rara0894

All about TaeTiSeo and GG

Remember Me (Chapter 6)

17 Comments

Title         : Remember Me

Author    : 4riesone

Genre      : Fluff, Romance, Yuri

remember me

Butterfly in My Stomach – Chapter 6

 

“Have you ever felt a butterfly in your stomach?”

“Apa?”

“Butterfly in your stomach, Yuri-yah.”

“Hah? Tentu saja tidak. Bagaimana bisa kupu-kupu masuk ke dalam perutku? Itu tidak mungkin, Fany-ah.”

“Ya ampun. Yuri-yah, itu hanya kiasan.”

“Jadi tidak ada stomach in your butterfly?”

“Hah??”

“Ehh,” Yuri tersenyum malu. “Maksudku butterfly in your stomach?”

“Tidak. Tidak secara harafiah, Yuri-yah.”

“Jadi apa sebenarnya ‘butterfly in your stomach’ ini?”

“Aku bisa merasakannya setiap kali aku melihat dia.”

“Apa itu perasaan yang menyenangkan?”

Tiffany mengangguk. “Tentu saja.”

“Jadi dia membuatnya merasa seanang.”

“Ya.” Tiffany menangguk lagi. “Aku tidak tahu kenapa, tapi hanya melihatnya saja sudah bisa membuatku sneang.”

“Benarkah? Se-ekstrim itu?”

“Yupp.”

Yuri berpikir sejenak. “Apa kau yakin dia bukan semacam penyihir? Mungkin dia memberi mantra padamu.”

“Yah, Yuri-yah!!” Tiffany mengetuk kepala teman konyolnya itu. “Ini bukan dongeng. Tidak ada hal seperti itu di dunia ini.”

“Aku kan cuma bilang, Fany-ah. Kita harus selalu waspada, kan?”

“Tetapi menuduh seseorang sebagai seorang penyihir itu tidak baik,  Yuri-yah.”

Yuri menyeringai. “Hehe, maaf kalau begitu.”

“Oke. Oke. Ngomong-ngomong, sampai dimana kita sebelumnya?”

“Hmm, kau bilang kau merasa senang ketika kau melihatnya.”

“Ah ya. Dia membuat hatiku berbunga-bunga hanya dengan berada di hadapanku. Itulah mengapa aku menghabiskan berhari-hari di tempat ini memperhatikannya membaca buku.” Tiffany tersenyum. “Oh, Yuri-yah. Kau harus tahu betapa cantiknya dia saat dia membaca buku. Aaaaahhhhh. Aku tidak sanggup. Aku tidak sanggup. Aaaaaaaahhhhh.” Dia menggoncang-goncangkan tubuh Yuri.

“Eeeekhh…Fany-ah. Lepaskan aku!!”

“Ahh, Yuri-yah. Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Dia sekarang sedang menggoyangkan kepalanya bersamaan dengan seluruh tubuhnya sendiri.

Yuri menatap temannya itu horor.

Dia pasti sedang dalam pengaruh sihir. Manusia normal tidak akan bertingkah seperti ini.

Bulu kuduknya seketika itu berdiri semua.

Sekarang apa yang harus aku lakukan?

Yuri memberanikan diri untuk melihat si gadis berkacamata di seberang ruangan. Dia sedang membaca bukunya dengan tentram.

Apa? Cantik? Ckckck. Dia terlihat biasa saja. Tidak ada yang special. Fany perlu memeriksakan matanya. Yuri menggelengkan kepalanya. Kalau bicara cantik, kau harus menyebutkan Sica. Dia benar-benar cantik. Yuri mengangguk beberapa kali. Tunggu!! Yuri berhenti. Apa baru saja aku bilang Sica? Tidak. Tidak. Tidak. Yuri menggeleng panik kali ini. Tapi itu benar, kan? Tidak ada yang bisa mengalahkan kecantikan Sica. Kulit putihnya, alis lengkungnya, bola mata coklatnya, hidungnya yang sempurna… TUNGGGUUU!!! Apa yang kau pikirkan Kwon Yuri?!! Sekarang bukan saatnya untuk itu!! Hentikan! Hentikan!!! Yuri memukul kepalanya beberapa kali.

(Disclaimer: Ini bukan pemikiran author ya, ini pikiran Kwon Yuri di ff ini. Bukan author hahaa)

“Yuri, apa kau baik-baik saja??” Sekarang giliran Tiffany yang memandang Yuri horor.

Yuri pun segera kembali ke akal sehatnya. Dia menyeringai lebar. “Aku baik-baik saja. Jangan pedulikan aku.”

“Kau benar-benar aneh, Kwon Yuri.”

“Tidak bisa kuhindari. Aku terlahir sebagai kkab,” ujar Yuri bangga.

“Ah kau benar juga.” Tiffany tertawa yang diikuti oleh Yuri.

“Jadi apa yang harus kulakukan, Yuri-yah?”

“Fany-ah,” Yuri mendekati temannya itu.

“Apa?”

“Apa kau benar-benar yakin dia bukan semacam makhluk gaib?”

“Yahh!! Berhenti bicara omong kosong, Kwon—-pfffftttt” Tiffany tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena Yuri sudah membungkam mulutnya terlebih dahulu. Yuri membungkuk meminta maaf pada orang-orang yang memandangi mereka.

“Kecilkan suaramu, Fany-ah. Kita sedang di dalam perpustakaan.”

“Salahmu.”

“Tapi tidak perlu berteriak juga. Sekarang dia sedang melihatmu.”

“APAAAA???!!!” Tiffany berteriak sekali lagi, tetapi Yuri terlambat untuk menghentikannya.

“Haissssh, sekarang dia benar-benar melihatmu,” Yuri menangkup wajahnya.

“Benarkah?”

“Ya, jangan memalingkan wajahmu.”

Tetapi terlambat sudah, Tiffany menolehkan wajahnya untuk melihat si gadis berkacamata. Dan pandangan mereka bertemu selama beberapa detik, karena Titffany segera memalingkan wajahnya kembali setelah menyadari bahwa si gadis berkacamata sedang menatapnya.

“Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan sekarang??? Kwon Yuri, bantu aku!!!” Tiffany memelas. “Dia menatapku!! Apa yang harus kulakukan? Dia sedang memandangiku, Kwon Yuri!!”

Yuri menatap temannya yang panik itu.

“Hey, relaks, Fany-ah. Ini tidak seperti dirimu. Relaks. Jangan panik seperti ini. Dia tidak akan memakanmu.” Yuri menyentuh pundak Tiffany lembut.

“Tentu saja dia tidak akan memakanku, Kwon Yuri!!” Tiba-tiba saja Tiffany meledak dan menjauhkan tangan Yuri.

“Oh, kau tidak perlu marah juga,” Yuri tampak ketakutan.

“Kau benar-benar menguji kesabaranku.”

“Yah, salahku. Tapi kau perlu menenangkan dirimu, Fany-ah.”

“Bagaimana bisa? Dia sedang menatapku!” ucap Tiffany dengan raut serius.

Yuri menoleh untuk memeriksa si gadis berkacamata lagi. “Tidak lagi.”

“Benarkah?” Tiffany mengangkat alisnya.

“Ya.”

“Yakin?”

“100%.” Yuri memberi tanda oke.

Tiffany menghela napas lega. “Sekarang aku bisa tenang.” Dia menyandarkan punggungnya ke kursi.

“Apa kau tahu namanya?” Yuri memulai penyelidikan.

Tiffany mengangguk. “Namanya Kim Taeyeon.”

“Apa lagi yang kau tahu tentangnya.”

“Ulang tahunnya tanggal 9 Maret.”

“Ada yang lain?”

“Hmmmm…” pikir Tiffany.

“Hmm??”

“Hmmmm…”

“Apapun?”

“Hmmm…”

Tiffany akhirnya menggeleng sedih.

“Sudah kuduga.”

“Kenapa kau berpikir seperti itu?”

“Memperhatikan dari jauh seperti ini tidak akan membawamu lebih jauh, Fany-ah. Apa kau tidak lelah seperti ini? Hanya memandangnya dari jauh tanpa mengenalnya dengan lebih baik.”

“Yeah, kau benar juga.”

“Kau harus bicara dengannya.”

“Apa kau gila?!” Tiffany berseru.

“Tidak, Fany-ah. Kau harus bicara dengannya.”

“Aku tidak bisa melakukan itu. Bagaimana bisa aku bicara dengannya?”

“Duhh, Fany-ah. Kau itu super confident and popular Tiffany Hwang. Bagaimana bisa kau jadi penakut seperti ini?”

“Aku tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya.”

“Kalau begitu ini akan jadi kali pertamamu. Dan aku yakin ini akan berjalan dengan baik,” Yuri tersenyum meyakinkan teman berambut hitamnya itu.

“Apa kau yakin dengan ini, Yuri-yah?”

“100%, Fany-ah. Sekarang pergilah, bicara padanya.”

“Apa yang harus aku katakana padanya??” Tiffany masih merasa tidak percaya diri untuk berdiri di hadapan orang yang disukainya itu.

“Duh, kenapa kau begitu paah. Perkenalan diri yang baik tentu saja akan membantu. Lalu ikuti saja alurnya. Aku tahu kau bisa melakukannya, Fany-ah.”

“Benarkah?”

“Ya!! Ya!! Kau membuatku tidak sabar, Tiffany Hwang!! Now go, go, go!!” Dia mendorong gadis itu. “Kau bisa melakukannya.”

Dengan enggan, Tiffany bergerak dari tempatnya. “Aku akan membunuhmu jika ini tidak berjalan dengan baik.” Tiffany tidak lupa melontarkan ancamannya sebelum dia berjalan menuju si gadis berkacamata.

“Tidak akan!! Semangat!!”

***

“Hmmm…Hmmm…Hmmm…” Yuri sedang menyemil beberapa biskuit sembari tangannya menggerak-gerakan mouse. Dia mengklik mouse tersebut untuk membuka browser di komputernya.

Yuri masih bingung mengenai percakapannya dengan Tiffany. Apa sebenarnya itu ‘butterfly in the stomach’?

“Lebih baik aku mencarinya di internet. Aku tidak bisa mati tanpa tahu tentang ini.”

Yuri mengetikkan kata kunci yang dia inginkan di Google.

Butterfly in the stomach. Hmmm. Apa kau sebenarnya?

Mesin pencari memberinya sekitar 1.5 juta jawaban. Dia memilih website pertama.

“Butterfly in my stomach.” Dia membacanya. “An awesome feeling when someone you care about looks at you, stares at you or complements you. And you don’t know what to do in that moment, except feel happy. It can be a physical feeling like a little tickle traveling up your stomach.”

Dia menatap layar selama beberapa detik.

“Haaahhh???!! Apa itu??!! Itu sama sekali tidak masuk akal!!”

Dia menutup tab tersebut dan membuka website lainnya. Dia membacanya lagi.

“Butterflies in the stomach is the physical sensation in humans of a fluttery feeling in the stomach, caused by a reduction of blood flow to the organ. This is as a result of the release of adrenaline in the fight-or-flight response, which causes increased heart rate and blood pressure, consequently sending more blood to the muscles.”

Kali ini, dia menatap layar lebih lama.

“Haaahh. Ini benar-benar tidak masuk akal. Aku tidak perlu memikirkannya lagi.”

Dia akhirnya mengakhiri pencariannya dan berjalan menuju tempat tidur miliknya. Dia merebahkan diri di atas kasur empuknya tersebut. Dalam rentang beberapa detik, Yuri menutup matanya dan mencoba untuk memasuki dunia mimpi. Tetapi ketika dengan kesadarannya yang berkelana ke alam mimpi, pikirannya sendiri tidak bisa berhenti bertanya-tanya soal hal yang dia ingin ketahui sebelumnya itu.

How does it feel like to have a butterfly in my stomach?

***

“Akhirnya!!”

Hal pertama yang dilakukan Yuri setelah keluar dari mobil adalah meneriakkan kata tersebut ke udara bebas. Dia meregangkan kedua lengannya ke atas sambil melihat ke sekeliling.

Setelah penerbangan selama satu jam dan setengah jam perjalanan mobil, akhirnya Yuri dan keempat temannya sampai di vila yang disewa oleh ayah Sooyoung di Jeju. Vila tersebut merupakan rumah dua lantai dengan halaman luas yang bisa digunakan untuk pesta BBQ, serta tambahan kolam renang.

Mereka sangat beruntung bisa menghabiskan waktu di tempat itu. Ayah Sooyoung dengan baik hatinya menawarkan Sooyoung untuk berlibur di vila tersebut selama akhir pecan bersama dengannya yang akan mengurusi beberapa urusan perusahaan. Tidak hanya itu, dia juga bertanya apa Sooyoung ingin mengundang teman-temannya, yaitu Yuri, Yoona, Jessica dan Tiffany. Tentu saja Sooyoung tidak akan menolak tawaran seperti itu. Jadilah mereka semua sekarang ada di tempat tersebut. Menghabiskan liburan di pulau indah itu bersama-sama.

“Geser, Yuri-yah. Aku tidak bisa keluar.” Yoona mengeluh pada teman bahagianya itu dari dalam mobil.

“Heeisssh, iya, iya.” Yuri menggeser tubuhnya ke samping agar Yoona dan teman-temannya bisa keluar dari dalam mobil.

“Wow!” Yoona tiba-tiba saja berseru. “Vila ini benar-benar indah. Appamu punya selera yang bagus.”

Sooyoung menghampiri dari sisi lain sambil tertawa. “Terima kasih. Appa memilihkan vila ini khusus untuk kita.”

“Wow, kau punya Appa yang sangat baik, Sooyoung-ah,” ujar Tiffany.

“Yeah, aku tahu,” Sooyoung mengangguk.

“Kau sangat beruntung,” komentar Jessica.

Sooyoung tertawa. “Tentu saja. Tapi aku berpikir diriku bahkan lebih beruntung lagi karena aku memiliki kalian.” Dia tertawa lagi di akhir kalimanya.

“Eiissh, jangan bicara hal seperti itu. Aku jadi mual.” Yuri berkata sambil berpura-pura ingn muntah.

“Yah!” Sooyoung memelototi Yuri. “Aku serius tahu.”

“Hanya saja kalimatmu itu tidak cocok denganmu.” Jessica angkat bicara.

Yuri menunjukkan merongnya pada Sooyoung. Dia tanpa sadar tersenyum setelah mendapatkan dukungan dari Jessica. “Sudah kubilang.”

“Haish. Terserah apa kalian, dua sejoli.”

“Siapa yang kau sebut dua sejoli?” Jessica berkata dengan nada dinginnya.

“Kalian berdua, siapa lagi?” jawab Sooyoung santai.

“Kenapa?”

“Ya ampun,” Sooyoung menangkup wajahnya. “Karena kalian memang seperti itu, Sica, Yuri.”

“Tidak!!” Mereka berdua berteriak bersamaan.

“Oke, oke. Terserah kalian saja.”

“Hey anak-anak, jangan berkelahi. Kita baru saja sampai disini.” Ayah Sooyoung tiba-tiba muncul dari belakang.

“Ahjussi…” Yuri bergumam dan menunduk, diikuti oleh kedua gadis lainnya.

Ayah Sooyoung hanya terkekeh melihat mereka. “Bagaimana kalau kita bawa tas kita ke dalam? Sudah hampir waktunya makan malam. Dan dingin juga di luar sini,” katanya lagi. Saat itu sudah mulai memasuki musim gugur sehingga udara di sekitar mereka tidak lagi hangat.

Ayah Sooyoung adalah yang pertama bergerak. Dia membawa koper terbesar dan pergi ke dalam vila.

Ketiga gadis yang baru saja berselisih sebelumnya saling berpandangan. Dan anehnya mereka tersenyum satu sama lain dan kemudian tertawa bersama. Tidak lama kemudian, mereka saling berpelukan seperti tidak ada hal yang pernah terjadi.

Tiffany dan Yoona memandangi mereka dengan bingung.

“Ada apa dengan mereka?”

Tiffany menggeleng.

“Mereka aneh.”

“Yep, 100% setuju.”

“Ayo kita ke dalam saja. Tinggalkan mereka.”

Tiffany mengangguk dan mengikuti Yoona ke dalam vila.

***

Seperti biasa, kelima sekawan menghabiskan waktu mereka dengan bersenda gurau. Tidak sesaatpun vila tersebut sepi. Bahkan tidak saat mereka sedang makan malam, ataupun saat mereka mandi. Suara celoteh dan tawa selalu menyelimuti sepanjang malam. Untung saja, ayah Sooyoung tidak masalah dengan hal itu.

Mereka berlima pun memutuskan untuk tidur di satu ruangan bersama. Untungnya, ada kamar tidur yang cukup besar untuk mengakomodasi lima orang sekaligus. Terdapat tiga tempat tidur. Satu untuk Sooyoung, satu untuk Jessica dan Tiffany, dan yang terakhir untuk Yuri dan Yoona.

Yuri adalah yang paling pertama bangun keesokan harinya. Dia meregangkan punggungnya dan bangun dari tempat tidur. Merasa segar setelah tidur nyenyak, Yuri memutuskan untuk melakukan beberapa peregangan terlebih dahulu sambil menunggu teman-temannya bangun. Tetapi bahkan setelah dia selesai melakukan peregangan pun, tidak ada tanda-tanda kalau yang lain akan segera banging. Akhirnya, dia pun memperhatikan temannya itu satu per satu.

Sooyoung tertidur sambil memeluk gulingnya seperti seekor koala. Koala yang tinggi besar lebih tepatnya. Teman seranjangnya, Yoona, tersenyum sepanjang waktu dalam tidurnya. Yuri yakin dia sedang memimpikan makanan lagi. Pandangannya kemudian beralih ke tempat tidur terakhir. Teman berambut hitamnya tertidur dalam posisi fetus. Dia membungkukan tubuhnya dan menekuk lututnya, hampir menyentuh dada. Dengan wajah imutnya, Tiffany bisa dengan mudah dianggap sebagai bayi yang baru lahir, mengesampingkan ukuran tubuhnya tentu saja.

Yang terakhir adalah Jessica.

Yuri bisa merasakan paru-parunya berhenti menghirup oksigen di saat pandangannya jatuh pada temannya yang terakhir ini.

Apa aku berada di surga saat ini?

Tanpa sadar dirinya tersenyum.

Aku bisa melihat seorang bidadari terlelap. Apa aku berada di surga saat ini>

Yuri tdak bergerak sama sekali, hanya memandangi gadis yang tertidur itu hingga akhirnya dadanya terasa sesak. Dia pun menarik napas, menghirup oksigen yang ada. Dia hampir tidak bernapas selama satu menit karena pemandangan di hadapannya.

Bagaimana bisa aku lupa bernapas? Dia tertawa dalam pikirannya. You really take my breath away, Sica. Dia tertawa lagi.

Melihat Jessica tertidur bukanlah hal yang langka karena gadis itu memang pecinta tidur yang bisa tertidur dimana saja dan kapan saja. Tetapi kali ini terasa berbeda bagi Yuri. Tentu saja Jessica cantik, tetapi disana Jessica terlihat seratus kali lebih cantik daripada biasanya. Yuri tidak yakin kenapa. Dia tidak bisa menyangkal bahwa melihat Jessica yang tertidur dengan sangat damai di hadapannya adalah hal terbaik yang dia bisa bayangkan untuk dilihat.

Sejak pertama kali Yuri bertemu Jessica, dia selalu menganggap Jessica sebagai orang kedua yang paling cantik di muka bumi, tepat setelah ibunya tentu saja. Dia bahkan mengakui kalo gadis berambut coklat muda itu jauh lebih cantik dari dirinya sendiri.

Walaupun dia pernah menganggap temannya itu sebagai seorang vampir dan nyatanya suka menjahili dia, tetapi Yuri memiliki kekaguman yang besar pada Jessica. Jika bersama dengan Yoona dan Sooyoung selalu bisa membuatnya tertawa, atau bersama Tiffany selalu bisa membangkitkan moodnya, maka bersama dengan Jessica menjamin kebahagiagannya, semangat dan keamanannya.

Walaupun Jessica memiliki ekspresi dingin dan cinta luar biasa terhadap tidur, dia adalah seseorang yang perhatian dan dapat diandalkan.

Sudah ada banyak kejadian dimana Jessica bertindak untuk menyelamatkan Yuri dari sikap cerobohnya, salah satunya adalah saat misi memata-matai Tiffany. Walaupun Jessica bersikap seolah-olah tidak peduli tetapi pada akhirnya dia muncul juga.

Di samping itu, gadis berambut coklat muda itu akan ada saat dibutuhkan, dia bahkan merelakan waktunya yang berharga untuk membantu Yuri. Yuri ingat saat dia akan menghadapi tes tersulit beberapa minggu lalu. Itu adalah ujian matematika mengenai aljabar yang adalah kelemahan Yuri. Tetapi ternyata dia bisa menyelesaikannya dengan hasil yang termasuk baik untuk seseorang seperti dirinya. Dan itu semua berkat Jessica.

Semenjak pengumuman tanggal ujian, Jessica menawarkan sendiri untuk membantu Yuri belajar. Mereka menghabiskan hampir setiap hari untuk belajar bersama, kebanyakan adalah Jessica membantu Yuri menjawab soal-soal. Bahkan pada malam sebelum ujian, Jessica tinggal hingga larut malam untuk menemani Yuri belajar, walaupun sebenarnya dia sudah bisa tidur nyenyak lebih awal karena dia sudah selesai belajar sejak siang. Tetapi disanalah dia, seorang pecinta tidur seperti Jessica merelakan waktu tidurnya untuk seseorang seperti Yuri. Karena itu, Yuri merasa sangat bersyukur akan Jessica.

Tidak hanya itu, Jessica juga memperhatikan hal-hal kecil yang mungkin tidak akan pernah disadari oleh orang lain dan dia selalu berterima kasih bahkan untuk perbuatan yang sederhana sekalipun.

Bersama dengan Jessica, Yuri bisa tersenyum setiap saat, bersemangat setiap waktu dan tidak pernah merasa khawatir.

Awalnya, dia pikir itu hanyalah rasa kagum semata dan rasa sayang terhadap sahabat. Akhir-akhir ini, dia tidak yakin lagi apa yang dia rasakan. Percakapannya dengan Tiffany mengundang banyak pertanyaan dan persepsi baru ke dalam pikirannya.

Apa dia menyukai Jessica?

Yuri tidak tahu.

Suara gerakan seprei menghentikan lamunan Yuri. “Apa yang kau lakukan disana?”

Yuri mengembalikan pikirannya ke alam sadar dan disambut oleh pemandangan Tiffany sedang memperhatikannya seolah-olah dirinya semacam pasien sakit jiwa.

“Tidak ada,” Yuri menyeringai lebar.

“Kalau begitu hapus senyum aneh itu dari wajahmu. Kau membuatku takut, Yuri.”

Yuri sudah tersenyum nonstop dengan raut wajah lucunya yang membuat ngeri Tiffany yang baru saja terbangun dari tidurnya.

Yuri tertawa. “Oke, oke.”

Tok. Tok. Tok.

Pintu terbuka dan tampak ayah Sooyoung disana.

“Apa semuanya sudah bangun?” Tanya dia.

Yuri menggeleng. “Hanya aku dan Fany, Ahjussi.”

“Apa kau bisa membangunkan mereka. Sarapan sudah siap.”

“Baik, Ahjussi. Kami akan segera turun.”

“Terima kasih Fany, Yuri,” ucapnya sebelum menutup pintu kamar kembali.

“Jam berapa sekarang?”

Tiffany mencari handphonenya dan mengusap layarnya. “Jam 8:27.”

“Jadi kita bangunkan mereka sekarang?”

“Kurasa begitu.”

“Baiklah. Kau urus Sica, ya? Aku akan membangunkan Sooyoung dan Yoona.” Yuri mengedip di akhir. Dia pun tertawa dan meninggalkan Tiffany dengan Jessica.

“EEKHH??”

Tiffany akhirnya mengerti tetapi sudah terlambat. Yuri sudah pergi dan dia tidak punya pilihan lain selain membangunkan sleeping beast yang menyamar dalam tubuh seorang gadis yang terlelap. Dia menelan ludah ketakutan sebelum menjalankan misi mematikannya itu.

***

“Bagaimana?”

“Aku benci kau, Kwon Yuri.” Tiffany cemberut.

Yuri tertawa melihat ekspresi Tiffany. “Tapi kau masih hidup.”

“Tentu saja aku masih hidup. Dia bukan seorang pembunuh.”

Yuri tertawa lagi. “Kalau begitu jangan cemberut.”

“Kau tidak tahu apa yang aku lalui untuk membangunkannya.”

“Percayalah, aku tahu itu, Fany-ah. Bukan hanya dirimu saja yang pernah membangunkan dia.”

Cemberut Tiffany semakin menjadi-jadi tetapi ketika dia merasakan handphonenya bergetar, dia segera mengeluarkan dan mengeceknya. Cemberut itu sepenuhnya hilang dari wajahnya dan digantikan oleh senyuman tipis.

Eeekkh? Ada apa dengannya? Apa dia sudah jadi bipolar sekarang? Yuri merasakan tubuhnya gemetar sendiri. Dia menggeser tubuhnya menjauh dari Tiffany.

Tiffany menyadari itu dan memandang Yuri.

Yuri menyeringai. “Tidak ada apa-apa. Tidak ada apa-apa,” dia mengibaskan tangannya. “Terusakan saja apapun itu yang sedang kau lakukan.”

“Aneh,” komentar Tiffany sebelum mengalihkan perhatiannya kembali ke handphonenya.

Kau jauh lebih aneh, Fany-ah. Pffffttttt! Yuri memberi merong pada Tiffany dalam pikirannya.

Saat sarapan, ayah Sooyoung memberi tahu mereka untuk menunggu hingga sore hari baru kemudian dia akan mengantar mereka ke tempat rekreasi. Oleh karenaya mereka semua punya waktu luang hingga sore hari. Tetapi mereka tidak tahu harus melakukan apa. Yuri dan Tiffany sedang berkumpul di ruang duduk. Sooyoung dan Yoona sedang melakukan tugas mencuci piring mereka sedangkan Jessica sedang pergi ke kamar mandi. Sekarang Tiffany sudah sibuk dengna handphonenya yang berarti tinggal Yuri seorang diri.

Sigh. Sebaiknya aku mencari udara segar.

Yuri pergi ke balkon dengan maksud untuk melihat pemandangan hijau yang menenangkan di sekitar vila, tetapi malahan dia melihat seorang gadis sedang duduk seorang diri di kursi di bawah sebuah pohon besar.

Yuri mengernyitkan dahi. Apa yang dia lakukan disana? Sendirian? Tiba-tiba saja, sebuah ide muncul dalam pikirannya. Cepat-cepat dia pergi ke dalam dan mengambil dua jaket dan dua syal. Kemudian menuju ke tempat dimana gadis tadi berada.

Gadis itu terkejut ketika tiba-tiba terdapat jaket yang menyelimuti pundaknya.

“Hei,” sapa Yuri dengan senyuman.

“Oh kau.” Dia menjadi santai kembali setelah tahu kalau ternyata Yuri lah yang menghampirinya.

“Apa yang kau lakukan disini, Sica-yah?” Yuri bertanya sambil dia duduk di samping Jessica.

“Tidak ada yang spesial. Aku pikir tidak akan ada yang kita lakukan untuk beberapa saat, jadi aku memutuskan untuk mencari udara segar disini. Udaranya benar-benar sejuk,” jawab dia. Dia menghirup dalam-dalam sebelum menghembuskannya disertai dengan sebuah senyuman. “Terima kasih untuk jaketnya, Yuri-yah,” tambahnya kemudian.

“Ah ya. Tidak mau kau kena flu,” Yuri tersenyum.

Jessica balas tersenyum. “Jadi apa yang kau lakukan disini. Bukankah tadi kau bersama Fany?”

“Dia punya urusannya sendiri dan meninggalkanku sendiri. Lalu aku melihatmu dari balkon jadi kupikir lebih baik menghabiskan waktu luang kita bersama. Apa kamu tidak keberatan kalau aku bergabung?” Yuri menolehkan kepalanya untuk menatap Jessica.

Gadis berambut coklat muda itu tertawa kecil. “Kau tidak perlu bertanya, Yuri-yah. Kau selalu diterima,” ucapnya sambil menyunggingkan senyuman.

“Aku terharu,” Yuri menyeringai.

“Sudah seharusnya.”

Akhirnya mereka sama-sama tertawa. Setelah percakapan singkat mereka, keduanya hanya memandangi langit, menikmati angin sejuk yang berhembus serta langit biru cerah dalam keheningan.

“Sica,” panggil Yuri.

“Ya?”

“Apa kau ingin pergi keluar?”

“Kemana?”

“Seingatku ada taman tidak jauh dari tempat ini.”

“Benarkah?”

“Ya,” Yuri mengangguk. “Kita bisa pergi kesana dengan sepeda lipat yang dibawa Sooyoung. Daripada kita berdiam disini saja. Kita masih punya banyak waktu juga,” bujuk Yuri.

“Baiklah kalau begitu.” Jessica pun berdiri. “Ayo.” Dia mengulurkan tangannya pada Yuri.

“Eh?” Yuri tidak menyangka Jessica akan mengulurkan tangannya. Sekarang dia pun jadi tidak tahu harus berbuat apa.

“Ayo,” ujar Jessica lagi.

Yang benar saja? Tangannya? Pikiran Yuri menjadi kacau.

“Ah ya…ya…” Dengan malu-malu Yuri menggengam tangan Jessica.

Oh, rasanya benar-benar pas. Yuri tersenyum sambil dia mengikuti gadis di sampingnya.

Bergenggaman tangan dengan Jessica mengingatkan dia tentang pertemuan pertama mereka. Dia masih ingat dengan jelas apa yang dia rasakan saat itu ketika mereka berjabat tangan. Sensasi menggelitik yang menyebar ke seluruh tubuhnya. Dia bisa merasakannya sekali lagi. Benar-benar sama, hanya dengan periode yang lebih panjang. Yuri tidak bisa menyembunyikan senyumnya sepanjang perjalanan.

Jessica akhirnya melepaskan tangan Yuri ketika mereka akan menyiapkan sepeda lipat.

“Nah, sudah siap.” Yuri berkata sambil menepuk kedua tangannya hingga bersih dari debu.

“Terima kasih, Yuri-yah,” Jessica tersenyum. Lagipula hampir semua pekerjaan dilakukan oleh Yuri.

“Apapun untukmu, princess.”

Jessica terkekeh mendengarnya.

“Sekarang, kau sebaiknya memakai ini dulu,” Yuri mengeluarkan syal dari jaketnya. “Lebih baik berhati-hati daripada menyesal kemudian.”

Gadis yang lebih tinggi itu melingkarkan syal di sekeliling leher Jessica dan menatanya agar menutupi leher Jessica dengan baik dan rapih. Sambil melakukan hal itu, Yuri dapat mencium aroma segar rambut Jessica.

“Stroberi,” Yuri bergumam tanpa sadar. Masih sama. Aroma favoritku.

“Ya?” Tanya Jessica.

“Ah, tidak. Tidak apa-apa.” Yuri tersenyum. “Selesai,” ucap Yuri setelah memastikan semuanya sudah sempurna.

Jessica menatap ke arah syal di lehernya dan seketika senyuman indah terbentuk di wajahnya. “Terima kasih lagi, Yuri-yah.”

“Dengan senang hati, Sica-yah. Bagaimana kalau kita pergi sekarang?”

“Ehm, tunggu.” Jessica memperbaiki syal Yuri dan menepuk pundaknya. “Nah, selesai.” Dia tersenyum.

Wajah Yuri memerah karena tindakan kecil tersebut.

“Sekarang apa kita bisa pergi?”

Yuri mengangguk malu-malu.

Mereka mengendarai sepeda mereka berdampingan dalam kecepatan normal sambil menikmati udara segar pulau Jeju. Pemandangan di sekitar jalan terlihat sangat indah. Banyak sekali pohon disana. Semuanya terlihat hijau. Tidak ada kemacetan. Bahkan mereka bisa mendengar suara desir dedaunan.

Yuri melebarkan kedua lengannya ke samping dan menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpanya sambil tetap mengayuh sepedanya. “Woooohoooo!!! Ini luar biasa!”

Jessica memandang ke arahnya dan tertawa kecil. “Pamer.”

Yuri tertawa dan menaruh kembali tangannya ke stang. “Iri, huh?” dia menyeringai.

“Aku juga bisa melakukannya,” balas Jessica.

“Coba tunjukkan kalau begitu,” tantang Yuri.

Jessica perlahan melepaskan tangan kirinya dari stang dan melebarkannya ke samping. Dia mencoba untuk menyeimbangkan sepedanya terlebih dahulu sebelum melakukan hal yang sama dengan tangan kanannya. Dia bisa merasakan angin berhembus dengan lembut di tubuhnya. Rasanya begitu sejuk. “Ini menyenangkan, Yuri-yah!!” Jessica mengeluarkan tawa merdu sambil menatap ke langit.

“Sudah kubilang.” Yuri ikut tertawa. Dia melebarkan lengannya kembali untuk bergabung dengan Jessica menikmati hembusan angin. Walaupun bagi Yuri tidak hanya terpaan angin saja yang dia nikmati, ekspresi bahagia Jessica jauh lebih berharga dari itu.

Yuri menatap temannya itu. Rambut coklat muda panjangnya menari-nari oleh hembusan angina dalam gelombang yang indah. Wajahnya menunjukkan senyuman lebar. Ekspresi favorit Yuri.

Hanya dengan melihat senyuman Jessica saja sudah mampu membuat Yuri tersenyum seperti orang bodoh. Rasa bahagia yang begitu besar mengisi ruang hatinya begitu mengetahui Jessica senang karena dirinya. Itu saja dapat menjadi kebahagiaan bagi Yuri.

Kenapa kau begitu cantik, Sica? Jika seperti ini terus, aku akan jatuh hati padamu.

Jessica menurunkan tangannya dan mengendarai sepeda dengan kedua tangannya kembali. Yuri mengikuti setelahnya.

“Disana.” Yuri menunjuk ke sebuah taman kecil tidak jauh dari tempat mereka berada.

“Tadi itu benar-benar menyenangkan, Yuri-yah.”

Mereka sudah memarkirkan sepeda mereka dan duduk di ayunan. Mereka membiarkannya mengayun sedikit.

“Yep. Untung kita melakukannya.”

Jessica terkekeh. “Untung kau mengajakku juga.”

Omo. Suara tawanya. Seperti suara malaikat bernyanyi.

“Yuri-yah.” Jessica memutar kepalanya untuk melihat Yuri.

“Hmm?”

“Terima kasih lagi.”

Pada saat itu, seluruh perhatian Yuri tertuju pada gadis di hadapannya yang memiliki senyuman termanis di muka bumi. Yuri tidak bisa menggerakkan tubuhnya dan hanya menatap pemandangan yang begitu indah itu.

Tiba-tiba saja, dia bisa merasakan tubuhnya memanas walaupun hawa dingin yang meliputi taman tempat dia berada. Dan dia yakin tubuhnya merasakan sesuatu yang luar biasa. Seolah ribuan kupu-kupu beterbangan di perutnya, memberinya rasa berbunga-bunga. Rasanya dia bisa terbang kapan saja walaupun tubuhnya tidak bergerak sama sekali saat itu.

Apakah ini yang mereka sebut butterfly in the stomach.

Jessica mengerutkan dahinya dan bergerak mendekati Yuri, menghilangkan jarak di antara mereka.

Yuri akhirnya bisa bergerak setalah menyadari wajah Jessica hanya beberapa inci saja darinya.

Apa yang akan dia lakukan?

“Si-Sica…” Yuri tergagap. Tetapi Jessica tetap semakin mendekat.

OMO OMO OMO!! Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan?? Yuri tidak bisa berpikir jernih. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Aku belum siap untuk berci—

“Apa kau sakit?” Jessica menaruh telapak tangan kanannya di dahi Yuri sedangkan tangan kirinya diletakkan di dahinya sendiri.

Imajinasi Yuri seketika hancur berkeping-keping.

Sebenarnya, Jessica melihat wajah Yuri menjadi merah dan dia berpikir kalau temannya itu demam sehingga dia pun berniat untuk memeriksa suhu tubuh Yuri.

“Kau panas, Yuri-yah. Wajahmu juga sangat merah.”

Wajah Yuri menjadi lebih memerah akibat malu. “Tidak, Sica. Aku baik-baik saja.” Dia segera memalingkan wajah dan menutupinya dengan tangannya.

“Apa kau yakin kau baik-baik saja?” Jessica menyentuh pundak Yuri dengan lembut.

Yuri mengangguk tanpa menoleh sedikitpun.

“Biarkan aku memeriksa suhumu lagi.” Jessica baru akan berdiri tetapi kemudian berhenti ketika dia melihat Yuri tiba-tiba saja bangkit.

“Aku baik-baik saja, Sica. Jangan khawatir. Lebih baik kita kembali ke vila.” Setelah berkata demikian, Yuri berlari ke tempat mereka memarkir sepeda tanpa menunggu Jessica.

“Eh,” Jessica terkejut dengan kepergian Yuri yang tergesa-gesa itu. “Yuri-yah, tunggu! Tunggu!!” Dia berteriak tetapi gadis yang lebih tinggi itu tidak juga berhenti. “Haisssh, cewek itu.” Dengan enggan Jessica berlari mengejar Yuri.

Ada apa dengannya?

 

To be continued…

***

A/N: Fiuhh~ Chapter ini panjang juga. 4000++ kata-kata. Sampe pegel ngetiknya. Semoga kalian ga cape bacanya wkwk Anyway, ternyata si gadis berkacamata itu Taeyeon ^^ Yehehe Taeny \^^/ Tapi sayangnya, di ff ini fokusnya akan ke Yulsic ya, jadi Taeny paling cm jadi bumbu2 penyedap aja hahaha Oke deh, sekian. See ya next time. Annyeong~

Bonus: Taeny 😍 Simply bcos Taeny is love 😉

BIKy-M-jiKB

Cr: as tagged

Advertisements

Author: 4riesone

SONE. Follow me on Twitter @4riesone for updates and questions

17 thoughts on “Remember Me (Chapter 6)

  1. C Yul blo’on blo’on gmna gto.. Nah kn bnr itu Tae.. Klo jatoh cintrong itu seburuk ap pun orng itu kata orng.. Tp bagi kita yg jatoh cintrong tetep ajj dy bak dewi or pangeran

  2. Kebodohannya yuri itu terkadang lucu pas lagi dibayangin haha
    Gapapa lah taeny sebagai pelengkap, rada panjangin thor pas moment taeny nya wkwkwk😂

    • Haha bener bgt. Nulisnya aja geli sendiri 😂
      Ah ya maunya sih gtu, cm sayangnya ini ff udh selese ditulis, jd ga bsa dipanjangin lg T.T

  3. Huhuhuhu..
    Kopel taeny mulai muncul di permukaan.
    Dan yulsic berjalan dengan baik 😊

    Tolong di tambah dong adengan romantisnya yulsic thor 😄

  4. Syukur lah klo tu taeyeon, tpi yuri byun jga y mlah smpet mikirin bercinta sgala.

  5. tuh kan bener … gadis berkacamata itu taeyeon 😀😀

    lg kangen yulsic thor, jadi gapapa deh kalo taeny cuman jadi bumbu penyedap 😁

    hahaha yul byun juga ya,,, dikira sica mau ngajak bercinta 😂😂😂

  6. Yuri dsini cute bgt ya hahaha bnyak gak nyambungx kan kl aslix kdang jg sering gak nyambung ya tae sampek sering mrah2

  7. cieee..cieee..
    yang udah rasain ada kupu2 di perutx..jatuh cinta bener sama sica ya??
    yuri mah agak lalod nih..

  8. Yuri bakal selalu keliatan bego kalau udh tergila2 sama sica 😙😙😙😙

  9. yuri mah suka banget menghayal, temenny di sanga vampire lah atau penyihirlahhadeuuuh😒..
    eiy eiy kayanya yuri udh mengerti kata2 butterfly in stomach deh😆, dan taeny makin yahut nih kayanya. lanjut ah

  10. Duh fany ngedeketin tae sampe segitunya njirr wkwk
    Duh yulsic udah mulai bikin diabetes biarpul yul nya bloon wkwkw

Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s