rara0894

All about TaeTiSeo and GG

Love between Dreams (Chapter 23)

27 Comments

Title        : Love between Dreams

Author   : 4riesone

Genre     : Romance, Gender bender

Cast        : 

 Jessica Jung

 Kwon Yuri

 Kim Taeyeon

 Girls’ Generation members and other

LxD cover 2

Love or Dream

“Then let’s run away together.”

Ucap Yul dengan yakin sembari membiarkan tatapannya lekat pada mata indah Sica.

“Apa maksudmu?”

Wajah Sica dengan jelas menunjukkan ekspresi kebingungan.

 “Ayo pergi sejauh mungkin dari Seoul. Kita akan pergi ketempat dimana kita bisa bersama tanpa perlu merasa takut kehilangan satu sama lain”

 “Meninggalkan Seoul?”

 “Iya, Sica.”

 “Kenapa?”

 “Seoul sudah tidak aman lagi, Sica. Terlalu banyak orang yang memperhatikan kita.”

 “Apa maksudmu Yul?”

 “Kau tahu, Sica. Tidak semua orang mendukung hubungan kita. Ada orang-orang yang menginginkan dirimu bersama dengan orang lain, daripada bersamaku. Mereka ingin kau tetap bersama suamimu.”

Sica bisa merasakan kepahitan dibalik kata terakhir yang diucapkan Yul.

 “Tapi aku hanya ingin dirimu, Yul. Aku tidak mau bersama orang lain. Bahkan dirinya sekalipun.”

 “Iya Sica, Iya.” Dia membelai wajah Sica dengan lembut menggunakan ibu jarinya. “Aku tahu. Aku percaya padamu. Tapi aku tidak bisa mempercayai orang lain.” Yul menarik tangannya dari wajah Sica sebelum melihat ke arah lain untuk menyembunyikan rasa kecewa dan amarahnya. Hal itu membuat dia mengingat kembali kejadian yang terjadi berberapa jam yang lalu. Antara dia dan sahabat baiknya.

“Apa yang membuatmu berpikir seperti itu, Yul?”

Sica menyentuh bahu Yul dengan lembut. Merasakan sentuhan Sica, Yul pun hanya terdiam, ingatannya kembali berkelana memikirkan tentang kejadian di kafe yang menyebabkan sebersit rasa sakit di dadanya.

“Luka di wajahku ini. Ini adalah bukti kalau aku tidak bisa lagi percaya pada orang lain,” ujar Yul dengan muram.

 “Aku tidak mengerti.”

 “Orang yang telah mendaratkan pukulannya di wajahku ini adalah Sooyoung, Sica. Sahabatku sendiri.”

Sica terengah. “Tidak mungkin. Mengapa Sooyoung melakukan itu?”

“Dia menentang hubungan kita. Dia tidak mau aku bersamamu.”

“Benarkah?” Ujar Sica dengan nada yang sedikit tinggi.

Yul menghembuskan nafas lelah. “Iya. Sayangnya, hal itu memang benar terjadi,” kata Yul tanpa semangat.

Sulit bagi Sica untuk mempercayainya.

Ya, dia tahu bahwa memang dulu Sooyoung pernah memperingatkan Yul tentang dirinya. Tentang status sosial dirinya lebih tepatnya. Sica bisa mengerti hal itu. Karena hal itu memang benar adanya. Dan Sooyoung pun melakukan itu hanya karena dia peduli terhadap sahabatnya. Lebih baik memperingatkan terlebih dahulu sebelum terlambat.

Namun apakah Sooyoung pernah menentang hubungannya dengan Yul? Tidak, dia tidak pernah.

Di mata Sica, Sooyoung adalah sahabat terdekat Yul. Dia selalu mendukung apa pun yang dilakukan Yul. Dia bisa melihat betapa Sooyoung sangat mencintai Yul sebagai sahabatnya. Perhatiannya kepada Yul sangat murni dan tulus dari dalam hatinya.

Namun sekarang, Yul mengatakan bahwa dia baru saja bertengkar dengan Sooyoung yang meninggalkan tanda bengkak keungungan di pipinya serta luka di bibirnya.

Mengapa seseorang seperti Sooyoung yang mempunyai hati yang sangat baik dapat memukul wajah sahabatnya sendiri? Tidaklah mungkin semuanya itu disebabkan hanya karena emosi yang tak beralasan. Pasti ada alasan yang baik dibalik semua itu.

Yul pun melanjutkan, “Dia bahkan mengatakan bahwa perasaanku padamu sekarang bukanlah cinta. Aku tidak bisa percaya dia berbicara seperti itu. Apa yang dia tahu tentang perasaanku? Dia selalu berkata seperti dirinya mengetahui semua hal tentangku. Menyuruhku untuk melakukan ini. Menyuruhkan untuk tidak melakukan itu. Sungguh menjengkelkan.”

 “Yul” Sica memanggil dengan lembut. “Dia hanya peduli padamu.”

Yul memandang Sica. Sica dapat melihat sejumput amarah di mata Yul.

 “Peduli? Apa kau sedang bercanda, Sica?”

 “Yul…” gumam Sica sambil menghindari tatapan marah Yul.

 “Dia tahu betapa aku sangat mencintaimu, Sica. Dia tahu bagaimana diriku ketika kau meninggalkanku, seberapa buruk hidupku tanpamu. Tapi, sekarang dia mengatakan itu padaku. Menginjak-injak perasaan cintaku padamu layaknya suatu perasaan yang tak berharga.”

“Yul…”

“Apa??!!” Dia bertanya dengan suara lantang. “Mengapa kau membelanya sekarang? Apakah kau lebih mempercayainya daripada aku?”

“Bukan seperti itu, Yul,” jawab Sica dengan putus asa.

“Aku tidak bisa mengerti, Sica. Bukankah kau mencintaiku juga? Bukankah kau ingin bersamaku selamanya? Jika benar, mengapa kau sekarang seperti ini?”

Mengapa.

Mengapa.

Mengapa.

Sica mengalihkan pandangannya kembali ke arah Yul dan menatap wajahnya dengan mantap. Mata cokelat Yul yang biasanya terlihat jernih kini telah berubah menjadi gelap. Sica hanya dapat melihat rasa marah dan rasa sakit di mata yang biasanya tampak cemerlang itu.

Yul adalah seorang pria yang hangat dan baik hati di mata Sica. Perhatiannya yang tulus serta kasih sayangnya yang hangat adalah alasan Sica membuka hatinya untuk seseorang. Alasan dibalik luluhnya hati dia yang beku. Yul adalah tipe orang yang akan memperhatikan kebaikan orang lain terlebih dulu sebelum berpikir tentang keburukan mereka. Dia tidak akan segan membantu semua orang.

Namun apa yang terjadi dengan Yul yang baik hati yang dia kenal?

Ketakutan dan kemarahan dengan mudah menguasai perasaannya akhir-akhir ini. Dia akan mudah merasa khawatir meskipun hal itu sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan. Khususnya jika hal itu menyangkut Sica. Dia akan merasa gelisah setiap kali dia merasa tidak nyaman mengenai posisinya sebagai pria yang Sica cintai.

Memang benar bahwa mereka mengerti satu sama lain, tidak pernah bertengkar hebat dan mereka akan berbaikan dalam waktu singkat. Namun jumlah pertengkaran “kecil” mereka telah meningkat pesat akhir-akhir ini. Fakta itu, suka atau tidak telah membuat Sica khawatir.

Dan sekarang, Yul telah mengungkapkan bahwa dia terlibat dalam sebuah perkelahian. Terlebih lagi dengan sahabat terbaiknya, Choi Sooyoung. Tentu Sica memang tidak tahu bagaimana situasi saat itu, atau apa yang mereka katakan satu sama lain, atau apa yang mereka rasakan pada saat itu, namun dia tahu dengan pasti bahwa Kwon Yul bukanlah tipe orang yang menyelesaikan permasalahannya dengan sebuah perkelahian. Begitu pula Choi Sooyoung.

Terlepas dari perasaan nyaman dan hangat yang Sica rasakan setiap kali dia bersama Yul, ada kesedihan yang tidak dapat dipungkiri di dalam lubuk hatinya, mengetahui ada sesuatu yang telah berubah dalam diri Yul.

Apa yang terjadi dengan Kwon Yul yang sangat dikasihinya hingga dia berubah seperti ini? Apakah ini semua karena penderitaan yang diberikan Sica padanya karena hubungan mereka?

Sica mengalihkan pandangannya lagi. Dia tidak sanggup lagi melihat mata itu.

“Aku memang mencintaimu Yul. Tapi aku mohon jangan seperti ini.” Sica akhirnya mengatakannya dengan nafas lemah di akhir ucapannya.

 “Apa maksudmu, Sica?”

 “Kau tidak seperti ini, Yul.”

“Hah?”

 “Tolong tenangkan dirimu, Yul.” Pinta Sica yang lebih terdengar seperti suatu permohonan.

 “Apa kau bercanda Sica? Tenang katamu? Aku sudah tenang selama ini, Sica. Aku sudah tenang ketika kau diambil secara paksa dariku. Aku sudah tenang ketika kau meninggalkanku tanpa penjelasan. Aku sudah tenang ketika aku tahu dirimu sedang berdiri di atas altar, mengucapkan janji pada pria lain. Aku sudah cukup tenang!” Dadanya naik dan turun setelah dia menyelesaikan kalimatnya

 “Yul…” Sica tidak dapat berkata apa-apa karena ledakan amarah Yul yang tiba-tiba.

 “Berhenti memanggilku seperti itu, Sica. Aku tidak membutuhkan simpati. Aku hanya membutuhkan dirimu, Sica. Mengapa kau tidak bisa mengerti???” Dia meneriakkan kalimat terakhir dengan penuh rasa frustasi.

 “Aku… Aku.. Maafkan aku… Maafkan aku,” gumam Sica tidak jelas.

Yul menghembuskan nafas dengan lantang. “Lupakan.” Dia mengehembuskan nafas kembali. “Jadi, apakah kau mau pergi denganku atau tidak, Sica?” Dia mengembalikan topik pembicaraan.

“Kemana kita akan pergi?”

“Kemanapun yang jauh dari Seoul.”

“Kita tidak bisa hanya pergi kemanapun, Yul. Apa yang ada di pikiranmu saat ini?” tanya Sica.

Yul berpikir sejenak. “Bagaimana kalau Amerika?”

Sica menggelengkan kepalanya. “Tidak, terlalu beresiko. Disana ada cabang Jeguk Corp. Itu berarti ada banyak orang-orang bawahan ayahku.”

 “Berarti kita harus pergi ke tempat dimana tidak ada cabang Jeguk Corp. Aku yakin mereka tidak ada di Brazil.”

 “Apa kau sudah gila?!” Sica menjawab dengan spontan.

 “Kenapa? Jeguk Corp. tidak memiliki cabang disana bukan?”

 “Tentu saja. Tapi bagaimana kita dapat bertahan hidup disana, Yul? Kita bahkan tidak mengerti bahasa mereka.”

 “Ah, iya. Kau benar.”

 “Bagaimana kalau Kanada?”

 “Lebih buruk. Banyak keluargaku disana.”

 “Singapura?”

 “Bukannya kau bilang pergi sejauh mungkin?”

 “Apa itu tidak cukup jauh?”

 “Berhati-hati jauh lebih baik, Yul.” Sica menjawab dengan datar.

 “Haiiiiishh,” Yul mengacak-acak rambutnya sendiri.

 “Bagaimana kalau Selandia Baru?”

 “Apa tidak apa-apa?”

 “Aku pikir begitu.”

 “Baiklah. Selandia Baru kalau begitu.” Perasaan marah dan sedih telah menguap dari diri Yul, digantikan oleh rasa antusias.

 “Tunggu,” kata Sica tiba-tiba. “Apa kau memiliki paspor?”

“Eh?”

Sica menepuk dahinya sendiri. “Kita tak bisa pergi tanpa paspor, Yul.”

 “Aku tahu itu, Sica.”

Namun bukannya menjawab Yul, Sica kembali menepuk dahinya sendiri untuk kedua kalinya. “Kita juga butuh visa untuk bisa tinggal disana.”

 “Oke, oke. Jadi paspor dan visa. Lalu apa lagi yang kita butuhkan?” tanya Yul tidak sabar.

 “Itu saja.”

 “Aku akan mengusahakannya secepat mungkin. Jadi tidak perlu khawatir lagi.”

 “Baiklah.”

 “Jadi semuanya sudah siap?”

Sica mengangguk namun tak lama dia berbicara lagi. “Tapi bagaimana tentang umma, Yul? Kau tidak mungkin meninggalkannya di Seoul seorang diri bukan?”

 “Tentu saja tidak, Sica. Itu tidak akan pernah terjadi,” jawab Yul dengan tegas. “Dia akan ikut bersama kita.”

 “Apa kau yakin?”

 “Apa maksudmu?”

 “Umma masih harus menjalani sesi pemeriksaan ulang bukan?”

 “Iya, namun di Selandia Baru pasti ada rumah sakit juga, Sica. Kenapa kau begitu khawatir?”

 “Ehmm, iya. Tentu mereka juga memilik rumah sakit. Aku hanya khawatir dengan kondisi umma.”

 “Dia akan baik-baik saja, Sica. Aku akan melindunginya.”

 “Baiklah. Dan Yul,” panggil Sica.

 “Apa, Sica?”

 “Bagaimana kita akan hidup disana?”

 “Aku punya cukup tabungan untuk membiayai kehidupan kita disana sebelum aku bisa mendapatkan pekerjaan.”

 “Aku tidak ingin merepotkanmu.”

 “Kau tidak merepotkanku, Sica. Kita akan hidup bersama. Aku akan menjalankan tanggung jawabku.”

 “Tapi Yul…”

Jari pun menekan bibirnya, mencegah Sica untuk berbicara lebih banyak.

 “Sssh, jangan bilang apa-apa lagi. Kau tidak perlu khawatir.”

Yul mengangkat dagu Sica sehingga dia dapat melihat mata cokelat itu dengan jelas.

 “Selama kau bersamaku, semuanya akan baik-baik saja. Kita dapat menyelesaikannya bersama-sama.”

Sica dapat merasakan dirinya luluh dalam tatapan hangatnya. Mata Yul yang sebelumnya gelap telah berubah menjadi mata cokelat cemerlang yang sangat dia kagumi. Tidak ada lagi kemarahan atau kesedihan. Yang ada hanya cinta terpancar dari kedua bola matanya.

Sica pun seketika menutup matanya ketika melihat Yul mencondongkan tubuhnya mendekati dirinya. Tubuhnya terasa sangat santai ketika merasakan kecupan lembut di dahinya. Kecupan itu bertahan untuk berberapa saat yang memberikan sensasi menyenangkan turun menyusuri tubuhnya, sebelum kecupan itu pindah ke hidungnya dan berakhir di bibirnya.

Tubuh Sica terasa semakin hangat karena ciuman lembutnya. Dia melingkarkan tangannya ke leher Yul untuk memeluknya lebih erat, menginginkan sesuatu yang lebih. Ciuman mereka terasa semakin panas seakan keduanya tidak ingin berpisah satu sama lain. Mereka akhirnya menghentikan ciuman mereka untuk bernafas sejenak. Mereka menempelkan dahi mereka satu sama lain dan saling terengah-engah karena kehabisan nafas. Senyum pun dapat terlihat di wajah mereka berdua.

Yul menarik Sica dalam pelukannya lebih erat. Pelukan itu bertahan cukup lama karena si pria tidak mau melepaskannya. Dia berharap bahwa mereka bisa tetap seperti ini selamanya. Namun pada akhirnya, dia pun melepas pelukannya setelah Sica mengendurkan tangannya dari tubuhnya.

Sica sedang menikmati saat-saat berada dalam pelukan Yul ketika pandangannya tertuju pada trench coat miliknya yang tergantung. Baju itu membuat dia berpikir sejenak hingga akhirnya dia mengendurkan pelukannya dari tubuh Yul.

 “Apa kau yakin tentang ini, Yul? Melarikan diri?”

 “Tentu saja aku yakin. Aku tidak akan bertanya jika aku tidak yakin, Sica.”

 “Tapi Yul,” Sica menunduk dan menggigit bibirnya sebelum berkata, “Aku pikir tidak seharusnya kita melakukan hal itu.” Sica mengantisipasi reaksi yang akan dilakukan oleh Yul.

 “Apa katamu?” Yul menyentakkan tubuhnya. “Apa gunanya pembicaraan kita tadi kalau kau tidak mau melakukannya??”

Sica dapat merasakan atmosfir diantara mereka telah berubah menegang.

“Aku juga ingin pergi, Yul. Jangan salah paham.”

“Huh? Tapi tadi kau bilang kita tidak seharusnya melakukan itu?”

 “Tidak seharusnya itu tidak sama artinya dengan aku tidak ingin pergi, Yul.”

Yul mengacak-acak rambutnya. “Oke, oke. Sekarang apa yang ingin kau katakan, Sica?”

 “Apa kau lihat trench coatku disana?” Sica melihat kearah dimana trench coatnya tergantung dan Yul pun mengikuti arah pandangannya.

Yul mengganguk setelah melihatnya. “Kenapa?”

 “Itu adalah salah satu item favorit di koleksi musim ini. Dalam produksi pertama, semuanya sudah terjual habis. Dan itu adalah karyaku. Aku mendesainnya dan memimpin proses produksi hingga dikirim ke pasaran.”

Si pria berambut cokelat itu tidak berkata apa-apa jadi Sica pun melanjutkan.

 “Menjadi perancang busana adalah mimpiku, Yul. Namun bukan itu masalahnya. Ini mengenai dirimu, Yul.”

 “Kenapa aku?”

 “Karirmu sedang menanjak saat ini. Karyamu sebagai komposer mulai dikenal bukan hanya oleh rekan-rekanmu saja tetapi juga oleh masyarakat.”

“Itu tidak penting, Sica”

“Tapi kau akan segera merilis soundtrack pertamamu, Yul. Itu pasti sangat penting bagimu.”

“Itu…” Yul tampak ragu

“Itu adalah mimpimu, Yul.”

Yul pun terdiam, dia tenggelam dalam pikirannya sendiri.

“Benar, lagu-lagumu memang sangat bagus. Kau sangat terampil dalam menggubah lagu. Tapi Yul, aku tahu, bernyanyi adalah passionmu, lebih dari apapun.”

Sica menatap Yul yang masih terdiam.

“Dan kau sekarang telah mendapatkan kesempatan itu, Yul. Kau telah satu langkah lebih dekat untuk menjadi seorang penyanyi. Satu langkah lebih dekat menuju mimpi terbesarmu. Apakah kau yakin akan melepaskan semua itu? Hanya untukku yang tidak pantas sama sekali untuk semua pengorbananmu.”

“Tidak, Sica. Kau pantas!”

“Tidak untuk mimpimu, Yul. Ingat betapa sulitnya kau mencapai semua itu. Setiap pengorbanan yang kau lakukan untuk mimpimu.”

“Aku ingat semua itu, Sica. Tapi aku tidak akan melepaskanmu lagi hanya karena mimpiku.” Yul menjawab dengan nada pasti.

Sica dapat melihat determinasi di dalam matanya. Kesungguhan yang sama yang dia lihat beberapa tahun lalu ketika dia menunjukkan keterampilannya melempar batu. Kepercayaan diri seperti ini tidak akan patah dengan mudah sampai dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan itu tidak berarti baik bagi Sica.

Mimpi adalah sesuatu yang berharga. Sesuatu yang mendefinisikan dirimu, menahanmu dalam kehidupan dan membentukmu menjadi dirimu yang sesungguhnya. Biasanya, bahkan hampir selalu, mimpi selalu datang dengan suatu harga yang harus dia bayar, dan bukan harga yang murah pula. Sica mengerti bahwa untuk mencapai apapun dibutuhkan keyakinan dan kepercayaan diri, visi, kerja keras, determinasi dan dedikasi yang kuat.

Sica tahu dengan pasti apa yang dialami Yul hingga saat ini untuk memperjuangkan mimpinya. Betapa banyak Yul telah berkorban untuk mimpinya. Semua energi, waktu, pikiran, dan bahkan harga diri pun dia berikan. Namun kali ini, Yul akan melepasnya begitu saja, semuanya, ketika dia telah memijakkan langkah awal untuk menjadi penyanyi seperti yang dia impikan. Hanya untuk dirinya.

Melarikan diri bersama Sica hanya berarti kehancuran bagi mimpi Yul. Dia tidak akan bisa mempromosikan OST-nya, lagu yang akan diluncurkan untuk pertama kalinya atas namanya. Itu juga berarti dia melanggar kontrak dengan agensi yang pastinya akan membebani dia dengan biaya yang besar. Dan dia tidak akan pernah mendapatkan kesempatan seperti ini lagi jika dia memilih untuk melarikan diri. Melarikan diri berarti bersembunyi dan juga berarti tidak ada publikasi. Maka semua pengorbanan dia pun akan sia-sia.

“Kau tidak bisa melakukan ini, Yul. Aku tak akan membiarkannya terjadi.”

“Aku telah membuat keputusanku, Sica,”

“Dan aku telah membuat keputusanku juga.”

“Apa yang kau bicarakan, Sica?”

“Aku takkan pergi kemanapun, Yul.”

“Kau tidak bisa melakukan ini padaku, Sica. Ini tidak adil”

“Ini demi kebaikanmu, Yul. Maafkan aku.”

“Kenapa kau selalu saja berkata seperti itu, Sica?”

“Aku hanya ingin yang terbaik untukmu, Yul. Aku tidak akan membiarkan semua mimpimu musnah begitu saja.”

“Tidak!!” Yul berteriak. “Dulu, kau juga berkata seperti itu dan kenyataannya berbeda. Lihat! Lihatlah aku, Sica!! Apakah aku terlihat lebih baik tanpamu?? Apa yang kau pikir baik untukku hanya menghancurkanku dari dalam secara perlahan.”

“Maafkan aku, Yul. Aku tidak bermaksud seperti itu.”

“Lalu berhentilah mengatakan apa yang terbaik bagiku!!”

“Yul…”

“Aku tahu apa yang terbaik untukku. Tidak ada yang lain kecuali dirimu, Sica.”

“Ini tidak benar, Yul.”

“Tidak benar??! Jadi maksudmu kita harus berpisah??!!”

“Bukan itu maksudku, Yul.”

“Tidak ada gunanya lagi membicarakan hal ini.. Tampaknya kau sudah tidak ingin bersamaku lagi.” Ujar Yul sembari berjalan menuju pintu. “Aku harap aku masih bisa melihatmu lagi.”

Sica langsung terkejut ketika ia melihat Yul sudah berada tidak jauh dari pintu ruangan.

“Yul!!”

Sica segera bergerak dari tempatnya dan menghalangi pintu tepat sebelum Yul membukanya untuk mencegah Yul keluar dari pintu kamar hotel.

“Tolong dengarkan aku dulu, Yul,” kata Sica sambil meraih tangan Yul.

“Aku sudah cukup mendengarkan, Sica” Dia menarik tangannya.

“Tolonglah Yul, dengarkan aku.”

“Kau telah mengatakan semuanya, Sica. Semuanya sudah jelas bagiku bahwa kau tidak ingin bersamaku lagi. Mendengarkanmu hanya akan membuatku semakin terluka.” Yul pun mulai berjalan lagi melewati Sica.

“Yul,” Sica mengucapkannya dengan terisak-isak. Tangannya sudah memeluk Yul dari belakang ketika tangisan keluar dari mata cokelatnya.

“Bukan begitu, Yul. Aku membutuhkanmu disisiku. Tidak ada hal lain di dunia ini yang aku inginkan selain dirimu. Namun aku tidak bisa egois. Aku tidak seharusnya menghancurkan mimpimu.”

“Aku tidak peduli, Sica. Aku mau kau menjadi egois. Miliki aku seutuhnya. Lakukan apapun yang kau inginkan padaku. Aku tak peduli.”

“Tidak, aku tak bisa berbuat begitu, Yul. Aku takkan melakukannya.”

Yul melepaskan tangan Sica yang berada di pinggangnya dan memutar badannya.

“Lalu katakan padaku apa yang harus aku lakukan, Sica??” ujar Yul dengan lembut sembari tatapannya terpaku pada wajah Sica.

“Tinggallah, Yul.”

“Kau tahu tinggal tidak benar-benar menyelesaikan masalah kita.”

“Aku tahu, Yul. Begitu pun dengan melarikan diri. Hidup dibawah bayang-bayang rasa takut akan ditemukan juga bukan suatu solusi, Yul. Kita takkan bisa terus-terusan melarikan diri.”

“Ketakutan itu tidak sebanding dengan ketakutan akan kehilanganmu, Sica.”

“Being scared should not be a reason to run away. Kita bisa menghadapinya, Yul. Kita akan menyelesaikannya bersama.”

Sica mengangkat tangannya dan meraih pipi Yul. Sica memandang ke dalam matanya dengan lembut sebelum akhirnya mendekat dan mencium bibirnya. Yul membalas ciumannya yang lembut dan memeluknya lebih dekat. Keduanya telah tenggelam dalam dunia mereka sendiri dan tidak ada hal lain dalam pikiran mereka kecuali satu sama lain.

***

Sica dapat merasakan kehangatan di punggungnya dan hembusan nafas yang dingin di lehernya. Dia menggerakkan tubuhnya namun sepasang tangan menahannya untuk bergerak.

Hal itu bagaikan sebuah lampu pijar menyala di dalam kepalanya.

Dia membuka matanya dan rasa dingin telah menghampiri tubuhnya kecuali di bagian punggungnya yang mendapatkan kehangatan dari pria yang sedang memeluknya. Pikirannya pun mulai tersadar, mencoba untuk memahami apa yang telah terjadi.

Sica dapat merasakan badannya menegang ketika kenyataan mulai meresap.

Tangannya bergerak menggengam selimut yang menutupi dirinya dalam gerakan yang gemetar. Ia menggigit bibirnya dan menutup matanya sambil memberanikan dirinya untuk mengangkat selimut itu. Dia pun mengintip untuk mencari tahu situasi yang sebenarnya.

Ternyata pikirannya tidak sedang menipu dirinya.

Apa yang telah aku lakukan?

Rasa bersalah pun mulai merasuki hatinya. Dia dengan cepat membuka selimutnya dan meloloskan diri dari pelukan Yul untuk bangun dari ranjang yang luas itu. Matanya memandang ke sekeliling, mencari pakaian dalam serta pakaiannya. Setelah berhasil menemukan semuanya, dia bergerak dengan cepat dan mengenakannya.

Sica mendengar suara gumaman tepat sebelum dia selesai berpakaian.

“Sica?”

Dia tidak memberikan respon apapun tetapi mempercepat gerakannya dan pergi ke ruang tengah untuk mengambil tasnya.

“Apa yang kaulakukan, Sica?”

Sica melihat ke arah cermin dan melihat bayangan Yul yang sedang keluar dari tempat tidur sambil mengusap kedua matanya dengan tangan kiri dan tangan kanan membawa bajunya.

“Aku tidak bisa tinggal lebih lama lagi.”

Yul dengan cepat mengenakan pakaiannya ketika dia melihat Sica telah berdiri didepan pintu.

“Sica! Tunggu!”

Tetapi Sica tidak menghentikan tangannya membuka pintu. Dan dia pun berjalan keluar.

“Sica!!”

Yul mengejarnya secepat mungkin “Kenapa kau pergi??” Dia mengatakannya setelah menghalangi Sica untuk melangkah lebih jauh.

“Maafkan aku, Yul. Kita tidak seharusnya melakukan ini.”

“Apa yang kau bicarakan?”

“Apa yang kita lakukan tadi malam.”

“Apa kau menyesal sekarang?”

“Aku tidak tahu, Yul,” dia berhenti berbicara namun mata Yul menunjukkan ketidakpuasan atas jawabannya itu, maka dia pun melanjutkan, “Itu adalah saat-saat yang menyenangkan, Yul. Aku belum pernah merasakan kenikmatan seperti yang aku dapatkan tadi malam. Namun semuanya itu terasa tidak benar.”

“Apa yang salah, Sica?”

“We have a promise, Yul.”

Yul pun terenyuh setelah mengerti apa yang Sica maksud.

We have promised to give our first time to each other, as a husband and a wife. It’s the reason why we have restrained ourself for doing so for years. But now we break our own promise.”

“Is it important now?”

Sica tidak bisa mempercayai apa yang baru saja dia dengar. “It is, Yul! A promise is a promise!!”

“I know. But what’s done is done, Sica. We can’t do anything.”

“Tolong hentikan pembicaraan ini. Sekarang biarkan aku pergi. Jangan buat aku semakin merasa bersalah.” Sica berjalan melewati Yul tanpa menunggu jawaban darinya.

“Itu bukan salahmu, Sica!” Yul menggengam tangannya sebelum Sica bisa mengambil langkah lagi.

“Itu salahku, Yul. Aku seharusnya bisa menghentikan diri kita.”

“Aku bilang itu bukan salahmu!!”

“Yul…” Untuk berberapa saat, Sica dapat melihat kemarahan terbersit di matanya sebelum akhirnya menghilang dan tergantikan oleh tatapan yang lembut.

“Tolong jangan merasa bersalah, Sica. Jika kau ingin menyalahkan seseorang, salahkan aku, jangan dirimu.”

“Yul…”

“Aku minta maaf karena telah melanggar janji kita, Sica. Aku minta maaf telah membuatmu merasa bersalah. Aku tidak pernah bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin mengungkapkan cintaku padamu Sica.”

“Aku tahu Yul, Aku tahu.”

“Maukah kau memaafkanku?” Dia tersenyum.

“Kau tidak perlu minta maaf, Yul. Itu sala—“

Jari telunjuk Yul pun menghentikan ucapan Sica. “Ssshh. Jangan katakan itu, Sica. Kita berdua tahu itu bukan hanya salahmu.”

“Tapi—“

Sica tidak dapat menyelesaikan kalimatnya karena bibirnya telah direnggut oleh bibir lain secara lembut. Bibirnya pun bergerak dalam gerakan seirama dengan sendirinya, bereaksi terhadap ciuman Yul yang bergairah. Ketika ciuman mereka semakin panas, mereka dikagetkan oleh suara yang mengucapkan sebuah kata yang terdengar seperti bom bagi mereka.

“Sica?”

 To be continued…

Oh my goodness *facepalm*

Semoga kalian ga ngapa2in author ya setelah baca chapter ini hahahaha

Maaf juga blom bisa bales komen kalian satu persatu, tapi tenang saja, komen kalian sudah dibaca semua ^^

Anyway, have a nice day everyone and thank you for reading ^^

Advertisements

Author: 4riesone

SONE. Follow me on Twitter @4riesone for updates and questions

27 thoughts on “Love between Dreams (Chapter 23)

  1. Lanjut aja thor gatau mau ngpin lgi wkwkk
    Itu taeng kan ya??
    Badai dimana mana hahaha

  2. OMG 😮
    mereka udh “begituan” arghhh >.< *kok nc nya g da hehehe :p
    Kynya jd yuri ngenes bgt deh,kasian bgt..
    Smuanya g prnh da yg memihak sama dy.
    Even cm pgn bersama org yg sangat dcintai.sica jg sll g prnh pa yg yuri inginkan walau sll bilang smuanya hanya untuk kebaikan yuri.lama2 g nahan bgt ngeliat yuri yg tersakiti ky gini..
    Haduhhh paan lg c tuh sll menginterupsi hubungan mereka?????thor udahan napa,jgn bqn yuri tersakiti lg 😦

  3. o_O ??
    hehe
    lanjt dan semangat thor

  4. Sica labil nih, dia mau sama yul tapi masih keliatan ragu2. Dia gamau nyakitin tae tapi masih nemuin yul. Jadi sica maunya kek gimana nih??

    Nahloh nahloh ketauan lagi ciuman, sama siapakah??taeng??._.

  5. omg jessie you bad bad bad girl, you so bad
    sumpah deh ini pengen nyumpahin yulsic
    yah walaupun mereka saling cinta tapi yg namanya perselingkuhan ttp aja salah. itu pasti taeng ya thor??
    duh ilah taeng nasib mu, gak ada apa thor rencana datengin wanita baik buat taeng??
    kalau gak da plishhhh satuin taengsic.

  6. Anyyeong..
    Hmm.. keputusan Sica buat tinggal, bener juga. Sica udah bikin keputusan yg tepat. Tinggal nunggu Yul bisa balik ke Yul yg dulu ato ga? Aku belum bisa ngelihat penyelesaian konfliknya.

    Lanjut Thor.. semangat!! 😀

  7. Speachless lahh,,
    Pen nampar tu org be2,,

  8. Majin runyem dah tuh yulsic, taengsic…mg aja yulsic brsatu dah..kasian yul nya, taeng biar aja cr yg lain hahahhaha…lanjut thor

  9. Masih berharap yulsic happy ending. Tae kah itu.

  10. Apa kabar thor?
    sudah lama gk mampir kesini,
    Kangen juga hehe,,
    Tapi aku gk baca ff nya, aku baca yg satunya aja,..

  11. nah lho ketauan tuh, sp ya???
    emng bnr sih apa yg di bilang sica, yul tdk sharusnya pergi ninggalin smua mimpinya
    mngkin yul udh gak tau lg hrs gmn, krn yul gak pgn kehilngn sica lg
    waduh yulsic abis ngapain tuh??trnyata yulsic gak bs pegang janji yg mereka bwt dn sbnernya itu salah tp mo gmn lg udh trlanjur trjadi
    moga aja yulsic bs brsatu tnpa mnyakiti siapapun

  12. Gua kecewa sama sica ,karna udah main belakang sama taeng.. Kalau emang mau ama yul ya cerai aja sih sama taeng jadi taeng gk tersakiti. Siapa tuh??? Jangan bilang itu taeng T.T

  13. ntu sica bnr2 jahat,,mikir ga cey punya suami kok tega ngelakuin itu ma org lain??aduh kecewa bgt ma sica
    udah taeng cerain aj sica na ngpy msh ngarepin sica lagi,,,,

  14. huhu sdih liat yulsic yg debat mulu . lanjut thor hehe

  15. Otakq slalu panas wktu da moment yulsic,nah itu dah prslingkuhan tingting tuh pake acra ML gtu,ckck bneran gak suka ma sica dsni,ya dah tae pisah ja ma sica,ah sandex da mom rempong bin lemot dsni drahq gak kn mndidih kyk gni,itu taeng kn yg manggil

  16. Sangat pahit jika taeng melihat sica dgn yul omo itu pasti taeng

  17. Makin kenceng aja nih badainya.. Wah taeng dateng.

  18. dududu
    .. taengkah itu yg mergoki yuksic cipokan?????? huaaaa rumit bener

  19. Yulsic kalian berdua sungguh kejam bercinta tanpa adanya pernikahan terlebih dahulu ..
    thor yg datang ngagetin yulsic itu taeng ya thor atau siapa ya..kasian taeng ny..

  20. omg q g th jln pikiran mrk,tp cpt ato lmbat mlh bisa menyakiti keduany.hebat lo thor,br kali ini q bc ikut tegang…

  21. akhirnya yulsic tidak jadi melarikan diri. meskipun haru bertengkar dulu buat nyadarin yul. mereka ngapain tuh? sampai sica makin merasa bersalah? yang manggil sica pas yulsic kisseu pasti taeng? iya kan?

  22. aku tau ini hanya cerita karangan aja. dan aku tau kalau reaksi ku saat baca ini berlebihan, tapi aku ga tau kenapa air mata ku keluar dan susah untuk di cegah. ini sangat menyakitkan. sangat menyesakan, i can’t breath.
    dan air mata ku kenapa harus keluar… huwa.. ..😭😭😭😭 taeng oppaaaaaa. …

Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s