rara0894

All about TaeTiSeo and GG

Remember Me (Chapter 5)

18 Comments

Title         : Remember Me

Author    : 4riesone

Genre      : Fluff, Romance, Yuri

remember me

Stalking – Chapter 5

 

“Dimana Tiffany?”

“Ehh??”

“Dia tidak muncul sama sekali.”

Yoona mengangguk setuju. “Aku khawatir dia belum makan si— Aduh.” Yoona mengangkat tangannya refleks ke kepalanya. “Sakit, Yuri-yah.”

“Oh kau tahu sakit juga rupanya. Aku kira kau hanya tahu soal makanan,” Yuri mengeluarkan merongnya.

“Hey hey hey, kau cari ribut denganku ya?” Yoona mengangkat alisnya dalam sikap menantang.

“Meh,” Yuri memberikan merong lagi. “Ribut saja dengan dirimu sendiri. Aku tidak tertarik.”

“Haiyaaa, dasar brownie. Sini kau. Aku habisi kau.” Yoona akan sudah menyerang Yuri jika saja Sooyoung tidak bertindak cepat untuk menghentikan gadis kuat itu.

“Tenang, Yoona. Kau bisa memakan Yuri nanti. Sekarang kita punya masalah lain,” Sooyoung berkata sambil mendorong Yoona kembali ke tempat duduknya.

“Aku khawatir dengan teman kita, tetapi brownie satu ini mengajak ribut denganku!” Yoona menunjuk gadis berkulit kecoklatan itu dengan wajah sangar.

“Aku tahu, aku tahu. Makanya aku bilang kau bisa memakan dia nanti.”

“Sooyoung!!” protes Yuri.

“Apa?” Sooyoung menoleh untuk menghadap Yuri dengan ekspresi tenang.

“Kau ada di sisi siapa sebenarnya?”

Sooyoung memiringkan kepalanya pada Yoona. “Jelas ini salahmu, Yuri-yah.”

“Yah!!” seru Yuri.

“Itu benar.”

“Tapi kau tidak bisa begitu saja menyarankan Yoona untuk memakanku seperti itu. Kau pikir aku ini apa? Sushi?”

“Ah!! Ide bagus!” Sooyoung menepukkan kedua tangannya kemudian berpaling kembali pada Yoona. “Jangan lupa untuk mencelupkannya ke kecap asin terlebih dahulu sebelum memakannya. Dia akan terasa lebih enak.”

“Okie dokieee.” Yoona mengedip pada gadis tinggi itu.

“Yah kalian berdua!!”

Kedua gadis shikshin itu tertawa puas bersama-sama.

“Sica, bantu aku. Dua perut karet ini sedang membullyku.”

Yuri berharap Jessica akan memarahi Yoona dan Sooyoung atau memberi mereka tatapan dingin menusuk miliknya, tapi mengejutkannya, Jessica hanya mengangkat bahu dengan tidak peduli.

“Kau yang memulainya, Yuri.”

“Yah, Sica!! Jangan kau juga.”

Sica mengangkat bahu lagi. “Aku akan kembali ke kelas. Mungkin Tiffany sudah ada disana.” Sambil berkata demikian, dia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menjauh dari kantin menuju ruang kelas.

Yuri menghela napas dan memandang ke dua teman baiknya yang masih tertawa puas. “Geeezzz,” dia mengacak-acak rambutnya sebelum berlari menuju ke arah Sica pergi. “Sica!! Sica!! Tunggu!!”

Akhirnya Yui bisa mengejar Jessica beberapa meter lagi sebelum ruang kelas mereka. Yuri bermaksud untuk menepuk pundak Jessica tetapi kemudian tubuhnya menabrak punggung Jessica yang tiba-tiba saja berhenti berjalan. Yuri pun mencoba untuk menyeimbangkan tubuhnya dari tabrakan tersebut.

“Kau dari mana saja?”

Yuri memandang ke arah depan setelah berhasil berdiri tegak kembali. Matanya melihat seorang gadis berambut hitam yang familiar. Dengan segera, Yuri mengerti bahwa pertanyaan Jessica ditujukan pada temannya itu.

Tiffany menggaruk kepalanya pelan. “Emm…”

“Kami tadi membicarakan soal liburan kita nanti. Tapi kau tidak ada,” tambah Yuri.

“Ah yeah, maaf,” Tiffany menggaruk kepalanya lagi. “Ada yang harus kulakukan.”

“Tidak biasanya kau pergi tidak bilang-bilang seperti ini.”

“Emm… Tadi itu penting jadi aku buru-buru.”

“Ohh. Ada apa memangnya?”

“Emm… Mrs. Nam memintaku menghadapnya. Kau tahu kan kalau dia benar-benar tidak sabaran?”

“Ahh, kau benar. Pantas saja kau terburu-buru.”

“Haha yeah. Begtulah.” Tiffany mencoba untuk tertawa.

“Tapi apa yang dia inginkan darimu?” Tanya Yuri lagi.

“Ah, itu…”

“Hmm??”

“Itu…”

Yuri masih menunggu Tiffany untuk menjawab tetapi temannya yang lain memotong. “Itu urusannya, Yuri. Jangan ikut campur.”

“Aku hanya ingin tahu saja, Sica.”

“Itu sama saja.”

“Yah, Sica! Kenapa kau sangat jahat padaku hari ini, huh?”

Jessica hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban.

“Sica-yah!!”

“Ayo masuk ke dalam. Kelas akan segera dimulai,” kata Jessica sembari dia berjalan menuju ke dalam ruangan. “Kau juga, Fany-ah,” tambahnya.

“Ah yeah, yeah.”

Setelah Tiffany berkata demikian, bel berbunyi sebagai tanda agar para siswa berkumpul di dalam kelas kembali dan memulai pelajaran baru.

***

“Baik. Aku akan mengambilnya besok. Terima kasih.”

Jessica menutup teleponnya setelah si penelepon membalas ucapannya. Dia menaruh iPhonenya di meja dan bergabung dengan teman-temannya untuk makan sian.

“Ada apa, Sica-yah?” Tanya Yoona.

“Naskah dramaku ketinggalan,” jawab Jessica santai.

“Bukankah itu penting? Bagaimana kau bisa begitu santai?” Tanya Yoona lagi.

“Sukjin sudah menyimpannya untukku. Aku akan mengambilnya besok,” Jessica menjelaskan.

“Sukjin, huh?” terdengar suara pelan gumaman.

Jessica mengalihkan pandangannya pada gadis berkulit kecoklatan setelah mendengar kata-kata itu. “Kenapa?” Jessica mengangkat alisnya bertanya.

“Aku sedang bicara sendiri. Tidak usah pedulikan aku.” Yuri menundukkan kepalanya untuk memfokuskan diri pada makan siangnya sekaligus menghindari percakapan dengan Jessica lebih lanjut.

Jessica hanya bisa menghela napas melihat kelakuan Yuri. Temannya itu sudah bersikap dingin beberapa kali padanya akhir-akhir ini. Seingat Jessica, hal itu selalu melibatkan Sukjin.

Sejak kejadian minggu lalu di ruang kelas, Jessica bisa merasakan ada yang berbeda dari sikap Yuri. Tidak hanya dia selalu tenggelam dalam pikirannya setiap kali mereka makan siang bersama, dia juga menjadi sangat sensitif ketika ada pembicaraan tentang partner drama Jessica.

Jessica tidak tahu apa kesalahan yang sudah dilakukannya, karena dia yakin dia sudah mendapatkan izin dan dukungan dari semua teman-temannya sebelum memulai drama itu, termasuk Yuri. Apa ini karena balas dendamku di hari itu? Pikir Jessica. Tapi itu tidak mungkin. Yuri sudah mendiamkannya di makan siang hari itu. Itu pula yang menjadi alasan di balik balas dendamnya. Jadi tidak. Pasti ada alasan lain.

“Ngomong-ngomong, Tiffany kemana lagi?” Sooyoung memotong analisis di pikiran Jessica.

“Seingatku dia bilang dia ingin pergi ke perpustakaan,” Yoona memberikan jawaban untuk pertanyaan Sooyoung.

Perpustakaan lagi? Jessica bertanya-tanya dalam pikirannya.

“Perpustakaan lagi?” Yuri mengutarakan pertanyaan yang sama dengan yang ada dalam pikiran Jessica.

“Yep,” Yoona mengangguk.

“Tidakkah dia pergi ke perpustakaan terlalu sering akhir-akhir ini?” Yuri tidak bisa menahan rasa penasarannya.

“Iya. Dia sudah melewatkan 5 dari 6 kali makan siang dengan kita hanya untuk pergi ke perpustakaan.”

“Itu aneh,” tambah Sooyoung.

“Mungkin dia menemukan sebuah buku yang sangat menarik disana,” Jessica mencoba untuk mencari alasan yang masuk akal.

“Sebuah buku tidak akan menghabiskan waktu 5 hari, Sica-yah. Selain itu kau selalu bisa meminjamnya. Tidak perlu menghabiskan berhari-hari disana,” timpal Sooyoung.

“Aku hanya berpendapat.” Jessica mengangkat bahunya.

“Atau dia menemukan orang yang sangat menarik disana!!” Yuri tiba-tiba berseru dengan antusias. Gadis ini benar-benar memiliki mood swing. Pertama bermuram durja, lalu tiba-tiba menjadi begitu bersemangat.

“Maksudmu dia sedang mengikuti seseorang disana?” Tanya Yoona mengkonfirmasi.

“Ya!! Apa lagi?” Jawab Yuri masih dengan antusiasme yang tidak berubah.

Sooyoung mengetuk dagunya sendiri beberapa kali.

“Hmm, bisa saja itu yang terjadi.”

“Sudah kubilang,” Yuri menunjukkan wajah bangganya.

“Jadi apa sekarang?” Tanya Jessica.

“Double stalking!!”

“HAH?” Ketiga gadis lainnya berteriak secara bersamaan disertai pandangan bingung.

“SSSHHHHTTT!! Kalian bisa membocorkan rencana kita.” Yuri menatap galak pada teman-temannya agar mereka menutup mulut.

“Aku tidak mengerti,” ujar Sooyoung.

“Haish, gampang saja, Sooyoung-ah. Kita tinggal ikuti lagi saja dia.”

“Itu tidak terdengar seperti suatu rencana bagiku,” Jessica berbicara dengan ekspresi bosan.

“Yeah, aku juga.”

“Sama.”

“Yah! Yah! Yah!” protes Yuri. “Itu rencana yang bagus tahu.”

“Lebih baik aku menghabiskan waktuku untuk tidur dibandingkan mengikuti seseorang, belum lagi orang tersebut adalah sahabat kita sendiri. Itu privasinya.”

“Yeah, aku juga. Makan tentu saja jauh lebih baik untuk dilakukan.”

“Sama.”

“Yah!” Sooyoung mengetu kepala Yoona. “Jangan menyalin kalimatku terus.”

“Jawabanmu sudah mewakiliku. Jadi kenapa aku harus membuang-buang kata untuk hal yang persis sama?” Yoona menyeringai.

“Hmm, kau benar juga. Aku beri kau izin kali ini.”

Yoona pun tertawa.

“Hey hey hey, kenapa sekarang kalian mengabaikanku?” Yuri cemberut.

“Oh yak ah?” Yoona bertanya dengan ekspresi terkejut, jelas sekali hanya berpura-pura.

“Yaaaa, duuuuhhh!” pembuluh darah Yuri hampir muncul di pelipisnya.

“Apa yang kau bicarakan?”

“AKU. SEDANG. MEMBICARAKAN. TENTANG. RENCANA. KITA. UNTUK. MEMATA-MATAI. TIFFANY.” Yuri berbicara dengan geram, mengatupkan giginya, berusaha menekan rasa frustasinya terhadap teman-temannya itu.

“SSHHHT!! Kau bisa membongkar rencanamu sendiri, Yuri-yah,” Sooyoung menutup mulut Yuri dengan tangannya.

“Lemmigo! Lemmigo!” Yuri menggeliat di balik mulutnya yang tertutup.

Helaan napas keras keluar dari mulut Yuri setelah Sooyoung menarik tangannya.

“Lupakan rencanamu, Yuri-yah,” kata Sooyoung.

“Kenapa?”

“Kita tunggu saja Fany untuk menceritakannya sendiri,” jawab Yoona.

“Dia sudah menyembunyikan hal itu dari kita selama lebih dari seminggu. Berapa lama lagi kita akan menunggu?”

“Dia akan berbicara kalau saatnya sudah tepat, Yuri-yah,” balas Jssica.

Yuri mengernyitkan wajahnya kecewa, merasa dipojokkan oleh semua temannya. Baiklah, kalau kalian bilang begitu. Aku akan melakukannya sendiri!!” Yuri berjalan pergi meninggalkan kantin dan ketiga temannya.

***

“Geezz, kenapa mereka semua menolak rencana hebatku?” Yuri bergumam di sepanjang jalan menuju perpustakaan, masih merasa begitu kesal dengan apa yang baru saja terjadi.

“Mereka terlalu malas untuk mengangkat pantat mereka dari kursi-kursi itu, tapi malah menyalahkan rencanaku sebagai penganggu privasi Tiffany.” Yuri terus bergumam pada dirinya sendiri saat dia sudah mencapai tangga, tidak jauh dari tujuannya.

“Geez. Aku ingin melakukan ini untuk membantu Tiffany juga. Kenapa mereka tidak bisa mengerti itu?”

Yuri berhenti setelah mencapai lantai berikutnya dan mengacak-ngacak rambutnya frustasi sambil menggerakkan kakinya ke atas secara bergantian. “Benar-benar tidak adil. Tidak adil. Tidak adil.”

AAHH!

Yuri menghentikan tindakannya seketika saat dia melhat seseorang datang dari arah berlawanan. Dia menyipitkan matanya untuk mengamati orang tersebut.

Hmm, apa itu si gadis berkacamata?

Gadis tersebut berjalan semakin dekat sehingga Yuri bisa melihat wajahnya dengan lebih jelas.

AHA!! Yep. Dia memang si gadis berkacamat! Yuri tersenyum. Tunggu! Dia membatalkan senyumannya. Kenapa aku peduli? Misiku adalah memata-matai Tiffany. Aku tidak boleh salah fokus. Yuri menggeleng dan beralih ke mode seriusnya lagi. Dia membuka matanya lebar-lebar agar waspada dengan sekelilingnya serta mempersiapkan tubuhnya untuk beranjak ke perpustakaan. Dia mengambil langkah maju untuk memulai misinya.

Tetapi, ternyata gadis berkacamata itu juga pergi ke perpustakaan.

Oh, dia pergi ke perpustakaan juga. Seorang kutu buku rupanya. Yuri berkomentar dalam pikirannya.

Yuri berhenti tepat sebelum pintu masuk. Dia mengintip melalui jendela kaca untuk memastikan apakah aman untuk masuk sekarang atau tidak. Setelah memastikan semuanya aman, dia pun masuk ke dalam dengan hati-hati.

Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, bersembunyi di balik rak buku satu persatu dan berjalan dalam posisi jinjit di sepanjang ruangan perpustakaan itu untuk memastikan agar tidak ada seorang pun yang menyadari kehadirannya.

Sebenarnya, tindakannya tersebut benar-benar mencurigakan dan mengundang lebih banyak perhatian dibandingkan jika dia tidak melakukan hal-hal tersebut. Tetapi Yuri tidak menyadari hal itu, dia merasa terlalu bersemangat dengan aksi ‘mata-mata’nya.

Setelah melewati beberapa seksi, akhirnya Yuri menemukan targetnya. AHA!! Aku menemukanmu!! Yuri menyeringai senang.

Tiffany sedang duduk sendirian di pojok perpustakaan dengan sebuah buku di meja. Yuri tidak bisa mengidentifikasi buku apa itu, tapi dia tahu kalau perhatian temannya itu tidak tertuju pada buu tersebut, tetapi ke tempat lain.

Apa yang kau lakukan disana, Fany-ah?

Yuri bersembunyi di balik rak buku lima meter dari tempat Tiffany berada untuk mendapatkan infomasi mengenai aktivitas gadis berambut hitam itu. Tetapi operasinya terganggu bahkan sebelum satu menit berlalu. Sebuah tangan mendekap mulutnya dan menariknya ke belakang. Secara refleks, mata Yuri membelalak dan segera memberi tahu otaknya bahwa ada bahaya datang sehingga dirinya pun akan mencoba untuk melepaskan diri dari si ‘penculik’.

“Sssshhh! Ini aku, Yuri-yah.”

Mengenali suara ‘penculik’nya, Yuri pun berhenti bergerak dan menenangkan tubuhnya. Dia menarik dan menghela napas dalam setelah mulutnya terbebas dari dekapan.

“Kau membuatku kaget, Sica-yah!” desis Yuri kepada gadis berambut coklat muda itu.

“Maaf. Aku tidak mau kau berteriak,” Jessica menyeringai.

“Heish, oke, oke. Tapi apa yang kau lakukan disini? Kau bilang kau tidak mau pergi.”

“Aku tidak bisa membiarkanmu melakukan hal bodoh seorang diri.”

“Ini bukan hal bodoh,” Yuri cemberut.

“Itulah mengapa aku tidak bisa membiarkanmu melakukan ini seorang diri. Kau tidak tahu apa yang sedang kau lakukan, Yuri-yah.”

“Hah?”

“Apa kau tahu berapa banyak perhatian yang tertuju padamu di perpustakaan ini?”

“Perhatian apa? Aku mengambil setiap langkah dengan hati-hati. Tidak akan ada perhatian sama sekali.”

Jessica menangkup wajahnya. Dia benar-benar menyedihkan.

“Itulah!!” desis Jessica. “Tidak ada seorang pun yang memasuki perpustakaan dengan kaki berjinjit dan selalu menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum bersembunyi di balik rak buku. Itu hanya akan membuatmu lebih mencurigakan, Yuri-yah.”

Yuri berpikir sejenak. “Benarkah?”

“Duh. Ya, tentu saja.”

Yuri tersenyum malu-malu. “Kalau begitu aku selamat sekarang. Karena ada kau disini,” dia tersenyum tulus.

Dia begitu polos. Jessica tanpa sadar balas tersenyum kepada temanna itu. Tapi meskipun Yuri yang seperti ini begitu menyedihkan, Jessica lebih memilih Yuri yang seperti ini dibandingkan versi sebelumnya yang bersikap dingin padanya.

“Yuri-yah.”

“Hmm?”

“Aku perlu bicara denganmu.”

“Apa itu, Sica-yah?”

“Apa ada sesuatu yang menganggumu?”

“Apa maksudmu?”

“Kau tampak berbeda akhir-akhir ini.”

“Ehmm.”

“Kau tahu kau bisa bicara apa saja padaku, kan?”

Bagaimana bisa?

Yuri menggeleng. “Tidak ada apa-apa, Sica-yah.”

“Apa aku melakukan sesuatu yang salah padamu?”

“Tidak, apa yang kau bicarakan, Sica-yah? Kau tidak melakukan kesalahan apapun.”

“Lalu kenapa kau mendiamkan aku belakangan ini?”

“Benarkah?”

“Ya, Yuri-yah.”

Yuri terdiam. Sebenarnya, dia tidak bermaksud untuk mengabaikan Jessica seperti itu. Dia sendiri tidak mengerti dengan pasti mengapa dia melakukan hal itu.

“Ini bukan karena dramaku, kan?”

“Itu…”

“Jadi itu benar.” Jessica menghela napas. “Kenapa, Yuri-yah? Kau bisa bicara langsung padaku kalau ada sesuatu yang mengganjal. Kau tidak perlu bersikap dingin padaku setiap saat.”

Bagaimana bisa?

“Tidak, kau salah, SIca-yah.”

“Berhenti menyangkalnya, Yuri-yah. Aku tahu. Apa yang salah? Ayo kita selesaikan sekarang.”

“Benar-benar tidak ada apa-apa, Sica-yah.”

“Yuri-yah!!” Dia mendesis di antara giginya yang terkatup untuk menjaga suaranya tetap pelan.

Yuri akhirnya mendesah kalah. “Baiklah baiklah.”

“Jadi?”

“Aku…aku…aku tidak suka kau berpasangan dengan Sukjin.”

“Kenapa?”

“Aku tidak suka saja.”

“Apa yang salah dengannya? Dia benar-benar pandai berakting. Itu alasannya aku dipasangkan dengannya.”

“Aku tahu itu. Aku tahu itu. Kau tidak perlu memberi tahuku, Sica-yah?”

“Lalu kenapa kau bersikap seperti ini?”

“Itu masalahku sendiri. Aku minta maaf karena sudah mendiamkanmu. Aku akan memperbaikinya.”

“Yuri-yah.”

“Hmm?”

“Apa kau suka Sukjin?”

“Ap—“ Yuri segera menutup mulutnya sendiri sebelum sempat berteriak.

Ini terasa seperti dejavu. Ya, sama seperti percakapanku dengan Tiffany waktu itu.

“Apa kau suka dengannya?”

Kedua jawaban sama-sama tidak baik. Aku harus menghentikan percakapan ini sekarang. Tapi bagaimana caranya?

Yuri menoleh kembali ke arah targetnya. Untungnya, Tiffany bergerak dari kursinya dan berjalan ke tempat lain.

Ini kesempatanku.

“Maaf, Sica-yah. Aku sedang menjalankan misi. See ya!” Yuri tersenyum pada Jessica sebelum bergerak untuk lanjut memata-matai Tiffany. Jessica menghela nafas dan kemudian mengikuti gadis berkulit kecoklatan itu di belakang.

“Yuri-yah.”

“SSHHT!!” Yuri meletakkan jari telunjuknya di bibir Jessica. “Aku sedang konsentrasi.”

Jessica tidak membantah lebih lanjut dan menutp mulutnya.

Sekarang Yuri berkonsentrasi penuh pada misinya: mencari tahu apa yang sedang Tiffany lakukan. Gadis target itu masih membawa bukunya yang sebelumnya ke tempat barunya itu. Tetapi itu tidak menjadi perhatian Yuri. Arah pandangan mata Tiffany lah yang menjadi objektif Yuri.

Yuri memperhatikan gadis itu selama beberapa saat dan menemukan bahwa pandangan matanya tidak berubah sama sekali. Hanya tertuju pada satu arah, dan itu bukan pada buku yang dibawanya.

Fufufu. Kau benar-benar mencurigakan, Tiffany Hwang. Menguntit secara terbuka seperti itu.

Yuri mengikuti arah tatapan Tiffany. Pandangannya tertuju ke arah seberang ruangan dan seperti tebakannya, tertuju pada seseorang.

Jadi, ternyata aku benar, kan? Dia menyeringai bangga pada dirinya sendiri.

Merasa belum puas, Yuri memfokuskan penglihatannya lebih jauh pada gebetan Tiffany.

TUNGGUU??!!

Rahang Yuri menganga terbuka ketika dia menyadari siapa gebetan Tiffany itu.

”Ada apa, Yuri-yah?”

“Ah, bukan apa-apa.” Dia tersenyum. “Sica, apa kau bisa tetap disini? Aku harus mengkonfirmasi sesuatu.”

“Apa yang akan kau lakukan, Yuri-yah? Jangan melakukan hal bodoh.”

“Jangan khawatir. Aku tidak akan, Sica-yah.” Yuri menepuk pundak Jessica dan mendorong tubuhnya untuk bangkit berdiri. Dia meninggalkan Jessica di balik rak buku dan berjalan menuju gadis berambut hitam yang tidak tahu menahu tentang kehadiran Yuri. Dia menyentuh bahu Tiffany pelan

Tiffany jelas sekali sangat terkejut dengan sentuhan tiba-tiba itu karena dia hampir meloncat dari kursinya dan membalas dengan tergagap. “Yu…Yu…Yuri-yah?”

Yuri tersenyum dan duduk di samping Tiffany.

“A…apa yang kau lakukan disini?” Tiffany bertanya gugup, dahinya sudah berkeringat meskipun berada di dalam perpustakaan yang dingin.

“Aku tahu apa yang kau lakukan, Fany-ah.”

Tiffany tertawa garing. “Tentu saja. Apa lagi yang aku lakukan disini selain membaca?” Dia tertawa lagi untuk menyembunyikan rasa cemasnya.

“Kau sedang tidak membaca, kan?”

“Apa yang kau bicarakan? Aku sedang membaca.”

Yuri tersenyum. “Kau tidak mungkin membaca dalam posisi terbalik, ya kan?”

Tiffany segera melihat buku yang dibawanya dan kemudian menangkup wajahnya. Buku itu berada dalam posisi terbalik.

“Tidak apa-apa, Fany-ah.”

Tiffany akhirnya menghela napas dan menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Yeah, kau benar. Aku tidak sedang membaca buku.”

“Apa itu dia?”

Tiffany mengangguk malu-malu.

“Selama ini?”

Tiffany mengangguk lagi.

“Dan pertemuan dengan Mrs. Nam juga?”

Anggukan lagi.

“Maafkan aku, Yuri-yah. Aku tidak mau mengganggu kalian.”

“Tapi bagaimana bisa??”

Tiffany menutup matanya dan merenung sejenak.

“Hmm, Yuri-yah?”

“Ya?”

“Have you ever felt a butterfly in your stomach?”

 

To be continued…

Advertisements

Author: 4riesone

SONE. Follow me on Twitter @4riesone for updates and questions

18 thoughts on “Remember Me (Chapter 5)

  1. Hahaha yuri lemot apa lemot sih, knp gak ngaku aja klo cemburu sica dkt sm Sukjin, nih brtiga yoonyulsoo klo dah ngunpul ribut aja, fany ketahuan ya ngikutin org, siapa sih yg diikutin fany n bs bikin kupu” ddlm perut fany berterbangan, gw penasaran sm cewek kutu buku yg dtaksir sm fany, mg aja itu si taeng yaa..

    • Wkwk yuri emg rada2 lemot, kasian dy 😂
      Yoonyulsoo emg biang ribut, udh dilahirkan begitu haha
      Hmm, bisa iya bisa ngga 😆

  2. Cwe yg berkacamata tu siapose?! Tae kah.. Hadeh Fany sampe sgto ny.. Deket in lah ajak kenalan.. Drpd nguntit scra diem diem gto kn ga lucu.. Nah lho Yul d tanya tu sama Jessie.. Yul suka sama siapa

  3. Eaa fany jadi stalker. Pasti ngestalking taeyeon yaaa. Segitu terpesona nya sama seorang kim taeyeon wkwkwk
    Ngaku aja lah yul klo cemburu nya itu krn sicaa. Kirain gegara yulsic keasikan ngobrol mereka bakalan lupa sama tujuan awal nya buat mata2in fany haha

  4. Andai aja yuri jujur ma sica psti bkl selesai urusannya, tpi penasaran juga siapa yg jdi incarannya fany, semoga aja taeyeon.

  5. hhaha ciyeeeeeeee miss hwang lg fall in love nih 😁😁😁
    yul, bantuin si fany ya …

    identitas si gadis berkacamata belum keluar nih … 😌😌

    itu si sica salah paham deh jadinya,, 😞😞

  6. Yah muali bakal agak ruwet nih yulsic dasar anak sma hahaha

  7. Cie tiffany jatuh cinta nih ceitanya?? Wkwkwkwk 😁😁😁😁

  8. idihhhh…fany ngintilin tae mulu..nohh samperin aja..
    😉
    yuri di tanyain sica tuh..

  9. Gmn pun polosny si yuri, yaa lebih mengarah ke bego2 dikit tp jessi tetep terima yuri apa adanya yaa 😚😚😚

    Dan tippany pasti lagi ngintipin tae,,,iya kan thor??😝😝😝

  10. anjiiiir tiffany udah jatuh cinta aja sama si mata empat👏 seperti biasanya karakternya selalu frontal hahhahaa.. good lah, tinggal yulsic aja mau ke arah yg mana ehe ehe hhehhee..

Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s