rara0894

All about TaeTiSeo and GG

Love between Dreams (Chapter 22)

33 Comments

Title        : Love between Dreams

Author   : 4riesone

Genre     : Romance, Gender bender

Cast        : 

 Jessica Jung

 Kwon Yuri

 Kim Taeyeon

 Girls’ Generation members and other

LxD cover 2

Arguing

Mansion Jung berukuran sangat besar. Dibangun di atas tanah dengan luas tidak kurang dari 2 hektar, mansion itu dengan mengagumkan menunjukkan cita rasa arsitektur dari sang pemilik dan juga berbagai macam tanaman yang berada aman dibalik pagar putih yang tinggi. Rumah utama merupakan yang terbesar di tanah tersebut, berdiri kokoh tidak jauh dari rumah yang lebih kecil dimana para pelayan dan pekerja tinggal. Di bagian depan dapat terlihat sebuah air mancur beruuran besar dengan patung berbentuk ikan, sebuah taman yang dipenuhi berbagai bunga-bunga disana sini dan sebuah kanopi tempat berbincang-bincang di sekitar taman. Dan berbagai macam hal lainnya yang menambah keeleganan dan kemegahan mansion tersebut.

Namun rumah besar itu bukan lagi sebuah rumah baginya.

Sejak dia meninggalkan rumah, yang terasa seperti sebuah sangkar emas baginya pada saat itu, Sica sudah tidak lagi memiliki perasaan pada tempat dimana dia tinggal dan dibesarkan selama hampir 18 tahun. Di masa lalu, Sica akan selalu dirangkul oleh sambutan hangat setiap kali dia kembali ke rumah. Dia akan merasa bahagia, aman dan nyaman berada di dalamnya. Dia akan merasakan perasaaan rindu untuk segera kembali ke rumah jika dia terpisah dari rumah itu untuk lebih dari sehari.

Namun tidak lagi.

Sekarang Sica hanya akan merasakan kehampaan menghantui hatinya setiap kali dia menginjakkan kakinya ke rumah itu. Terkadang kesedihan atau kemarahan akan menyusup ke dalam hatinya. Namun tidak ada kebahagiaan sama sekali.

Keheningannya pun sama saja. Hanya semakin menegaskan kekosongan di dalam rumah itu terlebih lagi.

Tn. Jung sudah lama menghilang dan tidak pernah terlihat lagi di rumah tersebut. Sica tidak tahu dimana keeradaannya. Sica tidak tahu apakah dia pergi untuk selamanya atau hanya sementara saja. Sica tidak mendapatkan informasi apapun dan dia pun tidak mau merepotkan dirinya untuk mencari tahu. Bagi Sica, bukanlah sesuatu yang aneh melihatnya menghilang di satu malam dan kemudian kembali lagi tidak lama kemudian.

Di lain pihak, Sica tidak pernah mengalami kehilangan Taeng sebelumnya. Hari ini merupakan yang pertama kalinya. Walaupun sikap Sica yang dingin, Taeng tidak akan pernah pergi sebelum memberitahunya sebelumnya. Tetapi pagi ini Sica tidak melihatnya dimanapun di dalam rumahnya. Begitu pula dengan para pelayan dan para penjaga. Mereka mengatakan bahwa Taeng tidak ada di rumah sejak kemarin malam.

Sica tanpa sadar sedikit tersenyum ketika dirinya sampai di rumah dan melihat sosok yang familiar sedang duduk di sofa tempatnya biasa duduk. Walaupun Sica tidak mencintainya, tetapi ketika dia tidak bisa menemukannya di rumah rasanya begitu aneh dan tidak menyenangkan  bagi Sica yang mau tidak mau membuatnya merasa khawatir terhadap pria bertubuh pendek tersebut.

“Kau kembali,” Sica berkata sambil dia berjalan mendekat ke tempat Taeng duduk.

“Aku selalu kembali.”

Sica bisa merasakan isyarat kepahitan di balik kata-katanya.

“Kau tidak kembali kemarin.”

Taeng tetap terdiam namun mengalihkan pandangannya pada Sica. Sica berhenti berjalan ketika dia melihat Taeng sedang menatapnya. Ada sesuatu yang berbeda di mata tersebut. Sica tidak bisa menyebutkan apa itu tetapi dia yakin itu bukanlah sesuatu yang menyenangkan.

Berada di bawah tatapannya sangat tidak nyaman bagi Sica. Dia menutup matanya dan menggelengkan kepalanya sebentar untuk mengenyahkan perasaan tidak menyenangkan itu.

“Kau pulang cepat hari ini.” Taeng berkata dengan ekspresinya yang tidak terbaca.

“Aku menyelesaikan pekerjaanku lebih awal.”

“Atau tidak ada yang mengajakmu keluar.” Taeng berkata dengan ringan tetapi Sica bisa merasakan sarkasme di dalamnya.

“Aku tidak bodoh, Sica. Kemana saja kamu selama ini?” Taeng melanjutkan.

Sica mengernyitkan dahinya. “Apa yang kau bicarakan?”

“Apa yang membuatmu selalu pulang larut malam?”

“Itu bukan urusanmu.” Dengan nada dingin Sica menjawab.

“Jadi kamu tidak mau memberitahuku?”

Kata-kata itu lebih seperti pernyataan dibandingkan pertanyaan.

“Kau tidak perlu tahu,” jawab Sica sambil dia menyilangkan kedua lengannya.

“Beritahu aku apa yang harus aku ketahui kalau begitu.” Taeng tidak menghentikan tatapannya pada Sica, bahkan mempertajamnya.

“Kamu sebaiknya memperhatikan dirimu, bukan aku.” Sica tidak berkecil hati kali ini bahkan dia menatap balik Taeng yang sekarang sudah berdiri dari sofa.

“Aku sudah mendengarnya berkali-kali, Sica. Kamu tidak perlu mengatakannya lagi.”

“Kamu tidak pernah melakukannya walaupun aku sudah mengatakannya ratusan kali.”

“Aku bisa memperhatikan apa saja. Itu adalah hakku. Kamu tidak berhak mengatakan apa yang kulakukan.”

“Kim Taeng!!” Sica meninggikan suaranya.

“Berhenti mengatakan apa yang harus kulakukan, Sica! Kamu bahkan tidak mau menjawab pertanyaanku.” Taeng berkata demikian sembari berjalan mendekat kepada Sica.

“Karena itu bukan urusanmu, Taeng.”

“Aku suamimu. Aku berhak mengetahuinya.”

“Itu hanyalah status di atas kertas. Tidak lebih tidak kurang.” Sica menjawab tanpa perasaan. Dia tidak repot-repot melihat Taeng yang sudah mengalami perubahan ekspresi di wajahnya. Ekspresinya sudah berubah kelam.

“Tetap saja aku adalah suamimu, Sica.”

“Kau tidak perlu mengingatkanku tentang hal itu.”

“Kenapa? Apa itu menganggumu bahwa pada faktanya kamu terikat denganku, bukan orang lain?” Taeng mengambil satu langkah mendekat.

“Berhenti bicara omong kosong, Taeng!”

“Aku tidak bicara omong kosong. Terakhir kali aku memeriksanya kamu itu masih istriku, Sica!” Suara Taeng meninggi untuk pertama kalinya malam itu.

“Lalu apa? Itu hanyalah status di atas hitam dan putih. Itu tidak berarti apa-apa.”

“Kamu sendiri yang mengucapkan janji pernikahan kita, Sica!!! Kamu mengucapkannya, di hadapanku, di hadapan imam, di hadapan semua orang!!”

“It’s only an act, Kim Taeng! Jangan bodohi dirimu sendiri. Kamu tahu aku tidak pernah mencintaimu.”

“Tapi aku mencintaimu, Sica.” Satu langkah lagi.

“Hentikan, Taeng! Hentikan! Kamu tahu ini tidak akan merubah apapun.” Kali ini Sica mengambil satu langkah mundur.

“Kenapa? Kenapa kamu tidak bisa menerima cintaku?”

“Aku bilang hentikan, Taeng. Aku tidak ingin membicarakannya lagi.” Setelah bicara demikian, Sica mengangkat kembali kakinya untuk berjalan menjauh dari Taeng.

“Apakah itu karena kamu masih memiliki perasaan pada mantanmu?” Perasaan pahit bisa dirasakan pada setiap kata-katanya.

“Itu bukan urusanmu.”

“Jadi memang benar.”

“Itu bukan urusanmu, Taeng. Jangan campuri hidupku.”

“Adalah urusanku untuk mengetahui kenapa istriku sendiri tidak mau membalas cintaku. Dan jelas adalah urusanku untuk mengetahui apakah istriku menemui pria lain di belakangku.”

“Lakukan itu pada istrimu yang asli.” Sica berkata dengan sangat dingin dan kemudian bergerak dari tempatnya berdiri sebelumnya, menuju ke kamarnya.

“Jessica!!” Taeng menarik pergelangan tangan Sica dan menghentikannya berjalan lebih jauh.

“Aku hanya istrimu diatas kertas, Kim Taeng.” Dia memutar tangannya sendiri agar terlepas dari genggaman Taeng.

“Kalau begitu kau tidak seharusnya memintaku untuk tinggal!” Taeng berteriak keras pada wanita di hadapannya itu.

“Aku tidak memiliki pilihan, bukan?”

“Tapi akan lebih baik jika aku tidak pernah tinggal. Kita tidak perlu menyakiti satu sama lain seperti ini.”

“Jadi sekarang kamu menyalahkanku karena memintamu untuk tinggal?!”

“Aku tidak menyalahkanmu, Sica. Oh for godsake. Bisakah kau berbicara dengan kepala dingin?”

Taeng memijat dahinya sendiri. Pikirannya sudah begitu kacau dan sekarang dia harus bertengkar dengan Sica.

“Kau yang memulai pertengkaran ini, Kim Taeng!”

“Jangan salahkan aku yang menahannya begitu lama, Sica!”

“Aku tidak pernah menahanmu. Kamu bisa melakukan apa saja yang kamu mau.”

“Aku tidak ingin itu. Aku mempedulikanmu, Sica.”

Sica menghembuskan napas. “Cukup! Jangan bicarakan hal ini lagi.

“Sica,” Taeng melembutkan suaranya.

“Cukup Taeng, cukup. Aku tidak ingin bicara lagi. Tinggalkan aku sendiri.”

“Tapi Sica. Aku mencintaimu. Aku benar-benar mencintaimu.”

Sica menutup telinganya sendiri, mencegah dirinya untuk mendengarkan apapun lagi. “Aku bilang cukup!!” Dia berteriak, terengah-engah untuk menarik napas. “Aku sudah muak dengan semua ini,” dia berkata dengan letih dan kemudian berjalan meninggalkan rumah menuju mobilnya.

“Kau mau pergi kemana, Sica?” Taeng memanggilnya sebelum dia meninggalkan rumah.

“Tidak perlu repot-repot bertanya, Taeng. Ini bukan urusanmu.” Sica menjawab ketus tanpa melihat ke belakang sama sekali.

“Sica, tunggu! Sica!”

Taeng menahan lengan Sica dengan kuat, mencegahnya pergi.

“Let me go!” Sica mencoba untuk melepaskan diri dari genggaman Taeng, namun genggamannya begitu kuat.

“Kita bisa bicara dengan kepala dingin.

“Aku tidak ingin membicarakan omong kosong lagi denganmu, Taeng. Let. Me. Go!” Dengan segenap tenaga, Sica mengerahkan seluruh kekuatannya untuk melepaskan genggaman Taeng.

“Sica!!”

Tetapi wanita itu tidak pernah berhenti malahan bergegas menuju mobilnya dan mengendarainya menjauhi rumah besar itu.

“Damn it!”

Itu adalah kata-kata terakhir yang terucap di rumah itu pada malam yang tidak menyenangkan tersebut karena Taeng sekarang sudah mengambil kunci mobilnya dan berusaha untuk menyusul mobil sedan putih milik Sica.

***

Yul meletakkan minuman dingin yang dia beli di mini market pada pipinya yang membengkak. Pukulan hook yang dihujamkan oleh Sooyoung mengenai pipinya dengan kuat. Sudut bibirnya tersobek sedikit dan ditutupi oleh darah.

Dia tidak tahu apa yang sudah merasuki dirinya. Dia belum pernah dan tidak akan pernah bertengkar dengan Sooyoung, tidak secara fisik, di masa lalu. Sooyoung adalah sahabat terbaik yang pernah dia miliki. Sooyoung akan selalu membantu Yul apapun selama masa sekolah dulu dan begitu pula sebaliknya. Mereka saling melindungi. Tetapi hari ini, buku-buku tangan mereka beradu satu sama lain, meninggalkan mereka dalam keadaan memar dan wajah berdarah.

Kembali ke kejadian sebelumnya, Yul merasa sangat marah dan sekaligus takut saat mendengarkan semua perkataan yang diucapkan dari mulut Sooyoung. Dia marah karena seseorang yang begitu dekat dengannya ternyata sepenuhnya menentang hubungannya dengan Sica ketika dia benar-benar tidak tahu apapun bagaimana perjuangan yang sudah Yul lalui untuk dapat memiliki Sica dalam pelukannya kembali. Walaupun begitu, perasaan takut pun tidak mau meninggalkan Yul.

Rasa khawatir akan kehilangan Sica tidak pernah berhenti menghantuinya satu hari pun. Jauh di dalam hatinya Yul sadar bahwa kebersamaannya dengan Sica hanyalah bersifat sementara. Suatu hari kebersamaan itu akan diambil darinya. Dan kata-kata Sooyoung berhasil memicu ketakutan dalam dirinya terlebih lagi. Peringatan yang menyayat hati bahwa Sica bukanlah miliknya seutuhnya. Terlebih lagi, bahwa hubungannya dengan Sica tidak akan mendapat restu dari orang-orang terdekatnya seperti dahulu.

Yul hanya ingin bahagia bersama cintanya, tetapi mengapa terdapat begitu banyak rintangan di hadapannya. Tidak bisakah dia bahagia?

Handphone yang bergetar di sakunya menginterupsi pikirannya. Yul menjawab panggilan tersebut tanpa melihat identitas si penelepon.

“Hello?” Dia mendekatkan handphonenya pada telinganya dengan tangannya yang bebas. Dia mengerutkan dahi ketika mendengar suara isakan dari sambungan telepon itu.

“Sica? Apa yang terjadi? Mengapa kamu menangis?”

“Bisa..bisakah kamu…datang kesini?” Dia mengutarakanya diantara isak tangis.

Yul segera berdiri dengan siaga, telinganya sudah siap untuk mendengarkan apapun yang mungkin diucapkan oleh Sica sebagai jawaban atas pertanyaannya.

“Dimana dirimu?”

***

Sebuah suara ketukan menghentikan Sica dari tangisannya. Dia mengusap air mata dari pipinya dengan punggung tangannya sebelum berjalan menuju pintu.

“Sica!!”

Yul segera bergegas memasuki kamar seketika Sica membukakan pintu untuknya dan memeluk penghuni kamar tersebut.

“Apa kamu baik-baik saja? Apa yang terjadi? Mengapa kamu menangis?” Pertanyaan dibombardir dari mulut Yul setelah dia melepaskan pelukannya. Tangannya menyentuh wajah Sica, memeriksanya ke kiri dan ke kanan untuk memastikan bahwa Sica tidak terluka.

Yul berhenti menggerakkan kepala Sica ketika dia merasakan tangan Sica menyentuh tangannya. Sica perlahan menarik turun tangan Yul dari wajahnya.

“Aku baik-baik saja sekarang, Yul. Kamu sudah ada disini.” Sica berbicara dengan senyuman yang lemah namun tulus. Dalam hitungan detik, Sica sudah berada dalam dekapan Yul kembali.

“Aku disini, Sica. Jangan khawatir.”

Sica tidak membalas apapun tetapi melingkarkan lengannya di tubuh Yul dan meringkukkan kepalanya dalam pelukan Yul, menginginkan lebih banyak kehangatan dan kenyamanan dari si pria. Mereka berdiri seperti itu, dalam dekapan satu sama lain, untuk beberapa saat.

Setelah melepaskan satu sama lain, Sica menatap wajah Yul sambil memberengutkan wajahnya.

“Apa yang terjadi padamu? Apa yang membuatmu terluka seperti ini?” Dia menyentuh pipi Yul yang memar.

“Ouch.” Yul meraung secara refleks ketika Sica menyentuh lukanya.

“Maaf,” Sica segera menarik tangannya. “Aku akan mengobati lukamu terlebih dulu. Sepertinya aku melihat kotak P3K di kamar mandi.”

“Tidak apa-apa, Sica. Aku bisa melakukannya sendiri,” kata Yul.

“Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya sendiri, Yul. Aku yang akan melakukannya untukmu.”

“Sica,” Yul memanggil lembut.

“Tidak, Yul. Aku bisa melakukannya untukmu,” Sica menjawab dengan tegas. “Aku akan mengambil kotak P3K dahulu,” ujar Sica sambil dia berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil kotak putih tersebut.

Yul yang tidak bisa berdebat lagi akhirnya pergi ke ruang tamu dan merebahkan tubuhnya di sebuah sofa putih. Saat menunggu Sica, Yul melihat ke sekeliling ruangan. Ruangan itu merupakan suite room di salah satu hotel bintang lima terbaik di Seoul dimana Sica tinggal untuk malam itu. Melalui sekilas pandangannya, Yul bisa menilai bahwa ruang tempat dia berada saat ini bahkan lebih besar dari rumahnya sendiri.

“Ini.”

Akhirnya Sica kembali dengan sebuah kotak putih dan seember es batu. Dia meletakknya di atas meja dan membuka tutup kotak putih yang memperlihatkan obat-obatan di dalamnya. Dia duduk di samping Yul untuk mengamati luka di wajahnya.

“Ada luka di bibirmu. Kedua pipimu memar. Apa kamu terlibat dalam perkelahian?”

Yul hanya tersenyum lemah sebagai balasannya.

Sica menghela napas karena tidak mendapatkan jawaban apapun. Dia mengalihkan perhatiannya pada obat-obatan di kotak putih. Dia menyemprotkan alkohol pada sehelai kasa sebelum mengusapkannya pada luka Yul. “Ini akan sedikit perih,” katanya.

Yul mengernyit kesakitan setiap kali alkohol menyentuh lukanya. Kemudian, Sica mengoleskan iodin pada luka Yul dengan hati-hati.

“Ouch.”

Yul tidak bisa menghentikan dirinya bersuara ketika cairan coklat kemerahan itu meresap ke dalam bibirnya yang terluka.

“Tahan sebentar,” Sica berkata padanya. Yul hanya bisa meringis kesakitan. Setelah selesai mengobati luka Yul, Sica meniup bibirnya dan bergerak mendekat. Yul terperangah ketika wajah Sica mendekatinya yang membuatnya terjungkal dari posisi duduknya.

“Oh my god, Yul. Ada apa?” Sica menatapnya terkejut.

Yul segera bangun dan kembali ke posisi duduknya dengan raut malu terlihat di wajahnya. “Ah, tidak, tidak. Tidak apa-apa.”

Sica tertawa kecil melihat wajah Yul yang sudah memerah.

“Apa yang kamu pikirkan Yul? Aku sedang mengobati lukamu saat ini.”

“Itu salahmu yang berada begitu dekat denganku,” Yul berkomat-kamit dengan wajah cemberutnya.

“Aku bermaksud untuk meniup lukamu supaya tidak terasa begitu sakit tapi kemudian kamu tiba-tiba saja terjatuh, bagian mana yang merupakan kesalahanku?” Sica bertanya blak-blakan.

Yul tidak menjawab apapun tetapi hanya semakin cemberut.

“No pouting, big boy,” Sica mencubit hidung Yul sambil terkekeh dengan sangat merdu. “Aku akan mengambil beberapa es untuk memarmu.”

Dia mengambil beberapa es batu dari ember di meja dan menaruhnya di atas sebuah handuk putih dari kamar mandi sebelum kemudian menggulungnya dengan rapih. Handuk dingin itu pun bertemu dengan memar di wajah Yul.

“Pegang ini untuk sementara waktu.”

Yul mengangguk sembari dia mengambil handuk itu dengan tangannya dan menahamnya pada pipinya yang mengungu. Sambil Yul melakukan hal tersebut, Sica mengalihkan perhatiannya pada kotak putih dan mencari sebuah perban di dalamnya. Dia merobek pembungkusnya sebelum menempelkan perban itu di bibir Yul yang terluka.

“Nah, selesai,” Sica menekan perban itu sedikit untuk memastikannya merekat dengan baik pada kulit Yul.

Yul sangat berterimakasih atas perhatian Sica dan mengacak-acak rambutnya sebagai balasan. “Terima kasih.”

Sebagai balasannya, Sica tersenyum sambil merapihkan kembali rambutnya yang berantakan. “Jadi Yul,” dia memandang pria di sampingnya. “Kau terlibat apa?” dia mengangkat alisnya, bertanya.

“Ini bukan apa-apa, Sica. Hanya sebuah perkelahian kecil antar lelaki,” Yul menjawab.

“Memangnya kamu berkelahi dengan siapa?”

“Hanya seseorang. Jangan bicarakan hal ini, ya?” Yul menatap Sica dengan wajah memelas. “Aku begitu khawatir tentang dirimu. Apa yang terjadi, Sica?” Yul mengubah topik.

“Hmm.” Sica tampak ragu-ragu dan menghindari tatapan Yul.

“Kamu tahu kan kalau kamu bisa memberitahuku apapun, Sica,” Yul berbicara lembut.

“Humph,” Sica menghela napas lelah. “Aku bertengkar dengan Taeng.”

“Apa?! Apa dia menyakitimu?” Yul memeriksa Sica dengan kalut.

“Aku baik-baik saja, Yul. Tidak ada luka apapun.” Sica meyakinkan.

“Jadi?” Yul bertanya dengan penuh kebingungan setelah menenangkan dirinya.

“Aku pikir sepertinya dia mengetahui tentang kita,” Sica berkata dengan suara yang sangat pelan.

Yul tidak bisa mendengar frase terakhir karena suara Sica yang begitu pelan. “Tahu apa?”

“Kamu dan aku,” ulang Sica.

Yul langsung membeku di tempatnya seketika kata-kata yang diucapkan Sica terproses dalam pikirannya. Wajahnya memucat putih pasi seperti baru saja melihat hantu.

“Apa kamu ingat tentang kemarin malam?”

Yul masih dalam posisi mematung jadi Sica pun melanjutkan, “sepertinya dia memang berada disana dan itu berarti aku tidak salah mendengar. Seseorang memang memanggil namanya saat itu.”

“Apa kamu yakin?” Suara Yul terdengar sama dinginnya dengan suara orang mati.

Sica menggelengkan kepala. “Aku tidak yakin. Tapi Yul,” dia menatap ke bawah. “Aku takut.”

Tanpa ragu-ragu, Yul segera memeluk Sica yang tampak seperti akan menangis sebentar lagi.

“Aku ada disini, Sica. Kamu tidak perlu takut.” Yul mengeratkan pelukannya sambil berkata demikian.

“A…Aku..” Sica tersedak dengan ucapannya sendiri. Tubuhnya bergetar dengan sendirinya. Air matanya sudah bergelinangan di matanya. Mulutnya tidak bisa mengucapkan kata-kata dengan benar.

“Ssshh, ssshh, semuanya akan baik-baik saja, Sica,” Yul membisikkan kata-kata itu ke telinga Sica sambil tetap melingkarkan lengannya di tubuh Sica.

Itu adalah suatu kebohongan besar.

Yul tahu itu.

Tidak.

Semuanya tidak akan baik-baik saja.

Yul sudah bisa memprediksinya. Bahwa ketakutan terbesarnya akan menjadi nyata kapan saja. Dan waktu itu tidaklah lama lagi.

Tapi, apa yang bisa dia lakukan?

“Ssshh, ssshh, jangan menangis, Sica.” Yul terus mencoba untuk menenangkan wanita yang sedang menangis itu.

“Semuanya akan baik-baik saja. Kita akan baik-baik saja.” Kata-kata dibisikkan pada Sica, namun sesungguhnya lebih ditujukkan untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa memang benar semuanya akan baik-baik saja. Bahwa tidak ada siapapun yang akan mengambil cintanya dari dekapannya. Walaupun Yul tahu hal itu hampir mustahil, tapi dia perlu meyakinkan dirinya sendiri. Kalau semuanya akan baik-baik saja.

“Aku…” Sica berhasil mengucapkannya diantara isak tangisnya. “Aku… Aku menginginkanmu, Yul,” dia tersedak. “Bukan…bukan orang lain…Aku membutuhkanmu…” Dia berhenti sejenak karena tangisannya semakin keras.

“Aku disini bersamamu, Sica. Aku tidak akan kemanapun.”

“Tidak… Yul,” dia mencoba untuk bicaralagi. “Bukan kamu,” tubuhnya bergetar akibat tangisannya. “Tapi aku.”

“Berhenti bicara seperti itu, Sica,” Yul berbicara dengan lembut di telinga kanannya. “Tidak, itu tidak akan terjadi. Kamu bersamaku sekarang, esok hari, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan dan selamanya.”

“Yul…” Gumaman itu begitu pelan dan bercampur dengan suara tangisannya.

“Kita akan bersama-sama, Sica.” Yul mengeratkan pelukannya. “Kita akan bersama.”

Sica pun menangis lebih kencang mendengar kata-kata Yul tersebut. Dia benar-benar ingin mempercayainya. Dia benar-benar berharap agar semua yang dikatakan Yul akan terjadi di kehidupan nyata. Tapi hatinya tidak bisa berdusta. Hatinya tahu bahwa waktu mereka sudah dekat. Bahwa mereka harus mengucapkan selamat tinggal tidak lama lagi. Bahwa mereka harus berpisah kembali untuk kedua kalinya.

“Sica…”

Yul melonggarkan pelukannya setelah tangisan Sica mereda. Dia mengangkat dagu Sica dengan jarinya agar Sica menatap dirinya.

“Lihat aku,” katanya dengan lembut.

Sica menurutinya dan menatap bola mata coklat itu. Ada perasaan hangat di dalamnya.

“Do you love me?”

Sica mengangguk.

“Do you want to spend your life with me?”

Sica mengangguk lagi.

“Do you believe in me?”

Anggukan lain dari Sica.

“Then let’s run away together.”

To be continued…

Yahahahaa akhirnya author balik lagi setelah bertapa di gunung. haahahaha jadi gimana hasil pertapaan author ini?? monggo silahkan diberi kritik dan saran, sebelum authornya kembali lumutan di gunung hahahaha

oh ya, happy chinese new year buat yang merayakan!! bagi2 angpao ya sama author wkwkwk #ngarep ya sudah, author mau kabur lagi ya, selagi masih selamat, babai!! see ya in next chapter~

Advertisements

Author: 4riesone

SONE. Follow me on Twitter @4riesone for updates and questions

33 thoughts on “Love between Dreams (Chapter 22)

  1. Mdh2n gw pertama yeee hehehe 🙂
    Abz betapa dgunung mana thor amp bqn ff yg gini nyesakin krn yulsic kemungkinan g bkl bersatu??sakit thor huhuhu 😦
    Gw lebih suka dg ending yg happy huaaaa T.T

  2. Gua terlalu ngarepin ini jadi taengsic thor & kayanya itu gk bakal terjadi ,bakal patah hati lah ini gua T.T

  3. akhirnya taeng sdh tdk bs menahan amrahnya lg, mngkin lbh baik kl taengsic memilih untk brpisah tp spertinya taeng tdk akn smudah itu melepas sica.
    sbnernya dua2nya kasian jg tp kl sica sndiri udh memilih orang lain, gak ada gunanya jg memprtahankn prnikahan, yg ada malah sakit hati trus
    kl emng yulsic ditakdirkn brsatu, ya udh itu mngkin krn mereka emng udh jodoh, jd please jgn pisahin yulsic
    bikn happy ending ya thor
    gak pake nggak pokoknya yulsic kudu brsatu

  4. Sbnarnya ksian jga tae tp mau bgaimna lg sica emng buat yul huhhh seandainya ada fany dsini

  5. yeah gw suka kalimat akhirnya
    “Then let’s run away together.”
    yulsic! yulsic! yulsic! eh ga tau deh abis sica udah nikah sih. tetep aja status yul sekarang selingkuhan sica.

  6. Kasian taeyeon di selingkuhin,,,tp smg tangsica bs bersatu ya thor

  7. Taeng udh lepasin sica buat yuri, cr istri lain lah, klo sica gak cinta prcuma kan, bikn skt hati aja…

  8. Duuuh bikin keki,,, tp te2p gw ngarep taengsic di ending. Kpn sih sica sadar dg pengorbanan n ketulusan suaminya?…
    Gw gk suka plot selingkuh>_<

  9. Kesian reader nya ini mah wkakakkaa *ngaco
    Gatau lah thor mau ngmong apaa
    Lanjut dah

  10. sebenernya gak sanggup lg baca ff ini kadian banget aam taenya tp penasaran apakah ada kebahagian buat tae? mudah”an ada

  11. taeng knp juga msh ngarepin sica??padahal sica kasar ya knp jg taeng bisa cinta ma sica??
    semoga happy ending yulsic na

  12. Gimana thor bertapa nya??asik?menyenangkan?haha

    Akhirnya tae ngeluarin unek2 nya juga, tapi kasian tae ngebatin mulu. Kenapa kalian gak pisah aja sih, drpd ngebatin gitu. Sica juga masih cinta banget sama yul. Relain sica tae, biarkan dia bahagia dengan pilihannya dan elu bahagia dengan takdir lu nanti karna bakal ada bidadari dateng buat ngobatin Luka lu itu /bidadari hwang miyoung/ muahahahah XD *buat authornya tolong dikabulkan harapan reader yg satu ini wkwkwk*

  13. kasian tuh taeyeon
    klo sica gak cinta ngapain dipertahanin
    biarin deh yulsic bersatu
    taeng cr yg lain ajah
    drpd hrz digituin ma sica

  14. Tambah complicated ajjaa,,,
    Sica emg pda dasarnya lu egois,, mana tau bapa lu sakit yg lu peduliin cuma dirilu sma yul,,

  15. Ah akhirnya update juga th0r. Masih berharap yulsic bersatu.

  16. annyeong
    Hadeuhhhhh taengsic prang tu,,,taeng cnta bnget sm sica,,tp ngak adil klw mrka brthan tp sica ngak cnta sm taeng yang ad cuma smkin penuh dngan dusta aj prnikahan mrka,,coba ad fany,,kn ad hrpan taeng untuk bhgia dngn cnta yg baru,,,dan ttap brhrap yulsic brstu,,
    Ok siip
    Slmat mlnjutkan ritual d gungung nya
    Ttap smngat cuy
    Gomaomao,,

  17. akhirnya,ini ff yg paling ditunggu :’3
    yulsic ribet amat :’3 kasian
    endingnya harus yulsic ya thor, ini firasat ngatain taengsic mulu. tapi semoga yulsic dah :’3
    yoo~ ditunggu part selanjutnya :’3

  18. mudah2an dichapter selanjutnya gak ada penghalang buat yulsic bahagia sampe nikah + punya anak :’v
    Gue harap tippani dateng melet taeng :v #plak

    Ditunggu part selanjutnya min >_<
    Daebak,kalo dibikin film kayaknya bakal nguras air mata + greget jalan ceritanya :3

  19. wahh udah lama gak berkunjung >< . ini lgi bca lnjutan lbd yg ketinggalan hehe

  20. gue ngerasa yulsic egois.. dulu awalnya suka banget sama mereka cuma semakin kesini karakternya jadi kayak egois. mka saling cinta tapi menyakiti orang lain. apalg sica, seharusnya dia gak perlu nerima taeng jadi suaminya klo pd akhirnya mereka pngen berjuang mempertahankan cinta mrka. kasian bgt si taeng T.T

  21. Bru nyadar jd wp ne beda2 author yah,yg ne 4riesone n 1 lgi rara0894 sesuai nma wp ne,brrti rara ne yg punya wp?

  22. Taeng beraabar lah pasti kau aangat terluka semuanya sangat terluka lanjut thor

  23. Akhirnya yul ngajak sica kawin lari juga habaha
    Merasa bahagia saya
    Tapi ada sebongkah kesedihan klok akhirnya yulsic bakal kepisa kedua kalinya.. huahuahua

  24. disini sica kejam amat sich ama taeng, ngak kebayang gmana hancurny hat taeng..
    sica kpan loe sadarny sich jika taeng itu tulus cinta loe, jinja…
    tetap taesic gue ny thor…,,,

  25. yulsic kok egois y?tp yul pny ketakutan sndiri.akhirny ksbran taeng diuji,klo g ktm yulsic taeng g akn kyk gini.sbr taeng.

  26. omo.. taengsic bertengkar gara” taeng tau perselingkuhan yulsic.dan yulsic mau melarikan diri? OMG yul.. itu istri orang mau dibawa kemana??!

  27. ya tuhan…taengsic bertengkar..smua pda bertengkar..

  28. untuk pertama kali nya taengsic bertengkar, tapi untuk pertama kalinya juga taengsic bicara banyak setelah pernikahan mereka.
    oppa taeng yg sabar ya. …..

Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s