rara0894

All about TaeTiSeo and GG

Wingless Angel (Chapter 2)

25 Comments

Title         : Wingless Angel

Author    : 4riesone

Genre      : Angst

Wingless Angel

Seluruh hidupku aku lewati bersamanya.

Tak ada orang lain yang aku miliki selain dirinya.

Dia adalah satu-satunya keluargaku. Dirinya adalah seorang yatim piatu dan begitupun appa. Keluargaku memang sekecil itu, hanya aku, dirinya dan appa.

Masa kecilku pun tidak sama seperti anak-anak lainnya. Karena penyakit yang aku derita, aku tidak bisa pergi keluar dan bermain dengan anak-anak lain di taman.. Di sekolah pun aku tidak bisa bermain. Dan lagipula tidak ada yang ingin bermain denganku, atau bahkan hanya untuk berbicara denganku saja. Karena aku tidak memiliki appa dan aku begitu miskin.

Situasinya pun tidak jauh berbeda di lingkungan tempat tinggalku. Mereka mengasingkan aku dan dia. Tidak ada yang mau membalas sapaan kami. Bahkan mereka tidak mau melihat kami sama sekali. Sebagai gantinya, kami diberi label sebagai ‘penyakit masyarakat’.

Itu adalah kehidupan yang aku jalani selama ini.

Tidak ada keluarga lainnya. Tidak ada teman. Tidak ada tetangga. TIdak ada orang lain kecuali kami.

Tetapi aku bisa melewati itu semua karena aku memiliki dirinya.

Dia adalah pilar kekuatanku. Sumber asa dan harapanku untuk melanjutkan hidupku di tengah-tengah segala ketidak-beruntungan yang terjadi dalam hidupku.

Dia selalu melimpahiku dengan cintanya yang tiada tara. Perhatian, pikiran, senyuman, pelukan, ciuman. Semuanya itu adalah bentuk cintanya bagiku. Jadi, walaupun aku tidak menjalani kehidupan yang ‘beruntung’, aku dapat merasakan hal yang paling indah di dunia ini.

CINTA DARINYA.

Aku tidak memerlukan apapun lagi, kecuali dirinya. Malaikat tak bersayapku.

Tanpanya, aku tidak tahu akan menjadi apa diriku ini.

“Umma, aku pulang.” Aku berteriak segera setelah aku membuka pintu rumahku. Aku kemudian berlari menuju ruang tamu kecil kami.

“Selamat datang, sayang,” dia berbicara dari arah dapur.

Aku bisa melihatnya sedang memotong beberapa sayuran untuk makan siang kami. Dapur dan ruang tamu kami memang tidak begitu jauh, tidak ada penyekatnya juga. Rumah kami terlalu kecil untuk memiliki ruangan yang terpisah. Kami hanya memiliki satu kamar tidur, satu kamar mandi dan sebuah ruang tamu yang tergabung dengan dapur.

Aku begitu bersemangat. Perutku sudah berbunyi sejak di sekolah tadi. Drum di dalam perutku itu tidak mau berhenti berbunyi jika aku tidak segera memberinya makan. Tetapi aku sudah tidak cemas lagi. Dia akan segera selesai menyiapakan makan siang dan itu berarti aku juga bisa menikmati makanan yang lezat dengan segera.

Aku tersenyum membayangkan apa yang aku akan makan nanti.

Namun kemudian…

Serbuan rasa sakit menyerang dadaku.

Aku menyengkeram dadaku, membenamkan kukuku ke dalamnya. “Hah…Hah…Hah…Hah…”

Rasanya seperti paru-paruku sudah tenggelam dalam cairan dan tak mampu menampung udara lagi. Saat aku berusaha untuk menghirup lebih banyak udara dan mengisi paru-paruku, rasa sakit di dadaku semakin tak terkira. Tubuhku terasa lemas dan aku tidak mampu lagi menopang diriku untuk duduk. Akhirnya aku terjatuh ke lantai dengan suara keras. Posisi ini membuatku semakin sulit bernapas.

“Hah…Hah…Hah…Hah…” Aku membuka mulutku selebar mungkin untuk menghirup oksigen sambil aku tetap memegang dadaku yang semakin terasa sakit.

“Sayang?”

Aku bisa mendengar suaranya.

“Sayang?!”

Dan kali ini nada paniknya yang terdengar jelas.

Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya karena kemudian pandanganku menjadi gelap. Aku pun akhirnya tenggelam dalam kegelapan.

“Apakah obatnya tidak bekerja?”

“Obat-obatan hanya mampu membantunya untuk sementara waktu. Tetapi tidak bisa menyembuhkan jantungnya yang lemah.”

“Tapi dokter, pasti ada suatu cara, bukan?”

Hening.

“Dokter!!”

Suara helaan napas.

“Kami tidak bisa melakukan apapun terhadap jantungnya yang lemah saat ini. Tetapi obat-obatan dapat membantu hari-harinya.”

“Saya tidak menanyakan hal tersebut. Saya meminta anda untuk menyembuhkannya. Untuk menyelamatkannya.”

“Maafkan saya, Bu.”

“Saya mohon. Lakukan apapun, dokter. Apa tidak ada hal apapun yang bisa anda lakukan?”

“Ada satu hal yang bisa kami lakukan. Tapi…”

“Apa itu?”

“Transplantasi jantung.”

“Kalau begitu lakukan saja itu, dokter.”

“Maafkan saya, Bu. Tetapi itu tidak mungkin untuk saat ini. Pertama-tama, tidak ada donor untuknya. Kami harus mencari donornya terlebih dahulu. Dan kedua…”

“Apa itu? Apa ini mengenai biaya?”

“Ya. Maaf, tetapi menurut saya hal ini tidak mungkin untuk dilakukan. Biayanya terlalu mahal.”

Aku memicingkan mataku dan disambut oleh langit-langit yang asing bersamaan dengan aroma yang aneh. Ini tidak terasa seperti rumahku.

Dimana diriku?

Sayup-sayup, aku mendengar suara yang familiar tidak jauh dariku.

“Tidak ada yang terlalu mahal untuk hidup putri saya, dokter.”

Itu adalah suaranya.

“Saya tahu itu. Tetapi maksud saya, kerugiannya terlalu besar, Bu.”

“Apa anda mengatakan bahwa hidup putri saya tidak penting?” Kali ini dia meninggikan suaranya.

Aku mengerutkan alisku. Aku bertanya-tanya apakah dia sedang bertengkar dengan seseorang. Aku tidak pernah mendengar dia meninggikan suaranya sebelumnya.

“Tidak, Bu. Bukan seperti itu. Tentu saja semua hidup itu penting.”

“Kalau begitu berhenti mengatakan hal-hal seperti itu. Jika itu adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan hidup putri saya, maka kita harus melakukannya. Berapa besar biayanya?”

Putrinya? Itu berarti aku yang sedang mereka bicarakan.

“Bu…”

“Jawab saya, dokter!” dia menyela.

“Sekitar satu juta dollar.”

“Sa…satu juta…dollar.”

Aku terkesiap mendengar jumlah uang yang luar biasa besar yang disebutkan oleh dokter itu. Hal ini membuat mereka menolehkan kepalanya padaku. “Sayang? Apa kau sudah bangun?”

Aku berusaha untuk mengangguk tetapi kepalaku terasa sakit di seluruh bagiannya dan begitu berat, sehingga aku pun membatalkan niatku. Akhirnya aku hanya menatapnya saja.

“Kita akan mendiskusikannya lagi nanti.” Aku mendengarnya bicara sebelum berjalan menuju tempat tidurku.

“Dimana diriku, Umma?” Aku bertanya padanya dengan suara lemah.

“Kamu sedang berada di rumah sakit, sayang. Apa yang kamu rasakan sekarang?” Dia bertanya sambil tangannya membelai wajahku lembut.

Aku akhirnya mengerti lingkungan sekitarku. Langit-langit putih dan bau aneh. Aku juga bisa merasakan jarum yang menembus pergelangan tanganku, terhubung dengan IV drip di sebelah tempat tidurku.

“Pusing.”

“TIdurlah lagi kalau begitu.”

“Aku tidak bisa, Umma.”

“Hmm, kenapa?”

“Aku takut. Semuanya terasa gelap. Dan aku sendirian.”

Dia tersenyum. “Sekarang kamu tahu ada Umma disini. Kamu tidak sendirian lagi. Umma akan tinggal disini, di sampingmu. Jadi jangan takut lagi, sayang. Bukankah kamu adalah putri Umma dan Appa yang pemberani?”

“Memang, Umma. Tapi…” Aku mengerucutkan bibirku.

“Umma janji padamu bahwa semuanya akan baik-baik saja, oke?” katanya sambil tersenyum.

Aku tersenyum balik padanya dengan lemah. “Oke.”

“Tidurlah.” Dia mengecup dahiku sebelum mengelus rambutku pelan.

“Bisakah Umma menyanyikan sebuah lagu untukku?” pintaku.

“Hmm, lagu apa yang kamu inginkan, sayang?”

“Apa saja Umma. Aku ingin tetap mendengar suaramu.”

Dia tertawa kecil mengetahui alasanku. “Baiklah. Umma akan menyanyi untukmu.”

Dan dia pun mulai bernyanyi untukku. Lagu favoritku dan suara favoritku. Mendengar suaranya begitu menenangkan. Rasanya seperti mendengar malaikat bernyanyi. Perlahan-lahan, aku bisa menutup mataku kembali dan terlelap. Dia terus bersenandung untukku sepanjang malam hingga aku benar-benar tertidur.

Sebelum aku benar-benar kehilangan kesadaranku, aku samar-samar mengingat sebuah ciuman basah di dahiku. Sebuah ciuman yang panjang. Bersama dengan suaranya yang sayup-sayup kudengar.

“Umma akan terus melindungimu. Umma berjanji, kamu akan sehat kembali, sayang. Tidak peduli apapun.”

Pintu tiba-tiba saja terbuka dan orang-orang segera berlari masuk dengan peralatan di tangan mereka. Ada satu dokter dan tiga perawat. Setiap langkah kaki, yang lambat, yang bergegas, yang berat, semuanya tertuju padanya. Aku perlahan menarik diri dari tempat tidur saat dokter sedang terengah-engah memberikan perintah lagi dan lagi sebelum memeriksa tubuhnya dengan senter dan stetoskop.

“Aku mohon selamatkan dia,” pintaku pada mereka.

“Iya, nona. Kami akan melakukan yang terbaik disini.” Salah satu perawat menjawabku. “Kami mohon agar nona menunggu di luar,” perawat itu memberitahuku.

Aku menggeleng. Aku tidak ingin meninggalkan sisinya.

“Kami mohon, nona,” kata perawat itu kembali.

Aku melihat dirinya sekali lagi sebelum menghela napas berat dan dengan enggan menarik diriku keluar dari ruangan ICU. Aku harap mereka bisa menyelamatkan dirinya.

Jam terus berdetak saat aku menunggu di luar. Aku duduk di bangku koridor di depan kamarnya dengan ketakutan besar menghantui diriku dari belakang. Tubuhku tidak bisa tinggal diam. Dia terus saja bergetar dengan sendirinya.

Aku mengigit kukuku gugup. Hal itu sudah menjadi kebiaasaanku setiap kali aku ketakutan.

Aku benar-benar ketakutan saat ini.

Aku tidak ingin ditinggalkan seorang diri.

Kesendirian adalah hal yang paling tidak kusukai di dunia ini. Rasa yang mengungkapangkan sakitnya seorang diri, tanpa ada yang memperhatikan atau peduli padaku. Dan dia perlahan-lahan menggerogotiku dari dalam tanpa peringatan apapun sebelumnya.

Aku tidak ingin ada kesendirian lagi dalam hidupku.

Sudah cukup aku ditinggalkan.

Setelah malam itu, dia bertekad untuk melakukan apapun agar aku bisa menjalani operasi.

Walaupun begitu, aku tidak menyukainya.

Dia terus saja meninggalkan aku seorang diri di rumah untuk bekerja. Pagi dan malam. Tujuh hari seminggu.

Aku tidak suka sendirian.

Di masa lalu, dia selalu ada untukku, walaupun dia masih harus bekerja. Sekarang ini, waktunya untukku sudah menurun drastis. Hanya di sore hari, ketika dia membawakan makan malam untukku. Bahkan aku tidak lagi tidur bersamanya.

Karena rasa kesepian dan rasa hausku akan cintanya, aku mulai berubah. Aku lulus sekolah dasar dengan melakukan banyak hal nakal. Dan hal-hal buruk tersebut masih terus berlanjut. Aku berharap dia akan lebih memperhatikan diriku jika aku berkelakuan buruk. Tetapi tidak. Aku salah. Dia terus saja bekerja dan bekerja.

Aku benar-benar kecewa.

Aku mulai mengabaikannya dan menuntut ini dan itu darinya. Jika saya tidak bisa mendapatkan perhatiannya maka dia harus memberikan apa yang aku inginkan.

Benar-benar menakutkan bagaimana manusia seringkali tidak menghargai hal-hal kecil. Layaknya diriku padanya.

Aku tidak tahu mengapa diriku begitu bodoh. Bagaimana bisa aku melakukan dan memikirkan sesuatu seperti itu?

Untuk segala sesuatu yang telah dilakukannya untukku, bukannya merasa bersyukur, sebaliknya aku hanya menambahkan beban dan rasa sakit padanya. Memikirkannya membuat hatiku terasa semakin berat dan sakit. Rasa bersalah dan penyesalan terus meresap dan membebani hatiku.

Sebuah kata ‘maaf’ padanya tidak akan cukup. Aku bisa meminta maaf seribu kali padanya dan tetap saja tidak akan cukup untuk mengurangi sedikit saja rasa bersalahku. Ini adalah penyesalan terbesar dalam hidupku.

Aku berharap aku bisa memutar kembali waktu. Kalau saja aku menyadari segala sesuatunya lebih awal.

Aku sedang mengerjakan PRku ketika dia tiba.

“Umma pulang.”

Aku menjawab dengan sebuah ‘hmm’. Aku pun tidak beranjak dari tempatku dan terus mengerjakan PRku. Aku berharap dia membawa makan malam untukku. Perutku sudah bergemuruh sejak dua jam yang lalu. Aku harus menahan perasaan tidak menyenangkan ini sembari mengerjakan PRku karena dia pulang terlambat.

“Umma membawakan makan malam untukmu.”

Begitu mendengarnya, aku segera meninggalkan PRku dan menghampiri makan malamku. Aku hanya melihat satu bungkus makanan. Tetapi aku tidak berpikir banyak dan segera membuka pembungkusnya.

Aku mengerang. Makanan yang dibawanya adalah kimchi dapbap seperti biasanya, atau apa yang biasa disebut nasi campur kimchi. Aku sudah memakan ini selama seminggu penuh sekarang.

“Maaf. Umma tahu kamu sudah bosan dengan kimchi dapbap, tetapi itu satu-satunya makanan yang bisa Umma belikan untukmu hari ini. Umma harap kamu bisa mengerti.”

“Tidak apa-apa. Sudah biasa.” Aku menjawabnya dingin.

“Makanlah.” Dia menepukku sekali di bahu dan tersenyum. “Umma akan pergi mandi.”

Aku mengangguk. Aku terus saja diperlakukan seperti seorang anak kecil. Dan senyuman itu. Mengapa dia tersenyum padaku ketika aku jelas-jelas tidak bersikap baik padanya? Aku tidak bisa mengerti dirinya.

Aku menyelesaikan makan malamku dengan cepat dan menuju ke kamar tidur dimana aku biasa tidur bersama dengan dia. Aku tahu aku tidak akan tidur dengannya lagi malam ini, maka aku pun hanya menyiapkan satu kasur dan segera masuk ke bawah selimut. Aku menatap ke langit-langit di atasku yang sudah rusak disana sini. Namun aku tahu, bagaimanapun itu tidak akan segera diperbaiki.

Uang yang dia dapatkan dari pekerjaannya yang tiada akhir sudah digunakan untuk membayar biaya sekolahku dan juga tagihan obat-obatanku yang mahal. Kami bahkan tidak memiliki makanan yang pantas untuk dimakan. Apalagi untuk memperbaiki rumah.

Aku mengela napas. Lupakan saja tentang hal itu. Lagipula aku sudah terbiasa.

Aku mencoba lagi untuk tidur, tapi rupanya kandung kemihku perlu dikosongkan terlebih dahulu. Oleh karena itu aku pun bangun dan berjalan menuju pintu kamar.

Ketika aku akan melangkahkan kakiku keluar, aku samar-samar dapat mendengar suara tangisan. Aku berhenti di tempatku.

“Umma?” gumamku pelan pada diriku sendiri. Mengapa dia menangis?

Aku mengintip dari celah pintu yang sempit. Aku terkesiap dan segera menutup mulut ketika aku melihat apa yang terjadi.

Dia sedang makan seorang diri disana.

Tetapi apa yang lebih mengejutkanku adalah apa yang dia makan.

Itu hanyalah nasi.

Nasi putih polos.

Demi Tuhan.

Bagaimana dia bisa makan seperti itu? Mengapa dia tidak membeli lauk lebih untuk dirinya sendiri?

Aku menggigit bibirku saat aku melihat dia menyuapkan nasi putih itu ke dalam mulutnya, sambil air mata terus mengalir dari matanya. Dia mengusap pipinya dengan tangan kirinya dan terus melanjutkan makan dengan tangan kanannya. Isak tangis samar terdengar saat dia melakukannya. Hatiku tidak mampu menahannya lagi. Rasanya menyakitkan melihat dia seperti itu. Meskipun aku bertindak seolah-olah aku tidak peduli, namun tetap saja, orang yang pertama-tama aku cintai adalah dirinya.

Akhirnya aku pun ikut menangis, menyengkeram dadaku begitu erat hingga buku-bukuku berubah putih. Aku membiarkan air mataku terus membasahi pipiku.

Dia berkata bahwa dia akan selalu mencintaiku tidak peduli apapun. Seharusnya aku mengingat hal itu lebih awal. Semua yang dia lakukan padaku adalah karena cintanya padaku. Walaupun dia meninggalkanku seorang diri di rumah, tapi dia bekerja mati-matian untuk memenuhi kebutuhanku. Sampa pada titik dimana dia tidak memperhatikan kebutuhannya lagi. Dan itu semua karena diriku.

Aku mendekap mulutku erat dengan tanganku untuk mencegah diriku menjerit. Aku merasakan gemetar mulai timbul jauh dari hatiku yang membuat seluruh tubuhku bergetar.

Kami berdua sama-sama berjuang mengatasi rasa sakit kami masing-masing. Dan kami pun bersama-sama menangis dalam diam malam itu, dengan cara yang berbeda dan di tempat yang berbeda.

Benar.

Dia selalu menanggung semuanya sendirian.

Namun yang dia miliki hanyalah diriku, putrinya yang tidak sensitif ini.

Aku memandang tanganku yang bergetar dan gambaran jam tangan di pergelangan tanganku mengingatkanku akan memori yang lalu. Jam itu merupakan hadiah untuk ulang tahunku yang ke-15. Salah satu benda favoritku.

Jam ini adalah salah satu bukti cintanya yang tak bersayarat padaku.

Walaupun dia tidak bisa memberikanku kehidupan yang mewah tetapi dia masih tetap berusaha untuk memenuhi seluruh kebutuhan harianku. Walaupun itu berarti dia harus mengesampingkan kebutuhannya.

Dia selalu mendahulukanku dalam segala hal. Apapun itu.

Di hari ulang tahunku yang ke-15, aku tidak berharap untuk mendapatkan hadiah sama sekali. Tapi ternyata, saat aku pulang sekolah, dia sedang menungguku dengan senyuman indahnya beserta sebuah kue ulang tahun di tangannya.

“Selamat ulang tahun ke-15, sayang!”

Aku tersipu mendapatkan kejutan tersebut dan segera mendekatinya dengan senyuman terulas di wajahku. Akhirnya aku memiliki kenangan merayakan ulang tahunku. Ini adalah pertama kalinya bagiku. Tetapi yang lebih istimewa adalah hadiah darinya. Dia membelikan jam tangan untukku.

“Ini jam tangan untukmu, sayang. Umma berharap jam tangan ini bisa menjadi pengingat bagimu betapa berharganya waktu. Waktu terdiri dari masa lalu, sekarang dan masa depan. Umma berharap kamu bisa belajar dari masa lalumu, supaya kamu tidak menyesali kesalahan yang sama dua kali. Umma berharap kamu memiliki mimpi untuk masa depanmu, supaya kamu tetap memiliki motivasi dan harapan setiap saat. Tetapi,” dia menatapku dengan senyuman yang sama. “Hal yang terpenting adalah untuk melakukan yang terbaik di masa kini, supaya kamu tidak akan menyesali apapun. Semoga jam tangan ini bisa menjadi pengingat untukmu untuk selalu berpegang pada masa kini, bukan hanya pada kesalahan masa lalu atau harapan masa depan.”

Aku membuka kotak pemberiannya. Mataku segera berkaca-kaca, dipenuhi air mata kebahagiaan. Hadiah darinya benar-benar indah.

“Terima kasih, Umma!!” Aku melompat dan memeluknya. “Aku mencintaimu.” Aku mencium pipinya sebelum mencoba mengenakan jam tangan pemberiannya di pergelangan tanganku.

“Terlihat bagus di tanganmu, sayang,” komentarnya sambil tersenyum berseri-seri.

“Tentu saja, Umma. Ini adalah hadiah terbaik sepanjang masa!” Seruku dalam sukacita.

Aku benar-benar bahagia. Jam tangan tersebut langsung menjadi barang favoritku. Aku mengenakannya kemanapun dengan bangga. Tetapi ternyata orang lain tidak memiliki pemikiran yang sama denganku.

“Woah. Woah. Dimana kamu mendapatkan jam tangan mahal itu?”

Aku sedang dalam perjalanan pulang ke rumah ketika tiba-tiba saja ada lima anak laki-laki menghalangi jalanku dan berdiri dengan pose yang begitu percaya diri dan tatapan meremehkan.

“Ini hadiah ulang tahunku,” kataku membela diri.

Anak-anak itu tertawa. “Kau pasti bercanda!! Siapa yang akan memberikanmu hadiah ulang tahun?”

“Ummaku.”

“Apa?? Ummamu?? Ummamu yang miskin itu??” Mereka tertawa terbahak-bahak.

Aku tidak menjawab hinaan mereka. Aku tahu berurusan dengan mereka bukanlah hal yang tepat.

“Hei, sampah!! Jawab kami!!” Salah satu di antara mereka berteriak padaku.

“Dari mana Ummamu mendapatkannya? Apakah dia mencurinya dari seseorang?” Ejeknya.

“Tidak!!” Aku berteriak balik.

Anak-anak itu tetawa lagi. “Akhirnya ayam penakut ini berbicara juga,” komentar salah satu anak laki-laki itu yang menimbulkan gelak tawa lagi di antara mereka.

“Berikan jam tanganmu pada kami. Kau tidak pantas mendapatkannya. Orang miskin sepertimu tidak boleh menggunakan sesuatu yang bagus seperti itu. Kau seharusnya menutupi dirimu dengan kotoran saja.”

Mereka menyeringai padaku dengan niat jahat yang jelas terpampang di mata mereka.

“Tidak akan, menjauh dariku!”

Tetapi itu hanya membuat mereka semakin mendekatiku. Aku tidak bisa berdiam diri saja. Jam tangan ini adalah hadiah darinya untukku. Sesuatu yang berharga. Tidak ada seorang pun yang boleh memilikinya kecuali aku.

Dengan seluruh kekuatanku, aku berteriak dan berlari melalui mereka seperti banteng yang ingin menanduk bendera merah. Aku berlari dan berlari dan berlari dengan sedikit energy yang aku miliki. Tujuanku adalah kembali ke sekolah, menuju ruang guru. Mereka tidak akan berani membulli ku disana.

Aku berhasil.

Melarikan diri dari para pembulli itu.

Tetapi tidak dengan jantungku.

Dia gagal membuatku tetap terjaga. Aku merasa sepert tenggelam tanpa ada lagi udara di paru-paruku.

Ketika aku sadar kembali, aku sudah berada di kamar rumah sakit.

Dan dia ada disana.

Aku hampir tidak bisa bernapas ketika dia memelukku begitu erat segera setelah dia menyadari aku sudah terbangun.

“Terima kasih, Tuhan. Terima kasih,” gumamnya di telingaku. Sebuah isakan pelan terdengar di antara kata-katanya. Akhirnya, dia tidak bisa menahan air matanya lagi dan menangis di bahuku.

“Umma pikir Umma akan kehilangan dirimu,” ucapnya. “Itu benar-benar membuat Umma takut,” Dia memeluku lebih erat.

“Aku baik-baik saja, Umma. Jangan menangis,” bisikku pelan sambil menenangkannya. Seluruh badannya bergetar ketika memelukku. “Aku baik-baik saja.” Aku mencoba menghiburnya dengan membalas pelukannya dengan cara yang sama, tetapi ketika wajahku mendekatinya, aku bisa merasakan sesuatu yang berbeda. Hidungku menangkap suatu bau yang berbeda.

Bau laki-laki.

Dan bau itu….

“Umma benar-benar khawatir.” Kata-katanya menginterupsi pikiranku. Dia akhirnya melepaskan pelukannya. Aku bisa melihat wajahnya sudah basah oleh air mata. Tetapi ada sesuatu yang berbeda di wajahnya. Apa yang terjadi pada wajahnya? Ada beberapa luka memar di pipinya dan juga luka di sudut bibirnya. Selain itu, dia juga mengenakan make-up. Aku belum pernah melihatnya seperti ini sebelumnya.

“Apa yang terjadi pada wajahmu, Umma?” aku bertanya padanya tanpa basa-basi.

“Tidak apa-apa, sayang. Kamu tidak perlu khawair,” jawabnya dengan cepat, bahkan relatif terlalu cepat.

Aku menatapnya. Dia tampak berbeda. Penampilannya tidak seperti dirinya yang biasa. Dia terlihat lebih gemerlap dan seksi. Aku tidak tahu bagaimana harus menggambarkan dirinya. Tapi perasaanku tidak begitu menyukainya.

“Umma jelas-jelas memiliki memar dan luka di wajahmu. Bagaimana Umma bisa baik-baik saja? Ayo kita segera panggil dokter kesini.” Aku bersikeras.

“Umma baik-baik saja, sayang. Umma terjatuh ketika sedang bekerja. Itu saja. Luka-luka ini akan segera sembuh,” dia menunjukkan senyuman terbaiknya untuk meyakinkanku. Tetapi aku belum sepenuhnya yakin.

“Apa yang sebenarnya Umma kerjakan?”

Kali ini, pertanyaanku tidak mendapatkan respon yang cepat seperti sebelumnya. Sebaliknya, dia tampak ragu-ragu untuk menjawab pertanyaanku itu.

“Kamu tidak perlu tahu, sayang. Itu tidak penting. Selama Umma bisa melindungimu, Umma akan melakukan apapun untukmu.”

Mengapa aku begitu buta?

Mengapa aku tidak bisa menyadarinya sejak awal?

Seharusnya aku menghentikan dia melakukan hal itu.

Jika saja aku melakukannya…

Mungkin dia bisa diselamatkan dari segalanya.

Mungkin dia tidak harus begitu menderita seperti sekarang ini.

Uhuk…Uhuk…Uhuk…

Aku baru saja keluar dari kamar mandi ketika aku mendengar suara batuk keras berulang kali.

Uhuk…Uhuk…Uhuk…

Suara batuk itu berasal darinya. Dia sedang batuk parah.

Aku bisa melihat sebotol obat di hadapannya.

Tapi kemudian aku terbelalak saat aku menyadari berapa banyak pil yang dia ambil dari botol tersebut. Dan dia akan meminum semuanya.

Aku segera menghentikan tangannya bergerak lebih jauh sebelum pil itu masuk ke dalam mulutnya yang terbuka.

“Apa yang Umma lakukan??!!”

Dia pasti sudah gila. Dia tidak seharusnya mengkonsumsi pil sebanyak itu. Itu akan membuatnya overdosis.

“Biarkan Umma meminumnya.”

“Tidak, Umma. Umma tidak boleh minum sebanyak ini.”

“Tapi Umma membutuhkannya.”

Uhuk…Uhuk…Uhuk…

“Umma harus bekerja. Umma harus mengumpulkan lebih banyak uang untuk operasimu,” dia terbatuk sebelum menambahkan. “Umma tidak bisa sakit seperti ini.”

“Umma…”

Mendengar kata-katanya benar-benar menyentuh hatiku.

Sebelumnya, aku tidak pernah menyadari betapa kerasnya dia bekerja untukku. Semua yang dapat aku pikirkan adalah pikiran egois. Menyalahkannya karena tidak ada waktu bagiku ketika pada kenyataannya semua yang dia lakukan adalah bagiku. Dia membanting tulang dan mendorong dirinya hingga sampai titik darah penghabisan untuk memenuhi kebutuhanku sehari-hari, untuk membeli obat-obatanku yang mahal, dan terlebih lagi, untuk menyimpan uang demi operasiku kelak.

Dia bertekad untuk menyelamatkan hidupku.

Bahkan jika itu berarti dirinya harus memikul semua rasa sakit seorang diri.

Aku tidak peduli lagi apa yang orang lain katakan tentang dirinya, karena mereka tidak mengenal dirinya.

Tetapi aku mengenal dirinya.

Ketika aku menatapnya, aku tahu aku sedang menatap cinta paling murni yang akan pernah kujumpai. Dirinya adalah orang yang paling murni, paling baik, dan paling tulus di seluruh alam semesta ini.

Tidak ada yang berhak menghakiminya.

Tidak ada yang berhak berbicara buruk mengenai dirinya.

Mereka tidak memiliki hak karena mereka tidak tahu apa-apa.

“Jangan datang kemari lagi!! Kami tidak memerlukan sampah sepertimu!”

Dari jauh, aku melihat seorang pria mendorong dirinya dari dalam toko tempat dia biasa bekerja. Dia terjatuh ke tanah dan menunduk ke bawah. “Aku membutuhkan pekerjaan ini.”

“Diam!!” Pria itu berteriak keras padanya. “Aku tidak butuh alasan dari seseorang sepertimu. Kau adalah penyakit dalam masyarakat ini. Beraninya kau masih bekerja di tempatku?”

Aku tahu kondisinya tidak akan baik, oleh karena itu aku mempercepat langkahku untuk mendekati mereka.

“Aku benar-bener membutuhkan pekerjaan ini.”

Tetapi aku terlambat. Pria itu sudah mengambil keranjang sampah dan menumpahkan isinya di atas kepalanya. Mataku terbelalak melihat kejadian itu. Namun walaupun demikian, dia tidak bergerak sedikitpun dan hanya menerimanya.

“Disanalah seharusnya kau berada. Seorang sampah sepertimu!”

“Kau salah, Ahjussi!” Aku berdiri di depannya dan menatap dengan tegar pada pria tak berhati itu.

“Siapa kau?” Dia menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki.

“Aku adalah putrinya.”

“Oh, jadi kau adalah putri dari wanita murahan ini?” katanya mengejek sambil menatap jijik padaku. “Bawa pergi Ummamu ini dan jangan pernah kembali lagi kesini.”

“Memang itu yang aku rencanakan. Kau tidak layak menerima keringat Ummaku,” aku berkata balik pada pria itu sebelum menghampiri dia. Aku membersihkan sampah-sampah yang melekat pada tubuh dan juga pakaiannya sebelum menyeka air mata di pipinya. “Tidak apa-apa, Umma. Aku disini.” Aku memeluknya. “Aku disini,” aku merenggangkan pelukanku dan tersenyum padanya. “Ayo kita pergi.”

Dia meraih tanganku dan aku menariknya untuk berdiri. Sebelum pergi, aku kembali menatap pria pemilik toko itu.

“Mereka yang melanggar norma-norma dan nilai-nilai adalah sampah. Tetapi mereka yang memperlakukan manusia lain seperti sampah bahkan lebih buruk dari sampah.”

Dengan kata-kata itu, aku dan dirinya meninggalkan tempat yang ‘lebih buruk dari sampah’ itu dan tidak pernah melihat ke belakang kembali.

Tiba-tiba, pintu ruang ICU terbuka dan keluar seseorang yang adalah dokter yang sebelumnya. Aku segera bangkit berdiri dari tempat duduk dan mendekatinya. Aku berharap dia akan membawa kabar baik untukku.

Namun wajahnya tidak tampah cerah.

Apakah…apakah dia…Tidak…Tidak…Itu tidak mungkin. Mungkin dokter itu hanya kelelahan. Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri.

“Bagaimana, dokter?” tanyaku tak sabar.

Dokter itu hanya melihat ke bawah dengan ekspresi sedih.

“Katakan padaku apa yang terjadi.” Aku mengguncang tubuhnya. “Dia masih hidup, bukan? Dia masih hidup, kan?” Aku terus menggucang tubuhnya ke depan dan ke belakang.

“Maafkan kami,” ujarnya lemah.

“Tidak!” Aku berteriak. “Dokter pasti bohong!”

“Maafkan kami.”

“TIdak!! Dia tidak boleh meninggalkanku seorang diri! Tidak boleh!!!”

“Kami benar-benar menyesal, nona. Kami telah mengusahakan yang terbaik.”

“TIDAK!!! TIDAK!!! Berhenti berbohong padaku.” Aku menutup telingaku, tidak ingin mendengar apa-apa lagi.

“Nona…” dokter itu menyentuh bahuku lembut.

“Pergi!” Aku menyentak tangannya.

Dia pun melangkah mundur, memberikan ruang bagiku.

“Saya minta maaf, nona. Umma nona sudah berjuang selama ini, tetapi ternyata penyakitnya jauh lebih parah dari apa yang dapat dia tanggung.”

“Tinggalkan aku sendiri!” Aku berteriak sekeras mungkin. Aku tidak peduli akan hal itu. Aku hanya menginginkan dirinya.

“Baiklah kalau begitu. Nona bisa masuk ke dalam jika nona sudah siap. Sekali lagi, saya minta maaf,” ucap dokter itu sebelum berjalan pergi dariku, meninggalkanku sendirian di koridor yang sepi itu.

Tubuhku terkulai di koridor sepi itu diikuti pecahnya isak tangisku. Bahuku berguncang tak terkendali. Tanganku menutupi wajahku yang sudah basah oleh air mata saat dadaku tercekat oleh rasa sakit yang tak tertahankan. Yang bisa aku lakukan hanyalah menarik lututku mendekati wajahku, membenamkannya di celah kedua kakiku itu dan terus menangis. Dengan harapan dapat mengurangi rasa sakit yang kurasakan.

Hal yang paling menakutkan dalam hidupku akhirnya menjadi kenyataan.

Pada akhirnya, aku tidak cukup berani untuk menghadapi rasa takut ini seorang diri.

To be continued…

Next chapter —> Wingless Angel (Chapter 3)

Advertisements

Author: 4riesone

SONE. Follow me on Twitter @4riesone for updates and questions

25 thoughts on “Wingless Angel (Chapter 2)

  1. Apa2an ini thor???
    Kenapa setiap part gue selalu mewek??
    itu ummanya beneran meninggal??
    Kalo iy loe tega bener thor buat dia sendirian..
    jadi penasaran sama castnya…

  2. yaa ampun thor dr chapter pertama sampe yg skg gw baca masa mewek mulu jadinya gw
    sendirian dong tuh dy kasian banged dah tega banged dah authornya

  3. Wkwkwkwk you tega benerr 😂
    Umma nya beneran meninggal thorr
    Dia sendirian dongg ):
    Lanjut dahh

  4. Bener2 kerasa banget lah feel nya, hampir netes ya walaupun udh sempet berkaca2 lah pas baca salah satu scene nya. Makasih loh ya:”)
    Tega dahh bikin si anak ini sendirian. Lu ga kasian thor gimana hidupnya dia nanti. Pas ditinggal emaknya kerja aja udh kesepian gmn ditinggal buat selamanya….

    Cast diungkap secepatnya lahh, gue penasaran sama cast nya. Semoga aja sesuai harapan gue wkwkwk

  5. anjir… baca ini bener” buaf gue mewek.. inget nyokap drumah… gue yg nakal yg sllu minta ini itu g bisa di tunda dan harus ada… 😥 y allah berasa ngaca diri sendiri bc ff ini sumppah ;'(

  6. nyesek bnget…perjuangan seorang ibu untuk menyembyuhkan si anak bahkan rela melakukan apapun buat anaknya tanpa memikirkan tubuhnya…hadeh bikin mewek…dpet bnget feelnya..

  7. ya ampun.. apa ini thor!!! pagi2 udh mewek gara ini fanfic. T.T

    truz gmn nasib anaknya klo eomma nya mninggal?? next gw tunggu bgtz thor. fighting!!

  8. tissu mana tissu sedih bgt bacanya, dimana pengorbanan seorang ibu membesarkan anaknya tanpa seorang suami, harus menerima cercaan dan makian serta penghinaan, seorang ibu yang rela melakukan apapun agar anaknya sembuh dari penyakit jantung yang dideritax tanpa memperhatikan kesehatannya sendiri… OMG napa dede ola buat FF drama kaya gini… huahuhaaaa jadi pengen nangis dipelukan taeny.. hahhah

  9. banjir air mata baca nih ff,kasihan bgt ummanya meninggal berarti si cast utama sendirian dong next thor

  10. Ya Tuhan mewek gue.. Bnr kata orng kasih ibu tu sepanjang masa.. Mom I love u.. Maaf mom sampe saat ini aq belom bisa menjadi anak yg bisa membahagiakan mu.. Dan buat my mom yg hari ini lagi sakit semoga cepat sembuh.. Aq sayang mommy..

  11. penasaran sama cast nya masa

  12. Ya ampun kenapa harus se sedih ini sih ceritanya? 😭😭😭😭😭
    Lanjutkan Thor, masih penasaran nih sebenernya tuh anak siapa? 😁😁😁

  13. Ahhh nyebelin nih bikin gw mewek trus bacanya 😭😭😭
    Ayo donk tokoh anaknya yoona cz cinta bgt gw m doi 😘😘

  14. masih bingung tokoh utamanya siapa😣

  15. bikin nangis aja bacanya nih ff hiks….tp bingung sama tokohnya jd ngebayanginnya agak setengah2

  16. Ahhh…. mewek jga gw….
    sebenarnya siapa sih cast nya itu…. penasaran banget gw….
    lanjut deh…

  17. Pingback: Wingless Angel (Chapter 1) | rara0894

  18. Haduh… tisu gwe habis… kenapa menyayat ati bngt.. umma nya bener2 ninggal kah thor.. itu hidupin lagi..kasian dia sendirian..

  19. hiks…hiks….loe tega bngt thor bikn tuh anak hidup sndirian, slama ini dia cm pnya umma nya tp knp loe bikn ummanya meninggal
    emng ummanya sakit apaan sih thor?jgn dibikn meninggal donk, kasian tuh anak

  20. Wah kirain ff yg sm trnyta beda y. Next chap y

  21. Ya ampun thor sumpah ini bkin nangis

  22. Baca ini tengah mlm.. ngebuat aer mata gw ga ada abisnya keluar mele… akhirnya dipengunjung usia.. menutup semua kesakitannya slma ini.. ibu bagi qu melebihi seorang malaikat.. itu lah ibu..
    Gw dpet fell nya dlm ceritanya… menpikan gaya bahasa yg sederhana tp semuanya kebawa sm nie alur cerita… thk thor.. itu saja^^

  23. Mewek lah.. chukae thor^^.. tengah mlm ngebuat gw mewek..
    akhirnya nutup jg diusianya yg semakin lelah dgn banyak bwgd cobaan.. rela bwt ank tercintanya meski bdn penuh luka luka.. itu lah ibu😭 sesosok malaikat tak bersayap..

    Dapet bwgd fellnya Dgn gaya bahasa yg sederhana.. bs masuk ke inti cerita.. thk.. itu saja^^

  24. Gue juga nangis ini.. Hiks hiks.. Please kalo bicara tentang umma g ada bandingannya. Sedih bgt sumpah.. Nyeri dada gue hiks hiks :’

  25. gosh.. siapa yang menaruh bawang di depanku!

Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s