rara0894

All about TaeTiSeo and GG

Dear Mom (Chapter 14)

53 Comments

Title       : Dear Mom

Author  : rara0894

Genre    : Family, gender bender

Cast       :

Seo Joo Hyun as Kim Joo Hyun

Tiffany Hwang/ Hwang Miyoung

Kim Taeyeon

Jessica Jung/ Jung Sooyeon

Kwon Yuri

And other cast

CYMERA_20140711_052021

” Apa yang terjadi Yoong? Tiffany baik-baik saja bukan? ” Taeyeon melepaskan pelukan Yoona, jantungnya semakin berdetak cepat. apa yang terjadi dengan istrinya?

“Eonnie.. Sudah sadar ” Taeyeon membuka rahangnya, keterkejutan dan kebahagian dihati yang bercampur aduk membuatnya hanya bisa menganga.

” Ka-kau tidak bercanda kan yoong? Katakan padaku sekali lagi ” Taeyeon mengguncang bahu Yoona yang menangis bahagia.

” Iya oppa, Eonnie sudah sadar dari komanya ” Ujar Yoona seraya menghampus air matanya. Dia begitu bahagia dan lega karena Tiffany yang sudah siuman.

” Tuhan, terima kasih karena kau sudah mengabulkan doaku ” Ujar Taeyeon dengan suaranya yang bergetar. ” Dan terima kasih untukmu Yoong, kau sudah melakukan yang terbaik untuk istriku. Terima kasih banyak ” Taeyeon memeluk Yoona, menepuk lembut kepala adiknya itu dengan sayang. Hatinya begitu bahagia, ini adalah sebuah keajaiban dalam kehidupannya. Tiffany kembali sadar, Tiffany akan kembali bersamanya.

” Ne oppa, aku bahagia melihatmu kembali ceria seperti dulu dan pasti aku juga bahagia karena fany eonnie kembali bersama kita ” Yoona kembali menitikan air matanya.

” Uljima.. ” Taeyeon menghapus air mata Yoona. ” Kajja, Aku ingin melihat Tiffany ” merekapun masuk kedalam kamar rawat Tiffany, mendekati Tiffany yang masih tertidur karena pengaruh obat yang diberikan Yoona.

” Eonnie dalam pengaruh obat tidur, mungkin besok pagi dia akan bangun dari tidurnya ” ujar Yoona yang terus memandangi Tiffany yang terlihat sedikit kurus, wajahnya juga terlihat pucat.

” Gomawo karena kau kembali Miyoung-ah. Aku merindukanmu, sangat merindukanmu dan aku juga sangat mencintaimu ” bisik Taeyeon ditelinga Tiffany seraya tangannya menggenggam salah satu tangan Tiffany yang juga balik menggenggamnya. Mungkin Tiffany menyadari jika Taeyeon berada disisinya. Sedangkan Yoona hanya tersenyum manis saat melihat Taeyeon yang mengucapkan kata cinta pada Tiffany.

” Yoong, apa kau sudah memeriksanya lebih lanjut? ” Taeyeon kini beralih menatap Yoona yang kini menghela napas. Ada satu ketakutan dihatinya mengenai Tiffany.

” Ada yang aku takutkan, oppa ” Wajah Taeyeon berubah tegang saat mendengar apa yang dikatakan Yoona.

” A-apa itu? “

” Efek dari kecelakaan yang dialami Fany eonnie “

” Ma-maksudmu? “

” Ada dua kemungkinan yang terjadi, tetapi itu hanya perkiraanku saja. Benturan dikepala Tiffany eonnie bisa membuatnya buta ataupun kehilangan memorinya. Amnesia.. ” Penjelas Yoona kembali membuat Taeyeon gusar. ” Kita lihat nanti saja setelah eonnie bangun dari tidurnya, aku akan melakukan pemeriksaan kembali. Yang pasti, selanjutnya akan ada pengobatan untuk pemulihan yang harus dijalani. Eonnie akan melakukan fisioterapi untuk memulihkan kondisinya. Itu berguna untuk menormalkan pergerakannya yang kaku karena tidak pernah bergerak selama sebulan ini ” Jelas Yoona panjang lebar. Yoona bisa melihat ketegangan dari raut wajah Taeyeon. ” Oppa tenang saja, eonnie akan baik-baik saja. Itu hanya perkiraan dan belum tentu akan terjadi. Aku keluar sebentar, jika terjadi sesuatu segera hubungi aku ” Ujar Yoona seraya mengusap lembut lengan Taeyeon yang mengangguk.

” Terus berikan yang terbaik untuk perawatan Tiffany Yoong “

” Itu pasti. Ya sudah aku tinggal, ada yang harus aku urus. Oppa pasti merindukan eonnie bukan? Temani dia, teruslah berada disisinya sampai dia sadar ” Taeyeon kembali mengangguk, kemudian Yoona melangkah pelan. Namun, saat sudah berada didepan pintu Yoona membalikkan tubuhnya.

” Oppa ” panggil Yoona yang tersenyum menyeringai.

” Wae? Kenapa senyumanmu tidak mengenakan seperti itu Yoong? ” Taeyeon tahu, Yoona mungkin saja akan mengeluarkan kejahilannya.

” Ada satu lagi yang terlupa ” Taeyeon mengerutkan dahinya, tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Yoona.

” Apa? “

” Jangan mengatakan kata-kata Cheesy mu itu. Perutku mual mendengarnya, untung saja aku tidak mengeluarkan isi perutku di kamar ini “

” Ya! ” Yoona yang mendapatkan teriakan dari Taeyeon langsung berjalan cepat keluar dari kamar inap sebelum mendapatkan siraman rohani dari kakak laki-lakinya itu. Setelah berada diruangannya, Yoona memanggil perawat yang tadinya berada disisi Tiffany saat mulai sadar. Seraya menunggu perawat itu, Yoona melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai hingga dia mendengar ketukan pintu.

” Anda memanggil saya dok? ” Tanya sang perawat setelah Yoona mempersilahkannya masuk dan duduk.

” Apa kau tahu apa penyebab pasien yang bernama Tiffany Hwang sadar dari komanya? ” Tanya Yoona.

” Saya juga tidak tahu dok, saat itu seorang anak kecil memanggil saya untuk memeriksa keadaan ibunya ” jelas perawat itu.

” Anak kecil? Dia anak dari Tiffany-ssi? ” Perawat itu mengangguk pasti. ” A-apa kau yakin? ” Yoona kembali bertanya, mencoba untuk meyakinkan.

” Ne, saya sangat yakin ” ujar perawat itu dengan begitu yakin.

” Siapa nama anak itu? ” Tanya Yoona dengan suara yang sedikit berbeda, membuat perawat itu mengerutkan dahinya dan menjawab pertanyaan Yoona.

” Namanya Kim Joohyun ” Yoona menutup mulutnya seolah tidak percaya. Bagaimana bisa? Itulah yang kini bersemayam dipikirannya.

” A-apa dia masih berada dirumah sakit ini? Apa dia masih menunggu ibunya?” Tanya Yoona dengan sedikit tergesa. Jika benar itu Seohyun, bisa saja Seohyun masih berada dirumah sakit ini dan mungkin saja itu membuat Yoona bisa menemukannya.

” Sepertinya anak itu sudah pergi. Saat saya keluar untuk memanggil anda, saya tidak lagi melihatnya” Harapannya pupus, tidak ada lagi harapannya untuk menemukan Joohyun dirumah sakit. Yoona memijit dahinya yang tiba-tiba saja terasa berdenyut. Memikirkan keadaan Tiffany, Taeyeon dan juga Seohyun.

” Apa anda baik-baik saja dokter Im? ” Tanya sang perawat yang sedikit khawatir.

” Tidak apa-apa. Terima kasih karena kau sudah datang keruanganku. Sekarang kau bisa kembali dengan kegiatanmu ” ujar Yoona seraya melihatkan senyumannya yang ramah.

” Baiklah dokter Im, saya permisi ” Perawat itu membungkukkan tubuhnya dengan sopan lalu keluar dari ruangan Yoona. Kini Yoona beralih ke ponselnya untuk menghubungi seseorang.

“ oppa, tolong ke ruanganku sekarang. Ada yang ingin kuberi tahu “

***

“ Miyoung-ah.. terima kasih karena kau kembali. Cepatlah bangun dari tidurmu, aku sangat merindukanmu. Aku sangat ingin memelukmu “ Taeyeon terus menggenggam tangan Tiffany, tidak pernah dilepaskannya sekali pun sejak Yoona keluar dari kamar itu. Sesekali Taeyeon juga mengecup dahi dan kedua pipi Tiffany, dia begitu merindukan istrinya itu. merindukan tatapan sayang dari Tiffany, merindukan senyuman matanya, merindukan pelukan hangatnya. Semua yang ada di diri Tiffany begitu dirindukannya.

“ Apa yang harus ku katakan nanti jika Miyoung menanyakan Joohyun? Maafkan aku karena tidak menepati janjiku untuk menjaga Joohyun, Miyoung-ah “ Batinnya, tangannya terulur untuk mengusap pipi Tiffany dengan lembut. Sejenak Taeyeon menutup matanya, menahan air matanya yang ingin tumpah. Saat itu juga ponselnya berdering, dengan segera dihapus air matanya dan menetralkan suaranya yang mungkin saja akan terdengar parau.

“ Ada apa Yoong? Arraseo ” Taeyeon kembali menatap Tiffany, kembali memberikan kecupan sayang pada istrinya itu sebelum keluar untuk menemui Yoona.

” Apa yang ingin kau bicarakan Yoong? ” Tanya Taeyeon setelah dia berada diruangan Yoona.

” Duduklah oppa ” Yoona mempersilahkan Taeyeon untuk duduk sebelum mengatakan apa yang sejak tadi ada dibenaknya. ” Kau tau apa penyebab Tiffany eonnie sadar dari komanya? ” Taeyeong menggeleng menjawab pertanyaan Yoona.

” Seorang perawat mengatakan jika Fany eonnie sadar saat seorang gadis kecil berada disisinya ” jelas Yoona yang membuat Taeyeon membulatkan matanya.

” Ma-maksudmu Yoong? ” Taeyeon tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Yoona. Bagaimana bisa orang asing bisa masuk kekamar Tiffany?

” Bisa dikatakan jika eonnie sadar karena gadis kecil itu ada didekatnya ” ujar Yoona yang tidak langsung menuju ke inti masalah.

” Ba-bagaimana bisa? Dan siapa gadis kecil yang kau katakan? ” Tanya Taeyeon.

” Kim Joohyun ” Taeyeon membulatkan matanya saat mendengar nama anaknya terlontar dari bibir Yoona.

” Ma-maksudmu Joohyun datang kemari dan melihat Tiffany? ” Yoona mengangguk, membenarkan apa yang dipikiran Taeyeon saat ini. ” Dimana Joohyun sekarang Yoong? Katakan padaku! ” Ujar Taeyeon seraya mengguncang tangan Yoona. Dia ingin sekali bertemu dengan Seohyun dan tidak akan lagi melepasnya. Taeyeon sungguh merindukan Seohyun, ingin sekali memeluk tubuh kecil yang sebulan ini tidak pernah lagi direngkuhnya.

” Aku tidak tahu oppa, perawat itu mengatakan jika dia tidak lagi melihat Joohyun saat dia memanggilku ” Yoona menghela napasnya.

” Ya tuhan.. ” Taeyeon mengusap wajahnya yang terlihat begitu sendu. Yoona bisa melihat itu dengan jelas, tidak tega melihat Taeyeon yang terus saja dilanda masalah dan belum ada penyelesaian. ” Apalagi yang harus kulakukan? Aku tidak kuat Yoong ” Taeyeon terisak, membuat mata Yoona memanas.

” Oppa.. ” Lirih Yoona seraya menggenggam kedua tangan Taeyeon, mencoba untuk memberikan kekuatan untuk laki-laki itu. ” Jangan seperti ini. Kau menyerah? ” Yoona menatap lekat Taeyeon yang menunduk.

” Apa kau tidak lagi menginginkan Joohyun? “

” Bukan begitu Yoong. Aku – ” Taeyeon tidak jadi melanjutkan kalimatnya ketika Yoona kembali bersuara.

” Kau ingin membuat Fany eonnie semakin kecewa padamu? ” Taeyeon menggeleng keras. ” Kalau begitu kau jangan menyerah seperti ini. Jangan lagi membuat kesalahan yang sama. Teruslah berusaha untuk mengembalikan semuanya. Aku yakin kau bisa, kau kuat oppa ” Yoona terus meyakinkan Taeyeon, memberikan kekuatan agar Taeyeon tidak menyerah dan putus asa.

” Gomawo Yoong. Disaat sulit seperti ini, kau selalu ada untuk menguatkanku ” Taeyeon mencoba untuk tersenyum.

” Itulah tugasku sebagai adikmu ” Ujar Yoona.

***

Flash Back

“ Ahjumma, kau pasti membenciku. Maaf jika aku harus berada dihadapanmu kali ini. Aku yakin, ahjumma pasti tidak menginginkan keberadaanku disini. Tapi izinkan kali ini aku untuk berada disampingmu, hanya sebentar saja. Aku hanya ingin meyampaikan penyesalanku, menyampaikan permintaan maafku padamu karena hanya itu yang bisa kulakukan. Setelah itu aku akan pergi. Aku tidak akan melihatkan wajahku dihadapanmu. Ya, aku akan menghilang dari kehidupanmu dan appa. Aku- “

Deg!

Seohyun tidak jadi melajutkan kata-katanya. Jantung Seohyun serasa berhenti saat dia merasakan sesuatu ditangannya yang menggenggam tangan Tiffany. Matanya membulat karena keterkejutannya melihat apa yang terjadi pada Tiffany. Tangannya digenggam erat oleh istri dari ayahnya itu.

“ A-ahjumma.. “ Seohyun menatap nanar kearah Tiffany yang kini mengeluarkan air matanya.

“ Apa Tiffany ahjumma merasakan kehadiranku disini? Bagaimana bisa? “ batin Seohyun. kemudian matanya beralih menatap bibir tipis Tiffany yang bergerak lemah. “ apa yang dia katakan? “ Seohyun sedikit memiringkan kepalanya, berusaha untuk bisa menangkap apa yang dikatakan oleh Tiffany.

“ Jo-joo.. hyun.. “ Seohyun yang tadinya mengerutkan dahi sekarang membulatkan matanya. Dia bisa melihat kelopak mata Tiffany yang bergetar dan air matanya terus mengalir pelan. “ Joo.. hyun.. “ Seohyun panik, tangannya semakin erat digenggam oleh Tiffany. Apa Tiffany akan sadar? Tidak! Tiffany tidak boleh melihatnya, itulah yang ada dibenaknya kini. Seouhyun pun berusaha untuk melepaskan genggaman Tiffany yang erat.

“ ahjumma.. tolong lepaskan tanganku. Aku akan memanggilkan perawat untukmu “ Seohyun terus berusaha. Dia juga tidak tahu bagaimana bisa Tiffany yang dikatakan masih belum sadar menggenggam tangannya begitu erat.

“ Aku tahu, kau marah padaku. Aku janji tidak akan lagi menemuimu, jadi aku mohon.. lepaskan aku “ Akhirnya Seohyun bisa melepaskan tangannya dari Tiffany. Dengan segera dia memanggil perawat untuk melakukan pemeriksaan terhadap Tiffany. Tidak lama kemudian perawat yang berjaga masuk kekamar inap Tiffany dan meninggalkan Seohyun yang berdiri kaku didepan pintu.

“ apa ahjumma akan baik-baik saja? “ batinnya seraya terus menatap pintu yang tertutup dihadapannya itu. Tidak lama kemudian perawat itu kembali keluar dengan langkah tergesa.

“ suster, apa yang terjadi dengan eommaku? “ tanya Seohyun yang terlihat khawatir.

“ sepertinya eommamu sudah sadar dari komanya nona kim. Aku harus segera memanggil Dokter Im untuk melakukan pemeriksaan terhadap nyonya Kim. Permisi “ Perawat itu berlari untuk memanggil Yoona. Meninggalkan Seohyun yang kini menangis bahagia. Harapannya terkabul, apa yang selalu menjadi harapan utamanya didalam setiap doanya menjadi sebuah kenyataan.

“ Tuhan, terima kasih karena kau sudah mengabulkan doaku. Setidaknya ini membuat penyesalanku sedikit berkurang “ batinnya seraya menutup mata. Kembali memanjatkan doa, mengucapkan terima kasih pada penciptanya. Setetes air jatuh saat dia kembali membuka kedua matanya, sebuah air mata kebahagiaan. Dia mengusap pipinya yang basah dengan sebuah senyuman yang terukir diwajahnya, sebuah senyuman kebahagiaan.

“ Apa ahjumma benar-benar akan sadar dari komanya? Jika itu benar, Ahjumma.. terima kasih karena kau kembali. Aku.. sangat menyayangimu.. Mommy.. “ Baru kali ini dia mengucap kata ‘ mommy’ walaupun itu didalam hatinya. walaupun tidak secara langsung terlontar dari bibirnya. Namun itu dari hatinya yang terdalam. Dia ingin secara langsung mengucapkan kata-kata itu dihadapan Tiffany, tapi itu tidak akan bisa. Semuanya sudah terlambat. Sesaat Seohyun bercengkrama dengan pikirannya hingga terdengar suara langkah sepatu seseorang, itu membuatnya panik.

“ Itu pasti aunty Yoong! “ Seohyun menatap sekelilingnya. Mencari tempat yang bisa dijadikan tempat persembunyiannya. Dia tidak ingin Yoona melihatnya berada dirumah sakit dan dia juga tidak ingin Yoona memberitahukan Taeyeon jika dia sudah mengunjungi Tiffany. Itu akan memunculkan sebuah masalah, ditambah lagi keadaan Tiffany saat ini juga karenanya. Dengan panik dia berlari kearah pohon pajangan yang berada disudut lorong yang tidak jauh dari kamar inap Tiffany. Dia bersenyembunyi disamping pohon itu seraya melihat Yoona yang tergesa masuk ke kamar inap dengan dua orang perawat disisi kanan dan kirinya.

Setelah pintu kembali tertutup rapat, Seohyun pun keluar dari persembunyian. Dia berpikir jika Taeyeon pasti sebentar lagi akan datang kerumah sakit. ” Aku harus pergi sebelum appa datang dan menemukanku disini ” dengan melangkah cepat Seohyun memasuki lift dan pergi meninggalkan rumah sakit.

Flash End.

Seohyun termenung yang kini duduk bersandar di meja yang kosong, dia bergelut dengan pikirannya. Memikirkan keadaan Tiffany. Apakah Tiffany memang sudah sadar dari komanya? Bagaimana jika tidak? Bagaimana jika keadaan Tiffany semakin memburuk? Itulah berbagai pertanyaan yang kini muncul dibenaknya.

” Apakah aku harus kembali kerumah sakit? Tuhan, aku sungguh mengkhawatirkannya “ batin Seohyun. ” Tapi tidak mungkin, appa pasti berada disana ” Seohyun menghela napasnya. ” Aku yakin, ahjumma pasti baik-baik saja. Ahjumma pasti sudah sadar. Aku yakin itu ” Seohyun meyakinkan dirinya sendiri jika Tiffany baik-baik saja, jika Tiffany akan segera sehat dan kembali bersama ayahnya.

” Seohyun-ah ” Hyoyeon yang memanggil membuatnya tersadar.

” Ne? ” Seohyun merespon panggilan Hyoyeon yang kini dalam posisi jongkok untuk membersihkan peralatan makanan yang sudah bercerai berai.

” Omo! Ahjussi, kwenchana? ” Seohyun melangkah cepat menghampiri Hyoyeon dan ingin menolong untuk membersihkannya.

” Kwenchana, biar ahjussi yang membersihkannya. Nanti tanganmu bisa terluka ” Hyoyeon menghentikan Seohyun untuk tidak ikut membersihkannya. ” Tolong ambilkan saja sapu dan karung digudang ” ujar Hyoyeon.

” Baiklah, ahjussi tunggu sebentar ” Seohyun berdiri dan melangkah menuju gudang. ” Apa ini gudangnya? “ Batin Seohyun sambil menatap pintu yang tertutup rapat. Dengan perlahan dia membuka pintu yang tidak dikunci itu. Benar, ini memang gudang yang tadi diberitahu oleh salah satu karyawan Hyoyeon. Tangan Seohyun terulur untuk menghidupkan lampu ruangan yang gelap itu. Yang pertama kali dilihatnya, ada sebuah Grand piano berwarna putih berada disudut ruangan. Piano itu masih terlihat bagus walaupun begitu tebalnya debu yang melapisi piano tersebut. Seohyun mendekat, tangannya terulur menekan salah satu tuts.

” Bunyinya masih sangat bagus, kenapa Hyo ahjussi menaruhnya disini? ” Satu tangan Seohyun masih bermain di tuts piano tersebut.

” Seohyun-ah.. Apa kau menemukannya? ” Tanya Nayeon yang berada diluar gudang.

” Ne, tunggu sebentar ” Seohyun pun bergegas mengambil sapu dan karung, kemudian keluar untuk menemui Hyoyeon.

” Gomawo ” ujar Hyoyeon seraya mengambil kedua benda itu dari tangan Seohyun yang tersenyum seraya mengangguk.

” Hmm.. Ahjussi ” Seohyun memanggil Hyoyeon dengan ragu.

” Wae? ” Hyoyeon sekilas melirik Seohyun yang memanggilnya, terfokus dengan pecahan kaca yang berserakan dilantai.

” Bolehkah aku menggunakan piano yang berada digudang? “

” Tentu, tapi debunya sangat tebal. Kau harus membersihkanya terlebih dahulu sebelum hidungmu merasa aneh ” Ujar Hyoyeon dengan nada bercanda.

” Itu pasti ” jawab Seohyun. Kemudian dia pun kembali ke gudang.

” Sepertinya aku bisa menyelesaikan lagu ciptaanku dengan piano ini ” gumamnya yang kini sibuk membersihkan piano tersebut dengan senyuman lebar. Ya, bermain piano adalah salah satu hobinya. Dan sudah lama dia tidak pernah lagi menyentuh alat musik ini. Setelah piano itu benar-benar bersih dari debu, Seohyun menduduki dirinya di bangku piano tersebut. Tangannya mulai bermain diatas tuts berwarna putih itu, sampai dia tidak menyadari bahwa langit mulai gelap hingga semakin gelap. Bahkan saat ini dia sudah tertidur dengan kepalanya yang menyandar di piano tersebut.

***

Jessica meneteskan air matanya yang sejak tadi terus mengalir di pipi putihnya. Sudah sebulan ini dia berkali-kali menangis sejak kejadian malam itu. sejak Yuri memilih pergi, memilih untuk lenyap dari kehidupannya. Yuri benar-benar serius dengan perkataannya. Pria itu tidak lagi menemui Jessica, bahkan mengirim sebuah pesan pun tidak dilakukannya. Jessica baru menyadari jika dia benar-benar mencintai Yuri. sebulan ini bertambah lengkap penderitaan yang harus dijalaninya. Dia kembali kehilangan orang yang begitu dicintainya dan semua ini pun juga karena keegoisannya. Dia menyadari itu.

“ Yuri-ah, aku sangat merindukanmu “ Jessica terisak. “ Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Maafkan aku “ Jessica menutup matanya yang sudah bengkak. Tidak lama kemudian, ponselnya berdering. Dia menatap layar datar itu seraya mengerutkan dahinya.

“ Hello? “ ujarnya

“ apa ini Jessica-ssi? “ terdengar suara seorang wanita yang bertanya dari seberang telepon.

“ benar, saya bicara dengan siapa? “ tanya Jessica dengan orang tidak dikenalnya itu.

“ saya pelayan rumah tuan Kwon Yuri “ Jessica membulatkan matanya, bagaimana bisa pelayan rumah Yuri menelponnya? Darimana wanita itu mendapatkan nomor ponselnya?

“ Mwo? Kwon Yuri? “ Jessica mencoba meyakinkan, mungkin saja dia salah dengar karena yang dipikrannya hanya ada nama Yuri saat ini.

“ Benar Jessica-ssi, bisakah kau menolongku? “ tanya wanita itu.

“ a-apa? “ tanya Jessica dengan gugup.

“ bisakah kau menemui tuan Yuri disini? Keadaan begitu buruk sebulan ini” Wanita itu kembali bertanya. Dia sedikit ragu, takut jika menganggu waktu Jessica.

“ Mwo?? “ Jessica menutup mulutnya, seolah tidak percaya jika keadaan Yuri tidak baik-baik saja selama mereka tidak pernah lagi bertemu.

“ saya tidak tahu apa yang terjadi. Dia selalu mabuk-mabukan dan terus menyebut namamu. Maka dari itu aku menghubungimu “ jelas wanita itu kembali.

“ baiklah saya akan menemuinya sekarang juga. Bisakah anda mengirikan alamatnya? “

“ baiklah, saya akan kirimkan alamatnya melalui pesan singkat. Terima kasih banyak Jessica-ssi. Saya benar-benar membutuhkan pertolonganmu “ Ujar pelayan itu, seperti memohon.

“ tidak apa-apa, setengah jam lagi saya pastikan saya sudah sampai “ Jessica pun mengakhiri panggilannya dan dengan gerakan tergesa dia bersiap-siap untuk pergi ke rumah Yuri yang sudah dikirimkan alamatnya oleh wanita yang menghubunginya tadi.

Tidak sampai 30 menit, Jessica kini sudah berada didepan gerbang rumah Yuri yang megah. Setelah menekan bel, pelayan rumah itu membukakan pintu gerbang dan membawa Jessica untuk masuk kedalam.

“ Tuan ada dibalkon kamarnya Jessica-ssi. “ ujar sang pelayan seraya terus melangkah dengan Jessica disampingnya.

“ apa aku bisa langsung menemuinya? “ tanya Jessica dengan sopan pada wanita paruh baya itu.

“ tentu. Kamar tuan berada dilantai dua sebelah kanan “ Jessica mengangguk mengerti. “ Anda bisa langsung kesana dan saya akan membuatkan minuman untuk anda. Saya permisi “ Wanita paruh baya itu membungkukkan tubuhnya dengan sopan dan melangkah kearah pantry. Jessica pun melanjutkan langkahnya, menaiki anak tangga berlapis batu alam yang membuatnya terlihat semakin megah dan elegan. Jessica menghirup udara sedalam-dalamnya kemudian kembali dibuangnya. Dia benar-benar gugup saat ini. Dia juga tidak tahu apa respon Yuri saat mereka bertemu nanti.

“ tenang Jessica, semua akan baik-baik saja “ batin Jessica, mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri. Perlahan tangannya terulur untuk memutar kenop pintu kamar Yuri. Tida ada seorangpun yang dilihatnya diruangan yang begitu berantakan itu. Jessica mengitari pandangannya seraya terus melangkah kedalam. Bisa dilihatnya seseorang dibalik kaca besar yang bening itu. tempat yang menghubungkan kamar dengan balkon. Jessica terus memperhatikan Yuri dalam diam, sudah berkali-kali Yuri meneguk minumannya. Entah sudah berapa gelas dihabiskan Yuri untuk malam ini. Seketika air mata Jessica jatuh. Perasaannya kini tidak menentu, bercampur aduk. Rasa merindu, rasa sedih, bahagia karena bisa kembali menatap Yuri, dan rasa bersalah. Semua bersatu padu hingga Jessica tidak mengenali rasa apa yang terasa kini. Karena tidak tahan melihat Yuri yang terlihat menyedihkan dimatanya, dengan segera dia melangkah untuk menghentikan Yuri yang terus meneguk minuman itu.

“ hentikan Kwon Yuri! “ Jessica merampas dengan paksa gelas yang berada ditangan Yuri.

“ itu seperti suaranya “ Yuri berkata seraya tertawa tidak jelas. Kemudian memukul-mukul kepalanya dengan keras. “ Yuri pabo! Kau hanya berhalusinasi. Dasar bodoh! “ Yuri merancau tidak jelas yang terus memukul kepalanya yang terasa berat. Wajahnya memerah karena pengaruh alkohol.

“ Hentikan bodoh! Kau tidak mendengarku?! “ teriak Jessica seraya menggenggam kedua tangan Yuri.

” Ya! Ahjumma.. Kenapa kau berteriak? ” Yuri berusaha membuka matanya. Menatap orang yang menahan tangannya dengan sendu. ” Kenapa kau mirip seperti Sooyeon? ” Jessica membulatkan matanya.

” Mwo? Ya! Ini aku Yuri-ah ” Yuri kembali tertawa tidak jelas.

” Bahkan suaramu mirip sekali. Aigo.. Kenapa denganku? Ya! Yuri-ah! Kau ini bodoh! Sadarlah.. Sooyeon tidak mencintaimu lagi. Sooyeon membencimu. Kau bodoh! ” Wajahnya kembali sendu setelah merancau tidak jelas. Jessica terhenyak, seketika mata Jessica memanas mendengar kata-kata Yuri.

” Kajja.. Kita kedalam ” Ujar Jessica yang membantu Yuri berdiri. Dengan sekuat tenaga dia menahan tubuh Yuri yang sempoyongan agar tidak terjatuh.

” Wae? Aku masih ingin disini ” Yuri berusaha untuk melepaskan tangan Jessica yang merengkuhnya.

” Kau sudah terlalu banyak minum Yuri-ah ” Jessica berusaha sabar menghadapi Yuri yang terpengaruh alkohol.

” Ahjumma, kenapa suaramu mirip sekali dengan Sooyeon? ” Yuri kembali bertanya, kali ini Jessica hanya diam dan terus menuntun Yuri untuk masuk kekamarnya.

” Wae? ” Jessica mengerutkan dahinya saat Yuri menghentikan langkahnya.

” Tinggalkan aku sendiri, lebih baik ahjumma keluar dari kamarku ” Ujar Yuri yang terus berusaha membuka matanya yang begitu berat.

” Ini aku Yul.. Aku Sooyeon ” Ujar Jessica dengan suara bergetar, dia ingin menangis melihat Yuri yang terlihat berantakan dan terluka. Yuri kembali tertawa.

” Aigo.. Kenapa aku belum juga sadar ” Yuri kembali mencoba untuk memukul kepalanya dan kembali ditahan oleh Jessica.

” Cukup Kwon Yuri! ” Jessica kembali berteriak. Yuri mengabaikan teriakan Jessica, dia berusaha melepaskan tangan Jessica ditubuhnya. Kemudian membungkam mulutnya saat perutnya terasa diaduk.

” Yuri-ah, kau kenapa? ” Jessica menyamakan langkahnya dengan Yuri, kembali merengkuh tubuh Yuri yang lemah. Yuri tidak lagi bisa menahan, akhirnya dia memuntahkan semua isi perutnya dan mengenai baju kemeja yang dipakai Jessica. Saat itu juga tubuh Yuri meluruh.

” Yuri-ah ” Jessica mengusap pipi Yuri, membersihkan bekas muntahan dari bibir pria yang dicintainya itu. ” Ya tuhan.. Kenapa kau bisa seperti ini yul? ” Jessica meneteskan air matanya, tidak tega melihat keadaan Yuri yang kacau seperti ini.

” Omo! Tuan kenapa Jessica-ssi? ” Tanya pelayan yang tergesa meletakkan nampan yang dipegangnya.

” Ahjumma, bantu aku untuk mengangkatnya ke ranjang ” dengan segera wanita itu menghampiri dan membantu Jessica untuk mengangkat Yuri ke ranjang.

” Ahjumma, tolong siapkan kompres. Badannya panas ” Ujar Jessica yang mendapatkan anggukan dari wanita itu dan melangkah keluar. Tidak lama kemudian wanita paruh baya itu kembali dengan membawa kompres dan baju kemeja.

” Ini Jessica-ssi, dan gantilah bajumu. Biar ahjumma yang mengurus Tuan Yuri “ Jessica menggeleng. “ biar aku saja ahjumma. Aku akan mengganti pakaianku setelah ini “ Jessica melihatkan senyumannya pada pelayan itu.

“ baiklah, kalau begitu saya tinggal. Kalau ada apa-apa panggil saya saja “ Jessica mengangguk dan dia mulai untuk merawat Yuri yang kini tertidur. Setelah itu dia juga membersihkan dirinya, mengganti bajunya yang tadinya terkena muntahan Yuri. Dia kembali mendekati Yuri, menduduki dirinya desebelah pria yang kini masih tertidur pulas. Tangan Jessica terulur untuk mengusap dahi Yuri yang terasa panas.

“ Yul, kenapa kau bisa seperti ini? “ Jessica mengecup dahi Yuri dengan sayang.

“ Sooyeon-ah.. “ Yuri bergumam. Didalam tidurnya pun nama Jessicalah yang terus disebutnya

“ aku disini Yul. Tidurlah dengan nyenyak agar besok kau kembali sehat “ Bisik Jessica ditelinga Yuri. Terus mengusap rambut Yuri agar tidurnya terasa nyaman.

“ Sooyeon-ah.. aku sangat merindukanmu “ Lirih Yuri yang membuat Jessica membeku. Ini semua salahnya yang tidak membalas Yuri yang begitu mencintainya. “ aku sangat mencintaimu Sooyeon-ah “ Ketika itu juga Jessica melepaskan tangisannya. Dia benar-benar merasa bersalah, bagaimana bisa dia menghancurkan hati laki-laki yang kini tidur dengan terus memanggil namanya? Jessica merasa dirinya begitu jahat karena sudah membuat Yuri seperti yang dilihatnya kini.

“ aku juga mencintaimu Yul.. sangat mencintaimu “ bisik Jessica, kemudian mengecup dahi Yuri dengan air matanya yang terus mengalir. Perlahan, Jessica membaringkan tubuhnya disamping Yuri, memeluk Yuri dengan menyandarkan kepalanya didada bidang pria itu. “ Aku sangat mencintaimu Yul “ Jessica menutup matanya yang akhirnya juga ikut tertidur dengan terus memberikan kehangatan hingga Yuri bangun dari tidurnya nanti. Apakah esok akan lebih baik dari sebelumnya? Kita tidak tahu dengan pasti. Kita sebagai manusia hanya bisa menjalani tanpa tahu apa yang terjadi selanjutnya dalam kehidupan yang seperti teka-teki.

To be continued…

Anyeong.. hutang gue udah lunas ya untuk janji bakalan update chapter 14 malam ini Hahahahha

Hmmm.. kali ini gue ga banyak cuap. Gue hanya mau bilang, jangan lupa tinggalkan komentar setelah baca 🙂 dan maaf karena gue belum sempat untuk membalas semua komentar2 kalian. Tapi gue janji bakalan bales koq hehhe okee??

tunggu DM chapter selanjutnyaaa..

Byebye*bow

Advertisements

53 thoughts on “Dear Mom (Chapter 14)

  1. yang buat fany sadar itu joohyun nya…jgn smpe deh fany buta atw amnesia..
    yuri stres berat tuh…

  2. Jadi Joohyun yg udah buat fany sadar dari komanya, tenyata naluri anak sama ibu walaupun bukan ibu kandung kuat banget ya…

  3. syukurlah kedatangan joohyun bisa membuat ffany sadar 😀

Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s