rara0894

All about TaeTiSeo and GG

Remember Me (Chapter 8)

19 Comments

Title         : Remember Me

Author    : 4riesone

Genre      : Fluff, Romance, Yuri

remember me

Official – Chapter 8

Jessica sedang duduk di tepi tempat tidurnya. Dia baru saja selesai mandi. Tangannya bekerja mengeringkan rambut panjang coklat mudanya dengan sehelai handuk. Sambil melakukan hal itu, buket bunga yang diberikan oleh teman-temannya tadi menarik perhatiannya. Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat ke atas.

Momen tadi bersama dengan semua sahabatnya kembali terulang di kepala Jessica. Malamnya begitu sempurna, tidak hanya karena penampilannya yang mengagumkan, tetapi karena mereka juga. Tanpa mereka, mungkin Jessica akan bersedih akibat ketidakhadiran orang tuanya di acara malam tadi.

Semua sahabatnya begitu perhatian, suportif dan manis. Dan bicara soal manis, Yuri selalu menjadi yang termanis. Bagi Jessica.

Dia meletakkan handuk yang tadi digunakannya dan merebahkan dirinya di ranjang yang empuk.

Walaupun Yuri naif, menyedihkan dan terkadang membuatnya geram tetapi gadis berkulit coklat itu tahu bagaimana bersikap manis, lembut dan penuh perhatian.

Jessica ingat bagaimana dia rela menemaninya berlatih drama, walaupun disertai dengan beberapa gerutu tidak jelas mengenai adegan romantic. Gadis itu penuh dengan kejutan juga. Di samping tindakan-tindakan cerobohnya, Yuri juga mampu melakukan kejutan yang menyentuh hati. Dia seringkali membawakan Jessica makanan begitu saja, hanya karena dia ingin melakukannya. Dia juga suka muncul tiba-tiba di kala bosan dan sedih, mencoba untuk menghibur dirinya. Dan tentu saja, kejutan yang baru saja Yuri lakukan tadi di depan rumahnya.

Pernyataan Yuri yang mengejutkan tadi begitu manis dan lucu bagi Jessica. Sejujurnya dia tidak mengira Yuri akan mengejutkannya seperti itu. Dia sudah cukup bersyukur atas ucapan selamat di sekolah. Tetapi kemudian Yuri repot-repot berlari untuk mengatakan kalau dia menyukai dirinya.

Bagaimana kau bisa semanis itu, Yuri-yah?

Suara tawa Jessica terdengar di sekeliling ruangan.

Seketika itu, Jessica menyadari sesuatu yang aneh pada raut wajah Yuri. Ekspresinya berbeda dari sebelumnya saat berada di sekolah.

Hemm, apa ada yang salah?

Jessica mencoba untuk mengingat kembali dengan lebih jelas kali ini.

”Pertama, dia bilang dia menyukaiku dan kemudian aku memeluknya untuk berterima kasih.” Jessica berbicara pada dirinya sendiri. “Setelah itu…” Jessica berhentia. “Benar, dia tampak berbeda setelahnya!” Jessica berseru dan bangun dari posisi berbaringnya.

Kenapa dia jadi seperti itu?

Jessica mengetuk dagunya beberapa kali, mencoba untuk menganalisis situasi. “Tetapi kemudian dia tertawa dan mengkonfirmasi sendiri kalau dia menyukai penampilanku. Hemm…” Jessica kembali merebahkan dirinya di ranjang.

“Tetapi dia tampak canggung setelahnya, kan?”

Jessica mencoba menggali pikirannya, mengernyit, mata melirik ke kanan dan ke kiri, memikirkan alasan di balik tingkah aneh Yuri.

“Aku hanya berterima kasih padanya karena sudah menyukaiku. Bagaimana itu—“

Tiba-tiba saja Jessica mendapatkan pencerahan di dalam pikirannya.

Itu tidak mungkin.

Jessica menggeleng-gelengkan kepalanya.

Tidak mungkin. Kami sama-sama perempuan.

Jessica memiringkan tubuhnya ke samping kanan.

Tidak. Tidak. Tidak. Itu pasti hanya pikiranku yang mempermainkanku.

Jessica mengangguk, setuju dengan kesimpulan barunya.

Yeah, yeah. Itu bukan apa-apa. Aku terlalu banyak berpikir.

Tidak ingin memikirkannya lebih jauh, dia menarik selimutnya untuk menyelimuti tubuhnya dan menutup mata, mencoba untuk terlelap.

Ayo tidur, Jessica Jung. Kau pantas mendapatkan tidur nyenyak yang panjang setelah hari yang melelahkan ini.

Tetapi walaupun tubuhnya begitu membutuhkan istirahat, pikirannya tidak mau diam dengan mudahnya. Malahan terus terjaga sepanjang malam. Oleh karenanya, si pecinta tidur ini kesulitan untuk terlelap.

Semua karena seorang Kwon Yuri.

***

Buzz.

Buzz.

Buzz.

Buzz.

Yuri dengan malas mencari handphone miliknya di meja samping tempat tidur tanpa repot-repot membuka matanya. Dia baru membuka setenga matanya untuk mencari tahu siapa pengganggu di pagi hari yang tenang itu.

Saat itu sudah waktu liburan dan itu berarti waktu tidur yang lebih panjang. Tetapi pesan tidak juga berhenti muncul dan membuat handphonenya bergetar lagi dan lagi, menganggu tidur nyenyaknya.

Layar menunjukkan kalau sekarang baru pukul setengah delapan.

Kuharap ini hal penting.

Yuri membuka aplikasi chattingnya dan melihat pesan baru yang masuk. Itu berasal dari chat grup.

07.15 Stephanie Young: Selamat pagi semuanya!!

07.15 Stephanie Young: 1

07.17 Stephanie Young: Bangun, bangun

07.17 Stephanie Young: Ini hari yang cerah!

07.17 Stephanie Young: Ayo mulai hari ini dengan hati yang gembira

07.20 Stephanie Young: Hey hey hey

07.20 Stephanie Young: Apa kalian semua masih tidur???

07.20 Stephanie Young: 2

07.21 Stephanie Young: Oh ayolah??

07.21 Stephanie Young: Tidak ada seorangpun??

07.21 Stephanie Young: Yuri?

07.21 Stephanie Young: Yoona?

07.21 Stephanie Young: Sooyoung?

07.21 Stephanie Young: Sica?

07.23 Stephanie Young: Ayolah kawan, bangun

07.23 Stephanie Young: Apa kalian akan membuatku menunggu selamanya hingga kalian semua bangun??

07.23 Stephanie Young: 3

07.23 Jessica Jung: SHUT UP

07.23 Stephanie Young: OMO! Aku tidak bisa percaya ini

07.23 Stephanie Young: Sica yang pertama bangun!!!

07.23 Stephanie Young: Apa ini keajaiban??

07.23 Jessica Jung: YOU’LL BE DEAD HWANG MI YOUNG

07.24 Stephanie Young: Bercanda, Sica. Jangan galak-galak

07.24 Stephanie Young: 4

07.27 Stephanie Young: Sica? Dimana kamu?

07.27 Stephanie Young: Yah, kenapa kau meninggalkanku??

07.27 Stephanie Young: 3

07.28 Choi shikshin: tentu saja dia kembali tidur

07.28 Stephanie Young: Hi Sooyoung-ah!

07.28 Stephanie Young: 5

07.28 Choi shikshin: ada apa ini, Fany-ah?

07.28 Choi shikshin: kami sedang tidur.

07.29 Stephanie Young: Ini sudah pagi

07.29 Stephanie Young: Seharusnya kita bangun

07.29 Stephanie Young: Dan memulai hari kita

07.29 Stephanie Young: Dengan hati yang gembira

07.29 Choi shikshin: apa sih yang kau bicarakan

07.29 Choi shikshin: ini liburan

07.29 Choi shikshin: liburan = bangun siang

07.29 Stephanie Young: Tapi hari ini adalah hari yang cerah

07.29 Choi shikshin: siapa yang peduli

07.29 Stephanie Young: 3

07.30 Choi shikshin: aku akan tidur lagi

07.30 Choi shikshin: bye

07.30 Stephanie Young:3

07.30 Masta Yuri: …

07.30 Stephanie Young: YURI-YAH!!!!

07.30 Stephanie Young: Kau sungguh pahlawanku!!

07.30 Masta Yuri: …

07.30 Stephanie Young: Yuri-yah…

07.30 Stephanie Young: 3

07.31 Masta Yuri: ada apa ini, Fany-ah?

07.31 Masta Yuri: kau bisa bilang pada kami sekarang

07.31 Masta Yuri: aku ingin tidur lagi

07.31 Stephanie Young: Apa maksudmu?

07.31 Masta Yuri: kau ingin memberi tahu kami sesuatu, kan?

07.32 Stephanie Young: 6

07.32 Stephanie Young: Kau mengerti diriku sekali

07.32 yoonglovesfood: apa-apaan ini??

07.32 Stephanie Young: Hi Yoona!

07.32 Masta Yuri: jangan berbelit-belit

07.32 Masta Yuri: cepatlah

07.32 Stephanie Young: Tidak sabaran sekali

07.32 Stephanie Young: 7

07.33 Masta Yuri: MI YOUNG!!

07.33 Stephanie Young: Oke oke

07.33 Stephanie Young: Kalian semua galak sekali

07.34 yoonglovesfood: kau menganggu tidur kami

07.34 yoonglovesfood: bagaimana kami bisa tidak kesal?

07.34 Stephanie Young: Hehe maaf

07.34 Masta Yuri: HWANG MI YOUNG!!

07.34 Stephanie Young: Baiklah baiklah

07.34 Stephanie Young: Ayo makan siang bersama hari ini

07.35 Masta Yuri: itu saja?

07.34 yoonglovesfood: untuk obrolan tidak jelas ini?

07.35 Jessica Jung: YOU’RE REALLY DEAD HWANG MI YOUNG

07.35 Choi shikshin: apa kau bercanda!!

07.35 Stephanie Young: 8

07.35 Stephanie Young: Kenapa kalian jahat sekali?

07.35 Masta Yuri: jadi?

07.35 Masta Yuri: ada yang lain?

07.35 Stephanie Young: Aku ingin memberi tahu kalian sesuatu

07.36 yoonglovesfood: apa?

07.36 Stephanie Young: Sesuatu

07.36 Stephanie Young: 9

07.36 Masta Yuri: baiklah kalau begitu

07.36 Masta Yuri: makan siang untuk mendengar sesuatu

07.36 Masta Yuri: aku akan tidur lagi

07.36 Masta Yuri: bye

Setelah itu, Yuri menutup ruang chat tersebut dan kembali ke dunia mimpi.

***

Tiffany sudah menunggu selama hampir sejam di dalam kafe, menunggu teman-temannya. Tersisa lima belas menit lagi hingga waktu janjian mereka, tetapi Tiffany begitu tidak sabar untuk memberi tahu mereka sebuah kabar gembira, hingga dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk pergi ke kafe tersebut.

Namun perasaan gugup masih tetap menyelimuti dirinya, meskipun dia sudah tidak sabaran seperti itu. Dirinya berkeringat, jantungnya berdegup kencang dan gelisah sepanjang waktu di tempat duduknya.

Suara pesan masuk membantunya berhenti gelisah. Dia mengambil handphonenya dan membaca pesan tersebut. Segera dia pun tersenyum.

Thank you 🙂  Dia mengetik balasannya.

“Fany-ah!”

Tiffany menengadah dan melihat duo shikshin sedang berjalan menuju tempatnya. Dia menyapa mereka berdua dengan eye-smilenya yang terkenal.

“Sooyoung-ah! Yoona-yah!”

“Kau benar-benar bersemangat hari ini, huh?” Yoona bertanya setelah menempati tempat duduknya.

“Humph,” Tiffany mengangguk. “Tentu saja. Ini hari yang baik.”

“Hari ini dingin,” Sooyoung mengkoreksi.

“Hari yang dingin tetap bisa menjadi hari yang baik,” Tiffany menunjukkan merongnya.

“Haish haish, baiklah,” Sooyoung menyerah. “Jadi apa yang ingin kau bicarakan?” tambahnya.

“Yeah, apa itu, Fany-ah? Kami tidak bisa tidur tenang karena suara pesanmu yang berisik.”

“Yah, yah. Aku hanya mencoba membangunkanmu tahu,” Tiffany cemberut.

“Justru itu!!” Mereka berdua berteriak serempak.

Tiffany semakin cemberut.

“Jadi?” Tanya Yoona lagi.

“Aku akan bilang setelah kita semua komplit. Kalian bisa pesan makanan dulu,” ujar Tiffany.

“Baiklah kalau begitu.” Sooyoung dan Yoona pergi ke konter untuk memesan makanan mereka ketika Yuri tiba. Tiffany mengatakan hal yang sama pada Yuri.

“Nah, tinggal Sica saja,” komentar Sooyoung.

“Kemungkinan dia sedang dalam perjalanan kemari,” kata Yuri.

“Itu dia!” Tiffany menyadari seorang gadis berambut coklat sedang membuka pintu kafe. Dia melambaikan tangannya dan berteriak, “Sica! Disini!”

Jessica melihat teman-temannya yang sudah berkumpul di meja pojok, di samping jendela besar.

“Hi Sica,” Tiffany menyunggingkan senyumannya.

“Jangan hi-hi padaku,” jawab Jessica dingin.

“Hiih, dingin sekali,” gumam Tiffany.

“Itu untuk menganggu tidurku,” balas Jessica dengan nada dingin yang tidak berubah.

“Kau selalu seperti tu padaku, tetapi sangat berbeda di depan Yuri,” Tiffany mengeluh tanpa menyadari ekspresi temannya itu.

Kata-kata Tiffany seperti pemicu di dalam pikiran Jessica, mengingat kembali tentang pergumulannya beberapa hari sebelumnya.

Yuri? Apa aku seperti itu?

Wajah Jessica menjadi tegang.

Tidak, tidak. Dia hanya menggodaku.

“Kenapa kau jadi bawa-bawa Yuri?” Jessica akhirnya membalas, dengan suara yang sedikit meninggi.

“Oah, Sica, santai. Kenapa kau jadi marah?” Tiffany terkejut dengan reaksi Jessica yang berlebihan.

“Aku tidak marah.” Gadis itu menggembungkan pipinya dan menghela nafas sebelum menyilangkan lengannya.

“Ckck, Fany-ah. Apa yang sudah kau lakukan?” Yuri akhirnya berbicara.

“Yah, itu bukan hal yang harus diributkan,” protes Tiffany.

“Kau benar-benar tidak tahu apa yang sedang kau lakukan, Fany-ah,” tambah Yoona.

“Yah, yah, yah! Kenapa kalian semua sangat jahat padaku hari ini??? Kenapa???” Tiffany bertanya dalam keputusasaan.

“Because. You. Disturbed. Our.” Jessica, Yuri, Sooyoung dan Yoona bicara bergantian sebelum mereka berteriak, “SLEEP!!” tepat di depan Tiffany.

Tiffany menutup telinganya dari serangan masif tersebut. “Haiissh, tadi itu sudah lewat jam tujuh.”

“Sekarang ini liburan, Fany-ah!!!”

“Aishh, baiklah, baiklah. Maafkan aku. Maaf,” Tiffany akhirnya mengakui kesalahannya. “Aku hanya ingin segera menyapa kalian.”

“Kami tahu kau ini berisik dan penuh semangat, Fany-ah. Tapi tolong beri kami waktu untuk tidur.” Yoona membalas dengan nada memelas.

“Yeah, kami ingin waktu tidur kami,” Sooyoung menyetujui.

“Di samping itu, kau membangunkan macan yang tertidur juga,” Yuri menambahkan sambil memberi isyarat soal gadis yang sedang kesal di sampingnya.

“Oke, oke, aku mengerti. Aku sudah minta maaf, kan? Kenapa kalian masih saja mengungkitnya?”

“Hanya ingin memastikan saja.”

“Yep, supaya kau tidak akan pernah melakukannya lagi.”

“Ya itu dia.”

“Baiklah. Aku tidak akan pernah melakukannya lagi. Puas?”

“Sangat.”

Ketiga gadis bertubuh tinggi itu tersenyum bersamaan sedangkan gadis keempat tidak memberi reaksi sama sekali. Jessica masih sedang tidak dalam mood yang baik.

“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?” Tanya Jessica, masih dengan suara dinginnya.

“Apa kau masih marah?”

“Tidak.”

“Ayolah, Sica. Aku sudah meminta maaf. Maafkan aku??” Tiffany menunjukkan ekspresi anak anjingnya.

“Sudah kubilang aku tidak marah.”

“Maafkan aku, ya?” Tiffany tidak berhenti menunjukkan eksresi anak anjingnya.

“Baiklah, baiklah, kau kumaafkan.”

Tiffany terkekeh padanya.

“Jadi, apa yang ingin kau katakana?” Jessica bertanya lagi, dengan mood yang lebih baik.

Senyuman Tiffany kembali merekah di wajahnya.

Gadis-gadis yang lain menaruh perhatian mereka pada gadis yang tersenyum itu, menunggu jawaban darinya.

Satu…

Dua…

Tiga…

“Aku sudah pacaran.” Dia akhirnya mengumumkan.

“Benarkah?!!!” Sooyoung lah yang pertama bicara.

Tiffany mengangguk malu-malu.

“Bagaimana bisa? Aku tidak pernah melihatmu dengan siapapun,” Yoona bertanya-tanya.

“Siapa orang beruntung ini?” Jessica juga menyuarakan rasa penasarannya.

“Wow, kau luar biasa Fany-ah,” Yuri tidak menanyakan apapun karena dia sudah tahu siapa itu orangnya.

Pipi Tiffany merona merah. “Tunggu disini. Aku akan jelaskan nanti.”

“Hey, hey, Fany-ah, kau mau kemana?” Tanya Sooyoung.

“Kami masih ingin mendengar ceritamu,” tambah Yoona.

“Aku akan kembali lagi. Sebentar saja.” Tiffany tersenyum sebelum berjalan keluar dari kafe.

“Woah, dia benar-benar sulit dipercaya,” Sooyoung memulai percakapan.

“Yeah, bagaimana bisa kita tidak tahu dia sedang dekat dengan seseorang,” Jessica bertanya-tanya.

“Seperti dia sedang berkencan dengan hantu saja,” Yoona menambahkan.

Yuri tertawa mendengar komentar Yoona. “Kau terlalu banyak menonton film horror, Im Yoona. Pertama kau menyangkan Sica itu vampir, sekarang kau bilang Tiffany berpacaran dengan hantu.”

“Tapi bukankah ini mencurigakan?” Yoona membela teorinya.

Yuri hanya bisa tertawa lagi. “Tidak, itu tidak benar. Tiffany tidak berpacaran dengan hantu.”

“Bagaimana kau bisa tahu?” Tanya Jessica.

“Ingat soal misi mata-mataku?”

“Apa kau mendapatkan sesuatu?” Yoona menjadi penasaran.

“Yup. Aku melihat Tiffany sedang membuntuti seseorang.”

“Jadi orang di perpustakaan itu?” Jessica mengkonfirmasi ulang.

“Yup,” angguk Yuri.

“Apa kau tahu siapa pacarnya?”

Yuri tersenyum. “Kita tunggu saja Fany mengatakannya sendiri.”

Tidak lama kemudian, Tiffany sudah berjalan masuk bersama dengan seseorang di sampingnya, saling bergandengan tangan. Senyum tidak pernah lepas dari wajahnya sejak dia memasuki kafe.

“Aku kembali,” Tiffany mengumumkan kehadirannya yang membuat seluruh perhatian tertuju padanya.

“Perkenalkan, Kim Taeyeon, pacarku,” Tiffany berkata dengan bangga, tidak lupa untuk membentuk bulan sabit dengan matanya.

Yoona tersedak oleh minumannya dan segera terbatuk-batuk.

“Jadi kau pacaran dengan…” Sooyoung tidak mengakhiri kalimatnya tetapi terus menunjuk Tiffany dan Taeyeon bergantian.

“Hi semuanya, senang bertemu kalian semua,” Taeyeon tersenyum pada mereka semua, menampakkan lesung pipit miliknya. “Aku Kim Taeyeon, tapi kalian bisa memanggilku Taeyeon saja.”

“Hi Taeyeon. Aku Yuri. Senang akhirnya bisa bertemu langsung denganmu,” Yuri menyambut gadis mungil itu dengan hangat.

“Oh. Jadi kau Yuri. Fany banyak membicarakan tentang kalian,” ujar Taeyeon.

“Benarkah? Tapi aku yakin dia tidak membicarakan kami sebanyak dia membicarakan dirimu. Dia benar-benar tergila-gila padamu,” Yuri menambahkan tawa di akhir kalimatnya.

“Yuri-yah!!” Tiffany memprotes.

Taeyeon membalas dengan tawa kecil. “Kau lucu, Fany-ah.”

Hal itu membuat pipi Tiffany memerah.

Yuri tertawa melihatnya. Ya, hanya Yuri saja, karena yang lain masih memproses apa yang baru saja terjadi.

Jessica berdeham. “Bagaimana isa kau baru memberi tahu kami sekarang, Fany-ah?”

“Aku takut dengan reaksi kalian,” Tiffany sedikit bergetar, tetapi Taeyeon meraih tangannya dan menggenggamnya untuk memberi semangat pada Tiffany. Tiffany melanjutkan setelah merasa lebih baik, “kau tahu, Taeyeon dan aku, hubungan kami tidak umum di Korea.”

“Dan apa bedanya dengan kau memberi tahu kami sekarang?” Jessica bertanya lagi.

“Mungkin reaksi kalian tidak akan jauh berbeda, tetapi berbeda denganku, Sica. Aku sudah siap sekarang karena aku tahu Taeyeon memiliki perasaan yang sama denganku.”

“Aku bahagia untukmu, Fany-ah. Tentu saja ini mengagetkanku, tapi kau berhak untuk bahagia,” ucap Yoona tulus.

“Aku juga, Fany-ah. Jangan lupa untuk mentraktir kami saja,” Sooyoung menambahkan dengan senyuman lebar.

“Shikshin forever,” balas Yuri.

Tiffany dan Taeyeon tertawa bersama.

“Oke, oke, jangan khawatir,” kata Tiffany. “Kalian bisa makan sepuasnya.”

“Benarkah?”

“Iya,” Tiffany menjawab dengan gembira.

Jessica memperhatikan dari tempat duduknya. Jelas sekali Tiffany tampak bahagia, tapi dia belum bisa memahaminya, bagaiman bisa Tiffany berpacaran dengan seorang perempuan?

“Jangan salah sangka denganku, Fany-ah. Aku bahagia untukmu juga. Tapi aku tidak bisa mengerti. Kau dan Taeyeon. Kalian berdua sama-sama perempuan,” Jessica mengutarakan perasannya dengan terus terang.

“Terima kasih, Sica-yah,” Tiffany masih terus tersenyum. “Kami tidak memintamu untuk mengerti, karena kami juga tidak dapat memahaminya. Ini bukan sesuatu yang dapat kamu pikirkan secara logis. Ini adalah sesuatu yang kamu rasakan.”

“Sesuatu yang kamu rasakan…” Jessica mengulanginya dalam gumaman.

“Hanya hatimu bisa merasakannya,” Tiffany menambahkan.

“Bagaimana jika kita berhenti membicarakan masalah ini dan lanjut dengan interogasi pasangan baru kita?” Yuri menyela.

“Ide bagus, Yuri!!” Sooyoung mengiyakan.

“Ya, aku penasaran sekali dengan kalian berdua.” Yoona bicara dengan penuh semangat.

“Apa yang ingin kalian tahu?”

Yoona mengalihkan pandangannya pada Taeyeon dan memandangnya dengan serius sebelum mengutarakan pertanyaannya, “Apa kau ini hantu, Taeyeon?”

***

Sesuatu yang kamu rasakan

Sesuatu yang kamu rasakan

Sesuatu yang kamu rasakan

Apa artinya itu?

Bagaimana bisa perasaan mengalahkan kenormalan?

Pikiran Jessica tidak bisa melepaskan fakta baru mengenai sahabatnya. Tiffany berkencan dengan perempuan. Dan dia tampak sangat bahagia dan bangga dengannya. Dia tidak menyembunyikan apapun. Dia begitu terus terang tentang semuanya. Dan pacarnya pun, tatapannya pada Tiffany penuh dengan kasih sayang. Dia tidak ragu untuk menunjukkan perasaannya pada Tiffany di depan Jessica maupun temannya yang lain.

Jessica tidak bisa mengerti itu.

Tetapi Tiffany bilang, itu bukanlah sesuatu untuk dimengerti, tetapi sesuatu untuk dirasakan.

Jessica tenggelam dalam pikirannya, mencoba memecahkan misteri tersebut hingga membuatnya tidak menyadari kalau Yuri telah memanggilnya berkali-kali. Hanya setalah Yuri menarik tangannya, dia akhirnya kembali ke realita.

“Apa kau marah padaku?”

“Uh?” Jessica menatap Yuri.

“Kau mengabaikanku sejak dari kafe tadi.”

“Ah, tidak. Aku sedang berpikir.”

“Apa yang ada dalam pikiranmu?”

“Emm,” Jessica tidak yakin untuk membicarakannya.

“Apa ini soal Tiffany dan Taeyeon?”

“Emm…”

“Jangan terlalu dipikirkan.”

Mungkin dia benar, aku terlalu memikirkannya. Itu bahkan bukan masalahku, kenapa aku begitu memikirkannya?

Jessica tersenyum, tidak menyadari bagaimana senyumannya berdampak pada Yuri.

Walaupun pengakuannya pada dasarnya itu gagal dan dia hanya dianggap sebagai sahabat belaka, tetapi perasaan Yuri masih tetap sama. Dirinya tidak bisa menyangkal kalau dia ingin terus melihat Jessica bahagia. Dia ingin melihat bentuk favoritnya di wajah putih Jessica. Dan jantungnya masih tetap bereaksi sama terhadap senyuman indah itu.

“Hey aku punya ide bagus.”

“Ehm, apa?”

Yuri tidak menjawabnya malahan dia tersenyum dan meraih tangan Jessica. “Ayo!”

“Yah, Yuri-yah! Kita mau kemana?”

Yuri terus berjalan dan tersenyum, mengabaikan pertanyaan Jessica.

“Yuri-yah!”

“Kau akan segera tahu.”

Jessica tidak bertanya lagi tetapi memacu dirinya untuk menyamai langkah Yuri. Tangannya masih berada dalam genggaman Yuri. Dirinya merasa hangat meskipun sekitarnya bersalju. Dan entah bagaimana, dia merasa aman.

Apa yang terjadi padaku? Aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya.

Jessica tidak yakin apakah ini karena cuaca yang dingin atau karena alasan yang lain.

“Ini dia! Ta da!!” Yuri berhenti di depan tempat tujuan mereka.

Jessica berkedip beberapa kali melihat tempat mereka berada.

“Bukankah ini taman bermain anak-anak??”

“Iya, ayo,” Yuri menarik Jessica ke dalam taman bermain itu.

“Tapi Yuri,” Jessica ragu-ragu.

“Tidak apa-apa. Aku janji ini akan menyenangkan.”

Yuri berhenti di tengah-tengah taman bermain dan melepaskan tangannya.

“Apa yang akan kita lakukan?” Jessica mencoba mengabaikan rasa kecewanya akibat kehilangan kehangatan Yuri.

Sebuah senyuman jahil tampak di wajah Yuri.

“Ini!”

Dan sebuah bola salju terbang melayang di udara dan mendarat tepat di jaket Jessica.

”Yuri!!!” Jessica berteriak setelah menyadari apa yang Yuri rencanakan.

Yuri tertawa sebagai balasannya dan segera berlari untuk menghindari serangan Jessica.

“Aku akan mengenaimu!”

“Coba saja!” Yuri menjulurkan lidahnya.

“Persiapkan dirimu!”

Bola-bola salju beterbangan dari kedua sisi, masing-masing kubu mencoba sebaik mungkin untuk mengenai satu sama lain. Setelah itu mereka berkejar-kejaran, sambil terus berusaha untuk saling menyerang. Suara tawa terngiang-ngiang di udara menciptakan suasana bahagia di taman bermain tersebut, menghangatkan hawa dingin saat itu. Mereka saling terkekah, tertawa, berteriak, menggelitiki dan menyengkeram hingga tubuh mereka tidak dapat menahannya lagi.

“Hahaha, ini sungguh menyenangkan!!” Yuri membaringkan tubuhnya di tanah bersalju.

“Yeah,” Jessica tertaw. “Dan aku menang,” Jessica mengikuti Yuri berbaring di sampingnya.

“Tentu saja kau menang, kau curang.”

“Yah, aku tidak curang.”

“Lalu jelaskan tentang semua kelitikan tadi.”

“Itu strategiku,” Jessica menunjukkan merongnya.

Yuri tertawa. “Terserah kau saja.”

Sebenarnya aku tidak peduli. Bahkan saat aku kalah sekalipun aku sebenarnya sudah menang, karena aku bisa melihat senyumanmu dan mendengar suara tawamu.

“Yuri, yah, lihat malaikatku.”

Yuri melirik ke arah gadis berambut coklat muda itu. Lengan dan kaki Jessica membentang lebar dan bergerak naik turun. Dia sedang membuat sebuah malaikat salju.

Tetapi bagi Yuri, Jessica sendiri lah malaikatnya.

“Yuri-yah?”

Jessica memalingkan wajahnya dan menemukan Yuri sedang menatapnya lekat.

Pandangan itu…

“Yuri-yah…” Suaranya begitu pelan.

So tender. So gentle. So warm. So lovely.

Perlahan Jessica merasakan sesuatu terjadi pada dirinya. Seperti tubuhnya menghangat dengan sendirinya.

Alis mata itu. Mata lembut itu. Hidung yang sempurna itu. Senyuman manis itu. Bibir merah muda itu.

Jessica bisa merasakan sensasi berbunga-bunga di dalam tubuhnya. Seperti seekor kupu-kupu sedang mengepakkan sayap di dalam dirinya dalam cara yang menyenangkan. Membuatnya merasakan kebahagiaan.

Bagaimana mungkin aku tidak pernah menyadari betapa cantiknya dirimu?

“Sica-yah?”

Suara khawatir Yuri menghentikan Jessica dari lamunannya.

“Eh ya?”

Apa yang aku pikirkan?

“Kau melamun.” Yuri sudah bangun dan bergerak mendekat untuk melihat Jessica. “Apa kau baik-baik saja?”

Jessica merasa tubuhnya menjadi semakin panas setiap kali Yuri bergerak mendekat.

Perasaan apa ini yang aku rasakan? Kenapa rasa berbunga-bunga ini tidak hilang juga?

“Sica-yah?”

“Ah ya, ya, apa?”

Jessica menggeleng-gelengkan kepalanya.

Bangun, Sica. Bangun.

“Apa kau yakin kau baik-baik saja?” Yuri mengernyitkan dahi.

“Ya, ya. Aku baik-baik saja,” Jessica menyeringai. “Benar. Jangan khawatir.”

“Baiklah. Kita lebih baik pulang sekarang, udaranya semakin dingin.”

Yuri berdiri dan mengulurkan tangannya pada Jessica.

“Thank you.” Jessica bisa merasakan tangannya mendapatkan kehangatan yang sama seperti sebelumnya, dan kali ini disertai dengan perasaan berbunga-bunga itu.

Yuri membalas dengan senyuman sebelum mereka mulai berjalan berdampingan sepanjang trotoar.

Pikiran Jessica dipenuh dengan banyak hal-hal baru dan asing yang dia alami hari itu. Semuanya itu terus menyeruak dan mendominasi perhatiannya. Dia tenggelam dalam dunianya sendiri, memikirkan semua hal misterius yang terjadi hari itu.

Dia tidak begitu memperhatikan sekelilingnya, termasuk langkahnya. Dia membiarkan kakinya membawa dia pergi sesuai insting, mengikuti Yuri di sisinya.

Dia begitu terserap dalam pikirannya hingga dia gagal mendengar suara teriakan memanggilnya dari belakang. Hanya setelah dia mendengar suara klakson keras berbunyi dari arah kanannya dia pun memalingkan wajahnya untuk melihat sumber suara keras tersebut dan bertemu dengan cahaya menyilaukan bersinar tepat di depan wajahnya.

“Sica!!”

Suara deritan ban terdengar sebelum gedebuk keras terngiang-ngiang di udara.

 

To be continued…

***

A/N: Annyeong semuanya!!

Pertama2, selamat buat pasangan baru kita!!! Yeay!! Happy Taeny Happy Locksmith \^^/ Dan seperti yang dibilang di chapter sebelumnya, ga akan ada banyak cerita Taeny disini krn aku lebih fokusin ke Yulsic di ff ini, tp ya siapa tau mungkin nanti (NANTI YA) aku bakal niat bikin cerita sampingan tentang mereka, tp ga janji ya hehehe (PHP bener nih ya ni author)

Kedua, apa perkiraan kalian untuk yulsic ke depannya???? Ayo tulis komentar kalian di bawah ^^

Terakhir, berhubung besok aku udh mulai sibuk dengan kuliah lagi (T.T) jadi untuk update2 selanjutnya akan lebih lama dari biasanya.

Oke deh kalo gitu, semoga kalian suka chapter kali ini. Annyeong~

PS: stiker yang ada di chapter ini dibuat oleh teman sone kita alias Mewzim 🙂 Kalau kalian pengguna LINE coba cek stikernya, linknya di bawah ini:

  1. PiNKku BuBu: https://store.line.me/stickershop/product/1023936/en
  2. PiNKku BuBu ver.2: https://store.line.me/stickershop/product/1071588/en
Advertisements

Author: 4riesone

SONE. Follow me on Twitter @4riesone for updates and questions

19 thoughts on “Remember Me (Chapter 8)

  1. Taeny jadian juga ternyata.
    Tinggal hubungan Yulsic aja, tp Sica sudah merasakan kupu” terbang. 😀
    Siapa yg tertabrak???
    Chayoo tuk next cepter. 😀

  2. Wah taeny dah jadian aja, gak sia” fany ngejar taeng, sica ngrasain jg kan apa yg fany rasain ada kupu” terbang haha, nah itu siapa yg ktabrak waduh jgn” sica

  3. Akhirrnyaaa, taeyeon muncullll 😆
    Cieeee, taeny yg sudah official 😊 yulsicnya kapan ? Hihihi

    Ughhh, habis romantis kok ngenes gini 😂 dan sica kena tabrak? Mungkin yuri nolong sica hingga yuri yg kena tabrak. Biasa nonton drama sih jdi saya mikirnya gitu hehehe 😂

  4. TaeNy udah jadian🎉🎉🎉🎉🎉
    YulSic kapan menyusul?

  5. Yeaayyy taeny jadian, pasangan pertama dan masih anget2 nyaa. Terbayarkan sudah semua perjuangan fany selama ini jd stalker nya seorang kim taeyeon haha. Chap kali ini setengah taeny setengah yulsic. Pdhl cast utama yulsic, tp gue sukaaa krn setidaknya taeny lebih banyak dr chap sebelumnya wkwkwk
    Yulsic kapan nyusul nihh, sica kelamaan bergelut dgn logika tar yuri keburu ada yg rebut wkwkwk

  6. Taeny udah, yulsic lagi gantung, trus yoona ma soo kpan? Tpi isi chat nya lucu jg, liat semangatnya fany jarang2 da di ff lain fany yg kyak gini.

  7. Wkwkwk taeny dh jdii
    Kapan nih yulsicc
    Wkwkwkw
    Tpi sica dh mulai niii
    Yuhuu

  8. akhirnya kopel kaporit ane udah jadian hehe
    tinggal yulsic nya ajja hehe

    apa yg ketabrak itu yul, trus yul koma, sica nangis karena dia takut yul pergi sementara sica udah ngerasa kalo dia jatuh cinta ama yul ???

    ditunggu next chap thor 😀

  9. Trnyta jess pny feeling jg sma yul ya tp kykx msh gak yakin ya taeny mah pantesx emang jadian hahaha

  10. taeny jadian juga..yeayy chukkae..
    tinggal yulsic nih..sica udah ngerasain yg yuri rasakan..jadian aja gih..
    ehh yg tertbrak siapa tuh..

  11. Andweeeeee!!!!! Jgn blg jessi kecelakaan trs lupa ingatan trs lupa sama yuri trs mereka jauhan. Ini tidak boleeeh terjadi thooooor 😱😱😱😱😱😱😱

  12. Huhuuuu…😢 apakah sica akan kecelakaan ataukah yuri yg menjadi hero???
    kita saksikan trs di remember me chap 9
    #boom

  13. yah yah yah sica kecelakaan kah? duh parah ga yah, apa ini yg buat dia lupa nanti? yaelah baru ja ada progres buat yulsic udah begini aja 😂😂😂
    btw congratz buat taeny👏👏👏

Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s