rara0894

All about TaeTiSeo and GG

Love between Dreams (Chapter 14)

56 Comments

Title        : Love between Dreams

Author   : 4riesone

Genre     : Romance, Gender bender

Cast        : 

 Jessica Jung

 Kwon Yuri

 Kim Taeyeon

 Girls’ Generation members and other

LxD cover 2

Bachelorship

Perawat Lee sedang berbicara dengan Ny. Kwon setelah sesi kontrolnya berakhir. Perawat itu membantu Ny. Kwon berjalan keluar dari rumah sakit. Sica memperhatikan mereka dari jauh. Dia mengernyitkan dahinya melihat wanita paruh baya itu, terheran-heran.

Ny. Kwon tidak akan pernah ditinggal sendirian setelah sesi kontrolnya. Putranya belum pernah dan tidak akan pernah melewatkan satu sesi sekalipun, bahkan di hari tersibuknya. Dia akan selalu ada disana menunggu ibunya.

Sica menghela nafas.

Tapi, mungkin itu hanyalah masa lalu semata. Dia kira kalo dirinya mengenal Yul. Ternyata tidak, tidak lagi. Banyak hal sudah berubah, termasuk Yul. Semuanya karena kesalahannya.

Ny. Kwon terlihat pucat dan lemah, lebih banyak keriput tampak di wajahnya. Dia tidak terlihat sebaik terakhir kali Sica bertemu dengannya, hampir 3 bulan yang lalu. Sica ingin membantunya. Sejujurnya Sica sangat merindukan wanita yang selalu baik terhadapnya itu. Dia bukan sekedar ibu dari mantan pacarnya saja tetapi sudah menjadi seseorang yang sangat dia peduli. Dia masih dapat mengingat perasaan hangat dan nyaman yang dirasakannya di setiap perbincangan dengan wanita paruh baya itu. Kehadirannya mampu mengobati rasa rindu Sica pada ibunya.

Sica ingin bertemu dengannya lagi. Dia ingin melangkahkan kakinya selangkah lebih jauh, pergi menuju orang yang sudah menjadi seperti ibunya sendiri selama beberapa tahun belakanga ini. Namun sesuatu di hatinya menarik keinginannya tersebut, mengatakan padanya untuk tidak melakukannya. Dia bukan siapa-siapa lagi. Bagaimana bisa dia menemui wanita itu ketika dia sudah menyakiti putranya. Sebaiknya tidak.

Setelah menjamin Ny. Kwon menaiki taksi dengan selamat dari jauh, Sica berjalan meninggalkan rumah sakit. Dia sengaja meninggalkan mobilnya sebelum pergi kesana. Dia merasa semakin lelah dan depresi dari hari ke hari, menghitung hari menuju hari besar di hadapannya. Satu-satunya hal yang dia lakukan adalah bekerja, bekerja dan bekerja. Teman-teman ditinggalkan. Saudara terabaikan.

Dia menjadi semakin jauh dan jauh dari orang-orang di sekitarnya. Hingga hari ini akhirnya dia menyadarinya, saat dia sangat ingin untuk membebaskan seluruh perasaan frustasinya, kakinya membawanya mengunjungi wanita yang sedang sakit iu. Melihal dirinya membuatnya tersadar kembali ke realitas dunia.

Apa yang sudah kulakukan? Perasaan bersalah merayap perlahan menuju hatinya. Oleh karena itu dia membutuhkan udara segar malam ini. Dia berjalan-jalan berkeliling, mengikuti kemana hatinya membawa tubuhnya pergi. Hanya untuk saat itu saja, dia akan membiarkan perasaannya mendominasi. Itu akan menjadi satu-satunya kesempatan yang dia miliki sebelum dia harus menyangkal semua perasaannya, kurang dari satu hari lagi. Dia memilih untuk mengikuti hatinya.

Sica tidak tahu kenapa tapi dia sudah berada di tempat itu. Tempat yang penuh dengan kenangan. Tempat favoritnya.

Tempat favorit mereka juga.

Mengapa hatinya membawanya ke tempat itu? Dia tidak tahu sama sekali.

Melangkah di pinggiran sungai, Sica berhenti ketika dia melihat tumpukan batu gepeng. Dia mengambil salah satunya dan meletakkannya di telapak tangannya. Ditatapnya batu itu sambil dipindahkannya dari satu tangan ke tangan lainnya. Batu kecil itu membawa kumpulan memori-memori tentang dirinya kembali.

***

Splur. Splur. Byur.

“Lain kali aku pasti akan melemparnya sampai ke seberang,” Sica berkata setelah dia gagal untuk melemparkan batu ke seberang sungai, tetapi tenggelam sebelum mencapai setengah perjalanan. Desiran daun-daun yang bergoyang pelan terdengar mengalun di telinga. Sica sudah biasa datang ke sungai tersebut setiap kali pikirannya dipenuhi dengan tumpukna pekerjaan yang dimilikinya. Dia baru saja memulai karirnya di perusaan fashion setelah kembali ke Korea  2 bulan yang lalu.

Tiba-tiba saja dia melihat sebuah batu dilemparkan ke sungai, memantul di permukaa sungai dan mendarat tepat di seberang sungai. Dia berbalik, mencari dengan kesal orang yang baru saja memamerkan kemampuannya itu.

“Kamu harus membidik sedikit lebih tinggi ketika kamu melempar. Itu caranya agar kau berhasil.” Dia adalah seorang pria tinggi, berkulit coklat dan berambut coklat. Dia berbicara dengan senyuman terpampang di wajahnya.

“Aku tahu itu. Jika aku benar-benar menginginkannya, batu itu akan sampai disana!” Sica membalas kesal. Pria itu hanya tersenyum balik padanya.

“Ngomong-ngomong, siapa dirimu?” Sica bertanya. She knocked herself mentally. Dia tidak seharusnya berbicara dengan orang asing seperti ini, terutama tukang pamer sepertinya. Tetapi pikirannya berbicara dengan sendirinya.

“Hmm,” dia mengetukkan jarinya di dagunya. “Saat ini, kita bisa bilang kalau aku adalah rivalmu dalam bermain melempar batu. Lagipula milikku mencapai seberang sungai.”

Itulah pertama kalinya dia bertemu dengan Kwon Yul.

***

Sica melempar batu di tangannya seperti yang diajarkannya beberapa tahun yang lalu. Batu itu memantul di permukaan sungai beberapa kali sebelum akhirnya mendarat di sisi lain sungai.

Sica tersenyum pahit. Bibirnya membentuk senyuman yang menyayat hati, dan kelenjar air matanya mulai memproduksi air mata, jatuh ke pipinya. Dia cepat-cepat menghapus air matanya itu.

“Apa yang kulakukan di tempat ini?” dia bertanya lemah, sangat pelan bahkan untuk telinganya sendiri.

Dia berjalan menjauh dari sungai dan memilih bangku kayu terdekat. Tangan kanannya tanpa disadari bergerak sepanjang permukaan kayu, merasakan teksturnya. Tangannya menemukan sebuah goresan disana. Dia menelusuri goresan tersebut dengan jari telunjuknya. Goresan itu terasa sangat familiar.

***

“Yah, Yul, apa yang sedang kamu lakukan? Sica memukul bahunya setelah melihat apa yang sedang dilakukannya. Yul sedang menggores bangku taman dengan ujung tajam dari sebuah batu.

“Ssshh, Sica. Ini hampir selesai. Tunggu sebentar.”

“Ini properti publik, Yul.”

“Aku tahu. Aku tahu.” Dia ikut mengangguk, namun tetap melakukan apa yang dilakukannya.

“Lalu kenapa kamu masih melanjutkannya? Hentikan itu, Yul!”

“Yes! Sudah selesai.” Dia berteriak girang. “Kemarilah, Sica. Lihat apa yang sudah kubuat.” Yul memanggil Sica dengan tangannya agar dia datang mendekat. Itu adalah sebuah Y dan J yang dipahat bersamaan, huruf J menyambung dengan ujung huruf Y.

Sica tersenyum segera setelah melihatnya.

“Itu adalah kamu dan aku, terikat menjadi satu,” Yul tersenyum lebar pada gadis di hadapannya. “Sungai ini akan menjadi saksi cintaku padamu. Seperti aku memahat diri kita di kayu ini, mari kita pun memahat setiap kenangan yang sudah kita miliki, yang sedang kita miliki, yang akan kita miliki, bersama-sama di dalam hati kita.”

“Yul…” Sica kehilagan kata-kata untuk berbicara.

“I love you, Sica,” Yul berkata dengan penuh kasih, mata menatap lekat padanya.

“I love you too, Yul.”

Itu adalah pertama kalinya mereka mengatakan tiga kata penuh makna tersebut pada satu sama lain.

***

Sica tidak bisa berhenti menangis ketika kenangan-kenangan tentang dirinya terus menerus mendatangi pikirannya. Dia benci kenyataan bahwa dirinya tidak bisa melakukan apa-apa lagi, bahwa dia sudah melepaskan dirinya.

It’s really a suicide coming here.

Ternyata tidak hanya dirinya saja yang menangis saat itu. Sica bisa merasakan rintik hujan jatuh ke wajah dan pakaiannya. Dia tertawa ironis pada dirinya sendiri kemudian mengangkat tangannya untuk merasakan air yang segar itu. Dia mulai mencucurkan air mata dengan bebas, air mata hangat bertemu dengan hujan yang dingin. Di luar sana, dia bisa menangis tanpa seorang pun yang menyadarinya.

Rambutnya sekarang sudah melekat pada tubuhnya, pakaiannya basah kuyup oleh hujan, tetapi dia tetap tidak peduli untuk mencari tempat berteduh atau bahkan bergerak sedikitpun. Yang dilakukannya disana hanyalah menangis.

Sebuah payung di atas kepalanya membawanya pikirannya kembali ke bumi.

“Apa yang kamu lakukan Sica? You’re going to get sick.”

Dia lagi. “I’m already sick! I am sick of everything!” Sica membalas tajam.

Taeng tidak membalas apapun, tetapi duduk di sebelahnya di tempat yang terbuka, dimana tetes-tetes air hujan menerpa tubuhnya dengan deras, payung yang dibawanya masih melindungi Sica di atas kepalanya.

Sica melihat padanya dengan aneh. “A-aoa yang kamu lakukan? Kamu akan basah,” Sica beralasan dengan terheran-heran sambil dia berusaha untuk mendorong payung ke arah Taeng. Rasa jengkelnya sebelum itu sudah pergi bersamaan dengan air hujan.

“Kamu juga basah. Dan lagipula aku sudah basah sebelum sampai disini,” dia berkata dengan santai.

Sambil menghela nafas kekalahan, Sica menatapnya sebelum menggelengkan kepala. “Kau gila. Baiklah, ayo kita mengeringkan diri.” Dia menarik Taeng pergi untuk mencari tempat berteduh.

Setelah mereka sampai di bawah atap kanopi untuk berteduh, Taeng menurunkan dan menutup payungnya sebelum mengetuk-ngetukkan payung itu ke tanah beberapa kali untuk menghilangkan air di permukaan payung. “Bisakah kamu menunggu sebentar disini? Aku akan mengambil mobilku,” dia berkata sambil melakukan demikian.

Sica mengangguk sebelum Taeng berlari menuju area parkir. Suara percikan air terdengar setiap kali kakinya menginjak genangan yang bertebaran di jalanan. Sica memeras bajunya yang basah di bagian ujung. Setelah melakukan itu, dia menyilangkan lengannya dan mengusap-ngusapkannya di kulitnya agar merasa lebih hangat. Dia memalingkan wajahnya yang sudah basah kuyup karena hujan ke sebelah kiri ke arah cahaya dari mobil yang datang.

“Cepatlah masuk, Sica.”

Sica membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. Dia mengambil handuk yang diberikan padanya oleh Taeng dan segera mengelap kulitnya yang basah dengan handuk itu.

“Tetaplah disini. Aku akan mencari sesuatu yang hangat untukmu.” Taeng memarkir mobilnya di depan sebuah mini market.

“Kamu tidak perlu melakukannya, Taeng. Aku tidak apa-apa.”

Tapi Taeng tidak mengindahkan perkataannya malahan tersenyum. “Aku akan segera kembali.” Dia menepuk pundah wanita itu sebelum berlari menuju mini market untuk memberi beberapa minuman hangat.

Sica menghela nafas berat.

“Mengapa kamu begitu baik padaku, Taeng?” katanya pelan. Sica merasa terganggu dengan perlakuan baik Taeng yang terus menerus pada dirinya. Bukan karena dia membenci Taeng tapi hatinya merasa sangat terbebani. Dengan setiap kebaikan yang ditawarkan Taeng padanya, hutang yang dia miliki padanya akan semakin besar, ketika pada kenyataannya dia tidak memiliki apa-apa untuk membayar semua itu. Sica tidak memiliki apa-apa untknya. Tetapi walaupun dia sudah selalu mencoba untuk menghentikan pria itu untuk melakukan apa saja untuknya, Taeng tidak pernah berhenti.

“Ini. Hati-hati masih hangat.” Taeng sudah kembali dengan dua gelas coklat panas di tangannya.

“Thank you.”

“My pleasure.”

Taeng meneguk minumannya sendiri sambil menutup matanya untuk menikmati kehangatan yang berasal dari cairan hangat di dalam tenggorokannya hingga menuju perutnya.

“Kamu sebaiknya mengeringkan dirimu juga, Taeng.”

Taeng membuka matanya dan matanya melihat gambaran sebuah handuk yang diberikannya pada Sica sebelumnya. Dia memang masih basah karena hujan tadi dan belum memiliki kesempatan untuk mengeringkan diri. Dia terlalu cemas tentang kondisi wanita di sampingnya hingga lupa akan dirinya sendiri. Dia menatap kain putih itu untuk beberapa saat.

“Kamu basah, Taeng. Kamu bisa terkena flu jika kamu tetap seperti ini. Keringkan dirimu.” Sica mengulurkan handuk itu lebih dekat ke wajah Taeng.

“Iya.”

“Jadi bagaimana kau menemukanku?” dia bertanya saat Taeng sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk yang diberikannya.

“Aku tidak sedang mencarimu. Aku tidak sengaja pergi kesana,” katanya dengan pikiran melayang. “Aku hanya sedang merasa sentimental disana, lalu aku melihatmu,” lanjutnya. Dia sedang mengenang kembali saat-saat dimana dia memperhatikan Sica dari jauh di tepi sungai tersebut. Taeng pernah beberapa kali melihatnya duduk disana sendirian atau sedang menatap ke arah sungai, namun tidak pernah menghampirinya. Lalu saat itu hujan turun dan dia sudah sedang dalam perjalanan menuju mobilnya ketika dia melihat Sica sedang duduk sendiri, sekujur tubuh dan juga bajunya sudah basah kuyup.

“Terdengar familiar untukku.”

“Huh?” Taeng memalingkan wajahnya menghadap Sica dengan ekspresi heran.

“Aku juga. Kau tahu,” dia mengangkat bahu, “kenangan.”

“Aaahh.”

“Maaf, tidak bermaksud untuk membicarakannya.”

“Tidak apa-apa, Sica. Aku mengerti,” Taeng tersenyum tulus. Dia benar-benar bisa memahaminya. Lagipula mereka akan segera menikah. Itu pasti sangat berat untuk Sica dan dia pasti butuh sebuah closure.

“Thanks.”

Taeng mengangguk dalam diam. Itu hanya hal kecil yang akan dilakukannya untuk dirinya. Apapun. Dia bahkan akan melakukan lebih untuknya. His soon-to-be bride.

***

“Unnie!” Krystal berteriak segera setelah dia melihat Sica muncul di pintu depan. Dia berlari dan memeluk gadis yang lebih tua darinya itu.

“Soojung. Aku tidak bisa bernapas,” kata Sica di tengah-tengah pelukannya.

“Ah, maafkan aku unnie. Aku sungguh khawatir.”

“Aku baik-baik saja Soojung-ah, jangan khawatirkan aku.”

“Baguslah, selama kau baik-baik saja.”

Sica tersenyum pada Krystal yang segera mendapatkan balasan senyuman dari adiknya itu.

“Kau basah, unnie.”

“Yeah, aku akan mandi dulu.”

Setelah keluar dari kamar mandi, Sica sudah ditunggu oleh adiknya di atas kasur.

“Kamu pergi kemana, unnie? Hampir saja aku berpikir kau melarikan diri,” kata Krystal dengan kekehan kecil.

Sica berjalan menuju meja rias dan mengeringkan rambutnya yang basah dengan sebuah handuk. “Mengapa kamu berpikir seperti itu?”

Dengan tawa gugupnya, Krystal menggaruk-garuk belakang kepalanya. “Aku hanya tidak bisa membayangkan kau menikah dengannya, unnie. Aku pikir kau mencintai Yul oppa.”

Keheningan menyeliputi mereka akibat tidak adanya jawaban dari gadis yang lebih tua. Dia sedang berpikir dalam dunianya sendiri dan juga tidak merasa bahwa memberi tahu adiknya akan bermanfaat apapun. Dia tidak akan membagikan bebannya pada adiknya yang sudah lelah dan stress.

Krystal memutusukan untuk mencairkan keheningan di antara mereka dengan menarik Sica ke kasur. Sica tercengang atas perbuatan adiknya itu karena rambutnya masih basah. Sica menanggapi dengan berusaha menjauh dari kasur. Tetapi sebelum dia bisa melakukan apapun, Krystal sudah menariknya kembali ke kasur, hingga dia terbaring di atasnya.

“Rambutku masih basah, Soojung-ah,” Sica beralasan.

“Rambutmu akan segera kering, unnie. Aku ingin tidur denganmu. Ayolah, kamu akan segera menikah, unnie. Aku tidak bisa tidur dengan bebas dengamu lagi nanti.” Gadis yang lebih muda itu berkata dengan semangat.

Sica hanya bisa tersenyum mendengar permintaan adiknya. “Alright my big baby. Let’s go to sleep.” Sica mendorong tubuhnya ke bawah selimut. Mereka berdua saling berhadapan satu sama lain dengan senyuman terulas di wajah.

“Unnie.”

“Hmm?”

“Unnie.”

“Hmm?”

“Unnie.”

“Ya, Soojung-ah?”

“Unnie.”

“Ada apa, Soojung-ah?”

Krystal menggelengkan kepalanya. “Hanya ingin memanggilmu,” dia tersenyum.

Sebuah senyuman segera terlihat di wajah Sica, tersentuh akan kata-kata adiknya. “Kemarilah,” Sica menarik Krystal di bahunya agar dia mendekat padanya dan kemudian memeluknya. Krystal dengan mudahnya merapat manja pada Sica, lengan melingkari tubuh gadis yang lebih tua.

“Unnie.” Krystal memanggil lagi.

“Hmm?”

“Bisakah kamu tidak menikah saja?”

“Mengapa kamu bertanya seperti itu?”

“Aku akan sangat merindukanmu, unnie.” Krystal mempererat pelukannya pada Sica. “Aku akan merindukan ini.”

“Aku juga, Soojung-ah.”

“Jadi?” Krystal menatap ke arah wajah Sica. “Bisakah?”

Sica menggelengkan kepalanya pelan.

Krystal menundukkan kepalanya. Wajahnya berubah muram. “Kau selalu ada untukku, unnie. Apa yang harus kulakukan jika kau sudah menikah?”

Sica mengarahkan kepalanya menghadap adiknya. “Aku akan selalu ada untukmu, Soojung-ah. Tidak peduli apapun. Aku adalah unniemu dan tidak ada apapun yang bisa mengubahnya.”

“Bahkan setelah kamu memiliki anak?” Krystal bertanya untuk mendapatkan konfirmasi.

“Bahkan setelah aku memiliki cucu, Soojung-ah.”

“Sebenarnya aku berpikir untuk menjadi perawan tua bersama denganmu, unnie,” Balas Krystal.

Sica tertawa. “Silly,” dia mengacak-acak rambut Krystal. “Bagaimana mungkin kamu menjadi seorang perawan tua? Kamu terlalu cantik untuk menjadi seorang perawan tua, Soojung-ah. Ada banyak sekali pria yang berbaris menunggu menjadi kekasihmu.”

“Tunjukkan padaku barisannya, unnie. Aku tidak melihat barisan apapun.” Krystal membalas sambil dia merapikan kembali rambutnya yang berantakan.

“Itu hanya sebuah analogi, Soojung-ah,” Sica terkekeh.

“Aku tahu,” Krystal ikut terkekeh. “Unnie.”

“Ya?”

“Aku harap kau bahagia,” kata Krystal dengan tulus.

Sica tersenyum dan memeluk adiknya lebih erat. “Tidur, Soojung-ah,” dia menepuk lembut kepala adiknya itu.

“I love you, unnie.”

“I love you too.” Dia mengecup dahi adiknya dan terlelap tidur.

***

“Bagaimana kabarnya, ahjumma?”

Ny. Kwon menggeleng sedih. “Dia tidak mau keluar kamar sejak dua hari yang lalu. Dia bahkan tidak menyentuh makanannya sama sekali.

Sooyoung mendesah. Dia bisa mengerti mengapa Yul seperti ini, tetapi tidak seharusnya Yul menyiksa dirinya sendiri seperti ini.

“Bisakah kau melakukan sesuatu?” Ny. Kwon bertanya dengan tatapan khawatir.

“Aku akan berusaha semampuku, ahjumma.” Sooyoung menunjukkan senyumannya.

“Terima kasih, Soo.” Wanita paruh baya itu menepuk lengannya, tidak bisa meraih bahunya yang tinggi. “Hari ini adalah hari pernikahannya, bukan?”

“Iya, ahjumma.”

“Apakah kamu akan datang?”

Dia mengangguk. “Kekasihku adalah sahabat dari pengantin prianya,” dia menjelaskan dengan beribu maaf.

“Ohh. Jangan merasa bersalah. Yul hanya perlu mengatasi perasaannya,” Ny. Kwon berkata dengan bijak. “Maukah kau menyampaikan salamku untuknya? Aku berharap dia bahagia.”

“Aku akan menyampaikannya, ahjumma.”

Sooyoung kemudian mengetuk kamar Yul untuk melakukan misinya terhadapnya. Setelah tidak mendapatkan jawaban apapun dari dalam, dia mencoba untuk membuka pintu kamar tersebut. Untung saja pintunya tidak dikunci. Dia melangkah masuk menuju ruangan yang gelap. Satu-satunya manusia di dalam ruangan itu sedang berbaring di kasurnya, earphone di telinganya dengan mata tertutup.

Sooyoung berjalan menuju sisi kasur dan menarik earphone darinya. Pria yang sedang berbaring itu menyentakkan kepalanya pada Sooyoung yang sedang menatap dengan heran. “Apa yang kau lakukan disini?!” teriak Yul.

“Halo? Dan apa yang kau lakukan sendiri, Yul?” Sooyoung bertanya balik dengan sarkastik.

“Itu bukan urusanmu. Kembalikan earphoneku,” dia mencoba untuk meraihnya tetapi pria yang lebih tinggi tidak membiarkannya untuk menang.

“Kamu adalah sahabatku.”

“Tinggalkan aku sendiri.” Dia menutup dirinya kembali dengan selimut.

Sooyoung belum menyerah. Dia menarik selimut dari atas tubuh sahabatnya.

“Aku tidak menerima tidak untuk perhatianku. Bangun, Yul!”

“Pergilah, Soo!”

“Mengapa kamu seperti ini, Yul? Ini semua karena dirinya bukan?”

“Lalu apa?” Yul membalas ketus.

“Dia akan menikah hari ini, for godsake. Apa kamu akan tetap seperti ini?”

“Aku tahu. Kau tidak perlu mengingatkanku,” dia membalas dengan ketus lagi.

“Pikirkan ibumu, dia sangat khawatir akan dirimu, Yul!”

“…”

“Pikirkan dirinya, Yul. Kamu tidak bisa tetap seperti ini. Kau satu-satunya yang dia miliki. Kamu harus hidup, Yul.”

Sooyoung menghela nafas panjang setelah tidak mendapatkan tanggapan dari sahabatnya. “Aku percaya dirimu, Yul. Kamu akan melakukan hal yang benar.” Sooyoung menepuk bahu temannya itu sebelum berjaan pergi.

“Tapi rasanya benar-benar menyakitkan, Soo. Masih sangat menyakitkan. Bahkan setelah berbulan-bulan.” Yul berbicara dengan suaranya yang pecah yang menghentikan langkah sahabatnya. Pria tinggi itu berbalik.

“Aku…Aku…Aku tidak bisa,” Yul tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena air mata sudah bercucuran dari matanya.

“Lepaskan saja, Yul. Lepaskan semuanya,” Sooyoung memeluk sahabatnya hingga dia berhenti menangis.

“Ini memalukan,” Yul berkata di sela-sela isakannya.

Sooyoung tertawa. “Kau aneh.”

“A man should never cry on his bestfriend’s shoulder,” dia menjelaskan.

“Itu bahkan lebih aneh.”

“Bisakah kau berhenti bicara seperti itu?”

“Tapi kau memang seperti itu, Yul.”

“Huh?”

“It’s okay to cry,” kata Sooyoung

Yul menatap heran sahabatnya.

“You know, sometimes a man’s tear will make him stronger to move on from his past, to survive the present and to take a leap in the future.”

“Aku tidak tahu kalau dirimu bijak, Soo.”

“Yah!” Sooyoung menjitak kepala Yul. “Itulah mengapa kau harus lebih memberi perhatian padaku.”

“You’re tiredly annoying, Soo. I just can’t bear it.”

“Yah!” Sooyoung menjitak kepalanya lagi untuk kedua kalinya.

Mereka berakhir dengan saling mengejek dan berbaring di kasur setelah berkeringat.

“Apa kamu akan pergi malam ini?” Yul memandang kosong langit-langit sambil berkata demikian.

Walaupun sahabatnya tidak bertanya dengan jelas namun Sooyoung mengetahui apa yang dia maksud. “Yeah. Sunny adalah sahabatnya. Aku tidak mungkin membiarkannya pergi seorang diri,” Sooyoung menjelaskan.

“Ooh.”

“Apa kau ingin datang?” Sooyoung bertanya dengan hati-hati.

Yul segera menggelengkan kepalanya. “Kau bilang sendiri. Aku harus hidup. Datang sama saja dengan bunuh diri untukku,” Yul menjawab sambil tertawa garing.

“Yeah. Pabo me.”

“Indeed.”

“Yah!” Itu adalah ketiga kalinya Sooyoung menjitak kepala pria yang lebih pendek darinya yang berakhir dengan saling ejek lainnya di hari itu.

***

“Kau terlihat sangat cantik, unnie,” Krystal berkata pada pengantin di hadapannya.

“Kamu lebih cantik, Soojung-ah,” balas Sica. Dia memaksakan sebuah senyuman di wajahnya. Adiknya tidak boleh melihat hatinya yang sengsara. Dia harus terlhat bahagia di depan semua orang hari itu.

Krystal bagaimanapun tetap bisa melihatnya. “Apa kau baik-baik saja, unnie?”

Sica mengangguk dan memaksakan sebuah senyuman lagi. “Aku baik-baik saja. Jangan khawatir.”

“Kau yakin?” Krystal masih belum yakin.

“Kenapa tidak?” Sica berpura-pura tersenyum lagi.

“Baiklah kalau begitu.” Krystal tidak memaksa Sica lebih jauh.

“Apa kau sudah siap?” Sebuah suara yang dalam membuat Sica dan Krystal sama-sama memutar kepala mereka. “Sudah waktunya,” katanya lagi.

“Aku akan pergi dulu, unnie, Dad.”

Setelah Krystal pergi, Tn. Jung menghampiri putri tertuanya. “Kau terlihat cantik,” katanya yang hanya mendapatkan tatapan megejek dari putrinya. Walaupun begitu dia tidak peduli dan mengulurkan tangannya. Sudah saatnya untuk pergi.

Sica menghela nafas sebelum akhirnya melingkarkan lengannya di sekitar lengan ayahnya dan berjalan keluar dari ruangan.

Selamat tinggal, Yul.

To be continued…

Double update yaa~

Advertisements

Author: 4riesone

SONE. Follow me on Twitter @4riesone for updates and questions

56 thoughts on “Love between Dreams (Chapter 14)

  1. Annyeong …..
    Waduh nie chap trbrat … selamat tinggal sica ….!!! U,u
    Next >>

  2. Gue harap taengsic bahagia 😀
    Begitu jg yul .haha
    Ok next ..

  3. Sakit bgt jadi yul. Soo sahabat yg slalu ada. Sebelum nikah flashback dulu.

  4. Annyeong Sakit huaaa yul kasian gak bisa komentar bangak SAKIT. . . .

  5. Annyeong,,,,,
    hadeuhhhhhhh yulsic sm2 trskti,,,,,
    Buat ap taengsic nikah tp cmn taeng yg cnta sdngkn sica tdk,,,,sma aj taengsic yul sling trskiti,,,,
    Huffff bngng dech,,,,,bnr2 mngras emsi bca nya,,,,
    lnjut chingu,,,,,,
    Gomawo,,,

  6. yul opppa semangat ya…
    ini bukan akhir dari segalanya…
    yul oppa harus busa move on, ingat ada me.kwon yang membutuh kan mu…
    kebahaguan itu pasti datang oppa, mungkin bukan bersama sica onnie..
    mungkin bisa jadi fanny onnie (ngarep) 🙂
    lanjut chingu…
    ditunggu ya..

  7. Taeng sabar banget sih udah tau sicca nya gak cinta sama lu akang ??? Tapi mungkin pelan2 sicca suka kali yah sama taeng ??? Itu pun kalau jadi nikah nya sih 😀 😀 kacian yul nya #poorYul

  8. bener2 dah ini part nyakitin, ikut mewek masa di part Yul sm Soo TT
    *pukpukin Yul

  9. Huaaa gwe benci mr jung gwe benci si taeng argghhhh
    Yulsicnya kasian..yul ayo dong dateng ga2lin prnikahan sica…
    Thor ko jd kaya gini sih 😥 😥
    Taeng udh deh nyerah aj jgn maksain sica..

  10. hrus smpai disinikah yulsic

  11. G rela bgt taengsic bkln merit
    mdh2n pernikahannya batal..amin
    *maaf y klo readersnya jahat abzn g tega m yuri yg sgtu menderitanya

  12. Taengsic No!
    Yulsic Yes! :v

  13. Ga ngerti lagi dengan jalan critanya
    Gabisa di tambahin cast gtu
    Biar adil wkwkwkwkw
    Lanjut dahh

  14. jgn bilang ending na yulsic,??jgn dund thor??
    ga yakin nie taengsic jd nikah…w takut taeng terlalu baik trz nyerahin sica k yul d hari pernikahan na??please thor rubah semua imajinasi w thor dan jdkan nie taengsic

  15. waaah apa taengsic
    bkl bnr” menikah
    mga ya wkwkwkwk

    n buat yul bs menemukan
    cinta yg bru

  16. gatau pokoknya ga suka taengsic. gue ga suka semua yg di couplein sama sica. gue sukanya yulsic

  17. Sica beneran nikah sama tae tuh?udah fix banget?gabisa ditunda2? terus Yuri gimana, ahh kenapa jalannya terlalu susah. Kasian yuri u.u

  18. bingung, mau senang atau sedih… suka sama TS tapi kasian yulpaaa 😦
    semoga move on ya oppa.

  19. anyeong..reader batu thorrr..n baca part 14 ini…aduhhh yulsic sad ending ya thor??? T.T
    hrus baca part awal ni..sica nikah m tae??? hufff gw sih yulsicshipper tp yulti jg gpp hahaa
    lanjut thorr

    • annyeong!!! semangat ketemu reader baru hahaha
      ngga sad ending kok, tenang2, i’m a happy author, ga bakal bikin sad ending haha

  20. Gw sedih baca part ini huaaa yulsic gw udah beneran nggak bkalan bsa sama” lagi nih..

  21. Semoga prnikahannya lancar,,,, iya yul masi ada hyo,, hahah

  22. whooaaaa sica loe bneran tega bngt sm yul hikss….
    udh deh lbh baik taeng aja yg gagalin tuh pernikhan trus sica di balikin lg ke yul#bikn crita sndri

  23. Ya ampun jd sdih gni,tae baek n care ya ma sica,lok di stage mlah kbalikanx,tae dingin ma sica,pdhl yg ice princes kn sica ckck

  24. Miris melihat sica tapi taeng selalu datang buat sica memang cinta tak bisa dipaksakan vutuh waktu lama,bentar lg taengsic akan menikah

  25. Saya harap sica jgn kembali lagi ke yul semoga bahagia sica.. Hbis ini yul juga bakal bahagia karna kehadiran fany.. iya kan thor..
    Hehehe

  26. kuatkan sica taeng,q th qm pasti bisa.yul hrs cpt bangkit…

  27. taengsic ngingat moment masa lalu masing”. jungsis bikin sweet moment terus deh. yul.. tabahkan lah hatimu, ini hanya ff, jadi di kejadian nyata kau tetap yul nya sica. taengsic nikah juga pada akhirnya.

  28. nyesek nih yulsic akhirx pisah juga…
    gak sanggup thor…

  29. nyesek di part ini. apa di part lanjutan nya akan lebih baper lagi?.
    hhhhh…. semoga aja ga. semoga taeng ga tersakiti. part ini udah buat aku terkena kejala asma. semoga part2 selanjut nya ga kejutan yg membuat aku terkena penyakit asma. 😁😁

Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s