rara0894

All about TaeTiSeo and GG

Wingless Angel (Chapter 3)

25 Comments

Title         : Wingless Angel

Author    : 4riesone

Genre      : Angst

Wingless Angel

Menjadi pemberani adalah sesuatu yang selalu aku inginkan. Sejak kecil aku sudah diajarkan untuk selalu berani setiap saat. Namun terkadang, ada hal-hal yang terlalu menakutkan bagiku untuk bisa kuhadapi dengan cukup kuat. Dan di saat-saat seperti itulah, aku berharap aku bisa mendapatkan keberanian darinya, bahkan walau jika hanya sepotongan kecil saja.

Jika dirinya mengatakan bahwa Appa adalah orang paling berani di muka bumi, aku akan mengatakan sebaliknya. Sesungguhnya, dia adalah orang yang paling berani di dunia ini.

Dia memberikan hidupnya untukku. Tanpa gentar akan apapun konsekuensinya.

Dia menghadapi segalanya demi hidupku.

Dia memberi aku hidup, dengan memberikan hidupnya sebagai pertukaran.

Akhirnya, hari yang paling ditunggu telah tiba. Setelah menunggu hampir sepuluh tahun di daerah abu-abu dimana berada ketidakpastian dalam bayang-bayang kematian yang terus menghantui, hari ini akhirnya aku akan memutuskan untuk berada pada satu sisi dari garis yang selama ini telah kutapaki. Aku akan menjalani operasi untuk melakukan transplantasi jantung yang baru bagiku dalam hitungan menit.

Aku sedang berbaring di tempat tidur, menunggu perawat untuk menjemputku menuju ruang operasi. Aku sudah mempersiapkan diriku untuk hari ini. Aku sangat bahagia karena pada akhirnya aku bisa mendapatkan kesempatan untuk menjadi lebih baik dan lebih sehat. Tetapi kecemasan dalam diriku tidak mau pergi dengan begitu saja. Aku tetap saja merasa takut. Bagaimana jika aku tidak bisa melalui operasi ini? Bagaimana jika aku tidak menjadi lebih baik setelah operasi ini? Pertanyaan-pertanyaan keraguan itu terus memenuhi kepalaku.

“Sayang,” dia memanggilku dengan suara lembutnya.

“Ya, Umma?” Aku menoleh padanya.

“Jangan takut. Kamu akan baik-baik saja. Kamu adalah putriku yang pemberani,” dia menatapku dengan tatapan yang lembut. “Bukankah kamu senang bisa menjalani operasi ini?”

Aku mengangguk kecil. “Aku senang, Umma. Hanya saja, bagaimana jika semuanya tidak berjalan sesuai rencana?”

“Tidak akan, sayang. Jangan khawatir. Hal itu tidak akan terjadi.” Dia menunjukkan senyum menenangkan. “Kamu tahu kenapa?”

Aku menggelengkan kepala.

“Itu karena kita sudah menunggu untuk kesempatan ini sejak lama. Dan karena Umma tidak akan pernah berhenti berdoa untuk keberhasilan operasimu. Kamu akan sehat dan hidup panjang.”

Aku mengangkat tanganku untuk menyentuh pipinya dan menyeka air matanya yang hangat. “Mengapa Umma menangis?”

“Ini air mata kebahagiaan, sayang. Umma bahagia. Umma benar-benar bahagia untukmu.” Dia terisak sedikit dan kemudian menyeka air matanya dengan lengannya. Dia meraih tanganku dan menggenggamnya.

“Kamu sangat berharga bagiku, sayang. Umma hanya ingin kamu sehat dan hidup dengan normal. Dan akhirnya hari ini, kamu bisa memilikinya. Tidak ada kata-kata yang cukup mampu untuk menggambarkan betapa bersyukurnya Umma karena kamu bisa memiliki kesempatan ini. Ini adalah saat-saat yang membahagiakan untuk Umma. Umma benar-benar bahagia.” Dia menangkup tanganku dengan kedua tangannya dan menciumnya untuk beberapa saat.

Perasaan sukacita jelas tergambar di wajahnya. Mulutnya tidak pernah berhenti menyunggingkan senyuman dan matanya tidak pernah memadamkan cahaya terangnya. Dirinya tampak sangat bahagia meskipun tumbuhnya tampak sangat rapuh.

Dengan kekuatan yang dia berikan untukku, akhirnya aku memasuki ruang operasi dan disambut oleh cahaya terang. Kecemasan ingin kembali menyusup dalam hatiku, tetapi aku tidak membiarkannya terjadi. Aku percaya akan apa yang dia katakan. Aku akan baik-baik saja. Aku tidak perlu khawatir.

Setelah mengobrol kecil dengan dokter, perlahan-lahan aku kehilangan kesadaran dan tanpa kusadari telah masuk lebih dalam ke alam bawah sadarku. Aku bermimpi tentang hidupku setelah operasi ini. Itu adalah sebuah hidup yang bahagia bersama dengannya. Aku akan lulus dari sekolah menengah atas dan dia ada disana bersamaku, berdiri di sampingku dan mengatakan dia bangga padaku. Kemudian aku akan memulai kuliahku sambil aku akan bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari kami berdua. Aku mengakhiri kuliahku dengan sangat baik dan mulai bekerja di salah satu perusahaan terbesar di Seoul.

Aku memiliki kehidupan yang indah dan bahagia bersama-sama dengannya.

Drip…

Drip…

Drip…

Samar-samar kudengar suara tetesan air di sisi kananku.

“Euungh.”

Aku sedikit menggeser tubuhku tapi rasanya begitu berat dan kepalaku terasa sangat berdenyut-denyut.

“Apa kamu sudah bangun?”

Sebuah suara wanita menyapaku. Tapi itu bukanlah suaranya. Aku membuka mataku dan menemukan bahwa itu adalah suara perawat yang sedang memeriksa infusku. Aku tidak menjawab perawat tersebut tetapi mencoba mencari dirinya ke sekeliling ruangan. Namun aku tidak bisa melihatnya dimanapun dan itu hanya membuat kepalaku semakin terasa sakit.

“Dimana Umma?” tanyaku dengan suara serak.

“Maaf, saya tidak tahu,” kata perawat itu meminta maaf.

Aku mengangkat tangan kiriku ke kepala. Mengapa rasanya begitu berat? Dan dimanakah dirinya? Aku mencoba untuk melawan gelombang rasa sakit yang menyerang kepalaku sambil menunggunya untuk datang. Tetapi aku kehilangan kesadaranku terlalu cepat dan tenggelam kembali dalam kegelapan.

Setelah menghabiskan waktu yang rasanya seperti berabad-abad, aku akhirnya bisa menghentikan tangisanku dan menggunakan kedua tanganku untuk menghapus air mataku. Lalu aku memberanikan diriku untuk masuk ke dalam ruangan. Aku perlu melihat dirinya lagi.

Langkahku semakin berat seiring aku semakin dekat dengannya. Dia kini telah ditutupi oleh kain putih besar hingga kepalanya. Aku berdiri di samping tempat tidurnya dan dengan tangan gemetaran kutarik kain putih itu ke bawah sehingga aku bisa kembali melihat wajahnya.

Dia tampat tak berdaya sama seperti ketika aku pertama kali melihatnya di ruangan yang sama ini. Dia tampak lemah dan pucat. Aku menyentuh wajahnya. Rasanya dingin. Dingin sekali.

“Umma…”

Tetes air mata tidak bisa kuhentikan untuk jatuh dari mataku menuju wajahnya yang pucat.

Aku membungkukkan tubuhku dan memeluk tubuhnya yang tak bergerak. Aku berharap aku bisa mendengar suara napasnya atau suara detak jantungnya lagi seperti dahulu, tetapi kini sudah tiada lagi. Hanya ada keheningan. Tidak ada lagi yang bisa terdengar kecuali suara isak tangisku.

Aku terbangun kembali dan mendapatkan informasi bahwa dia sedang dirawat di ICU. Aku tidak bisa menahan keterkejutan dalam diriku. Apa yang terjadi padanya? Mengapa dia dirawat di ICU? Apakah kondisinya seburuk itu? Dan karena berita mengejutkan itu, kondisiku pun kembali menurun. Denyut nadiku menurun dan aku mulai kembali merasakan sesak napas.

Itu membuatku terjebak di kamarku selama beberapa hari tanpa bisa melihatnya sama sekali. Aku tidak bisa bergerak tanpa bantuan dan itu pun hanya untuk jarak pendek. Hal itu membuatku begitu frustasi, tetapi pikiran tentangnyalah yang bisa membuatku kuat. Dia menjadi motivasi terbesar bagiku. Aku pun bertahan dan pulih. Setelah seminggu, akhirnya aku bisa keluar. Tentu saja tujuan pertamaku adalah kamarnya.

Aku memasuki ruangan itu dengan hati yang berat. Aku seketika terkesiap saat melihat kondisinya. Dia tampak begitu rapuh dan tak berdaya. Masker oksigen melekat pada hidung dan mulutnya. Banyak kabel dipasangkan di tubuhnya. Wajahnya begitu pucat seperti tidak ada darah yang mengalir melalui kulitnya. Dia terasa dingin di bawah sentuhanku.

Melihat dia seperti itu rasanya seperti perasaan menyesakkan yang tak kunjung berakhir. Seperti aku diseret ke lautan terdalam tanpa permukaan sehingga bahkan jika aku berusaha keras untuk mencapainya pun aku tidak akan pernah bisa. Tetapi aku pun tidak bisa melarikan diri menuju ketidaksadaran, karena tampaknya selalu ada sedikit udara yang tetap membuatku sadar…dalam kesakitan.

“Sudah berapa lama dia seperti ini?” tanyaku pada dokter yang baru saja memasuki ruangan.

“Tepat setelah operasimu. Dia tak sadarkan diri tepat setelah kamu keluar dari ruang operasi,” jelasnya.

Aku mencoba melawan air mata yang ingin jatuh dari mataku. Dia berusaha begitu keras untuk bertahan hingga dia yakin bahwa aku baik-baik saja. Dia selalu memikirkan diriku dan merawatku.

Aku menarik napas dalam sebelum menolehkan kepalaku ke arah dokter itu. “Apa yang terjadi padanya, dok?”

Semua yang akan dokter itu katakan tidaklah mungkin hal yang menyenangkan, jadi aku pun mempersiapkan diriku untuk mendengar apapun alasan di balik keadaannya yang lemah. Tetapi walaupun begitu, sesungguhnya aku tidak cukup siap untuk mengetahui kebenaran.

“Dia terinfeksi HIV. Sekarang dia telah memasuki tahap AIDS dimana sistem kekebalan tubuhnya turun sangat rendah. Dirinya tidak bisa lagi melawan infeksi-infeksi lain. Laporan kami menunjukkan bahwa semua organ dalamnya sudah terinfeksi dan menyebabkan komplikasi. Tampaknya dia juga mengalami malnutrisi berat.”

Selagi pikiranku perlahan memproses kata-kata tersebut, kekuatanku terkuras habis dari tubuhku, meninggalkan dalam keadaan tak berdaya. Aku hampir jatuh ke lantai jika dokter tidak sigap menahan tubuhku.

“Terima kasih,” kataku dengan suara yang bergetar.

Dokter itu tersenyum dan membantuku untuk duduk di kursi terdekat. Tubuhku bergetar dengan sendirinya akibat rasa takut luar biasa yang muncul dalam diriku. Aku mengigiti kukuku untuk menghilangkan rasa takut yang kurasakan. Tapi aku tidak bisa. Penglihatanku menjadi kabur karena air mataku. Pandanganku mulai terdisorientasi.

“Kamu harus istirahat.”

Aku menggeleng putus asa. Aku tidak ingin dipisahkan darinya lagi. Aku sudah berjuang keras untuk bisa melihatnya. Aku tidak akan meninggalkannya begitu saja. Aku ingin berada di sisinya. Sama seperti apa yang dia selalu lakukan untukku ketika aku membutuhkannya. Jadi kali ini, aku yang akan melakukan hal itu untuknya.

“Apa yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkannya?” Aku mendongak untuk melihat dokter itu, berharap dia akan memiliki ide-ide cemerlang untuk menyelamatkannya.

Namun yang kudapatkan hanyalah gelengan kepala darinya yang melambangkan lambaian bendera putih.

“Maafkan saya. Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Semua sudah terlambat.”

Aku diminta untuk kembali ke rumah terlebih dahulu. Sebenarnya aku tidak ingin meninggalkan sisinya, tapi aku teringat akan kata-kata terakhirnya. Dia memintaku untuk melihat laci pertama di rumah. Meskipun aku tidak tahu apa maksudnya, tapi lebih baik aku segera mencari tahu.

Rumah kami begitu gelap. Tidak ada yang menghuninya selama hampir setengah bulan.

Aku menyalakan lampu. Cahayanya menunjukkan betapa banyak debu yang telah menutupi sedikit furnitur yang kami miliki. Tapi aku tidak begitu peduli. Tujuanku adalah untuk mencari tahu apa yang ada di laci pertama. Laci tersebut berada di kamar tidur. Aku pun membukanya perlahan. Terdapat sebuah surat yang terlipat rapi di dalam laci yang dia sebutkan tu. Aku mengerutkan dahi dan mengambilnya.

Apakah yang ada di dalamnya?

Apaka ini semacam surat wasiat?

Aku duduk di lantai kemudian membuka surat itu dengan hati-hati. Aku bisa melihat tulisan tangannya yang rapi di kertas tersebut. Aku pun mulai membacanya dalam hati.

Plip.

Plop.

Plip.

Plop.

Waktu baru menunjukkan pukul sembilan pagi tapi langit sudah mulai gelap di sekitarku. Angin menggoyangkan cabang-cabang pohon dengan lembut sambil menyanyikan melodi melankolis pahit di telingaku. Hujan mulai turun, seolah-olah surga ikut mengangis bersama denganku di atas sana.

Tampaknya hari ini Tuhan mengubah langit terlalu dini, mengecatnya menjadi abu-abu. Aku berpikir bahwa Sang Mahakuasa benar-benar mengerti bagaimana perasaanku. Sama seperti kanvas di atas sana. Gelap tanpa cahaya. Abu-abu dalam ketidakpastian antara hitam dan putih.

Secara naluriah, aku mengangkat kedua tanganku ke atas kepala agar diriku tidak basah oleh air hujan. Seiring punggung tanganku terus menerus dijatuhi air hujan, aku tahu apa yang kulakukan ini tidak ada gunanya. Aku hanyalah seseorang yang tak berdaya melawan air hujan ini, seperti bagaimana tak berdayanya diriku melawan kenyataan ini.

Aku menunggu dirinya untuk memarahiku dan menarikku ke dalam pelukannya, mengamankanku di bawah payung dan menyuruhku untuk berhati-hati, namun itu tidak terjadi. Dia sudah tidak disini lagi.

Tiga puluh enam jam, tiga puluh enam jam yang panjang tanpa melihat senyumannya.

Aku akan memberikan apapun, menukar apapun, dan melakukan apapun, agar dia tersenyum lagi padaku dengan tatapan lembut di matanya.

Apakah ini adalah apa yang dimaksud dengan kesedihan? Apakah ini yang dirasakan sebagai akibat dari kehilangan orang yang paling penting di dunia yang tidak pasti ini? Tetapi apa yang aku rasakan bukanlah hanya kesedihan semata, tetapi sesuatu yang lebih besar dan lebih berat. Bukan hanya kerinduanku akan dirinya yang menyuburkan rasa kesedihanku, tetapi juga oleh perasaan bersalah dalam hatiku.

Penyelasan yang terus menghantui karena ketidakmampuanku untuk menyelamatkannya dari rasa sakit dan kegelapan.

Hujan berhenti membasahiku dan aku berbalik badan, berharap bahwa dirinyalah yang memegang payung bagiku, menunjukkan senyuman malaikat favoritku sebelum memarahiku tentang bagaimana aku bisa begitu ceroboh dengan tidak membawa payung.

“Pasti sulit bagimu saat ini, tetapi ketahuilan bahwa kamu tidak sendirian meskipun dia sudah tidak bersamamu lagi. Dan Ummamu… dia sudah berada di tempat yang lebih baik sekarang,” seorang pria dengan setelan hitam berkata pelan. Dia memegang payung dengan tangan kirinya sambil menepuk bahuku lembut dengan tangan kanannya.

“Tidak ada rasa sakit di surge, bukan?” aku bertanya. Dia adalah seorang pendeta jadi pasti dia adalah seorang yang religius. Dia akan tahu segala sesuatu yang perlu diketahui tentang surge.

“Tidak, tidak ada,” pria itu membalas dalam bisikan yang menenangkan.

Aku berharap dia tidak berbohong padaku.

Dan pemakamun pun dimulai. Pendeta tersebut mulai berbicara.

Terus terang saja, tidak ada air mata. Hanya ada kekosongan yang bisa aku rasakan di sekujur tubuhku. Di atap mulutku, di antara jari-jariku, di dadaku yang hampa dan bahkan di dalam setiap tulang-tulang tubuhku. Aku tidak cukup kuat untuk ini. Dia adalah pilar kekuatanku. Sekaranag pilar itu sudah tiada, aku merasa lemah, rapuh dan sendirian.

Aku berarap aku bisa tersapu dari tanah, hancur, pecah menjadi kepingan-kepingan kecil dan tertiup menuju langit, ke tempat dia berada. Tapi disinilah diriku. Melihat peti mati yang diturunkan semakin jauh ke dalam bumi, ditarik lebih dekat oleh gravitasi hingga akhirnya menyentuh tanah.

Mataku tidak bisa berpaling dari peti itu saat perlahan-lahan tanah basah mulai menutupinya. Rasanya seperti menyaksikan dirinya perlahan memudar dari kehidupanku. Seiring tanah terus dilemparkan ke dalam lubang, mengubur dirinya ke dalam tanah, hatiku tenggelam semakin dalam. Dan ternyata pendeta sudah mendekati akhir khotbahnya.

Aku berdiri diam, menatap nisannya sambil aku berusaha untuk mendengarkan pendeta itu. Pendeta itu mengakhiri khotbahnya dengan sebuah ayat alkitab.

“…Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. 2 Timotius 4:7,” katanya sambil menutup pelan alkitab dan mengakhiri proses pemakaman bersamaan dengan berhentinya hujan yang turun.

Pendeta sudah pergi. Begitu pun orang-orang yang membantu proses pemakaman. Juga orang-orang yang terlah berkumpul di sekitar kuburnya perlahan sudah mulai meninggalkan tempat setelah menyampaikan rasa belasungkawa mereka padaku. Mereka adalah para dokter dan perawat yang merawat aku dan dia selama masa rawat inap kami di rumah sakit.

Aku melihat ke sekeliling lapangan hijau. Tidak ada orang lain yang tersisa. Tidak ada teman. Tidak ada keluarga. Satu-satunya orang yang ada hanyalah diriku, berdiri di depan batu nisannya.

“Umma,” bisikku pada diriku sendiri. “Hanya aku disini.”

Aku menjatuhkan diriku ke tanah, menarik lutuku lebih dekat dengan tubuhku dan membiarkan air mata terjatuh dari mataku. Setiap tetes jatuh satu persatu dari mataku, menjadi bukti dari hal yang aku rasakan saat ini. Kesedihan. Penyesalan. Kesepian. Kekosongan.

“Ini menyakitkan Umma,” aku berkata pelan, “begitu menyakitkan.”

Aku tersedu-sedu. “Kenapa, Umma?” Aku menatap batu nisan abu-abu itu dengan pandangan kabur akibat air mataku. “Mengapa Umma meninggalkanku begitu cepat?” Melalui tangisanku, aku mengingat kembali suratnya yang sudah basah oleh tangisanku yang tak terbendung kemarin malam.

Untuk putriku tersayang,

Terima kasih telah menemukan surat ini. Jika kamu sedang membacanya sekarang, itu berarti Umma sudah tidak bisa lagi memberitahumu apa yang harus Umma katakan. Ada banyak hal yang ingin Umma ceritakan padamu. Tapi tampaknya Umma tidak punya banyak waktu lagi. Jadi perbolehkan Umma untuk memberitahumu beberapa hal melalui surat ini.

Pertama-tama, apakah kamu ingat tentang apa yang Umma katakan ketika kamu masih kanak-kanak?

Bahwa Appa dan Umma selalu mencintaimu, tidak peduli apapun.

Sayang, Appamu adalah penyelamat Umma. Dia menyelamatkan Umma dari kegelapan masa lalu Umma.

Umma hanyalah seorang yatim piatu yang miskin. Umma hidup seorang diri dan kesepian. Masa muda Umma dihabiskan dengan tidak benar, tanpa tujuan yang jelas untuk masa depan. Lalu suatu hari, Umma terjebak dalam bisnis yang sangat buruk dan kotor. Umma menyaksikan berbagai macam orang datang dan membayar sejumlah uang untuk mendapatkan kesenangan yang mereka sebut sebagai seks. Dan Umma berada disana untuk memenuhi kebutuhan mereka akan kenikmatan semacam itu. Umma melakukannya untuk menghilangkan rasa kesepian dalam hati Umma juga untuk merasakan kesenangan yang mereka selalu bicarakan. Tetapi walaupun sudah melakukannya berulang kali, hati Umma tetap saja tidak pernah merasa puas. Hati Umma masih menginginkan sesuatu, hal yang tidak Umma ketahui pada saat itu.

Sampai akhirnya aku bertemu dengan Appamu.

Dia adalah seorang pria yang gagah dan baik hati. Hari itu dia dipaksa oleh teman-temannya untuk pergi ke bar tempat dimana Umma bekerja. Tetapi dia bukanlah tipe yang liar dan senang berpesta. Dia hanya duduk di bar sepanjang malam. Itu yang membuat Umma penasaran. Maka Ummapun mendekatinya dan menawarkan minuman.

Umma kira Umma sedang melihat seorang malaikat.

Dia tersenyum pada Umma dengan begitu tulus saat dia menolak tawaran Umma. Umma tidak pernah melihat senyuman setulus miliknya sebelumnya. Setiap senyuman yang Umma lihat adalah senyuman palsu, senyuman mengejek ataupun senyuman penuh nafsu. Namun senyumannya datang dari hati walaupun dia sedang menolak Umma.

Karena senyumannya, Umma merasakan sesuatu yang berbeda dalam diri Umma. Sesuatu yang Umma selalu coba untuk temukan.

Kebahagiaan.

Sebuah sukacita yang juga membawa senyuman di wajah Umma.

Sejak saat itu, Umma belajar banyak darinya. Umma akhirnya mengerti mengapa dia bisa memiliki senyuman yang begitu tulus.

Itu karena cinta.

Hatinya dipenuhi dengan rasa cinta. Yang membuatnya selalu berbagi kasih dengan orang lain.

Dan untuk pertama kalinya, Umma merasakan sebuah perasaan yang ajaib.

Umma jatuh cinta padanya.

Hati Umma akhirnya mendapatkan apa yang diinginkannya. Umma tidak lagi merasa kesepian dan Umma bisa merasakan begitu banyak kesenangan tanpa harus melakukan hal-hal kotor.

Dia mengajarkan pada Umma bahwa kebahagiaan datang melalui cinta, bukan hanya melalui kenikmatan fisik semata. Umma akhirnya mengerti bahwa cinta adalah sesuatu yang jauh dari sekedar hasrat untuk hubungan seksual semata. Cinta adalah sarana utama untuk menghindarkan diri dari kesepian. Cintanyalah yang membebaskan Umma dari kegelapan yang menghantuiku selama bertahun-tahun. Umma berhenti melakukan hal-hal buruk di masa lalu dan memulai hidup baru bersama-sama dengannya.

Menikahinya adalah momen yang membahagiakan dalam hidup Umma. Tetapi melahirkan dirimu adalah momen yang paling indah dalam hidup Umma.

Ketika kamu lahir, Umma melihatmu dan merasakan cinta tanpa syarat yang tidak pernah Umma ketahui ada dalam diri Umma. Saat kamu tumbuh, dan Umma melihatmu jalan terhuyung-huyung, mengucapkan kata-kata pertamamu, dan tumbuh menjadi seorang gadis kecil yang cantik, perasaan itu tetaplah sama.

Juga, dirimu begitu mirip dengannya. Terutama bola mata coklatmu. Matamu selalu mengingatkanku akan dirinya. Terlebih lagi, kamu diberikan oleh Tuhan kepada kami sebagai sebuah karunia cinta.

Kamu adalah putriku tersayang.

Kamu adalah segalanya bagi Umma.

Di hari ketika Umma kehilangan Appamu karena dia melindungi kita berdua dari mantan bos Umma yang terus saja menginginkan Umma kembali, Umma hampir saja kehilangan harapan hidup. Tetapi kamu ada disana. Melihat senyuman polos dan bola mata coklatmu membawa Umma kembali untuk hidup.

Kamu adalah harapan dan hidup Umma.

Namun ternyata, Umma harus menghadapi ketakutan lain dalam hidup ini.

Mengetahui dirimu mengalami gagal jantung rasanya seperti ada yang mengambil jantung dari tubuh Umma ini. Perasaan Umma begitu tak terlukiskan hingga Umma tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Namun air mata tidak mau berhenti jatuh dari mata Umma. Tampaknya, walaupun hati Umma tidak bisa merasakan apa-apa lagi tetapi tubuh Umma masih bereaksi terhadap perasaan tak tergambarkan yang Umma miliki saat itu.

Bagaimana bisa kamu, putriku tersayang, menderita sakit seperti itu? Kamu masih begitu muda. Kamu harus hidup panjang, sehat dan bahagia, bukannya mengalami penderitaan seperti masa kecil Umma.

Namun Umma tidak bisa menyerah dengan keadaan. Umma harus kuat untukmu. Umma harus menyelamatkanmu dari situasi yang menyiksa ini. Umma harus memberimu kehidupan.

Hidupmu adalah sebuah karunia bagi Umma. Karunia dari Tuhan dan dari Appamu. Umma akan melindunginya dengan segala cara.

Umma tahu mungkin kamu sudah mencurigai Umma untuk waktu yang lama. Dugaanmu memang tepat adanya.

Maafkan Umma karena Umma tidak memiliki pilihan lain. Umma hanya memiliki kehendak dan cinta untukmu. Umma tidak memiliki apa-apa lagi.

Satu-satunya cara untuk mendapatkan uang adalah dengan menggunakan tubuhku. Umma sudah mencoba bermacam-macam pekerjaan, tetapi penghasilannya tidak pernah mencukupi, sedangkan waktu tetap saja berjalan. Umma tidak bisa membuang-buang waktu. Setiap detik begitu berharga untuk menyelamatkan hidupmu.

Jadi Umma pun memilih hal yang paling Umma benci untuk mendapatkan lebih banyak uang. Umma memberitahu diri Umma berulang-ulang kali bahwa kondisimu akan membaik dan kamu akan hidup dengan baik dan sehat. Pikiran itu sajalah yang mampu membuat Umma bertahan untuk tidak terpuruk dan mengakhiri hidup setelah semua yang sudah Umma lakukan.

Umma tidak peduli hal apapun kecuali membuatmu tetap hidup.

Umma tidak peduli jika orang akan mengejek Umma atau mengatakan hal-hal buruk tentang Umma. Penghinaan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa maluku karena tidak bisa melindungimu. Umma bahkan tidak peduli jika Umma akan diusir menuju ke neraka terdalam dan dibakar di atas api terpanas karena dosa-dosa Umma. Lagipula Umma sudah banyak melakukan dosa. Umma pantas mendapatkannya. Tetapi tidak dengan dirimu. Kamu tidak pantas mendapatkan semua rasa sakit yang kamu telah alami. Kamu tidak bersalah.

Maafkan Umma karena Umma tidak bisa menjadi orang tua yang baik untukmu. Umma tidak bisa menjadi teladan yang baik bagimu dan Umma tidak berada di sisimu di saat kamu bertumbuh. Umma minta maaf atas semua yang sudah Umma lakukan.

Tetapi bahkan jika kamu membenci Umma sekalipun, Umma tidak apa-apa. Kamu memiliki hak untuk membenci Umma setelah mengetahui semua hal-hal buruk yang sudah Umma lakukan dan juga karena telah menelantarkanmu selama tahun-tahun belakangan. Umma sudah menerimanya sejak awal ketika Umma membuat keputusan.

Umma akan melakukan apapun untukmu, putriku tersayang.

Kamu tidak bisa membayangkan betapa bahagianya Umma ketika akhirnya kamu bisa menjalani operasi. Rasanya seperti sebuah keajaiban. Pada akhirnya, kamu bisa memiliki umur yang panjang, hidup sehat dan bahagia.

Sayangnya, Umma tidak bisa lagi menjadi bagian dari kehidupanmu.

Semuanya sudah terlambat.

Mungkin ini adalah hukuman untuk setiap hal berdosa yang telah Umma lakukan dalam hidup Umma.

Tetapi Umma tetap bahagia, terlepas dari berbagai hal lainnya.

Dalam arti apapun, kamu masih hidup, putriku tersayang. Aku benar-bersyukur akan fakta ini.

Umma tahu Umma tidak bisa melihatmu tumbuh menjadi seorang wanita yang cantik, namun itu tidak apa-apa, karena memiliki dirimu sebagai putriku saja sudah merupakan berkat yang sangat melimpah bagiku. Dan Umma tahu kalau kamu pasti akan menjadi seorang wanita yang jelita. Kamu adalah bunga yang indah yang pada saatnya akan segera mekar. Dengan semua kebaikan dan ketulusan yang kamu miliki. Maaf Umma meninggalkanmu begitu cepat, tetapi orang tua harus meninggal terlebih dahulu sebelum anak-anak mereka, bukankah begitu?

Sayang, semuanya sudah direncanakan dengan sempurna, baik kau tahu ataupun tidak. Ada maksudnya mengapa Umma meninggalkanmu begitu cepat meskiun sayangnya, kehidupan terkadang tidak memberikan kita jawabannya. Yang harus kita lakukan adalah mencoba dan memahami sementara sabar menunggu hingga akhirnya tujuan itu terungkap dengan sendirinya.

Sekarang janganlah merasa sedih akan kematian Umma. Umma tahu kamu bisa melewati hal ini. Umma tidak ingin dirimu tenggelam dalam lautan keputusasaan karena kepergian Umma. Jadi pergilah, jalani hidup seperti yang selalu kamu impikan. Umma akan selalu mengawasimu dari jauh, dan itu adalah janji Umma padamu.

Akhirnya…

Kamu tidak pernah perlu untuk memaafkan Umma. Umma hanya berharap kamu akan melanjutkan hidupmu dengan penuh arti. Selalu tersenyum dan tidak pernah menyerah. Jangan menjadi seseorang yang memalukan seperti diriku. Belajarlah sebanyak mungkin dan kembangkan talentamu semaksimal mungkin. Jadilah seseorang yang sukses namun tetap penuh perhatian. Temukan cintamu dan hidup bahagia selamanya bersama dengan keluargamu.

Dan tidak peduli apapun yang kamu lakukan mulai saat ini, ketahuilah…

Umma akan selalu mencintaimu.

 

Dengan cinta terdalam,

Umma.

Aku mengepalkan tanganku membentuk sebuah tinju dan membiarkan air mataku membasahi kemeja hitam yang aku kenakan.

Aku tidak pernah membayangkan bebannya seberat itu. Semua yang dia pikirkan dalam hidupnya hanyalah kami. Tentang Appa dan diriku.

“Umma…”

Appa mati untuk dirinya dan diriku.

Dan dia mati untukku.

“Umma…”

Aku berdiam disana untuk sementara waktu, menangis dan memeluk lututku dengan erat.

“Umma…”

“Umma…”

“Umma…”

“Umma…”

Dan walaupun begitu dia tidak ingin dimaafkan. Walaupun sesungguhnya dia tidak benar-benar membutuhkan pengampunan dariku karena dia tidak pernah berbuat salah apapun padaku. Semua yang dia lakukan hanyalah mencintaiku. Tapi tetap saja, dia begitu tidak egois.

Aku tidak bisa membayangkan betapa besar dan tulus cinta yang dimilikinya. Aku tidak yakin bagaimana bisa cinta menjadikan seseorang mampu untuk melakukan apapun, mengorbankan apapun, menanggung apapun untuk orang yang dicintai. Tetapi itulah dia, contoh hidup dari cinta yang paling murni dari semuanya.

Ketika aku tidak bisa menangis lagi, aku melepaskan lututku dan menggunakan kedua tanganku untuk mengusap air mataku. Aku mendongak ke langit. Langit telah berubah biru. Awan abu-abu telah pegi ke tempat yang jauh, digantikan oleh biasan cahaya putih di tetesan air yang mengambil bentuk busur warna-warni.

Tanpa hujan, tidak akan ada pelangi.

Apakah semua hal yang terjadi ini adalah hujanku?

Jika begitu, bisakah aku mendapatkan kesempatan untuk melihat pelangiku?

Aku mendorong tubuhku untuk berdiri di atas kedua kakiku.

Dia sudah mati untukku. Dia sudah berkorban untukku. Untuk memberikanku kehidupan. Untuk memberiku sebuah kehidupan yang baik dan sehat. Dia menjadi hujan agar diriku dapat melihat pelangi.

Aku tidak bisa membiarkan semua pengorbanannya menjadi sia-sia.

Aku akan berdiri tegar dan melanjutkan hidupku. Dan membuatnya bangga. Walaupun aku tahu itu tidak akan mudah, tetapi aku percaya aku akan mampu melaluinya karena dia akan selalu mendampingiku.

Karena dia adalah… MALAIKAT TAK BERSAYAPKU.

Aku memandang ke kekejauhan dan membisikkan lembut pada angin di sekitarku, berharap itu akan membawa kata-kataku menuju ke tempat dimana dia berada.

“Aku mencintaimu, Umma.”

The End.

akhirnya cerita ini selesai juga :’) semoga kalian suka ya dan bisa mendapatkan sesuatu dari cerita ini. kalo kalian suka dengan ceritanya, boleh silahkan ditulis komentarnya di bawah, atau mungkin dishare ceritanya jg boleh ^^ tapi komentar kalian akan sangat bermanfaat.

makasih jg udh menyempatkan baca ff yang sgt sedih ini.

ngomong2 untuk menjawab pertanyaan kalian selama ini, siapa sih karakter dlm cerita ini? sebenernya cerita ini ditulis dengan OC (original character) sbg pemeran utamanya. Jadi kalian bisa bayangin siapa aja jadi karakter ini, mulai dari Taeyeon sampe Seohyun bahkan sampe diri kalian sendiri. Semuanya terserah kalian hahaha

Oke deh kalo gitu segini aja bawelnya…

Annyeong~

Advertisements

Author: 4riesone

SONE. Follow me on Twitter @4riesone for updates and questions

25 thoughts on “Wingless Angel (Chapter 3)

  1. Pingback: Wingless Angel (Chapter 2) | rara0894

  2. Serasa bercermin diri sendiri pa yg udah qt lakuin utk semua pengorbanan dr orangtua yg telah ngelakuin papun buat qt n itu bikin gw sedih banget

  3. Udah end 😭😭😭
    Perasaan gue rada gimana gitu abis baca ini, sendu sendu gimana gitu gak bisa jelasin

  4. hiks hiks hiks pagi2 gini di bikin mewek sedih bner2 😥
    cerita ini tuh bikin gw makin cinta sama orang tua gw apalagi nyokap haddeeeehhh emaaaak aylopyupul dah

  5. Kalau kak mikirinnya Kim Family….dede ola sumpah kalau dede dekat udak kak ulek dede.. siang2 gini udah buat kak mewek.. kalau bukan dikantor bacanya mungkin kak udah menangis tersedu-sedu.. kak jadi ingat sama almarhuma mama kak… sumpah keren bgt.. kak sampai harus bisa mengatur perasaan biar gak terbawah suasana ttp aja terharu… ini ff pertama yang buat kak menagis, kalau terharu sih ada tapi kalau sampai nangis gak… pengorbanan orang tua emank tidak ada duanya.. jadi bernostalgia deh sama alm mama kak.. hehhe makasih dede … luv youuu but a hate you udh buat kak nangis… mana taeny pengen dipeluk soshi

    • blom rela bikin fany semenderita itu katy haha peran mamah disini terlalu menyedihkan T.T aku tak tega sm fany.
      wah, makasih katy, seneng kalo cerita ini bisa menyentuh hatimu hehehe
      tapi memang betul, pengorbanan orang tua emang tiada duanya. cinta yang paling tulus dan ga ada batasnya :’)

  6. End???? Wkwkwkw
    Aduh thorr sedih bngtt
    Nih crita ):
    Kerenn thorrr

  7. Beneran End kah??
    Surat umma buat aq mewek..
    Emank nggak ada yg bisa melebihi kasih sayang seorang ibu…
    Kadang suka kesel kalo misalkan di berita2 denger seorang ibu dianiaya sama anaknya sendiri..
    Apa merka nggak sadar dr mana mereka berasal? apa mereka nggak tau gmana sakitnya saat menghadirkan dia di dunia?
    Ntar kalo dia dah bener2 ninggalin kita br kerasa perbedaannya..

    • iya beneran end 😦
      sedih waktu nulis surat itu jg 😦 cintanya luar biasa sekali :’)
      haha iya bener2, ga sadar diri ya.

  8. Keren parah lah alur ceritanya dari awal sampe akhir ini. Tiap chap berhasil bikin airmata gue netes, entah krn gue yg terlalu cengeng apa gimana tp feel nya dapet bgt:”) klo topiknya tentang ibu selalu gabisa tahan buat ga keluar airmata…
    Ngebayanginnya kim family sih, jd dari awal ff yg dibayangin klo si pemeran umma itu fany dan anaknya seohyun xD

    Kerenlah!!! Ditunggu ff berikutnyaa👍👍

  9. selalu mewek kalau baca nih ff,suratnya bikin meweknya makin deras

  10. bacanya bikin gw nangis kebayang dong umma udah berkorban banyak buat anaknya tapi disaat si anak udah mau sembuh, ummanya malahan meninggal huwwaa…..T_T

  11. Yah bener2 dah,q bru kali ne tahan bca ff tanpa tw yg jls cp castx hehehe

  12. Gomawoyo.. sad happy ending ia^^
    I love you, umma.,”
    No comment.. likethis 😊

  13. Ini dr tahun 2015 yah ceritanya :’. Anyeong. Aku new reader dan pengagum cerita kamu. Terutama yg ini. Banjir air mata sumpah 😢😢😢.. I love it. Kata katanya itu bener bener terlukis bgt di kepala. Nyampe masuk ke hati, ! Ini ujan air mata kenapa g mau berenti sih.. Haahh cape nangis 😢. Oy aku share gpp ya. Abis suka bgt!!!

Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s