rara0894

All about TaeTiSeo and GG

Love between Dreams (Chapter 19B)

44 Comments

Title        : Love between Dreams

Author   : 4riesone

Genre     : Romance, Gender bender

Cast        : 

 Jessica Jung

 Kwon Yuri

 Kim Taeyeon

 Girls’ Generation members and other

LxD cover 2

The Truth

Sica POV

“Kau menolaknya?” Suaraku sedikit meninggi. Aku tidak bisa percaya akan apa yang baru saja kudengar darinya. Bagaimana bisa hal seperti ini terjadi? Ayahku ternyata tidak menolak Yul pada awalnya. Tapi..

Yul menolaknya.

Untuk menjadi seorang musisi.

Dia mengangguk. “Atau kita tidak akan seperti ini sekarang,” dia menjawab dengan penuh penyesalan. “Saat itu aku masih mudah dan sangat terobsesi akan mimpiku. Aku juga tidak bisa berpikir dengan baik karena dia begitu meremehkan mimpiku itu. Musik adalah passionku, Sica.”

“Aku tahu. Kau tidak perlu menjelaskannya, Yul. Hanya saja ini begitu…” Aku tidak tahu harus berkata apa dan hanya menghela nafas pada akhirnya.

“Maafkan aku. Aku berharap aku bisa kembali ke masa lalu. Aku akan menerima tawarannya tanpa ragu-ragu,” katanya.

“Kau tidak perlu melakukannya, Yul.”

Itu tidak akan merubah apapun. Past is in the past. Dan aku tahu. Aku sudah pernah berada di posisinya, dipaksa untuk memilih antara cinta dan mimpi.

“Huh, kenapa? Aku pikir kamu juga ingin kita tetap bersama.” Aku melihat dia menaikkan alisnya.

“Memang benar. Tapi musik adalah passionmu, Yul. Kau adalah seorang prodigy. Tidak seharusnya kamu menyia-nyiakan talenta luar biasamu itu hanya untuk setumpukan kertas. Di samping itu semua sudah terjadi di masa lalu.”

“Aku tahu itu. Tapi ini benar-benar membuatku kesal, Sica.”

Aku bergerak mendekat padanya dan mengenggam tangannya.

I moved closer to him and held his hands. “Kau tidak melakukan kesalahan apapun, Yul. Akulah yang pertama kali memulainya. Alasan pertama mengapa kita seperti ini sekarang adalah karena mimpiku.”

“Mimpimu?”

“Umm…hmm…Aku selalu ingin menjadi seorang perancang busana, Yul. Sejak aku masih remaja.”

“Oke,” dia menarik tangannya dan memposisikan dirinya agar dirinya bisa melihatkudengan lebih jelas. “Tapi aku tidak mengerti Sica. Apa hubungannya antara mimpimu dan hubungan kita? Aku baru saja memberitahumu bagaimana pada awalnya aku mengacaukan ini semua dan aku pun sudah tahu mengenai perjanjianmu dengan ayahmu itu. Apa aku salah?”

“Tidak…tidak…tidak. Kamu benar. Semua yang kamu katakan itu memang benar. Hanya saja itu bukanlah awalnya.”

“Lalu kapankah awalnya itu?”

“Itu semua terjadi jauh sebelum aku bertemu dirimu.”

“Apa yang terjadi?” Ia menatapku.

***

“Aku sudah memutuskan, Dad! Aku tidak akan melakukan bisnis!” Seumur hidupku, aku selalu menghormati ayahku dan itu adalah pertama kalinya aku berteriak pada ayahku dengan nada tinggi.

“Apa itu keputusanmu? Menolak semua saranku dan memilih ide menggelikanmu itu?” Ayahku menatapku tidak percaya.

“Itu bukan ide menggelikan.”

“Tampak menggelikan bagiku. Aku sudah menyiapkan segala sesuatunya untukmu, Sica. Segalanya! Dan sekarang kamu ingin membuang semua itu? Apa itu tidak menggelikan?”

“Apa ini mengenai perusahaanmu?”

Ayahku tidak segera menjawab. Aku tidak menyangkan aku akan bertengkar dengan ayahku seperti ini. Aku membayangkan bahwa dirinya akan menyetujui keputusanku dan mendukungku seperti apa yang selalu dia lakukan sebelumnya. Tapi kali ini tampaknya tidak seperti apa yang aku pikirkan akan terjadi.

Aku sedang memberitahu ayahku bahwa aku tidak berkeinginan masuk jurusan bisnis yang ayahku sarankan tetapi lebih memilih untuk mendaftarkan diri di jurusan fashion design. Tetapi ayahku itu tidak mendengarkanku sama sekali malahan dirinya mulai berbicara mengenai bisnis dan bisnis dan bisnis serta perusahaannya. Aku akhirnya berteriak karena merasa sangat terabaikan dan tidak dihargai akan pendapatku.

“Katakan saja, Dad. Apa ini semua karena perusahaanmu?”

“Aku hanya ingin yang terbaik untukmu, Sica.” Suara ayahku melembut. “Semuanya akan baik-baik saja jika kamu mengikuti saranku.”

“No Dad. I have my own dream.”

“Ada hal-hal yan lebih baik untukmu, Sica.”

“Aku tahu, Dad. Tapi aku ingin mengejar mimpiku dan aku bersedia menghadapi setiap risiko dan tantangan untuk meraihnya. Segalanya.”

Dia menghela nafas dan kemudian mendudukkan dirinya di kursi.

“Terkadang kamu harus melepaskan mimpimu untuk tujuan yang lebih besar dan lebih baik.”

“Apa maksudmu?”

“Apa kamu mengerti betapa besarnya perusahaan kita? Berapa banyak orang yang bergantung pada kita?”

“Jangan lakukan ini, Dad.” Aku mengerti kemana arah percakapan ini akan menuju.

“Aku membangun dan membesarkan perusahaan ini sejak aku masih sangat muda, Sica. Bersama dengan ibumu. Aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Dan kepada siapakah aku bisa mempercayakannya? Aku ingin mempercayaimu, Sica. Kamu adalah putri sulungku. Satu-satunya yang bisa aku percaya.”

“Pasti ada orang lain,” Aku mulai berkeringat, memikirkan setiap kemungkinan yang bisa aku lakukan untuk meyakinkan ayahku.

“Siapa?” Dia menatapku dengan tatapannya yang dalam. “Aku hanya mempunyai dua orang putri.”

Pikiranku seketika itu juga memikirkan adik semata wayangku. Tidak. Jangan Krystal. Aku tidak akan membiarkan adikku memikul beban yang bukan miliknya dan menyerah meraih mimpinya. Dia sudah bercita-cita menjadi seorang penyanyi untuk waktu yang sangat lama. Akan sangat tidak adil jika dia harus kehilangan mimpinya itu hanya karena masalahku.

“Kamu tahu Krystal selalu ingin menjadi seorang penyanyi. Kamu tidak akan berpikir untuk mendorong adikmu dalam masalah ini, benar?”

“Tidak. Tentu saja tidak. Jangan bawa Krystal dalam masalah ini, Dad!”

“Lalu?”

“Bagaimana dengan saudara-saudaramu?”

“Tidak,” dia menjawab pendek dan tegas. “Jumlah mereka terlalu banyak. Hanya akan timbul kekacauan jika aku memilih salah satu diantara mereka.”

Aku menghela nafas. Aku tidak tahu lagi.

“Jadi?”

“Aku tidak tahu, Dad! Aku tidak tahu!” Aku berteriak frustasi. “Aku hanya ingin mengejar mimpiku. Mengapa kau harus begitu kejam padaku? Kenapa, Dad?” Aku pun mulai menangis.

Ayahku berdiri dari tempat duduknya, tangan berada di balik tubuhnya dan berjalan menghampiri jendela yang memperlihatkan kebun belakang rumah.

“Berhenti menangis. Aku memiliki dua pilihan untukmu.” Katanya setelah beberapa saat.

Aku menatap ayahku. “Apa itu?”

“Lakukan bisnis dan lupakan tentang mimpimu. Atau.” Dia ragu-ragu sebentar.

“Atau apa?”

“Kamu bisa mengejar mimpimu itu hanya jika kamu bisa menemukan seorang pria yang akan mampu menjalankan perusahaan pada nantinya. Jika kamu tidak bisa menemukan orang yang tepat maka kamu harus setuju untuk menikahi pria yang aku pilih. Ini satu-satunya cara untuk menyerahkan perusahaan dengan aman,” jelasnya.

Mataku segera melebar mendengar perkataan ayahku. Aku tidak bisa percaya bahwa ia memberikan aku pilihan yang begitu sulit. Apa dia harus bertindak sejauh ini, pikirku.

“Aku sudah katakan, Dad. Aku tidak akan menarik kata-kataku.”

“Baiklah kalau begitu. Lakukan apa yang kamu mau. Kamu bisa pergi sekarang.”

Apa yang aku pikirkan saat itu hanyalah bahwa aku harus meraih mimpiku, tidak peduli apapun. Karena adalah sia-sia jika kita memiliki kemampuan tetapi tanpa disertai kerelaan hati untuk berkorban dan bekerja keras meraih kesuksesan yang kita impikan.

***

“Apa kamu masih ingat apa yang aku ceritakan pada anniversary pertama kita?”

“Hmm? Ya, kenapa?”

“Aku tidak peduli mengenai cinta sebelum aku bertemu denganmu. Aku tidak percaya itu. Namun aku begitu terobsesi untuk mempelajari fashion. Keinginanku untuk menjadi seorang perancang busana begitu besar hingga aku akan melakukan apapun untuk meraihnya. Aku tahu dia menginginkan aku untuk mengikuti langkahnya di dunia bisnis, tapi sama seperti dirimu. Aku tidak pernah tertarik untuk mengambil alih perusahaan multinasional yang dia miliki. Oleh karena itu aku harus menolak keinginannya. Aku memberitahunya mengenai pilihanku.”

“Dan dia tidak setuju?”

Aku menghembuskan nafas dengan letih. “Ya.”

“Lalu apa yang kamu lakukan?” tanyanya.

“Seperti yang aku katakan, aku akan melakukan apapun pada saat itu. Aku berusaha untuk membujuknya tapi pada intinya semua usahaku tidak berhasil. Dia terus saja membicarakan tentang tanggung jawabku terhadap perusahaan yang dia besarkan bersama dengan Mom. Hingga akhirnya dia membiarkanku untuk memilih. Untuk melupakan mimpiku atau meraih mimpiku tapi dengan satu kondisi.” Aku berhenti sejenak dan menggigiti bibirku.

Aku tidak yakin apakah aku harus memberitahunya mengenai hal ini. Ini hanya akan membuatnya lebih menyalahkan dirinya lagi jika dia mengetahui kalau sejak awal ayahku akan setuju dengan siapapun selama orang itu mampu mengurus perusahaannya.

“Apa kondisi itu, Sica?”

“Aku harus menikahi pilihannya.” Aku memutuskan untuk berbohong. Tapi itu pun tidak sepenuhnya kebohongan, sebagian memang benar. Apa yang terjadi sekarang pun memanglah seperti itu.

“Oh benar juga. Dan kau memilih pilihan kedua?”

Aku mengangguk.

“Kita impas kalau begitu,” dia tertawa garing.

Tidak juga, Yul.

Aku hampir menghiraukan perjanjian itu sepenuhnya ketika ayahku melarangku untuk bertemu dengan Yul lagi.

Tapi kemudian, aku sendirilah yang memilih neraka itu.

***

Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini di seumur hidupku, bahkan tidak dengan mantan pacarku. Tentu saja aku mencintai keluargaku dan sahabat-sahabatku, tapi cinta itu bukanlah sesuatu yang dapat membuatku merasakan kupu-kupu berterbangan di dalam perutku dan membuat jantungku berdegup lebih kencang dari yang bisa kubayangkan. Hanya satu orang yang mampu membuatku seperti itu. Pacarku. Yeah, aku suka menyebutnya seperti itu. Sebagai suatu peringatan bahwa aku adalah miliknya dan dia adalah milikku.

Hanya satu pria saja yang mampu membuatku seperti itu.

Kwon Yul.

Kami memulai hubungan kami dengan mulus dan terus membuat memori-memori kecil setiap harinya bersama-sama. Kami sebenarnya berbeda. Baik latar belakang maupun kepribadian. Tapi itulah yang membuat kami saling melengkapi satu sama lain. Kami membuat diri kami menjadi lebih baik dengan kehadiran satu sama lain. Tentu saja terkadang kami pun bertengkar, atau berselisih paham lebih tepatnya, tapi itu tidak pernah menjadi perkara besar. Kami hanya akan meninggikan suara kami sedikit dan segera mengatakan maaf satu sama lain dalam waktu 5 detik. Tidak ada yang begitu berarti.

Tetapi setiap cerita cinta yang tidak terlupakan pasti memiliki sedikit bumbu, termasuk cerita kami.

Aku benar-benar tidak tahu menahu ketika tiba-tiba saja aku memiliki penjaga yang selalu mengikuti setiap langkahku. Para penjaga ini tidak menginjinkanku untuk bertemu dengan Yul dan aku akan dipaksa untuk pulang ke rumah dan dikunci di dalam sana jika aku membangkang.

Ayahku akhirnya memberitahuku alasannya. Dia menjelaskan bahwa dia menentang hubunganku dan aku tidak boleh menemui pria miskin itu lagi, menurutnya. Aku juju saja tidak membayangkan ayahku akan melakukan sesuatu yang seekstrim ini. Lagipula kami belum memiliki kesempatan untuk membicarakan tentang hubunganku. Ayahku tidak akan pernah melakukan sesuatu sebelum memberitahukanku sebelumnya. Tetapi aku juga sadar sepenuhnya kalau dia tidak akan dengan mudah menerima Yul, terutama karena latar belakangnya. Namun aku mencintai Yul. Aku tidak peduli dengan kekayaannya ataupun status sosialnya.

Hal ini menyebabkan banyak sekali pertengkaran antara aku dan ayahku tetapi dia tidak pernah menyerah seperti yang dia lakukan di masa lalu. Ayahku begitu yakin bahwa aku tidak bisa bersama dengan Yul. Bahwa Yul tidak pantas untuk menjadi pacarku. Ayahku juga kembali mengingatkanku akan perjanjian yang dia dan aku buat lebih dari 4 tahun yang lalu. Aku hampir melupakan perjanjian itu selama ini. Terutama setelah aku mengenal Yul.

Walaupun aku mengerti bahwa aku memiliki perjanjian konyol itu dengan ayahku, aku tidak peduli, aku tidak ingin memikirkannya. Aku tidak akan melepaskan Yul. Aku akan memperjuangkan cintaku.

Setelah begitu banyak rasa stress dan frustasi yang kualami, aku memutuskan untuk meninggalkan segalanya. Uang tidak penting bagiku saat itu dan aku pun masih memiliki pekerjaan untuk menghidupiku. Aku berhasil melarikan diri dari sangkar emas ayahku dengan bantuan Hyoyeon. Aku tinggal bersamanya setelah itu. Aku menjalani kehidupan yang sederhana dengan penghasilanku sendiri, tapi aku tidak mengeluh. Aku bahagia karena aku bisa bersama dengan Yul.

Sulit kupercaya bahwa ayahku menyerah pada usaha pertamanya untuk membawaku kembali ke rumah. Tentu saja setelah aksi gilaku meninggalkan rumah, ayahku tidak akan tinggal diam. Dia mencoba untuk membawaku kembali. Kali ini dia berbicara denganku terlebih dahulu.

“Kau pikir apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila?”

“Ya! Aku sudah gila karenamu!” Aku berteriak dan menatapnya penuh dengan rasa marah.

“Jangan berteriak padaku. Apa kau tidak tahu caranya bersikap? Itulah kenapa aku katakan padamu untuk tidak berteman dengan orang miskin seperti dia.”

“Kau yang membuatku seperti ini, bukan dia! Kau selalu saja tidak setuju dengan semua yang aku cintai.”

“Hal-hal yang kamu cintai itu begitu konyol. Aku tidak bisa membiarkan putriku melakukan hal bodoh.”

Aku mendengus. “Seperti kau peduli saja denganku. Satu-satunya hal yang kau pedulikan hanyalah perusahaanmu.”

“Aku peduli tentangmu.”

“Haha,” aku tertawa dibuat-buat. “Jadi mengapa kau melakukan ini padaku? Apa kau pikir membuatku hidup dalam sangkar emasmu itu adalah bukti kepeduliaanmu padaku? Apa kau bercanda?”

“Dia tidak ada baiknya untukmu. Dia hanyalah seorang pria yang arogan, miskin dan penuh khayalan. Apa yang bisa kau harapkan darinya? Cinta itu buta. Tapi kau tidak bisa hanya hidup dengan cinta saja.”

“Dia adalah pacarku. Mengpaa kau harus begitu ikut campur? Akulah yang menjalani hubungan dengannya, bukan kau.”

“Bagaimana bisa kau? Bagaimana bisa kau bicara seperti itu padaku?”

“Kau pikir kenapa?”

“Ini semua karena dia.”

“Tepat sekali. Memang itulah alasannya kenapa aku seperti ini! Karena kau selalu merendahkan dirinya. Kau menyalahkan segalanya padanya ketika pada nyatanya semua itu karena kau, Dad, atau harus aku katakan, Jung Yunho-ssi?”

“Kau!”

“Kenapa? Aku tidak mengenalmu lagi. Kau bukan Dad yang kukenal. Kau hanyalah seorang pria ambisius dan tak punya hati bagiku sekarang.

Dia tidak membalas kata-kataku. Dia terlalu terkejut dengan perkataanku yang tiba-tiba itu.

“Aku akan pergi. Kau tidak perlu khawatir. Aku tidak akan membawa satu barangpun yang merupakan milikmu. Aku akan menghidupi diriku sendiri. Aku harap kau tidak akan mencoba untuk membawaku pulang kembali karena pada akhirnya aku akan tetap pergi.” Sambil berkata demikian aku benar-benar pergi tanpa melihat ke belakang sama sekali.

+++

Aku kembali hidup dengan tenang setelah pertemuan yang begitu membebankan dengan ayahku itu. Sudah hampir satu setengah tahun sejak terakhir kali aku berbicara dengannya. Aku tidak begitu terganggu dengan fakta itu. Oke, mungkin beberapa kali hal itu akan muncul dalam pikiranku, tapi aku tidak mempedulikannya. Apa yang lebih membuatku cemas adalah kondisi ibu Yul.

Dia memiliki diabetes tipe I dan membutuhkan injeksi insulin yang konstan untuk menjaga level gula darahnya dalam batas normal. Perawatannya membutuhkan biaya yang terlalu banyak untuk dibayar oleh Yul dan aku lebih dari bersedia untuk membantunya agar bisa mendapatkan perawatan yang lebih baik. Yul tidak begitu senang dengan keputusanku tetapi dia tidak bisa bilang tidak pula. Aku sangat bersikeras mengenainya.

Tetapi ternyata kondisi Ny.Kwon semakin memburuk. Dia mulai kehilangan nafsu makannya yang disertai muntah-muntah. Umum baginya untuk mengalami sakit kepala atau insomnia di malam hari. Dan setelah dilakukan pemeriksaan medis padanya, dokter menjelaskan bahwa ibu Yul juga mengalami gagal ginjal. Dan yang lebih parah lagi adalah dokter mengatakan bahwa itu adalah ERSD atau End Stage Renal Disease, yang berarti ginjalnya sudah berhenti bekerja dengan baik bagi pasien untuk hidup tanpa dialisis/cuci darah atau transplantasi. Gagal ginjal jenis ini bersifat permanen dan tidak bisa disembuhkan tanpa transplantasi.

Yul dan aku sangat sedih mengetahui kondisinya itu dan yang dapat kami lakukan saat itu hanyalah menyediakan dialisis untuknya karena donor ginjal baginya belum juga ditemukan. Yul sudah menawarkan dirinya sebagai donor tetapi sayangnya dirinya tidak cocok. Begitu juga diriku.

Jujur saja, cuci darah membutuhkan biaya yang tidak sedikit sedangkan Ny.Kwon masih tetap membutuhkan injeksi insulinnya hari demi hari. Karena itu semua aku harus mengerjakan lebih banyak pekerjan untuk mendapatkan penghasilan tambahan disamping mengosongkan tabunganku hingga keping terakhir. Tapi aku sama sekali tidak ragu untuk membantunya. Aku tahu Yul sangat mencintai ibunya lebih dari apapun di dunia ini, termasuk aku. Dan aku juga mencintai Ny. Kwon setelah waktu-waktu yang kami lalui bersama.

Kami mencoba dan mencoba dan mencoba untuk mencari donor baginya dan begitupun uang untuk pengobatannya. Operasi transplantasi sendiri sangatlah mahal. Kami berpacu dengan waktu. Kondisinya tidak menjadi lebih baik tetapi semakin memburuk.

Aku tidak mengerti kenapa ibu Yul harus mengalami begitu banyak penderitaan karena ternyata beberapa bulan kemudian, dokter mendiagnosis sesuatu padanya kembali yaitu pankreatitis kronis. Ibu Yul mengalami peradangan pada pankreasnya yang menyebabkannya kembali dirawat di rumah sakit saat itu. Tetapi biaya perawatannya kali ini terlalu besar untuk kami berdua saat itu, kami tidak mampu mengusahakan pengobatan terbaik untuknya yang membuatnya tetap selalu merasa kesakitan.

Aku baru saja membeli beberapa makanan untuk aku dan Yul makan. Yul belum makan apapun sejak pagi hari dan itu membuatku benar-benar khawatir. Dia terus saja menolak untuk makan dan hanya ingin berada di sisi ibunya. Sekarang setelah Ny.Kwon terlelap, aku berharap dia akan makan, walaupun hanya sedikit.

Tanganku sudah berada di gagang pintu ketika aku mendengar suara isakan dari dalam kamar inap. Aku tahu itu adalah Yul.

“Aku mohon, jangan tinggalkan aku, umma. Umma sudah berjanji tidak akan meninggalkanku seperti appa. Hanya aku dan dirimu di dunia ini, umma. Umma harus hidup. Umma tidak bisa meninggalkanku.” Yul berkata di sela-sela isakannya. “Umma harus melihatku menjadi seorang musisi yang sukses, umma tidak bisa terus seperti ini.”

Yul pun tenggelam dalam tangisannya kembali, sendirian. Kedua tangannya mengenggam erat tangan kanan wanita paruh baya itu dengan erat. Dia membiarkan genggamannya itu berada di dadanya yang bergetar akibat isakannya.

“Aku mohon, umma. Aku mencintaimu.” Yul mencium tangan ibunya itu yang sudah basah oleh air matanya.

Sudah cukup bagiku untuk mendengarnya. Pipiku pun sudah basah oleh air mata. Itu adalah pertama kalinya aku melihat Yul menangis begitu putus asa. Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan orang tua. Dan baginya, jika kali ini ibunya tidak bisa bertahan maka ini adalah kali keduanya. Aku tidak sanggup menanggungnya. Yul sudah kehilangan keluarganya satu kali. Dia tidak seharusnya mengalaminya kembali sesegera ini. Aku tidak akan menginginkannya mengalaminya kembali kali ini.

Aku menghapus segala sesuatu dari pikiranku. Aku tidak berpikir apapun lagi kecuali kesempatan bagi ibu Yul untuk tetap hidup. Pasti ada cara untuk menyelamatkannya, aku percaya itu. Hanya saja kami tidak bisa mengupayakan prakteknya. Kami tidak memiliki uang untuk melakukannya.

Dan jika aku berbicara mengenai uang, tidak ada orang lain selain dia.

+++

Aku membuka pintu dan memasuki ruangan dengan perlahan. Aku melihatnya. Dia sedang duduk di balik mejanya seperti biasanya, membaca sebuah buku dengan kacamata bacanya. Dia menurunkan kacamatanya itu dan meihat sekilas padaku. Ekspresi wajahnya tidak dapat ditebak.

“Apa yang kamu lakukan disini? Aku ingat kamu mengatakan kalau kamu tidak akan kembali,” katanya sambil melepas kacamatanya dan menutup buku yang tadi dia baca.

“Aku membutuhkan bantuanmu.”

Pria tua itu langsung tertawa begitu mendengara kata-kataku. “Apa kau bercanda? Setelah sekian lama?”

Aku mengangguk. Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi, tapi aku harus. Aku harus melakukan ini.

“Kenapa? Apa dia akhirnya meninggalkanmu?” dia berkata dengan nada menghina.

“Aku benar-benar membutuhkan bantuanmu, aku mohon,” aku berkata dengan penuh putus asa. “Ibunya sedang sekarat. Tolong selamatkan dia.”

“Oh,benarkah? Kamu datang jauh-jauh kemari hanya untuk menyelamatkan ibunya? Kau benar-benar sulit dipercaya,” dia tertawa dengan licik.

“Aku mohon. Aku mohon selamatkan dia.” Aku memohon lagi dengan tingkat keputusasaan yang sama. Aku sudah membuang seluruh harga diriku untuk datang kesini, jadi memohon bukanlah apa-apa yang tidak bisa aku lakukan saat ini.

“Kenapa aku harus melakukannya? Kamu bilang kamu bisa hidup sendiri. Jadi selamatkanlah dia sendiri.”

“Aku mohon. Aku akan melakukan apapun.” Tangisanku hampir tak terbendung lagi.

Dia menatapku sesaat.

“Apa yang akan kamu lakukan?”

“Apapun yang kau inginkan?”

“Bagaimana kalau kau meninggalkannya?”

Mulutku terbuka namun tidak ada satu katapun yang terucap.

Dia menyeringai melihat ekspresiku. “Sepertinya kau tidak akan melakukan apapun. Lupakan saja kalau begitu.” Dia memakai kacamatanya dan kembali pada mode bacanya. Aku tahu itu adalah tanda bahwa sudah saatnya bagiku untuk pergi. Tapi aku tidak bisa berhenti disini.

“Tidak. Jika itu yang harus aku lakukan untuk menyelamatkan ibunya, aku akan melakukannya.” Aku segera menyesali apa yang kukatakan itu tetapi aku tidak bisa menarik kata-kataku kembali pula.

“Kau membuatku takjub sekarang. Tapi apa untungnya bagiku?”

“Aku akan melakukan bisnis juga jika kau mau.”

Dia menertawakan jawabanku. “Apa kau serius.”

“Ya, aku serius.”

“Jadi sekarang kau akan membuang mimpimu begitu saja? Dan juga pacarmu?”

“Kau mendengar perkataanku. Aku akan melakukan apapun.”

“Kegigihanmu benar-benar mengagumkan, harus kuakui itu,” dia tertawa kecil.

Aku memutar mataku. Aku tidak membutuhkan pujiannya. Aku hanya membutuhkan bantuannya.

“Jadi apa kau akan menolongnya?”

Dia tiba-tiba saja menjadi serius kemali. Aku mengamatinya tetapi tidak ada apapun yang terungkap di wajahnya.

“Ya.”

Aku menghembuskan nafas lega. Akhirnya. “Aku mohon usahakan yang terbak untuk menyelamatkannya. Sekarang aku akan pergi. Terima kasih untuk waktu dan bantuannya.” Aku menunduk padanya sebelum meninggalkan tempat.

“Tunggu.” Suara beratnya memanggilku sebelum aku sampai di pintu.

Aku membalikkan badanku dan menaikkan alisku.

“Kau tidak perlu meninggalkan karirmu dan kau tidak perlu meninggalkan dia juga.”

“Huh?”

“Aku tidak tertarik dengan tawaranmu.”

“Apa yang kau inginkan kalau begitu?”

“Aku ingin janjimu 7 tahun yang lalu.”

“7 tahun yang lalu?” Aku mencoba untuk menghitung mundur. “Itu?!” Mataku melebar saat aku berteriak. Itu adalah janji yang aku buat ketika aku memilih untuk memasuku dunia fashion design.

“Ya. Hanya saja sekarang, aku kan menentukan pasanganmu. Aku sudah memberikanmu kesempatan, tapi kau membuangnya begitu saja.”

“Tapi tadi kau bilang aku tidak perlu meninggalkannya.”

“Untuk saat ini. Aku akan memberikanm waktu. Jadi kamu lebih baik mengucapkan selamat tinggal padanya dengan layak. Selain itu kamu harus kembali ke rumah juga.”

“Itu…”

“Apa kau setuju atau tidak?”

“Aku tidak bisa menentangnya juga, bukan?”

“Tidak.”

“Jadi berapa lama waktu yang akan kau berikan padaku?”

“Take your time. I won’t rush thing on you. Aku kira kau pun pasti ingin melihat ibunya kembali sehat, benar begitu?”

“Baiklah.”

“Kamu bisa pergi searang.”

“…” Aku tidak bergerak sedikitpun. Aku masih memiliki sesuatu yang harus kukatakan.

“Apa lagi yang kamu inginkan?”

“Bisakah kau menjaga rahasia ini dari dia dan ibunya? Mereka tidak boleh tahu sama sekali kalau aku yang memintamu untuk membantu mereka.”

“Oke,” dia berhenti sejenak. “Aku bisa mempercayaimu, bukan?”

“Selama kau melakukan yang terbaik untuk menyelamatkannya. Aku tidak akan mengkhianati kata-kataku sendiri.”

Dia pun melakukan seperti yang dikatakannya. Ny.Kwon akhirnya mendapatkan transplantasi ginjal-pankreas yang akan efektif untuk mengatasi diabetes dan kondisi gagal ginjal yang dialaminya. Dan tidak ada apapun yang dikatakan mengenai diriku. Yang membuatku terkejut adalah dia melakukan lebih dari apa yang aku minta. Dia bahkan memindahkan ibu Yul ke kamar VIP sehingga akan lebih nyaman bagi si pasien. Dan dia pun membayar semua hutang yang dimiliki oleh keluarga Kwon. Aku tidak tahu mengapa dia melakukan itu semua karena jelas sekali bahwa dia tidak menyukai mereka.

Aku tidak bisa mengerti pikirannya. Dia itu benar-benar sesuatu.

***

“Maafkan aku.” Aku meminta maaf lagi untuk kesekian kalinya hari ini.

“Aku juga, Sica. Maafkan aku.” Dia memelukku sesaat. “Tapi sekarang, kita tidak perlu mengatakan maaf lagi satu sama lagi. Semuanya itu terjadi di masa lalu. Kita sama-sama melakukan kesalahan. Kamu berada disini bersamaku sekarang lebih penting dari apapun juga.”

Aku mengangguk malu.

Aku bisa melihatnya tersenyum sangat lebar dan tidak lama kemudian mengacak-acak rambutku sambil tertawa girang.

“I love you, Yul.” Aku mengerahkan keberanianku untuk mengatakan tiga kata itu padanya. Dia perlu tahu bahwa hatiku selalu miliknya. Cintaku padanya tidak pernah berubah.

“Huh?” Dia tersenyum menggoda.

“Kau dengar apa yang aku katakan.” I pouted.

“Aww, aww. Don’t pout baby. Itu hanya akan membuatmu terlihat lebih manis,” dia berkata dengan nada yang sangat menggoda dan raut yang sangat bahagia di wajahnya.

I pouted even more.

“Benar-benar manis.”

Aku terhenyak ketika aku merasakan bibir lembutnya menyentuh milikku. Itu hanya sebuah kecupan manis saja.

“Aku tahu. I love you too, Sica.”

To be continued…

Nah, Sica sudah mengungkapkan rahasianya sekarang… apakah sudah membawa pencerahan? ato masih sama saja wkwk

next chapter will be yulsic first ^^

Advertisements

Author: 4riesone

SONE. Follow me on Twitter @4riesone for updates and questions

44 thoughts on “Love between Dreams (Chapter 19B)

  1. Yah..ini gak TaengSic ya ‘-‘ kasian Taeyeon 😦
    Tetep dilanjutkan aja ya…
    Fighting ^^

  2. Akhirnya yulsic!!!

    di bkin happy ending yah thor!!

    Saya tunggu :v

  3. yaaaahhhh ternyata sica bener bener masih cinta sama yul ,kayanya udh gk ada cela utk taeng. Taetae yg malang T.T

  4. yulsic hrs korbanin perasaan demi mimpi mereka. Buat yulsic happy ending thor:) semangat.

  5. kalo ajah yuri ga egois.. setelah tau ini gue justru ga redo kl mereka balikan dan ngorbanin TY pls justru dia korbannya di sini pada egois banget si yulsic karma pls >_< .. kalo engga pany mana pany mana !!

  6. Gw males dah mu lanjut,,,poor tae >_<

  7. Taeyeon gimna kesian taeyeon nya
    Yulsic awalnya egois gtu wkwkw
    Fany kek mana 😁
    Lanjut

  8. Annyeong ……..
    Yeaaaaah,, Yulsic ku ada pncerahan …..><
    Msing " dah buka rahasia ,, bisakah mrrka kembali bersamaaaaa???? Itu harapan ku ….kkkee
    So, please author nim ,yulsic gak boleh sad .kkeee
    I love Yulsic too …..
    Bner" mkin penasran next chap nyah ….
    SEMANGAAAAAAAAAAAT

  9. Annyeong,,,
    Huffffttt drama yang pnjang dan bgtu mnguras emsi,,,yulsic sdh sling bongkar rhsia msa lalu dan tepat skli sica msih mncntai yuri bgtupun sblik nya,,,yulsic smkin mnytu dlm cnta nya,,,tpi gmna dngan bokap unyu msa dia jdi duda ayolah cuy please fany nya blm ngol tu,,kn biar adil smua bhgia ad yulsic ad taeny hahahahahaha
    Ok siipp
    Next d tunggu
    Ttap smngattt
    Gomaomao

  10. Ahhh klo udah gni gmna nasib taeng,, 😣😖😒

  11. Mau sbrapa bnyak cobaan yg dtang ttp aja yulsic jdinya. .

  12. berakhir dengan yulsic? :”))
    seneng benerrrrrr >\<
    next chapter sweet moment ya thor? ditunggu lhooo :")))

  13. baca chap full yulsic yang kepikiran malah terus taeyeon gimana??
    kalo emang yulsic harus bersatu munculin fany thor ya kasian dia.

  14. Yulsic so sweet, taeng sm siapa dong, dbikin momen lah heheh

  15. Aw…aw…aw…yulsic udah saling jujur. Sekarang mah tinggal kehidupannya mereka aja nih mesti dirombak sedikit. Ayodong thor satuin yulsic, bikin yulsic bahagia dan bisa nikah dan punya anak 😀 buat taetae gapapa ya ngerasain sakit dulu entar pink gangsta lu dateng kok buat ngobatin rasa sakitnya eaaa wkwkwkwk

    Lanjut lanjut 😀

  16. Akhirnya ada pencerahan jg thor, yulsic dsni sweet bgt serius brsa ‘true love* aja gitu thor walaupun byk badai menghadang tapi hati gak bisa boong trus akhirnya balik lagi.. smga next chapter byak sweet moment lg. 😀

  17. gk qd taeyoen
    hampa

  18. setiap kali baca wp ini gue selalu berharap taeng pnya kesempatan…. gue lebih senang yulsic di DM ketimbang disini. sedihlaaaahh, pgnnya taengsic thor.. huhuhu T.T masih bisa nggak ya?? astagaaaa taengpa jadi korban yulsic. tàpi jgn jg taeny, kan taeny ama yulsic di DM, bolehlah di fanfict ini Taengsic happy ending T.T #masihBerharap

  19. yeyeye yulsic!
    ah gue seneng bgt tapi msh was was yulsic ga bisa bersatu krn status sica

  20. yeah akhir’a yulsic brstu…
    phy pa brstu slma’a…? mdah2an ya,jng buat yulsic pisah thor…

  21. Hahaha ending yg manis,yulsic jjangg forever!!! Thor jgn pisahin yulsic lagi ya,taeng oppa cari aja yeoja lain jgn ganggu hubungan yulsic

  22. nasib taeyeon gmn thor ? apakabar taeng ? apakabar taengsic ? :’)

  23. Aseek yulsic…taetae sabar yaa.. Mdh2an nntii ppany nongol..

  24. udh jls dh skrg,trus gmn nasib taeng y thor,,msukin fany y thor biar taeng d tmnny hehe

  25. huuaaaaah akhirnya YULSIC YULSIC YULSIC harus happy ending , tae sama fanny aja

  26. Kasian taeyeon

  27. Sica udh ng’buka rahasianya..
    Kasian yulsic brdua byk yg mereka korbanin bwat mimpinya…
    Rada geli gwe pas sica lg nyeritain mr.jung yg pas bilang “dia itu benar2 sesuatu”hahaha#abaikan
    Semoga happy ending bwat yulsicnya…

  28. Masih sama aja thor hehe.. Udah tinggal taeng trus balik ke yul lgi 😀

  29. taengsicnya gak ada ya tae sibuk kayaknya amkanya gak keliatan wkwkwk lanjut di tunggu chingu wkwkwk

  30. YulSic nya sweet sih… tapi gimana sama Taeng?

  31. yulsic udh ngebongkar smua rahasia mereka nih
    tinggal nunggu gmn ntr reaksi ayahnya sica kl tau sica balik lg sm yul
    taeng gmn kbrnya?yg sabar ya ntr psti ada yg gantiin sica;-);-)
    yulsic bikn happy ending ya, pokoknya harusss…..
    moga aja ntr taeng bs nrima kl trnyata sica lbh memilih yul
    ok lnjut

  32. satu prsatu rahasia dah mulai trbongkar, apakah yulsic ntr bs balikan lg ya
    yulsic slalu bikn gw nyengir sndiri hehehe
    ntr bikn happy ending ya, yul tuh cm bwt sica dn sica cm bwt yul, titik gak pake koma
    dn smoga taeng dn appanya sica mo ksh restu ke yulsic
    yeeaahh next chap yulsic, woookkkeeyyyyy…..

  33. boleh ga taeng na d bikin mati aj!!
    ngeselinnnn sica….

  34. OMO gw ketinggalan jauh 😮
    Maaf y thor br baca skr hehehe
    Owhh jd bgtu
    Terlalu bnyk penghalang ddlm hub mereka
    Taeng,yul n sica slg menderita krn keegoisan harta
    Author gw mohon jgn dbqn sad ending y

  35. yes yulsic …
    semoga taeng merelakan sica untuk yul,,,
    mr jung juga semoga merestui yulsic…
    kirim fanny buat taeng thor kasian dia…

  36. Sudahlah sepertinya memang yulsic walaupun nanti dgn taeng tetap aja hati sica utk yul

  37. yessss akhirnya yulsic..
    Maaf ya taeng kali ini aku tak bisa berpihak kepadamu hehehe
    Di buat yang sweet ya moment2nya thor..

  38. Kyaa..akhirny trkuak juga smua rahasiny, jadi lega gue ny..
    ngk jadi taesic ya thor, jika bgini khn taeng ny dkemanain coba..
    taesic aj yg thor, JEBAL…

  39. q g kuat kasihan taeng bnr.tp akhirny terjwb sdh ap yg sbnrny terjdi am hub mrk.ap krn pilihan yg salah?

  40. wah… chapter ini benar” wow. dari sica ceritain masa lalunya sampai yulsic sweet moment benar” wow deh. appa sica baik didalam ternyata. tidak terlihat jika hanya dari luarnya saja.

  41. ga rela, aku ga rela kalau yulsic balikan lagi. setelah baca semua tentang masa lalu mereka, aku jadi semakin ga rela kalau mereka balikan lagi.
    tapi aku ingin taeng mendapat kan wanita lain yg tulus mencintai nta dan berpisah dgn sica.
    argghhhhh….. it’s complicated.

Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s