rara0894

All about TaeTiSeo and GG

Love between Dreams (Chapter 27)

33 Comments

Title        : Love between Dreams

Author   : 4riesone

Genre     : Romance, Gender bender

Cast        : 

 Jessica Jung

 Kwon Yuri

 Kim Taeyeon

 Girls’ Generation members and other

LxD cover 2

Trying

“Apa kau sudah mendengar lagunya?”

“Iya. Aku sudah mengunduhnya tadi malam.”

“Lagu yang bagus, bukan?”

“Iya. Aku bahkan mencari liriknya di internet. Apa kau tahu kalau penyanyinya sendiri yang menulis liriknya?”

“Benarkah?”

“Yeah. Aku dengar dia juga sudah menulis dan menggubah beberapa lagu untuk artis-artis SM. Salah satunya adalah lagu Jewel Heart milik f(x). Kabarnya lagu terbaru Im Yoona juga ditulis olehnya.”

“Wow. Aku suka sekali Jewel heart. Itu adalah salah satu lagu favoritku. Dia benar-benar berbakat.”

“Memang. Tapi ini adalah lagu pertama yang dinyanyikannya sendiri.”

“Semoga dia sukses ya.”

“Yeah.”

Kedua orang itu pun lanjut membicarakan tentang drama yang menampilkan lagu tersebut.

Yoona tersenyum kecil pada dirinya saat mendengar percakapan tersebut, merasa bangga akan Yul. Dia mengambil pesanan minumannya dan berjalan keluar dari kafe tersebut sebelum ada orang yang mengenali penyamarannya.

“Ayo jalan, oppa,” ujar Yoona pada manajernya segera setelah dia memasuki mobil. Mereka langsung menuju kantor SM untuk persiapan terakhir album terbaru Yoona. Dia bekerja keras hinggal malam hari, memastikan segala sesuatunya sudah sempurna. Saat dia akhirnya selesai, jam sudah menunjukkan pukul delapan malam.

Yoona sedang berjalan di koridor ketika dia mendengar bunyi piano mengalun dalam ruangan sempit tersebut. Melodi itu terasa familiar di telinganya. Dia pun memutuskan untuk mengikuti alunan nada-nada tersebut dan menuju ruangan darimana melodi tersebut berasa. Ternyata suara tersebut berasal dari ruangan latihan dan Yul sedang berada disana, sedang memainkan piano, lagi.

Yoona memutuskan untuk masuk dan menyapa si pria dengan gembira. “Hi, Yul oppa.”

Yul berhenti bermain piano dan menatap Yoona yang berjalan masuk. “Oh, Yoona.” Dia tersenyum kcil.

Yoona bersyukur Yul tidak tampak seburuk pertemuan terakhir mereka. Dia berjalan mendekati si pria. “Kau memainkan lagu itu lagi.”

“I quite love the melody.”

“Sudah kubilang. Itu lagu yang sangat bagus!” Yoona berbicara dengan penuh semangat dan antusiasme.

Yul tersenyum kecil lagi.

“Aku mendengar orang-orang membicarakan tentang lagu barumu dalam perjalanku kemari,” ucap Yoona tanpa kehilangan semangatnya sedikitpun.

“Oh? OST itu?”

“Iya. Aku sangat bangga akan dirimu, oppa.” Bibir Yoona mengulas senyuman. Senyuman yang tulus dan tanpa dibuat-buat. Yul sadar bahwa gadis muda itu tampak lebih cantik saat dirinya tersenyum. Tidak aneh jika dia memiliki banyak fans.

“Terima kasih, Yoona. Sulit dipercaya aku bisa menembus tangga lagu 20 besar dengan lagu pertamaku.”

“Kau harus mendengar dirimu sendiri bicara, oppa. Lagumu itu benar-benar bagus. Liriknya, Musiknya, Emosinya. Semuanya sempurna.”

Yul terkekeh. “Terima kasih kalau begitu. Aku senang orang-orang menyukainya. Bagaimana dengan persiapan albummu?”

“Semuanya berjalan lancar. Kami akan merilisnya minggu depan.”

“Bagus.” Yul tersenyum. “Aku pasti akan membelinya.”

“No way, oppa! Aku akan memberimu album dengan tanda tanganku, tentu saja. Kau adalah komposer favoritku,” balas Yoona dengan segera.

Yul tertawa kecil. “Terima kasih.” Dan saat itu juga suara bergemuruh terdengar di dalam ruangan itu.

Yoona tersenyum jahil. “Apa itu, oppa?”

“Apa? Aku tidak mendengar apa-apa.” Walaupun merasa malu, Yul tetap mencoba untuk bersikap tenang. Dia belum makan apapun sejak pagi tadi, semua karena perasaan sedih dalam dirinya. Memang benar dia rela untuk melepaskan Sica, namun tetap saja, rasanya tetap menyakitkan. Walaupun dia berusaha untuk tidak membiarkan perasaan sedih dan depresi menyelimutinya seperti di masa lalu, dia tetap saja merasa sedih dalam hatinya. Tidak peduli seberapa keras dia mencoba. Dan hal itu juga yang merusak nafsu makannya.

Yoona tertawa kecil. “Aku mendengarnya, oppa. Jelas sekali perutmu sedang meronta-ronta meminta makanan. Kau harus makan, oppa.”

“Tidak, aku baik-baik saja. Aku tidak lapar.” Yul mencoba untuk menolak tetapi ternyata tubuhnya tidak ingin bekerja sama dengannya. Perutnya pun berbunyi kembali. Yoona tertawa kali ini.

“Perutmu sudah memanggil-manggil makanan, oppa. Kau benar-benar perlu makan, oppa.”

“Aku sedang tidak nafsu makan, Yoona.”

Yoona mendecak. “Makanan bisa menjadi penghibur yang baik, oppa. Ayolah,” Yoona mulai menarik lengan Yul. “Ayo kita makan malam.”

“Hey hey hey,” Yul mencoba untuk melepaskan diri tetapi ternyata genggaman Yoona padanya sangatlah kuat.

“Setidaknya temani aku makan, oppa. Aku pun belum sempat makan malam.” Yoona menunjukkan senyuman manisnya. “Ayo.” Dia menarik Yul lagi.

“Tapi, tapi…” Yul kehilangan kata-kata ketika wanita muda itu sudah menariknya menjauhi piano dan keluar dari ruangan latihan tersebut.

“Aku yang akan traktir, oppa. Anggap saja ini perayaan atas OST barumu,” ujar Yoona dengan senang.

Yul hanya bisa menghembuskan napas dan mengikuti gadis di depannya. Mungkin saja Yoona benar. Makanan bisa menjadi penghiburan yang ampuh.

***

Di bagian lain dari kota Seoul, Sica baru saja selesai menghadiri sebuah fashion show untuk koleksi musim gugur/dingin. Dia sedang menuju mobilnya ketika handphonenya berdering. Dijawabnya panggilan tersebut sambil dia tetap berjalan menuju mobilnya.

“Halo.”

“Hi, Sica.”

“Oh, Taeng,” jawab Sica sambil dia memasuki mobilnya. “Ada apa?”

“Apa kau masih bekerja?”

“Aku sedang di dalam mobilku sekarang. Siap untuk pulang ke rumah.”

“Oh baguslah. Bagaimana kalau kita makan malam di luar?”

“Hemm, okay. Kau ingin makan apa?”

“Makanan Korea saja. Aku sedang ingin makanan yang pedas dan hangat.”

“Baiklah. Aku tahu tempat yang enak.” Sica menyalakan mobilnya sambil dia berkata demikian. Dia kemudian menyebutkan nama restoran dan juga lokasinya.

“Great. Aku akan kesana sekarang. See you soon, Sica,” ucap Taeng dengan senang.

“See you too.”

Sica mengahiri panggilan tersebut dan menaruh handphonenya di dasbor. Tidak lupa untuk mengenakan sabuk pengamannya, dia kemudian mengemudikan mobilnya menuju restoran yang dia sebutkan sebelumnya.

Hari Sica termasuk baik. Dia kembali terbangun oleh aroma lezat familiar yang terbawa hingga ke udara kamar tidurnya. Taeng sudah menyiapkan sarapan untuknya pagi tadi.

Mereka pun sarapan bersama pagi itu setelah sekian banyak sarapan yang dia sudah lewatkan sebelumnya. Sarapan itu terasa menyenangkan. Pancake, jus jeruk dan percakapan ringan yang terjadi selama mereka makan adalah faktor utamanya. Sica juga akhirnya tahu mengapa Taeng suka memasak dalam sarapan pagi itu. Dia sadar kalau Taeng senang memasak sendiri walaupun rumah mereka sudah memiliki tukang masak. Taeng pun menjelaskan bahwa dia sudah terbiasa melakukannya setelah tinggal seorang diri di California selama bertahun-tahun. The habit died hard, katanya.

Sisa harinya dia habiskan untuk bekerja. Tidak ada hal yang menganggunya saat bekerja. Semuanya berjalan lancar. Kolega dan bawahannya bekerja dengan baik. Fashion show yang dia kunjungi pun menarik. Dia pun bisa bertemu dengan beberapa desainer ternama, semakin melebarkan koneksinya.

Sica berharap makan malam kali ini bisa mengakhiri harinya menjadi satu hari yang benar-benar baik.

Dia memakirkan mobilnya di ruang parkir yang kosong dan kemudian mengambil handphonenya untuk menelepon Taeng. Panggilannya segera dijawab setelah dering pertama.

“Apa kau sudah sampai?” tanya Sica.

“Yes.”

“Baiklah. Aku akan kesana sebentar lagi.”

“Oke.”

Sica mengakhiri panggilannya dan menaruh handphonenya ke tas. Dia menyampirkan tasnya di bahunya dan keluar dari mobil. Segera setelah dia keluar dari mobilnya, dia terkejut karena melihat Taeng sudah berada disana.

“Taeng?”

“Surprise!” Taeng dengan gembira berkata sambil dia tersenyum lebar, menunjukkan lesung pipi di kedua pipinya.

Sica tertawa kecil. “Bagaimana kau bisa ada disini?”

“Mobilku ada disana,” dia menunjuk mobil di seberang. “Aku bisa melihat mobilmua datang.”

“Baiklah, itu cukup menjelaskan kemunculanmu yang ajaib ini,” Sica terkekeh lagi.

Taeng tersenyum. Dia bahagia karena Sica sudah bisa lebih rileks di sampingnya sekarang. Dan juga mendengar suara tawa Sica sangat menyenangkan. Dia memiliki firasat bahwa dirinya tidak akan pernah bosan mendengarkan suara yang seperti malaikat itu.

“Ayo. Perutku sudah tidak sabar lagi. Dia sudah memanggil-manggil makanansjak tadi.” Taeng mengusap perutnya sambil menunjukkan seringaiannya.

Sica memberikannya sebuah tatapan ‘sudah umur berapa kau ini?’

“Aku lapar,” Taeng mengangkat bahunya sebelum menyeringai kembali.

Sica tertawa. “Aku tidak bisa percaya kau ini adalah CEO dari Jeguk Corp.”

“Well, CEO juga butuh makanan.” Taeng mengangkat bahunya lagi sebelum tawanya pecah.

Sica menatap pria dihadapannya sembari bibirnya membentuk sebuah senyuman. Sebelumnya, dia tidak akan percaya bahwa pria yang mengenakan setelan rapih biru dan juga secara alamiah terlihat tenang itu ternyata adalah seorang dork. Sekarang setelah menyaksikannya sendiri, akhirnya dia bisa mempercayainya juga.

Mereka pun masuk ke dalam restoran tidak lama kemudian. Sica sudah sering mengunjungi tempat tersebut sehingga pelayan disana pun segera mengenalinya dan mengantar dirinya dan Taeng menuju meja favorit Sica.

“Sepertinya dia mengenalmu,” komentar Taeng setelah pelayan itu pergi.

“Aku sudah sering datang ke tempat ini. Aku suka makanan mereka.” Sica menjawab santai sambil dia membaca menu.

“Yeah, mereka memang menyajikan yang terbaik. Aku sudah pernah kemari sebelumnya, tapi jelas sekali lebih jarang dibandingkan dirimu,” tawanya.

Sica tidak memberikan tanggapan karena pikirannya secara tidak sadar mengulang kembali waktu-waktu dimana dia mengunjungi tempat itu.

“Sica?” panggil Taeng.

“Ah maaf,” Sica segera menggelengkan kepalanya untuk mengenyahkan pikiran itu.

“Ada apa?”

“Ah tidak. Hanya saja…” Sica berhenti.

“Hanya apa?” Taeng mengangkat alisnya.

“I used to come here with him,” Sica berbicara pelan.

“Him?” Pikiran Taeng segera memikirkan tentang satu orang pria. Dia tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Tangannya sudah mengepal dengan sendirinya.

Sica melihatnya. “Jangan salah paham, Taeng. Dia…Dia,” dia berhenti sejenak. “Dia ayahku.”

Taeng menjadi lebih santai setelah menjelaskan penjelasan itu, tetapi juga sedikit sedih mendengar Sica begitu enggan untuk menyebutkan kata ‘ayah’. Dia tahu kalau hubungan Sica dengan ayahnya tidak baik, tapi dia tidak menyangkan kalau sampai separah ini.

“Dia adalah salah satu dari pelanggan pertama di tempat ini. Dia sudah makan disini sejak restoran ini masih berupa kedai kecil. Kau bisa bilang kalau dia adalah pelanggan setia,” Sica membicarakannya tanpa sadar, dan percaya atau tidak, matanya berseri-seri ketika dia mengenang ayahnya.

Taeng memperhatikan wanita di hadapannya itu. “Kau merindukannya?” Kata-katanya lebih seperti pernyataan dibanding pertanyaan.

Sica tidak menjawab apa-apa. Tiba-tiba saja buku menu menjadi lebih menarik baginya.

“Dia juga merindukanmu, Sica,” Taeng berbicara lagi. “Dia—“

“Jangan Taeng,” Sica memotong. “Berhenti membicarakan dirinya.” Dia menggelengkan kepalanya, memberi isyarat bahwa percakapan itu terlarang baginya.

“Sicaa,” panggil Taeng dengan lembut. “Dia adalah ayahmu.”

“Aku mohon, Taeng. Hentikan sekarang. Aku tidak ingin membicarakannya,” Sica berbicara, hampir seperti memohon dengan putus asa.

“Sica, aku hanya-“ ucapannya dipotong kembali.

“Aku mohon, Taeng.” Dia menatap ke arah Taeng. “Aku tidak ingin makan malam ini berant—,” Sica berhenti bicara di tengah ucapannya. Matanya melebar secara refleks dan tubuhnya tidak bisa bergerak sama sekali. Rasanya seperti tubuhnya sudah membeku seluruhnya.

“Sica?” Taeng begitu bingung dengan perubahan ekspresi Sica yang begitu tiba-tiba. Dia menjentikkan jarinya di depan Sica tapi tidak berpengaruh apa-apa. Dia pun kemudian memperhatikan apa yang Sica lihat. Dia pelan-pelan mengikuti arah pandangan Sica.

It was him.

The him as in Sica’s ex.

Dia sedang berjalan menuju arah mereka, bersama dengan seorang gadis cantik.

Seketika itu juga, Taeng sudah tahu apa yang menimbulkan ekspresi terkejut dari pasangan makan malamnya itu.

Dia kaget ketika gadis tersebut memanggil Sica seperti mereka sudah mengenal satu sama lain dengan baik.

“Sica unnie!” Yoona meninggalkan Yul dan menghampiri meja Sica.

Sica pun terkejut, tapi hal itu efektif untuk mencairkan es yang membekukannya tadi.

“Yoona?” Sebelumnya, ketika dia melihat Yul, dia tidak begitu memperhatikan gadis yang berada disampingnya. Sekarang ketika dia tahu bahwa gadis itu ternyata Yoona, dan bahwa Yoona sedang menghampiri mejanya, membuat dirinya semakin terkejut.

“Iya, unnie. Sudah lama sejak terakhir kali aku melihatmu bersama Krystal,” ucap gadis itu dengan riang.

“Ah yeah,” Sica membalas canggung. Tubuhnya menegaang saat dia melihat Yul berjalan mendekati mejanya.

Taeng, yang melihatnya, menarik napas dalam sebelum menarik tangan Sica dan menggenggamnya, memberitahunya kalau semua akan baik-baik saja.

“Kau Im Yoona, kan?” Taeng berbicara pada wanita muda itu.

“Ah iya. Dan kau ini…” Yoona memperhatikan pria bertubuh pendek itu. Dia terkesiap tak lama kemudian. “Omo. Kau adalah suami Sica unnie, benar kan oppa?”

Taeng terkekeh melihat keramahan Yoona. Dia mengangguk. “Panggil aku Taeng oppa.”

“Oke, Taeng oppa. Dan oh,” dia ingat dia sedang pergi bersama Yul. “Dia adalah Yul oppa. Komposerku”, dia mengenalkan pria yang ada disampingnya. Namun tidak ada tanggapan sama sekali dari Yul yang membuat dirinya memaingkan kepalanya. “Oppa?”

Yul sedang menatap Sica yang sedang menunduk, sehingga dia pun tidak memperhatikan Yoona sama sekali.

“Oppa,” dia memanggilnya lagi dan menyenggolnya di pinggang. Hal itu berhasil menarik perhatian Yul.

“Tidak apa-apa, Yoona. Kami sudah saling mengenal,” ucap Taeng.

“Oh benarkah?”

Taeng mengangguk. “Maaf, tapi bisakah kalian meninggalkan kami untuk saat ini. Istriku tampaknya sedang tidak terlalu sehat,” kata Taeyeon dengan sopan, tidak lupa untuk menambahkan sebuah senyuman.

“Unnie?” Yoona menatap Sica dengan khawatir.

“Ayo kita pergi saja, Yoona. Suaminya pasti akan merawatnya,” Yul menarik lengan Yoona dan berjalan pergi.

“Tapi oppa,” Yoona baru saja akan memrotes Yul, tetapi kemudia dia melihat ekspresi sedih di wajah Yul sehingga dia pun memutuskan untuk mengikutinya. Dia mengucapkan selamat tinggal pada Sica dan Taeng dahulu, kemudian menyusul Yul meninggalkan restoran.

Taeng kembali menatap istrinya setelah Yul dan Yoona telah pergi. “Sica, apa kau baik-baik saja?” Suaranya begitu lembut. Walaupun melihat Yul dan mengetahui reaksi Sica bukanlah sesuatu yang menyenangkan baginya, tetapi dia lebih khawatir tentang Sica. Bagaimanapun juga dia tahu bahwa keputusan Sica untuk meninggalkan mantannya adalah suatu keputusan yang sulit dan mereka sendiripun baru saja memulai hubungan mereka. Tentu Sica akan membutuhkan waktu untuk move on dan jelas saja dia sedang kesulitan menghadapi pemandangan yang baru saja dia saksikan.

Sica menengadah. Tatapannya tertuju pada mata Taeng. Tatapan mata itu terasa begitu menenangkan. Ekspresi khawatirnya pun begitu ikhlas dan tanpa dibuat-buat. Sica pun perlahan memaksakan sebuah senyuman sambil menganggukkan kepalanya pelan.

“Aku baik-baik saja.”

“Kita bisa pulang jika kau merasa tidak nyaman,” usul Taeng.

Sica menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu, Taeng. Kita makan saja disini. Kau juga ingin makanan Korea, bukan?”

“Memang, tapi itu bisa menunggu.”

“Tidak apa-apa, Taeng. Lagipula aku rindu masakan mereka.” Dia memaksakan senyuman yang lain.

“Baiklah.”

Sisa makan malam itu tidak berjalan dengan baik seperti seharusnya akibat dari kemunculan Yul dan Yoona yang tak disangka-sangka.

Sica sudah mencoba sebisa mungkin untuk tidak memikirkan Yul sepanjang makan malam itu, tapi sayangnya, gambaran Yul bersama dengan Yoona terus saja kembali merasuki pikirannya, lagi dan lagi. Hal itu mengacaukan pikirannya, membuatnya tidak memperhatikan sebagian besar percakapan Taeng. Dia kebanyakan hanya mengangguk atau menjawab dengan ‘hemm’ pada si pria.

Pada saat Sica dan Taeng sampai di rumah, wanita itu segera mohon diri untuk pergi ke kamar tidurnya. Dia membutuhkan mandi hangat untuk mencuci pikiran yang sudah bernoda. Dia membiarkan uap hangat membawa semua perasaan buruk menjauh dari tubuhnya.

Setelah merasa lebih baik, Sica menyelesaikan mandinya dan meninggalkan kamar mandinya. Dia hampir saja selesai mengeringkan rambutnya ketika dia mendengar suara ketukan pada pintu kamarnya. Pintu tersebut terbuka sedikit tidak lama kemudian dan muncullah kepala Taeng dari baliknya.

“Boleh aku mask?” Dia bertanya sambil tersenyum.

Sica menjawab dengan sebuah angguka.

Taeng yang sudah mengenakan kaus putih polos dan celana pendek kotak-kotak itu pun mendorong pintu lebih jauh dan berjalan memasuki kamar Sica. Dia menutup lagi pintu tersebut setelahnya.

“Aku membawakanmu teh madu hangat. Bisa membuatmu merasa lebih baik.” Dia tersenyum dan menunjukkan cangkir di tangannya.

“Terima kasih.” Sica tersenyum kecil sebelum melanjutkan mengeringkan rambutnya. Dia melihat Taeng mendekatinya dan duduk di sampingnya di tempat tidur.

“Ini. Minumlah selagi hangat.”

Sica meletakkan handuknya dan mengambil cangkir dari tangan Taeng. Dia kemudian menyeruput minuman hangat itu pelan-pelan. Ajaibnya dia merasa sedikit lebih rileks.

“Ini membantu,” Sica menyunggingkan senyuman saat dia menatap Taeng sebelum dia menaruh cangkir itu ke meja di samping tempat tidur.

“Tentu saja. Aku sudah sering mencobanya.” Taeng terkekeh.

“Maafkan aku,” Sica tiba-tiba saja berkata, menghentikan tawa Taeng. “Aku mengacaukan makan malam kita.”

“Tidak. Jangan minta maaf. Tidak ada yang menyangka hal itu akan terjadi. Dan aku juga bisa mengerti. Aku tahu kau sudah mencoba,” dia berkata dengan tulus, tidak lupa untuk menunjukkan senyumannya.

Hati Sica menjadi lebih merasa bersalah melihat senyuman pria di hadapannya itu. Matanya mulai terasa panas dan dia tidak yakin seberapa lama lagi dia bisa menahan air matanya. “Kenapa kau selalu seperti ini?” Sica bicara begitu pelan, tapi cukup jelas untuk terdengar oleh telinga Taeng.

“Kau tahu mengapa.”

Jawaban itu membuat usaha Sica untuk menghentikan air matanya menjadi sia-sia. Gagal sudah. Air mata sudah mengalir membasahi pipinya. “Maafkan aku,” isaknya.

Taeng menarik Sica dalam pelukannya. Dia mengelus punggungnya lembut. “Ssshh. Ssshh. Jangan menangis, Sica. Tidak apa-apa.”

Sica terisak di bahu Taeng lebih keras, membenci dirinya terlebih lagi karena sudah membiarkan dirinya teringat akan masa lalu ketika masa kini jelas ada di hadapannya. Dia membiarkan Taeng memeluknya sambil dia terus membisikkan maaf lagi dan lagi.

Sepanjang waktu, Taeng hanya memeluknya erat, menenangkannya sambil mengelus lembut punggungnya ketika dia tersedak akan kata-kata dan tangisannya. Ketika ahirnya dia sudah tenang, Taeng melepaskan pelukannya untuk mengusap air matanya.

“Tidak apa-apa, Sica. Kau sudah kumaafkan sejak awal.”

Sica tersedu. “Apa kau ini malaikat?”

Taeng tertawa mendengarnya. “Wow. Aku bahkan tidak mendekatinya sama sekali, Sica. Satu-satunya hal yang mirip dariku adalah wajahku yang tampan,” dia tersenyum lebar.

Sica memukul lengan Taeng ringan. “Aku tarik kembali kata-kataku. Tidak ada malaikat narsis sepertimu,” gumam Sica sebelum dia tertawa pelan.

Taeng tersenyum melihat Sica tertawa. Dia menepuk pelan kepala Sica. “Tidurlah. Hari ini pasti melelahkan untukmu.”

Sica terkejut akan gerakan baru Taeng. Dia tidak pernah mendapatkan elusan di kepalanya selain dari orang tuanya sebelum ini. Walaupun begitu, Sica suka dengan hal itu yang membuat bibirnya tersenyum.

“Aku juga akan tidur. Sampai jumpa besok,” Taeng berdiri dari tempat tidur tetapi dihentikan oleh genggaman di pergelangan tangannya.

“Tunggu, Taeng.”

Taeng memutar badannya untuk menatap Sica.

“Aku lupa memberitahumu sesuatu,” ucap Sica sambil dia melepaskan tangan si pria.

Taeng mengangkat alisnya. “Ada apa, Sica?”

“Apa kau tidak sibuk besok malam?”

“Kenapa?”

“Teman lamaku akan bertunangan besok. Apa kau mau menemaniku?”

“Hemm,” Taeng berpikir sejenak, mempertimbangkan jadwalnya esok hari. “Tentu. Jam berapa?” Dia tersenyum. Untung saja jadwalnya tidak terlau padat.

“Pestanya akan dimulai jam enam.”

“Baiklah. Akan kuusahkan untuk pulang lebih awal.”

“Great.” Sica tersenyum. “Dan terima kasih, Taeng.”

“Tidak masalah.”

Taeng kemudian meninggalkan kamar Sica dan menuju kamarnya sendiri. Walaupun hubungannya dengan Sica sudah membaik, Taeng tidak ingin terburu-buru dengan Sica. Dia akan menunggu hingga Sica siap untuk membawa hubungan mereka ke tahap selanjutnya. Sampai saatnya tiba, dia akan menunggu dengan sabar dan melakukan yang terbaik untuk mendapatkan hati Sica, atau seperti yang dikatakan Tn.Jung, mencairkan hatinya yang beku.

Sica sendiri merasa lebih baik setelah melimpahkan perasaannya pada Taeng. Malam itu, dia memang masih memikirkan Yul, tetapi hal itu hanya berlangsung tidak lama karena tubuhnya sudah terlalu lelah. Dia pun bisa tidur dengan nyenyak walaupun harus dengan mata yang sembab.

***

Ruangan itu sudah dihiasi dengan bunga-bunga pink seluruhnya dan foto pasangan tersebut sudah terpajang di pintu utama. Orang-orang sudah berkumpul di dalam, saling bercakap-cakap atau berkumpul di sekitar bufet, mencoba makanan-makanan manis atau mengambil sampanye dari meja panjang itu.

Taeng dan Sica baru tiba sekitar pukul tujuh karena tiba-tiba saja Taeng harus menghadiri rapat penting dan tidak bisa meninggalkan kantornya lebih awal. Walaupu begitu, Sica tidak mengeluh. Dia bisa mengerti betapa sibuknya Taeng menjadi seorang CEO dari perusahaan yang begitu besar. Dia sudah cukup bersyukur karena Taeng mau menyempatkan diri untuknya malam itu.

Untuk pesta tersebut Sica mengenakan gaun putih berenda dan sepatu hak yang menonjolkan keindahan kakinya. Rambut coklatnya tergerai bebas di bahunya sedangkan poninya ditata ke samping dan ujung rambutnya tergelung halus.

Taeng terpesona ketika dia melihat Sica di rumah tadi dan bersyukur karena dia memilih pakaian cokctail yang tepat baginya yang sangat cocok dengan penampilan Sica malam itu. Dia mengenakan jas tuksedo hitam dengan kemeja berwarna terang, celana panjang yang sebanding dengan warna jasnya, ditambah sepatu wingtips hitam.

Sica segera disapa oleh temannya ketika dia memasuki ruangan itu.

“Jessie?!”

Dia memutar badannya dan tersenyum pada teman berambut pirang yang sudah lama tidak dilihatnya itu. Tak lama kemudian dia menemukan dirinya sudah berada dalam pelukan erat temannya itu.

“God, finally I can see you again, Miss designer!”

Sica tertawa kecil. “Senang berjumpa denganmu lagi, Bora.”

“Wow, wow.” Wanita berambut pirang itu mengalihkan pandangannya pada Taeng. “Apa dia suamimu?”

Sica mengangguk. “Kau melewatkan pernikahanku.”

“Maaf untuk itu. Things got qute busy back then.”

“Hanya bercanda, Bora. Aku senang pekerjaanmu berjalan baik. Dan aku sangat suka wine yang kau kirim.”

Wanita berambut pirang itu tertawa. “Tentu saja. Aku membawanya langsung dari Perancis untukmu.”

“You know me so well,” Sica ikut tertawa. “Anyway, Taeng,” dia menghadap Taeng. “Ini Yoon Bora.”

Taeng menawarkan tangannya pada teman Sica tersebut. “Hi. Aku Kim Taeng.” Dia memberikan senyum terbaiknya juga.

Wanita itu dengan senang hati menjabat tangan Taeng dan balas tersenyum. “Aku Yoon Bora, teman sekamar Jessie di New York.”

“Ah, I see.” Taeng mengangguk sambil tetap mempertahankan senyumannya.

“Kau mendapatkan pria yang baik dan tampan, Jessie,” wanita berambut pirang itu mengedip pada Sica. “Dan kau terlihat lebih cantik dan seksi dari sebelumnya. How dare you?” Bora terkesiap dengan sangat dramatis.

Sica tertawa pada temannya yang begitu dramatis itu. “Aku bertaruh dia pasti lebih cantik dan seksi daripada aku,” Sica membicarakan temannya yang bertunangan malam itu.

“Kita lihat saja. Dia benar-benar menawan dan senyuman tidak pernah meninggalkan wajahnya sama sekali,” jawab Bora.

“Dia pasti sangat bahagia. Ngomong-ngomong dimana dirinya? Aku ingin memberinya selamat.” Sica bertanya sambil dia berusaha untuk menemukan teman lamanya itu di tengah kerumunan orang-orang.

“Aku baru saja melihatnya di sekitar sana.” Bora menghadap ke kanan dan menunjuk ke depan. “Ah, itu dia.” Dia sekarang menunjuk pada wanita bergaun putih dengan rambut merah terang.

Sica mengikuti petunjuk Bora dan akhirnya melihat kembali teman lamanya. Dia tersenyum sebelum memanggil nama wanita tersebut.

“Fany!”

Kepala Taeng segera menengok ketika mendengar nama tersebut. Saat itu dia merasa seperti waktu berhenti berjalan ketika dia melihat wanita berambut merah itu meutar badannya dan menghadap mereka dengan sebuah eye-smile di wajahnya.

To be continued…

Untuk kalian semua yang sudah mengharapkan kedatangan Tiffany, inilah saatnya wkwkwk Akhirnya Tiffany mau juga tanda tangan kontrak buat ff ini wkwkwk Apakah yang akan terjadi dengan kedatangan Tiffany ini??? Mwahahahaha let’s see later~

Ngomong2, author mohon bantuannya ya buat vote SNSD di Teen Choice Awards 2015. Award ini akan sangat membantu SNSD untuk lebih dikenal di kancah internasional, jadi ayo luangkan waktu kalian untuk support mereka di award kali ini. Selain itu, award ini bakalan lebih keren daripada YTMA loh! Nah, yang belum tau caranya, gampang aja kok.

Kalian tinggal vote pake akun Facebook, Twitter dan Instagram kalian, dengan mengupload postingan yang berisi

#ChoiceInternationalAward

dan

#GirlsGeneration 

Contoh:

-Twitter: My #TeenChoice for #ChoiceInternationalArtist is @girlsgeneration
-Instagram: My #TeenChoice for #ChoiceInternationalArtist is #girlsgeneration
-Facebook: My #TeenChoice for #ChoiceInternationalArtist is #girlsgeneration

Okay??? Let’s give present to repay the girls’ hardwork!

Selain itu, jangan lupa terus nonton MV PARTY ya, sambil kita nunggu Full Album mereka bulan depan ^^

See you again next week! Bye bye~

Advertisements

Author: 4riesone

SONE. Follow me on Twitter @4riesone for updates and questions

33 thoughts on “Love between Dreams (Chapter 27)

  1. Omgggg akhirnyaaa thorrr taenyy wkakakakaa
    Itu jgn2 fany ex taeng lgi …
    Atau apaa
    Aduh taengsic bkin gila 😂😂
    Lanjut2 aduh penasaran bbgtt jgn lama2 ya thorr wkwkwkwk

  2. Wahhh fany muncul tp yg tunangan itu fany pa bora?n sebenarnya ni pairingnya kmn c,aq jd ragu smua

  3. Panu telaaaaaaaat masuknyaaaa ,sica udh coba buka hati soalnya…
    Eh tapi gpp deh ,makin banyak drama disini lol..

  4. wah wah wah tiffany muncul….smga g ada drama lgi kasian sica diakan bru aja mencoba membka htinya buat taeng…

  5. Taengsic nya sweet..tapi akhirnya kok ada tiffany segala -.- ,sekali kali jangan taeny terus pls :3 😂😂 taengsic dong hahaha..

    Semangat ya..terus berkarya
    Fighting

  6. Ini yg gue tunggu yeay finally tiffany muncul jg dr persembunyiannya wkwkw mungkin kh taeny dulu sepasang kekasih ?? Omo buat sica cemburu thor melihat taeny hihihi yes biar tau rasa itu sica gimana sakit hatinya taeng . Masa taeng terus yg cemburu kan sesekali sicanya jg dong ,move on sica lanjut thor tbc nya gk pas ni lg penasaran

  7. Yayaya di saat jessi dah buka htix lo munculin fany ckckck badai dah,tp ntar seimbang deh jgn taeng ja yg skit,
    aduh tae jaga hatimu nak,kpn sh lo gak mematung gtu liat senyum pany

  8. wahhh ada apa2 di masa lalu ya tae ama fany? jengjengjeeng..
    yoonyul nya kuraaaang 😦
    ntar banyakin yoonyul dong thor

  9. Yoona sama yul aja deh yah heheh
    dan apa itu kok taeng kaya kaget jangan bilang, plisss jangan kasih taengsic badai lagi biarkan dia bahagia thor yayayaya

  10. Keep trying sicaaaa,,,,
    Wowowowowwww taeeee bakal bgmna reaksinyaa??

  11. Yaaa fany akhir’a muncul jga…kau adlh pnylamat hbungan yulsic….
    Smoga taeng ma fany,trus sica bhgia dech ma yuri

  12. wah wah wah taeng sama fany ada sesuatu kah?? drama baru di mulai lagi nihh

  13. feeling gue lagi baik2 kok. hahahahah ini harus kudu taengsic loh thor.. gue gak mau karakter malaikat taeng jadi ternoda gara2 tiffany. kekeke. biarlah tiffany sama yg lain dlu. ini saatnya taengsic

  14. Jangan2 fanny mantanya taeyeon ya thor?

  15. aduh, makin rumit masalah nya.
    *lanjut thorr

  16. Jgn bilang fany masa lalunya taeng, author gw jd bgg mau komennya..

  17. Muncul juga fany nya….
    dah d tunggu dr chap2 sblm nya…hehe
    kyk nya fany da masa lalu ma taeng ya???
    Semoga yulsic bersatu lagi….
    d tunggu lanjutan nya….
    Jgn lma2 update nya thor….

  18. good,fany muncul,kok taeng ngerasa wktu berhenti ya?? Jngan2 fany mantannya taeng tu…

  19. Ahh salut deh sama kerja keras nya sica yg udh berusaha buat move on dari yul walaupun masih sulit. Seengga nya dia udh mencoba xD
    Fany mantannya taeng kah??._.
    Yul sama yoona ajalah. Kali2 yoonyul jd pasangan ga jadi anak sama bapak haha
    Fany udh nikah. Yaudah mending taeng sama sica. Gamungkin juga kan dibatalin itu pernikahan biar taeny bersatu wkwkwkwk

  20. iya fany muncul tapi udah tunangan

  21. ahhh tiffany penyelamat yulsic datang *pelukkecuptipany hahahaha agak lega gw setelah nyesek liat taengsic. udh deh thor buat taeny aja gw gak rela kalo taengsic hahaha

    thanks thor for update

  22. whooaaa seru nih, si panul akhirnya nongol jg
    makin seru nih dramanya, tuh si panul jgn2 mantan pacarnya taeng
    waduh gmn nih sm hub taengsic?
    ok thor lnjut

  23. Yulsic again :((((
    Taeng sm tiffany aja lah ya wkwk

  24. Akhinya fany muncul jga gw harap ntar yulsic bisa balik lagi trus taeng sama fany aja…

  25. Gee….
    Akhirnya fany dateng. Sudah kembalikan sica ke yul yeyeyeye
    Akhirnya fany rebut kembali taeyeon.
    Hahaha

  26. thor bg pw ny dong g seru udh dr awal ngikutin g th akhirny,please y.yg part 25B,26 n 28.
    maretnohadi77@gmail.com,ini email q.sekali lg please bg pwnya.

  27. aigoo.. taeng selalu bisa bikin hati sica menghangat meskipun sedikit. yaah.. fany umma akhirnya muncul juga.. hahaha.. kayaknya appa taeng harus siap” adegan flashback sama fany umma. wkwk yowes lah..

  28. OMG….fany muncul…ada hubungan di masa lalu kali ya sama taeng..sampai tae terkejut gitu..
    sica masih cemburu kayakx sama yuri n yoona..

  29. kenapa taeng membeku pas ngeliat tiffy?. jangan2 tiffy mantan nya taeng lagi?.
    jessi benar2 berusaha keras. semoga hubungan taengsic semakin membaik.
    sepertinya yoong menyukai yul. ?.

Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s