rara0894

All about TaeTiSeo and GG

Remember Me (Chapter 7)

24 Comments

Title         : Remember Me

Author    : 4riesone

Genre      : Fluff, Romance, Yuri

remember me

I Like You – Chapter 7

 

Yuri dan kawan-kawan menghabiskan sisa liburan mereka dengan menjelajahi pulau Jeju bersama dengan ayah Sooyoung. Mereka mengunjungi berbagai tempat, mulai dari eco-park hingga museum teddy bear. Tidak lupa mereka pun menyempatkan diri pergi ke beberapa restoran untuk mencicipi hidangan tradisional pulau itu. Tentu saja, Sooyoung dan Yoona lah yang paling bahagia dengan wisata kuliner tersebut.

Tidak terasa kini sudah tiba saatnya bagi mereka untuk kembali ke Seoul. Ketika yang lain sedang sibuk berkemas, ada satu orang yang dengan santainya berbaring di sofa di tengah-tengah ruang tamu sambil menatap handphonenya sepanjang waktu.

Yuri adalah orang pertama yang menyadari absennya gadis itu.

“Teman-teman, dimana Tiffany?”

“Aku tidak tahu,” jawab Yoona.

“Aku juga tidak tahu. Dia sudah hilang sejak satu jam yang lalu sepertinya,” tambah Jessica sambil terus mengemasi barang-barangnya.

“Mungkin dia ada di ruang tamu,” terka Sooyoung.

“Aku akan mengeceknya kalau begitu.”

“Oke,” balas ketiga gadis yang lain.

Yuri pun keluar dari kamar dan menuju ruang tamu. Seperti yang dikatakan Sooyoung, Tiffany sedang berada di sana.

Apa yang sedang dia lakukan?

Yuri berjalan mendekati gadis berambut hitam itu. Dia melihat Tiffany tersenyum pada handphonenya dan terkadang terkekeh sendiri.

Apa sekarang dia sudah gila? Tanya Yuri pada dirinya sendiri. Tidak. Tidak. Dia tidak boleh gila. Dia adalah sahabatku? Bagaimana mungkin aku bersahabat dengan orang gila? Yuri menyingkirkan pikiran tersebut dari kepalanya. Tetapi, Yuri pun tetap melanjutkan perdebatan internya. Dia sudah seperti itu beberapa hari belakangan. Bulu kuduk di lehernya mulu berdiri saat dia mulai memikirkan kemungkinan bahwa Tiffany menjadi gila. Atau apakah dia dirasuki oleh semacam hantu telepon genggam? Yuri menggeliatkan tubuhnya dari rasa takut akan hantu. Tidak, tidak. Itu tidak mungkin. Tidak ada hantu disini. Yuri berhenti sejenak dan terpaku pada posisinya. Atau adakah? Matanya melirik ke kanan dan ke kiri dalam gerakan ketakutan, memeriksa ke sekeliling ruangan. Bagaimanapun juga vila ini tidak berpenghuni pada hari-hari lain. Mungkin saja ada arwah-arwah yang datang kemari dan kemudian merasuki Tiffany. Semua bulu di sekujur tubuhnya menegang. Tidaaaaakk!!! Itu tidak mungkin!!!

Dia berlari ke arah Tiffany dan memeluknya.

“Yah, Kwon Yuri!! Apa yang kau lakukan?” Tiffany segera mendorong tubuh Yuri yang membuat gadis yang sedang ketakutan itu terjatuh ke lantai.

“Ada hantu disini!!” seru Yuri ketakutan.

“APPAAAA?” Tiffany berteriak balik pada Yuri yang dengan cepat menutupi telinganya dari dampak suara Tiffany yang super keras.

“Ada hantu disini, Fany-ah,” ulang Yuri.

“Apa yang kau bicarakan, Yuri-ah? Jangan bicara yang aneh-aneh. Tidak ada hantu disini.”

“Ada, Fany-ah,” Yuri bersikeras.

“Kenapa kau begitu yakin? Lagipula ada dimana hantunya?”

Yuri mengarahkan jarinya. Tiffany mengikuti arah jari Yuri yang ternyata jatuh pada dirinya. “Aku??”

Gadis itu mengangguk.

“Yah! Aku bukan hantu!” Tiffany memukul kepala Yuri.

“Ouch,” Yuri mengelus kepalanya. “Bukan kau, Fany-ah. Tapi kau sedang dirasuki.”

“APAA??!!!”

“Haish, jangan keras-keras, oke?” Yuri mengelus-ngelus kedua telinganya.

“Kau yang membuatku berteriak, Kwon Yuri,” balas Tiffany dengan ketus. “Apa maksudmu kalau aku dirasuki oleh hantu?” Tiffany menyilangkan lengannya dan memandangi Yuri.

“Kau suka tersenyum dan tertawa sendiri pada handphonemu itu, Fany-ah. Mungkin hantu ini semacam penggila telpon genggam,” Yuri memberitahukan hipotesisnya.

“Yah! Apa-apaan itu, Yuri-yah??!!”

“Tapi kau tidak gila, kan? Maka satu-satunya penjelasan di balik senyuman dan tawamu itu adalah hantu,” Yuri tetap saja memaksakan idenya.

“Aku tidak dirasuki!!” sanggah Tiffany. “Dan aku juga tidak gila.”

“Lalu kenapa kau tersenyum dan tertawa pada handphonemu?” Yuri mengangkat sebelah alisnya.

“EHH,” Tiffany terkesiap. “Itu…” Wajahnya memerah hebat. Satu-satunya warna yang dapat dilihat di wajahnya adalah merah muda.

“Fany-ah?”

“Ini Taeyeon.” Dia menjawab malu-malu. Dan wajahnya menjadi semakin merah.

“OMO!! Jadi itu adalah si gadis pendek kutu buku!”

“Dia bukan kutu buku!”

“Tapi dia bersarang di perpustakaan.”

“Dia punya alasannya sendiri. Tapi dia bukan seorang kutu buku!” Tiffany bersikukuh.

“Baiklah, baiklah. Dia bukan. Tapi tetapi saja dia pendek.”

“Yah! Jangan hina Taeyeonku.” Tiffany segera menutup mulutnya, menyesali apa yang baru saja dia katakan.

“Taeyeonku?” Yuri menyeringai. “Oww, oww, Fany-ah. Apa yang sebenarnya terjadi di perpustakaan waktu itu? Kau belum memberitahuku,” dia menakkan alisnya berkali-kali dambil menunjukkan ekspresi jahilnya.

“Ma…ma..maksudku.. Taeyeon Kim,” Tiffany membalas gugup.

“Aww, ayolah, Fany-ah. Tidak usah malu-malu. Beri tahu aku apa yang terjadi.” Yuri memandangi Tiffany dengan antusiasme yang terpancar jelas di matanya.

“Aku mengenalkan diriku padanya.”

“Lalu?”

“Aku memberinya nomor handphoneku.”

Yuri tertawa mendengarnya. “Ya ampun, Fany-ah. Kau luar biasa. Kau memberi nomor handphonemu pada seseorang yang baru saja mengenalmu? Kau benar-benar sulit dipercaya.” Gadis itu bertepuk tangan. “Dan apa reaksinya? Apa kau membuatnya takut?”

Tiffany menggeleng. “Aku tidak tahu. Aku langsung melarikan diri setelah memberinya nomor handphoneku.” Wajah Tiffany memerah saat dia mengingat kembali kejadian tersebut.

“Aku tidak pernah membayangkan kau begitu penakut seperti itu, Fany-ah.”

“Aku sangat gugup, tahu.”

“Tetap saja,” Yuri menggeleng. “Itu kegagalan yang hebat.”

“Yeah, aku tahu,” Tiffany cemberut.

“Lalu, apa yang terjadi selanjutnya? Apa dia mengirim pesan atau menelponmu?”

“Dia mengirim pesan padaku,” cemberut Tiffany pun hilang dan digantikan oleh seulas senyuman tipis.

“Woah, it’s a miracle you didn’t freak her out.”

“Aku bukan seorang freak,” protes Tiffany.

“Yeah, yeah,” Yuri mengibaskan tangannya ringan. “Lalu?”

“Kami mulai mengenal satu sama lain dengan lebih baik,” ucap Tiffany seperti dalam mimpi. Senyuman kini telah sepenuhnya menghiasi wajah gadis itu. “Dan kau tahu, Yuri-yah. Dia benar-benar lucu!” ujarnya penuh semangat.

“Benarkah?”

“Iya, dia suka membuat lelucon.”

“Beri tahu aku satu.”

“Tunggu.” Tiffany membuka ruang chatnya. “Ini dia. Siap??”

Yuri mengangguk.

“Tebak. What do you call a deer with no eye?”

“Hmm…” Yuri berpikir sejenak sebelum menjawab, “Aku tidak tahu.” Yuri menggeleng.

“NO IDEAR!!!” Tiffany menjawab penuh semangat sambil bertepuk tangan dan menertawakan lelucon yang baru saja dia utarakan seperti itu adalah hal paling lucu di dunia.

“Huh?”

Apanya yang lucu?

“Ada lagi. Ada lagi. Coba tebak. What do you call a pig that doeas karate?” Tanya Tiffany lagi.

“Karate pig?”

“Ding dong. Salah. Jawabannya PORK CHOP!!” Tiffany tertawa. “Pork chop, Yuri-yah. Apa kau bisa bayangkan itu??” gadis itu menggoyang-goyangkan tubuh Yuri. “Pork chop!!!” Dia tertawa lagi.

Oh ya ampun. Apa yang terjadi pada Fany?

“Satu lagi. Satu lagi.” Tiffany mengusap matanya yang berair. Dia menangis akibat terlalu banyak tertawa. “How does a train eat?”

“Kereta api tidak bisa makan, Fany-ah,” balas Yuri.

“Ding dong. Jawabannya adalah it goes chew chew, Yuri-yah!” Tiffany menjadi semakin bersemangat. “It goes chew chew. Chew chew.” Dia menirukan suara chew chew kereta sebelum tertawa sendiri dan bertepuk tangan ramai.

Kau benar-benar aneh. Itu sama sekali tidak lucu. Yuri hanya bisa menggeleng pelan sambil memandangi temannya itu.

“Bukankah dia begitu lucu?” Gadis berambut hitam itu akhirnya bertanya setelah berhenti tertawa.

“Haha, ya, dia lucu.” Yuri tertawa kering, tidak ingin mengecewakan temannya.

“Dan bagian terbaiknya adalah…” mata Tiffany bersinar saat dia menatap Yuri.

“Dia adalah teman dormku!!”

“Benarkah?” Yuri bertanya balik kaget.

Tiffany mengangguk penuh semangat. “Dan ternyata kamarnya ada di samping kamarku.” Tiffany tertawa. “Gadis misterius yang pernah aku ceritakan padamu ternyata adalah Kim Taeyeon.”

“Omo. Itu benar-benar kebetulan yang bagus.”

“Aku lebih suka menyebutnya takdir,” dia tersenyum lebar.

Yuri pun tersenyum yang sama lebarnya. “Kau menyukainya, yak an?”

Pipi Tiffany merona kembali. “Kau bisa bilang begitu.”

“Omo, Fany-ah. Ini benar-benar hebat!!” Yuri tersenyum semakin lebar mendengar berita baik tersebut.

“Ngomong-ngomong, aku sangat berterima kasih padamu, Yuri-yah.”

“Huh? Kenapa?”

“Walaupun idemu waktu itu benar-benar gila tetapi aku berterima kasih karena kau sudah mendorongku untuk melakukan sesuatu. Karena itu akhirnya aku bisa menjadi dekat dengannya. Aku tidak tahu berapa lama aku akan tetap membuntutinya jika kau tidak memaksakan ide gilamu itu padaku. Sekali lagi, terima kasih, Yuri-yah.” Tiffany berkata dengan tulus.

“Aku senang jika kau merasa seperti itu,” Yuri membalas, disertai dengan senyuman.

“Jadi sekarang adalah waktuku untuk mendorongmu, Yuri-yah.”

“Mendorongku untuk apa?”

“Melakukan sesuatu pada Sica.”

“A…a…apa maksudmu?” Yuri tergagap, tidak menyangka Tiffany akan berkata seperti itu.

“Aww ayolah, Yuri-yah. Aku tahu itu. Kau itu sudah jatuh hati dari ujung kepala hingga ujung kaki padanya.” Tiffany menyenggol Yuri dengan sikunya.

“A..aku tidak seperti itu.”

Tiffany tertawa. “Iya, Yuri-yah. Aku bisa melihatnya.”

Benarkah?

“Kau pasti keliru, Fany-ah.”

“Kenapa kau begitu malu-malu, Yuri-yah? Kau tahu, tidak apa-apa jika kau menyukai Sica. Lagipula dia masih single.”

“Tapi aku tidak…”

“Berhenti mengingkari perasaanmu sendiri, Yuri-yah. Dengar,” Tiffany menaruh tangannya pada pundak Yuri dan menatap gadis berambut coklat itu. “Kita berada di perahu yang sama. Aku sudah memberitahumu tentang masalahku, sekarang adalah giliranmu. Kau bisa berbagi apapun denganku.”

“Tapi, Fany-ah, aku juga tidak yakin dengan perasaanku sendiri,” Yuri memandang ke bawah. “Bagaimana kau bisa yakin tentang perasaanmu pada Taeyeon?”

“Hmm. It’s like a gut feeling. Aku tahu saja kalau dialah orangnya.”

“Walaupun dia seorang perempuan?”

Tiffany mengangguk. “Itu tidak terlalu penting bagiku. Yang membuatku tertarik padanya bukanlah jenis kelaminnya, tetapi dia sebagai seorang yang utuh.”

“Hmm,” Yuri berpikir sejenak.

“Mungkin itu terdengar aneh, tetapi aku yakin kau mengerti.”

“Sepertinya aku mengerti,” jawab Yuri.

“Lalu apa lagi yang membuatmu tidak yakin tentang perasaanmu?”

“Aku tidak tahu perasaan apa yang aku miliki ini. Apakah ini hanya sekedar kekaguman? Ataukah perasaan sayang pada seorang sahabat? Ataukah ini rasa suka?”

“Jika itu masalahnya, apa kau ingat apa yang aku katakana padamu di perpustakaan terakhir kali?”

“Tentang butterfly thingy itu?”

“Yup.”

“Iya, kenapa?”

“Apa kau merasakannya ketika Sica di dekatmu?”

“Errrmm,” wajah Yuri menjadi memanas sambil dia mengingat kembali tentang kejadian kemarin. Dia masih bisa mengingat dengan jelas apa yang dia rasakan saat itu, perasaan berbunga-bunga yang memenuhi tubuhnya, memberikan sensasi hangat di dalam.

“Kenapa pipimu memerah?” Tiffany bertanya bingung. “Ah,” dia menjetikkan jarinya. “Kau merasakannya, kan? Kau tahu bagaimana rasanya, kan?”

“A…aku…”

“Aww ayolah, Yuri-yah. Akui saja.”

“A…aku…Ah…Ya…Aku merasakannya, Fany-ah.” Akhirnya.

“Kalau begitu coba bayangkan kalau kejadian itu terjadi padamu dan aku, bukan Sica. Apa kau akan masih merasakan perasaan itu?”

Yuri mulai membayangkannya, tetapi tiba-tiba saja berhenti. “Ewww, tidak. Itu aneh. Tidak. Tidak. Tidak. Tentu saja tidak akan terjadi.”

“Yah!! Kau tidak perlu terlalu jujur seperti itu. Aku tidak aneh,” protes Tiffany.

Yuri menyeringai. “Tapi itu membuatku geli. Aku bahkan tidak bisa membayangkan melakukannya denganmu.”

“Hah! Apa yang sebenarnya kau bayangkan, Kwon Yuri???!!! Apa kau membayangkan hal-hal aneh?”

Yuri menjulurkan lidahnya. “Iya.”

Tiffany memegap. “Apa yang sebenarnya terjadi padamu dan Sica?”

“Itu rahasia kami.”

“Baiklah. Baiklah. Simpan detailnya untuk dirimu sendiri. Aku tidak mau mendengarnya.” Tiffany menyilangkan lengannya.

Yuri tertawa melihat reaksi temannya.

“Heh, kenapa kau tertawa?”

“Aku hanya bercanda, Fany-ah. Aku hanya membayangkan naik sepeda berdampingan.”

“Yang benar?”

Yuri tertawa sambil memberi anggukan.

“Lalu kenapa aku membuatmu geli?” Tiffany mengernyitkan dahi.

“Itu karena kau bahkan tidak bisa naik sepeda, Fany-ah. Akan jadi aneh untuk membayangkannya,” Yuri kembali menjulurkan lidahnya.

“Yah!!!” Tiffany menjitak kepala Yuri keras kali ini.

Yuri mengeluarkan suara ‘ouch’. “Jika seperti ini kau akan mencederai otakku, Fany-ah. Tidak aneh aku tidak begitu pintar di sekolah. Aku punya seorang sahabat yang penuh kekerasan,” Yuri menggerutu.

“Serve you right,” Tiffany mengeluarkan merongnya. “Ngomong-ngomong,” Tiffany membetulkan posisinya dan kembali ke mode serius. “Apa kau masih meragukan perasaanmu sekarang?”

Yuri menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Tidak, kau benar Fany-ah. Aku menyukainya.”

“Tentu saja aku benar. Kau tidak perlu seorang jenius untuk mengetahui betapa kau menyukai Sica, Yuri-yah.” Tiffany bicara dengan bangga.

“Apa aku begitu mudah ditebak?”

“Sangat transparan, Yuri-yah.” Tiffany tertawa.

Tetapi kemudian seseorang memanggil nama mereka dan mereka pun terpaksa menghentikan perbincangan mereka. “Yuri-yah, Fany-ah.”

“Ya, Ahjussi?”

“Apa kalian bisa membawa tasmu ke mobil? Kita akan segera berangkat.”

“Baik, Ahjussi.” Fany menjawab dan menunggu ayah Sooyoung meninggalkan mereka sebelum menyenggol Yuri di pinggangnya. “Pikirkan baik-baik tentang apa yang aku katakan,” bisiknya pada gadis yang lebih tinggi.

“Ayo kita jalan, jangan sampai Ahjussi menunggu.”

Mereka berdua pun berjalan menuju kamar tidur dan mengambil tas mereka, bersiap meninggalkan pulau indah itu, sembari Yuri terus memikirkan tentang satu fakta baru yang aru saja dia ketahui.

Kwon Yuri menyukai Jessica Jung.

***

Sudah satu bulan berlalu sejak liburan mereka, tetapi belum ada perkembangan pada hubunga Yuri dan Jessica. Tiffany tidak bisa tahan untuk tidak gemas pada kedua temannya itu, terutama pada gadis yang lebih tinggi. Tiffany akhirnya mengkonfrontasi temannya itu lagi mengenai perasaannya.

“Apa kau sudah melakukan sesuatu pada Sica, Yuri-yah?” Tiffany bertanya tanpa basa-basi.

“Hmm??

“Tentang perasaanmu, Yuri-yah!” Tiffany berseru tidak sabar.

“Oh. Belum, Fany-ah.”

“Kenapa? Kau tidak menyukainya lagi?”

“Bukan seperti itu. Aku menyukainya. Sangat menyukainya.”

“Lalu apa lagi yang kau tunggu, Yuri-yah?”

“Aku…Aku takut, Fany-ah.”

“Takut apa?”

“Bagaimana jika dia menolakku?”

“Ya ampun, Yuri-yah. Tidak ada yang tahu soal itu. Itulah sebabnya kau harus mencari tahunya sendiri.”

“Tapi…”

“Tidak ada tapi lagi, Yuri-yah. Kenapa sekarang kau jadi penakut seperti ini? Kau bilang sendiri padaku untuk jadi pemberani.” Tiffany menyela.

“Aku tidak tahu perasaannya padaku.”

“Begitupun aku soal Taeyeon. Tindakanku bisa membuatnya menjauhiku seumur hidup, kau tahu.”

“Tapi kau….Arrrggghhhh,” Yuri mengacak-acak rambutnya frustasi.

“Kau tidak akan pernah tahu hingga kau mencobanya, Yuri-yah.”

“Kau belum berteman dengannya saat itu, Fany-ah. Tetapi pertemananku dengan Sica menjadi taruhannya. Bagaimana jika dia tidak punya perasaan yang sama denganku? Dan itu membuatnya takut dan dia tidak mau lagi berteman denganku? Pertemananku berada di ujung tanduk, Fany-ah.”

“Itu…” Tiffany tidak tahu harus berkata apa. Yuri memang benar. Yuri dan Tiffany memiliki hal berbeda yang mereka pertaruhkan. Baginya adalah harga dirinya sedangkan bagi Yuri adalah pertemanannya. Tidak akan ada terlalu banyak masalah jika Tiffany ditolak waktu itu tetapi berbeda dengan Yuri. Paling buruknya, dia bisa kehilangan pertemanannya dengan Jessica untuk selamanya dan itu juga berarti akan membuat situasi menjadi canggung di antara mereka berlima.

“Lihat kan? Kau juga tidak yakin,” balas Yuri.

“Kau tidak bisa menyerah begitu saja sebelum bertarung, Yuri-yah.”

“Aku tidak tahu, Fany-ah. Aku tidak tahu,” jawab Yuri lelah, tidak ingin mendiskusikan hal ini lebih jauh.

Tiffany hanya bisa menghela nafas dan berharap Yuri akan segera menemukan keberaniannya.

***

Harapan Tiffany tidak juga terpenuhi bahkan hingga semester telah berakhir. Yuri terlalu takut untuk memberitahukan perasaannya. Sebaliknya, dia tetap memainkan perannya sebagai seorang sahabat yang baik. Semuanya berjalan dengan baik. Jessica tidak mencurigai apapun tentang Yuri dan terus semakin dekat dengannya.

Hari ini adalah hari drama SMA Seoul. Pada event kali ini akan ada beberapa pertunjukan drama, salah satunya adalah drama Jessica. Semua temannya sudah membooking kursi bagian depan untuk menonton penampilan Jessica dengan posisi yang strategis dan mendukung teman baik mereka secara maksimal. Tapi itu sepertinya menjadi suatu siksaan bagi Yuri. Terutama pada bagian pernyataan cinta.

Sukjin sedang berdiri di depan Jessica sambil menatapnya dengan pandangan penuh cinta.

“Aku tidak pernah berpikir aku bisa mencintai seseorang sebesar aku mencintai dirimu. Kita memulai semuanya sebagai teman, tetapi selama beberapa bulan terakhir aku sudah benar-benar jatuh cinta padamu.”

Hah? Really? Kau pasti bercanda, boy.

“Kau bukanlah tipe yang mengakui apa yang kamu rasakan begitu saja tetapi aku tahu di dalam hatimu kamu memiliki perasaan untukku juga karena aku tahu kamu tidak akan menghabiskan waktumu untuk sesuatu yang sia-sia. Aku tahu kau peduli.”

Cih, tentu saja kau membuang-buang waktunya, kau tahu.

“Kamu adalah satu-satunya orang yang bisa membuatku tersenyum sebahagia ini. Dan aku menginginkan hal yang sama. Aku ingin menjadi alasan di balik senyuman indahmu.”

Hahahaha. Kau terlalu banyak bermimpi, boy.

 “Aku berjanji selama jantungku masih berdetak, aku akan melindungimu, aku akan selalu membuatmu bahagia. Karena aku mencintaimu.”

Puik, Yuri merasa dirinya dapat muntah kapan saja mendengar kata-kata itu diutarakan dari bibir Sukjin

Kemudian, Sukjin berlutut dengan lengan kanannya terulur pada gadis di hadapannya, senyuman lebar terulas di wajahnya.

“Apa kau mau menjadi pacarku?”

TIDAK AKAN PERNAH!! Yuri menjulurkan lidah pada cowok itu dalam pikirannya.

Dan Jessica membalas dengan senyuman yang sama lebarnya.

 “Ya, aku mau.”

Yuri tahu itu semua hanyalah acting belak, tetapi perasaannya tidak mau setuju dengan itu. Tubuhnya mulai merasakan perasaan-perasaan yang tidak nyaman. Tidak. Tidak. Tidak. Itu hanya drama, Kwon Yuri. Itu tidak nyata. Jangan panik. Dia mengingatkan dirinya sendiri.

Yuri mencoba sekuat tenaga untuk menenangkan dirinya saat dia melihat Jessica dan Sukjin saling berpelukan. Tetapi dia tidak dapat menahannya lebih lama, perasaan tidak nyaman itu semakin menguat. Rasanya seperti mendapati perutnya dipelintir 180 derajat, bersamaan dengan dadanya yang terasa sangat sesak. Dia memalingkan wajahnya dan menatap ke bawah, tidak ingin menyaksikan pemandangan yang menyakitkan itu lebih lama lagi.

Ada apa denganmu, Kwon Yuri? Itu hanya akting. Yuri memarahi dirinya sendiri. Tetap saja, itu menyakitkan. Pikirannya menyela. Tapi itu tidak nyata. Itu hanya akting, Kwon Yuri. Yuri berkata kembali pada pikirannya. Tetap saja itu sangat menyakitkan, ya kan? Pikirannya menjawab lagi.

Iya. Rasanya menyakitkan bagi Yuri melihat Jessica berada di pelukan orang lain. Dia tidak menyukai itu. Dia ingin Jessica berada di pelukannya, dengan aman dalam dekapannya. Bukan dekapan orang lain.

Itu terdengar salah karena dia hanyalah sahabat Jessica. Tidak lebih. Tidak kurang.

Tetapi hati tidak bisa berdusta.

Perasaannya pada gadis berambut coklat muda itu memang benar adanya.

Kwon Yuri menyukai Jessica Jung.

***

Drama yang dimainkannya berakhir sukses. Para pemain tampil dengan sangat baik meskipun mereka hanya siswa SMA yang masih amatir. Dan para penonton pun menunjukkan reaksi yang memuaskan. Mereka mendapatkan sorakan keras dan teput tangan di akhir pertunjukan. Hal itu sudah cukup bagi semua aktor, aktris dan kru lainnya. Kerja keras mereka sudah terbayarkan. Mereka seua bahagia meskipun kelelahan, termasuk pemeran wanita utama, Jessica.

Jessica sudah bekerja keras untuk pertunjukkan hari ini. Menghapalkan naskah, menaturalkan mimiknya, memperbaiki gerakan tubuhnya, dan berlatih di setiap saat yang dia miliki. Sudah sejak lama Jessica memiliki ketertarikan pada dunia drama, dan pertunjukkan drama kali ini merupakan langkah baru baginya untuk menguji kemamuanya di dunia akting.

Dia sangat senang ketika dia terpilih untuk memerankan pemeran utama wanita. Terlebih lagi, teman-temannya mendukung dia sepenuhnya pada drama ini. Mereka selalu ada di sisinya untuk memastikan Jessica bisa melalui semua masa-masa sulit selama persiapan drama tersebut. Terutama Yuri.

Walaupun awalnya Yuri menunjukkan sikap tidak mendukungnya terhadap Jessica drama karena keterlibatan Sukjin, dia sudah mengubah sikapnya setelah perbincangan singkat mereka di perpustaaan. Yuri adalah pendukung Jessica nomor satu. Dia akan selalu ada di waktu Jessica membutuhkan, mendukungnya tanpa syarat, tanpa mengeluh dan bukan untuk alasan egois ataupun untuk menyenangkan dirinya sendiri, tetapi karena Jessica adalah yang terpenting di hati dan pikirannya.

Jessica sangat bersyukur akan setiap dukungan yang dia dapatkan hingga hari ini. Karenanya, dia bisa tampil tanpa cacat dan membuat kagum banyak penonton. Walaupun ada satu hal yang kurang. Orang tuanya.

Mereka sedang berada jauh di seberang samudra, bekerja untuk proyek penting mereka. Ayah Jessica adalah seorang arsitek, sedangkan ibunya adalah seorang desainer interior, sehingga mereka biasanya akan bekerja bersama. Dan sedihnya, mereka tidak bisa datang ke pertunjukkan kali ini. Hal itu tentu saja membuat sedih, tapi lagi-lagi, Jessica memiliki teman-temannya yang tidak pernah gagal untuk menghiburnya.

“Voila!” Yuri memberikan sebuket bunga mawar pada Jessica setelah gadis itu keluar dari ruang backstage.

“Omo, Yuri-yah,” Jessica tersentak bahagia melihat bunga-bunga indah di hadapannya. “Terima kasih banyak,” ucapnya sambil mengambil bunga tersebut dan tersenyum lebar, tidak mampu menyembunyikan rasa syukurnya.

“Sama-sama, Sica-yah. Bunga itu dari kami berlima, untuk aktris tercinta kami.” Yuri menyeringai.

Jessica tertawa mendengar sebutan yang diucapkan Yuri. “Terima kasih teman-teman. Kau tidak tahu betapa bahagianya aku saat ini.” Dia menatap temannya satu persatu, masih dengan senyumnya yang tidak bisa berhenti.

“Kami sangat bangga padamu, Sica-yah. Kau benar-benar luar biasa.” Tiffany menghampiri Jessica dan memeluknya erat. “Aku tahu kau bisa melakukannya.”

“Ini semua berkat kalian. Tanpa dukungan kalian aku tidak akan mampu.”

“Kami senang mendengarnya, Sica-yah,” Yoona menjawab.

“Iya. Dan jangan lupakan kerja kerasmu sendiri,” Sooyoung menambahkan.

“Oh kalian,” Jessica tersenyum lagi ketika setetes air mata mulai jatuh dari pelupuk matanya. “Terima kasih sekali lagi. Aku cinta kalian semua.” Dia memeluk keempat temannya itu sembari air mata berjatuhan, mulai membasahi pipinya.

“Jangan menangis, Sica-yah,” ucap Yuri sambil mengusap lembut punggung Jessica.

“Aku sangat bahagia, Yuri-yah. Aku benar-benar bahagia.” Jessica melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya dengan tangannya. “Sorry for being crybaby.”

“Tidak apa-apa, Sica-yah. Itu tangisan bahagiamu,” hibur Tiffany.

“Terima kasih, Fany-ah.” Jessica tersenyum lagi untuk kesekian kalinya hari itu. Tetapi kemudian senyuman itu perlah menghilang dari wajahnya saat dia melihat Sukjin dengan orang tuanya, tertawa bersama dengan raut kebahagiaan yang jelas terlihat di wajah mereka.

“Ada apa, Sica-yah?” Yuri adalah yang pertama kali menyadari hal itu.

“Aku sangat berharap kedua orang tuaku bisa melihat pertunjukanku.” Terlihat secercah kesedihan di balik wajah rupawan Jessica.

“Ooh…” Yuri tidak tahu harus membalas apa. Mulutnya membukan dan menutup beberapa kali, memikirkan apa ayang harus dia katakan untuk menghibur Jessica, tetapi tidak ada apapun yang keluar dari mulutnya. Malahan, dia memeluk Jessica pada akhirnya.

“Yuri-yah…” Jessica terkejut dengan aksi Yuri.

“Maafkan aku, Sica-yah.”

“Ke…kenapa kamu minta maaf padaku, Yuri-yah. Kau tidak melakukan kesalahan apapun,” ujar Jessica kebingungan.

“Aku minta maaf karena aku tidak bisa menenangkanmu. Aku memikirkan tentang apa yang harus kukatakan untuk bisa menghiburmu. Tetapi aku tidak menemukan apapun yang tepat untuk kukatakan. Aku tidak tahu kata-kata apa yang cukup mampu menghapus rasa sedihmu,” Yuri berbisik pada Jessica, masih dalam posisi berpelukan.

“Aku tidak yakin apakah ini cukup bagimu. Tapi ketahuilah ini, aku, Kwon Yuri, dan juga trio di belakang, akan selalu ada di sampingmu. Kami akan selalu mendukungmu kapanpun kau membutuhkan kami.” Yuri melepaskan pelukannya dan memegang bahu Jessica sambil menatap ke bola mata coklatnya. Dia melanjutkan, “Aku turut bersedih karena orang tuamu tidak bisa hadir disini menyaksikan pertunjukanmu yang hebat tadi. Tetapi aku percaya mereka selalu mendukungmu dimanapun mereka berada saat ini. Dan aku yakin mereka sangat bangga padamu, Sica-yah. Kau adalah putri yang luar biasa.”

Jessica tidak mampu berkata apa-apa mendengar ucapan Yuri. Bukannya membalas sesuatu, Jessica malah menangis kembali, kali ini dalam pelukan Yuri.

“Sica-yah,” Yuri memanggil pelan sambil melingkarkan lengannya di sekitar gadis yang lebih pendek dengan malu-malu.

“Terima kasih, Yuri-yah. Terima kasih banyak,” Jessica bergumam di antara isak tangisnya.

Yuri tidak mengira Jessica akan memeluknya lagi, apalagi seerat ini. Jantungnya berdebar begitu kencang dan tubuhnya terasa sangat panas. Pipinya sudah berubah warna menjadi merah muda akibat banyaknya aliran darah menuju kesana. Dia tidak bisa menyangkal bahwa dia menikmati perasaan memiliki Jessica dalam dekapannya.

Jika melihat senyuman Jessica terasa seperti memandang senyuman seorang bidadari, maka memeluk Jessica terasa seperti berada di surga itu sendiri.

Itu adalah momen yang begitu membahagiakan bagi Yuri. Rasa gembira yang dia rasakan saat ini begitu besar melebihi apapun yang pernah dia rasakan di seumur hidupnya. Rasanya begitu sempurna, seperti Jessica memang ditakdirkan untuknya. Terlebih lagi, merasakan Jessica aman dalam pelukannya membayar sudah semua rasa kesal yang dia rasakan tadi saat melihat drama yang dimainkan Jessica.

Tetapi perasaan ajaib itu segera terganggu oleh suara godaan dari sahabat-sahabat mereka.

Mereka bersiul, bersorak-sorai dan tertawa tiada henti, menyaksikan kedua sahabat mereka berpelukan setelah drama kecil yang terjadi seperti yang ada di film-film romantic.

“Pheewittttt. Lovebirds.”

“The ship is sailing.”

“Love is in the air.”

Mereka tertawa terbahak-bahak, puas dengan godaan mereka.

“Yah, hentikan!!” Yuri memprotes sambil dia melonggarkan pelukannya.

“Tidak bisa. Kalian berdua terlalu lucu,” Sooyoung menjawab di antara gelak tawanya. Dia memegangi perutnya akibat tertawa terlalu banyak.

“Yeah,” Yoona mencoba untuk bicara. “Seperti menonton drama sekali lagi.”

“Benar. Kalian seharusnya bermain lagi di panggung. Tadi itu sangat bagus.” Tiffany menambahkan sambil menahan tawanya.

“Yah!!” Kali ini, Jessica lah yang memprotes. “Kalian jahat sekali.”

“Yeah, jahat sekali.” Yuri menimpali sebelum cemberut bersama dengan Jessica.

“Lihat kedua sejoli ini cemberut,” Yoona menunjuk kedua temannya.

“Omo, kalian lucu sekali,” Sooyoung bicara dengan nada sok imutnya sambil memainkan kedua jarinya di depan wajah.

“Ini cocok untuk foto drama mereka,” saran Tiffany.

“Ide bagus, Fany-ah,” respon Sooyoung sebelum ketiga sekawan itu tertawa lagi.

“Aku benci kalian semua,” gumam Yuri.

“Yeah, aku juga benci kalian semua,” Jessica mengiyakan.

Ketiga gadis itu mendengarnya dan saling bertatapan sebelum sama-sama menunjukkan senyuman lebar di wajah mereka. Mereka semua menghampiri kedua temannya dan membawa mereka ke dalam sebuah pelukan besar.

“Kami cinta kalian juga!!”

***

Mereka semua pulang menuju ke rumah mereka masing-masing. Untungya, ayah Sooyoung begitu baik dan menawarkan tumpangan, di samping saat itu sudah larut malam dan berbahaya untuk gadis-gadis muda pulang sendirian. Perhentian pertama adalah rumah Jessica. Setelah mengucapkan selamat tinggal dan terima kasih, Jessica turun dari mobil dan berjalan menuju rumahnya.

Melihat punggung Jessica dari dalam mobil, Yuri tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Dia sudah memikirkan tentang perasaannya sepanjang perjalanan menuju rumah Jessica. Dia akhirnya memutuskan untuk bertindak. Sekarang atau tidak sama sekali.

“Ahjussi, apa bisa menunggu sebentar?”

“Oh, ada apa Yuri-yah?”

“Aku lupa memberi tahu sesuatu pada Sica.”

“Oh begitu? Baiklah,” pria kebapakan itu berkata sambil tersenyum.

Yuri membuka pintu mobil dan segera berlari menuju gadis berambut coklat muda yang sudah berdiri di depan pintu depan rumahnya.

“Sica!” panggilnya.

Jessica memutar badannya dan mendapati Yuri sudah berdiri di hadapannya. “Oh, Yuri-yah, ada apa?” Jessica menyunggingkan seulas senyuman padanya.

“Ah…” Yuri mulai berkeringat hebat, bukan hanya akibat berlari, tetapi juga akibat rasa gugup yang dirasakannya.

“Apa kau lupa sesuatu?”

“Ehmm, yaa. Aku perlu memberitahumu sesuatu.”

“Lalu, apa itu?” Jessica mengangkat sebelah alisnya…

“I…”

Jessica menunggu.

“I like you.”

Sebuah senyuman merekah di wajah Jessica dan Yuri pun ditarik ke dalam pelukannya.

Dia memelukku!! Sica sedang memelukku!! Apa dia juga menyukaiku? Apa Sica juga menyukaikaiku? Apa ini nyata??!!! Yuri menggila di dalam pikirannya. Jantungnya hampir meloncat keluar dari dalam dadanya. Matanya melebar dan rahangnya jatuh dengan sendirinya, karena dia tidak bisa percaya apa yang baru saja terjadi padanya.

“Terima kasih, Yuri-yah. Kau benar-benar sahabatku yang paling manis.”

Seketika itu juga, hati Yuri hancur berkeping-keping.

Yuri bisa membayangkan suara hatinya yang retak dan hancur, pecah menjadi berkeping-keping, jatuh ke tanah. Tiba-tiba saja dia merasa begitu lemas. Rasanya seperti dia dibawa terbang ke langit tertinggi hanya untuk dijatuhkan secara paksa, jauh ke dalam bumi terdalam.

Jessica mengeratkan pelukannya sekali sebelum melepaskannya.

“Aku menyadari kalau kamu belum mengatakan apapun soal penampilanku, tetapi aku tidak menyangka kamu akan mengatakannya seperti ini.”

“Penampilanmu…?” Suara Yuri menghilang.

“Iya, bukankah itu yang ingin kau katakana, Yuri-yah? You like me, right?” Tanya Jessica polos.

Jadi dia…dia tidak menyukaiku?? Yuri terpaku di tempatnya. Aku begitu bodoh, ya? Bagaimana bisa aku berharap dia balik menyukaiku? Dia hanya menganggapku sebagai sahabatnya.

“Apa ada yang salah, Yuri-yah?” Jessica menyadari perubahan sikap Yuri.

Yuri tertawa sendiri.

“Tidak, tidak, kau benar, Sica. Siapa yang tidak akan menyukaimu malam ini, kau benar-benar luar biasa,” Yuri memaksakan sebuah tawa di akhir, lebih untuk dirinya sendiri.

“Terima kasih, Yuri-yah. Aku sangat bersyukur untukmu. Aku tidak bisa mengharapkan sahabat yang lebih baik lagi darimu.” Jessica menepuk punggung Yuri lembut sambil tertawa kecil.

Sahabat.

Yuri hanya bisa memaksakan sebuah senyuman.

Lihat kan? Aku hanya sahabatnya. Yeah. Tidak akan lebih dari itu.

“Emm, baiklah kalau begitu, aku akan pergi sekarang. Ahjussi pasti sudah menunggu.”

“Baiklah. Sampai jumpa.”

“Sampai jumpa.”

Yuri meninggalkan gadis berambut coklat muda itu dan berjalan balik ke mobil dalam gerakan tanpa emosi. Dirinya merasa semuanya sia-sia. Dia sudah membayangkan betapa bahagianya dirinya saat dia dan Jessica bersama-sama. Saat mereka menghabiskan waktu mereka bersama, bercerita, tertawa, saling menggoda, bergenggaman tangan, berpelukan juga berciuman, seperti layaknya pasangan lainnya.

Dia yakin dirinya akan bahagia. Begitu pula dengan Jessica. Yuri juga yakin dirinya mampu membuat Jessica bahagia. Karena dia menyukai Jessica. Dan dia akan melakukan apapun untuk membuat gadis itu bahagia.

Tetapi terkadang realita tidak sama dengan mimpi. Karena ternyata…

Jessica Jung tidak menyukai Kwon Yuri..

 

To be continued…

***

A/N: Maafkan update yg lama ini ya ㅋㅋㅋ Udh hawa liburan sangat menggoda buat jadi prokastinator, chapter ini panjang banget T.T sampe 18 hal sendiri. Anyway drama akan segera dimulai, so prepare your heart hahahaha

Oh, Happy 9th Anniversary juga ya semua teman2 SONE!!! Yuk kita sama2 dengerin SAILING ^^ Annyeong~

http://www.youtube.com/watch?v=UlhR0zBFxZE

Advertisements

Author: 4riesone

SONE. Follow me on Twitter @4riesone for updates and questions

24 thoughts on “Remember Me (Chapter 7)

  1. Haahaha yuri lemot apa gmn sih, ms liat fany ketawa n senyum” sm hp nya sndiri dbilang kerasukan, payah nih yuri, gak tau apa fany lg jantuh cinta, nih yuri gmn sih, kirain mau blg sm sica klo dia cinta eeh malah blg i like you, kan sica nganggepnya krn mrk sahabt, yg jelas dong yul klo ngomong jd gak sakit hati ato salah paham kan, mg aja sica ngerti apa yg yuri blg

  2. Dasar Yuri bego. Harusnya bilang I LOVE YOU bukan I like you ckckckck

  3. Aku readers batu thor, salam kenal. Em tbc yah cepet ya wkwkwkw… mangat Thor bikin ff nya. Yuri sih bilangnya cuma i like you doang coba kalo bilang i love you mungkin sica bakalan jawab iya beneran

  4. Gimana yaa kasian sama yul tapi rada greget juga sama dia, kenapa dia begitu bodoh wkwk. Jangan nyerah dulu lah yul, mangatss!! Selama sica masih sendiri, masih ada kesempatan. Tp ya jgn lama2 yee. Usaha lebih keras lagi jan kek org bloon yul haha
    Yeahhh taeny makin deket kan tuh, ditunggu kelanjutan hubungannya taeny. Aaa gasabar liat mereka jadian☺️

  5. Happy anniversary SONE dan SNSD 😊
    Semoga kita tetap bersama, selama lamanya.

    Ughhhh kasian kwon seobang, udh berani ngeungkapin tpi sicanya malah salah kaprah. Dijamin pasti yul dingin lagi ke sica, semoga tidak dehh 😁😂

  6. Ne yuri emang dikit pabo y, dh tau klw dia cemburu wktu sica ma sukjin pelukan, tpi kok msih aja gk peka ma dirinya sendiri.

  7. Wwkwkwk emg yuri hrs lebih byk beljrrr
    Stupiddd
    Hahahahahahaa

  8. aiissshhh yul … kamu salah kalimat … harus nya I Love You 😥😥😥

    tapi gapapalah yg sabar dan trus semangat buat yul dan Author nya 😀😀

  9. Yul harusx i love u gini j pakek d ajarin haduuh bkin keki liatx…apa bner ya jess gak da feeling pa2 gitu barang sebiji jagung jg gak papa kasian yulx lo jess

  10. salah kata2nya..seharusx kan ” I LOVE YOU”..hadehhh…
    yuri salah ngomong..
    😦
    😦

  11. Yyaaaa!!!! Kwon babooo!!!! Knp bilangnya I Like U seeeehhh, hadeeeeehhhhhhh 😑😑😑😑😑😑😑

  12. Yuri pabo sih, kenapa ngomongnya”I like you” sih???😩😩😩😩😩

  13. Wkwkwkwk…yuri terlalu polos dan mudah baperan wkwkwkwk…

  14. bilangnya “i like you”, seharusnya “i love you” begitu yul. sic kan agak telmi ahahaha..
    yah yah ada yg patah hati nih, lanjutnya gimana yah sikap yuri ke sic yg secara ga langsung bikin yuri broken😄

  15. Duh labil sekali
    Seharusnya yul bilang I Love you bukan I like you:”

Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s