rara0894

All about TaeTiSeo and GG

Love between Dreams (Chapter 20)

47 Comments

Title        : Love between Dreams

Author   : 4riesone

Genre     : Romance, Gender bender

Cast        : 

 Jessica Jung

 Kwon Yuri

 Kim Taeyeon

 Girls’ Generation members and other

LxD cover 2

Child’s Heart

“Yul!” Sica memanggil pria yang sedang berdiri sambil bersiul seorang diri di arah seberang.

Pria itu menyadari suara yang memanggilnya dan memutar badannya sambil menyunggingkan seulas senyuman di wajahnya. “Hey cantik,” dia melingkarkan lengannya pada wanita di hadapannya itu.

“Hey tampan,” Sica terkekeh sambil dia melepaskan diri dari pelukan Yul.

“Apa pekerjaanmu sudah selesai?”

Sica mengangguk. “Yeah, sudah kuselesaikan semua dokumen yang harus kutandatangani. Hal-hal lainnya aku berikan pada bawahanku.”

“Oh the boss is slacking off, huh?” Yul menatap nakal pada wanita di hadapannya itu.

“Mungkin.” Sica mengangkat bahunya santai. “Aku benar-benar ingin bertemu denganmu, oke?” ucapnya yang diikuti oleh sebuah senyuman lebar.

Hal itu membuat sebuah senyuman yang lebar kembali terlihat di wajah Yul. “Aww, I miss you too baby.” Yul mencium Sica di pipinya.

Sica pun terlihat seperti tomat karenanya, pipinya merona merah sekali.

“Let’s go, Yul. Aku tidak ingin kolegaku melihat kita disini.”

“Okay, baby. Come on,” Yul menawarkan lengannya pada Sica yang kemudian segera dirangkul oleh Sica dengan senang hati.

Sejak momen di hotel yang lalu, Sica menghabiskan waktu lebih banyak bersama Yul, makan siang dan makan malam. Yul dan Sica pun menjadi lebih dekat, seperti tidak pernah ada yang terjadi diantara mereka berdua. Mereka tidak lagi ragu-ragu untuk menunjukkan perasaan mereka satu sama lain dan bersikap selayaknya pasangan normal. Dan sudah satu bulan lamanya sejak mereka tidak sengaja bertemu kembali di konser f(x) yang lalu.

Di lain pihak, Taeng sudah jarang sekali menghabiskan waktunya bersama Sica. Bukan berarti Taeng menghabiskan banyak waktu bersama Sica di masa lalu, tapi saat ini sulit sekali baginya untuk melihat Sica walaupun mereka tinggal di dalam satu rumah yang sama. Waktu dimana dia bisa melihat Sica hanyalah di pagi hari dan di larut malam.

Tetapi Sica tidak peduli. Dia tidak merasa wajib untuk bersikap baik atau mempedulikan Taeng. Pernikahan mereka hanya merupakan perjanjian di atas kertas semata. Itu tidak pernah menjadi sesuatu yang dia pertimbangkan dengan sepenuh hati. Tidak ada perasaan sama sekali di dalamnya.

Bersama dengan Yul adalah situasi yang benar-benar berbeda. Keadaan yang mampu membawa kebahagian dan kenyamanan baginya. Semua perasaan yang dimilikinya ditujukan hanya untuk satu orang yang bernama Kwon Yul. Orang yang membuat hidupnya lebih berwarna dan indah setelah bulan-bulan penuh kesuraman dan isolasi diri.

***

“Apa kamu serius?”

Sica menatap Yul yang sedang mengemudi dengan tatapan tidak percaya setelah mengenali tempat yang akan mereka tuju.

“Aku serius, Sica.”

“Kenapa kesini?”

“Kita tidak pernah pergi berkencan ke tempat ini, Sica. Dan pasti akan menyenangkan juga,” dia menyeringai seperti anak kecil.

“Tapi, Yul…” Sica memandang tempat itu sekali lagi sebelum memalingkan wajahnya kembali pada si pengemudi. “Tempat itu untuk anak-anak.”

“Aww, ayolah, Sica. Tempat itu bukan hanya untuk anak-anak. Ada banyak orang dewasa juga disana. Banyak pasangan pula. Dan selalu ada hati seorang anak kecil di dalam diri setiap orang. Kamu akan menikmatinya.” Yul tersenyum pada Sica.

“Kamu benar-benar menginginkannya, ya?”

“Yup.” Yul mengangguk. “Dan pergi bersamamu akan membuatnya jauh lebih menyenangkan.”

“So cheesy,” Sica tertawa.

“I’m sincere you know.”

“But still sounds cheesy,” Sica menjulurkan lidahnya.

“Mengapa kamu begitu kejam padaku, Sica??” Yul berpura-pura menangis.

“Oow, the big baby is crying,” kata Sica dengan nada yang sangat dilebih-lebihkan.

“Hibur aku kalau begitu,” Yul mengedip non stop pada Sica dengan tatapan nakalnya.

“Silly,” Sica akhirnya mencubit pipi si pria sambil tertawa kecil.

“Thank you for being with this silly then.” Yul masih memandangi Sica ketika dia menunjukkan senyuman tulusnya.

“Very welcome, silly.”

Mereka tertawa bersama setelahnya. Momen tersebut, walaupun sederhana tapi mampu membangkitkan mood mereka dan menaikkan tingkat kebahagiaan mereka dalam sekejap. Sederhananya, kehadiran satu sama lain sudahlah cukup bagi mereka.

Yul ternyata membawa Sica ke sebuah taman hiburan. Ketika dia masih kanak-kanak, Yul pernah sekali bermain di tempat itu bersama ayahnya. Dia benar-benar menikmati bermain di tempat seperti itu, namun ibunya tidak mampu untuk mengajaknya kembali kesana setelah ayahnya meninggal. Dan ini adalah pertama kalinya Yul membawa Sica ke taman hiburan karena mereka lebih memilih tempat dengan biaya yang terjangkau untuk pergi berkencan di masa lalu.

Mereka berjalan bersama, tangan bergandengan erat, senyuman terulas di wajah masing-masing, menyusuri sekeliling taman hiburan itu untuk mencari permainan yang akan mereka coba. Mereka memulai dengan permainan yang pelan terlebih dahulu untuk memanaskan semangat mereka. Dan mencoba hal-hal yang lebih menantang setelahnya untuk memacu adrenalin mereka.

“Bagaimana kalau kita naik roller coaster sekarang, Sica? Aku dengar roller coaster baru disini benar-benar menantang, kita tidak boleh melewatkannya,” Yul tiba-tiba berkata setelah mereka menyelesaikan permainan ke empat mereka.

“Kamu benar-benar bersemangat, Yul.”

“Ya. Ya. Aku sangat bersemangat, Sica,” Yul menjawab dengan lantang dan gembira sambil memegang lengan atas Sica dan mengangguk tiada henti. Matanya memancarkan sinar penuh semangat. Yul sudah tampak seperti seorang anak laki-laki berusia lima tahun saja. Sica hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.

“Kamu akan menaikinya bersamaku, kan?” tanya Yul.

“Tergantung.” Sica tersenyum lebar.

“Now you play hard, huh?”

“Mungkin,” Sica mengangkat bahunya.

“Apa yang kamu inginkan?”

Sica mengetuk-ngetuk dagunya pelan. “Kamu tahu apa yang aku mau.”

“Huh, apa?”

Sica hanya menyeringai pada Yul yang sedang kebingungan sebelum menariknya pergi. “Come on.”

“Hey…hey…kita mau pergi kemana?”

Sica hanya terkekeh dan tidak mengatakan apapun. Dia memasuki salah satu toko dan mencari-cari sesuatu.

“Nah, ini dia,” Sica menunjukkan dua buah bando dengan bentuk telinga bulat. “Satu untukmu dan satu untukku.” Dia memberikan bando yang lebih besar pada Yul.

Yul terperangah dan hanya memandangi bando yang ada di tangannya.

“Pakai itu, Yul.” Sica mengambil bando tersebut dan memakaikannya di kepala Yul. “Sekarang kamu terlihat begitu cute. Cutie Yul,” Sica tertawa kecil di sela-sela perkataannya.

“Lihat siapa yang kekanakan sekarang.”

“Kamu sendiri yang mengatakannya Yul, kita semua adalah anak-anak jauh di lubuk hati kita,” Sica menjulurkan lidahnya.

“Heisssh, kamu ini,” Yul mengacak-acak rambut Sica. “Jangan gunakan kata-kataku padaku.”

Mereka berdua berakhir dengan tertawa.

“Apa aku cute?” Yul membetulkan posisi bando di kepalanya ketika bertanya.

Sica menunjukkan kedua ibu jarinya dengan senyuman lebar di wajahnya. “Sangat.”

“Baiklah kalau begitu. Selama aku cute untukmu. Anything for my princess,” Yul membungkuk dan menyilangkan kaki kanannya ke belakang, tangan kiri di depan dadanya.

“My fingers are curling, Yul.”

“Aku tahu kamu menyukainya,” Yul tersenyum menyeringai sebelum mencubit hidung mancung Sica. “Ayo, akan memakan waktu untuk mendapatkan antriannya.” Dia menarik tangan Sica dan menggengamnya dengan tangannya sendiri kemudian mengajaknya keluar dari toko tersebut.

Mereka akhirnya berhasil menaiki roller coaster setelah mengantri sekitar 15 menit. Permainan itu benar-benar sangat seru bagi Yul. Dia menyukainya, tapi ada sesuatu yang mengganggunya selama permainan tersebut, yaitu suatu teriakan lumba-lumba dari sisinya yang hampir saja membuat tuli telinganya yang berharga. Yul mengusap telinganya kemudian meniupkan udara pada kepalan tangannya sebelum memindahkannya ke telinganya. Dia melakukan hal itu beberapa kali.

“Suaraku tidak sekeras itu, Yul.”

Yuri mengeluarkan suara ‘aduh” setelah mendapatkan pukulan di lengannya.

“Tidak keras, Sica, tapi high pitch.”

“Yah!” Sica memukul lengan Yul sekali lagi.

Yul tertawa melihat Sica yang sudah cemberut. “Aku tidak tahu kamu begitu takut, Sica.”

“Aku tidak takut!”

“Tapi kamu berteriak sepanjang permainan.” Yul mencolek Sica. Dia tahu kalau Sica akan menjadi sangat cute pada akhirnya setelah semua godaan ini. Oleh karenanya, dia tidak mau melepaskan begitu saja kesempatan untuk menggoda Sica.

“Aku menikmatinya, oke?”

“Dengan memproduksi teriakan lumba-lumbamu itu?”

“Itu bukan teriakan. Itu hanyalah suatu bukti betapa aku begitu menikmatinya, bahkan pita suaraku pun setuju denganku. Itulah mengapa aku mengeluarkan suara seperti itu.”

“Oh benarkah?” Yul mencoba menahan tawanya.

“Yup, 100% yakin.”

“Aku tidak bisa mempercayainya.”

“Yah!!”

Akhirnya, Sica sudah mencapai fase terakhirnya. Sekarang tampak bahwa dia sudah cemberut dengan manis. Yul tidak dapat lagi menahan tawanya. “Aww, come here baby,” dia memeluk gadis manis di hadapannya. “Let’s go for a slower game, shall we?” Dia melepaskan pelukannya untuk melihat wajah Sica. Sica mengangguk pelan untuk menyembunyikan pipinya yang memerah.

Setelah menghabiskan waktu sekitar satu jam untuk mencoba permainan lain, Yul dan Sica memutuskan untuk makan malam. Langit sudah gelap dan perut Yul sudah berbunyi beberapa kali menandakan rasa laparnya sudah melewati batas normal.

“Perutmu sudah memanggil-manggil makanan, Yul,” Sica terkekeh.

“Ya, lagipula sudah saatnya makan malam.”

“Waktu benar-benar berlalu begitu cepat ketika aku bersamamu.” Sica menyandarkan badannya pada Yul.

“Aku tahu,” Yul tersenyum dan melingkarkan lengannya pada Sica.

“Aku berharap kita bisa menghabiskan lebih banyak waktu untuk hal-hal seperti ini.”

“Kamu menyukainya?” tanya Yul.

Sica mengangguk. “Selalu ada hati seorang anak kecil dalam diri kita,” Sica tersenyum lebar.

“Kamu benar-benar menyukai frase itu ya?”

“Yup. Kamu yang mengatakannya dan memang itu lebih dari sekedar kebenaran.”

“Sudah kukatakan, Sica. Aku tidak pernah salah.” Yul tersenyum balik pada Sica.

“Hanya saja sulit untuk mempercayai kata-kata dari seorang dork sepertimu, Yul.”

“Yang benar saja. Kamu sudah berencana untuk balas dendam padaku sekarang?” Yul menjauh dari si gadis berambut coklat itu.

“Tidak.”

Tapi wajahnya tidak bisa berbohong. Yul bisa melihat betapa keras Sica berusaha untuk menahan tawanya.

“Haish, this beautiful baby,” Yul mengacak-acak rambutnya untuk kesekian kalinya hari itu.

***

“Sica.”

Yul sudah menghabiskan makanannya namun Sica masih memiliki makanan di piringnya.

“Ya?”

“Aku mau pergi ke toilet sebentar. Tunggu disini, oke?”

“Oke. Cepat kembali.”

“Ya.”

Yul pun meninggalkan tempat duduknya dan melangkah menuju toilet terdekat. Sica melanjutkan makan malamnya sambil menikmati pemandangan langit malam. Mereka memilih meja di luar ruangan agar bisa menikmati hembusan udara sejuk begitu juga gemerlap bintang-bintang di langit yang gelap. Sica sedang mengunyah makanannya pelan ketika dia menyadari seseorang memanggil namanya. Dia memutar kepalanya untuk melihat siapakah itu.

“Sunny?”

“Hey, Sica. Lama tidak bertemu,” wanita berambut pirang itu menunjukkan senyuman lebarnya.

“Hai. Yeah lama tidak bertemu.” Sica tersenyum kecil. Jantung Sica mulai berdegup kencang dan sebuah perasaan tidak nyaman mulai terasa di perutnya. Tidak seorang pun boleh mengetahui hubungannya dengan Yul saat ini, termasuk Sunny. Sunny adalah sahabat Taeng. Tidak akan ada baiknya jika dia mengetahuinya.

“Apa yang kamu lakukan disini?” tanya Sunny.

“Emm, makan?” Sica menunjuk makanan di piringnya.

Sunny mengeluarkan tawa khasnya. “Aku tahu itu, Sica. Maksudku di tempat ini.”

“Bermain bersama teman lamaku. Kami butuh sedikit hiburan. You know, hectic life, hectic work.” Sica berkata semeyakinkan yang dia bisa agar Sunny tidak curiga apapun. “Bagaimana denganmu?”

“Oh. Aku sedang berkencan dengan Sooyoung.”

Oh tidak. Sooyoung juga, Sica mengutuk dalam pikirannya. Dia berharap Yul tidak akan segera kembali atau dia akan membutuhkan penjelasan yang begitu sulit pada pasangan Sunny dan Sooyoung.

“Oke, selamat bersenang-senang bersama Sooyoung.”

“Apa kamu tidak ingin menemuinya?”

“Mungkin lain kali,” Sica tersenyum. “Aku masih harus menghabiskan makanan ini. Dan juga ada teman yang kutunggu,” dia memiringkan kepalanya ke arah kursi di seberangnya.

“Begitu ya. Sampai jumpa lain waktu kalau begitu, Sica.”

“Sampai jumpa juga.”

Sunny tersenyum sebelum meninggalkan Sica. Sica melambaikan tangannya dan menghembuskan nafas lega setelah Sunny benar-benar sudah pergi. Untung saja, Yul menghabiskan waktu lebih lama untuk pergi ke toilet atau jika tidak akan menyebabkan kekacauan disini.

***

Yul menghembuskan nafas lega setelah menyelesaikan urusannya di toilet. Dia sedang mencuci tangannya ketika dilihatnya melalui cermin satu sosok yang familiar sedang memasuki toilet. Dia berbalik dan menemukan bahwa sosok itu memanglah sahabatnya.

“Soo!”

“Yul?”

Mereka tersenyum satu sama lain sebelum berpelukan erat.

“Aku tidak percaya aku akan bertemu denganmu di dalam toilet.”

“Apa kamu lupa berapa kali kita bertemu di toilet saat SMA?”

Yul tertawa. “Maksudku setelah itu, pabo.”

“Yah! Selalu mengejekku dimana saja. Bahkan di toilet umum.”

“Kau yang memintanya.” Yul tertawa puas.

“Aku tidak percaya aku mau berteman denganmu, Yul.”

Yul membuat suara tsk tsk. “Sudah tidak ada jalan keluar, Soo.”

“Yeah yeah, aku tahu.” Sooyoung berkata sebelum tertawa bersama dengan Yul.

“Jadi apa yang kamu lakukan disini, Soo?” Yul bertanya pada Soo.

“Berkencan tentu saja, apa lagi yang aku lakukan disini?”

Setelah mendengar kata ‘berkencan’ Yul menyadari sesuatu. Dia pun sedang berkencan. Dengan Sica. Dan tidak seorangpun boleh mengetahuinya, bahkan Sooyoung sekalipun. Hal itu membuatnya mulai merasa gugup. “Ah, yeah.”

“Apa yang kamu sendiri lakukan disini?” Sooyoung bertanya balik.

“Huh?”

“Kamu mendengarku, Yul.”

Yul memijat lehernya. “Playing. Let go off the steam.”

“Dengan siapa? Tidak mungkin kamu sendirian saja,” pria tinggi itu memberikan tatapan curiga pada Yul. “Jangan bilang kalau kau-“

“Aku bersama dengan rekan kerjaku. Mereka sedikit stress juga jadi kami memutuskan untuk berkunjung kemari,” Yul memotong. “Mereka pasti sedang menungguku sekarang. Aku harus pergi. Sampa jumpa lagi, Soo.”

“Sampai jumpa.”

Yul cepat-cepat melarikan diri dari situasi berbahaya itu. Dia tidak pernah pandai berbohong, terutama pada sahabatnya itu jadi lebih baik untuk melarikan diri secepat mungkin sebelum Sooyoung menjadi lebih curiga lagi.

Yul mengeluarkan handphonenya. Dia harus memberitahukan Sica mengenai hal ini. Mereka harus segera pergi dari taman hiburan ini sebelum tertangkap basah. Tetapi kemudian dia melihat sebuah pesan masuk di layar handphonenya.

Yul. Aku harus pergi dahulu. Aku menunggumu di mobil. Sunny dan Sooyoung ada disini. Kita harus segera pergi.

“Dia bertemu Sunny?” Yul bertanya pada dirinya sendiri. “Ini tidak akan baik.” Yul berkata sebelum berlari meninggalkan tempat rekreasi itu.

***

“Hey, maaf membuatmu menunggu,” Sooyoung berkata setelah menghampiri kekasihnya yang sedang duduk. Sunny sedang duduk di seberang danau dengan sebuah kotak popcorn di tangannya.

“Tidak apa-apa. Lagipula aku menikmati popcorn ini,” Sunny tersenyum pada kekasihnya.

“Kamu sudah berubah menjadi seorang shikshin.”

“Can’t help. Kekasihku juga seorang shikshin,” Sunny tertawa.

“Oke, kamu benar tentang hal itu.” Sooyoung terkekeh dan duduk di samping wanita bertubuh mungil itu. “Aku bertemu Yul.”

“Kwon Yul? Kapan? Dimana?”

“Ya, Kwon Yul. Baru saja. Di kamar kecil.”

“Oh jadi itu alasannya kamu begitu lama,” Sunny mengangguk. “Ngomong-ngomong, aku juga baru saja bertemu seseorang.”

“Siapa?”

“Temanmu.”

“Temanku?”

“Sica.”

“Apa?! Sica? Disini?” Sooyoung berteriak terkejut.

“Ya, tenang, Soo. Kenapa? Apa ada yang salah dengannya?” Sunny tampak bingung melihat reaksi berlebihan dari orang disampingnya itu.

“Aku…,” Sooyoung terdiam. “Aku hanya tidak menyangkanya ada disini.”

“Oh. Ya, aku juga sedikit terkejut melihatnya.”

“Apa dia pergi bersama Taeng?” Sooyoung menatap kekasihnya.

Sunny menggelengkan kepalanya. “Sepertinya tidak. Dia bilang bahwa itu teman lamanya.”

“Teman lama.” Sooyoung mengulangi, merasakan ada sesuatu yang salah.

“Kenapa, Soo?”

“Tidak, tidak ada apa-apa. Aku hanya penasaran,” dia tertawa kecil. Sooyoung tahu bahwa ada sesuatu yang tidak benar saat Yul bersikap canggung di hadapannya dan pergi dengan terburu-buru. Yul tidak pernah pandai berbohong padanya dan dia juga tahu bahwa Yul sedang merahasiakan sesuatu darinya. Dan informasi mengenai kehadiran Sica di tempat yang sama hanya menguatkan prediksinya.

Sudah beberapa waktu sejak terakhir kalinya Sooyoung bertemu dengan Yul. Apa yang dilihat Sooyoung beberapa saat yang lalu adalah orang yang berbeda dari orang yang ditemuinya terakhir kali. Yul bukan mayat hidup lagi. Dia tampak lebih hidup dan bahagia. Pasti ada alasan di balik itu semua.

Sooyoung lebih dari yakin bahwa tidak ada alasan lain selain Jessica Jung.

***

Dia melihat-lihat dokumen di tangannya. Dia membaca sepintas dan menutupnya setelah hanya dua menit memeriksa berkas yang diberikan oleh bawahannya itu. Dia melihat ke arah pria berjas di hadapannya dengan ekpresi yang tidak terbaca.

“Kapan ini terjadi?”

“Yang pertama terjadi Rabu kemarin. Yang kedua terjadi Sabtu kemarin. Dan yang terakhir terjadi hari ini, Sir.”

Foto pertama menunjukkan seorang pria dan seorang wanita di depan sebuah mobil. Mereka tampak sangat dekat, tangan si pria menjebak si wanita ke arah mobil. Yang kedua adalah gambar seorang pria dengan seragam hotel yang sedang membantu sorang pria lain berjalan melalui lobi hotel. Ada seorang wanita mengikuti mereka dari belakang. Dan yang terakhir menunjukkan sepasang kekasih sedang berjalan-jalan di taman hiburan dengan senyuman lebar terulas di kedua wajah mereka.

Dia memijat-mijat keningnya sambil mendengarkan penjelasan. “Baiklah.”

Pria berjas itu tampak ragu. “Haruskah saya melakukan sesuatu, Sir?”

“Tidak.” Dia menjawab singkat.

“Baiklah, Sir.” Pria berjas itu membungkuk sebelum meninggalkan ruangan.

Dia berbaring kembali di kasur dan menatap langit-langit putih di atasnya. Sekumpulan pikiran sudah memenuhi pikirannya, didominasi oleh hal-hal buruk yang terjadi di masa lalu. Dia menutup matanya pelan dan mencoba untuk tertidur tanpa menyadari setetes air mata hangat telah jatuh dari pelupuk matanya.

To be continued…

masih adem ayem aja ya di chapter ini hahaha tapi emang chapter ini transisi sebelum konflik yang akan segera menanti di depan. oke, ada yg mau teaser untuk chapter selanjutnya? ada? ada? ya kalo ga ada juga bakal tetep dikasih kok wkwk

Teaser chapter 21

“Ada apa, Sica?” Yul bertanya lagi.

“Aku pikir aku mendengar sesuatu.”

“Apa yang kamu dengar?” Yul memiringkan kepalanya dan menatap bingung pada si wanita berambut coklat.

“Aku mendengar seseorang mengatakan ‘Taeng’,” kata Sica dengan suram.

“Taeng? Apa dia disini? Dimana?” Giliran Yul yang menjadi panik. Dia menolehkan kepalanya ke kanan lalu ke kiri dan kembali lagi ke kanan untuk mencari pria yang disebutkan oleh Sica.

udah deh segitu aja teasernya, jangan banyak2 wkwkwk

ditunggu ya komennya!! have a nice day all~

Advertisements

Author: 4riesone

SONE. Follow me on Twitter @4riesone for updates and questions

47 thoughts on “Love between Dreams (Chapter 20)

  1. ahh gilak ini las part sama teaser nya bikin kacau banget, udalah taeng cerai aja kasian ngapain juga punya istri selingkuh gitu hehehe
    tapi liat yulsic juga lucu. next thor ☺

  2. Duh saya gah suka dgn hubungan yulsic,
    Masa yul jdi selingkuhan sica dan masa sica berselingkuh,, -_-

    Mending taengsic cerai…
    Dan sica blik ke yul dan nikah..

    Itu bru sah!! :v

    Saya slalu setia mendukung yulsic !!

    Next tuthor :v (y)

  3. taengsic cerai aja, yulsic nikah deh jadi gk selingkuh

  4. di tnggu lnjutan’a ya thor…
    mkin sru ja nich..

  5. Aaaaaaaaa miris banget sih hidup taeng T.T.
    jahat lu thor bikin taetae tersiksa gini ,udh deh cerai aja sana taengsic udh gk kuat gua liat taeng disakitin gitu >.<.

  6. Sica cerai aja deh sama taeng biar dia bisa bahagia saa yul trus taeng jga bisa nyari pengganti sica daripada gini terus kan sama” nggak enak..

  7. annyeong,,,,
    Hadeuhhhhhh dsni mris bnget taeng nya,,,dia kah laki2 yg mngis itu??
    Yulsic ngak slh tp sikon yg ngak tepat,,,taengsic hrus mmprjlas hbngan mrka spya ngak ad lgi yg trskti,,,yulsic bsa bsrtu dan pleaseeeeeee cuy mncul kn fany,,biar taeng ngak smkin trskti,,
    Ok siip next d tunggu
    Ttap smngattt
    Gomaomao,,

  8. ehm gmn ya thor sakit baca ff nie,,,ga tega ma taeng yg d perlakukan tak tok tak tok seperti itu hhe
    aq bnyk skip moment yulsic ga suka liat yulsic yg sprti itu
    nie ff terkasihan buat taeng

  9. Sp th pria it yg ngeliat foto yulsic lg bsama?taeng pa Tn. Jung yg thormat?
    N knp dy nangis???
    Hmm trll bnyk argumen2 dkepala gw
    Cm bs tsenyum hangat baca kedekatan mereka d taman hiburan,yg slg mencintai tp kalah dg status yg dsandang m sica
    Jgn bqn mereka menderita trll lm thor 😦 apalagi skr da yoona
    Semangat author,ff u ni sll dtunggu2 m readersnya

  10. Kasian juga sih taengnya tpi okelah . Lanjut thor hehe

  11. Kesian kali si taeng fany mana fany wkkakaa
    Itu yg nangis siapa tae bkn si
    Sica tega tpi yudhlah
    Teasernya rese ih segtu aja akakaka
    Lanjut

  12. Annyeong ……
    Yaaaah ,ak sangat mnyukai yulsic moment dsni manis bngt ,andaikan sica blm mnikah ,agk sdikit jahat sih biarin taeng bgtu …..
    Gw jadi ngkut deg”an d next chap nya ini ,merka yulsic jadi kek maling aja ….
    Aaaaaargh Yulsic kuuu ><
    Dtunggu next chap nya aja …..
    SEMANGAAAAAAAT

  13. taeng apa mr jung itu thor????
    tiff kapan muncul?????
    yulsic kan endingnya???

  14. smg j appa jung sadar klo sica cm cinta m yul,,,taeng m fany j dh

  15. Udah lah thor bikin taeng sama sica cerai aja kasian juga taeng kalo mesti diselingkuhin kek gitu terus. Biarkan yulsic bersatu dan bahagia dah. Taeng sama fany aja…
    Cepet kebongkar deh hubungan terlarang yulsic. Abis itu minta ke appa jung buat restuin kalian, jangan main dibelakang taeng u,u

  16. Kalo kaya gini mending taengsic cerai. bubar! kalo ngga, semoga yulsic cepet sadar (?). Seenggaknya kasih kesempatan buat Taeng bahagia lah…

  17. arrrggggg galau nih yulsic sweet banget, tapi kasian juga sama taeng….

  18. Yeeey update huaaah yulsic aku dukung yulsic tae sama fanny aja.

  19. taeng apa kabar ya gak ada taengnya sama sekali huaaaa

  20. Yulsic ttp diem” dblkng tae, udhlah tae lepasin sica cr yg lain aja

  21. hmm adegan taeng ny msh sdkit
    yulsic lg berbunga bget
    next chap mg sica tobat dan kmbli k jln yg bnr

  22. Come on sesuatu yg dipaksa akan memberi luka pada semua,ya khan!nah mari kita ikhlaskan saja yulsic bersatu,daripada jadi pasangan selingkuh,Taeng .

  23. gue pengennya yulsic, tapi kalo statusnya begini gu ga suka. authornya bkn galau ni, kalo mau yulsic cepet bkin cere taengsic. mau yulsic mau yulsic tapi tak begini

  24. udah aja taengsic cere ;;
    yulsic udah sweettt bikin diabetes(?)
    kan nyakitin taeng kalo trus begini, taeng ame gw aja ;; wkwk

  25. full yulsic. Kencan di taman hiburan ilangin galau, tpi ttp aja ada yg tau. Mending cerai drpd tambah runyam.

  26. kasian taeng skrg…
    ayo yoonyul moment dunk..

  27. Duuhhhh Taeng sabar yaa,, itu prcakapan terakhir apakah prcakapan Mr.Jung??
    Andai ajja ketauan itu sma Sunny

  28. sukanya pake bnget kl yulsic mesra2an gitu, cengar cengir sndiri bacanya hehehe
    yulsic emng spertinya gak bisa di pisahin lg
    lbh baik taengsic pisah aja deh, kasian jg sm taeng kl trus2an di cuekin sica, dn gak bs paksa sica jg bwt cinta sm taeng krn cintanya cm bwt yul
    nah lho soo udh curiga tuh

  29. Chapter2 yg menyebalkan utk slh 1 time traveler sprt q ckck kbngetan deh

  30. Uh cape gue baca ff ini membuat hati saya gegana

  31. Huhuhuhu siapa tuh yang nangis taeng apa pak jung..

  32. hahaha. lucu nya klo pasangan selingkuh 😀 takut ketangkep basah :p

  33. Jangan..jangan..taesic ngk bleh cerai taesic kudu harus bersatu..
    thor maaf sebelumny ya..mau ngasih saran ne..
    ginie ne thor gimana klo beberapa hari ini ngk bertemu dgn taeng membuat sica kehilangan, pas disanalah ia baru nyadar jika ia mencintai taeng bukan yul lagi gimana thor daebak.. itu sich saran dari saya thor bisa diterima bisa ngk, tpi berharap diterima dech hehehe…

  34. yul n sica bermain api,but it’s ok.sweet moment.

  35. yulsic udah makin dekat aja nih, malahan sampai kencan segala, duh.. sica, taeng kasihan tuh butuh kasih sayang. dia kesepian ditinggalin kamu terus. #sica: emang gua peduli, gua cuma pengen ama yul bukan taeng. # taeng: nasib.. nasib.. wkwkwk

  36. cieee yang kencan terus..udah gak peduli sama suamix..tapi yulsic ketahuan kencan sama soosun..
    semoga gak ada mslah..

  37. ngebaca moment yulsic bukan nya seneng malh kesel banget. krn ini nyesek banget. aku paling benci dgn pasangan selingkuhan. apalagi yg di duain uri oppaaaa….. 😭😭😭
    aku benar2 pingin nangis.
    author jahara…gini banget bikin cerita nya.

  38. ngebaca moment yulsic bukan nya seneng malh kesel banget. krn ini nyesek banget. aku paling benci dgn pasangan selingkuhan. apalagi yg di duain uri oppaaaa….. 😭😭😭
    aku benar2 pingin nangis.
    author jahara…gini banget bikin cerita nya….

Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s