rara0894

All about TaeTiSeo and GG

Wingless Angel (Chapter 1)

62 Comments

Title         : Wingless Angel

Author    : 4riesone

Genre      : Angst

Wingless Angel

Beep…

Beep…

Beep…

Beep…

Beep…

Suara itu terus menerus terdengar dari mesin yang terletak di samping tempat tidur. Suara yang terdengar seperti penghitung waktu, menghitung mundur sedikit waktu yang aku miliki.

Aku masih ingat kata-katanya dulu. Dia mengatakan bahwa waktu adalah hal yang berharga. Dan orang seharusnya lebih menghargai waktu dibandingkan uang. Karena kita hanya akan memiliki waktu sekali saja dan tidak akan pernah bisa membelinya kembali. Namun…sekarang pun aku tahu. Aku tidak bisa begitu saja mempercayai waktu. Waktu memang tidak bisa diandalkan sepenuhnya, karena terkadang, ketika kita membutuhkan waktu lebih lama, dia akan menjadi seorang pendusta. Tahun terasa seperti bulan, bulan terasa seperti minggu, minggu terasa seperti hari, hari terasa seperti jam dan jam terasa seperti menit.

Aku tahu kalau waktuku sudah tidak banyak lagi. Aku telah berada di ruangan ini selama seminggu, yang hanya terasa seperti beberapa jam saja bagiku. Waktu yang tersisa tidaklah cukup bagiku. Waktuku semakin berkurang seiring setiap menit yang aku habiskan di ruang sunyi ini. Namun, aku pun tak mampu berbuat apapun.

Jika saja aku dapat menaklukkan waktu, aku tidak akan hanya menghentikan sedikit waktu yang aku miliki ini, tetapi aku, lebih dari apapun, ingin memutar mundur waktu. Agar aku tidak perlu melalui rasa sakit ini…seorang diri.

Aku mengeratkan genggaman tanganku pada tangannya yang dingin. Jika para dokter sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi untuknya, ini adalah hal yang masih bisa aku lakukan baginya. Berada di sampingnya dan memberikan sedikit kehangatan yang masih tersisa dalam hatiku.

Dadaku terasa semakin sesak seiring bejalannya waktu, menanggung semua rasa sakit yang perlahan merayap memasuki hatiku yang sudah hancur. Kepedihan mengisi ruang di dalamnya, kemudian meremasnya kuat, mencoba untuk menghancurkan semua yang masih tersisa di dalam hatiku ini.

Tetapi, aku tidak boleh menyerah pada rasa sakit ini.

Aku tidak akan membarkan satu-satunya hal berharga yang aku miliki hancur menjadi kepingan-kepingan tiada berarti. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Perasaan dan kenanganku tentang dirinya adalah satu-satunya hal yang aku miliki. Satu-satunya hal yang membuat aku hidup.

Aku menatap foto berpigura yang berada di dalam lemari kaca di hadapanku sebelum mengalihkan tatapanku pada wanita yang sedang menggenggam tanganku. Di dalam foto itu tampak seorang pria muda yang terlihat mirip sekali denganku.

“Umma, bagaimana rupa Appa sebenarnya?”

Dia menoleh untuk melihatku. “Dia adalah seorang pria yang tampan, sayang.”

“Apakah dia tinggi?”

“Tentu saja.”

“Apakah dia gemuk, Umma?” tanyaku lagi.

“Tentu saja tidak, sayang. Appamu adalah orang tersehat dan terbugar di muka bumi,” katanya diikuti dengan gelak tawa.

“Benarkah, Umma?”

“Ya sayang.”

“Kalau begitu aku ingin menjadi seperti Appa,” kataku antusias.

“Putri kecil Umma ingin menjadi seperti Appa?”

Aku mengangguk dengan semangat.

“Kalau begitu kamu harus menjadi kuat dan baik hati seperti Appa juga,” jawabnya dengan senyuman berseri-seri.

“Tentu, Umma. Aku akan menjadi seperti Appa!”

“Nah, itu baru putri Umma.”

Aku tersenyum sambil dia mencium keningku.

Dia adalah seorang malaikat bagiku.

Seorang malaikat tak bersayap.

Dia memiliki hati yang paling murni, baik dan tulus di seluruh jagad raya ini. Dia juga adalah orang paling cantik yang pernah kulihat dalam hidupku. Tiada apapun yang mampu menandingi senyumannya. Menatap senyumannya saja sudah mampu mengobati rasa sedih dan sakit yang aku alami.

Walaupun begitu, aku pun tahu kalau dirinya tidaklah sempurna.

Namun…

Dia tetaplah segalanya bagiku.

Aku segera berlari ke arahnya setelah aku tiba di rumah. Dia memelukku dan menepuk lembut punggungku.

“Sshh. Sshh. Jangan menangis, sayang.” Dia berbisik menenangkanku.

Aku menangis dalam pelukannya hingga air mataku membasahi lengan bajunya.

“Apa yang terjadi?”

“Mereka…mereka…*hik* bilang *hik* kalau aku *hik* seorang *hik* seorang anak haram,” aku berbicara di antara isak tangisku.

“Sshh. Sshh. Itu tidak benar, sayang. Kamu adalah putri Umma dan Appa.”

Di sela tangisanku, aku menambahkan, “tapi…tapi…mereka bilang kalau aku tidak memiliki Appa.”

“Kamu tahu itu tidak benar, kan? Kita selalu mengunjungi Appa setiap minggu.” Dia melepaskan pelukannya agar dirinya dapat melihat wajahku sebelum dia mengusap air mataku dengan ibu jarinya.

“Aku sudah mengatakannya, Umma. Tapi mereka tidak percaya padaku. Mereka ingin melihat Appa.” Aku mengerucutkan bibirku. “Aku juga ingin bertemu dengan Appa. Mengapa dia meninggalkan kita Umma?” Tangisanku sudah berhenti dan segera digantikan oleh rasa sedih.

Dia tersenyum padaku dan membelai poniku ke samping agar dia bisa melihat wajahku dengan lebih jelas.

“Appa meninggalkan kita begitu cepat karena dia melindungi kita, sayang. Dia berjuang dengan gagah berani hingga napas terakhir yang dimilikinya untuk melindungi hidup kita.”

“Tapi Umma, aku merindukannya.”

“Umma juga merindukan Appamu, sayang. Tapi ingatlah ini,” dia memandang mataku dengan tatapan lembutnya sebelum melanjutkan, “orang-orang yang mencintai kita tidak akan pernah benar-benar meninggalkan kita. Appa selalu bersama kita.”

“Benarkah?”

Dia mengangguk. “Di sini.” Dia meletakkan tangannya di dadaku. “Kamu akan selalu bisa menemukannya disana. Appa selalu hidup di dalam hatimu.”

Aku menggerakkan tanganku ke dadaku dan menutup mata. Apakah Appa ada disini?

“Appa tidak akan pergi kemanapun selama kita masih tetap memikirkannya. Selama kita masih tetap mencintainya.” Dia tersenyum lagi padaku. “Dan Appa akan selalu mengawasi kita dari atas,” tambahnya kemudian.

Dari atas? Aku menatap ke langit-langit.

Dia terkekeh melihatku. “Bukan disana, sayang. Tetapi jauh di tempat Tuhan berada.”

“Appa sedang bersama Tuhan sekarang?”

“Ya, sayang. Appa sedang bersama-Nya. Appa sekarang sedang mengawasimu bersama-sama dengan-Nya. Jadi setiap kali kamu membutuhkan bantuan, Appa akan selalu meminta Tuhan untuk membantumu. Appa selalu melindungi kita, sayang. Bahkan saat ini.”

Seulas senyuman perlahan terbentuk di wajahku yang sudah berlinang air mata. “Appa benar-benar keren!!”

“Tentu saja, sayang.”

“Aku sangat beruntung memiliki Appa sepertinya.” Aku menyeringai lebar, bangga.

“Kau sangat beruntung, sayang,” dia membelai kepalaku. “Dan Umma juga sangat beruntung karena memilikimu.” Dia tersenyum kembali, memperlihatkan garis-garis penuaan yang mulai terbentuk di sudut matanya.

Aku menatapnya.

“Kau benar-benar terlihat seperti Appamu.”

Aku terkekeh. “Tentu saja, Umma. Aku adalah putri Appa dan Umma.”

“Ya, kau benar. Tapi kamu mewarisi rupa Appamu begitu banyak. Terutama matamu. Kau memiliki mata yang sama seperti dirinya.”

Aku tahu itu. Dia sangat senang memuji bola mata cokelatku. Dia bilang kalau mataku mengingatkannya akan Appa.

“Tidak heran aku begitu cantik.”

Dia tertawa kecil. “Ya. Kamu memang sangat cantik, putri kecilku.”

Aku tersenyum lebar menatapnya. Kemudian dia membawaku ke dalam dekapannya. Aku bisa mendengar napasnya yang tenang dan irama detak jantungnya dengan jelas. Tak lama kemudian, dia sedikit merenggangkan pelukannya untuk melihat diriku.

Pada saat itu, aku benar-benar terpersona oleh kecantikannya, terutama senyumannya. Aku berpikir kalau diriku sedang melihat seorang malaikat, karena senyumannya benar-benar senyuman surgawi. Hanya dengan melihat senyumannya saja, hatiku sudah merasa begitu tenang dan penuh dengan kebahagiaan. Aku tahu aku akan bahagia selama aku bisa menjaga senyum itu di wajahnya.

“Kami mencintaimu, sayang. Selalu.” Dia menarikku kembali dalam pelukannya.

Ya.

Dia tidak pernah berhenti mencintaiku. Dan Appa tidak pernah berhenti mencintaiku. Tidak sekalipun.

Aku menyentuh dadaku yang terasa sakit. Semuanya terasa menyakitkan. Lebih dari yang dulu pernah kurasakan.

Di masa lalu, aku juga merasakan sakit di dadaku. Rasa sakit yang berbeda.

Aku tahu bagaimana rasanya mengalami sesak napas hingga rasanya tenggorokanku tercekat oleh benda yang besar hingga menghalangi udara untuk mengisi paru-paruku. Itu menyakitkan.

Aku tahu bagaimana rasanya memiliki nyeri yang luar biasa di dadaku seolah-olah jantungku ditarik dan diperas begitu kerasnya hingga tiada lagi darah yang tesisa di dalamnya. Itu menyakitkan.

Aku tahu bagaimana rasanya mengalami mengi terus-menerus yang menyakiti seluruh bagian tenggorokanku dan semua otot tubuh bagian atasku. Itu menyakitkan.

Namun, itu semua adalah semata-mata rasa sakit fisik yang disebabkan oleh jantungku yang lemah.

Tetapi rasa sakit seperti itu sudah tidak ada lagi.

Dia sudah membawa pergi rasa sakitku, dengan semua cinta dan pengorbanannya.

Namun sebagai konsekuensi, rasa sakit baru datang sebagai gantinya.

Rasa sakit akibat mengetahui semua penderitaannya.

“Hah … Hah … Hah … Hah … Hah …”

“Sayang. Ada apa?”

“Um … Hah … Hah … Hah …”

Aku mencoba untuk mengatakan sesuatu, tapi aku tidak bisa.

“Sayang…” Dia menatapku cemas. Aku bisa melihat dengan jelas ketakutan dalam dirinya. Jujur saja aku pun seperti itu.

Aku merasa sangat takut.

Malam itu aku sedang tidur dengan nyenyak di sampingnya. Tetapi kemudian aku merasakan sesak di dadaku dan aku pun tidak bisa bernapas dengan normal. Otakku segera memerintahkan tubuhku untuk bangun dan menghirup lebih banyak oksigen ke dalam paru-paruku. Tapi itu tidak ada gunanya. Aku masih tetap merasakan udara di dalam paru-paruku belum cukup banyak untuk mensuplai kebutuhan tubuhku. Aku terus menarik napas, lagi dan lagi.

“Tenang, sayang. Tenang. Umma ada disini.” Dia memegang kedua pundakku.

“Jangan takut. Kamu bisa bernapas. Kamu bisa, sayang. Ikuti Umma, oke?” Dia menatapku penuh perhatian dan membantuku untuk duduk.

Aku mencoba untuk mengangguk di antara sesak napas yang kualami.

“Sekarang tarik napas dalam-dalam.” Dia memberikan instruksi sebelum menghirup oksigen sebanyak yang dia mampu. “Lalu hembuskan.” Dia mengeluarkan napas dari mulutnya.

Aku mengikutinya sekali, namun tidak memberikan banyak dampak pada pernapasanku.

“Jangan khawatir. Ayo kita lakukan sekali lagi.” Dia menunjukan senyumannya untuk menenangkanku. “Sekarang tarik napas.”

Aku melakukannya lagi. Lagi dan lagi.

Dan berhasil. Akhirnya aku bisa bernapas dengan lebih baik dan kembali berbaring di tempat tidur. Malam itu dia mencium keningku lembut dan memeluk aku dalam tidurku. Aku bisa merasakan kehangatan dan cintanya mengalir bagiku, yang segera membasuh semua rasa sakit dan rasa takut yang kumiliki sebelumnya. Aku merasa lebih tenang dan dapat kembali terlelap. Semua berkat dirinya.

Keesokan paginya, dia bersikeras untuk membawa aku pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan.

Dokter disana begitu baik padaku. Dia tersenyum sepanjang waktu. Kemudian dia meminta aku untuk berbaring di tempat tidur agar dia bisa memeriksa jantungku, katanya. Dia menempatkan benda dingin berbentuk lingkaran di dadaku dan mencoba untuk mendengarkan detak jantungku melalui tabung yang terhubung ke telinganya. Setelah beberapa menit, dia tersenyum lagi kepadaku dan memperbolehkanku kembali padanya.

Aku duduk di samping dirinya sementara dia berdiskusi dengan dokter itu.

Aku baru berumur enam tahun pada saat itu, jadi aku tidak mengerti tentang apa yang sedang mereka bicarakan. Tapi aku lebih dari yakin bahwa aku melihat ekspresi sedih di wajahnya di sepanjang percakapan itu.

Aku menarik bajunya. “Ada apa, Umma?”

Tetapi dia menjawab dengan senyuman di wajahnya. “Tidak apa-apa, sayang. Jangan khawatir.” Dia menepuk pelan kepalaku dan mencium pelipisku setelahnya.

Aku memang masih kecil saat itu, tapi aku sudah bisa mengetahui bahwa itu adalah suatu kebohongan. Apa yang dikatakan oleh dokter itu pasti bukanlah sesuatu yang baik. Kenapa? Karena senyumannya tidak sama seperti senyuman-senyumannya yang lain yang begitu aku kagumi.

Dugaanku ternyata benar.

Dalam waktu singkat, aku diantar menuju ruangan lain.

Aku diberitahu untuk mengganti kaosku dengan pakaian hijau yang sudah disiapkan kemudian masuk ke dalam suatu ruangan kecil. Disana aku harus menghadap ke arah mesin yang berbentuk seperti pelat dan menahan napasku serta diam tak bergerak selama dua hingga tiga detik. Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan karena aku hanya berdiri disana dan kemudian dipersilahkan untuk keluar kembali setelah tidak lebih dari menit.

Aku menjadi semakin bingung ketika dia membawaku ke ruangan lain.

“Umma, apa yang akan kita lakukan?”

“Dokter ingin memeriksa sesuatu, sayang. Hal ini untuk memastikan bahwa kamu sekuat Appa.” Dia tersenyum.

“Tapi aku takut, Umma.”

“Tidak apa-apa, sayang. Ini tidak akan sakit dan dokter pun akan melakukannya dengan sangat cepat sampai kamu tidak akan menyadari apapun.”

“Apa Umma yakin?”

“Ya, sayang. Selain itu, Umma akan selalu ada untukmu. Jadi kamu tidak perlu takut.”

“Umma tidak akan meninggalkanku?”

“Tidak, sayang.” Dia tersenyum. Tak lama kemudian, aku sudah berada dalam pelukannya. Dia pun mencium lembut dahiku. “Umma tidak akan meninggalkanmu.”

Perlahan keberanian timbul dalam hatiku setelah mendengar kata-katanya. Aku akhirnya masuk kedalam ruangan tersebut dan berbaring di atas sebuah tempat tidur. Mereka menempelkan begitu banyak benda berbentuk lingkaran putih di dadaku yang terhubung ke sebuah mesin di samping tempat tidurku. Pada awalnya aku merasa takut, tetapi aku bisa melihatnya dari jendela sedang tersenyum padaku dan memberiku dukungan semangat. Itu sudah cukup bagiku untuk menyelesaikan pemeriksaan hingga akhir.

Hal berikutnya yang aku lakukan adalah menunggu bersama-sama dengan dia untuk dipanggil ke ruangan dokter.

Di dalam ruangan, aku bisa mendengar dokter mengatakan bahwa aku memiliki jantung yang lemah sehingga tidak bisa memompa darah dengan baik. Dia mengatakan padanya bahwa diriku mengalami gagal jantung kongestif.

Berusia hanya enam tahun, aku tidak benar-benar mengerti apa maksudnya itu selain bahwa itu bukanlah suatu kondisi yang baik. Aku yakin kondisiku pasti tidak baik, karena….dia menangis.

Itu adalah pertama kalinya aku melihat malaikatku yang selalu tampak kuat menangis di hadapanku.

Aku memandangnya.

Di samping masker oksigen di wajahnya dan IV di pergelangan tangannya, dia telah banyak berubah.

Seiring dengan berjalannya waktu, dia menjadi semakin kurus. Hanya sedikit dari ototnya yang tersisa. Bentuk tulangnya dapat terlihat dengan jelas di kulitnya. Lutut, siku, bahu. Semuanya tampak jelas pada kulitnya yang tipis. Dan tulang pipinya pun menonjol jelas di wajahnya.

Dia tampak seperti tengkorak hidup.

Walaupun begitu, dia masih merupakan wanita yang paling cantik di mataku.

Tidak peduli apa yang terjadi pada tubuh fisiknya, hati yang indah dalam dirinya dapat selalu lebih cemerlang daripada keburukan rupa belaka.

Aku tidak bisa menahan air mataku lebih lama. Rasanya terlalu menyakitkan melihat dirinya dalam kondisi seperti ini. Wanita yang selalu kuat di hadapanku sekarang hanyalah manusia tak berdaya dalam rupa kerangka berkulit.

Air mata hangat terjatuh bebas dari mataku.

Dan aku menangis. Menangis. Dan menangis.

Untuk mengurangi rasa sakitku.

Namun ternyata, itu tidak bisa. Hatiku masih terasa begitu berat. Dan rasa sakit di dadaku tidak juga menghilang.

Aku menangis keras hingga air mataku membasahi sprei. Saat itu, aku merasakan ada sesuatu yang bergerak.

Itu adalah tangannya. Dia mencoba untuk memegangku.

“Sayang.”

Itu adalah suaranya. Benar. Dia tetap saja memanggilku ‘sayang’ meskipun aku akan berumur enam belas tahun ini.

“Jangan menangis.”

“Umma?” Aku menggenggam tangannya.

“Jangan menangis,” dia mengulangi.

Aku berusaha untuk menghentikan tangisanku dan kemudian mengusap air mataku dengan punggung tanganku.

“K…kamu…,” dia berusaha untuk bicara sambil menatapku.

“Apa, Umma?”

“Kamu memiliki mata Appamu.” Sudut bibirnya sedikit terangkat.

“Umma…”

Air mataku jatuh tak tertahan lagi.

“Sayang…”

“Ya, Umma?”

“Tersenyumlah.”

“Umma…” aku menutup mataku yang sudah dipenuhi air mata.

“Untuk terakhir kalinya, sayang.”

Aku menggigit bibirku dan mengepalkan tanganku. Aku benci mendengar hal-hal seperti itu darinya, seolah-olah ini adalah akhir. Tapi mungkin inilah hal terakhir yang bisa aku lakukan untuknya. Aku membuka mataku dan pelan-pelan membentuk bibirku menjadi sebuah senyuman.

“Kamu cantik.” Pipinya terangkat, mencoba tersenyum.

“Um…Umma,” aku tersedak oleh air mataku sendiri.

“Jangan menangis, sayang. Kemarilah,” pintanya dengan suaranya yang sangat pelan.

Aku, sambil berusaha untuk mengendalikan tangisanku, bergerak mendekat padanya. Aku mendekatkan kepalaku padanya. Dan kemudian aku pun bisa merasakan bibirnya yang lemah mencium lembut dahiku. Semua usaha yang aku lakukan untuk menahan air mataku menadi sia-sia. Aku menangis semakin keras karenanya. Aku segera memeluknya sambil terus menangis.

Dia berbisik lembut di telingaku, mencoba untuk menenangkan diriku. Tapi yang terjadi bukanlah seperti saat aku masih kecil. Yang dilakukannya hanya membuatku semakin menangis. Aku menyadari betapa dia mencintaiku. Walaupun dia sedang dalam keadaan yang sangat lemah, dia tetap saja memikirkanku terlebih dahulu. Tidak pernah berhenti memperhatikanku.

“Sayang…” dia menarik napas dalam setelah aku lebih tenang. “Saat kamu pulang ke rumah, lihatlah ke laci pertama.”

Aku tidak mengerti apa maksud ucapannya itu. Aku pun melepaskan pelukanku dan menatapnya dengan kebingungan yang tampak jelas di mataku yang berlinang air mata.

Tetapi dia tersenyum sebelum kembali berbicara. “Aku mencintaimu, sayang.” Satu tetes mata terjatuh dari mata kanannya.

“Selamanya.”

Beep…….Beep……Beep…..Beep…..Beep…Beep..Beep.BeepBeepBeepBeepBeepBeepBeep

Suara itu tiba-tiba saja menjadi semakin cepat dan cepat.

“Umma?”

Dan dia pun memejamkan mata dengan senyuman terulas di wajahnya.

Beeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeppppppppppppppppppppp……………………….

Suara dari mesin itu sudah berubah menjadi bunyi beep panjang. Suara itu bergema di seluruh ruangan, layaknya sebuah panggilan kematian bagiku, menyergapku dari setiap sisi ruangan. Dan sekarang pun monitor hanya menunjukkan sebuah garis datar hijau panjang.

Mataku segera membelalak dan jantungku berdetak cepat.

“Umma?? Umma?”

Aku mengguncang tubuhnya panik.

“Bangun Umma! Bangun! Aku masih disini!” Aku terus mengguncangkan tubuhnya.

Tetapi tidak ada respon apapun darinya. Dan monitor itu terus mengeluarkan bunyi beep panjang. Hal itu benar-benar membuatku takut.

Tidak! Tidak! Hal ini tidak mungkin terjadi!

To be continued…

—————————-

Surprise!! XD

Next chapter: Wingless Angel (Chapter 2)

Advertisements

Author: 4riesone

SONE. Follow me on Twitter @4riesone for updates and questions

62 thoughts on “Wingless Angel (Chapter 1)

  1. what This??? ini belum jelas siapa castnya?? ini fanny sama seo atau siapa ini?? waduh sedih nih ceritanya, tapi nanti akan diceritakan yah gmn pertemuan ortu sang anak??? kasihan.. kasihhannn

  2. Apaan nih, masih chap 1 udh bikin gue netes. Parah sih yaa authornya T_T
    Tapi keren thor, feel nya dapet bgt. Pinter bgt mainin perasaan org…
    Penasaran sama cast nya, feeling sih itu fany sama seohyun dan bapaknya taeyeon haha
    Duhh ini beneran dari awal ceritanya udh sedih begini?? u_u semoga aja ini cuma mimpi atau apapun lah itu….

  3. apa-apaan ini!!! huaaaa penasaraaan.. ini seo sama fany??? atau sica sama yoong??? chapter 2 update skrang ajaah thor yah yah yah???

  4. Prediksi gw salah nihh, kirain sepasang kekasih.. taunya ibu dan anak
    Apa ini tipany seohyun? Atau yoona sica?
    Gw harap main castnya sica ato gk dibikin taengsic, gw kangen berat sama sica :’v

  5. Dari cerita mungkin ini taeng soalnya kata ummanya “mata mu coklat” benar ga sih??yg sakit kan si X tu nah dia memiliki penyakit tp masih kuat .. terus umma nya jg sakit atau apa?? Lanjut thor jgn lupa LBD nya jg

  6. Uaaahhh…chap 1 ja dah nyesek bca’a…
    Pnsaran nich,siapa yg jdi cast’a.?phy kya’a sica ma yoong ya thor
    .lnjut dah thor

  7. Ini siapa case nya thorr😢
    Baca jdi gabisa ngayal coba 😂😂😂😂
    Lanjut2 dah seru nih sad gtu wkakkakaka

  8. owalah baca ini sambil nyari tisu sedih sedih
    case nya siapa thor bikin penasaran seo fany atau yoong sica?????
    di lanjut aja dah

  9. Omo this so sad author 😭😭😭
    Tapi gue masih penasaran siapa pairingnya 😁
    Keep update thor, ini keren 😊😊😊

  10. baru aja permulaan tp udh bkin sedihh gmna ntar di part berikutnya

  11. Sedih bgt thor, ank itu siapa sbnrnya, apa ortunya meninggal?

  12. Cerita yg sedih antara ibu n anak….hikshiks
    bikin mngharukan baca nya thor….tpi msi pnasaran dgn case nya…spa siih thor ???

  13. Yah br part pertama aja udh bikin mewek…
    Tpi castnya siapa nie?
    bikin penasaran aja..

  14. Menyedih kn.. Pasti appa ny masih idup.. Lanjut Thor

  15. ini siapa sih castnya jdi gak bisa bayangin jalan ceritanya
    fany sama seo? tapi kalo mereka bedua yg mereka bicarain siapa? taeng?
    tae kan pendek sedangkan disitu dibilang tinggi
    apa jangan2 ini ff yulti?? ahh awas thor kalo ini ff yulti, demo nanti hahaha

  16. Cast nya masih misteruis.. Pengennya si seo & fany …

  17. hadooh…sedih baca ceritanya tp masih penasaran ini keluarga siapa sih kim apa kwon? baru chapter 1 udah bikin nangis aja…next dah

  18. nunggu lanjutaannnn nyaaa ajaaaaaa
    baru chap 1 ngapa udah nyesek gini sih thor, gak kebayang next nya kudu siapin tisu 😦

  19. apaan nih.. chap awal udh mewek mewek bgini??? penasaran itu siapa??

  20. YoonYulsic!! *pasang taruhan. Appamu tinggi itu Yuri, Matamu seperti ayahmu, kalo seohyun mirip maknya. tapi tadi yoona cewek biasanya kan cowok tau deh

  21. Kayanya sebagai anak itu yoong n appanya kayanya yuri karna cuma mereka berdua yg sangat mirip n eommanya nih yg masih ragu2 pa itu fany ato sica tp klo eyesmile yg bagus fany doank 😩 tp klo diliat anak n appanya itu yoong n yuri bearti eommanya itu sica..arghhh gatau deh suka2 nya author j mw dibikin siapa hehehe
    N ni baru chap 1 tp gw udah dibikin nangis aja bacanya 😭😭😭 nyebelin banget 😒😒 tp gimana donk gw udah suka m ff nya 😤😤

    • wow alasanmu mantap hahaha
      maafkan ya, tp mau gimana, genrenya angst haha harus sesedih mungkin XD seneng deh klo suka mah 🙂

  22. Pingback: Wingless Angel (Foreword) | rara0894

  23. blom jelas siapa castnya tapi dibayangan Yoong sama Sica

  24. Kasian banget tuh anak klo sampai ummanya meninggal dia udah nggak punya siapa” lagi.

  25. Pffffff…. sia ya kira2 cast utama nya… bikin penasaran aja….. yg jelas ceritanya seru banget…
    lanjuttttt

  26. Sedih bngt ceritanya..masih samar2 castnya mau nebak takut salah…. lanjut aja ya akunya.. hehehe

  27. Thor ini siapa sih cast nya klo crta na ttv ibu dan anak y

  28. Siapa castnya nih ? Masih penasaran 😁

  29. Yah q bru xambang ne wp,yah ini ttg cp thor gak da nmx

  30. Anyeong thor ^^.. slm knl
    maqykim imnida.. ijin baca ffnya^^
    gomawoyo

    sblum minta ijin barusan.. aq sempet baca.. terkadang apa yg aq baca ga sesuai kt hati n pikiran ku.. aq baca Ia baca aja.. tp stelah aq baca nie ff..
    ngena bwgd disinie💘 jlebb”.. cukup bwgd aq sadar.. ternyata waktu itu peringkat pertama dr semuanya.. thk sekian^^..

  31. thor…. sorry sblumx, gue udh lama ngilang dari nih blog ALIAS kagak pernah komen2 lg karena alasan tertentu thor yg nggk bisa gue kasih tau.. hikz…hikz…
    oh iya thor, gue sbenarx muncul lg krn gue pgn bgt jd partner semua author disini. dengan kata lain gue pgn kirim ff gue disini. boleh nggk thor?? blh ya? blh ya?
    mohon konfirmasi ya thor.
    gomawo..
    ^^

    • hi hi. sori aku baru buka wp lagi. bole aja kok. seneng bisa dapet temen yg mau berkontribusi di blog ini. btw sebelumnya, aku sama rara minta kontakmu dulu ya, biar kita lebih enak ntar komunikasinya. Gimana??? kalo aku liat komenmu, km adanya twitter ya? bole kok. add twitterku aja, rara ga ada twitter haha ID twitterku: 4riesone. Ditunggu ya ^^

      • Thank u.………. thor, hihihihj…
        oh iya, gue udh follow twitter lu tuh. tp maklum ya twitter gue masih baru dan bersih dr followers. Soalx baru gue buat..
        twitter lama. Gue udh lupa email ama passwordx krn udh jarang bgt gue buka thor..

        #Curhat.com

      • oh okeee. brb follback.
        wkwk gpp banyak yg begitu kok ^^

  32. ini cast siapa??seo kah?
    lanjut dulu deh

Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s