rara0894

All about TaeTiSeo and GG

Remember Me (Chapter 2)

15 Comments

Title         : Remember Me

Author    : 4riesone

Genre      : Fluff, Romance, Yuri

remember me

Missing Out – Chapter 2

 

“Ayo, Sica. Cepat. Cepat. Cepat. Kita sudah telat nih,” gadis berambut hitam berteriak pada temannya yang berjalan di belakang. Dia sudah berlari sekuat tenaga untuk mencapai gerbang sekolah tetapi temannya itu hanya berjalan dengan malas.

Dia menarik gadis berambut coklat muda itu agar dia berjalan lebih cepat.

“Lagipula kita sudah telat, Fanyah,” balas Jessica dengan malas.

“Tidak. Tidak. Tidak. Kita masih punya waktu. Ayo,” gadis bernama Tiffany itu berkata sekali lagi dan menarik Jessica sedikit lebih keras. Dia berlari mengerahkan seluruh tenaganya sambil bersusah payah untuk membuat temannya itu menyamakan kecepatan mereka.

“Maaf nak. Kalian telat.” Penjaga sekolah menghentikan kedua gadis itu tepat di depan gerbang sekolah.

Tiffany sedang terengah-endah, tangan di lututnya, mencoba menenangkan nafasnya.

“Tuh. Sudah kubilang kan,” kata Jessica datar.

Tiffany menatap skeptis pada gadis yang berdiri di sampingnya itu.

“Apa??!” protes Jessica seolah-olah dia tidak melakukan kesalahan apapun.

“Terserah kau mau bilang apa deh. Aku sudah lelah setelah berlari tadi,” Tiffany membalas.

“Ini.”

Tiffany melihat beberapa lembar tisu ditawarkan padanya. Dia mengambilnya sambil menyembunyikan senyumannya. “Terima kasih.”

“Sama-sama.”

Kedua gadis itu pergi dari depan pintu gerbang dan bergabung dengan murid-murid lain yang juga terlambat datang.

“Berkumpul disini anak-anak.” Guru Jang muncul dan memulai nasihatnya pada murid-muring mengenai disiplin dan semacamnya.

“Hari ini adalah hari pertama di semester ini, jadi untuk sekarang, kami akan memaafkan kalian. Tetapi tidak akan ada lagi ampun ke depannya. Sekarang masuk ke kelas kalian masing-masing. Ayo, cepat!” Guru Jang membubarkan murid-murid tersebut, termasuk Jessica dan Tiffany.

“Hohoho. Guru itu benar-benar baik hati!”

Tiffany bisa mendengar seseorang sedang berbicara di sebelah kanannya.

“Oh my god!!! Yuri-yah!!” Tiffany berteriak tepat di telinga Jessica setelah melihat siapa orang tersebut. Jessica segera menutup telinganya dari suara super keras itu sebelum gendang telinganya pecah.

Ugh, apa dia pernah memakan mic sebelumnya, pikir Jessica sambil mengusap telinganya.

“Fany-ah!!” Gadis yang dipanggil Tiffany itu membalas sama kerasnya dengan Tiffany. Dia mendekati Tiffany dan Jessica.

“Apa kau terlambat juga?” Tanya Tiffany.

“Yep. Dua shikshin di belakangku terlalu sibuk makan sampai lupa kalau mereka harus pergi sekolah.” Yuri menunjuk Sooyoung dan Yoona di belakangnya. Kedua gadis yang dimaksud hanya tersenyum mendengarnya.

“Sama, Yuri-yah. Aku butuh usaha lebih untuk membangunkan princess satu ini,” sindir Tiffany.

“Hey, hey, jangan salahkan aku. Aku sudah bilang padamu untuk meninggalkanku saja,” Jessica membela diri.

“Baiklah. Aku akan meninggalkanmu saja lain kali.”

“Oke. Tidak masalah,” dia mengangkat bahunya tidak peduli.

“Tapi kita benar-benar beruntung. Guru Jang tidak memberi kita hukuman sama sekali. Dan menurutku jika dia menghukum kita pun, rasanya tidak akan terlalu buruk. Setidaknya aku menjalani hukuman itu bersama dengan dua temanku itu, dan sekarang, aku tahu ada dirimu juga,” ujar Yuri dan kemudian tertawa santai seperti dia sudah mengenal Tiffany untuk waktu yang lama.

“Yeah, rasanya kau benar juga. Terkadang kita butuh berpacu dengan adrenalin,” Tiffany tertawa senang.

“Kita sudah harus masuk. Pasti guru sudah menunggu kita di kelas.” Tiba-tiba Jessica memotong pembicaraan antara kedua gadis itu. “Ayo.” Dia menarik lengan mereka berdua menuju arah gedung sekolah dan memulai hari pertama mereka di sekolah menengah atas.

***

Sejak hari itu, Jessica menemukan bahwa dia dan keempat gadis lainnya ternyata adalah teman sekelas dank arena Tiffany, satu-satunya orang yang dia kenal dengan baik di sekolah baru itu, berteman dengan trio tersebut, secara otomatis dia pun berteman dengan Yuri, Yoona dan Sooyoung.

Sudah dua setengah bulan sejak semester baru dimulai dan keempat gadis itu semakin hari semakin dekat, hampir selalu menghabiskan waktu mereka di sekolah bersama-sama. Seperti hari-hari lainnya, mereka akan menghabiskan waktu mereka setelah sekolah yang melelahkan di rumah Sooyoung, terutama karena jaraknya yang dekat dari sekolah dan juga rumah yang paling mampu menyediakan kebutuhan kelima gadis itu, mempertimbangkan dua orang dari mereka itu adalah pemakan segala.

“Berikan padaku!!”

“Tidak mau!!”

“Satu saja!”

“Tidak!”

“Yah, berikan padaku!!”

“Tidak akan!!”

“Berikan padaku dasar kau cewek pelit!!” Yoona melancarkan serangan penuh pada Sooyoung yang terus saja menggerakan nampan berisi cupcake jauh dari jangkauannya. Gadis dengan nampan itu berusaha melarikan diri tetapi si penyerang jauh lebih cepat darinya, juga lebih kuat. Mereka akhirnya berakhir saling mengunci satu sama lain dan melupakan cupcake yang mereka perebutkan sebelumnya.

“Hey, hey, hentikan kalian berdua. Daftarkan saja diri kalian di klub bergulat daripada kalian terus saja berkelahi di sini,” komentar Yuri setelah melihat pertarungan kedua temannya itu.

“Kalian berdua seperti remaja labil sedang memperebutkan cowo saja,” tambah Tiffany.

“Kami memang masih remaja, Fany-ah!” Kedua gadis itu memprotes bersama-sama, masih dalam posisi gulat mereka, lengan dan tungkai saling berkaitan satu sama lain.

“Oke. Oke. Santai,” Tiffany bergerak mundur, takut dengan kedua gadis yang penuh semangat itu.

Sore itu tidak berbeda dengan hari-hari biasanya. Sooyoung dan Yoona memperebutkan makanan, Yuri dan Tiffany akan melerai mereka berdua, lalu bagaimana dengan gadis yang satu lagi, Jessica? Tidak ada hal lain yang akan dia lakukan selain tidur. Entah karena dia selalu lelah setelah sekolah seharian atau memang karena dia begitu suka tidur. Tetapi pilihan kedua memang lebih cocok untuknya. Dia benar-benar bisa tidur di mana saja dan kapan saja. Kali ini, dia memilih yang lebih umum, berbaring di sofa dan tidur siang setelah hari yang melelahkan di sekolah.

“Hentikan pertengkaran kalian. Aku sedang tidur siang,” ucap Jessica tanpa menaikkan kelopak matanya sama sekali. Dia bergerak sedikit dan meletakkan lengan kanannya di atas matanya.

“Dia yang memulainya!” Sooyoung cepat-cepat melepaskan diri dari gadis bermata bulat itu dan menunjuk padanya. “Aku hanya ingin menyelamatkan makananku.”

“Semuanya akan lebih mudah jika kau memberikannya padaku,” bela Yoona.

“Kau menyerangku,” balas Sooyoung.

“Aku meminta padamu dulu.”

“Tidak.”

“Iya.”

“Tidak.”

“Iya.”

“Tidak.”

“Iya!!”

Mereka saling berperang kata selama hampir satu menit dan dengan setiap kata yang terucap, wajah mereka semakin dekat satu sama lain, tidak ingin kalah satu sama lain. Tetapi tiba-tiba saja mereka bisa merasakan jarak di antara mereka menjauh dan ada tekanan kuat pada dada mereka.

“Ini.” Baik Sooyoung maupun Yoona sama-sama terkejut oleh paksaan yang tiba-tiba pada mulut mereka. Itu adalah cupcake yang sedari tadi mereka perebutkan. “Makan dan diamlah.”

Jessica sudah meninggalkan singgasananya, yaitu sofa, mengambil cupcake dan menyuapkan masing-masing satu cupcake pada kedua mulut temannya itu. Mereka berdua segera mengeluarkan cupcake tersebut dan terbatuk-batuk. Yuri bergegas mengambilkan air untuk Yoona dan Sooyoung sedangkan Tiffany membantu mereka untuk duduk di sofa dan menepuk-nepuk pelan punggung mereka. Di lain pihak, Jessica hanya menatap Sooyoung dan Yoona bergantian, tangan berada di pinggang.

“Yuri-yah, dimana kau menemukan gadis-gadis ini, huh?”

Yuri yang baru saja muncul dari dapur hampir menjatuhkan gelas yang dibawanya akibat pertanyaan Jessica yang tiba-tiba itu. “Ups, maaf, maaf, maaf.” Dengan cepat dia kembali menyeimbangkan dirinya.

Jessica menghela nafas melihat Yuri tetapi kemudian membantunya membawakan salah satu gelas ke meja dalam diam. Yuri tersenyum pada tindakan spontan Jessica. “Terima kasih.”

Jessica sedikit tersenyum sebelum kembali memfokuskan diri pada dua gadis yang sedang gelisah di tempat mereka karena aura dingin yang menyelimuti mereka. “Jadi dimana kau menemukan gadis-gadis ini, Yuri-yah?”

“Apa maksudmu menemukan mereka, Sica-yah? Mereka bukan anak anjing ataupun anak kucing.”

“Mereka tampak seperti itu bagiku. Selalu saja bertengkar soal makanan seperti ini setiap waktu,” Jessica bicara terang-terangan sambil memberikan tatapan dingin pada kedua gadis itu secara bergantian.

Yuri tertawa. “Oh begitu. Hmmm,” dia berpura-pura seperti sedang berpikir, meletakkan tangannya di dagu, berjalan kesana kemari di depan meja. “Coba kuingat-kuingat, dimana aku menemukan kalian ya?” Dia mendekatkan wajahnya ke arah kedua temannya itu.

“Kami bukan anak anjing,” protes Yoona.

Yuri tersenyum senang.

“Yeah, kami bukan anak anjing ataupun anak kucing. Aku tidak suka kucing, mereka suka mencakar-cakar dan mencuri makanan, eeww,” Sooyoung membuat ekspresi sangat tidak suka hanya dengan memikirkan makanannya dicuri oleh makhluk berbulu itu.

“Yang kau pikirkan hanya makanan melulu, Soo,” ucap Tiffany di antara tawanya.

“Perut karet,” tambah Jessica.

Yoona tiba-tiba saja ikut tertawa. “Hahahaha. Perut karet!! Dasar kau perut karet!! Hahahaha,” dia memandang Sooyoung, tertawa, memandang Sooyoung lagi, dan kemudian tertawa lagi sambil memegangi perutnya.

“Yah, jangan menertawakanku dasar kau alligator,” Sooyoung mulai menyerang Yoona dengan kelitikan yang hanya membuat temannya itu semakin tertawa terbahak-bahak dan mereka pun kembali pada mode pertarungan mereka kembali.

“Haiisss, cewek-cewek ini,” Jessica menggelengkan kepalanya melihat kedua temannya itu. “Aku tidak akan pernah bisa mengerti mereka.” Dia mengambil satu buah cupcake dan pergi untuk duduk di salah satu kursi.

“Jangan berusaha untuk memahami mereka, Sica-yah. Kau tidak akan bisa. Begitu pun aku, sahabat mereka selama 10 tahun,” balas Yuri yang duduk di karpet di depan meja, tidak jauh dari tempat Jessica berada.

“Baiklah. Aku akan mengingatnya.” Jessica mengangguk setuju. “Mau?” Dia menawarkan cupcakenya pada Yuri.

Yuri menatap kue coklat manis itu sebelum mengalihkan pandangannya pada Jessica. “Terima kasih,” dia menunjukkan senyuman terbaiknya sebelum mengambil sepotong.

Jessica membalas senyuman itu dan kembali menikmati cupcakenya.

“Aku jadi penasaran bagaimana kamu bisa berteman dengan mereka, Yuri-yah?” Tiffany ikut bergabung dalam pembicaraan.

“Heemmm, heemmm,” Yuri mengunyah cupcakenya dan kemudian berdeham. “Kami bertemu di taman kanak-kanak. Aku terlalu kecil untuk menyadari kalau aku berteman dengan dua babi. Jadi mau tidak mau kami bertiga sudah terus bersama-sama sejak saat itu,” jawab Yuri santai.

“Ya ampun, dua babi??!” Jessica tertawa hanya dari mendengar kata-kata itu.

“Dengan perut karet,” tambah Yuri.

Sekarang mereka bertiga tertawa terbahak-bahak. Tawa mereka menyadarkan kedua gadis yang lain hingga mereka pun berhenti bertarung dan memandang curiga pada ketiga temannya yang sedang tertawa.

“Apa yang kalian tertawakan?” Tanya Yoona.

“Tidak, bukan apa-apa,” kata Tiffany sambil berusaha menahan tawanya.

“I sense something fishy here,” tambah Sooyoung dengan tatapan menyelidik.

“Tidak ada ikan disini, Soo,” balas Yuri.

“Bukan ikan yang macam itu, Yuri-yah,” timpal Jessica.

Akhirnya dia mengerti apa yang dimaksud Sooyoung. “Oh, Maaf.” Yuri menyeringai yang membuatnya mendapatkan pukulan ringan di bahunya oleh Jessica.

“Kami sedang membicarakan bagaimana Yuri bertemu kalian berdua. Itu saja.” Akhirnya Jessica menjawab pertanyaan mereka. Kedua gadis itu hanya mengeluarkan suara ‘ooh’.

“Aku ingat aku bertemu dengan kalian di ruang makan saat masih di taman kanak-kanak. Kalian berdua sudah memperebutkan makanan sejak saat itu.” Yuri tertawa hanya dengan memikirkan hal itu. “Dan aku bertemu denganmu, Fany, ketika kau pertama kali pindah ke sekolah kami. Kamu begitu pemalu saat itu. Tapi lihatlah kamu sekarang, begitu popular dan berisik,” Yuri tersenyum pada kata terakhir.

“Yeah, sangat berisik, Fany-ah. Ingat itu. SANGAT. BERISIK.” Jessica menambahkan.

“Yah!” Tiffany memukul kedua temannya itu tetapi mereka hanya semakin menertawakannya.

“Bagaimana dengannya?” Tiffany bertanya setelah mereka berdua berhenti tertawa sambil menunjuk Jessica.

“Sica?”

“Yepp,” Tiffany mengangguk.

Yuri menatap Yoona yang sudah menunjukkan senyum lebarnya. Memikirkannya saja sudah bisa membuat Yuri tertawa lagi.

“Yah, kenapa kau tertawa, Yuri-yah?” Tanya Sica, merasa kesal.

“Ah, tidak, tidak, tidak, bukan apa-apa,” tapi dia tetap saja tertawa.

Jessica memukul temannya itu. “Yah, apa yang salah dengannya?” Jessica bertanya pada Yoona.

Yoona dengan cepat menggelengkan kepalanya sambil menutup erat mulutnya, tidak ingin mendapatkan murka dari ice princess.

“Kwon Yuri!!” Jessica berteriak tidak sabar.

Yuri tertawa untuk terakhir kalinya sebelum menjawab. “Kami pikir kau itu vampir.”

Jawaban itu membuat mereka semua tidak bisa lagi menahan tawa mereka, tentu saja kecuali si korban.

“Apaaaa? Vampir?” Tanya Jessica bingung.

“Kamu begitu dingin padaku, Yoona dan Sooyoung. Ditambah lagi udara di sekitarmu begitu dingin. Dan kau juga hanya tidur sepanjang waktu. Jadi aku dan Yoona akhirnya membuat hipotesis itu,” Yuri tersenyum jahil sepanjang berbicara.

“Ya. Ya. Aku ingat itu juga. Kau tidak pernah meninggalkan bus di siang hari. Hal itu memperkuat tebakan kami,” tambah Yoona sebelum kembali tertawa.

Tiffany menyenggol pinggang Jessica. “Tidak pernah terbayang aku akan punya sahabat seorang vampir.”

Jessica menunjukkan wajah “itu-tidak-lucu” pada sahabatnya dan kemudian menghadap ke temannya yang lain dengan tatapan bingung. “Tunggu, tunggu. Apa maksud kalian? Bus apa?” Jessica bertanya lebih kebingungan.

“Tunggu. Kau tidak ingat?” Ekspresi Yuri pun berubah.

Jessica mencoba mengingat kembali. “Satu-satunya bus yang aku ingat adalah bus saat perkemahan awal semester. Apa kita di bus yang sama??” Tanya Jessica polos.

“Omo, Sica, kau tidak ingat sama sekali?!” Tanya Yoona tidak percaya.

“Aku tidak melihat kalian, bagaimana aku bisa tahu?” kata Jessica lagi.

“Ini sulit dipercaya. Kau tidak melihat kami?? Benar-benar luar biasa,” Sooyoung menggelengkan kepalanya.

“Tidak. Atau mungkin aku memang melihat kalian tapi kita belum saling mengenal jadi mungkin saja aku lupa,” jawab Jessica.

“Kau belum mengenal kami??!!” Yoona bertanya lagi tidak percaya. “Jadi siapa yang kau tahu?”

“Hmm. Ada Sukjin, Yumi, Hong—“

“Kau ingat Sukjin?!” Yuri memotong ucapan Jessica.

Jessica mengangguk. “Iya. Dia memberikan makan siang padaku, jadi aku ingat.”

“Kau benar-benar luar- biasa, Sica,” ujar Yuri.

“Huh? Kau membuatku semakin bingung. Cepat beritahu aku apa yang sebenarnya terjadi,” Jessica benar-benar tidak memiliki petunjuk sama sekali mengapa mereka bereaksi seperti itu. Dia benar-benar tidak ingat pernah melihat mereka di bus itu jadi bukankah wajar jika dia tidak tahu kalau mereka berada di bus yang sama? Dan dia penasaran dengan ekspresi Yuri. Wajah cerah dan cerianya berubah menjadi masam. Yuri mengernyitkan dahinya keras sambil bergumam-gumam pada dirinya sendiri.

“Kau duduk di samping kami, Sica,” Yoona memberitahunya.

Mata Jessica hampir jatuh dari tempatnya dan mulutnya menganga lebar. “Hah? Benarkah?”

Yoona mengangguk.

“Apa itu benar, Yuri-yah?” Jessica mengkonfirmasi pada Yuri, berharap apa yang dia dengar itu tidak benar.

“Itu benar, Sica. Kau duduk di antara Yoona dan aku.”

“Itu tidak mungkin,” Jessica menggelengkan kepalanya. Bagaimana aku bisa lupa? Tapi aku benar-benar tidak ingat pernah melihat mereka di bus itu, apalagi duduk disamping mereka. Itu tidak mungkin. “Aku ingat aku duduk di samping dua perempuan dengan…rambut coklat…panjang,” Jessica berhenti sejenak setelah melihat Yoona dan Yuri. Tentu saja mereka memiliki rambut coklat panjang. Oh tidak. “Tapi itu bukan kalian, kan? Aku harusnya ingat jika itu adalah kalian berdua.”

“Kau sungguh kejam, Sica,” kata Yuri sedih. “Kita benar-benar duduk bersebelahan. Kita bahkan sudah saling berkenalan.”

“Benarkah??”

“Ya, Sica. Harus berapa kali kuberitahu supaya kamu percaya pada kami?” Balas Yuri frustasi.

“Yuri-yah…” Ucap Sica pelan.

Jadi itu benar. Hmmmmmmmmm… Jessica berusaha keras untuk mengingat kembali memorinya tentang hari itu. Ingatannya benar-benar kacau. Dia ingat dirinya sangat ngantuk di hari itu dan tidur lama sekali di bus itu. Oke. Jelas saja mereka mencurigaiku sebagai vampir. Aku memang tertidur lama sekali. Dia juga ingat berbicara dengan beberapa murid lainnya, mengetahui nama-nama mereka. Ada Yumi, Hongki, Sukjin, Luna…Ah tunggu!! Ahya. Aku ingat. Aku bertemu Sooyoung disana. Dia itu yang duduk di depanku yang begitu bersemangat setelah tahu kalau aku adalah anak baru. Dan benar. Yoona duduk di sebelahku. Ah ya benar. Sekarang aku sudah ingat.

“Aah. Aku ingat. Kau duduk di depanku, kan, Sooyoung? Dan Yoona di sebelahku?”

Mereka berdua mengangguk bersama-sama, senyuman tampak di wajah mereka, bahagia akhirnya mereka diingat juga. Jessica pun balik tersenyum, bangga karena dia ternyata tidak melupakan teman-temannya. Dia merasa malu dan putus asa sekali sebelumnya, tapi sekarang semuanya terasa lebih ringan.

“Hahaha. Akhirnya kau bisa ingat juga, Sica.” Tiffany akhirnya berbicara setelah memperhatikan perbincangan mereka. “Untung saja kau bisa mengingat pertemuan pertama kita dengan mudah. Atau aku akan merasa sangat sedih.”

Jessica tersenyum. “Aku tidak mungkin lupa, Fany-ah. Kamu sahabatku, bagaimana aku bisa lupa?” ucap Jessica tanpa sadar bahwa ada seseorang yang sedang memandanginya dengan ekspresi sangat masam. “Benarkan, Yuri-yah?” Jessica memalingkan wajahnya pada Yuri tetapi terkejut melihat wajah yang tampak marah. Dia mengangkat alisnya bingung. Kenapa dia menatapku seperti itu?

“Yeah, benar, Sica. Kau tidak akan melupakan sahabatmu. Tapi kau bisa melupakan orang yang duduk tepat di sampingmu selama perjalanan enam jam dan orang yang paling pertama mengajakmu untuk berkenalan. Ya. Ya. Kau bisa melupakan orang itu. Tidak apa-apa. Orang itu mungkin memang tidak penting sama sekali,” ujar Yuri sinis.

“Huh?” Jessica mengangkat alisnya lebih tinggi.

“Lupakan saja,” ucap Yuri dengan nada yang jelas-jelas kesal dan kemudian meninggalkan ruangan beberapa detik setelahnya, meninggalkan Jessica kebingungan.

“Bagaimana kau bisa melupakan Yuri, Sica?” Yoona segera menghampiri Jessica dan memukul lengan kanannya. “Dia duduk di sampingmu juga. Sama sepertiku.

Jessica menundukkan kepalanya. “Aku benar-benar tdak ingat,” jawabnya pelan.

“Pergilah dan cari dia, Sica,” Tiffany menyarankan. “Kamu tidak ingin membuatnya merasa lebih buruk lagi kan?”

Jessica mengangguk.

“Kalau begitu pergilah,” Tiffany mendorong temannya itu. “Shuuhh.”

“Oke. Oke. Aku akan pergi.”

“That’s my girl. Go. Go. Go.”

Tiffany menepuk pundak Jessica sebelum dia pergi meninggalkan ruangan untuk mengejar temannya yang ‘terlupakan’.

***

“Bagaimana bisa dia melupakanku? Bagaimana bisa?” Yuri bergumam seorang diri sambil menendang batu terdekat ke dalam kolam. Dia saat ini sedang berada di halaman belakang rumah Sooyoung. Dia mengambil rumput yang panjang dan duduk di kursi terdekat. Dia merobek rumput hijau itu sedikit demi sedikit untuk meredakan stressnya.

Dia mengingat cowok itu tetapi melupakanku. Apa dia begitu spesial bagimu, Sica? Apa aku tidak spesial bagimu?

Yuri tidak bisa menahan rasa frustasinya setelah mengetahui Jessica tidak mengingat pertemuan pertama mereka sama sekali ketika pada kenyataannya mereka duduk berdampingan satu sama lain selama enam jam. Hanya berjarak beberapa inci saja.

Sedangkan Yuri sendiri mengingat semuanya dengan begitu jelas. Setiap detailnya. Bagaimana dia memperkenalkan dirinya pada Jessica. Betapa dinginnya Jessica saat itu padanya. Wajah cantiknya saat itu meskipun dia sedang mengantuk. Aroma stroberi dari rambut coklat mudanya. Sensasi menggelitik dari jabatan tangan pertama mereka. Yuri mengingat semua it.

Tapi Jessica?

Tidak ada sama sekali.

Hal itu benar-benar menghancurkan hati Yuri.

“Kau benar-benar jahat, Sica. Kau sangat jangat,” Yuri merobek rumput itu dengan lebih keras.

“Maafkan aku, Yuri-yah.”

Yuri bisa merasakan sentuhan hangat di bahunya. Dia mendongak ke arah kanan dan melihat orang yang menyebabkan semua yang dia rasakan saat ini.

“Aku minta maaf,” kata Jessica lagi sebelum duduk di samping Yuri. Yuri menolak untuk melihat Jessica dan mengalihkan pandangannya kembali pada rumput yang menyedihkan di tangannya.

“Yuri-yah,” panggil Jessica pelan sambil dia mengambil tangan Yuri. “Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk melupakanmu atau apapun itu, tapi,” Jessica berhenti sejenak. “Aku benar-benar tidak bisa mengingatnya,” ucapnya dengan rasa bersalah. Jessica merasa sedikit lega karena Yuri tidak menarik tangannya.

“Tapi kita duduk berdampingan, Sica. Aku tidak bisa mengerti bagaimana kau bisa tidak mengingatku? Tapi kau mengingat Yoona dan Sooyoung?” Dan Sukjin juga.

“Aku juga tidak tahu, Yuri-yah. Maafkan aku.”

Yuri menggumamkan sesuatu yang tidak bisa dimengerti oleh Jessica dan masih tidak ingin memandang gadis berambut coklat muda itu.

“Yuri-yah.” Hal itu membuat Jessica semakin merasa bersalah. Dia sendiri tidak bisa mengerti mengapa tidak ada satu memori pun mengenai Yuri di bus itu dalam ingatannya. Dia tahu kalau ada dua orang yang duduk di sampingnya, tapi tidak ada wajah Yuri dalam ingatannya. Hanya kegelapan yang diingatnya. “Aku mohon, lihat aku,” Jessica berdiri dari tempat duduknya dan berlutut di depan Yuri kemudian menggenggam kedua tangan temannya itu.

Yuri tidak menghindar lagi dan menatap Jessica. Jessica bisa melihat perasaan terluka dan sedih di bola mata coklat Yuri.

“Aku tahu kau benar-benar mengantuk, Sica, tapi bagaimana bisa kau melupakanku? Rasanya benar-benar menyakitkan.”

“Maafkan aku, Yuri-yah. Aku benar-benar minta maaf soal itu. Aku tahu itu salahku, tapi aku mohon jangan berpikir kalau kau tidak penting bagiku,” dia menatap Yuri dan kemudian melanjutkan, “Aku tidak mengingatmu bukan karena kau tidak penting, hanya saja rasa kantukku terkadang begitu parah. Jadi tolong percaya padaku. Kau penting bagiku, Yuri-yah.”

“Tapi tetap saja,” Yuri menghela nafas.

“Dengarkan aku, Kwon Yuri. Jangan bersedih karena aku tidak mengingat pertemuan pertama kita, karena kita punya lebih banyak dari itu. Kau tahu itu kan?” Jessica mengangka dagu Yuri sehingga mata mereka sejajar. “Aku masih ingat setiap moment yang kita lalui bersama sejak hari pertama sekolah hingga saat ini. Doesn’t it count? Hmmp?” dia memiringkan kepalanya sambil mengharapkan tanggapan dari gadis berkulit coklat itu.

“Benarkah? Kau mengingatnya.”

“Ya. Setiap momennya, Yuri-yah,” jawab Jessica tegas untuk meyakinkan Yuri. “Jadi aku mohon jangan bersedih lagi. Aku sedih melihatmu seperti ini.”

Dia meletakkan jari telunjuknya di kedua sudut mulut Yuri, “senyum,” katanya sambil menarik sudut mulut Yuri ke atas. Yuri tanpa sadar menurut dan tersenyum. “Sekarang kau terlihat jauh lebih cantik dengan senyuman ini.” Jessica pun tersenyum, puas dengan usahanya.

“Terima kasih, Sica-yah.”

“Sama-sama. Dan maaf juga.”

Yuri menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku yang kekanakan. Aku seharusnya mengerti dirimu. Kau benar-benar lelah dan mengantuk hari itu. Mungkin karena itu ingatanmu tidak begitu jelas,” ujar Yuri.

Jessica tersenyum mendengar itu. “Terima kasih sudah mengerti aku.” Dia menarik Yuri dalam pelukannya.

“My pleasure, Sica.” Yuri tersenyum sangat lebar.

Omo. Dia memelukku! Dia memelukku!! Apa yang harus aku lakukan??!! Yuri bisa merasakan kembang api di dadanya saat ini. Walaupun mereka sudah berteman selama dua setengah bulan tetapi itu adalah pertama kalinya mereka berpelukan.

Yuri menggunakan kesempatan itu untk menghirup aroma stroberi dari rambut Jessica. So sweet yet s sour. So nice. Perasaan hangat perlahan-lahan menyebar di dalam tubuhnya. Rasanya seperti berada di surge selama beberapa detik sebelum akhirnya Jessica melepaskan pelukan mereka.

“Tapi, Yuri-yah,” Jessica tiba-tiba berbicara.

“Ya, Sica?”

“Bagaimana bisa kau mencurigaiku sebagai vampir?”

“Err, itu……” Yuri tidak menyelesaikan penjelasannya karena dia sudah melarikan diri dari amukan Jessica.

To be continued…

***

A/N: Dan perjalanan yulsic pun dimulai~

Anyway maaf kalau ada typo ataupun bahasanya aneh hahaha terjemahin ini langsung dr versi aslinya dan belum sempet dibaca ulang untuk edit. Lagi ngejer setoran dulu mumpung lg liburan.

Ya sudah sekian dan terima kasih 🙂 Sampai jumpa di chapter selanjutnya ^^

Advertisements

Author: 4riesone

SONE. Follow me on Twitter @4riesone for updates and questions

15 thoughts on “Remember Me (Chapter 2)

  1. Penasaran kenapa sica bisa lupa cuma sama yuri. Apa emng cuma gegara dia ngantuk berat atau ada hal lain.-.
    Klo ternyata sica vampire beneran gimana wakakak

  2. Itu sica kena alzaimer y? Kok bisa gk inget sdikit pun ma yuri, tpi lucu jga liat kelakuan kocak mreka.

  3. kekeke dimana mana kalo yoong ama soo kalo udah rebutan makanan n laper kagak bisa diganggu gugat 😁😁

    cieeeee yulsic swwiiitttt 😍😍😍

  4. Knp cm yul ya yg gak d inget apa kyk amnesia selektif tp kok moment trtentu j ya..ah bkin pnsaran deh blkg2x sweet bgt

    • author jg kurang tw knp bisa kaya gitu :”) tp memang seperti itu kejadiannya, soalnya ini terinspirasi dr kisah nyata hehe

  5. Kok jessica aneh gitu ya, kenapa cuma yul yg gak d inget???
    Semarah apapun yul bisa cepet luluh kena rayuan mautnya sica, sica emang daebak 😀😀👍👍👍

    • iya ini emang aneh. kejadiannya terinspirasi dari kisah nyata, jadi aku jg ga bisa jelasin kenapa. tp emg gitu kejadiannya *miris*

  6. sesuatu yg gelap menutupi ingatan sica ttg yuri..apaan ya?ko cm yuri yg gk bisa d ingat sica..
    walahhh tuh duo shiksin mlah rebutan mknan trus..
    wkwkwkwk

  7. Weeewww sicaa, itu ingatan kayak ingatan oma gw deh. Pelupanya naudzubilaaah 🙄🙄🙄🙄

  8. Arrgggghhhh… makin suka dgn ff ini 😍😙😘😚😗

  9. kirain bakalan diceritain pas mereka kamping 😆 ternyata engga😔.
    tapi kok bisa yuri doang yg ga diinget sama sica, kasian tuh anak😆..
    btw taeyeon kapan muncul yah 😁

Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s