rara0894

All about TaeTiSeo and GG

Love between Dreams (Chapter 13)

52 Comments

Title        : Love between Dreams

Author   : 4riesone

Genre     : Romance, Gender bender

Cast        : 

 Jessica Jung

 Kwon Yuri

 Kim Taeyeon

 Girls’ Generation members and other

LxD cover 2

The Brokenhearted

Seorang wanita muda sedang duduk seorang diri di sebuah kafe, menikmati makan siangnya yang tenang dengan ditemani segelas jus apel. Dia mengunyah makanannya perlahan sambil mencoret-coret sesuatu di tabletnya. Tiba-tiba saja dia mendengar seseorang berteriak dari arah seberang mejanya.

“Kwon Yul! Dengarkan aku!”

Itu adalah suara seorang wanita.

Dengan penuh rasa ingin tahu, dia memperhatikan pasangan tersebut dari jauh. It was quite a drama. Entah mengapa dirinya merasa kasihan pada si pria. Pria itu ditingalkan oleh wanita tadi sendirian disana. Dan sangat jelas terlihat kalau pria itu tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja.

Dia menggelengan kepalanya. “Pasangan sekarang ini.” Dia memutuskan untuk tidak ikut campur dan melanjutkan kegiatannya kembali. Tiba-tiba, handphonenya bergetar dan membuyarkan perhatiannya dari pekerjaan yang sedang dilakukannya.

“Halo,” gadis itu menyapa dengan gembira orang yang meneleponnya. Dia mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan orang tersebut. “Sekarang?” dia bertanya setelah mengerti apa yang diinginkan orang itu.

“Okay. Aku akan segera kesana. Tunggu aku.” Dia mengakhiri panggilan telepon tersebut dan menaruh barang-barangnya kembali ke dalam tasnya. Dia sudah ingin meninggalkan kafe ketika dirinya kembali melihat pria yang sama. Pria itu belum juga pergi dan terlihat seperti sedang menangis. Dia berpikir sejenak kemudian mencari sapu tangannya di dalam tas.

“Ini.” Sebuah lengan terulur di depan pria itu dengan sebuah sapu tangan di tangan.

Pria itu perlahan menengadahkan kepalanya dan melihat ke arah orang di hadapannya sebelum mengambil kain persegi tersebut.

Dia secara tidak sadar tersenyum. Seseorang sudah membantu pria itu. Jadi dia pun meletakkan kembali sapu tangannya ke dalam tas dan berjalan keluar dari kafe, tidak lupa untuk memandang terakhir kali pada pria yang menyedihkan itu.

***

“Bagaimana kau bisa ada disini?” Yul bertanya di sela-sela isakannya.

“Hanya lewat di depan kafe ini dan ingin mencoba makanannya tapi ternyata aku melihat kau sedang menangis sendirian disini.” Wanita berambut pirang itu menjawab dengan acuh tak acuh.

“Maaf.”

Hyoyeon hanya berkata ‘sshh’ sambil mengibaskan tangannya. “Bukan masalah besar.”

Yul tersenyum pahit.

“Apakah ini karena Sica?” Hyoyeon akhirnya bertanya. Jika Yul menangis, hanya ada dua alasan, ibunya atau kekasihnya. Dia mencurigai bahwa alasan terakhirlah yang menjadi penyebabnya.

“Kami putus.”

Hyoyeon terkejut medengar berita itu. Dia tidak menyangka bahwa Sica akhirnya menyerah pada ayahnya, dan tidak secepat ini juga.

“Maafkan aku, Yul,” Hyoyeon berkata dengan menyesal.

“…”

“Aku akan mencoba berbicara padanya. Mungkin aku bisa melakukan sesuatu.” Hyoyeon menawarkan.

Tetapi Yul menggelengkan kepalanya lemah. “Terima kasih, Hyo. Tapi menurutku itu tidak akan mengubah apapun.”

“Setidaknya kamu harus mencoba sesuatu, Yul. Apa dia memberitahumu alasannya?”

“Tidak. Dia meninggalkanku begitu saja,” jelasnya dengan pahit.

“Tidakkah kamu ingin mengetahui alasannya?”

“Aku tidak tahu,” jawab Yul dengan pelan. “Aku mungkin terlalu membosankan untuknya. Atau terlalu clingy? Aku tidak tahu. Dia pernah sekali mengatakan kalau aku terlalu mudah ditebak, Ya, mungkin itulah alasannya mengapa dia bisa dengan mudah mengakhiri hubungan kami.”

“Tidak, Yul. Bagaimanan mungkin dia putus dengan pacarnya selama bertahun-tahun hanya karena dirimu mudah ditebak. Itu sama sekali tidak masuk akal. Aku bersumpah pasti bukan seperti itu,” kata wanita berambut pirang itu.

“Apa kau mengetahui sesuatu?”

Tapi wanita itu menggeleng dengan penuh rasa sesal. “Dia tidak pernah memberitahuku detailnya. Tapi jikapun aku mengetahuinya, aku tidak seharusnya memberitahumu. Itu adalah tugasnya. Atau tugasmu untuk mencari tahu darinya sendiri.”

“Jadi, kamu tidak akan memberitahuku?”

“Maaf, Yul,” Hyoyeon berkata dengan halus.

Yul berpikir selama beberapa menit sebelum menanyakan pertanyaan lain. “Haruskah aku bertanya padanya?”

“Manakah yang kamu pilih? Sedih tanpa mengetahui dalam ketidakpastian? Atau mencari tahu kebenarannya?”

***

Setelah percakapannya dengan Hyoyeon, Yul mencoba untuk menelepon Sica teteapi seluruh panggilannya ditolak atau diabaikan. Pesannya pun tidak pernah mendapatkan balasan. Seraya tiap menit berlalu, perasaannya yang hancur pun bertambah parah. Hatinya terasa sakit.

Saat matahari tenggelam, dia sudah tidak bisa menahannya lagi dan berencana untuk pergi ke rumah Sica untuk menemuinya namun sadar bahwa itu tidak mungkin. Dia tidak akan pernah bisa menyentuh rumahnya. Dia terlarang disana.

Merasa putus asa, dengan penuh rasa sakit hati dia membawa tubuhnya kembali ke rumah malam itu. Dia memutuskan untuk mencoba menemui Sica kembali esok hari. Dia pergi ke kantornya dengan harapan bisa bertemu dengannya. Dia tinggal disana dari pagi hingga malam hari tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Sica.

Dia datang lagi keesokan harinya dan hari setelahnya. Dia juga mencoba untuk mengunjungi sungai yang biasa tapi Sica tidak ada dimanapun dan panggilan serta pesannya pun tidak pernah dijawab.

Usaha terakhir datang pada hari keempat setelah Yul hampir mengabaikan segalanya dalam usaha pencariannya, dia akhirnya pergi ke rumahnya. Baru saja dia sampai di gerbang depan, petugas keamanan sudah melarangnya untuk masuk.

“Yah, lepaskan aku. Aku harus membicarakan sesuatu dengannya,” Yul mencoba untuk melepaskan diri dari para laki-laki berbadan besar itu.

“Kami sudah memperingatkanmu untuk tidak datang,” salah satu petugas keamanan berkata.

“Kenapa?!!! Aku bukan seorang kriminal. Biarkan aku masuk!!” Yul berteriak pada mereka.

“Kami minta maaf. Tapi kamu tidak bisa masuk apapun alasannya.”

Yul merasa sangat tidak berdaya. Dia mencoba untuk berlari melewati para penjaga tetapi percuma saja. Mereka bahkan mengancam akan menelepon polisi jika dia tidak segera pergi.

Dari jauh, ada seseorang yang sedang melihat dari dalam sebuah mobil sedan putih. Setelah banyak pertimbangan, dia akhirnya menginjak pedal dan berhenti tepat di depan rumah besar itu. Dia membuka jendela di kursi penumpang.

Yul menyadari sinar yang datang dari mobil dan terkejut atas kehadirannya yang tiba-tiba.

“Masuklah,” kata Sica.

“Apa yang kamu lakukan disini?” Dia bertanya setelah Yul masuk ke dalam mobil.

“Aku ingin bertemu denganmu. Kenapa kamu tidak menjawab teleponku?” Yul bertanya balik.

“Aku sibuk,” dia berbohong, separuh berbohong. Dia memang sedang sibuk, atau lebih tepatnya, mencoba untuk membuat dirinya sibuk. Pekerjaannya bisa meringankan rasa sakit akibat terpisah darinya. Setidaknya dia tidak perlu berhadapan dengan rasa sakit di hatinya sepanjang hari. Jadi dia melakukan apa saja yang dia temukan, bahkan pekerjaan yang paling kecil sekalipun yang biasanya dikerjakan oleh asistennya. Tetapi sebenarnya bukan itulah alasan utama mengapa dia mengabaikan Yul.

Dia tidak bisa menghadapinya.

Yul pasti akan menuntut alasan darinya, ketika pada kenyataannya satu-satunya alasan yang dia miliki hanya akan lebih menyakitinya. Dia tidak bisa memberitahukannya.

Ketika dia melihat Yul di depan rumahnya, dia tahu bahwa dia tidak bisa lagi menghindarinya sebelum Yul melakukan sesuatu yang gila yang bisa saja menyakiti dirinya sendiri.

Sica menghentikan mobilnya di tepi jalan.

“Apa yang ingin kamu ketahui?” tanya Sica.

“Alasanmu, Sica.”

“Apa itu penting?”

Yul menatap dengan tidak percaya padanya. “Kamu memintaku untuk melepaskanku tanpa menjelaskan apapun. Apa kamu pikir aku bisa melakukannya? Apa kamu pikir aku akan melakukannya?”

Sica mengangguk.

“A—apa?!” dia berteriak dengan tidak percaya.

“Aku mohon padamu, Yul, Please,” suaranya bergetar. “Ini tidak mudah untukku juga. Tapi aku harus. Untuk—.”

“Jangan katakan apapun. Jangan bicara seperti kamu tahu apa yang terbaik untukku!!” Yul meledak, kesabarannya sudah habis.

“Aku melakukan apa yang terbaik untukmu, Yul.”

“Tidak, kamu tidak!! Kamu tidak, Sica. Ini bukanlah yang terbaik untukku. Seharusnya kamu tahu itu!!” Yul meninggikan suaranya.

“Yul, please,” dia memohon pelan.

“Aku tidak bisa Sica. Kamu adalah hal terbaik untukku. Jika itu bukan kau, maka itu bukanlah yang terbaik. Mengapa kamu tidak bisa memahaminya?” Yul berkata dengan frustasi sambil mencoba mengatur nafasnya, emosinya sudah meluap-luap dalam tubuhnya. “Tidakkah kamu tahu betapa berartinya dirimu untukku, Sica?” Suaranya mulai kembali melembut.

“Yul… Aku…” Sica menatap Yul. Mata coklatnya menunjukkan isi hatinya. Dia benar-benar terluka dan hancur. Tetapi Sica juga tidak boleh mengalah, dia tidak boleh membiarkan perasaannya mengalahkan pikirannya. “Ini benar-benar yang terbaik untukmu, Yul.” Sica mencoba untuk menjelaskan kembali.

Kata-kata itu memicu kembali emosinya. “Cukup, Sica! Cukup! Aku tidak mau mendengarnya lagi,” dia memberikan tatapan yang begitu tajam padanya. “Dan kita tidak putus. Titik.”

Yul membuka pintu mobil untuk melangkah keluar namun berhenti ketika dia mendengar suara isakan dari dalam mobil.

“Aku akan segera menikah, Yul.”

Akhirnya Sica memberitahunya.

***

“Tolong hibur dirinya. Dia sudah seperti ini berhari-hari,” Ny. Kwon berkata pada pria tinggi itu.

Sooyoung sedang mengunjungi rumah Yul. Dia khawatir setelah mengetahui kondisi sahabatnya itu. Dia tidak menjawab telepon ataupun pesannya. Dia tidak pergi bekerja juga. Pada dasarnya dia menutup dirinya dari dunia luar.

Untung saja Yul mengakhiri masa isolasinya setelah ibunya bersusah payah untuk membujuknya.

“Hey, Yul,” Sooyoung menepuk pundak sahabatnya yang sedang duduk itu. Dia terlihat seperti zombie. Sangat pucat dan berantakan.

“…”

“Aku sangat khawatir, Yul.”

Pria tinggi itu duduk di sebelahnya. Yul menyandarkan tubuhnya ke sofa. Tatapannya begitu kosong. Kantung mata dapat terlihat jelas di bawah matanya akibat tangisan yang tiada akhir dan tidur yang sama sekali tidak nyenyak.

“Kamu bisa memberitahuku apapun, Yul.” Sooyoung bicara lagi.

“…”

“Baiklah, jika kamu tidak ingin mengatakan apapun. Aku akan menemanimu disini. Aku tidak ingin sahabat baikku menjadi seorang zombie berjalan.” Dia mencoba untuk bercanda sedikit namun tidak berhasil.

Setelah satu jam duduk disana tanpa petunjuk apapun, Sooyoung berbicara lagi.

“Yah, Yul!” dia mengibaskan tangannya di depan temannya yang seperti zombie itu. “Apa kau baik-baik saja? Tolong katakan sesuatu. Aku tidak datang kesini untuk diabaikan olehmu sepanjang hari.”

“Tentu saja aku tidak baik-baik saja, pabo.” Yul akhirnya membuka mulutnya.

“Wah. Kau masih hidup. Terima kasih Tuhan. Di sepanjang hidupku, ini pertama kalinya aku merasa senang dipanggil pabo.”

“Mungkin karena memang kau bodoh.”

“Yah! Kau beruntung kau sudah seperti zombie saat ini atau kau akan mati!!”

“Kamu tidak akan pernah bisa melakukannya padaku, shikshin.”

“Lihat saja, Kwon Yul!” Sooyoung mengancam dengan benda terdekat yang bisa diraihnya, sebuah pisang.

Yul akhirnya bisa tertawa, walaupun tidak dengan sepenuh hati, tapi itu masih merupakan sebuah tawa, dari sesorang yang sudah hampir tidak bernyawa. Itu sudah baik.

“Jadi apa yang terjadi, Yul?”

Ekspresi Yul berubah muram kembali. Dia masih bisa mengingat dengan jelas kata-kata Sica. Sebuah kalimat yang menghentikan pikirannya, seperti gravitasi sudah tiada lagi. Dia tidak yakin lagi mengapa dia hidup. Sica akan segera hidup. Tapi bukan dengan dirinya, melainkan dengan pria lain. Tidak pernah di mimpi terburuknya sekalipun dia membayangkan hal seperti ini terjadi. Tetapi terkadang realitas lebih buruk dari mimpi itu sendiri.

“Aku putus, Soo.”

“Apa?!” Sooyoung benar-benar berteriak padanya.

“Sshh!!” Yul menutup mulutnya dengan tangannya. “Calm down, will ya?”

“Maaf. Ini terlalu mengejutkan. Aku pikir kalian berdua baik-baik saja.”

Yul mengangguk setuju. “Aku juga berpikir seperti itu, Soo. Percaya aku.”

“Jadi kenapa?”

Yul menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin membicarakannya. Memikirkannya saja sudah menyakitinya.

“Baiklah.” Sooyoung mengerti permintaannya. Walaupun dia tidak pernah mengalami sesuatu seperti yang terjadi pada Yul sekarang ini, tetapi dia bisa membayangkan betapa rasa sakitnya. Terlebih lagi Yul dan Sica sudah bersama untuk waktu yang lama.

Sooyoung mencoba untuk meneruskan percakapan mereka. Dia membicarakan apapun, dia mencoba untuk mengeluarkan candaan terbaiknya, untuk menghiburya. Namun berita dari televisi menyela mereka.

“Sekarang kami laporkan mengenai pasangan terbaru dari dunia bisnis. Putri grup multinational, Jeguk Corp., Jessica Jung akan segera mengikat janji dengan putra kedua perdana menteri kita, Kim Taeng. Berita ini disampaikan pada perayaan pertunangan mereka hari ini. Perwakilan mereka menyampaikan bahwa acara yang membahagiakan itu akan diadakan dua bulan dari sekarang, pada tanggal 20 Februari.”

Rahang Sooyoung menganga setelah melihat berita itu. Dia berdiri dan melihat sahabatnya. Berbeda dengan dirinya, Yul terlihat tenang.

“Apa ini, Yul? Apa ini alasannya kalian putus? Dia akan menikah dengan orang lain? Dalam dua bulan?” Soyoung bertanya pada Yul dengan geram.

Yul tidak menjawabnya tetapi masuk ke dalam kamarnya. Sooyoung takut kalau dia akan kembali mengunci dirinya lagi. Namun tidak lama kemudian, Yul keluar dari kamarnya dengan sebuah amplop di tangan.

“Aku mendapatkan ini di pertemuan terakhirku dengannya,” dia memberikan amplop itu pada temannya.

Sooyoung ragu-ragu tetapi kemudian mengambilnya pelan-pelan, membukanya dengan hati-hati. Dia menari sebuah kertas tebal, sesuatu yang terlihat seperti sebuah undangan. Dia kemudian membacanya dan matanya hampir saja jatuh dari rongga matanya.

“Apa dia memberikannya padamu? Apa dia gila?!”

“Yeah, nyatanya dia melakukannya.”

Sooyoung menengadah dari kertas di tangannya dan menatap Yul dengan tatapan seperti dia sudah kehilangan pikirannya. “Mengapa kamu begitu tenang seperti ini, Yul? She is your girlfriend!”

“She was, Soo. Was. Tidak lagi.” Yul menjawab tanpa semangat.

Sooyoung tidak bisa menahan amarahnya. Bagaimana bisa kamu melakukan ini pada Yul, Sica?”

“Bagaimana bisa dia melakukan ini padamu? Dan sekarang muncul di berita dengan senyuman seperti ini. Benar-benar keji.”

“Jangan berkata seperti itu, Soo. Sudah seharusnya seperti itu. Lagipula itu adalah hari pertunangannya.”

“Kwon Yul!” Sooyoung berteriak lagi. “Apa kamu sudah kehilangan akal sehatmu? Mengapa kamu membelanya? Dia tidak pantas menerimanya. Dia menyakitimu, Yul!”

“Sshh! Kamu benar-benar berisik, Soo.”

“Kwon Yul!”

“Do you have to be such a pain, huh? Just shut up your mouth!” Yul membalas. Dia jelas-jelas merasa sangat terganggu dengan temannya itu. Dia berjalan menuju kamarnya, tidak ingin lagi mendiskusikan apapun dengan temannya.

Sooyoung menjadi semakin jengkel atas sikap acuh Yul.

“Okay. Just love her blindly like you always do. Aku tidak peduli, Yul.”

Yul berhenti.

“Aku sudah memperingatkanmu sebelumnya. Dia tidak akan melepaskan kekayaannya. Selalu seperti itu, Yul. Bangunlah. Ini bukan dongeng atau drama romantis di TV. Ini adalah kehidupan nyata, Yul.”

“Tidak, kamu salah, Soo.” Yul berkata dengan tegas.

“Dia sudah membuktikannya, Yul. Buka matamu!”

“Kamu salah!!” Yul berpaling menghadapnya. Suaranya begitu keras dan jelas.

“Mengapa kamu begitu buta Yul? Dia meninggalkanmu untuk pria itu!! For godsake,” Sooyoung mengatur nafasnya. Persistensi temanya tidak membuatnya mudah sama sekali.

“Memang benar dia meninggalkanku. Tapi dia tidak seperti itu, Soo. Aku tahu dia jauh lebih baik dari itu.” Sikap Yul sudah melembut.

Sooyoung menunggu untuk Yul menerusan.

“Dia sudah menunjukkan padaku bahwa kekayaan bukanlah segala-galanya baginya. Itu ketika 6 bulan sejak Sica dan diriku resmi berpacaran.” Yul melanjutkan. “Ayahnya tidak setuju dengan hubungankami. Dia dijaga oleh banyak sekali penjaga setelahnya dan tidak bisa menemuiku bahkan sekalipun. Tetapi satu hari, dia meninggalkan rumah dan segala yang dimilikinya. Dia memilih untuk meninggalkan segala yang dia miliki,” Yul menatap sahabatnya, “hanya untuk aku. Pria miskin ini.”

“Tapi tetap saja…”

“Tidak, Soo. Aku pikir aku sudah mengatakannya padamu. Aku percaya padamu. Dia tidak akan meninggalkanku hanya untuk uang semata. Dia tidak seperti itu.”

Sooyoung terdiam. Mungkin apa yang dikatakannya benar, Yul memang mengetahuinya lebih baik daripadanya.

“Jadi apa kita baik sekarang?” tanya Yul.

Sooyoung tersenyum. “Maafkan aku, Yu.”

Yul memeluk sahabat tingginya itu. “Tidak apa-apa, Soo. Aku tahu kamu marah karena kamu peduli padaku. No one can resist me.”

Sooyoung tertawa. “Bragging dork.” Dia melepaskan temannya itu. Temannya sudah terlihat lebih baik sekarang, tapi Sooyoung tahu Yul masih memiliki kesedihan di balik topeng tenangnya itu. Dia hanya berharap agar temannya itu dapat segera membaik.

To be continued…

Nah loh nah loh… Taengsic udah mau nikah aja nih hahahaha menurut kalian tepat ga keputusan sica utk kasih tahu yul? dan apa keputusan yul utk cari tahu itu tepat??? dan apa yang bakal dilakuin yul selanjutnya ya?? hmmm tell me your guess ^^ btw, siapakah cewe misterius di awal chapter ini?? hahahaha ayo dikomen ya .. for a better story ~ thank you semua, see ya ^^

PS: jangan lupa vote snsd di MAMA ya ^^ http://mama.interest.me/2014mama/vote

Advertisements

Author: 4riesone

SONE. Follow me on Twitter @4riesone for updates and questions

52 thoughts on “Love between Dreams (Chapter 13)

  1. aduh chingu..
    makin sakit hati aja gue baca nya..
    sumpah gue benci banget sama sica onnie disini..
    chingu pliase buat yul oppa jadi orang yang terkenal dan kaya raya terus buat dia ketemu sama fanny onnie..
    buat yul oppa bahagia kalau berada didekat fanny onnie..
    buat sica onnie sakit hati dan menderita karena uda buat hal kayak gitu sama yul oppa..
    yul oppa semangat ya, jangan terlalu sedih..
    semuanya akan indah pada waktunya..
    fanny onnie pliase keluar, buat yol oppa bahagia..
    lanjut chingu..
    ditunngu ya..

  2. gue maunya yulsic pleaseee. udah krisis ff yulsic masa mau di taengsicin ga rela.

  3. jadi berkaca2 gini kan matanya, ikut sakit masa huhu *peluk abang Yul
    Yul perjuangin Sica please! gagalin pernikahannya. Yul fighting!
    kalo gue nebaknya cewe itu Fany?

  4. Annyeong,,,,,
    Hadeeuuhhhhh akhirnya sica ksh tau alsan ny tp cmn blng dia mau nikaj,,tnpa pnjlsan pnjng lbr laen nya,,,,tp yul tau sica pnya alsan laen yg lbh bsa d mngrti,,,,
    Smga wnta it fany,,,klw nnti nya yul jd trknal biarkan dia brshbt dngn fany,,,,dan taengsic jngn smpai nkah dlu,,,,ttp aj d tnggu akhir nya yulsic & taeny,,,krna mrka sdh hrga mti eeeeaaaaaa,,,
    Hahaha next dech chingu
    Gomawo,,

  5. Ciee taengsic udah tunangan~, Ciee Yul sakit hati~, Ciee cieee~ (??)

  6. Yah knp hrs taengsic, knp gk Yulsic aja:(
    poor yul, udh kyk zombie.
    Cewe itu fany?

  7. Annyeong …..

    Yaah ,.. ini lah yng terbaik yul ,klian harus berpisah… hhaa
    Mulai kehidupan baru yul ,dengan cinta yng baru kaaan … wkwk gtu aja udh,jngan maksa kan keadaan nanti kmu mkin terluka …. *eaaa
    Cewe itu fany kali atau gak Yoona deh,gak mngkin gw kan .. wkwk *peace

    Ksih pencerahan deh next chap ,dtunggu aja ….
    SEMANGAAAAAAAAT !!

  8. Kasian bngt yul daddy.. Ooo sica mommy jgn smpe khilaf pilih oom tae.. Msih brhrap ini yulsic. Klw ini taengsic selamat mlm aja, gue menghilng -___-

  9. Semakin seruu ajah ,Ending’a ma siapa ajahlah walo disini gue tetep dukung taeng oppa 😀
    lanjutlah ..

  10. Harus yulsic p0k0nya yulsic gak boleh taengsic huaaa sedih bacanya. TIFFANY?

  11. Y ampun sadis bgt caranya sica ngo k yuri
    Cm ngejelasin klo dy mw merit
    mdh2n sica nnt nya bkl nyesel

  12. pasti itu tiffany
    makin seru ceritanya lanjut thor

  13. Waw,
    sica se ‘kecil’ itukah cintamu untk yul?
    Knapa dgn mudahx kau melepaskan yul!
    Kejamnya dirimu., #Mulayy -_-

    saya harap yul bsa dpat cwe yg lebih baik,
    buat sica menyesal sampe jadi gila :v #kejamamat :v #ahbiarin -_-

  14. taengsic gk boleh nikah.yul perjuangkan cintamu rebut sica.yulsic thor harus yulsic

  15. Arggggghhhh hiks hiks kasian bgt abang kwon d tnggalin sma sicababy huhhuhu
    Yul jgn biarin sica nikah sama taeng.ayo rebut sica dari taeng yul ayooooo hehe
    Thor ini yulsickan?bkn taengsickan?pokoknya hrus yulsic gwe gk mo tau#maksa haha
    Ini smua gra2 si mr jung dia emg Kejem bgt dah.gwe benci errrr
    Cewe misteriusnya ffany bkn? Moga aja ffany biar nanti dia ktemu ama taeng trus mreka berdua saling suka jd nggk gangguin yulsic…
    D tunggu nextnya thor…

  16. lbh cpt y lbh baek dr pd mnyakiti.tp jd sdh nh hiks hiks.. cwe misterius itu fany bkn thor.udh tae m fany aj thor…

  17. gw harap yg ceweknya itu si yoona hhahahaah

  18. Gak nyangka sih kalo jadinya bakal kaya gini, tapi cepat atau lambat sica emang harus ngasih tau yul dan yul juga perlu alasannya…
    Tapi kasian yul kek gaada semangat buat hidup lagi u.u taeng gabisa apa bantuin sica buat balik lagi ke yul…pfftt
    Cewe misterius??saputangan pink kan ya, apa mungkin fany??.-.

  19. haduuuhhh thor please jgn pisahin yulsic donk, sica tuh cm bwt kwon yul gak boleh yg laen, titik gak pake koma
    ayolah kwon yul km hrs dapetin sica lg, kwon yul fighting
    taeng jgn mau lah merid sm sica, bantuin sica balik lg deh sm yul ya ya ya…..

  20. tepat thor,,tp kok ga ad moment taengsic cey??acra pertunangan na bsk yg d jabarin lagi hhe,,
    fany kah yg ngasiih saputangan??

  21. Bawa msukk tiffany (?)
    Kesian yul sih tpi gimna
    Lnjut dah

  22. Tepat tepat ajja dah buat taengsic mah uhuuyy,,,,
    Yul emg bijaksana,,

  23. Aduh q gak tw apa tepatx,yg pling Tepat mnurutq mrk ber3 sma2 trsakiti,yul? Np dy hrus kismi sih,jarang2 snsd brperan miskin,tp pa krn dy yg emg miskin mmbwat dad jung gak nerima dy? Msh penuh misteri,
    sica? Dy emg dilema,sprtix dy punya ksepakatan ya ma dadx,pa yg sbnerx yg ngbiayain ny kwon tu dadyx? Mkx dy rela ptusin yul n mnikah ma tae,
    tae? Ah lo emg baek bnget bocah imut,lo ngrti bnget posisi jess n lo gak egois,tp lo mw krn jess mnyruh lo brthan,moga jd awal yg baek,
    prasaan pjg amat komenq,udh dlu

  24. Cobaan utk yulsic dlm hubungannya hancur hati yul mendengar pengakuan sica yg akan menikah hik hik hik yg sabar ya yul😯

  25. Haduh haduh….
    Gak tega liat yul..
    Sica jahat bangt…klok begini lebih ikhlas yul sama fany aja.

  26. q bingung g th hrs gmn?lanjut aj…

  27. yul…. kenapa dirimu dan sica harus tersiksa seperti itu.. appa sica jahat banget, tapi gapapa kalo keduanya bahagia dijalan masing-masing

  28. itu fany ya yang mau ngasih sapu tangan tapi keduluan sama hyo?
    sica udah mau tunangan dan yuri pun merana…

  29. disini bukan hanya yul yg tersakiti. sica juga sakit begitupun dgn taeng dia juga sakit, karna harus melihat wanita ygdi cintai terluka. dan dia ada di antara yulsic.

Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s