rara0894

All about TaeTiSeo and GG

Dear Mom (Chapter 15)

105 Comments

Title       : Dear Mom

Author  : rara0894

Genre    : Family, gender bender

Cast       :

Seo Joo Hyun as Kim Joo Hyun

Tiffany Hwang/ Hwang Miyoung

Kim Taeyeon

Jessica Jung/ Jung Sooyeon

Kwon Yuri

And other cast

CYMERA_20140711_052021

       Pagi kembali datang dengan sebuah harapan besar yang diinginkan, harapan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya, harapan untuk menjalaninya dengan mudah dan mendapatkan sebuah kebahagiaan. Itulah keinginan seorang manusia disetiap hari-harinya, dan itu juga yang sangat diinginkan Taeyeon. Dia tidak sabar ingin melihat istrinya saat membuka mata dan akan selalu berada disisinya. Namun sayang, saat ini dia tertidur lelap disamping istrinya yang kini berada diambang kesadaran seraya menggenggam tangannya.

       Tiffany perlahan membuka matanya yang terasa begitu berat, tapi dia terus berusaha untuk tetap terjaga karena tidak ingin memejamkan matanya lebih lama lagi. Buram, itulah yang terlihat olehnya pertama kali saat dia membuka mata. Hingga tidak lama kemudian pandangannya semakin jernih sehingga bisa melihat dengan jelas. Tiffany bisa merasakan seseorang menggenggam tangannya, dengan sangat perlahan dia mengarahkan pandangannya kearah samping untuk mengetahui siapa pemilik tangan yang menggenggamnya erat. Terukir senyuman lemah diwajah cantiknya, tangannya yang bebas berusaha untuk mengusap rambut lelaki yang berstatus sebagai suaminya itu.

Taeyeon membuka matanya kemudian langsung menegapkan tubuhnya saat meresakan usapan yang begitu dirindukannya.

” Miyoung-ah, kau sudah bangun? ” Ujar Taeyeon lirih dengan membingkai wajah Tiffany yang masih pucat. Dia tidak lagi bisa membendung air matanya, menangis bahagia melihat istrinya yang kini membuka mata.

” Taetae.. ” Tiffany melihatkan senyumannya yang semakin membuat air mata Taeyeon keluar dengan derasnya. Dikecupnya wajah istrinya itu berkali-kali dengan perlahan, takut jika itu menyakiti Tiffany karena selang oksigen masih bertengger dihidungnya.

“gomawo karena kau sudah kembali sayang, aku begitu merindukanmu. Kau tega sekali melakukan ini padaku ” Taeyeon masih terisak yang kini memeluk istrinya dengan erat.

” Kau kenapa Tae? Kenapa menangis? ” Tanya Tiffany yang bingung dengan suaminya.

” Kau tidak tahu bagaimana perasaanku saat melihatmu bersimbah darah dijalan, melihatmu terbaring lemah dengan berbagai alat ditubuhmu dan kau terus memejamkan matamu selama sebulan. Kau membuatku takut Miyoung. Aku takut kau meninggalkanku ” Ujar Taeyeon seraya mengusap air matanya seperti anak kecil.

” Kenapa kau berbicara seperti itu Tae? Aku tidak akan meninggalkanmu ” Tiffany mengernyit sakit saat dia bersuara. Tubuhnya masih terasa lemah dan sakit. Taeyeon panik saat melihat wajah Tiffany yang menahan kesakitan.

” Kwenchana? Kau merasa kesakitan? ” Tanya Taeyeon yang khawatir.

” Hanya sedikit. Aku tidak apa-apa sayang ” Tiffany mencoba untuk membuat Taeyeon tidak mengkhawatirkannya. Dia begitu sedih melihat penampilan suaminya. Berantakan dan lebih kurus, wajahnya jelas terlihat menirus. Dia mengulurkan tangannya untuk mengusap pipi Taeyeon, kemudian berusaha beralih melingkari leher suaminya itu. Taeyeon yang mengerti mendekatkan wajahnya kemudian mengecup bibir yang pucat itu.

” Kau menggoda ku? ” Tanya Taeyeon yang kini mengecup kedua pipi Tiffany.

” Kau terlihat berantakan dan terlihat kurus ” Tiffany menatap sedih pada Taeyeon. ” apa kau sering melewatkan jam makanmu? Apa kau tidak merawat dirimu dengan baik? ” Dia kembali bertanya.

” Perasaanmu saja sayang. Tidak usah dipikirkan. Yang terpenting saat ini adalah kesehatan dan kesembuhanmu ” ujar Taeyeon dengan lembut, kemudian mengecup dahi istrinya itu dengan sayang. Sudah tak terhitung ciuman yang didaratkan diwajah istrinya itu karena begitu merindu yang dirasakan.

” Tae, Joohyun dimana? Kenapa aku tidak melihatnya? ” Jantung Taeyeon berdetak cepat saat pertanyaan itu terlontar. Pertanyaan yang sudah bisa ditebak Taeyeon sebelumnya yang akan terucap dari bibir Tiffany jika istrinya itu sudah sadar. Taeyeon tidak tahu harus menjawab apa yang membuat Tiffany merasakan sebuah keganjilan. Apa yang terjadi? Apa Joohyun baik-baik saja? Itu yang terlintas dibenak Tiffany. Itu juga membuatnya teringat dengan mimpi yang terasa nyata untuknya.

” Tae, Joo- ” Tiffany menghentikan kata-katanya saat pintu kamar inapnya terbuka.

” Eonnie sudah bangun? ” Yoona menghampiri dengan sedikit tergesa dan langsung memeluk Tiffany dengan erat. Taeyeon menghela napasnya, setidaknya untuk saat ini dia sedikit tenang dan juga bisa
memanfaatkan waktu untuk mencari jawaban yang tepat jika Tiffany kembali bertanya.

” Syukurlah kau baik-baik saja eonnie, aku begitu takut dan sedih melihatmu seperti ini ” Yoona terisak.

” Aku tidak apa-apa Yoong, jangan menangis. Aigo, kenapa kalian berdua begitu cengeng eoh? ” Yoona dan Taeyeon mengerucutkan bibirnya secara bersamaan membuat Tiffany tertawa lemah.

” Itu karena kami sangat mengkhawatirkanmu miyoungie ” Ujar Taeyeon yang mengusap rambut Tiffany dengan sayang, kemudian beralih menatap Yoona ” Kau akan melakukan pemeriksaan? ” Tanya Taeyeon yang mendapatkan anggukan dari Yoona.

” Oppa, sarapanlah dahulu selagi aku dan beberapa dokter lainnya memeriksa keaadaan eonnie, kau belum makan dari tadi malam bukan? ” Ujar Yoona.

” Wae? Aku ingin menemani istriku disini ” jawab Taeyeon yang merajuk.

” Kau belum makan taetae? ” Tanya Tiffany yang membuat Taeyeon salah tingkah. Dia tahu, Tiffany akan marah jika mengetahui kalau dia melewatkan jam makannya.

” Lebih baik sekarang kau sarapan, aku tidak ingin kau sakit Tae ” ujar Tiffany dengan begitu perhatian membuat hati Taeyeon kembali menghangat yang sebelumnya terasa dingin dan mati.

” Aku akan sarapan setelah Yoona memeriksamu ” Tiffany menggeleng, mengatakan jika dia menolak. ” Aku tidak ingin jika kau disini dengan perut kosong, kau bisa kembali jika kau sudah sarapan ”
ujar Tiffany dingin yang membuat Taeyeon harus mengalah.

” Apalagi pemeriksaan akan sedikit lama oppa, sarapanlah dahulu. Nanti aku akan memberitahukan semuanya ” ujar Yoona yang membuat Taeyeon menghela napas beratnya.

” Kau tidak membantu Yoong ” ujar Taeyeon memberikan tatapan tajamnya yang membuat Yoona tertawa.

” Ya sudah, aku sarapan dahulu ” Taeyeon kembali mengecup dahi Tiffany. ” Love you ” Tiffany tersenyum yang membuat matanya juga ikut tersenyum saat Taeyeon membisikan kata-kata cinta ditelinganya.

” Love you too ” Balas Tiffany. Sedangkan Yoona yang berada diantara mereka hanya memutar bola matanya saat melihat pasangan suami istri tersebut.

” Keluar sana ” Yoona mendorong Taeyeon agar segera keluar dari kamar.

” Ya! Awas kau! ” Taeyeon memberikan tatapan tajamnya dan melangkah keluar yang membuat Tiffany dan Yoona tertawa.

 

-Dear Mom-

       Cahaya terang menembus kaca besar yang menghubungkan kamar Yuri dengan balkon membuatnya kini mulai terjaga dari tidurnya. Kepalanya masih terasa begitu berat saat mencoba membuka mata dan perutnya kembali terasa aneh. Dengan susah payah Yuri bangkit dari tidurnya kemudian berjalan sempoyongan menuju kamar mandi, kembali memuntahkan semua yang ada didalam perutnya dan kali ini hanya cairan saja yang keluar. Tubuhnya kembali lemas, cairan tubuhnya sudah banyak keluar sehingga dia tidak memiliki tenanga untuk berjalan. Bahkan berdiripun tidak bisa dilakukannya. Dia hanya menyandarkan tubuhnya kedinding, terus berusaha menormalkan napasnya yang tidak beraturan seraya menutup matanya karena merasakan pusing dikepalanya.

“ Yul? “ dia bisa mendengar seseorang yang memanggil namanya. Sangat familiar, dan Yuri teringat jika tadi malam suara itu juga terdengar jelas oleh pendengarannya.

“ Apakah ini nyata? Ataukah aku masih berhalusinasi? “ batinnya yang masih tidak percaya jika suara wanita yang begitu dicintainya itu terdengar begitu jelas.

“ Yul? “ suara itu kini terdengar panik, Yuri bisa mendengar langkah kaki yang tergesa menuju kamar mandi tempat dia terduduk lemas saat ini.

“ Omo! Yul, kwenchana? “ Jessica melangkah lebih cepat lagi untuk menghampiri Yuri yang kini hanya diam seraya menatapnya dengan pandangan yang terlihat masih belum percaya jika dia memang Jessica.

” Kau kembali muntah? ” Jessica mengusap dahi Yuri yang berkeringat. Yuri masih saja diam, dia bisa melihat kekhawatiran dari wajah Jessica. apakah ini nyata? hanya itu yang terus ada dibenaknya.

” Yul, kenapa kau diam saja? apa kau merasa sakit? ” Jessica kembali bertanya yang juga tidak mendapatkan jawaban dari Yuri. Jessica mengabaikan itu untuk sementara, berusaha tidak terganggu dengan sikap yang ditunjukkan Yuri untuk saat ini. Yuri terlihat begitu lemas dan dia harus segera membawa pria itu kembali ke ranjang.

” Kajja, kita kembali kekamar ” Yuri menurut, Dia berusaha untuk berdiri dengan dibantu oleh Jessica yang kini mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menahan beban tubuh Yuri. Sesampainya dikamar, Jessica membantu Yuri untuk kembali berbaring.

” Apa yang kau rasakan Yul? ” tanya Jessica dengan lembut seraya mengusap rambut Yuri yang kini menatapnya.

” Apa ini nyata? kau benar-benar Sooyeon? ” Yuri balik bertanya yang mengabaikan pertanyaan Jessica tadi. Mata Jessica kembali memanas dibuatnya, tatapan yang menyedihkan dari mata Yuri ingin membuatnya menangis.

” Aku benar-benar Sooyeon yul, aku sudah mengatakan dari semalam bukan? ” Jessica berusaha tersenyum dengan bibir yang sedikit bergetar, berusaha untuk menahan tangisannya.

” Benarkah? ” Yuri bertanya lirih dengan matanya yang mulai memerah. Hatinya yang sebelumnya terasa mati dan dingin kini kembali terasa hidup, walaupun belum sepenuhnya.

” Apa yang bisa kulakukan agar kau mempercayainya? ” Jessica menatap Yuri dengan lekat, menggenggam tangan pria itu dengan erat namun begitu menghangatkan. Yuri tidak menjawab, hanya setetes air yang keluar dari matanya dengan wajah yang datar. Menangis dalam diam. Tangan Jessica yang lembut terulur untuk menghapus air mata itu.

“ kenapa kau menangis? Tanya Jessica dengan lembut.

” Bi-bisakah kau memelukku? ” tanya Yuri dengan ragu.

” Tentu ” dengan segera Jessica membaringkan tubuhnya disamping Yuri, menarik Yuri untuk bersandar ditubuhnya. Dipeluknya lelaki itu dengan erat, berusaha menghangatkan kembali tubuh dan hati yang sebulan ini membeku. Yuri membalas pelukan Jessica, melingkarkan tangan kekarnya dipinggang ramping itu dan berusaha untuk mencari kembali kehangatan yang sempat hilang dan tidak pernah lagi dirasakan.

“ Mianhe.. Aku sudah menyakitimu. “ ujar Jessica dengan lirih. “ maukah kau memaafkanku? “ Jessica menunduk untuk menatap Yuri yang bersandar didadanya.

“ Akulah yang seharusnya meminta maaf, aku sudah menyakiti perasaanmu dengan kata-kataku. Maaf, aku sama sekali tidak bermaksud untuk membuatmu tersakiti “ ujar Yuri yang kini menatap mata Jessica dalam. Seolah meyakinkan jika dia merasa bersalah dan masih mencintai Jessica dengan sepenuh hatinya.

“ Ani, aku tidak merasa sakit hati. Aku hanya terpancing emosi saat itu “ Jessica menggeleng, mengatakan jika itu bukanlah kesalahan Yuri. “ kenapa kau meninggalkanku begitu saja malam itu dan tidak pernah lagi menemuiku?” Tanya Jessica seraya mengusap rambut Yuri yang kini sedikit lebih panjang, membuat lelaki itu semakin terlihat berantakan.

“ Maaf.. aku merasa kau membenciku dan tidak ingin lagi aku berada disisimu. Aku merasa aku hanya pengganggu dihidupmu dan selalu membuatmu bersedih Sooyeon-ah. lebih baik aku tidak lagi menemuimu jika aku hanya bisa membuatmu semakin besedih dan semakin membenciku “ Jessica semakin mengeratkan pelukannya, dia tidak lagi bisa menahan air matanya yang ingin keluar sejak tadi.

“ Siapa yang mengatakan seperti itu? Apa aku pernah mengatakannya? “ Yuri menggeleng.

“ Kalau begitu jangan pernah kau berprasangka seperti itu tentangku. Sedikitpun aku tidak pernah merasa jika kau pengganggu dihidupku Yul. Memang awalnya aku begitu membencimu karena masa lalu kita, tapi setelah kau kembali datang dan aku bisa merasakan jika kau benar-benar ingin berubah walaupun aku sempat menepisnya. Itu membuat kebencianku terhadapmu semakin berkurang hingga kebencian itu hilang tidak berbekas. Jadi jangan lagi seperti ini. Jangan lagi kau pergi untuk yang kesekian kalinya. Apa kau ingin kembali menyakitiku? ” Yuri menggeleng keras. Dia melepaskan pelukan Jessica, mensejajarkan wajahnya dengan wajah cantik wanita itu. Menatap mata itu hingga kedalamnya, seolah berusaha menyatukan perasaan yang terus ada dihati mereka. Tangan Yuri terulur mengusap pipi putih Jessica dengan lembut. Sejenak Jessica memejamkan mata, menikmati kehangatan telapak tangan yang kini mengusap lembut pipinya. Jessica kembali membuka mata saat Yuri kembali berkata.

” Aku tidak ingin dan tidak akan pernah lagi menyakitimu karena aku sangat mencintaimu. Sangat mencintaimu Jung Sooyeon” Yuri menegaskan empat kata terakhir itu, meyakinkan Jessica jika dia serius dengan perkataannya. Perlahan Yuri mendekatkan wajahnya, mereka bersamaan memejamkan mata saat bibir mereka menyatu. Mencari kehangatan yang begitu dirindukan, mencari kepastian rasa yang mereka inginkan dan mereka yakin, mereka masih saling mencintai. Rasa itu masih melekat dihati masing-masing. Salah satu dari mereka tidak akan lagi menepis, tidak akan lagi bermain peran yang akan menyakiti.

” Aku juga.. Sangat mencintaimu Kwon Yuri ” ya, Jessica tidak ingin lagi membohongi diri jika dia mencintai seorang pria bernama Kwon Yuri. Cinta pertama dan akan menjadi cinta untuk yang terakhir kali walaupun Taeyeon sempat singgah dihatinya. Namun di bagian terdalam, nama Yuri masih melekat sempurna dihatinya. Mereka akan kembali memulai, kembali membuka lembaran baru untuk kebahagiaan mereka kedepannya.

 

-Dear Mom-

       Taeyeon menduduki dirinya dibangku koridor rumah sakit. Tepatnya tidak jauh dari kamar rawat Tiffany, menunggu Tiffany yang kini sedang diperiksa oleh beberapa dokter untuk memastikan keadaanya. Taeyeon kini sibuk dengan pikirannya. Memikirkan apa kata-kata yang harus dipersiapkan jika Tiffany menanyakan keberadaan anaknya. Taeyeon menghela napas berat, mengusap wajahnya yang mendung. Dia tidak akan tahu apa yang akan terjadi nanti jika dia mengatakan semuanya. Apakah dia harus berbohong? Haruskah kembali melakukan kesalahan? Semua pilihan yang ada untuknya berisiko tinggi. Jika dia mengatakan yang sebenarnya, Tiffany pasti akan marah padanya. Jika dia menutupinya, cepat atau lambat Tiffany pasti akan mengetahui semuanya. Dia juga tidak akan bisa terus membohongi Tiffany karena itu juga akan semakin membebani dirinya sendiri. Mungkin Tiffany akan lebih marah lagi. Ini benar-benar sebuah keputusan yang berat. Sekali lagi, dia menghela napas beratnya.

Baiklah, keputusanku sudah bulat. Tuhan, mungkin ini adalah keputusan yang terbaik ” Taeyeon sudah memutuskan dan dia harus siap menerima apapun yang terjadi nanti. Matanya reflek mengarah kepintu kamar rawat Tiffany yang dibuka oleh seseorang. Seketika Taeyeon berdiri saat beberapa dokter keluar dari kamar Tiffany. Dengan segera Taeyeon menghampiri Yoona dan rekan-rekannya itu.

” Bagaimana dengan keadaan Tiffany Dokter Im? ” Tanya Taeyeon dengan sopan karena Yoona sedang bersama dokter lainnya.

” Lebih baik kita bicarakan di ruangan saya saja ” ujar Yoona dengan wibawanya. Taeyeon menyembunyikan senyumannya katika Yoona bersikap seperti yang terlihat olehnya saat ini. Menurutnya begitu aneh karena biasanya Yoona akan bersikap seenaknya jika bersama Taeyeon. Disaat itu juga, seseorang datang menghampiri mereka. Sooyoung baru saja sampai karena ingin mengetahui keadaan Tiffany. Ya, sebulan ini Sooyoung sering datang kerumah sakit untuk membantu Taeyeon menjaga Tiffany jika kakak sepupunya itu harus meninggalkan istrinya. Bahkan Sooyoung hampir setiap hari datang walaupun Taeyeon tidak memintanya. Itu dilakukannya karena dia begitu mengkhawatirkan keadaan kakak iparnya itu.

” Sooyoung-ah, tolong jaga Tiffany sebentar. Aku harus keruangan Dokter Im untuk membahas keadaan Tiffany ” Ujar Taeyeon yang mendapatkan anggukan dari Sooyoung.

” Baiklah ” jawab Sooyoung.

” Saya permisi Tuan Choi ” Yoona membungkukkan tubuhnya dan diikuti oleh rekan-rekannya. Sooyoung menatap Yoona dengan aneh, kemudian dia bisa menangkap senyuman jahil dari dokter muda itu. Sooyoungpun membalas membungkukkan tubuhnya dengan sopan.

” Kau bisa melihat senyuman jahilnya bukan? ” Taeyeon tertawa menggeleng kemudian melangkah menyusul para dokter yang sudah dahulu melangkah.

” Heol! ” Sooyoung memutar bola matanya kemudian berjalan memasuki kamar Tiffany. Dia bisa melihat jika Tiffany sedang memejamkan matanya. Wanita itu tertidur setelah dokter memeriksa keadaannya. Sooyoung berjalan menuju sofa dengan hati-hati agar tidak menimbulkan kebisingan atau apapun yang akan membuat Tiffany terjaga dari tidurnya. Selama menunggu Taeyeon dan Tiffany yang tertidur, Sooyoung menyibukkan dirinya dengan ponsel ditangannya untuk menghilangkan kebosanan.

Di sisi lain, Seohyun masih menutup matanya yang terpejam dari semalam, wajahnya dan bibirnya pucat. Disaat tidurpun begitu jelas jika raut wajahnya terlihat kesakitan. Begitupun dengan tubuhnya yang sedikit bergetar karena kedinginan. Dia hanya terus bermenung dan melewatkan jam makannya. Diapun tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Hyoyeon dan Nayeon yang mengkhawatirkan keadaannya. Sudah berkali-kali mereka membujuk agar Seohyun mengisi perutnya namun hanya gelengan yang terus mereka dapatkan sebagai jawaban. Seohyun begitu terlihat menyedihkan, terlihat ada sebuah tekanan yang dialaminya hingga kesehatannya menurun. Ya, sejah dia meminta Izin kepada Hyoyeon untuk pergi keluar, sepulangnya Seohyun langsung mengurung diri. Tidak ingin berkata sedikitpun apa yang terjadi selama dia pergi.

” Appa, bagaimana ini? Dari semalam panasnya belum juga turun ” ujar Nayeon dengan nada khawatir seraya mengusap dahi Seohyun.

” Jangan khawatir, Seohyun pasti akan segera sembuh. Kita harus terus berjaga-jaga dan merawatnya dengan baik “ Ujar Hyoyeon yang mencoba menenangkan anaknya yang khawatir pada Seohyun yang kini menjadi saudaranya, mengusap punggung anaknya dengan lembut.

“ Menurut appa, apa yang terjadi dengan Seohyun kemarin saat dia pergi? Kenapa sampai dirumah dia murung dan mengurung diri dikamar? “ Nayeon menatap wajah Seohyun yang pucat.

“ Appa juga tidak tahu sayang, Seohyun sedikitpun tidak mau menceritakan apa yang terjadi padanya “ jawab Hyoyeon.

“ Apa ada orang jahat yang menyakitinya? “ Hyoyeon mengangkat bahunya untuk menjawab pertanyaan anaknya.

“ Appa tidak tahu, mudah-mudahan saja itu tidak benar. Ya sudah, kau disini saja untuk menjaga Seohyun. Appa harus kembali bekerja, jika ada apa-apa dengan Seohyun segera panggil appa, arraseo? “ Nayeon menngangguk menuruti perkataan ayahnya.

“ Cepatlah sembuh Seohyun, aku sedih melihatmu seperti ini “ ujar Nayeon dengan lirih seraya menggenggam tangan Seohyun yang dingin.

 

-Dear Mom-

       Hampir setengah jam berlalu, akhirnya Taeyeon kembali kekamar Tiffany. Sooyoung yang menyadari kedatangan Taeyeon kini melupakan ponselnya.

” Bagaimana hasil pemeriksaan Tiffany ? ” Tanya Sooyoung yang terus menatap Taeyeon yang melangkah menduduki dirinya dibangku yang ada disamping ranjang Tiffany.

” Tiffany tidak apa-apa Soo, tidak ada luka serius atau apapun yang akan menganggu atau memperburuk kesehatannya. Hanya saja Tiffany akan merasakan sakit dikepalanya karena benturan yang terjadi. Namun itu tidak akan berlangsung lama dan Tiffany akan melakukan Fisioterapi untuk memulihkan pergerakannya yang kaku agar kembali normal. Bisa diprediksi jika Tiffany akan sembuh total dengan cepat ” Taeyeon mencium dahi Tiffany dengan sayang, dia bersyukur karena tubuh Tiffany tidak lagi dipenuhi alat kedokteran yang tidak dia mengerti. Hanya selang oksigen dan infus yang kini bertengger dihidung dan salah satu tangan Tiffany yang lemah. Walaupun cukup membuatnya lega, namun tidak menghilangkan rasa kesedihan dan kekhawatirannya melihat keadaan Tiffany saat ini. Taeyeon melangkah menjauhi Tiffany dan memilih untuk duduk disofa, disamping adik sepupunya itu.

” Syukurlah kalau begitu, aku cukup lega sekarang “ Sooyoung menghela napasnya.

“ Ne, akupun begitu ” Taeyeon menyandarkan kepalanya dikepala sofa. Saat ini kepalanya terasa begitu berat, begitu banyak yang harus dipikirkannya. Begitu banyak beban yang harus ditanggungnya, walapun kini sedikit berkurang setelah mendengar apa yang dikatakan Yoona tentang kesehatan Tiffany.

” Kau baik-baik saja? ” Sooyoung yang melihat raut Taeyeon membuatnya sedikit khawatir.

” Ne ” Jawab Taeyeon singkat. Sooyoung tidak lagi bertanya, dia bisa menerka jika sepupunya itu sedang banyak pikiran. Keheningan tercipta selama beberapa menit hingga Sooyoung kembali bersuara.

” Taeyeon-ah ” panggilnya.

” Hmm? ” Hanya itu respon Taeyeon yang membuat Sooyoung sedikit ragu untuk melanjutkan pertanyaan yang ada dibenaknya pada Taeyeon.

” A-apa yang akan kau katakan jika Tiffany menanyakan keberadaan Joohyun ” Sooyoung bertanya dengan hati-hati. Taeyeon menghela napasnya, mengusap wajahnya yang kini kembali mendung. ” Apa Tiffany menanyakan Joohyun saat dia terbangun? ” Pertanyaan kembali terlontar. Kini Taeyeon menganggukkan kepalanya yang membuat Sooyoung melebarkan matanya. Wajahnya terlihat tegang, mencoba menerka apa yang dijawab Taeyeon saat Tiffany menanyakannya.

” Lalu a-apa jawabanmu? ” Sooyoung merasa jantungnya sedikit berdetak lebih cepat menunggu apa yang akan dijawab Taeyeon atas pernyaannya tadi.

” Untung saja Yoona datang ke kamar untuk memeriksa keadaan Tiffany hingga dia tidak sadar jika melupakan pertanyaannya tadi ” Sooyoung tidak merasa tenang walaupun tahu Tiffany melupakan
pertanyaannya.

” Tiffany pasti akan kembali menanyakan jika dia sudah bangun ” ujar Sooyoung yang mendapatkan anggukan dari Taeyeon. ” Lalu apa yang akan kau katakan nanti? “

” Aku akan mengatakan semuanya ” jawab Taeyeon.

” Ma-maksudmu? ” Sooyoung masih belum mengerti atas jawaban Taeyeon.

” Ya, aku akan mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak akan bisa untuk berbohong “

” Apa tidak apa-apa? Apa kau tidak berpikir jika itu akan membuat Tiffany marah besar? ” Sooyoung kembali bertanya.

” Lebih baik aku mengatakan yang sejujurnya daripada aku harus membohonginya Soo. Tiffany pasti akan lebih marah lagi jika aku membohonginya. Dua kesalahan yang akan membuatnya tersakiti, dan aku tidak mengingankan itu. Satu kesalahan sudah terjadi, dan aku tidak ingin menambahnya lagi ” Taeyeon menghela napas beratnya seraya memijit dahinya yang terasa sakit. Sooyoung mengerutkan dahinya, tampak sedang memikirkan sesuatu.

” Kalau kau mengatakan jika Joohyun berada di panti asuhan bersama ibunya bagaimana? ” Sooyoung memberikan masukan. Taeyeon menggeleng, tidak setuju dengan saran yang diberikan sepupunya itu.

” Aku tidak mungkin mengatakan seperti itu sedangkan Joohyun tidak berada di Panti asuhan “

” Dimana Joohyun Tae? ” Sebuah pertanyaan dari satu suara itu membuat Taeyeon dan Sooyoung melebarkan matanya, mereka terkejut dengan jantung yang kini berdetak cepat. Apakah pemilik suara itu mendengar semua pembicaraan mereka? Dan haruskah Taeyeon mengatakan yang sebenarnya?

“ Mi-miyoung-ah “ Panggil Taeyeon dengan gugup, wajahnya terlihat tegang saat Tiffany menatapnya. “ ka-kau sudah bangun? “ Taeyeon melangkah untuk berada disamping istrinya itu. Taeyeon tidak lagi bisa menyembunyikan kegugupan dan ketakutannya, Tiffany bisa menangkap jika ada sesuatu yang disembunyikan Taeyeon darinya tentang Seohyun.

“ Tae- “ Perkataan Tiffany terhenti saat Taeyeon kembali berkata.

“ Apa kau sudah merasa baikan? “ Taeyeon berusaha untuk mengalihkan, namun Tiffany tidak bodoh. Dia tahu jika Taeyeon mencoba untuk mengalihkan topik dan mengabaikan pertanyaannya.

“ Aku tahu, kau menyembunyikan sesuatu dariku Tae. Jawab pertanyaanku, dimana Joohyun? “ ujar Tiffany dengan lemah, namun penuh dengan ketegasan yang membaut jantung Taeyeon semakin berdetak cepat. “ Jawab aku Kim Taeyeon “ Tiffany menekankan suaranyadan Taeyeon tidak bisa lagi untuk mengelak.

“ Joo-Joohyun.. “ Taeyeon menggantungkan perkataannya karena berusaha untuk menghirup udara sedalam-dalamnya.

“ Katakan padaku Taeyeon “ Tiffany kembali bersuara seraya menatap Taeyeon dengan lekat.

“ Joohyun.. a-aku tidak tahu keberadaannya. Dia memutuskan untuk pergi dari rumah “

 

To be continued…

Anyeong..!!! *bow

oke, gue mau cuap dikit ya..

waktu publish DM chapter 13 dan 14, pengunjung di wp ini banyak banget, hampir 500-an.. baru kali ini loh terjadi di  wp gue hahahha, biasanya paling banyak itu 250-an..  tapi kenapa komennya dikit ya?? apalagi di chapter 14. apa ceritanya ga bagus atau gimana?? gue jadi kurang semangat  buat nulis karena komennya sedikit di chapter 14. hmm.. beberapa hari yang lalu gue berpikir disaat gue lagi bengong dengan mulut menganga bahkan lalat udah menginap buat tidur dimulut gue #plaaaak   dan gue mendapatkan ilham, apa gue harus protect untuk chapter selanjutnya?? gue masih menimbang-nimbang.. jadi gue udah membuat keputusan, kalau dichapter ini komennya sedikit, maka gue bakalan protect chapter selanjutnya.. tapi kalo banyak komennya, ga bakalan gue protect.. tapi liat situasi, kalo gue laik baik, ga bakalan gue protect. tapi kalo jiwa evil gue lagi keluar hmmm.. kalian pasti tau jawabannya hahahaha  #nyengirkuda

gimana gimana gimana??? pasti kalian setuju semua.. iya kan iya kan??

jadi untuk yang silent reader, kalau bisa komen dichapter ini, walaupun baru komen sekali gpp.. bakalan tetap gue kasih passwordnya karena komentar-komentar kalian semua adalah penyemangat gue untuk terus menulis 🙂   dan gue sangat berterima kasih pada kalian yang selalu komentar di wp gue, gue ga tau harus balas dengan apa, yang bisa gue lakukan hanya terus menulis dan menulis dengan lebih baik dari sebelumnya. BIG HUG buat readers setia gue..!!! ayo sini guee peluk…!!!! hahahha

okeeeh.. hanya itu cuap2 gue.. jangan lupaa komentarnya untuk chapter ini ya.. gue butuh kritik dan saran agar gue bisa menulis lebih baik lagi… byebyeeee..!!!! *bow

Advertisements

105 thoughts on “Dear Mom (Chapter 15)

  1. huaa gmn ntar reaksi ppany

  2. Jadi yul itu cinta pertama nya sica? Kalo jodoh emang ga kemana wkwk
    Semoga seo cepet sembuh dan semoga reaksi fany baik

Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s