rara0894

All about TaeTiSeo and GG

Remember Me (Chapter 3)

22 Comments

Title         : Remember Me

Author    : 4riesone

Genre      : Fluff, Romance, Yuri

remember me

Excellent Memory – Chapter 3

 

Pagi itu tidak berbeda dengan hari-hari biasanya di SMA Seoul. Hari yang membosankan itu dimulai dengan pelajaran sejarah yang memiliki kemungkinan tinggi membuatmu bosan selama satu jam penuh. Jelas saja, hampir semua murid di kelas itu tidak memperhatikan Guru Kang, guru sejarah, yang sedang menjelaskan tentang Dinasti Joseon.

Sebagian besar murid sedang sibuk dengan dunia mereka masing-masing, ada yang mengobrol, ada yang bermain games di handphonenya, ada yang sibuk dengan urusannya sendiri dan sisanya sedang berbahagia menjelajahi dunia mimpi mereka. Hanya segelintir murid yang benar-benar mendengarkan guru itu. Dan tentu saja, kelompok kecil ini tidak termasuk Yuri dan teman-temannya.

Tidak perlu lagi dijelaskan apa yang sedang dilakukan si duo shikshin. Semua orang sudah mengetahuinya.

Hal itu juga berlaku untuk Jessica Jung. Di samping kejadian vampir di bus yang hanya diketahui oleh teman-teman dekatnya, popularitasnya sebagai sleeping ice princess sudah terkenal di seluruh sekolah. Tidak terkeculi para guru.

Jessica saat ini sedang tidur dengan pulas, kepala di meja, disangga oleh buku pelajaranna. Dia bahkan tidak bersusah payah untuk menutupi dirinya dari penglihatan guru. Terkadang Tiffany tidak bisa mengerti apa yang ada di pikiran temannya itu. Bagaimana bisa dia begitu berani sekaligus ceroboh seperti itu?

Gadis berambut hitam itu sedang mengobrol dengan teman sebangkunya soal nenek tua pemarah di sebelah rumahnya di Amerika sana ketika dia melihat Yuri sedang bersiap untuk melakukan sesuatu pada temannya yang sedang tertidur.

“Apa yang kau lakukan, Yuri-yah?” Tanya Tiffany sambil menjaga suaranya tetap kecil agar Guru Kang tidak mendengarnya.

“Ssshhh!!” Yuri menaruh jarinya di bibir Tiffany sambil menoleh padanya dan menyuruhnya untuk diam.

“Yah, Yuri,” dia memukul lengan temannya itu. “Kau tahu Sica akan marah kalau ada yang menganggu tidurnya,” kata Tiffany lagi.

“Jangan khawatir,” balas Yuri santai.

“Jangan libatkan aku dalam hal ini,” Tiffany mengingatkan dengan tegas.

Yuri bergumam, “oke,” dan mengedip pada Tiffany sebelum menolehkan kepalanya kembali pada Jessica.

Mengetahui Yuri tidak akan membatalkan rencanya, Tiffany memutuskan untuk membiarkannya dan melanjutkan ceritanya tentang si nenek tua. Walaupun sudah menyaksikan begitu banyak versi murka Jessica, Yuri tidak pernah berhenti menganggu gadis berambut coklat muda itu.

Senyuman jahil sudah melekat pada wajah Yuri saat dia menggeser kursinya mendekat ke arah korbannya. Tangannya sudah siap dengan sebuah bulu, yang pada keadaan normal tentu tidak bisa ditemukan di ruangan kelas. Tetapi Yuri memang suka membawa barang-barang aneh seperti it ke sekolah, jadi tidak mengherankan lagi jika sekarang Yuri memilikinya untuk menjahili temannya.

Dia terkekeh sendiri sebelum menggerakkan tangannya sehingga bulu itu menyentuh ujung hidung Jessica. Bulu itu bergerak-gerak di kulit putih mulus hidung gadis itu, bergoyang perlahan kemudian bergerak dalam pola melingkar.

Yuri memperhatikan raut wajah korbannya itu tetapi Jessica tidak bergerak sama sekali.

Masih tertidur lelap ya, Sica? Yuri tersenyum jahil.

Kemudian dia pun melancarkan lebih banyak serangan pada korbannya itu. Bulu itu bergerak di sepanjang lekukan di atas bibir gadis itu dan menari-menari dalam gerakan melingkar. Yuri membiarkan bulu itu pada posisi demikian selama 10 detik hingga dia melihat pergerakan dari gadis yang tertidur itu. Mata Jessica mengerjap beberapa kali.

Yuhuuu, dia bereaksi juga!! Sorak Yuri dalam pikirannya. Skor 1 untuk Kwon Yuri!! Yuhuuuuuu!!

Yuri melanjutkan aksinya dalam menganggu tidur Jessica dengan senjata rahasia yang dibawanya itu. Dia tertawa sendiri melihat reaksi Jessica pada bulu yang bergerak itu.

Jessica pelan-pelan mengumpulkan nyawanya kembali dan mengusir pergi bulu itu dari wajahnya.

Sebagai seorang yang jahil tentu saja Yuri tetap melancarkan aksinya itu.

“Hentikan,” gumam Jessica tanpa mengangkat kepalanya.

“Hentikan,” gadis itu bergumam lagi karena orang yang menjahilinya belum juga berhenti.

“Hentikan, Yuri-yah.”

Ini menyenangkan, Yuri terkekeh lagi.

“Hentikan, Yuri-yah.”

Aku tidak akan berhenti sebelum kau bangun, Sica.

“Yuri-yah.”

Ya?

“Yuri-yah.”

Apa, Sica-yah?

“Hentikan.”

Apa?

“Geli.”

Oh ya?

“Geli, Yuri-yah.”

Benarkah?

“Hidungku geli, Yuri-yah.”

Oh, aku tahu itu, Sica-yah.

“Kenapa kau tidak berhenti juga?”

Yuri menutup mulut dengan tangannya supaya suara tawanya tidak terlalu keras. Dia begitu menikmati percakapan khayalan tadi.

Aku sedang menunggu tuan putriku bangun. Yuri terkekeh lagi memikirkannya. Dia merasa geli dengan pikirannya sendiri.

“Hentikan sekarang juga, Yuri-yah.”

Bagaimana kalau aku tidak mau?

“Hentikan sekarang juga, Yuri-yah.”

Aku akan berhenti jika kamu bangun.

“Hentikan sekarang juga, Kwon Yuri.”

Yuri menunjukkan senyuman jahilnya. Dia tahu jika nama panjangnya sudah disebut berarti ice princess sudah berada di tahap akhir. Dengan satu gerakan terakhir, Yuri menggerakkan bulu miliknya hingga menginvasi bulu hidung Jessica.

Dia berhitung dalam hati.

Satu.

Dua.

Tiga.

“KWON YURRRIIIIIII!!!!!”

Teriakan itu begitu keras hingga semua orang di ruangan itu mengalihkan perhatian mereka padanya. Jessica saat ini sudah terbangun. Benar-benar terbangun. Dia bahkan berdiri dari tempat duduknya. Sekarang dia sedang terengah-engah akibat teriakan yang baru saja dia lakukan beberapa detika yang lalu sambil memberikan tatapan tajam pada orang yang menjahili dia dalam tidurnya.

Di lain pihak, Yuri bersikap seolah-olah tidak bersalah sambil mencoba menghentikan tawanya yang tidak kunjung berhenti. Jessica mempertajam tatapannya ketika dia melihat Yuri menggerakkan matanya ke arah sebelah kiri, mengisyaratkan sesuatu padanya.

Jessica terkejut ketika dia melihat seorang pria yang benar-benar terlihat mirip dengan guru sejarahnya sedang berdiri di samping mejanya.

Oh tidak. Jessica menggerutu dalam hati.  Dia memang bapak guru sejarah. Siapa ya namanya? Mr. Baek? Mr. Park? Mr. Han? Ah bukan, bukan, bukan, Dia menggelengkan kepalanya tanpa sadar. Mr. Jang? Ah sepertinya mirip. Dia menganggukan kepalanya. Ohhh!!!

“Aku tahu, aku tahu!! Anda Mr. Kang, bukan?” teriak Jessica refleks.

Semua murid tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Jessica.

“Iya, itu saya!!” jawab guru dengan mata tertuju pada Jessica. “Apakah ada masalah dengan itu, Miss Jung?”

“Emm, tidak Pak,” jawab Jessica canggung.

“Baiklah. Jadi kenapa anda masih berdiri, Miss Jung?” Tanya guru itu lagi.

Merasa bodoh, Jessica segera duduk di kursinya kembali. Tidak lupa memberi tatapan mematikan pada teman berkulit coklatnya yang haya membalas dengan sebuah merong.

“Kembali ke pelajaran,” guru Kang berjalan kembali ke depan kelas.

“Joseon adalah kerajaan Korea yang berdiri selama kurang lebih lima abad, dari Juli 1392 hingga Oktober 1897. Salah satu pemimpinnya adalah Raja Sejong. Beliau diberi gelar ‘Raja Sejong Agung dari Joseon’. Mengapa belau mendapatkan gelar ini?” Pria itu bertanya sambil berjalan-jalan di depan kelas. Dia berhenti di mejanya dan menghadap ke arah para murid.

“Miss Jung?”

“Ini semua salahmu, Kwon Yuri,” gumam Jessica.

Yuri yang duduk di sampingnya hanya tersenyum mendengarnya.

“Apa jawaban anda, Miss Jung?” guru Kang bertanya lagi.

“Karena dia hebat,” jawabnya asal.

Mendengar tawa murid lainnya, Jessica melanjutkan, “seorang raja yang benar-benar hebat, menurut saya,” masih dengan sikap acuh tak acuhnya.

“Tentunya anda dapat menjelaskan pada kami mengapa anda menganggap beliau sebagai raja Joseon yang benar-benar hebat,” guru Kang menanggapi dengan nada tajam.

Jessica mengangkat bahunya, mengisyaratkan bahwa dia tidak akan menjawab pertanyaan itu.

“Miss Jung, itu sebabnya anda harus membaca buku anda, bukan menggunakannya sebagai bantal,” kata guru itu kepada si gadis berambut coklat muda.

“Saya tahu, itu bukan hanya anda, tapi hampir kalian semua tidak menyukai kelas ini. Saya tidak bodoh ataupun buta. Saya tahu apa yang kalian lakukan ketika saya sedang menjelaskan tentang sejarah bangsa kita.”

Kelas itu dibungkam oleh kata-kata guru Kang, kecuali dua orang shikshin yang masih saja sibuk dengan makanan mereka.

“Kalian berdua, Im Yoona, Choi Sooyoung, berhenti makan di kelas saya!”

Kedua gadis itu menjatuhkan kantong keripik mereka ke lantai karena terkejut mendengar nama mereka disebut tiba-tiba.

“O..oke, Pak,” jawab Sooyoung. Dia dan teman shikshinnya segera menundukkan kepala mereka takut.

“Saya tida peduli apa yang kalian lakukan selama kalian bisa mengerti apa yang saya ajarkan. Don’t be such a dumbass rascal. Instead be one cunning brat.”

Guru itu mengamati kelasnya. Tidak ada murid yang berani menatapnya sama sekali.

“Jadi saya ulangi pertanyaan saya sekali lagi. Mengapa Raja Sejong disebut ‘Raja Sejong Agung dari Joseon’?”

Jessica menghela nafas sebelum mengangkat kepalanya.

“Selama masa pemerintahan Raja Seong, Korea mengalami perkembangan di bidang sains, agrikultur, literatur, pengobatan tradisioal China dan juga teknik mesin. Karena kesuksesan tersebutlah beliau diberi gelar demikian.” Jessica akhirnya menjawab dengan percaya diri yang membuat teman sekelasnya beserta guru Kang memandang ke arahnya.

“B..baik. Itu benar, Miss Jung,” kata guru itu, tidak menyangka Jessica akan menjawabnya dengan benar.

“Wow, itu luar biasa, Sica-yah,” Yuri menyenggol teman sebangkunya itu dan mengedip padanya.

“Jangan mengedip padaku,” balas Jessica ketus.

Yuri hanya terkekeh mendengar balasan Jessica.

Guru Kang melihat interaksi antara Yuri dan Jessica. “Selanjutnya, kapan Raja Seong memerintah Joseon?” dia berhenti sejenak “Miss Kwon?”

Yuri terkejut mendengar namanya dipanggil. Dia tidak ingat apapun yang ada di buku.

“Emmmmm…. Dahulu kala?”

Jawaban Yuri membuat kelas tertawa riuh kembali. Yuri menyeringai malu-malu sedangkan Jessica menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.

“Kapan itu tepatnya yang anda maksud dahulu kala, Miss Kwon?”

Yuri menggaruk kepalanya yang jelas-jelas tidak gatal. “Emm…Maafkan saya, saya,” ucapan Yuri terpotong sebelum dia sempat menyelesaikannya.

“1418-1450,” Jessica menjawab dengan sikap acuh tak acuh, mewakili Yuri.

Guru Kang memandang Jessica dan Yuri dengan raut wajah yang jelas-jelas kesal. “Terima kasih sekali atas jawabannya,” segera dia mengalihkan maanya pada gadis berambut coklat muda itu, “MISS KWON,” sambil menekankan nama Yuri pada Jessica.

“Dengan senang hati, Pak,” balas Jessica dengan senyuman puas.

The class was erupted in a ‘wow’ voice while having a ‘very impressive’ look on their face.

Yuri mengucapkan ‘terima kasih’ pada Jessica tetapi gadis itu tidak memberikan tanggapan.

“Wah, wah,” kata guru itu. “Miss Jung, saya melihat ternyata anda cukup tertarik dengan Raja Sejong. Bagaimana anda mempelajarinya?”

“Saya membaca bantal saya di rumah,” jawab Jessica, jelas tidak senang dengan pertanyaan gurunya itu.

Kata-katanya memicu luapan tawa di sekitar kelas kembali.

“Kalau begitu mari kita lihat seberapa banyak yang anda baca dari bantal anda itu.” Guru Kang sudah tidak menyembunyikan kekesalannya lagi.

“Apa peran Raja Sejong terhadap Bahasa Korea?”

“Dia memperkenalkan Hangul.”

“Kapan pertama kali Hangul diterbitkan?”

“1446.”

“Apa penyebab kematian Raja Sejong?”

“Komplikasi diabetes.”

“Siapa penerus Raja Sejong?”

“Raja Munjong.”

“Berapa usia Raja Munjong ketika beliau naik tahta?”

“Dua belas tahun.”

“Berapa lama Raja Munjong memerintah?”

“Dua tahun.”

You’re one cunning brat, Miss Jung. Mari kita lihat apa kau masih bisa menjawab pertanyaanku kali ini.

“Dimanakah lokasi makam Raja Agung Sejong?”

Kali ini, Jessica tidak segera menjawab pertanyaan gurunya itu.

Guru Kang tertawa dalam hatinya. Gotcha you cunning brat. Itu tidak ada dimanapun dalam bukumu. Kau tidak akan tahu.

“Di Yeoju, Provinsi Gyeonggi.”

Bagaimana bisa?!!

“Sekarang, dima—“

RRRRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINNNNNNNNNNNNGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGG!!!

Bel berbunyi menandakan kelas telah berakhir. Murid-murid bersorak sorai di dalam kelas.

“Saya pikir anda harus menyimpan pertanyaan anda untuk kelas berikutnya, Pak,” Yuri bersuara.

Merasa kesal, Guru Kang menghentikan sesi tanya jawabnya dan berjalan meninggalkan kelas.

“Tadi itu kelas Guru Kang yang paling menyenangkan,” ujar Yuri sambil dia beranjak dari kursinya dan berjalan menuju ke depan meja Jessica.

“Tidak,” jawab Jessica singkat.

“Oww ayolah, Sica. Tadi itu menyenangkan. Aku tahu kau juga menikmatinya.” Yuri berlutut dan meletakkan kepalanya di meja sambil memandangi temannya itu.

“Jangan menatapku seperti itu, Kwon Yuri. Kita tidak sedang berteman sekarang.” Jessica memalingkan wajahnya hingga Yuri tidak bisa melihat mukanya lagi dan juga menyilangkan lengan di depan dadanya.

“Masih marah?”

Jessica memalingkan wajahna lebih jauh, tidak menjawab pertanyaan Yuri.

“Kenapa kau membantuku kalau begitu?”

“Aku tidak membantumu.”

Yuri tertawa melihat gadis keras kepala di hadapannya.

“Seluruh kelas melihatnya, Sica. Kau menjawab pertanyaan yang ditujukan padaku.” Dia berjalan ke samping agar bisa melihat wajah Jessica lagi.

“Jangan terlalu ke-GR-an, Kwon Yuri. Aku hanya tidak suka dia memandang remeh kita.” Jessica menjawab masih dengan nada tidak senang sembari memutar wajahnya menjauh dari tatapan Yuri.

Kau terlalu jual mahal, Sica. Yuri tertawa memikirkan hal itu.

“Baiklah, baiklah. Kau tidak membantuku,” Yuri melemparkan lengannya ke udara sebagai tanda menyerah.

“Itu baru benar,” gumam Jessica.

“Tapi, Sica,” Yuri berjalan lagi dan menaruh kepalanya di atas meja, tepat di depan Jessica, sehingga dia bisa melihat wajah gadis yang lebih pendek darinya itu. “Kau benar-benar luar biasa. Bagaimana bisa kau tahu semua itu? Aku bahkan tidak tahu apa-apa sama sekali.”

Dalam hitungan detik, Yuri berteriak, “Oouccchh!” Dia mengusap dahinya yang baru saja dipukul dengan ‘bantal’ Jessica. “Sakit, Sica!!”

“Uups, maaf. Aku hanya ingin memeriksa apakah ada otak di dalam tengkorakmu yang tebal itu atau tidak,” Jessica menjawab sinis.

“Yah, Sica!! Tentu saja aku punya!!” protes Yuri. Dia mengangkat kepalanya dari meja dan berdiri tegak.

Jessica pun akhirnya tertawa. “Kalau begitu lebih baik kau mengisinya sedikit dengan pengetahuan,” katanya sambil menjulurkan lidah.

“Aku sudah melakukannya, Sica-ya,” jawab Yuri. “Buku ini,” dia mengambil buku sejarah Jessica, “aku sudah membacanya,” katanya dengan bangga. Tapi kemudian dia melanjutnya, “Hanya saja tidak ada yang aku ingat.” Dia pun terduduk di kursi terdekat dengan tidak semangat.

“Bagaimana kau bisa melakukan itu?” Yuri bertanya pada Jessica.

“Melakukan apa?”

“Mengingat semua itu?”

Jessica mengangkat bahu. “Aku tidak tahu. Aku mengingatnya begtu saja.”

“Kau benar-benar luar biasa, Sica. Menakjubkan. Menakjubkan,” komentar Yuri.

“Tentu saja,” jawab Jessica asal.

“Yuri terkekeh mendengarnya. “Baru beberapa menit yang lalu seseorang mengatakan padaku untuk tidak terlalu ke-GR-an,” goda Yuri.

“AKu hanya menyatakan fakta,” gadis berambut coklat muda itu menjulurkan lidahnya pada Yuri. Mereka akhirnya tertawa lepas melihat kekonyolan masing-masing.

“Sica-yah,” panggil Yuri.

“Ya?”

“Bagaiamana kau bisa mengingat begitu baik?” Yuri masih saja tetap bersikeras mendapatkan jawaban.

“Aku tidak sehebat itu, Yuri-yah. Sebenarnya, aku hanya beruntung mengetahui semua yang dia tanyakan.”

“Oww, ayolah, Sica-yah. Kau tidak mungkin seberuntung itu bisa menjawab 9 pertanyaan dengan benar.”

“Mungkin aku memang seberuntung itu,” Jessica mengangkat bahu.

“Oh yang benar saja, Sica. Itu tidak mungkin. Pasti ini karena otakmu yang cemerlang.”

“Kenapa kau begitu penasaran sih?”

Yuri tidak langsung menjawab.

“Kenapa, Yuri-yah?”

“AKu tidak bisa mengerti bagaimana kau bisa begitu baik dalam mengingat tentang sejarah negara kita,” Yuri menjawab dengan suara rendah.

Jessica menyadari perubahan suara Yuri itu.

“Apa yang salah, Yuri-yah? Hanya itu saja?”

“Aku hanya tidak bisa mengerti.”

“Ini bukan soal guru Kang, bukan?” Jessica menatap Yuri, memperhatikan raut wajahnya.

“Kau benar-benar memiliki memori yang bagus, Sica-yah.”

“Dan kenapa itu menghiraukanmu?” Jessica melanjutkan.

“Tapi kau bahkan tidak mengingatku pada pertemuan pertama kita.” Yuri bergumam pelan.

Oh. My. Goodness. Itu lagi. Sica menepuk dahinya.

“Yuri-yah, kita sudah membicarakan hal ini.”

“Aku tahu, aku tahu. Tapi kau benar-benar kejam, Sica. Kau ingat semua tentang Raja Sejong tapi tidak sama sekali tentang aku.” Yuri berbicara dengan penuh keras kepala.

“Yah, Yuri!! Kenapa kau membandingkan dirimu dengan Raja Sejong??”

“Tapi itu benar.”

“Ya ampun Yuri! Jangan konyol seperti ini.”

“Aku tidak seperti itu.”

“Iya, Kwon Yuri. Kau cemburu dengan leluhu kita.”

“Cemburu? Tentu saja tidak. Siapa yang cemburu? Aku tidak cemburu!” ucapnya sambil menggoyangkan tangannya tanda menyangkal.

“Kalau begitu jelaskan apa yang sedang kau lakukan sekarang ini,” tantang Jessica.

Yuri terkejut dengan tantangan itu. Dia tidak menyadari bahwa dirinya kembali membicarakan kejadian itu. Semuanya keluar begitu saja dari pikirannya.

“Baiklah, mungkin hanya sedikit.”

“Nah!!” kata Jessica dengan seringai kemenangan di wajahnya.

“Tapi. Tetap saja. Kau yang jahat, Sica,” ujar Yuri sambil cemberut.

“Apa kita perlu membicarakan hal ini sekarang?”

“Ya. Harus. Karena sekarang aku tahu kalau kau mempunyai ingatan yang bagus, Sica.:

“Ya ampun, Yuri-yah. Kenapa kau begitu keras kepala sih?”

“Aku memperjuangkan hakku,” dia bermerong ria.

“Hakmu?” Jessica bertanya, tidak mengerti apa yang Yuri maksud.

“Hakk untuk diingat,” Yuri berhenti sejenak. “Olehmu,” dia membisikkannya malu-malu dan kemudian menyembunyikan pipinya yang memerah.

Apa telingaku mendengarnya dengan benar? Baru saja dia bilang ‘olehmu’?

“Omo, Yuri-ah, kenapa kau jadi malu-malu begini?” Jessica tertawa melihat tingkah Yuri.

Yuri masih mencoba untuk membuat pipinya yang memerah menjadi normal kembali. Dia menepuk pipinya beberapa kali.

“Kau lucu!!”

Jessica tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mencubit pipi Yuri. Tindakannya itu tidak membantu Yuri sama sekali. Pipinya malah menjadi semakin memerah.

“Kau seperti tomat panggang, Yuri-yah,” komentar Jessica sambil terkekeh.

“Tomat panggang?”

Jessica mengangguk. “Kulit coklat dan pipi merahmu,” jawab Jessica, tidak lupa untuk tertawa setelahnya.

Yuri menutupi wajahnya dengan tangannya, merasa benar-benar malu.

“Hey, hey, aku hanya bercanda.”

Jessica masih tidak bisa menghentikan tawanya.

“Jahat,” Ujar Yuri setelah menjauhkan tangannya dari wajahnya.

Jessica tersenyum menyeringai mendengarnya.

“Aku masih tidak bisa percaya kau tidak bisa mengingatku sama sekali,” Yuri mengubah topik mereka kembali.

Dia benar-benar keras kepala tentang hal ini, pikir Jessica.

“Aku benar-benar tidak ingat, Yuri-yah.”

“Tapi kau memiliki otak yang cemerlang, Sica-yah,” Yuri beralsan.

“Yah, mungkin aku punya,” dia mengangkat bahunya. “Tapi aku sudah bilang padamu, Yuri-yah. Aku sangat mengantuk saat itu. Dan berdasarkan penelitian terakhir, konsentrasi otak manusia menurun hingga 80% saat mereka menganuk. Itu menjelaskan mengapa ingatanku tentangmu begitu kabur.”

“Meh, apa itu?” Yuri tidak mau percaya.

“Itu hasil penelitian, Yuri-yah.”

“Penelitian apa? Aku tidak pernah mendengarnya.”

“Suatu penelitian di internet.”

“Benarkah?”

“Iya.”
Yuri menggeleng. “Tidak. Tidak. Aku tidak peduli dengan penelitian itu. Pada kenyataannya kau sudah melupakan seseorang seperti aku. Seseorang yang mengagumkan. Padahal jelas sekali kau memiliki otak yang cerdas.”

“Itu penelitian yang valid, Yuri-yah.”

“Lalu kenapa hanya aku?”

“Aku juga tidak tahu soal itu.”

“Apa kamu membenciku?”

“Omo, Yuri-yah. Kau tahu itu tidak benar. Aku minta maaf, oke? Aku benar-benar menyesal soal ini semua. Aku tidak pernah bermaksud untuk melupakanmu. Hanya saja yang terjadi seperti itu. Aku minta maaf, ya?” Jessica terdengar begitu tertekan.

Di sisi lain, Yuri tersenyum sepanjang waktu Jessica sedang berbicara.

Jessica melihat perubahan ekspresi Yuri itu. Dia mengangkat satu sisi alisnya. “Ada apa ini, Yuri-yah?”

Yuri terkekeh geli selama beberapa saat sebelum meledak dalam tawa.

Jessica segera menyadari apa yang baru saja terjadi. Yuri sedang menjahilinya lagi.

“KWON YURRRRRIIIII!!!”

Yuri segera melarikan diri untuk menyelamatkan hidupnya dari amukan Ice Princess.

To be continued…

***

A/N: Fiuh~ Ini chapter panjang juga ya. Hampir 3000 kata .-. Sampai pegel terjemahinnya hahaha Oke deh, jangan lupa tinggalin komentar di bawah ya. Annyeong~

P.S: Selamat hari raya Idul Fitri 1437 H ya bagi yang merayakan. Mohon maaf lahir dan batin 😊

Siapa yg banyak dpet THR hari ini? Hahaha 😁

Advertisements

Author: 4riesone

SONE. Follow me on Twitter @4riesone for updates and questions

22 thoughts on “Remember Me (Chapter 3)

  1. Hahahaha dasar yul emng selalu iseng ya, udh tau sica galak msh aja jahil

  2. Jessie keren ahmad punya daya inget yg wow.. Tp knp dgn ingatan Jessie tenang Yuri.. Poor Yuri

  3. Yuwre jahil bgt sih sama sica, modus yee biar diperhatiin sama sica wkwk. Kejahilannya itu yg bikin ngakak. Apa pula soona lagi pelajaran masih sempet2nya makan XD

  4. Yurii yang jail dan sica yang selalu jdi mangsanya 😂
    Sweet, mereka berdua cocok dalam dunia FF 😁

  5. Hahaha, yuri iseng bget ma sica, klo orang lain sih bkl takut tu ma ekpresi sica tpi klo yuri suka bget mancing amarahnya.

  6. wuuhhh … disini yul berani amat ngejahilin njess … padahal temen2 yg lain pada takut kalo liat njess murka 😂😂

  7. Tuh kan knp jg cm yuri…yuri jgn isengin jess trus dong kasian..thor sdkit masukan j jessica kl manggil tiffany itu “tiff” kl tiffany manggil jessica itu “jessi” dan itu cm mrka ber2 yg manggil gitu bknx sica n fany..masukan j kpk thor

  8. Hak untuk d ingat ya yul?? Bisa aja sih alesannya 😁😁😁😁

  9. yuri jahil banget..hehehe
    😀
    😀
    😀

  10. Omoooo, itu otak encer amaaat. Dr mode sleep bisa lgsg mode on selesai dijahili yuri trs bisa jwb semua pertanyaan dg gampang. Otaknya beli dimana tuh thor?? Bisa tlg tanyain kagak???

  11. Serius sepanjang baca ceritanya entah kenapa aku senyum” mulu…
    wkwkwkwkwkwk…

  12. masih aja dibahas kejadian didalem bus, edan si yuri mah. ujungnya cuma ngejailin sica supaya dia ngomong banyak hahahaha…
    percintaannya belom dimulaikah?😁

  13. Pelajaran aja diinget yul enggak wkwk
    Disini yulsic cute banget sih😍

Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s