rara0894

All about TaeTiSeo and GG

The One To Live For (Chapter 4)

34 Comments

Title               : The One To Live For

Author           : 4riesone

Cast                : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Genre             : Romance, Gender bender

 

The One To Live For2

Chapter 4

 

Di tengah dapur yang gelap, tampak seseorang sedang membongkar isi lemari. Tubuhnya gemetaran, satu tangannya menopang tubuhnya dan tangannya yang lain bergerak mencari barang yang diinginkannya.

“Dimana…ada dimana…aku yakin aku menaruhnya disini….” Dia terus membongkar isi lemari tersebut dan kemudian berpindah ke rak yang lain. “Kenapa tidak ada….sedikit saja…hanya sedikit….kenapa tidak ada….”

Keringat berjatuhan dari dahinya saat dia menyeret tubuhnya ke sisi lemari yang lain. Gerakannya begitu lemah dan tangannya terus menerus memegangi sisi kepalanya, mencoba menahan rasa sakit yang dirasakannya.

“Hah…hah…hah…” terdengar engahan nafas dari sosok tersebut. Dia bersandar sebentar sebelum kembali membuka rak lemari. Ini adalah rak yang terakhir.

“Hah, itu dia,” dia segera menarik botol yang dicarinya. “Sedikit saja…hanya sedikit saja…” Dengan tangan yang sama dia membuka tutup botol tersebut dan aroma kuat minuman tersebut menyeruak dari dalamnya.

PRANKKKK

Botol tersebut jatuh ke lantai dan pecahannya mengenai tangannya, membuatnya berdarah. Namun Taeyeon tidak peduli. Dia menangkupkan tangannya yang bersimbah darah dan bergetar hebat tersebut ke kepalanya.

“A-apa yang kulakukan?” suara yang keluar dari mulutnya pun bergetar. Dia meremas rambutnya dan mulai terisak. Dadanya ikut bergerak naik turun mengikuti tangisannya. “Apa yang sudah ku—kulakukan?”

Saat itu, Tiffany sedang pergi keluar untuk membeli obat dan keperluan sehari-hari untuk mereka berdua. Dia khawatir untuk meninggalkan Taeyeon tetapi suaminya itu bersikeras bahwa dia akan baik-baik saja. Dan memang awalnya seperti itu, tetapi setelah beberapa lama, serangan rasa sakit kembali menyerang dirinya. Tanpa Tiffany di sisinya, dia tidak mampu bertahan dan akhirnya tergoda untuk mengambil sisa simpanan alkoholnya yang terakhir.

Dan kemudian suara-suara itu pun muncul, sama seperti hari-hari sebelumnya. Namun kali ini suara itu terasa begitu dekat. Suara pria yang tidak dikenalnya yang terus membisikkan kata-kata yang sangat menyiksa.

“Tidak…tidak…”

“Tidak mungkin…”

“Tidak seperti itu…”

Taeyeon berbisik pelan sambil mengeratkan tangannya pada kedua telinganya, berusaha untuk tidak mendengarkan suara-suara tersebut. Tetapi suara itu tidak juga diam. Suara itu semakin keras terdengar dan seiring waktu semakin menyakitkan bagi Taeyeon.

“Kau tidak pantas untuk Tiffany.”

“Kau hanya menyakiti Tiffany.”

“Tiffany lebih baik tanpamu.”

“Tiffany akan meninggalkanmu.”

“Tiffany tidak mencintaimu.”

Suara Taeyeon yang semula hanya bisikan berubah menjadi teriakan. “ITU TIDAK BENAR. DIAMLAH!!!”

“Kau marah karena kau tahu itu benar.”

“DIAM!!!!” Taeyeon berteriak keras sambil menutup telinganya erat-erat. Suara itu benar-benar membuatnya frustasi. Meskipun dia ingin tidak mempercayainya, tapi dia tahu dirinya tidak pantas bagi Tiffany. Yang dilakukannya selama berbulan-bulan hanyalah menyakiti Tiffany dari hari ke hari.

Bisikan-bisikan itu terdengar semakin nyata seiring air mata yang deras mengalir dari mata coklatnya. Dia sudah lelah dan akhirnya membiarkan suara itu berbicara sesuka hatinya.

Tanpa disadari, Taeyeon sudah melangkahkan dirinya menuju lantai teratas gedung. Dia membawa tubuhnya mendekati tepi atap gedung itu dan memandang ke cakrawala di hadapannya. Sore itu, matahari sudah mulai terbenam merubah langit menjadi jingga. Sama seperti harapan Taeyeon yang sudah mulai pupus.

“Ppany-ah…mianhae…”

Tetes air mata kembali jatuh membasahi pipinya saat memori dari beberapa bulan terakhir terputar kembali dalam pikirannya.

Ingatannya samar-samar mengenai malam itu. Dirinya sedang mabuk berat. Tidak tahu sudah berapa banyak gelas alkohol yang diminumnya. Biasanya dia tidak akan minum sebanyak itu, hanya beberapa gelas saja untuk menghilangkan rasa sakit yang dia rasakan. Tapi malam itu berbeda.

Taeyeon sangat merindukan Tiffany. Rasanya begitu menyiksa tanpa Tiffany disisinya dan hari itu entah mengapa terasa lebih menyakitkan dibanding hari-hari sebelumnya. Dia pun menenggelamkan dirinya dalam alkohol, mencoba untuk melupakan rasa sakit di hatinya. Namun gelas demi gelas tidak kunjung memberikan efek. Ingatan mengenai kejadian selanjutnya tidak begitu jelas. Yang dia tahu, dia berakhir dipukuli oleh beberapa pria bertubuh besar hingga babak belur.

Dan dia pikir dia sedang berhalusinasi, karena saat itu juga dia melihat Tiffany di hadapannya. Wanita yang sangat dia rindukan dan dia cintai sedang menatapnya, memegang wajahnya dengan hati-hati. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, Taeyeon membisikkan kata-kata itu pada Tiffany, memintanya untuk tinggal. Walaupun itu hanya halusinasi, Taeyeon ingin Tiffany untuk tetap berada disisinya. Dan meskipun dia mati saat itu, dia setidaknya sudah melihat Tiffany kembali dan mengutarakan rasa cintanya pada wanita itu.

Namun ternyata akhirat belum mau menerima kehadiran Taeyeon disana. Sebagai gantinya dia terbangun di samping Tiffany yang setia menunggunya selama di ruang gawat darurat.

Apa yang terjadi di hari-hari berikutnya terasa begitu tidak nyata bagi Taeyeon. Tiffany kembali padanya. Sekali lagi wanita itu meninggalkan keluarga, kemewahan, keamanan dan kenyamanan yang dimilikinya untuk Taeyeon.

Taeyeon bahagia, tentu saja.

Namun seperti alkohol menumpulkan rasa sakitnya, alkohol pun membuatnya mati rasa terhadap rasa bahagia itu. Dan tidaklah mudah bagi Taeyeon untuk melepaskan dirinya dari cengkeraman alkohol kali ini. Ketika satu-satunya teman yang dia miliki selama bertahun-tahun hanyalah alkoholk, ditambah dengan efek hipnotis dari alkohol itu sendiri yang membuatnya selalu menginginkan minuman itu setiap waktu.

Saat ini Taeyeon merasa terpuruk. Rasa penyesalan karena telah membiarkan dirinya terjerumus dalam alkohol kembali menyeruak. Mengapa dirinya begitu lemah dan membuat hidupnya hancur seperti sekarang ini. Dirinya sudah berubah menjadi sosok yang temperamental dan semakin hari semakin kasar, bahkan terhadap wanita yang dia cintai.

Prioritasnya pun sudah berubah. Alkohol sudah menjadi segalanya. Tiada hari tanpa alkohol di tubuhnya. Ditambah dengan kehadiran Tiffany yang mengingatkannya pada rasa sakit yang harus dijalaninya semakin memperburuk keinginannya untuk melupakan segalanya dengan alkohol. Dan jika dia menyakiti Tiffany dan melihat wanita itu menangis, rasa penyesalan hinggap di hatinya. Kemudian dia pun kembali menenggelamkan diri dalam alkohol untuk melupakan perasaan itu. Namun oleh karena itu, dia akan pulang dalam keadaan mabuk dan kembali menyakiti Tiffany. Ya, seperti itu saja setiap harinya. Terus menerus berputar dalam pola lingkaran yang tiada ujungnya.

Taeyeon benar-benar kecewa dengan dirinya sendiri. Dia membenci dirinya. Bagaimana bisa dia menyakiti wanita yang dia cintai seperti itu. Kemudian saat dia berjanji untuk berubah dan setelah semua yang dilakukan Tiffany untuknya, dia tetap saja tidak bisa menolak godaan yang dihadapkan padanya. Dia kembali memberikan dirinya pada alkohol, membiarkan dirinya kembali terjerumus dalam lingkaran yang sama. Walaupun memang dia tidak meminumnya, tetapi tetap saja. Dia sudah jatuh ke dalam godaan. Rasanya seperti seorang pecundang.

Lalu suara itu membisikkan suatu penyelesaian untuk semua ini.

Jika dengan melakukan apa yang disarankan oleh suara itu mampu membuat Tiffany bahagia, Taeyeon rela. Taeyeon akan melakukannya demi kebahagiaan Tiffany. Setidaknya begitulah yang ada di pikirannya saat ini.

“Mianhae, Ppany-ah. Aku mencintaimu.”

.

.

.

Tiffany menjatuhkan kedua kantung belanjaan dari tangannya ketika dia melihat kekacauan yang terjadi di dapur. Pecahan botol, genangan alkohol dan tetes-tetes darah. Jantungnya seketika itu juga berdegup kencang.

“Tidak…tidak…” ucapnya pelan sebelum berlari menuju kamar. “TAEYEON?!! TAEYEON??!!” Dirinya semakin panik saat tidak mendapati Taeyeon terbaring di ranjang. “TAEYEON?! AKU MOHON. DIMANA DIRIMU?? TAEYEON???!!!” Dia mencari suaminya ke kamar mandi namun lagi-lagi tidak menemukan siapapun disana. Akhirnya dia menghampiri kekacauan yang terjadi di dapur.

“Apa yang terjadi, Tae?” lirihnya pelan sambil memperhatikan kondisi sekitarnya dengan matanya yang sudah berlinang air mata. Melalui matanya yang sudah berkaca-kaca, Tiffany melihat tetesan darah itu bergerak ke luar pintu dan tanpa pikir panjang dia pun mengikuti jejak darah tersebut.

Suara deritan pintu terdengar saat Tiffany mendorong pintu atap gedung terbuka, memperlihatkan langit jingga kemerahan membentang di antara gedung-gedung kota Seoul. Siluet tubuh Taeyeon tampak jelas di tengah indahnya langit sore. Pemandangan ini akan tampak romantis jika tidak mengingat fakta bahwa Taeyeon sedang berdiri di tepi atap gedung itu.

“TAEYEON-AH!!!” panggil Tiffany. “Taeyeon-ah, apa yang kau lakukan? Kamu bisa terjatuh!!”

Tiffany berlari mendekati Taeyeon yang segera memberi isyarat jangan mendekat dengan tangannya. Pria itu tetap membelakangi Tiffany saat dia berbicara.

“Aku gagal, Ppany-ah. Aku hanya seorang pecundang,” ucapnya lirih.

“Apa yang kau bicarakan, Tae? Ayo cepat turun!!”

Taeyeon menundukkan kepalanya, membiarkan air mata terjatuh bebas dari mata coklatnya. Tiffany menggunakan kesempatan ini untuk bergerak mendekat.

“Aku sudah berusaha, Ppany-ah. Tapi aku tetap saja gagal. Aku hanya terus menyakiti dan mengecewakanmu. Aku tidak ingin kau lebih terluka, Ppany-ah. Kau lebih baik tanpa diriku.”

“YAH! KIM TAEYEON! KAU BICARA APA?! CEPAT KEMARI ATAU AKU AKAN MEMBENCIMU SEUMUR HIDUP!”

“Aku mencintaimu, Ppany-ah. Tapi kau akan lebih baik tanpa diriku.”

“OMONG KOSONG! KAU TAHU ITU TIDAK BENAR! CEPATLAH KEMARI, TAE!”

Taeyeon menggelengkan kepalanya.

“Mianhae…”

Setelah berkata demikian, Taeyeon menjatuhkan dirinya ke depan dan seketika itu juga teriakan Tiffany menggema ke seluruh penjuru kota.

To be continued…

 

A/N: Hai! Akhirnya bisa update juga. Senin siang mendadak sibuk, bahkan aku telat nonton MV WHY T.T dan ga jadi fangirling semaleman hahaha Tapi suka banget sama lagunya!! Totally summer song 😀 Dan lagu UP & DOWN nya TY & HY juga keren banget hahaha (kenapa jd review album? lol) Oke deh, lanjut omongin cerita ini aja ya. Ternyata menyembuhkan Taeyeon tidak semudah itu ya 😦 Banyak halangan dan rintangannya. Btw, berdasarkan riset (#ceileh) kecil2an yang aku lakuin di internet, memang orang yang lagi putus alkohol bisa ngalamin hal2 seperti yang dialamin Taeyeon itu. Mulai dari badannya sakit2, sesak napas lah, bahkan sampai halusinasi dan kejang2. Nyeremin deh.

Menurut kalian chapter ini gimana? Lalu pandangan kalian sendiri tentang pecandu alkohol dan tentang hubungan Taeny sendiri bagaimana? Ayo komen di bawah supaya aku tahu pendapat kalian ^^

Untuk chapter selanjutnya mungkin sedikit lebih lama soalnya ada beberapa hal yang harus aku urus dulu. Ditunggu yang sabar ya ^^ Ya udah, aku cabut dulu ya. Sampe ketemu bulan depan. Have a nice day semuanya #kissbye

Advertisements

Author: 4riesone

SONE. Follow me on Twitter @4riesone for updates and questions

34 thoughts on “The One To Live For (Chapter 4)

  1. Teyon segitu menderitanya. Gatega liat dirimu kek gitu tae…emng sih ga gampang buat nyembuhin pecandu alkohol gitu. Tp klo didalem dirinya sendiri udh ada niat buat berhenti secara perlahan mungkin bisaa yaa kek semacam pecandu rokok ajalah, misal sehari coba buat ga ngisep 2 batang rokok dan berlanjut sampe seterusnya. Yang terpenting mendekatkan diri pada yg maha kuasa😂😂😂
    Siapa tau itu fany berhasil nangkep baju ato tangannya teyon trs teyon gajadi jatoh dahh. Jgn nyerah dulu tae, perjalanan kalian masih panjang. Fany aja sampe rela ninggalin semuanya buat lo, tp masa fany nya mau ditinggalin gitu ajaa. Ga kasian sama fany. Hwaitaeng!!!💪🏼💪🏼

    • Ya bener, asal ada niat dari dirinya sendiri tapi juga harus didukung dari lingkungan sekitar 🙂 kalo cuma 1 aspek, sulit untuk berhasil.
      mudah2an ya ^^

  2. Mau gimana lagi masa iya harus pake cara kekerasan tp itu juga kemungkinan nya juga kecil
    Ikutin jalan ceritanya aja deh abisnya serba salah

  3. Wkwkwkwkwkwk
    Gtw lgi dahhg
    Tetep berharap ini happy endingg thorr
    Emg ga gmpng sih nyebuhin taeyeon
    Tpi demi fany (?) 😂😂😂
    Semoga tae ga patah semngatt
    Kerenn thorr
    Lanjut
    #believeintaeny
    #believeinauthor
    Wkakakakakkakaa

  4. Mg aja tae gak bnr” jatuh, nyangkut kek ato apa gitu, Tae knp msh gak bs jauh dr alkohol, segitu berat kah buat berhenti dr alkohol? Tae psti bs sembuh kok, jgn putus asa tae, kan ada fany yg selalu dsisi tae, berusaha lah tae untuk sembuh, kasian fany yg selalu setia dsampingmu tae n ninggalin keluarganya jg demi tae

    • nyangkut ya wkwkwk lucu jg tuh XD
      soalnya ty udh tahap kecanduan berat, makanya ga segampang itu buat lepas. tubuhnya udh bergantung terlalu lama sama alkohol 😦
      amin ya amin, semoga 🙂

  5. semoga taeng gx jd bunuh diri
    kasian pany klo di tinggal taeng
    ayolah taeng jangan menyerah kamu pasti bisa

  6. haaahhhh……
    Tippany emg nggk ada duanya dehhh….

    oh iya, jd nggk sabar pgn ngliat tapatini di mv ‘shut up’ bareng para unnies…

    hihihihihi……. …
    pasti kocak…..

  7. Tidakkkkk ….
    Knpa taeng ptus asa skli padahal fany akan alalu ada untuky..
    Moga taeng gk knapa2

  8. iya bener dede dari apa yang perna kak baca kebanyakan pencandu alkohol jika dalam tahap rehabilitasi pasti akan banyak cobaan jadi harus butuh org yang bener2 ikhlas untuk menyemangati.. semangat panny

  9. Yaampun kasian banget taetae,emang susah move dr yg namanya kecanduan,kecanduan apapun itu,termasuk kecanduan ama taeyeon hahahahahahaha
    why kerenn bangetttt,up and down rap nya hyo sumpah bagus banget,ga nyangka dia bisa ngerap kayak gitu,
    d tunggu next chapnnya laaaa

  10. Jangan sampe Taeyeon Dead.

  11. Good job Tae.. Untung tinggal d Korea coba tinggal unisoviet bisa langsng d dor.. Orng cem Tae ga berguna buat ap idup.. Hahahaha

    • hmm, memang kalo kita lihat sekilas, buat apa orang yg suka mabuk2an, pemarah, kasar kaya tae harus hidup. ok, wajar kalo kita mikir kaya gitu. tapi kalo kita lihat lagi dar sudut pandang yang lebih luas, orang2 seperti tae jg berhak untuk diberi kesempatan kedua, di balik semua kekurangan dia pasti ada kelebihan yg dia miliki juga. kalo ga, tiffany ga akan repot2 berusaha untuk taeyeon kan?? 🙂

      think from a bigger picture and always find a goodness in everyone ^^

  12. gue harap benar2 happy ending wkwk 😁

  13. Nah loh gmana itu?
    Kalo emg udh pecandu, sulit buat nyembuhinya. Tp balik lgi ama keinginan seseorang it sndri.

  14. Berubah itu butuh proses,taeyeon g harus gitu caranya. Andwaeee 😢😢😢 klo g ada elu ntar fany gimana nasibnyaaa hikss 😭😭😭😭😭

    • Iya betul. Berubah itu proses. Hanya saja disini tae udh putus asa, jd lah terlintas pikiran seperti ini 😢

  15. huwaaaa kenapa jadii gini ?
    tae kenapa harus pergii ? kasihan fany huhu
    jangan bilang ini kan sad ??

    • Krn tae menyesal dan merasa ga pantas utk fany, anyway dy lg halusinasi, disuruh bunuh diri sm halusinasinya 😦
      Sad ga ya? Cari tw di chapter selanjutnya ^^

  16. Andweeee…tae kok mau bunuh diri sih ntar yang jagain phany gak ada..
    tae udah nyerah..
    😥
    😥

  17. tanda-tandanya kayak orang pecandu narkotik juga ya? perasaan kayak gitu juga tanda-tandanya.
    kayaknya nanti taeyeon selamat deh, di part2 sebelumnya perasaan author bilang mau bikin yang happy ending , hehehehe.
    pembuatan konflik di dalam ceritanya pas, mengalir… keren thor ^^

Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s