duduknya yang membuat kursi dan lantai keramik itu menimbulkan suara decitan. Hyoyeon dengan keterkejutannya hanya bisa terus melihat Seohyun yang menunduk seraya menggenggam erat nampan yang berada ditangannya. Bisa terlihat dengan jelas telapak tangan Seohyun yang memutih karena begitu erat menggenggam benda tersebut.

“ Mianhaeyo ahjussi “ Seohyun ingin melangkah untuk pergi dari hadapan Hyoyeon dan Nayeon. Namun..

“ Kim Joohyun” Seohyun terdiam, dia begitu mengenali suara itu dan siapa orang-orang yang biasanya memanggil namanya dengan ‘Joohyun’.

“ Suara itu.. “ Batinnya. Seohyun dapat merasakan jika darahnya berdesir sehingga tubuhnya terasa tegang dan jantungnya yang berdetak keras. Perasaannya bercampur aduk, apa yang tidak diinginkannya terjadi. Gadis itu bingung yang membuatnya merasa tertekan, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dengan perasaan yang tidak menentu tanpa sadar membuatnya meneteskan air mata dengan tubuh yang kini sudah bergetar, merasa tidak kuat untuk menompang tubuhnya yang kini lemah. Seolah tulang rangkanya menghilang begitu saja. Seohyun bisa merasakan matanya yang mulai berkunang-kunang, Dia berusaha untuk bisa melihat lebih jelas namun membuat kepalanya terasa berat dan semakin berat. Akhirnya dia menyerah saat kelopak matanya menghalanginya untuk melihat dan..

BRAK!

“ JOOHYUN! “

To Be Continued..

Haai haaai.. gue balik lagi. Gimana?? gue lagi baik kaan huahahaha

mungkin gue ga banyak cuap karena mata gue udah berat banget. Gue hanya mau bilang,  setelah baca jangan lupa tinggalkan komentar ya guys dan jangan lupa di like postingan gue yg ini hehe gue banyak bacot yak XD. entah kenapa gue bahagia banget kalo banyak yang ngelike potingan gue

okee hanya ituu.. gue mau cabut dulu, yang pasti bukan cabut nyawa

DM CHAPTER 22 tunggu ajaa

paipaaaaai #ting #ilang

Advertisements

52 thoughts on “Dear Mom (Chapter 21)

  1. kak kok ada tbcnya? :”3
    terhurahh lanjyuut teyus :v

  2. sungguh terlalu chapter ini menguras emosi dan air mata TT___TT kasian Kim Taeyeon… berat banget hidup mu naaakkkk …

Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s