rara0894

All about TaeTiSeo and GG

Love between Dreams (Chapter 18)

52 Comments

Title        : Love between Dreams

Author   : 4riesone

Genre     : Romance, Gender bender

Cast        : 

 Jessica Jung

 Kwon Yuri

 Kim Taeyeon

 Girls’ Generation members and other

LxD cover 2

Drunk

Yul terbangun oleh aroma menggoda makanan yang menyesap masuk ke dalam kamarnya di pagi hari yang cerah. Dia melompat turun dari kasurnya dan segera pergi menuju dapur. Dia merasa sangat bersemangat dan penuh dengan energi pagi itu. Sesuatu yang sudah tidak dia rasakan selama berbulan-bulan. Dia mencium pipi ibunya yang sedang mempersiapkan sarapan untuk mereka berdua.

“Selamat pagi, umma.”

“Wow. Wow. Apa yang salah denganmu, Yul?” Ibu Yul terkejut mendapatkan kecupan dari putranya itu.

Yul menampakan senyuman lebarnya yang membuat ibunya tertawa kecil. “Ini, makanlah sarapanmu.”

“Iya, umma.” Yul sudah siap untuk ‘menyerang’ sarapannya ketika tangannya yang sudah tergantung di udara itu dipukul oleh Ny. Kwon.

Yul mengeluarkan suara kesakitan.

“Apa yang umma katakan padamu tentang mencuci tangan sebelum makan?!” Ibu Yul memarahi putra semata wayangnya itu.

Yul menunjukkan cengirannya dan berlari sebelum harus menghadapi kemarahan ibunya lagi.

“Aku sudah bersih,” katanya setelah mencuci tangannya.

“Kau terlihat berbeda hari ini, Yul.” Ny. Kwon tersenyum.

“Aku lapar, umma.”

“Dan lebih segar juga, Yul.”

“Bukankah itu baik, umma?”

Ny. Kwon tertawa kecil. “Tentu saja, Yul. Tentu saja. Umma merindukan versi kamu yang seperti ini,” kata si ibu sambil menepuk pundak anaknya.

Yul tersenyum. Diapun begitu. Memang sejujurnya dia juga merindukan dirinya yang seperti ini.

“Umma,” panggil Yul.

“Ya?”

“Bisakah umma pindahkan sesi kontrol umma ke siang hari?”

“Kenapa Yul? Kalau kamu sedang sibuk, umma bisa pergi sendiri saja.”

“Bukan, umma. Jangan pernah berani melakukannya lagi. Aku akan pergi bersamamu,” katanya tegas. “Jadi apakah umma bisa memindahkannya, please? Ada yang harus aku lakukan diantara waktu sesi umma itu,” Yul melembutkan nada suaranya kali ini.

Ny. Kwon menatap putranya. “Apa kamu sedang melakukan suatu pekerjaan? Umma memperhatikan kalau kamu sudah dua kali pulang terlambat minggu ini.”

“Err…Hanya ada beberapa hal yang harus kulakukan, umma.”

“Apa kamu sedang menemui seseorang?” tanya ibu Yul skeptis.

“Tidak, umma. Tidak. Bukan seperti itu,” Yul tertawa gugup.

“Oh, benarkah? Apa ada sesuatu yang terjadi kalau begitu?”

“Tidak ada apapun yang terjadi, umma. Jangan khawatir. Aku jamin tidak ada yang terjadi,” Yul tersenyum untuk meyakinkan ibunya itu.

“Baiklah. Umma akan menanyakan rumah sakit. Tapi berjanjilah pada umma bahwa kamu tidak akan melakukan sesuatu yang gila,” Ny. Kwon berkata sambil menatap pada putranya dengan penuh kasih sayang.

“Terima kasih, umma. Aku janji.”

“Oh Yul,” Ny. Kwon memanggil anaknya kembali.

“Ya umma?”

“Apa kamu bisa mengantarkan umma terlebih dahulu sebelum kamu pergi bekerja?”

Yul memiringkan kepalanya. “Kemana, umma?”

“Ke rumah mujigae.”

“Bukankah itu adalah rumah singgah?” tanya Yul.

Ibu Yul mengangguk. “Tidak ada yang umma kerjakan di rumah dan itu membuat umma sedikit bosan. Jadi umma ingin mengerahkan sedikit tenaga umma untuk membantu anak-anak yang kurang beruntung disana.”

Yul menatap ibunya untuk beberapa saat sebelum membalut ibunya itu dalam pelukannya. “Aku mencintaimu, umma,” katanya dengan suara yang sedikit serak.

“Hey hey, jangan khawatir. Umma akan baik-baik saja.” Ny. Kwon mengelus pundak putranya lembut.

“Aku tahu, umma. Hanya saja aku merasa sangat bangga padamu sekaligus bahagia memiliki umma sepertimu,” Yul melepaskan pelukan dari ibunya dan tersenyum tulus pada wanita yang sudah membesarkannya dengan penuh kasih sayang itu.

Ny. Kwon membalas dengan senyuman. “Jadi bisakah kamu mengantar umma?”

“Tentu saja, umma.” Senyuman Yul menjadi semakin lebar. “Aku akan mandi dahulu kalau begitu.” Dia mencuri sebuah kecupan lagi dari pipi ibunya sebelum berlari menuju kamarnya.

Ny. Kwon hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat putranya yang kocak itu.

***

Sebuah van hitam berhenti di depan sebuah bangunan yang tinggi menjulang di pusat kota Seoul. Seorang wanita pun melangkah keluar dari mobil tersebut.

Yoona berjalan masuk ke dalam bangunan tersebut dan pergi menuju ruangan musik. Dia akan melakukan latihan tuntuk proyek lagu barunya bersama dengan tim Yul.

Setibanya di ruangan, dia segera disambut oleh si komposer dan timnya. Senyuman terulas di wajah Yoona sembari dirinya menyapa semua orang yang berada di ruangan tersebut sebelum dia menuju tempat yang sudah disediakan untuknya sehingga mereka bisa memulai sesi pemanasan mereka terlebh dahulu. Yul dan para musisi yang lain mempersiapkan diri mereka di tempatnya masing-masing.

“Siap semuanya?”

Semuanya mengangguk untuk menanggapi pertanyaan Yul.

“Baiklah. Satu, dua, tiga.”

Alunan musik pun dimulai setelah arahan dari Yul.

Setelah melakukan pemanasan, mereka melanjutkan diri untuk berlatih lagu terbaru yang akan dinyanyikan Yoona. Yoona pun sudah siap dengan lirik yang terpapar rapi di atas stan dan headphone di kepalanya.

“Setelah hitunganku, satu, dua, tiga.” Yul menunjuk pemain keyboard untuk memulai lagunya. Dia menjentikkan jarinya sambil menghitung ritme lagu tersebut sebelum memberikan arahan pada si vokalis. Dia memberikan petunjuk ‘masuk’ pada Yoona.

Yoona sendiri sudah mengantisipasi baris-baris nada yang akan datang dan mulai menyanyikan lirik yang telah dia pelajari dalam nada-nada yang tepat.

“Baiklah. Sekali lagi.”

Yul berkata setelah mereka selesai berlatih lagu itu untuk pertama kalinya. Dengan arahan dari Yul, Yoona dan lainnya kembali memulai lantunan lagu.

Setelah puas dengan latihan yang dilakukan dan beristirahat sejenak, Yul dan Yoona melanjutkan pekerjaan mereka di ruang rekaman. Disana, lagi-lagi mereka disambut oleh Kim Jaewon.

“Yul, Yoona!! My favourite hoobae.”

Pria paruh baya itu menyambut mereka berdua dengan pelukan erat.

“Apa kau sudah menyiapkan segala sesuatunya, hyung?”

“Tentu saja,” Jaewon mengangguk. “Semuanya sudah disiapkan. Kamu bisa masuk ke dalam.” Dia memberi isyarat pada si gadis muda.

Yoona mengangguk dan masuk ke dalam ruang rekaman.

“Bagaimana dengannya, Yul?” tanya Jaewon.

“Dia melakukannya dengan baik, hyung. Aku harap hasilnya akan baik,” jawab Yul dengan secercah harapan dan kepercayaan yang tersirat.

“Aku percaya dia bisa melakukannya.”

“Aku juga berharap seperti itu,” Yul tersenyum sambil dia memasang headphone di kepalanya.

“Yoona, apa kau bisa mendengarku?” Jaewon memanggil melalui microphone.

“Ya, oppa,” jawab Yoona.

“Baiklah. Apa kita bisa mulai sekarang?”

Yoona mengangguk dan bersiap di tempatnya.

Rekaman berlangsung selama dua jam hingga akhirnya mereka memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Jaewon tidak pergi bersama Yul dan Yoona karena dia sudah berjanji untuk makan siang dengan putranya.

Yul dan Yoona pun pergi ke café yang tidak jauh dari kantor SM.

“Bagaimana kabarnya sekarang?”

Yoona sedang menceritakan tentang anjing bernama Mona yang menemani masa kanak-kanaknya.

“Dia sudah tua sekarang, sekitar 12 tahun.”

“Oh betul juga.”

“Aku harap aku bisa bertemu dengannya lagi, mungkin setelah semua proses rekaman ini selesai.”

“Yeah, kamu harus beristirahat, Yoona. Kamu sudah bekerja begitu keras,” ucap Yul sebelum dia menyuapkan makan siangnya.

Gadis muda itu tertawa kecil mendengar ucapan Yul. “Aku sudah sering mendengarnya, oppa.” Dia berhenti sejenak setelah menyadari apa yang baru saja dia ucapkan. “Umm, bolehkah aku memanggilmu oppa?” tanyanya hati-hati.

“Tentu saja. Kamu bisa memanggilku apa saja, Yoona,” jawab Yul dengan ulasan senyum di wajahnya.

“Lega mendengarnya,” balas Yoona diselingi dengan tawa renyah darinya.

“Jadi berapa ba—“

Yul berhenti berbicara ketika dia mendengar kegaduhan dari arah pojok café. Dia dan Yoona tanpa sadar memutar kepala mereka menuju ke arah keributan itu.

Disana tampak sepasang kekasih sedang bertengkar.

Rasanya seperti dejavu, pikir Yoona.

“Aku harap mereka bisa mengatasi masalah mereka,” kata Yul setelah memutar kembali kepalanya.

Yoona mengangguk. “Aku juga berharap seperti itu.”

Sekarang aku penasaran apa yang terjadi pada pria waktu itu. Dia tampak sangat menyedihkan pada saat itu.

Namun, Yoona tiba-tiba menggelengkan kepalanya.

Ah tidak, itu bukan urusanku. Aku tidak seharusnya memikirkan hal itu.

“Ada apa, Yoona?”

“Tidak ada apa-apa, oppa. Bukan hal yang penting,” jawab Yoona.

“Oh baiklah.”

“Jadi apa yang oppa tanyakan tadi?” Yoona mengalihkan pembicaraan mereka ke topik mereka yang terputus sebelumnya.

“Aku ingin tahu berapa banyak anak yang sudah Mona lahirkan hingga kini.”

Mereka berdua melanjutkan makan siang mereka dengan berbagai macam perbincangan yang lain. Mereka tampak seperti sudah mengenal satu sama lain dengan cukup baik hingga bisa merasa nyaman satu sama lain.

Pelayan membawakan bukti pembayaran ke meja mereka lalu kemudian pergi meninggalkan mereka kembali. Makan siang mereka sudah selesai.

“Yoona,” panggil Yul.

“Ya, oppa?”

“Maafkan aku, aku tidak bisa mengantarmu kembali. Apa kau bisa menelepon manajermu?”

“Oh, tidak apa-apa, oppa. Aku akan menelepon manajer oppa kalau begitu,” kata Yoona. “Oppa mau pergi kemana?”

“Aku harus menemani ummaku pergi ke rumah sakit.”

“Apakah dia sakit?” Yoona bertanya dengan nada khawatir.

“Ah tidak. Dia sehat. Hanya jadwal pengecekan teratur saja.”

“Syukurlah kalau begitu,” Yoona tersenyum.

“Apakah tidak apa-apa kalau aku pergi sekarang?” tanya Yul.

Yoona mengangguk. “Sampai jumpa, oppa. Hati-hati.”

“Sampai jumpa juga.”

***

Sica merasa nyaman setiap kali dia melihat Yul. Perasaan yang sudah menghilang dari hatinya semenjak dia membicarakan mengenai akhir hubungannya dengan Yul beberapa bulan yang lalu itu kembali mengisi hatinya. Dia pun mulai menghangat pada lingkungan sekitarnya. Teman-teman dan bawahannya diperlakukan dengan lebih baik. Sica bisa merasakan bahwa hatinya terasa lebih ringan dan bahagia.

Sudah satu minggu berlalu dan Yul selalu menjemput Sica sepulang kerja. Mereka akan berbincang-bincang sejenak atau pergi makan malam sebelum kembali ke rumah. Mereka menikmati setiap momen-momen kecil mereka dan Yul pun menyikapinya dengan perlahan. Dia tidak lagi melakukan aksi-aksi spontan seperti yang dilakukannya di pertemuan pertama mereka, tetapi memutuskan untuk membiarkan segalanya berjalan mengikuti arus.

Taeng, di lain sisi, tetap saja keras kepala seperti biasanya. Kejadian yang disaksikannya beberapa hari yang lalu tidak menghentikannya untuk mencemaskan Sica yang terus saja pulang terlambat. Dia akan terjaga hingga larut malam hanya untuk memastikan bahwa Sica sampai di rumah dengan selamat. Dia tidak mempertanyakan apapun melainkan memilih untuk berdiam diri karena dia tidak ingin mengganggu Sica. Sica tampak lebih bahagia belakangan ini. Dan itu akan membuat Taeng membenci dirinya sendiri jika dia merusak mood yang sedang dirasakan oleh Sica saat ini.

Akhir minggu ini Taeng merasa lebih santai karena Sica tidak pulang terlambat malam itu. Taeng sedang sibuk memilah-milah koleksi potonya di laptop ketika dia mendengar suara dering handphone yang terletak di meja kopi.

“Sica! Handphonemu!” dia berteriak. Sica yang sedang berada di dapur segera mengampil handphonenya itu. Dia berjalan menjauh ketika melihat identitas si penelepon agar Taeng tidak bisa mendengar percakapan mereka.

Taeng memandang Sica dari kejauhan. Tampak bahwa Sica sedang menjawab teleponnya hampir dalam bisikan tetapi tak lama kemudian terlihat dahinya mengerut. Taeng melihat mulut Sica bergerak cepat berbicara sebelum akhirnya dia memutuskan sambungan telepon dan bergegas menuju kamarnya.

“Ada apa Sica?” Taeng bertanya setelah Sica keluar dari kamarnya. Dia sudah mengenakan pakaian lengkap dan membawa sebuah tas. Taeng mengerti kalau Sica akan pergi keluar lagi. Tetapi Sica tidak menjawab apapun. Dia hanya berjalan terus dengan cepat menuju mobilnya dan pergi meninggalkan rumah, mengabaikan Taeng dan meninggalkannya dalam kebingungan.

***

Sica berjalan menuju bar dan bertanya pada bartender terdekat. Bartender itu menunjuk ke arah meja dimana ada seorang pria terbaring lemah disana. Sica segera menghampiri pria yang ditunjukkan oleh bartender itu.

Kembali ke saat di rumah, Sica terkejut ketika dia mendengar suara yang tidak dia kenali dari nomor handphone milik Yul. Ternyata itu adalah suara seorang bartender yang bekerja di bar ini. Bartender tersebut memberitahunya bahwa si pemiliki handphone sedang mabuk di bar tempatnya bekerja.

“Yul?” Sica berusaha menggoyangkan bahu pria yang sedang mabuk itu tetapi dia sama sekali tidak bergerak.

“Sudah berapa lama dia seperti ini?” Sica bertanya pada bartender yang berada di dekatnya.

“Hampir satu jam,” jawabnya.

Sica memperhatikan gelas yang ada di meja bar.

“Berapa banyak yang dia minum?”

“Lima gelas, nona.”

“Yul.” Sica mengguncangkan kembali tubuh Yul namun tetap tidak ada respons darinya. Sica hanya bisa menghela nafas.

“Bisakah kau membantuku membawanya ke mobilku?”

“Baiklah, nona.”

Ketika bartender itu membawa Yul ke mobilnya, Sica bersandar untuk beberapa saat. Dia merasa pusing. Sica tidak pernah menyukai aroma alkohol. Dia pasti akan merasakan hal ini setiap kali mencium aromanya.

“Berikan aku air putih,” pesannya.

Setelah meminum dalam satu tegukan dan merasa sedikit lebih baik dia membayar tagihannya dan pergi menuju mobilnya. Yul benar-benar mabuk. Hal itu bisa dimengerti karena dia sama sekali bukanlah seorang peminum. Faktanya, Sica tidak pernah mengetahui Yul meminum alkohol selama lebih dari 3 tahun mengenalnya. Melihatnya sekarang terbaring tidak sadarkan diri di sampingnya, Sica bertanya-tanya pada dirinya sendiri apa yang membuat Yul hingga seperti ini. Alkohol tidak pernah menjadi solusi bagi Yul. Dia pasti sedang sangat putus asa hingga mencoba jalan ini.

Sica akhirnya membawa Yul ke hotel. Dia memilih untuk tidak membuat Ny. Kwon khawatir. Ibu Yul hanya akan merasa sedih jika mengetahui putranya dalam kondisi seperti sekarang ini.

Sica menarik selimut dan menutupi tubuh Yul agar pria itu bisa merasa lebih hangat. Sica menyentuh poni Yul dan menyisirnya ke arah luar. Dahi Yul tampak mengerut, otot-ototnya tampak sangat tegang. Hati Sica terenyuh melihatnya. Perlahan, dia mengelus lembut wajah Yul. “Ssh. Yul. It’s okay,” katanya sambil tetap mengelus perlahan pipi Yul.

“Sica…” Tiba-tiba Yul menyebutkan namanya yang membuat Sica terkejut.

“Yul? Ada apa?”

Yul mulai mengigau dalam tidurnya mengenai Sica. Sica merasa sangat bersalah mendengarkan kata-kata Yul. Semuanya mengungkapkan rasa rindunya akan Sica dan betapa dia sangat merindukan Sica. Setelah Sica membelai Yul selama beberapa saat, akhirnya pria itu bisa kembali tidur dengan nyenyak.

Sica menatap wajah Yul dan menyusurkan jarinya di wajah rupawan itu, mengingat setiap detail yang menyusun wajah pria itu. Matanya. Hidungnya. Dan bibirnya. Jarinya berhenti di sudut bibirnya. Sica pelan-pelan menggerakkan jarinya di bibir yang lembut itu, yang merupakan pasangan sempurna dari miliknya. Dia menggigit bibirnya sendiri. Dia tidak boleh menciumnya saat ini. Dengan susah payah dia menahan dirinya dan hanya membelai rambut Yul sekali lagi sebelum meninggalkan kecupan di dahi pria yang sedang tertidur itu.

“Tidur nyenyak, Yul.”

Sica baru saja akan pergi ketika sebuah genggaman erat menahan lengannya.

“Stay.”

Sica berbalik arah dan menemukan bahwa Yul sedang menatapnya lekat.

“Please.”

Sica tidak yakin apa yang harus dia lakukan.

“Please stay,” Yul memohon sekali lagi.

“Baiklah.” Sica duduk di sampingnya kembali. “Sekarang tidurlah, Yul.” Sica mengelus rambut Yul dengan lembut. Merasakan kehangatan tangannya lagi, Yul akhirnya kembali terlelap. Sica tinggal sepanjang malam di ruangan itu menemani Yul tanpa mengetahui bahwa seseorang sedang khawatir mengenai dirinya di bagian lain kota Seoul.

***

Cahaya matahari bersinar terang, menyusup di antara jendela, menyinari wajah yang sedang tidur terlelap di atas kasur serta yang lain di sampingnya yang sedang tertidur dalam posisi terduduk, kepala berada di tepi kasur. Wanita itu bergerak perlahan, matanya memicing karena cahaya yang terang benderang sedang diproses oleh otaknya. Sica meregangkan tubuhnya dan melihat pria yang sedang berbaring di atas kasur. Pria itu masih tertidur dengan nyenyak. Hal itu membuat Sica tersenyum tanpa sadar.

Setelah 15 menit, akhirnya Yul pun terbangun. Sica sudah memesankan semangkuk bubur untuknya dan menunggu Yul selesai mandi.

“Apa kamu merasa pusing?” Sica bertanya segera setelah Yul menunjukkan wajahnya.

“Sedikit,” Yul berjalan sambil mencari tumpuan di dinding. Melihat Yul bersusah payah, Sica pun menghampirinya dan membantunya untuk duduk di atas sofa. “Pasti itu hangover.”

“Sepertinya,” kata Yul. Kepalanya terasa sangat berdenyut-denyut. Dia merasa lelah dan pusing.

Sica menyerahkan secangkir madu. “Ini akan membuatmu merasa lebih baik.”

Yul tersenyum menerimanya lalu tak lama kemudian meminumnya. Memang terasa lebih menyegarkan.

“Apa yang ka rasakan sekarang?”

“Lebih baik,” Yul tersenyum lagi.

“Syukurlah. Sekarang makanlah,” Sica meletakkan sendok di tangan kanan Yul.

Yul menuruti wanita itu dan menyantap makanannya dalam diam. Dia masih merasa tidak enak badan setelah keadaan mabuknya kemarin. Dia tidak pernah merasakan hangover, and itu benar-benar tidak menyenangkan.

Sica di lain pihak hanya menontonnya makan dengan perlahan. Dirinya sedang menikmati kesempatan untuk memperhatikan Yul dari dekat kembali.

“Kenapa kamu menatapku seperti itu?” Yul memecahkan keheningan setelah sarapannya sudah berpindah sepenuhnya ke dalam perutnya.

“Huh? Siapa?” Sica tergagap.

“Sudah jelas dirimu. Aku bisa merasakan matamu sedang memandangiku sepanjang waktu,” Yul mulai menggodanya.

“Tidak. Aku tidak memandangimu.” Pipinya sudah memerah. “Ngomong-ngomong sudah jam berapa sekarang?” Sica cepat-cepat mengubah topik pembicaraan. Dia mencari handphonenya dan mengusap layarnya untuk membuka kuncinya. Tetapi setelah beberapa kali melakukannya, handphonenya sama sekali tidak menunjukkan apapun.

“Mati,” Sica menghela nafas. “Sepertinya aku harus pergi sekarang,” dia pun berdiri dan mengambil tas tangannya. “Goodbye.” Sica hanya ingin segera melarikan dari situasi tadi. Dia merasa sangat malu karena sudah tertangkap basah memandangi Yul selama itu.

“Tidak bisakah kamu tinggal, Sica?” tiba-tiba Yul berkata.

Sica pun bingung dan menghentikan langkahnya, punggung berhadapan dengan Yul. “Apa?”

“Tidak bisakah kamu tinggal denganku?”

Sica menjadi semakin bingung mendengarnya. “Apa maksudmu?”

“Kamu tahu dengan jelas apa yang aku maksud, Sica.”

“Yul…,” Sica berkata dengan lembut. “Kita sama-sama tahu tentang situasiku.

“Tapi aku membutuhkanmu, Sica.” Suaranya terdengar seperti permohonan putus asa.

Permohonan Yul memicu perasaan Sica. Tangisan sudah menetes di pipi lembutnya. Tiba-tiba Sica merasakan sepasang lengan memeluknya dari belakang. Yul meletakkan kepalanya di bahu Sica hingga Sica bisa merasakan nafasnya menderu di lehernya.

“Aku benar-benar membutuhkanmu, Sica,” bisik Yul.

“Aku…”

Yul menyadari keraguan Sica. “Aku mencintaimu, Sica. Itu tidak pernah berubah. Tidak sedikitpun.”

“Aku sudah menikah, Yul. Kamu tahu itu.” Sica berkata sambil dia berusaha menghentikan tangisannya.

“Kau bisa meninggalkannya.”

“Aku tidak bisa, Yul.”

“Kenapa?”

“Ini tidak mudah, Yul.”

“Kau membuat hal ini menjadi sulit, Sica. Kau bisa saja meninggalkannya,” Yul mencoba untuk membujuk Sica.

“Maafkan Yul. Aku benar-benar tidak bisa.”

Yul menarik nafas dalam, melonggarkan pelukannya dan memutar tubuh Sica agar dia bisa menatap wajahnya.

“Dengarkan aku, Sica. Aku mencintaimu. Aku akan melakukan apapun untuk bisa bersamamu. Even if it means I’m only be able to hold you without having you.” Yul perlahan mendekat dan mencium Sica lembut. Sica menyerah dan membalas ciuman Yul kembali kali ini.

***

Setelah mereka kembali ke pikiran sadar mereka, Sica dan Yul sedang duduk di sofa. Lengan Yul terlingkar di bahu Sica. Tubuh Sica bersandar padanya.

“Sica.”

“Hmm?”

“Aku tahu kenapa kau menikahinya.”

Sica segera menjauhkan tubuhnya dari Yul. Dia menatap Yul dengan penuh rasa kaget.

“Itu adalah perjanjian besarmu dengan ayahmu untuk menyelamatkan umma…” Yul menarik nafas dalam sebelum melanjutkan, “tapi itu juga merupakan bagian dari kesalahanku.”

To be continued…

Surprise! Double update minggu ini hahaha

Kok rasa-rasanya di semakin lama yulsic shipper semakin menciut ya? wkwk udah pada beralih ke taengsic kah? :p

Apa maksud Yul ya? Hmmm ._.

Btw, ada kabar gembira!! XD

Boong sih, ga gembira juga kok. Untuk 2 chapter selanjutnya sedang dipertimbangkan untuk diproteksi. APAAAA???!!!! Yah thor!! Masa LBD jg mau diproteksi sih >.< Eitts, tenang aja, kalau jadi diproteksi juga ga susah kok dapet passwordnya.

Caranya tinggal tinggalin komen kalian di chapter ini dan email username kalian ke: 4riesoneforlife@gmail.com. 

Gampang kan? 😀 A little comment and an email won’t hurt 😛

Berhubung 2 chapter selanjutnya akan mengungkap banyak rahasia, jadi jangan dilewatkan yah hahaha See you again next time ^^

Advertisements

Author: 4riesone

SONE. Follow me on Twitter @4riesone for updates and questions

52 thoughts on “Love between Dreams (Chapter 18)

  1. Udh sica cerai aja biar sm yul, taeng cari lg dah, dr pada yulsic main dbelakng taeng

  2. duh thor kasian banget sih taeng, padahal dia udah baik dan perhatian gitu ..
    masa Jessie gak luluh sedikit pun 😦

  3. Aku TaengSic shipper kak :3,ya ampun taeng kasian banget deh cini cini taeng ikut aku aja :v
    Keren lah ff nya
    Fighting ya

  4. Annyeong
    Nahhhhhhh yulsic mkin lngket nech,,,,
    Yul trlihat msih sangat mncntai sica,,,,
    Tp ksian taeng nech,,,shrusnya ad fany biar adil yulsic taeny dan ngak ad yg trskti,,hahahaha
    Ok ,,,,susah jga nech
    Next d tunggu
    Ttap smngattt
    Gomawo,,,

  5. yeah double update.
    mau yulsic, tapi gimana ya sica udah nikah, seperti apa yg sica bilang ga semudah itu ninggalin tae. yoonyul jg boleh pokonya hahaha dri chaper sbelumnya bikin galau terus 😀

  6. Yulsiccc
    Jdi yul udh tau tntang prjanjian sica sma appanya…mkin seru thor

  7. ya thor..cptan bkin yulsic brstu..
    jng maen d blkng trus kan ksian ngliat’a..

  8. Duuuuh jangan selingkuh, kasian taeng >_<
    Taengsic gk ada momen, author pun nyuewekin tae, poortae 😦

  9. Annyeong …..

    Nah kan jdi itu my yoona trnyta , tpi dia lupa ya kek nya …. kkkee
    Noooo, im still yulsic shiper apapun yng trjdi … tpi bgimna ya bnr” ak bingung ….>< naahh …
    Yul dah tau kah yng sbnernya ???
    Penasaran deh …dtunggu next chap nyah. So, ak akn ngih pw nya ya,smg d ksih ….kkkke.
    Yuu SEMANGAAAAAAAT

  10. yulllsiccc back,,,please,,,,,,,hidupkan yulsic d dunia fanfinction……yulsiccccccc

  11. Hahahaha gw bahagia bgt dh minggu ini krn ff nya double update XD
    Dsni gw mzh bingung dh thor qo yoona g ingt m yuri y??klo yuri mnqn g ingt ttg yoona krn mnqn yoona wkt it pk penyamarannya jd g liat wajah yoona wkt yoona kzh sapu tangan k yuri yg dputusin m sicasica #sumpah penasaran bgt
    Kesalahan pa yg d omongin yuri?pa krn mikirin yuri g sebanding dg sica yg “kaya”???
    Weww dprotect 😮 mdh2n c gw dpt pw nya #amin
    Anneyong author n my lovely yoona hahaha 😀

  12. Yul berjuang bgt buat sica tpi malu ngakuinnya. Bnyk rahasia yg blm terungkap nh=D
    masih yulsic shipper thor.

  13. ihhh sica mah selingkuh mulu….
    jadi ksel sama dia skrang…..
    munculin fanny thor…
    please….

  14. ah kenapa yul oppa mabuk kayak gitu ??
    bukannya dia kagak ada masalah lagi yah ??
    tapi kok tiba-tiba jadi galau lagi sih ??
    apa nanti yoona onnie bakalan sukak sama yul oppa ??
    dan terjadi perperangan antara sica onnie dan yoona onnie ??
    cewek itu bukan fanny ya, tapi yoona onnie.

    gak kom chingu, gue yulsic..
    pokok nya gue dukung yulsic, walaupun yul oppa pernah terluka akibat sica onnie..
    tapi gue mohon jangan buat dia sakit lagi..
    untuk taeng oppa tunggu aja fanny onnie datang o.k, jangan memaksa kan keadaan oppa..
    nanti oppa juga yang sakit..
    lanjut chingu..
    selalu ditunggu lanjutannya..
    soory patr sebelum nya belum baca..

  15. Taeng kasian ya ga diprhatiin sma sica . .
    Aduhh yul knapa msssih kekeh sih sma sica ampunn dahhh

  16. Yey update lagi hidup yulsic yulsic yulsic makin rumit.

  17. sebenernya bener” ga rela klo sica afair
    taengsic moment ny banyakin thor

  18. Duh itu serius thor sica mau nyakitin Tae,, lu jahat thor sma MyBabyTae,, udah sih yul sma yoona ajja,, aahhh gue ga suka Yul di sinii lu nyiksa BabyTae gue siiii,,, hahahahaa
    Ahhh thor email gw lg ngadat coba,, trs bgmna doonkk? Bbm /Line /kaTalk bgmna?

    • Happy thor klo update nya bisa cpet ky gini Hehe.. btw ni ff cerita nya makin seru + tmbah bikin penasaran aja . secara gw RS sih pgen nya yulsic bersatu soalnya klo sica sma yul kan udh jelas bkin hidup mereka lebih bahagia tp kasian jg sih sma taetae. Tuh kan jd galau sndiri T_T dilanjut aja dah thor.. semangatt ^^

  19. lohaa thor gw reader baru disini
    gw maunya yulsic tapi gregetan ama sikap yul,jessica udah nikah pehlis/? yul -___-
    untuk pertama kalinya gw baca ff kasian ama si taeyeon wkwk padahal kalo di ff yulsic dia menderita gw bahagia(?)
    sebenarnya part yg ini udah gw baca di aff tapi gw baca lagi/plakkk

  20. thor saya reader baru disini hehe salam kenal

    pokoknya harus yulsic yah haha , kan kasian kwon seobangnya wkwkwk

  21. Yailah gue kasian sama taeng, sica jadi main belakang gitu kan. Sica juga serba salah. Udah lah cerai aja taengsic, mau sampe kapan sica main belakang terus sama yul. Taeng cari jodoh lain aja gih, jodohmu menunggu tuh *pokefany xD

  22. entah krnapa kasiaaannn taeeenyaaaaaa huaaaaaaa tae nya ama aku aja dah chingu wkwkwkwwk
    yah kalau di proteksi pasrah gak ada email fb author jjuga ggak ketemu” hafehhh author add fb aku dong cut ayu fitriyani ya pleaseeeeee

  23. Sekali yulsic tetap yulsic thor,yoonyul? Berasa bapak dengan anak ,taengsic?kan sedari awal yulsic saling cinta mending munculi tiffany sama seohyun jd baik yulsic,taeny,yoonhyun bahagia semua,auhto fighting!

  24. Sekali yulsic tetap yulsic thor,yoonyul? Berasa bapak dengan anak ,taengsic?kan sedari awal yulsic saling cinta mending munculi tiffany sama seohyun jd baik yulsic,taeny,yoonhyun bahagia semua,author fighting!

  25. Wahh , author bikin penasaran aja.. Udh mendingan Yulsic jangan taengsic..

    Jangan lama2 ya updatenya biar gk kepo banget hehe

  26. aku msh setia kok thor hehe.kira2 knp y yul mabok gt dan apakah maksud yul y, hmm jd pnsran nh

  27. Yaaah thor knp hrus d protec sih. Ahhh daebak ceritnyaa thorr

  28. apa yg terjadi ma yulsic????
    gw bwerharap ada moment yoonyul yg romantis …

  29. kasian banget taeng T.T.
    Semoga sica bisa buka hatinya buat taeng amiiiiiiin.
    yul sama yoong aja please~

  30. thor kasih moment taengsic please ,bikin sica nyadar kalau taeng itu tulus ya ya yaaaaa

  31. sica udah balik lg ja ma yul, kasian dia hris tersiksa ma perasaannya

  32. Entahlah, gue ga suka sama Sica disini, seenaknya bgt ngabain Taeng. Yuri juga, udah tau Sica udah nikah, knp ga di ikhlasin aja? Taeng juga diem bae lagi-__-

  33. Kasian taeyeon di cuekin jessica,,,thor bikin moment taengsica dong

  34. I’m still yulsic shipper, Royal Shipper garis keras wkwkwk.. Kmren rada mles baca thor klw bnyk moment taengsic, klw gini bnyk yulsic moment, semngt lg bacanya

  35. nggk tau kenapa gak trlalu suka sama part ini. sedih aja, taeng digituin. gak dianggap T.T kasiaaan. gue masih ngarep taengsic soalnya.. hhahahaha peace ya thor. apapun bis trjdi d ff dan gue berhrap taengsic. 😀 jarang bgt ada ff taengsic. yah walaupun suka yulsic tp ff ini gue milih brhrap taengsic ^^

  36. Yah thor, itu gantung amattt omongan yul nyaa

  37. udahlah thor biarin yulsic brsatu, drpada ngumpet mulu, kasian taeng
    emng sih kl cerai gak smudah itu, tp kyknya itu lbh baik biar taeng gak jd pihak yg trsakiti trus
    itu mksdnya yuri apaan ya??

  38. hmm aku ad coment dr chap sebelum ny author tp gk msk semua
    ini udh frustasi bru brthasil
    coment ny smga aj taengsic bersatu yuri ma yoong aj
    smga chap dpan sica tobat
    amin

  39. cieee yulsic ciuman lagi cieee *plakk
    kesian sama taeng, dia nungguin sica tapi yg ditungguin lagi asik sama yg lain.
    itu Tn. Jung punya penyakit, ga nyangka :”v endingnya udh jelas yulsic kan?? kangen ff yulsic happy ending + sweet moment nya nih thor :”v

  40. annyeong thor..
    ini authornya sama kan dengan yg ada di aff??
    part” sbelumnya gw bacanya di aff…
    kmudian berhenti bbrapa part karna kayakny akan brakhir dengan taengsic..
    tp msih penasaran akan hubungan yulsic slanjutnyya.. gw harap sih berakhir dengan yulsic…
    taeng let her go plisssss

  41. Papun bntuk prslingkuhan q sebel,suami udh baek gtu tega2x di slingkuhin,lok tw gni np msh ja nyuruh bwt brthan sdngkan dy sndri gak prnh kci ksemptan,egois#kebawa emosi

  42. Ini tidak bisa taengsic harus bersatu kasian ama mereka bertiga paling kasian dgn taeng dia sangat baik tp apa yg di dapatnya?

  43. Yul ngomong apaan ya..
    Apa yang dimaksud dengan perjanjian itu.

  44. Anyeong..Maaf reader baru thor, baru bisa komen sekarang.
    itu sica na akn trus brsikap acuh sama taeng. ksihan my unnie.
    apa benar yg dbilang yuri thor?
    keren ff nya, lanjut thor…,,

  45. OMG,yul th alasan sica putus.tp hrsny yul gentle n bijaksana cz sica udah nikah.kasihan taeng dia sbnrny yg jd korban.

  46. hah? yul tau alasan sica nikah sama taeng dari siapa? wah.. bikin penasaran banget deh.

  47. ohhhh..jadi itu sampai sica harus menuruti kemauan appax..ada perjanjian bgtu..
    sica cerai aja deh..trus sama yuri aja..

  48. kok kaya nya part2 berikut nya tambah nyasek ya?. yulsic udah se hotel lagi?.
    sica plin plan, kenapa sica harus nyakitin taeng dan yul kaya gini. kenapa sica dulu meminta taeng untuk terus melanjutkan perjodohan nya, kalau akhirnya sica selingkuh juga ama yul.
    aaaaa…. aku harus benci siapa nich, sica, atau author nya?…
    aku harus nyiapin hati dulu sebelum ngebaca part selanjutnya, takut ada kejutan yg bikin jantungan. 😁

Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s