rara0894

All about TaeTiSeo and GG

Remember Me (Chapter 4)

26 Comments

Title         : Remember Me

Author    : 4riesone

Genre      : Fluff, Romance, Yuri

remember me

Gullible – Chapter 4

 

Seorang gadis berambut coklat sedang bersiul di sepanjang koridor, berjalan dengan girang menuju ruang kelasnya. Yuri baru saja mendengar berita baik menyebar di sekitar sekolah. Dia tidak sabar untuk memberi tahu temannya soal ini, dan terutama seorang teman yang akan sangat sangat sangat senang untuk mendengar berita ini.

Yuri mendengar berita tersebut dari teman sekelasnya, Yumi, ketika dia sedang membeli cemilan di kantin. Gadis itu memberi tahunya tentang informasi yang di dapatnya ketika dia tidak sengaja menguping pembicaraan di ruang guru. Sekolah berencana untuk mempulangkan murid-murid lebih awal. Yuri segera meninggalkan Yumi seorang diri setelah mengucapkan terima kasih untuk infonya, tanpa menunggu temannya itu menjelaskan apa alasannya. Dia begitu tidak sabar menyebarkan berita baik ini hingga dia tidak peduli apa sebenarnya alasan mereka akan dipulangkan lebih awal.

Pintu ruang kelas masih tertutup ketika Yuri sampai disana. Tangannya sudah berada di gagang pintu ketika telinganya menangkap suara dari dalam ruangan. Itu adalah suara seorang anak laki-laki.

Dia membiarkan tangannya berada di gagang pintu dan berdiri terdiam disana sambil menajamkan indera pendengarannya supaya dia bisa mendengar percakapan di dalam.

“Aku tidak pernah berpikir aku bisa mencintai seseorang sebesar aku mencintai dirimu. Kita memulai semuanya sebagai teman, tetapi selama beberapa bulan terakhir aku sudah benar-benar jatuh cinta padamu.”

Omo, apa dia sedang menyatakan cinta pada seseorang?? Yuri bertanya-tanya dalam pikirannya. Dia tidak pernah menyaksikan pernyataan cinta sebelumnya dan sekarang dia bisa merasakan darahnya mengalir cepat akibat sensasi menegangkan ini. Dia menempelkan telinganya ke pintu untuk mendapatkan akses yang lebih baik terhadap percakapan itu.

Kau bukanlah tipe yang mengakui apa yang kamu rasakan begitu saja tetapi aku tahu di dalam hatimu kamu memiliki perasaan untukku juga karena aku tahu kamu tidak akan menghabiskan waktumu untuk sesuatu yang sia-sia. Aku tahu kau peduli.”

Tunggu. Tunggu. Tunggu. Tunggu sebentar. Dia menarik telinganya dari pintu. Bukankah itu Sukjin?? Mata Yuri membelalak. Sukjin sedang menyatakan cinta!!! Dia segera menempelkan telinga kembali ke pintu kelas untuk mengetahui apa yang akan terjadi setelahnya.

“Kamu adalah satu-satunya orang yang bisa membuatku tersenyum sebahagia ini. Dan aku menginginkan hal yang sama. Aku ingin menjadi alasan di balik senyuman indahmu.”

Dia gombal sekali, Yuri terkekeh sendiri sambil tetap menguping pernyataan cinta temannya itu.

“Aku berjanji selama jantungku masih berdetak, aku akan melindungimu, aku akan selalu membuatmu bahagia. Karena aku mencintaimu.”

Wah, wah, wah, cowok ini benar-benar sesuatu. Aku harus cari tahu siapa yang ditembaknya.

Yuri sedikit membuka pintu dengan gerakan pelan sebelum mengintip dari celah pintu. Dia hampir saja menggila ketika dia melihat adegan di dalam ruang kelas. Rahangnya dengan cepat terjatuh tanpa terkendali, matanya hampir terlepas dari tempatnya.

“Apa kau mau menjadi pacarku?”

Sukjin berlutut dengan satu kaki dan lengan kanannya terulur ke arah gadis di hadapannya dengan senyuman lebar di wajahnya.

INI TIDAK MUNGKIN.

“Ya, aku mau.”

Sambil berkata demikian, Jessica menggenggam tangan Sukjin dan tersenyum.

“TTTIIIIIIIIDAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKK!!!” Yuri berteriak sekuat tenaga dan begegas ke dalam kelas untuk memisahkan kedua tangan itu dengan paksa.

Baik Sukjin maupun Jessica sama-sama terkejut oleh kedatangan Yuri. Mereka berdua melihat pada gadis itu dengan raut kebingungan.

“Apa yang kau lakukan, Yuri-yah?” Tanya Jessica pada Yuri yang saat ini sedang terengah-engah.

“Seharusnya aku yang bertanya, Sica. Apa yang kau lakukan dengannya?” Yuri membalas dengan nafas berat.

“Sukjin?” Tanya Jessica lagi, masih dalam kondisi kebingungan.

“Yeah, siapa lagi.”

“Aku sedang berlatih untuk dramaku nanti, Yuri-yah,” jawab Jessica.

EEEEEEEKKKKKKHHHHHHHH???!!!

Saat itu juga Yuri berharap dirinya dapat hilang seketika dari penglihatan kedua orang di hadapannya. Atau dia akan menggali kuburannya sendiri sebelum mati karena malu. Atau apapun itu yang bisa menyelamatkannya dari keadaan yang memalukan ini.

Suara tawa keras dapat terdengar dari belakang Jessica dan sukjin. Suara tawa khas yang disertai dengan beberapa kali tepukan tangan milik si gadis berambut hitam.

“Kau ini lucu sekali, Yuri-yah. Mereka hanya sedang berakting,” komentar Tiffany di sela tawanya.

Yuri menutup mulutnya yang sedari tadi menganga dan mencoba untuk menenangkan dirinya kembali. “Benarkah itu?”

“Iya, Yuri-yah. Sebenarnya kau baru saja memotong sebelum bagian terbaik.”

“Bagian yang mana?”

“Adegan ciuman tentu saja.”

“AAAPPPPAAAAAAA?????!!!!” Yuri secara refleks berteriak dengan volume yang benar-benar keras dan matanya pun ikut membelalak untuk kedua kalinya.

Tiffany pun tertawa kembali melihat reaksi Yuri. “Aku hanya bercanda, Yuri-yah. Mengapa kau begitu panik?” Dia memegang perutnya sendiri karena tidak bisa berhenti tertawa.

“A…aku…” Yuri tidak mampu berkata-kata lagi setelah membuat malu dirinya sendiri untuk kedua kalinya.

“Kau lucu sekali, Yuri-yah,” Tiffany mendekati gadis berkulit kecoklatan itu. “Ayo kita pergi keluar. Sebaiknya kita tidak menganggu latihan mereka. Ayo,” dia pun menarik temannya itu keluar dari ruang kelas.

“Yah. Yah. Mengapa kau menarikku keluar??!!” Yuri mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Tiffany tetapi gagal karena gadis berambut hitam itu ternyata memiliki tenaga yang besar.

“Ssshh, Kwon Yuri. Kau berisik sekali,” kata Tiffany sambil mempertahankan genggamannya pada Yuri agar gadis itu mengikutinya menjauhi ruang kelas.

“Yah, Tiffany Hwang!!!”

“Mereka sedang latihan, Yuri-yah. Mereka butuh konsentrasi.”

Genggaman pada lengan Yuri akhirnya terlepas dan Tiffany memutar badannya agar menghadap Yuri.

“Tapi tidak dengan orang itu!!”

“Apa yang salah dengan Sukjin?”

“Dia…” Yuri berpikir sejenak. “Dia…”

“Dia apa?”

“Pokoknya jangan dia!!”

“Ada apa denganmu?? Bukannya kamu sudah setuju untuk mendukung Sica di drama ini??” Tiffany mengangkat alisnya.

“Tapi aku tidak tahu kalau dia adalah aktor utamanya.”

“Duh, Yuri-yah. Dia memiliki kemampuan akting yang bagus.”

“Tidak, tidak, tidak.” Yuri menggeleng panik. “Aku akan menghentikan mereka!!”

Dia baru saja akan berlari kembali menuju ruang kelas tetapi sebuah ketukan keras di kepalanya menghentikan dia untuk pergi lebih jauh.

“Yah! Fany-ah! Sakit,” ucap Yuri sambil mengusap kepalanya yang sakit.

“Makanya berhentilah bersikap kekanak-kanakan.”

“Aku tidak kekanak-kanakan.”

“Ya, Kwon Yuri. Kau kekanak-kanakan sekali.”

“Aku tidak begitu,” ujarnya sambil cemberut.

“Jika kau tidak kekanak-kanakan maka kau harus berhenti bertingkah aneh seperti ini.”

“Aku hanya tidak suka Sica berpasangan dengan dia.”

“Kenapa? Apa kau cemburu?” Tiffany menantang Yuri. Dia menatap gadis tinggi itu dengan tajam sambil menaruh kedua tangannya di pinggang.

“Hah?”

“Apa kau suka Sukjin?”

“Appaaaaa?!!” seru Yuri.

“Kau pasti cemburu hingga bersikap seperti ini.”

“Meehhh!! Aku tidak akan pernah menyukainya seumur hidupku,” ucap Yuri dengan ekspresi jijik yang jelas tergambar di wajahnya.

“Lalu?” Tiffany mengangkat alisnya.

“Aku hanya tidak suka dia.”

“Kenapa memangnya?”

“Pokoknya aku tidak suka dia.”

Tiffany tampak masih tidak yakin dan terus menatap gadis berambut coklat itu.

“Kenap akau menatapku seperti itu?” Yuri merasa tidak nyaman dengan tatapan Tiffany itu. Gadis berambut hitam itu pun bergerak mendekati wajah Yuri. Hal itu membuat Yuri menelan ludah.

“AHAAA!!!”

Jantung Yuri hampir saja meloncat keluar dari dadanya.

“Jangan membuatku kaget seperti itu!!!”

“Aku tahu,” Tiffany menjentikkan jarinya.

“Tahu apa?”

“Bukan Sukjin yang membuamu cemburu. Tapi Sica!” kata Tiffany dengan yakin. “Ya kan? Ya kan? Ya kan?” Tiffany mengangkat alisnya di setiap kata yang diucapkannya disertai dengan ekspresi menggoda sembari wajahnya semakin mendekati Yuri.

“Tidak Tidak. Tidak. A-apa yang kau bicarakan, Fany-ah?” Yuri tergagap.

Tiffany menusuk pinggang gadis berkulit kecklatan itu. “Katakan saja yang sebenarnya, Kwon Yuri.”

“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.”

“Jangan malu-malu, Yuri-yah. Kamu suka Sica, ya kan??”

“Aku….”

“Hmm?” Tiffany mendekatkan wajahnya pada Yuri.

“Aku…”

“Hmm?” Lebih dekat.

Sebelum Yuri bisa memberikan jawabannya, tubuhnya kehilangan keseimbangan akibat tubuh Tiffany yang menimpanya. Punggungnya pun membentur lantai.

“Omo. Maaf, Yuri-yah. Maaf.” Tiffany segera bangun dan membantu Yuri untuk kembali berdiri.

“Apa yang terjadi?”

Pertanyaan Yuri dijawab oleh suara ‘aduh’ dari belakang Tiffany.

Mereka menoleh untuk mencari sumber suara tersebut. Seorang gadis yang mengenakan seragam yang sama dengan mereka sedang mengusap kepalanya. Banyak kertas bertebaran di sekelilingnya. Dia kemudia mencari sesuatu di lantar dan akhirnya menemukan kacamata berbingkai hitam miliknya. Dia pun mengenakannya sebelum melihat ke arah Yuri dan Tiffany.

“Maafkan aku. Aku pasti sedang tidak melihat. Maaf,” ucapnya menyesal setelah kembali berdiri.

“Tidak apa-apa,” balas Tiffany. “Biar kubantu,” katanya sambil membantu gadis berkacamata itu mengumpulkan kertas-kertas yang berserakan. Begitu pula dengan Yuri. Setelah mendapatkan semua kertas, Tiffany dan Yuri menyerahkannya pada gadis itu.

“Terima kasih,” katanya sambil tersenyum. “Dan sekali lagi aku minta maaf.” Gadis itu membungkuk sekali sebelum akhirnya meninggalkan kedua gadis lainnya dengan cepat.

Yuri dan Tiffany pun saling bertukar pandang.

“Kenapa dia begitu terburu-buru?” Tiffany heran.

Yuri mengangkat bahu sebagai jawaban.

“Kau tahu dia?”

Sekali lagi, Yuri hanya mengangkat bahu sebagai jawaban.

“Hmm, aku juga belum pernah melihatnya.”

“Mungkin dia dari kelas lain.”

“Yeah, mungkin.”

Tiffany baru saja melangkah ke depan ketika dia merasakan sesuatu di bawah sepatunya. Itu adalah sebuah flash disk berbentuk dookong, mainan kacang polong dari film toy story. Dia mengangkat benda tersebut. “Ini pasti miliknya.”

“Mungkin.”

“Aku akan memberikan ini padanya.”

Tiffany tidak menunggu balasan Yuri dan segera berlari untuk mengejar gadis berkacamata tadi. “Fany-ah!!” Yuri hanya bisa mendesah saat temannya sudah menghilang dari koridor. “Heissh, anak itu.”

***

“Hey, itu punyaku!!”

Yuri berteriak saat melihat paha ayam miliknya terbang dari piringnya menuju mulut sahabatnya.

“Hyuuurr wonli nyering en it.”

“Hah apa?”

“Hyuuurr wonli nyering en it.”

Yuri memukul kepala Yoona dengan buku-buku jarinya. “Haish, jangan bicara dengan mulut penuh seperti itu! Aku tidak mengerti apa yang kau katakana.”

Yoona mengusap kepalanya sambil terus mengunyah ayamnya dan akhirnya menelan ludah untuk membersihkan mulutnya. Dia berbicara lagi setelah itu. “You’re only staring at it.”

“Oh…ya. Aku tidak sadar. Tapi bukan berarti kau bisa begitu saja mengambilnya.”

“Tidak baik membiarkan makanan hingga mendingin. Aku tidak bisa membiarkan pengorbanan ayam itu sia-sia hanya karena kau hilang dalam pikiranmu.:

“Haish. Apaan itu??! Itu hanya alasanmu saja.”

“Benar tau! Aku ini seorang pejuang hak makanan.”

Yuri tertawa mendengar kata-kata tersebut. “Itu adalah hal paling konyol yang pernah kudengar, Im Yoona.”

“Ney, ney, ney,” Yoona menggoyangkan jarinya di depan gadis berkulit kecoklatan itu. “Kau ketinggalan jaman sekali, Kwon Yuri.”

“Aku tidak ketinggalan jaman.”

“Tapi kau tidak tahu tentang pejuang hak makanan. Itu adalah LSM internasional!!”

“Yang benar saja,” ujar Yuri tidak percaya.

Yoona mendecak. “Kau harus mulai percaya padaku, Kwon Yuri.”

“Jadi itu benar?” Mata Yuri melebar. Dia hampir tidak percaya ada hal seperti itu di dunia ini. Apakah dia memang terlalu sibuk dengan hal-hal lain hingga dia tidak tahu sesuatu yang sepele seperti ini? Oh tidak, dia tidak bisa seperti ini.

Yoona mengangguk yakin. “Kau bisa memeriksanya sendiri di Google.”

Yuri segera mengambil handphonenya dan membuka browser. Dia mengetik ‘pejuang hak makanan’ di kotak pencarian. Saat hasil pencarian muncul di layar ponselnya, seketika itu juga dia merasa begitu bodoh. Tidak ada hal seperti itu di dunia ini, apalagi soal LSM, it hanya omong kosong. Di sisi lain, Yoona tertawa puas.

“Aku tidak pernah bisa mempercayaimu, Im Yoona.”

Yoona menunjukkan merongnya. “Aku tidak bisa tahan, Yuri-yah. Kau begitu lucu.”

“Apa kalian sudah selesai?” Potong sebuah suara dingin familiar dari salah satu teman mereka.

“DIa yang mulai, Sica.” Yuri cemberut.

Yoona hanya menunjukkan senyum malu-malu pada gadis berambut coklat muda itu.

“Aku tidak peduli siapa yang memulainya. Sooyoung ingin mengatakan sesuatu,” kata Jessica dengan acuh tak acuh. Dia tampak begitu bosan, terutama karena Yuri telah mengabaikannya sepanjang waktu makan siang karena tenggelam dalam pikirannya.

“Ah, ya,” gadis yang disebut pun angkat bicara. “Ini tentang rencana liburan kita. Apa kalian sudah minta izin pada orang tua kalian? Appa sudah menanyakan lagi soal hal ini.”

“Tentu saja aku sudah!” Yoona menjawab dengan antusias. “Aku diizinkan untuk pergi ke mana pun asalkan ada makanan yang tersedia,” tambahnya sambil tertawa.

Jessica hanya bisa menggeleng mendengar teman shikshinnya itu. “Bagaimana bisa hanya ada makanan dalam otakmu itu?”

“Ney ney ney,” Yoona menggoyangkan jarinya, memprotes.

“Kau salah, Sica-yah. Tidak hanya makanan, ada juga minuman di dalamnya,” Yoona melepaskan tawa alligatornya, merasa puas dengan gurauan kecilnya itu.

“Itu sama saja,” Jessica memutar bola matanya. “Ngomong-ngomong, orang tuaku juga sudah memberikan izin.”

“Oke, jadi Yoona dan Sica sudah pasti pergi. Bagaimana dengan kau, Yuri-yah?” ujar Sooyoung.

“Err,” Yuri menggaruk lehernya. “Sebenarnya, aku lupa menanyakannya,” dia mengakhiri dengan senyuman menyeringai.

Yang lain hanya bisa menangkup wajah mereka.

“Bagaimana kau bisa lupa, Yuri-yah? Aku sudah mengingatkanmu kemarin,” kata gadis tertinggi itu.

“Hehehe,” Yuri tersenyum malu-malu. “Maaf, Sooyung-ah. Sepertinya ingatanku sudah sedikit menurun.”

“Kata seseorang yang selalu protes soal terlupakan sekali.” Sebuah sindiran dingin terdengar di sisi Yuri.

“Yah, Sica. Jangan bicara seperti itu,” Yuri berkata pelan dengan wajah tidak senang.

Jessica mengangkat bahu. “Tapi benar kan?”

“Tidak.”

“Tapi kau selalu saja membicarakannya.”

“Itu hanya untuk lelucon saja, Sica.”

“Lelucon tidak seharusnya membuat sakit seperti ini.” Wajah gadis berambut coklat muda itu sudah menunjukkan ekspresi yang berbeda dari sebelumnya. Rautnya berubah muram. Dan suaranya pun menjadi lebih pahit.

“Huh?”

“Apa kau kira kata-katamu tidak akan menyakitiku? Kata-katamu seperti pedang yang menembus hatiku karena aku hanyalah seorang teman yang payah yang tdak bisa mengingat seseorang yng duduk di sampingku selama hampir enam jam.”

“Hey hey hey, Sica. Jangan menganggapnya serius. Itu hanya lelucon saja. Benar.”

“Lelucon? Lelucon? Lelucon? Apa kau bercanda?”

“Sica…” Yuri menelan ludah. “Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu.

“Kata-kata maaf tidak bisa selalu memperbaiki semuanya. Terutama tidak untuk sebuah hati yang hancur.”

“Sica…” Yuri tidak tahu harus berkata apa. Ekspresi Jessica benar-benar menakutkan. Rasanya seperti semua orang bisa tertelan ke bumi terdalam hanya dengan melihatnya saja. Nah, itu hanya imajinasi berlebihan Yuri saja. Karena sedetik kemudian, raut gadis berambut coklat muda itu pun berubah 180 derajat. Dan sebuah tawa puas lolos dari mulut gadis itu.

“EEEEKKKHHH???” Yuri menganga melihat temannya tersebut.

“Aku tidak percaya kau bisa tertipu dengan itu, Yuri-yah.” Jessica berkata di antara tawanya sambil memegang perutnya yang sakit akibat terlalu banyak tertawa.

“Kau benar-benar membuatku taku, Sica-yah.”

“Balas dendamku sukses kalau begitu,” Jessica berseru dengan senyum kemenangan.

“Jahatnya,” Yuri memberi merong pada temannya itu.

“Meh, kau lebih jahat dariku, Yuri-yah.” Sica membalas dengan merong yang sama.

“Apa?? Aku orang paling baik yang pernah ada di dunia ini. Bagaimana bisa aku menjadi orang jahat?”

Sica hanya tertawa mendengarnya.

“Hey, jangan mengejekku.”

“Kau yang memintanya.”

“Haiissh, dasar jahat!!” Yuri berdiri dari tempat duduknya dan melemparkan tatapan tajam pada gadis berambut coklat muda itu. Jessica tidak tinggal diam terdiam. Dia mendorong tubuhnya berdiri dari kursi untuk menandingi tatapan Yuri. Mereka berdua pun masuk dalam pertempuran tatap menatap dan tidak satupun dari mereka mau mengalah.

“Hey hey hey hentikan, dasar dua sejoli.”

“APAAAAA?” Kedua teman yang baru saja ‘bertengkar’ itu berteriak serentak.

“Ya ampun, santai dong.”

“Kalian akan membuat kami tuli,” tambah Yoona.

“Tidak sekeras itu juga. Aku yakin Tiffany bisa menghasilkan suara yang lebih keras.”

Mereka berempat tertawa mendengar ucapan Yuri sebelum Jessica menyadari sesuatu.

“Tunggu dulu,” kata Jessica.

“Huh?”

“Dimana Tiffany?”

“Ehh??”

 

To be continued…

***

A/N: Hello!! I’m back. Ya setelah liburan, akhirnya kembali ke masa-masa produktif lagi haha

Hmm, sebenernya aku rada mikir juga apa mau ngelanjutin translate ff ini ato ngga. The lack of comments saddened me somehow. Aku ga tau apa emang karena Yulsic sekarang udh ga populer ato karena ceritanya ga menarik ato karena terjemahannya aneh ato karena udah pada baca di aff ato karena hal lain. Ya yang jelas sedikitnya respons dari kalian bikin motivasi aku menurun. Jujur aja, nulis emang seru. Tapi baca feedback dari kalian lebih seru lagi. Mau panjang ataupun cuma sekedar beberapa kata.

Tapi setelah kupikir-pikir lagi, ya lanjutin dulu aja deh. Demi kalian yang udah mau baca ff ini 🙂

Oke deh, sekian @edisicurcol nya. See ya di update berikutnya. Annyeong~

Advertisements

Author: 4riesone

SONE. Follow me on Twitter @4riesone for updates and questions

26 thoughts on “Remember Me (Chapter 4)

  1. Hahahaha yuri segitu cembirunya ma sica, msh gak mau ngaku jg kli cemburu, eeh itu yg nabrak fany sm yuri siapa, taeng kah,

  2. Biasa aja kali yul sampe sgtunya klo cemburu bilang aja jangan sok jaim dahh, orang yg berkacamata itu siapa sihh taeyeon kahh hhaa ngarep bnget

  3. Yuri buset dah…..
    Wkakakakkaq
    Seloww ajaaa kaliii
    Klo cmburu ya ngmong aja
    Ngpin malu2
    Wkakakkaa

  4. Yuwre seharian penuh jd org bodoh yaa, gampang bgt dikerjain wkwkwk
    Yesss tokoh baru muncul dan itu pasti taeyeon, soulmate nya fany. Pasti fany lagi sama taeyeon tuh makanya gaikut ngumpul haha

  5. Mereka berdua lucuu. Yulsic 😆
    Yul kentara bgt cemburunya, pake malu malu kucing segala 😄

    Semoga yang punya flash dookong itu taetae *pray*

  6. Yuri cemburunya akut, byangin aja klo emang bneran jessica di tembak psti yuri bkaln nangis tu 7 hari 7 malem.

  7. hahaha yul gokilnya malah parah gitu ya ??? 😂😂
    cembokor sih cembokor yul ,,, tapi ga gitu juga kaleee 😂😂

    btw, tuh yg nabrak yul ama fany pasti taetae dong 😃😃

  8. Dokong itu tae yah..ah akhirx tae kluar juga hehehe yulsic emang bkon rusuh j hahaha asik thor ffx bkin senyum2

  9. Kyaaa suka suka..
    Yul bilang aja lu suka sama sica wkk.
    Dan yg d tabrak itu pasti taeng versi culun wkkk

  10. Cemburunya berlebihan si yul, bilang aja suka!! Iya kan???😁😁😁😁
    Ih fany main ngilang aj setelah ketemu pemilik flashdisk dookong 😏😏😏

  11. fany ngilang,kencan kali sama tae wkwkwkwk
    yulsic berantem mulu..berantem mesra aja deh biar gk ribut.
    😀
    😉
    😀

  12. Gw suka gaya yoona, mau dibawa kemana pun ato ditinggalin dimana pun asal ada makanan, dunia pun terselamatkan. Hahahaha 👍👍👍

  13. Lanjutiiinnn trs karena ff yulsic sdh jarang aku temui huuu.. 😢dan aku sangat suka sekali ttg yulsic
    aku sangat suka dgn alur cerita ini bnyk adegan komedi dan romantis…😍

  14. tiffany lagi ngejar si mata empat alias taeyeon kkekekeke..
    yulsic kayanya udah ada bumbu2 cintah nih 👻👻👻

  15. Duh yulsic sama2 malu2 kucing wkwkkw
    Jangan bilang cewe culun tadi itu tae?:v

Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s