rara0894

All about TaeTiSeo and GG

Love between Dreams (Chapter 25B)

41 Comments

Title        : Love between Dreams

Author   : 4riesone

Genre     : Romance, Gender bender

Cast        : 

 Jessica Jung

 Kwon Yuri

 Kim Taeyeon

 Girls’ Generation members and other

LxD cover 2

Fallen Pieces

Hanya kesunyian yang mengisi sama seperti dahulu. Hanya Taeng seorang, berjalan perlahan diantara hamparan rerumputun. Hal itu membuatnya teringat akan kenangan dahulu, lebih dari sepuluh tahun yang lalu, ketika dia datang untuk pertama kalinya ketempat itu. Sepi dan sunyi.

Dia berhenti di depan sebuah batu nisan, yang familiar baginya. Walaupun tempat tersebut seperti sudah tak bernyawa, namun tidaklah sama kondisi di sekitar batu tersebut. Terdapat rerumputan yang tumbuh dengan teratur di sekitarnya, tanpa ada alang-alang yang mengganggu. Bahkan tidak ada sampah sama sekali. Begitu pula batu nisan tersebut sudah tampak berbeda dibandingkan saat batu tersebut pertama kali ditempatkan di tempat itu. Batu itu sudah diubah menjadi jenis batu yang lebih kuat dan indah, yaitu batu marmer. Dan juga batu itu sudah dihiasi oleh karangan bunga yang membuatnya semakin indah.

Taeng berlutut dan meletakan sebuah buket bunga di depannya. Mawar putih yang dibelinya dalam perjalanan menuju tempat itu. “Aku membawa bunga favoritmu lagi hari ini.”

Perlahan, Taeng duduk di samping kuburan itu. Di membersihkan tempat peristirahatan terakhir orang yang sangat berarti baginya itu. Orang yang sudah membuat dirinya menjadi dirinya saat ini.

“Bagaimana kabarmu hari ini? Aku harap kau baik-baik saja,” dia tersenyum. “Aku tahu kau akan baik-baik saja, karena dia ada di sampingmu sekarang, bukankah begitu?”

Taeng menatap langit biru di atasnya. “Kau tahu, aku sangat merindukanmu. Mereka bilang bahwa aku memiliki segalanya sekarang, tapi apakah benar seperti itu? Semuanya akan lebih baik jika kau berada di sampingku saat ini,” dia menghela napas.

“Aku tahu bahwa tidak mungkin bagimu untuk berada disini, tapi bisakah kau memberikanku semangat kembali untuk kali ini?” Taeng tersenyum sedih.

“Kau bilang aku harus menjadi orang yang pemberani dan baik hati. Aku sudah berusaha sejauh ini. Tapi sepertinya aku tidak bisa lagi menjadi pemberani di hadapannya,” dia berhenti menatap ke langit dan beralih menundukkan kepalanya rendah.

“Aku sangat mencintai dirinya. Dan sayangnya, dia tidak memiliki perasaan yang sama terhadapku. Walaupun begitu aku tetap saja berada di sisinya. Aku benar-benar bodoh, ya?”

Setetes air mata terjatuh, menuruni pipinya. Taeng benar-benar merindukannya. Dan dia sangat membutuhkan dirinya saat ini. Untuk memeluknya dengan erat dan menyatukan setiap bagian dari dirinya yang hancur berantakan. Untuk memberinya semangat menerima apapun kemugkinan yang menanti di hadapannya. Untuk menghadapi masa depannya, masa depan dari kehidupan cintanya.

“Umma…apakah aku sudah membuat keputusan yang tepat?”

***

Taeng memakirkan mobilnya di depan sebuah rumah, yang tidak begitu kecil, tidak begitu besar pula, hanya seperti rumah-rumah biasa di kota Seoul yang sibuk. Dia melangkah keluar dari mobilnya dan menekan bel rumah tersebut.

Setelah bunyi bel ketiga, pintu rumah tersebut pun terbuka. Tampak seorang wanita paruh baya yang sedang mengenakan celemek.

“Selamat pagi, Ny.Kwon.” Taeng menyapa dengan sopan.

“Selamat pagi,” wanita itu menolehkan kepalanya, meminta nama pria di hadapannya itu.

“Oh, maaf. Saya Kim Taeng,” dia tersenyum.

“Ah selamat pagi, Kim-Taeng-ssi. Ada yang bisa saya bantu?” kata wanita itu.

“Saya kemari untuk bertemu putra anda, Kwon Yul-ssi. Bisakah saya bertemu dengannya?”

Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Taeng dapat bertemu secara langsung dengan pria yang telah memikat hati istrinya. Dengan cara yang lebih pantas kali ini. Dua pertemuan mereka sebelumnya bukanlah waktu yang tepat untuk saling mengenal satu sama lain. Dan kali ini, Taeng ingin memperjelas segala sesuatunya. Tentang diri mereka bertiga. Mereka memutuskan untuk kafe terdekat dan berbicara disana.

“Apa yang kau inginkan dariku?” tanya Yul menyelidik.

“Santai saja, Kwon Yul-ssi. Aku hanya ingin mengajakmu bicara.” Taeng menjawab ringan. Dia sudah menyiapkan dirinya untuk pertemuan dengan ‘rival’nya ini. Tampil di hadapan pria tersebut dengan ekspresi tenang bukanlah hal yang mudah bagi Taeng. Dia benar-benar ingin memukul pria itu atau setidaknya memaki pria itu untuk segala sesuatu yang sudah dilakukannya bersama dengan istrinya. Tetapi Taeng tahu dengan sangat baik bahwa berkelahi tidak akan menyelesaikan apapun. Dan dia juga tidak menyukainya. Sehingga dia pun datang kesana setlah menyiapkan hati sepenuhnya. Dia mencoba untuk mengatur emosinya sebaik yang dia bisa dan tampil dengan tenang di hadapan Kwon Yul.

“Bicara?” Yul tidak menurunkan pertahanannya. Dia sulit mempercayai bahwa Taeng hanya menginginkan perbincangan sebegitu mudahnya.

“Iya, Yul-ssi. Hanya bicara. Antara dua lelaki.” Taeng mengatur emosinya dengan sangat baik. Dia tidak goyah sama sekali.

Yul memperhatikan ekspresi pria pendek itu. Tidak ada tanda-tanda niat buruk sama sekali. “Hemm, jika kau bilang begitu. Baiklah. Dan kau tidak perlu bicara formal padaku.”

Taeng mengangguk.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” Yul bertanya.

“Tentang Sica.”

Yul tidak terkejut mendengarnya. Hal itu sudah dapat diprediksi sejak awal. Apalagi yang membuat Taeng datang jauh-jauh ke rumahnya.

Yul mengeringkan tenggorokannya. “Jika ini mengenai yang terjadi minggu lalu, maka aku minta maaf. Aku—“ ucapannya terpotong.

“Tidak. Aku tidak ingin membicarakan hal itu.”

“Lalu?”

Taeng mengambil napas dalam sebelum melihat Yul. “Apa kau benar-benar mencintainya?”

“Eh?” Yul terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan padanya. Mengapa dia ingin mengetahui hal itu?

“Jawab saja aku, Kwon Yul. Aku perlu mengetahuinya. Apa kau benar-benar mencintainya atau tidak?” Taeng bertanya lagi dengan determinasi yang jelas terpanar dari matanya.

“Tentu saja aku mencintainya.”

Taeng menatap pria di hadapannya itu. Dia mencoba untuk mencari ketulusan di matanya, apakah dia benar-benar mengucapkan yang sesungguhnya.

“Jika kau benar-benar mencintainya, aku bersedia untuk melepaskannya,” Taeng berusaha untuk mengucapkannya setenang yang dia mampu, walaupun mengatakan kata-kata itu sesungguhnya menyakiti hatinya.

“Apa? Apa kau gila?”

“Ya, mungkin aku gila. Aku sudah cukup gila untuk mencintainya.”

“Apa kau yakin?”

“Ya. Tetapi aku tidak bisa melakukannya saat ini. Ayahnya tidak akan menerima berita ini dengan baik. Itu hanya akan memperparah kondisi kesehatannya.”

“Lalu kapan?”

“Setelah kondisinya membaik.”

“Apa kau yakin tentang hal ini?” Yul bertanya lagi.”

“Jika ini demi kebahagiannya maka aku rela untuk melepaskannya.”

“Untuk kebahagiaannya, huh?”

“Ya.”

“Lalu mengapa dulu kau memutuskan untuk tinggal?”

“Dia memintaku untuk tinggal. Maka aku pun tinggal.”

“Dia melakukannya?”

Taeng mengangguk. “Dia begitu putus asa setelah putus denganmu saat itu.”

“Oh gosh.”

“Jadi Kwon Yul,” Taeng memanggilnya. “Berjanjilah kau akan menjaganya dengan baik.”

“Tunggu,” ucap Yul.

“Apa lagi?”

“Apa kau mencintainya.”

“Lebih daripada aku mencintai diriku sendiri.”

“Apa kau yakin kau rela melepaskan cintamu?”

“Aku akan melakukan apapun untuk memastikan kebahagiannya, Kwon Yul. Bahkan jika itu berarti harus melepaskannya.”

Yul berpikir sejenak.

“Bagaimana jika kita memberikan keputusan ini padanya? Lagipula dialah yang seharusnya memilih diantara kita.” Yul mengusulkan.

“Membiarkannya memilih? Apa itu akan berpengaruh?”

“Tentu. Ini adalah hidupnya. Dia perlu mendapatkan kesempatan untuk memilih juga. “Dan aku juga tidak ingin dia menjadi milikku hanya karena kau memberikannya padaku.”

“Jika memang begitu pikiranmu, baiklah.”

“Aku akan berbicara padanya.”

“Kalau begitu kita akan menunggu keputusannya.”

“Yeah.”

***

“Apa kau akan menceraikannya?”

Kata-kata itu menyambar Sica layaknya sebuah petir. Dia begitu terkejut mendengar Yul menanyakan pertanyaan tersebut. Sebagai hasilnya dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya, yang membuat mulutnya tergantung terbuka. Dia terpaku di tempatnya.

“Jadi? Apakah kau akan melakukannya?” Yul bertanya lagi.

“Aku…Aku…”

“Akankah kau, Sica?”

“Aku…Aku…” Sica menjadi sangat frustasi. “Aku tidak tahu, Yul,” dia setengah berteriak.

“Aku tidak perlu lagi ketidakpastian, Sica. Aku tahu bahwa keadaan kita saat ini sama-sama menyakiti kita berdua. Jadi aku mohon, tentukan pilihanmu sekarang. Apa kau akan menceraikannya atau tidak?”

“Aku…” Sica menatap ke bawah pada tangannya. Yul benar. Semuanya berantakan karena ketidakpastian dari dirinya. Pada satu sisi, dia tidak bisa melepaskan, dan di lain sisi, dia tidak ingin melepaskan. Seharusnya hal itu sudah ditentukan sejak awal. Tetapi sebaliknya, dia menyeret segala ketidakpastian ini di belakangnya hingga saat ini.

Yul menunggu jawaban Sica. “Ya atau tidak?”

Sica menatap mata Yul, mencari jawaban disana. Namun tak ada apapun. Bola matanya hanya mencerminkan kembali mukanya. Kembali padanya. Memang, keputusan berada di tangannya sekarang.

Akhirnya dia mengambil napas panjang dan menggeleng pelan. “Aku tidak bisa, Yul. Maafkan aku.” Sica tidak berani menatap mata Yul saat dia berbicara.

“Aku tidak bertanya apakah kamu bisa atau tidak. Aku bertanya apakah kamu akan atau tidak, Sica.” Yul menghembuskan napas dengan keras.

Sica menggigit bibirnya. Dia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Akankah dia menceraikannya? Setelah semua yang dilakukan Taeng untuknya? Setelah semua yang sudah dia lakukan pada Taeng? Dia tidak tahu.

“Aku pikir semuanya sudah jelas bagiku. Kau tidak ingin menceraikannya.” Yul akhirnya berbicara setelah tidak ada jawaban sama sekali dari Sica selama bermenit-menit dia menunggu.

“Baiklah. Aku pikir ini akhir dari kita berdua?” ucap Yul lagi.

“Yul, bukan seperti itu,” Sica menarik lengan Yul.

“Jadi apa, Sica? Beritahu aku!” Yul setengah berteriak. Dia pun frustasi dengan keadaan mereka. Dia tidak ingin melepaskan Sica, namun jika Sica bahkan tidak bisa memutuskan pilihannya, apa yang bisa Yul lakukan? Sica harus memilih. Dirinya atau suaminya. Yul tidak ingin memperpanjang kerunyaman ini lebih lanjut. Hal itu hanya akan menyakiti mereka.

“Aku…Aku…” Sica mencoba untuk mengatakan esuatu, tetapi dia pun tidak tahu harus mengucapkan apa.

“Lihat kan? Kau bahkan tidak bisa memberitahuku apa yang ingin kamu katakan.”

“Aku…Aku tidak yakin apa yang harus kukatakan,” gagap Sica sambil memalingkan wajahnya.

“Jadi kau benar-benar tidak tahu apa yang harus kau katakan? Sama sekali tidak tahu?” tanya Yul.

Jessica menundukkan kepalanya, tidak berani bertemu pandang dengan kebenaran di mata Yul. “Bisakah kau memberiku waktu sejenak untuk berpikir?”

“Waktu untuk apa?”

“Untuk memikirkan kembali semuanya?”

“Apa pengaruhnya?”

“Yul…Aku…”

Yul menghela napas. “Baiklah jika kau memang benar-benar memerlukannya. Aku akan menunggu. Kau bisa berpikir sekarang.”

“Sekarang?”

“Iya, Sica. Semakin lama kita mengulur-ngulurnya, hal ini akan semakin menyakiti kita. Dan aku tidak bisa selamanya membiarkan diriku dalam ketidakpastian. Aku membutuhkan jawabanmu.

“O..okay.”

Yul duduk kembali di bangku taman dan menunggu dengan sabar, mencoba memberikan waktu pada Sica untuk meluruskan pikiran dan kata-katanya. Dia melihat Sica menghentikan dirinya dari mengatakan sesuatu selama beberapa kali. Hal itu berlangsung terus selama kurang lebih satu setengah jam. Yul akhirnya tidak tahan lagi.

“Karena kau juga tidak mengatakan apa-apa, aku anggap kau tidak akan melakukannya.” Yul menghela napas, diikuti oleh ekspresi terkejut Sica.

“Yul…” adalah satu-satunya kata yang terucap dari bibir Sica. Suaranya menghilang.

“Tidak apa-apa, sungguh. Untuk kau tahu saja, aku tidak membawa harapan yang tinggi saat datang kemari.” Yul mencoba untuk menghibur dirinya sendiri.

“Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan,” Sica memandang Yul. “Aku tidak ingin menyakitimu.”

“Kau tahu bahwa melakukan hal ini juga lebih menyakiti kita berdua.”

“Aku mencintaimu, Yul.”

Yul berdiri dan berteriak, “Aaarghh.” Yul mengacak-acak rambutnya sendiri karena frustrasi. “Kau sama sekali tidak membantu, Sica. Kau tidak membuat ini menjadi lebih mudah untuk kita berdua.”

“Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf.” Suara Sica benar-benar pelan.

“Aku sudah cukup mendengar maafmu, Sica. Aku tidak membutuhkannya.” Yul menghela napas. “Baiklah, aku akan bertanya sekali lagi.” Yul berjalan di hadapan Sica. Dia berlutut dan menatap wajah Sica.

“Apa kau akan menceraikannya atau tidak?” Dia bertanya dengan nada yang lebih halus.

Sica mengigit bibirnya. Akankah dirinya atau tidak akankah dirinya?

Dirinya tahu bahwa semua adalah kesalahannya. Dia membuat segalanya menjadi seperti ini. Menyakiti dua pria sekaligus. Tidak mampu memilih hanya satu diantaranya.

Sica menyadari betapa dia sudah menyakiti Yul selama ini. Meninggalkannya tanpa penjelasan yang memadai dan menikah tanpa pemberitahuan, mengirimnya ke dalam jurang depresi. Dia pikir ketika dia kembali bersama Yul, semuanya akan menjadi lebih baik. Tetapi ternyata tidak. Situasi mereka merubah diri Yul. Kemarahan dan kegelisahan bertumbuh dalam dirinya. Menyakitinya dari dalam.

Melihat Yul terluka adalah hal terakhir yang diinginkan Sica. Tetapi sayangnya, dia sudah membawa rasa sakit pada pria itu lebih dari yang dia bisa ingat. Dan dia juga tidak ingin menyakiti Yul lebih lanjut. Karena tidak bisa menjadi miliknya 100%.

Kejadian tujuh hari yang lalu juga sangat mengguncangnya. Rasa bersalah bertumbuh amat cepat dalam dirinya, membayangi setiap mimpinya. Sikap Taeng pada dirinya pun sama sekali tidak membantu, hanya menambah rasa bersalah dalam dirinya semakin bertambah buruk.

Setelah selama ini, dengan segala perlakuan dingin yang dia berikan padanya dan juga perselingkuhan di belakangnya, Taeng masih saja bisa menyambutnya dengan hangat. Dan mengatakan bahwa dirinya masih mencintai Sica. Semua itu menusuk Sica, tepat di hatinya. Menyadarkannya akan betapa jahat dirinya karena telah mempermainkan hati seseorang.

Meskipun dia benci untuk mengakuinya, Sica tahu bahwa selama ini dirinya sudah menjadi seorang pengecut yang tidak tahu diri.

Taeng tidak pernah sama sekali melakukan hal buruk padanya, tetapi sebagai balasannya, Sica mengkhianati dia. Sica menyakiti hatinya, lagi dan lagi. Tanpa hati menginjak-injak cintanya seperti hal itu bukanlah apa-apa. Menyuruhnya untuk pergi menjauh ketika semua niatnya adalah baik.

Setelah semua perlakuan semena-menanya itu, yang selalu dibalas dengan kebaikan, bisakah Sica menyakiti Taeng kembali? Apakah dia akan berani untuk meminta perceraian padanya? Akankah?

“Ya atau tidak?” Yul menunggu.

Sica membuka mulutnya. Dia ingin menjawab, tetapi ternyata tidak ada kata-kata yang terucap dari bibirnya sama sekali. Setetes air mata malah terjatuh dari matanya.

Yul melihat tetes air mata yang mulai membasahi pipi Sica. “Hey hey hey,” dia segera menarik Sica dalam pelukannya. “Jangan menangis, Sica.”

“Maafkan aku, Yul. Aku benar-benar minta maaf.” Hanya itu yang mampu diucapkan Sica diantara isakannya. Dia sudah tahu apa yang menjadi jawabannya. Dia tidak akan.

“Hey hey it’s okay.”

“I know it’s not okay.”

“Walaupun tidak baik-baik saja, aku akan mencoba untuk menerimanya. Jadi berhentilah menangis, Sica. Hatiku sakit melihatmu menangis karena diriku.”

“Aku benar-benar minta maaf,” gumamnya.

“Bukankah sudah kubilang tidak apa-apa?” Yul melepaskan pelukannya dan menghapus air mata dari pipi Sica.

“Tetap saja,” isak Sica.

“No, enoug of crying. Aku tidak ingin ingatan terakhirku tentang dirimu adalah gambaran wajahmu yang bengkak dan merah karena menangis,” Yul mencoba untuk bercanda.

“Yul…”

“Tidak apa-apa. Aku bisa mengatasinya,” Yul memaksakan sebuah senyuman.

“Bukan berarti aku sudah tidak mencintaimu,” ucap Sica.Sica tahu bahwa dirinya harus melepaskan Yul. Tetapi hal itu begitu berat. Ada bagian dalam dirinya yang tetap bersikeras menginginkan dirinya. Dia masih belum ingin kehilangan Yul, yang sekali lagi adalah keegoisannya.

Yul tersenyum sedih. “Aku tahu itu, Sica. Aku tahu. Dan bukan berarti aku sudah tidak mencintaimu lagi. Tetapi aku butuh kepastian. Aku tidak ingin terus menerus menyakiti. Menyakitimu, menyakitinya, menyakiti diriku sendiri. Aku tidak ingin lagi, Sica. Dan jika kamu tidak akan menceraikannya, maka aku akan mengambil langkah mundur. Aku tidak ingin menjadi orang ketiga lagi.”

“Kau tidak pernah menjadi orang ketiga bagiku, Yul.”

“Akui saja, Sica. Itu adalah kenyataannya. Kau tidak bisa selamanya menyangkal. Dia adalah suamimu. Dan siapakah aku? Aku hanya mantan kekasihmu. Mainanmu. Selingkuhanmu.”

“Yul!! Kau bukan seperti itu!”

Yul mendesah. “Itu kenyataannya, Sica. Kau adalah istrinya. Secara legal.”

“Hanya di atas kertas, Yul. Hal itu tidak pernah ada artinya.”

“Berhenti bicara seperti itu, Sica. Itu adalah sebuah pernikahan. Kau harus menganggapnya dengna serius.”

“Tetapi aku-“

“Apa, Sica? Sebuah pernikahan tetaplah sebuah pernikahan. Kau sendiri yang mengucapkan janjinya. Di hadapan imam, di hadapan semua orang. Kau sudah memutuskan pilihanmu. Dan apa lagi? Kau bahkan memintanya untuk tinggal. Jadi apa lagi yang menjadi alasanmu?”

“Aku..Aku…bagaimana kau tahu tentang hal itu?” Sica menyadari bahwa dirinya tidak pernah menceritakan hal itu pada siapapun.

“Aku berbicara dengannya pagi ini.”

“Apa? Bagaimana bisa?” Matanya melebar. Benarkah? Pembicaraan antara Yul dan Taeng?

“Dia ingin berbicara jadi kami pun bertemu untuk bicara,” jawabnya cepat.

“Apa yang dia katakan?”

“Tidak penting apa yang dia katakan. Ini tentang kita berdua. Ini adalah masalah kita dan kau juga sudah menjawab segalanya,” ujar Yul. Dia tampak begiu lelah. Matanya gelap dan tenggelam. Begitu pula dengan suaranya, tidak ada semangat sama sekali. “Jadi sepertinya sekarang semuanya sudah berakhir. Kita harus berhenti mencari satu sama lain ke depannya. Dengan begitu akan mengurangi rasa sakit kita masing-masing.”

“Tapi Yul,” Sica memeluknya dari belakang. “Aku membutuhkanmu.”

Yul perlahan melepaskan lengan Sica dari tubuhnya dan memutar badan. “Tidak, kau tidak membutuhkanku, Sica.” Sica ingin memrotesnya, tetapi dihentkan oleh jari pada bibirnya. “Tidak ketika kamu bahkan tidak bisa membuat keputusan untuk menceraikannya.”

“Tapi Yul…”

“Sudah cukup, Sica. Dengarkan aku.”

Yul merengkuh wajah Sica dan mengarahkan pandangannya lekat pada Sica. Dia menatapnya tepat di matanya.

“Seharusnya aku melindungimu, Sica. Seharusnya aku membuatmu bahagia. Bukan seperti ini. Aku hanya menarikmu ke dalam permasalahan yang lain. Aku seharusnya menjadi seorang gentleman. Menghadapimu secara langsung, bukan seperti ini, bersembunyi di balik suamimu. Seorang gentleman adalah dia yang tidak pernah menyakiti perasaan orang lain, bahkan walau tanpa disengaja. Tetapi aku bukanlah seorang gentleman sama sekali. Aku menyakiti semua orang. Aku menyakitimu. Aku menyakitinya. Aku menyakiti Sooyoung.” Matanya semakin terlihat sedih.

“Walaupun ini begitu sulit bagiku, kali ini…kali ini…” suaranya bergetar. “Aku rela untuk melepaskanmu, Sica. Untuk kebahagiaanmu. Aku tidak akan menahanmu lagi.”

“Yul…”

“Perasaanku padamu masih sama seperti sedia kala, Sica. Tetapi…keadaan tidak mendukung kita untuk bersama. Sakit. Memang. Tetapi melihatmu terluka lebih sakit rasanya bagiku. Dan terlebih lagi, akulah alasan di balik rasa sakitmu itu. Aku tidak menginginkannya. Aku tidak ingin cintaku menjadi beban bagimu.”

“Bukan seperti itu, Yul. Kau tahu bahwa dirimu tidak pernah menjadi beban bagiku.”

Yul menggelengkan kepalanya lemah. “Aku bisa mengerti, Sica. Kau sudah menikah dengan pria yang baik. Aku percaya dia bisa membuatmu bahagia.”

“Yul…” Sica benar-benar ingin menangis saat itu.

“Jika saja kita bertemu kembali di kehidupan selanjutnya, aku berharap aku bisa menjadi pria yang akan menjadi suamimu kelak. Tapi hanya untuk kehidupan kali ini saja, aku akan melepaskanmu.”

Sica berurai mata saat Yul perlahan menariknya dalam sebuah pelukan. Yul sendiri berusaha keras untuk mencegah dirinya menangis.

“Aku melepaskanmu, Sica,” Yul berbisik pelan. “Dan juga sudah saatnya aku melepaskanmu.”

Dia mengecup lembut dahi Sica untuk terakhir kalinya sebelum mengucapkan selamat tinggal untuk selamanya kali ini. “Aku akan terus mencintaimu, Sica. Tidak peduli apapun. Dan bahagialah.”

 To be continued…

Walaupun chapter kali ini ga bahagia, tapi author lagi bahagia!! siapa yang excited dgn comeback GG??!!

Yeah finally #SNSDisBack :))

 

Advertisements

Author: 4riesone

SONE. Follow me on Twitter @4riesone for updates and questions

41 thoughts on “Love between Dreams (Chapter 25B)

  1. Kasian juga yuri ga dipilh jessica tp q lebih kasihan kl sica milih yuri setelah ngeliat pengorbanan taeyeon

  2. Kasian sih ,cuman ya harus begitu secara taengsic udh resmi..
    Ujung permasalahan ini ya sicaaaa!!!
    Kenapa harus deket sama yul lagi???? Semua merasa tersakiti disini huhu T.T.
    Next chptr yg panjang yak thor hehehe..
    GUA EXCITED BRAY!!!! SOSHI IS BACK!!! WOHOOOO 🙂

  3. sakit.. sakiit T.T
    tapi gue seneng akhirnya yul bisa ngelepas sica, krn emang mereka di posisi yg salah. taeng terlalu baik jadi gue jg kaga tega nyuruh2 authornya buat bikin yulsic bersatu 😀
    yg gue takutin sica hamil, duh ntar rumit lg.
    next semoga ada yoonyul 😀

  4. Sica knp jd plin plan sih, gak kasian sm yul ya, udh mainin perasaan yul, udh tae lepasin sica, prcuma sica jg trpaksa,

  5. Omgg thorr pendek wkakakaka *ditimpuk
    kgk lah sedeng thorr
    tae gentle bngtt
    Kek gtu kesian yultae sihh
    au ah wkwkwk
    lanjut2

  6. Ah mataq gak kuat bcax bsok ja,cm ninggal lapak dlu

    • Peraasan kok gak enak ye,biasax papun plihan prtma pasti akn brubh,udah q gak tw mw komen pa lgi liat mrk br3,nyesek bnget,oh ya thor apdet cpet ye,tuh q dah komen di semua chap hehe

      • Memang nyesek T.T makanya genre angst haha
        makasih semua komennya ya.. udh dibaca kok..
        chapter slanjutnya selasa depan ya 🙂

  7. Sedih bgt sih. Sama ajasih mau sica milih yul ato taeng. Pasti bakalan ada yg tersakiti. Semoga keputusannya sica tepat yaa dan yul bisa moveon dari sica…
    Bau2nya sih bakal berakhir dgn taengsic….

    Sangat2 excited!!!! Ini bakalan jadi kambek yg spektakuler. Singl trs lanjut full album trs lanjut repackage. Wohooo!!!
    SNSD is Back. Queen’s is Back!!! ❤

  8. Sdih bgt liat yul jdi’a…pa ghy pas dia bner2 lpas sica,bca’a jdi gmn gtu..
    Sbner’a w c thor msh brhrap ma yulsic,phy liat tae jga sdih..jdi galau deh…

  9. Ini part nyesekin banget plus kesel sekaligus sama Jessie yang ambigu gitu, yul bener tuh gimana pun Taengaic resmi dimata hukum dan agama lagian emang Jessie tega nyakitin Taeng padahal taeng udah baik pake banget. gak sanggup liat yul sedih tapi lebihlebih gak tega lagi liat taeng sedih. duh ini comment apa coba hahaha pakoknya TAENGSIC thor TAENGSIC harus bersatu

  10. sica jd serba salah mau milih siapa ya.
    klu aq mending ga dua2 nya, biar takdir yg mentuin aja.
    klu sica ma taeng jg cuma kasihan doang kan.
    tp salut buat yul dah bisa buat ngelepasin sica.
    masih berat k yulsic sih n tp jg masih kasian ma taeng
    hufff…
    terserah author ja deh yg penting semua bahagia…

  11. Ett dahhh knp tbc nya mesti begini c
    Yo olloooo lama nongolnya,sekalinya nongol bqn gw nangis huaaaaa 😭😭

  12. Hhuuuaaa…hiks..hiks…hiks…
    Sedih sekali ceritannya kak 😥
    Ttp semangat buat tulis chapter selanjutnya ya kak
    Fighting ^ ^

  13. Yeeaayyyy finally,, hahah
    Sica siihhh plinplan,,, maunya 22nyaa,,hahahah
    Good job yul jadilah Gentleman sejatiii,, hahaha,,,
    Semoga TaengSic kedepannya bahagia dan sica bener bener menerima taeng,,,
    Thank you author pw nya 😉

  14. whooaaaa miris bngt nih chap, trhura gue:-(:-(
    haduh yul gak tega sbnernya ngeliat yul melepas sica tp apa yg yul katakn bner, seorang laki2 sejati gak akn prnh mnyakiti perempuan yg dia cintai#yaelahkatakatague
    moga aja kputusn yg sica bwt bs bikn hubungnnya sm taeng bs membaik dn bs nrima taeng sbg suaminya
    krn gmn pun jg apa yg yulsic lakukan sdh salah
    whooaa gw excited bngt

  15. ampun deh, abang taeng keren banget sih. suami idaman, duh sica. lo selingkuhin doi yang begitu baik. hmmm tapi okelah kalo sica sama taeng. gue cuma nunggu reaksinya taeng aja di next chap. yul,.semoga ketemu yg lebih baik ya.. yoona, mungkin ^^

  16. sedih bgt bnran…yul kerennnnnn w suka yul d sni
    ya ampun taeng knp c ad pria sebaik u wae??
    obrolan d kuburan ntu nyesek bgt thor drakor keren
    bikin konflik ya thor kan taeng na dah buat kptusan tuh gmn hub na ma sica??mpe nanya ma alm ibu na
    kputusan na ntu ceraian sica kan??semoga aj bgtu trz nti sica na yg ga mw cerai ma taeng krn ud jatuh cinta ma taeng tp sica na rada gengsi gtu thor kan pasti keren bgt haha ttp ending na taengsic..pgn ksh pelajaran aj ma sica
    mksh ya thor pw na anneyong

  17. walaupun yul ngelepas sica trz sica sama taeng tapi sica sama taeng cuma karna ga mau nyakitin taeng lagi yg udah baik banged ttp aja itu sama aja sica intinya sama taeng cuma karna terpaksa konsisten dong sica

  18. Sica begitu egois kenapa dia tidak memilih antara yul atau taeng .jadi binggung sendiri kan mau mempertahankan yg mana

  19. taeng, hati nya terbuat dari apa, she??ko, bisa sabar, bgt!!!
    *udah di sakiti berulang kali. tapi, taeng tetap berharap, sica untuk balas cintanya.

  20. kok nyesekkkk wkwk
    ngefeel bangettt, aku bisa rasain apa yg yuri rasain *plaklebaymodeon haha
    kesel ah sama sica, pupus sudah harapan yulsic bersatu, positif taengsic ini mah, ahh yulsic <///3

  21. Kali ini yul bisa gentle gara taeng.. aku juga melepasmu sica niat taeng..
    Cuman kali aja tpi.. lain kali or di ff yang lain kamu harus ttp sama yul oppa.

  22. huaaa… chap ini bener” menyentuh hati banget. taeng sangat gentleman disini, meskipun terluka dia masih bisa mikirin perasaan orang yang disayanginya. yul juga akhirnya sadar tentang apa yang dilakukannya selama ini, tapi sayang sica nya yang tegas disini. bener” chap yang mengharukan.

  23. biar udah milih taengsic..tapi masih gak rela juga kalau yulsic jadi gini…
    😥
    😥
    😥
    😥

  24. terlambat, percuma yul melepaskan sica, dan yulsic berpisah. sudah ada luka yg teramat dalam, dan teramat sakit yg di terima taeng karna perselingkuhan yulsic.
    ke egoisan memang sifat yg sangat buruk. dan penyesalan selalu datang terlambat, setelah luka itu ada dan membekas.

    • “ke egoisan memang sifat yg sangat buruk. dan penyesalan selalu datang terlambat, setelah luka itu ada dan membekas.” –> mantap sekali!!

Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s