rara0894

All about TaeTiSeo and GG

Dear Mom (Chapter 13)

64 Comments

Title        : Dear Mom

Author  : rara0894

Genre     : Family, gender bender

Cast         :

Seo Joo Hyun as Kim Joo Hyun

Tiffany Hwang/ Hwang Miyoung

Kim Taeyeon

Jessica Jung/ Jung Sooyeon

Kwon Yuri

And other cast

CYMERA_20140711_052021

 

TIFFANY POV

       Aku menduduki diriku disebuah bangku taman yang berada ditepian sungai Han. Entahlah, Otakku memerintahkan kakiku untuk melangkah hingga sampai ditempat yang mungkin saja bisa membuat hatiku merasa tenang. Mataku beralih menatap langit sore yang indah berpadu dengan warna jingga, sehingga ciptaan Tuhan yang begitu sempurna itu terlihat semakin mengagumkan. Aku memperhatikan kesekelilingku, tersenyum melihat beberapa anak begitu riang bermain bersama. Berkejar-kejaran dengan salah satunya yang berperan seperti harimau yang ingin menerkam mangsanya. Terpancar kebahagian dari wajah kecil mereka, terlihat tidak ada sedikitpun beban yang harus mereka bawa. Memang itulah yang ditakdir tuhan untuk mereka yang masih belia. Mereka hanya akan merasakan kebahagian tanpa harus memikirkan apa yang terjadi disekeliling hingga mereka mulai mengerti dengan arti kehidupan yang sebenarnya, kehidupan yang keras dan kejam. Tidak bisa dipungkiri, semua dari mereka dengan umur yang masih belia itu, ada sebagian dari mereka yang mendapatkan garis takdir yang berbeda. Berbanding terbalik dengan sekumpulan mereka yang bisa menikmati indahnya dimasa kecil yang bahagia. Itulah yang dialami Joohyun. Diusianya yang masih belia, dia harus menghadapi masalah yang tidak sebanding. Dia harus berhadapan dengan sebuah masalah yang sudah membuat hatinya hancur berkeping saat ibu dan ayahnya memilih untuk berpisah.
Aku sangat menyayanginya, bahkan mencintainya sepenuh hatiku. Dia sudah seperti anak yang lahir dari rahimku walaupun kenyataannya dia bukanlah darah dagingku. Apapun akan kulakukan untuk bisa membuatnya tersenyum dan bahagia, bukan seperti yang terjadi padanya saat ini. Menjadi seorang gadis yang murung, dingin dan kasar. Aku akan terus berusaha untuk bisa membuatnya kembali seperti dulu, sewaktu aku baru mengenalnya. Dulu dia seorang gadis yang ceria, selalu tersenyum dan ramah. Memang saat aku bersamanya, tidak jarang aku melihatnya begitu sedih saat menatap seorang gadis yang sebaya dengannya begitu bahagia saat bersama ibunya. Sedangkan dia tidak bisa lagi merasakan apa yang dirasakan gadis yang dilihatnya itu. Ibunya terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga tidak ada waktu untuk bersamanya.

Flash Back

Tiffany memakirkan mobil sedan mewahnya dihalaman panti asuhan yang luas. Hari ini dia akan pergi bersama Seohyun, melakukan hal-hal yang akan menyenangkan.

” Sunny-ah anyeong ” Tiffany menyapa Sunny yang sedang membaca koran di ruang tunggu panti.

” Kau ingin menjemput Seohyun? ” Tanya Sunny dengan ramah sambil meletakkan koran dan kaca mata beningnya diatas meja sofa, mendekati Tiffany yang berjalan kearahnya. ” Ini apa? ” Sunny mengerutkan dahinya ketika Tiffany mengulurkan tangannya yang sedang menggenggam sebuah kantong yang cukup besar.

” Ini cupcake untukmu dan anak-anak ” Tiffany tersenyum melihatkan eye-smilenya.

” Kau selalu saja seperti ini. Kau tidak perlu repot-repot membawakan makan seperti ini fany-ah ” Sunny merasa tidak enak karena Tiffany selalu membawakan mereka makanan dengan jumlah yang banyak, bahkan hampir setiap hari. Tidak jarang Tiffany juga memberikan uang dengan jumlah yang cukup besar untuk pembangunan panti asuhan sehingga kini panti mereka menjadi lebih baik lagi.

” Tidak apa-apa, bahkan aku senang melakukannya. Aku ingin berbagi dengan mereka ” Tiffany melihatkan senyumannya sehingga membuat matanya juga ikut tersenyum.

” Terima kasih karena kau begitu peduli dengan anak-anak ” Sunny memeluk Tiffany, dia bersyukur bisa menemukan seseorang yang memiliki hati emas seperti Tiffany.

” Kau tidak perlu berterima kasih seperti itu, ini sudah kewajibanku untuk menolong mereka ” Tiffany menepuk lembut punggung wanita yang masih memeluknya.

” Ahjumma sudah lama menunggu? ” Satu suara itu membuat kedua wanita dewasa itu melepaskan pelukan mereka.

” Tidak, aku baru saja tiba. Kau sudah siap? ” Seohyun mengangguk dengan senyuman lebar sambil mendekati mereka.

” Omo! Sunny eomma kenapa? ” Tanya Seohyun, terkejut dan bingung melihat wajah Sunny yang sedikit merah yang hampir saja menangis karena tersentuh dengan kebaikan Tiffany pada anak asuhnya yang bernasib malang.

” Ah, tidak ada. Eomma hanya terharu karena Tiffany ahjumma begitu baik dengan kita ” Sunny mengusap matanya yang terasa panas.

” Lihatlah, ahjumma membawakan kita makanan lagi ” Sunny melihatkan kantong yang berada ditangannya pada Seohyun.

” Ahjumma, terima kasih atas makanannya ” Seohyun yang membungkukkan tubuhnya langsung ditahan oleh Tiffany yang kini menggelengkan kepalanya.

” Seohyun-ah, aku sudah mengatakan sebelumnya, aku tidak suka jika kau seperti ini “

” Aku ingin – “

” Sunny-ah, aku dan Seohyun akan pergi sebentar ” Tiffany memotong perkataan Seohyun.

” Kalian berhati-hatilah ” Ujar Sunny, mereka melangkah menuju halaman depan panti. ” Seohyun, jangan sampai kau menyusahkan Tiffany ahjumma. Mengerti? ” Seohyun mengangguk.

” Dia tidak pernah menyusahkanku Sunny-ah ” Tiffany menggenggam tangan Seohyun. ” Baiklah, kami pergi “

” Eomma anyeong ” Seohyun melambaikan tangan. Sunny tersenyum saat melihat Tiffany yang membukakan pintu mobil untuk Seohyun, bahkan Tiffany juga memakaikan seatbelt untuk gadis kecil itu. Tiffany benar-benar menyayangi Seohyun. Mata Sunny memanas, dia menahan air matanya saat mengingat Jessica dan Seohyun. Sunny kembali melihatkan senyumannya ketika Seohyun kembali melambaikan tangannya dari dalam mobil, anak dari sahabatnya itu tampak bahagia. Setelah mobil itu menghilang dari pandangannya, saat itu juga air matanya jatuh.

” Haruskah orang lain yang mencintai anakmu Sooyeon-ah? “ Batin Sunny. Dia begitu sedih dengan apa yang terjadi dengan kehidupan sahabatnya, Jessica Jung.

” Ahjumma, kita akan pergi kemana? ” Tanya Seohyun pada Tiffany yang kini fokus menyetir.

” Hmm.. Bagaimana kalau kita ke pantai? ” Tanya Tiffany yang sesekali melirik kearah Seohyun yang duduk disampingnya.

” Pantai? ” Tanya Seohyun dengan semangat yang mendapatkan anggukan dari Tiffany yang tersenyum melihat Seohyun yang begitu bersemangat. ” Yeah! Kita ke pantai! ” Seohyun mengepalkan kedua tangannya keudara, mengeluarkan ekspresinya yang begitu gembira.

” Apa kau suka? ” Seohyun mengangguk cepat.

” Ya, aku suka pantai! ” Tiffany tertawa kecil melihat Seohyun yang begitu lucu menurutnya.

” Arraseo.. ” Tiffany mengacak rambut Seohyun dengan salah satu tangannya.

       Selama lebih kurang 45 menit menempuh perjalan, akhirnya mereka pun sampai ke tempat tujuan. Saat dalam perjalanan, Seohyun bersorak riang ketika matanya menangkap pemandangan pantai sewaktu mereka hampir sampai ditujuan. Ya, Seohyun sudah lama sekali tidak lagi mengunjungi pantai yang begitu ingin dikunjunginya selama ini. Itu karena jarak pantai dengan panti asuhan yang begitu jauh.

       Ketika Tiffany sudah mematikan mesin mobilnya, Seohyun segera keluar dari mobil dan berlari menuju ke tepian ombak yang bergulung kecil.

“ Seohyun-ah, hati-hati! Jangan bermain terlalu jauh! “ Teriak Tiffany yang khawatir, dengan segera dia membawa tikar dan bekal untuk mereka makan nanti.

“ Ahjummaaa..! “ Seohyun berteriak dan berlari kearah Tiffany yang mendekatinya. Merentangkan kedua tangannya untuk masuk kedalam pelukan Tiffany.

“ aigo! “ Tiffany mengeratkan pelukannya saat Seohyun melonjak kegirangan sebelum mereka berdua jatuh terhempas ke pasir yang putih itu.

“ ahjumma, gomawoyo! “ Seohyun mengadahkan kepalanya dan melihatkan aegyonya yang membuat Tiffany tertawa kecil. Seohyun hari ini begitu hiper, tidak seperti biasanya.

“ ne.. ahjumma senang jika melihatmu bahagia seperti ini “ Tiffany mengecup lembut dahi Seohyun.

“ Ahjumma, aku ingin kesana “ Tunjuk Seohyun ke arah kapal Nelayan yang sedikit jauh dari tepian pantai dan melepaskan pelukannya dari Tiffany. Seohyun begitu penasaran karena melihat anak-anak seusianya berada disana.

“ no no no! Kau tidak boleh kesana “ Tiffany langsung menarik tangan Seohyun yang akan kembali melangkah ke bibir pantai

“ waeyo? Aku ingin bermain bersama mereka “ Seohyun mengerucutkan bibirnya.

“ No, itu sangat berbahaya sayang. Jangan bermain terlalu jauh ” Tiffany merapikan rambut Seohyun yang sedikit berantakan karena terpaan angin laut. ” Bagaimana kalau kita membuat istana pasir saja? Pasti lebih menyenangkan ” Tanya Tiffany yang membuat Seohyun mengangguk cepat dan tersenyum lebar. Mereka pun mulai membangun istana pasir yang mereka inginkan. Mereka saling bercanda dan tertawa lepas, keduanya terlihat begitu akrab. Setelah berhasil membangunnya, mereka pun mengabadikan moment itu dengan berfoto. Tiffany juga mengabadikan moment Seohyun saat bermain dengan ombak dibibir pantai. Seulas senyuman terukir diwajah Tiffany yang cantik melihat Seohyun yang begitu gembira bermain air. Setelah puas mengambil gambar Seohyun yang masih sibuk bermain, Tiffany memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya di tikar yang sudah disediakannya, Terus mengawasi Seohyun yang tidak juga merasa lelah.

” Seohyun-ah.. ” Tiffany berteriak memanggil gadis kecil itu, melambaikan tangannya mengisyaratkan agar Seohyun berhenti bermain dan datang padanya.

” Ahjumma, waeyo? ” Tanya Seohyun yang kini menduduki dirinya disebelah Tiffany.

” Kau harus makan, ahjumma membawakan bekal ” Tiffany membuka kotak makanan yang berisikan beberapa potongan kimbap dan dua jenis makanan lainnya.

” Say aaaa ” Tiffany menyodorkan sepotong kimbap kemulut Seohyun yang kini membuka mulutnya selebar-lebarnya. ” Aigo.. Kyopta! ” Tiffany mengecup pipi Seohyun yang menggembung karena mulut kecilnya terisi penuh hanya dengan satu potongan kimbap.

” Ini sangat enak! ” Seohyun memberikan dua jempol mungilnya pada Tiffany.

” Really? ” Seohyun mengangguk yang masih terus mengunyah.

” Hati-hati makannya sayang ” Tiffany mengusap bibir mungil Seohyun. Saat wanita itu terus menatap Seohyun dengan sebuah senyuman, dia teringat jika meninggalkan ponselnya dimobil. ” Seohyun-ah, tunggu disini dan jangan kemana-mana sampai ahjumma kembali ” Tiffany berdiri dari duduknya.

” Ahjumma mau kemana? “

” Aku ke mobil sebentar, ponselku ketinggalan disana. Ingat, jangan kemana-mana sampai ahjumma kembali. Arraseo? ” Tiffany kembali mengingatkan.

” Ne ” jawab Seohyun menganggukkan kepalanya. Tiffanypun melangkah meninggalkan Seohyun yang kini sibuk memegang kamera Tiffany. Melihat hasil foto yang diambil Tiffany saat dia bermain di tepi pantai.

” Seohyun? ” Seohyun yang tadinya terfokus pada layar kamera kini mengadahkan kepalanya melihat siapa pemilik suara yang baru saja memanggil namanya.

” Ha-hana ” Seohyun terkejut karena teman sekolahnya juga berada ditempat yang sama dengannya. Choi Hana, teman sekelasnya yang selalu memandangnya rendah. Selalu mengejeknya yang membuatnya harus menahan hati, manahan sakit didadanya karena emosi. Seohyun tidak pernah membalas kata-kata Hana, dia hanya bisa diam dengan napas menderu yang akhirnya menangis setelah Hana pergi dari hadapannya.

” Kau sendiri? ” Tanya Hana dengan wajah angkuh. ” Ah, pasti kau pergi bersama eomma mu bukan? ” Hana mengitari pandangannya, seolah matanya mencari seseorang.

” Eomma mu dimana? ” Hana seolah perhatian terhadap Seohyun, namun itu adalah sebuah pengejekan yang ditujukannya untuk Seohyun yang terus menatap teman sekelasnya itu.

” Ah, aku tau! Pasti ibumu sedang menggoda pria yang berada dipantai ini bukan? Biar bisa mendapatkan uang ” Seohyun mengepalkan tangannya, napasnya menderu keras karena menahan emosinya yang terus meningkat dan hampir mencapai puncak. Apakah dia harus diam seperti ini? Apakah dia akan terus menahan hati mendengar kata-kata Hana yang begitu tajam?

” Ah, apa mungkin ibumu ingin mencari teman untuk berpesta ria di club malam? ” Seohyun tidak lagi memiliki hati yang sabar. Ini sudah keterlaluan, sudah diluar batas kesabaran. Dia tidak lagi bisa menahan, tidak bisa lagi untuk diam. Dengan emosi yang memuncak Seohyun berdiri dari duduknya, kemudian mendorong tubuh Hana hingga terhempas ke pasir.

” Ya! ” Hana kembali berdiri kemudian membelas perbuatan Seohyun. Dia mendorong tubuh Seohyun hingga mereka berdua terhempas kepasir. Suasana memanas. Kini Hana berada diatas tubuh Seohyun, berusaha untuk menjambak rambut Seohyun yang kini sudah berlumuran pasir. Seohyun tidak mau kalah. Dengan sekuat tenaga dia membalikkan tubuhnya hingga membuat Hana kini berada dibawah. Kini Seohyun yang mencoba untuk membalas, menjambak rambut Hana. Seohyun tidak bisa lagi menahan emosinya dan melampiaskannya pada temannya yang angkuh itu.

” AAAKH! ” Hana menjerit kesakitan.

” Apa kau kira aku akan terus diam?! Aku sudah muak! ” Seohyun berteriak, bagaimanapun dia punya batas kesabaran.

” Ya! Apa yang kau lakukan pada anakku?! ” Seorang wanita dewasa berlari menghampiri mereka dan mendorong tubuh Seohyun hingga Seohyun kembali terhempas ke pasir. Seohyun meringis karena kedua bahunya terasa sakit saat tangan wanita itu mendorongnya. Wanita itu adalah ibunya Hana.

” Kwenchana? ” Ibu Hana membantu anaknya untuk berdiri.

” Eomma, dia mendorongku. Dia juga menjambak rambutku. Appo.. ” Hana berakting seolah dialah yang menjadi korban. Seohyun membelalakkan matanya. Mengeraskan rahangnya karena Hana kembali membuatnya naik darah.

” Kenapa kau menyakiti anakku eoh?! Dasar anak sialan! Ibumu yang murahan itu benar-benar tidak bisa mendidikmu ya?! ” sesak yang terasa didada Seohyun, matanya terasa panas karena menahan tangisannya. Hatinya begitu sakit karena telinganya terus mendengar kata-kata ‘ ibumu murahan ‘ dan ‘ anak sialan ‘ dari orang-orang yang selalu merendahkannya dan sang ibu.

” Anda yang tidak becus mendidik anak anda nyonya ” Ujar Seohyun sarkastik yang langsung membuat wanita itu geram.

” Kau! ” Wanita itu mengangkat tangannya, bersiap untuk menampar pipi putih Seohyun yang kini menutup matanya. Sudah bersiap diri jika tangan wanita itu mendarat dipipinya. Namun sudah beberapa detik berlalu, tidak ada sedikitpun dirasakannya. Tidak ada hantaman ketas dan rasa kesakitan dipipinya.

” Jangan pernah tanganmu menyentuh pipinya walaupun hanya dengan satu jaripun. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi ” Seohyun membuka matanya ketika mendengar suara yang begitu dikenalnya. Bisa dilihatnya Tiffany yang kini sudah berada disampingnya dengan satu tangan menggenggam pergelangan tangan ibu Hana yang gagal menyakiti pipinya. Wanita itu langsung menghempaskan tangan Tiffany.

” Kau tidak usah ikut campur! Aku hanya memiliki urusan dengan gadis ini dan ibunya yang murahan itu! ” Wanita itu menunjuk Seohyun dengan tidak sopan. Ya, Ibu Hana memang begitu benci dengan Jessica saat mereka terlibat pertengkeran disekolah Seohyun. Sejak itu Ibu Hana terus merendahkan Seohyun dan ibunya karena merasa kalah. Seohyun yang kembali mendengar kata ‘ murahan ‘ itu membuatnya kembali emosi.

” Kenapa kau selalu merendahkan eommaku seperti itu?! ” Seohyun yang akan melangkah untuk melampiaskan emosinya pada wanita kasar itu langsung ditahan oleh Tiffany.

” Seohyun! ” Tiffany merengkuh tubuh Seohyun yang meronta dan menangis.

” Kalian selalu merendahkanku dan eommaku! Selama ini aku selalu diam, aku selalu sabar saat kalian terus mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hatiku! tapi kalian semakin menjadi-jadi! Kalian keterlaluan! ” Seohyun berteriak untuk mengeluarkan isi hatinya seraya menangis keras. Hanya dengan ini dia bisa melepaskan kemarahannya, mencoba meredakan emosinya yang sudah meledak. Ini sudah keterlaluan, sudah berada diluar batas kesabaran dan Seohyun tidak bisa lagi berlapang dada untuk menerima kata-kata tajam yang terus dilontarkan. Apakah harga dirinya segitu rendahnya hingga mereka tidak pernah bosan untuk memandangnya sebelah mata? Yang terus mengejeknya?

” Jangan sayang. Tidak usah dilawan ” Tiffany semakin mengeratkan pelukannya pada Seohyun yang terus menangis keras. Kemudian menatap wanita itu dengan tajam.

” Kau seorang ibu yang tidak memiliki hati. Bagaimana jika anakmu yang direndahkan seperti itu? Apa kau akan menerimanya? Aku yakin, tuhan akan membalas semua perbuatan jahatmu pada gadis ini ” ibu dan anak itu terdiam mendengar kata-kata Tiffany, walaupun itu bukanlah kata-kata yang menyindir tetapi itu cukup menusuk ke hati.

” Kajja ” Tiffany membimbing Seohyun untuk menjauh dari Hana dan ibunya. “ kwenchana? “ Tiffany menepuk lembut pakaian dan tubuh Seohyun yang terkena pasir pantai. Seohyun masih saja menangis, menundukkan kepalanya tanpa ingin menatap dan menjawab pertanyaan Tiffany. Melihat Seohyun yang menangis seperti itu membuat matanya juga ikut memanas, menahan air matanya yang ingin keluar.

“ Ahjumma.. aku.. ingin pulang “ ujar Seohyun dengan terisak. Menatap Tiffany dengan air mata yang terus saja membasahi pipinya.

“ Ssst.. baiklah. Kita pulang sekarang, jangan menangis lagi “ Tiffany mengusap air mata Seohyun dengan tangannya yang lembut. Menatap Seohyun dengan tatapan khawatir, dia tahu Seohyun pasti begitu sakit. Dia bisa merasakan itu walaupun dia tidak tahu apa masalah yang terjadi antara Seohyun dengan wanita kasar itu.

       Akhirnya Tiffany memutuskan membawa Seohyun pulang setelah membereskan semua barang-barang mereka. Langit mulai kelam karena siang akan berganti malam. Kini Tiffany terfokus dengan jalanan yang begitu padat. Dia melirik kearah Seohyun yang duduk disebelahnya, ternyata gadis itu sudah tertidur dengan mata yang sembab dan masih terlihat jelas jejak aliran air mata dipipi Seohyun. Tiffany menepikan mobilnya, menatap sedih wajah Seohyun yang terlihat damai dalam tidurnya. Tangannya mengusap pipi putih yang masih basah itu dengan lembut. Disaat itu juga dia bisa merasakan pipi Seohyun yang hangat, tangannya dengan cepat beralih untuk menyentuh dahi Seohyun dan ternyata juga terasa sama. Tiffany baru menyadari jika wajah Seohyun terlihat sedikit pucat dengan gestur yang kedinginan. Dengan cepat Tiffany mengambil selimut kesayangannya yang memang selalu disediakannya di jok belakang, kemudian menyelubungi tubuh Seohyun dengan selimut yang berwarna merah muda tersebut.
        Tiffany kembali melajukan mobilnya, khawatir dengan keadaan Seohyun membuatnya harus menambah kecepatan dari biasanya. Hanya dengan waktu setengah jam akhirnya mereka sampai dan Seohyun masih tertidur dengan pulasnya. Karena tidak tega untuk membangunkan gadis kecil itu, akhirnya Tiffany memutuskan untuk menggendong Seohyun.

“ Kalian sudah pulang? Apa yang terjadi dengan Seohyun, Fany-ah? “ Tanya Sunny dengan khawatir melihat Seohyun berada digendongan Tiffany.

“ Ssst.. Seohyun hanya tertidur Sunny-ah. bisakah kau tunjukkan dimana kamar Seohyun? “ Sunny pun berjalan lebih dulu untuk memberikan arahan pada Tiffany.

“ Suhu tubuh Seohyun sedikit panas. Sunny-ah, apa kau punya obat penurun panas? “ Tanya Tiffany dengan tangannya kembali menyentuh dahi Seohyun setelah dia membaringkan gadis kecil itu diranjangnya.

“ Apa terjadi sesuatu? “ Sunny bertanya yang mendapatkan anggukan dari Tiffany.

“ kita akan bicarakan nanti setelah Seohyun makan dan meminum obatnya“ Tiffany menghela napasnya.

“ baiklah, aku akan menyiapkan obat dan makan malamnya “ Sebelum membuat makan malam untuk Seohyun, Sunny menyiapkan kompres dan memberikannya pada Tiffany yang akan menjaga Seohyun. Kemudian dia kembali keluar dari kamar. Meninggalkan Tiffany yang kini terfokus untuk merawat Seohyun.

” Eengh.. ” Seohyun bergumam saat merasakan dingin didahinya, berusaha untuk menjauhkan kepalanya.

” Tahan sebentar sayang ” Tiffany mengusap lengan Seohyun seraya menatap gadis itu yang terlihat gelisah. Tiffany yakin, Seohyun seperti ini karena merasa tertekan.

” Semoga besok pagi panasmu turun dan kembali ceria seperti biasanya ” Tiffany menghela napasnya seraya mengusap kepala Seohyun. Semoga dengan itu bisa membuat tidur Seohyun lebih nyaman.

” Kajima.. Temani aku disini ” Tangan Seohyun yang lemah menggenggam pergelangan tangan Tiffany yang akan beranjak untuk melangkah keluar dari kamar. Seohyun kembali terisak, kembali mengeluarkan air matanya yang sudah banyak dihabiskannya. ” Jangan pergi ahjumma, temani aku ” Tiffany benar-benar tidak tega melihat Seohyun yang seperti ini.

” Ssst.. Jangan menangis sayang. Aku tidak akan kemana-mana ” Tiffany kembali duduk ditepi ranjang Seohyun, mengusap air mata gadis yang kembali menangis sesegukan. ” Cukup Seohyun, aku tidak ingin melihatmu menangis lagi ” suara Tiffany bergetar karena menahan tangisannya.

” Ahjumma, bisakah ahjumma memelukku hingga aku tertidur? ” Tanya Seohyun dengan lirih, menatap Tiffany seolah dia mengiba pada wanita itu. Tiffany mengangguk seraya tersenyum yang kemudian membaringkan tubuhnya, merengkuh tubuh Seohyun untuk masuk kedalam pelukannya. Seohyun secara naluriah membalas pelukan Tiffany, menyandarkan kepalanya didada Tiffany. Menikmati kehangatan tubuh Tiffany di tubuhnya yang merasakan kedingin.

” Uljima.. ” Tiffany mengeratkan pelukannya, kembali mengusap pipi Seohyun yang sudah berkali- kali dilakukannya.

” Ahjumma, gomawoyo ” Seohyun mengadahkan kepalanya, menatap Tiffany dengan mata yang merah. Rasa inilah yang ingin dirasakannya pada Jessica. Ingin merasakan pelukan dari sang ibu ketika dia merasa kedinginan, ketika dia merasa rapuh dan tertekan, di saat dia menangis karena orang-orang selalu mengejek dan mengucilkannya. Tidak hanya dalam keadaan seperti itu saja. Seohyun juga ingin merasakan pelukan Jessica saat mereka mendapatkan sebuah kebahagiaan. Seohyun merindukan semua itu, merindukan perlindungan dan kasih sayang dari sang ibu. Tapi itu tidak lagi pernah dirasakannya, tidak lagi didapatkannya. Jessica terlalu sibuk dengan pekerjaan dan dunianya sehingga secara tidak langsung melupakan Seohyun yang selalu merindukannya.

” Maaf jika aku menyusahkan ahjumma. Tapi sekali ini saja, aku ingin ahjumma memelukku hingga aku tertidur “

” Kwenchana, kau tidak pernah menyusahkanku. Jika itu bisa membuatmu merasa nyaman, aku akan melakukannya. Aku akan terus memelukmu ” Tiffany mengecup dahi Seohyun dengan sayang.

” Sekali lagi terima kasih ” Seohyun kembali berucap, kali ini Tiffany menggeleng pelan.

” Jangan terlalu banyak mengucapkan terima kasih. Aku tidak ingin mendengarnya lagi ” Seohyun mengangguk pelan yang kini kembali membenamkan wajahnya di dada Tiffany. ” Sayang, kau harus makan dan minum obat sebelum kembali tidur ” Seohyun kembali menggeleng.

” Wae? Kau harus minum obat biar cepat sembuh ” Tiffany mencoba membujuk Seohyun.

” Nanti saja, kepalaku pusing ” Tiffany tidak lagi memaksa.

” Tidurlah, Nanti ahjumma akan membangunkanmu jika Sunny eomma sudah selesai membuat makan malam untukmu ” Tiffany menepuk lembut punggung Seohyun dengan tempo teratur. Berusaha untuk membuat gadis kecil itu cepat terlelap dalam tidurnya. Tiffany bisa melihat napas Seohyun yang teratur, Seohyun sudah tertidur. Tiffany mengeratkan pelukannya sebelum melepaskan pelukannya pada gadis yang kini tertidur dengan damai. Perlahan Tiffany melepaskan pelukannya dan dengan hati-hati bangkit dari posisi berbaringnya. Berusaha untuk tidak menimbulkan bunyi atau apapun yang akan membuat Seohyun terbangun. Tiffany merapikan selimut Seohyun kemudian mengecup dahi yang masih terasa hangat itu. Kemudian dia melangkah keluar untuk menemui Sunny yang berada didapur.

” Sunny-ah, apa yang bisa ku bantu? ” Mendengar suara Tiffany membuat Sunny membalikkan tubuhnya dan tersenyum menggeleng.

” Aku sudah hampir selesai. Duduklah, aku akan membuatkan teh hangat untukmu ” ujar Sunny yang kembali terfokus dengan kegiatannya. Membuatkan Tiffany secangkir teh hangat mengingat suhu yang dingin malam ini. ” Apa Seohyun masih tidur? “

” Ne, tadi dia sempat terbangun dan kembali tidur. Biarkan saja Seohyun tidur dahulu. Tadi dia mengeluh karena kepalanya terasa pusing ” jelas Tiffany yang mendapatkan anggukan dari Sunny. ” Gomawo ” Tiffany kembali berucap saat Sunny meletakkan secangkir teh dihadapannya.

” Bisakah kau menceritakan apa yang terjadi? Aku yakin ada terjadi sesuatu hingga membuat Seohyun seperti itu ” Sunny yang sudah duduk dihadapan Tiffany menatap Tiffany yang kini menghela napas.

” Sunny-ah, apa Seohyun dan ibunya sering diejek oleh orang-orang disekitarnya? ” Kini Sunny yang menghela napas setelah Tiffany melontarkan pertanyaannya, kemudian mengangguk pelan.

” Apa ada yang kembali mengejeknya? ” Kini Tiffany yang mengangguk. ” Seohyun memang seperti itu. Dia sering menangis karena selalu diejek dan dikucilkan oleh teman-temannya. Tidak jarang juga itu membuatnya sering demam karena merasa tertekan ” raut Sunny berubah sendu ketika kembali mengingat bagaimana kehidupan Jessica dan Seohyun yang begitu keras.

” Apa yang terjadi sehingga orang-orang terus memojokkan Seohyun? Dan dimana ibu Seohyun? Kenapa aku tidak pernah melihatnya disini? ” Tanya Tiffany yang begitu penasaran.

” Ibu Seohyun sibuk bekerja sebagai bartender disebuah club malam untuk menghidupi dirinya dan Seohyun. Makanya kau tidak pernah melihatnya. Dia akan pergi disiang hari dan kembali pagi harinya. Setelah itu dia akan tidur hingga waktu bekerjanya kembali datang dan itulah yang membuatnya kurang memperhatikan Seohyun ” jelas Sunny yang membuat Tiffany mengangguk mengerti.

” Aku mengerti sekarang kenapa Seohyun dan ibunya selalu diejek dan direndahkan. Mereka berpikir yang tidak-tidak karena ibunya bekerja di sebuah club malam bukan? ” Sunny mengangguk.

” Kau benar sekali. Itulah penyebabnya yang membuat Seohyun tertekan karena cercaan orang-orang padanya. Orang-orang sering mengatakan bahwa dia seorang anak yang tidak diinginkan karena mereka tidak pernah melihat Seohyun bersama ibunya, mereka tidak pernah melihat keberadaan ayah Seohyun hingga sekarang. Seohyun terus berusaha untuk bisa membuat teman-temannya percaya jika dia memiliki seorang ayah, namun teman-temannya tidak ada yang percaya. Jessica juga tertekan saat orang-orang mengatakan jika ayah biologis Seohyun tidak jelas. Mereka berpikiran jika Jessica sering tidur dengan laki-laki dan melakukan hubungan intim. Tapi semua itu tidak benar. Jessica tidak pernah melakukan hal itu, dia hanya bekerja sebagai bartender di sana. Bukan bekerja sebagai wanita panggilan ataupun seorang wanita penggoda seperti apa yang mereka pikirkan. Mereka benar-benar keterlaluan. Tapi apa daya, Jessica dan Seohyun tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi aku. Aku merasa seorang sahabat yang buruk untuk Jessica. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya bisa menguatkannya dan membantunya untuk merawat Seohyun. Hanya itu yang bisa kulakukan untuk mereka ” Sunny menitikan air mata saat menceritakannya pada Tiffany yang juga ikut menitikan air mata. Perlahan Tiffany bangkit dari duduknya dan menghampiri Sunny untuk memeluknya.

“ aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak tega melihat mereka yang terus dipojokkan. Apalagi Seohyun. Dia masih begitu kecil mendapatkan masalah seperti ini “ Sunny terisak yang kini menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tiffany mengusap punggung Sunny yang bergetar, berusaha untuk menenangkan Sunny yang terisak.

“ Kau bukanlah sahabat yang buruk untuk ibu Seohyun. Bahkan kau seorang sahabat yang begitu hebat yang bisa mengerti keadaannya, yang selalu menguatkan dan membantunya disaat dia merasa rapuh. aku yakin Jessica pasti beruntung dan bangga memiliki sahabat sepertimu Sunny-ah. Jangan berpikiran seperti itu ” Sunny mengangguk tanpa mengeluarkan suara.

” Aku yakin, ada makna dibalik semua ini. Akan ada rencana tuhan yang akan membuat Jessica dan Seohyun bahagia pada akhirnya. Mungkin ini adalah sebuah ujian yang akan berakhir dengan kebahagiaan ” Sunny kembali mengangguk.

” Ya, kau benar dan aku juga percaya itu ” Kini Sunny kembali tersenyum. Tiffany kembali mendudukan dirinya.

” Sunny-ah, aku ingin bertanya ” Kini wajah Tiffany kembali serius.

” Apa? “

” Dimana ayah Seohyun? ” Tiffany sedikit ragu menanyakan hal pribadi seperti itu.

” Seohyun sudah berpisah dari ayahnya beberapa tahun yang lalu. Jessica dan suaminya memilih untuk bercerai. Haah.. Dia memang gadis kecil yang luar bisa ” Ujar Sunny.

” Kau benar ” Tiffany menyesap teh hangat yang sempat dilupakannya.

” Aku akan kekamar Seohyun sebentar ” Sunny berdiri dari duduknya untuk melangkah masuk kedalam kamar Seohyun dan meninggalkan Tiffany yang masih duduk dimeja makan yang kini sibuk dengan pikirannya. Tidak lama kemudian ponselnya berdering, dengan segera dia meraih ponselnya yang berada dimeja makan. Sesaat dia tersenyum melihat siapa yang menghubunginya.

” Taetae! ” Ternyata suaminya yang menghubunginya. Tiffany tidak lupa mengatakan jika dia akan pulang sedikit terlambat dan sang suamipun mengizinkan asalkan dia bisa menjaga dirinya.

” Kau benar-benar gadis yang kuat Seohyun. Aku berjanji akan menjaga dan melindungimu jika ibumu tidak bisa melakukannya untukmu. Aku yang akan memberikan kasih sayang dan kebahagiaan jika ibumu tidak bisa memberikannya. Aku berjanji “ Tiffany berjanji didalam hatinya.

Flash End.

       Ya, sejak saat itu aku berjanji pada diriku sendiri untuk melindungi dan membahagiakannya karena aku sangat menyayanginya. Dua minggu setelah kejadian itu, sebuah kebahagiaan datang padaku dan Taeyeon. Kim Joohyun yang sudah lama kami cari ternyata selama ini berada di sekitarku. Kim Seohyun yang aku kenal selama ini adalah Kim Joohyun. Aku begitu bahagia, kami sudah menemukannya. Menemukan anak dari suamiku yang membuatku semakin menyayanginya. Namun saat itu juga sikap Joohyun berubah total yang membuat ku sering menangis. Dia membenciku, bersikap dingin dan tidak ingin berbicara padaku. Aku mengerti keadaannya, bagaimana masa lalunya saat ibu dan ayahnya berpisah yang membuatku terus berusaha kembali merubah sikapnya. Aku berusaha untuk terus mendekatinya, aku harus bisa kembali mengambil hatinya karena janjiku dulu. Janjiku untuk melindungi dan menyayanginya. Apapun akan kulakukan untuknya jika itu bisa membuatnya bahagia karena selama ini dia tidak lagi pernah merasakannya.
Langit sore yang berpadu jingga itu mulai berubah kelam, udara pun kini terasa lebih dingin saat mereka menerpa kulitku. Tidak terasa jika aku sudah cukup lama berada ditaman ini, bahkan aku tidak menyadari kalau anak-anak yang tadinya sibuk bermain sudah tidak terlihat lagi. Kusandarkan kepalaku di sandaran bangku taman yang kududuki, menatap langit kelam itu dan kemudian menutup mataku. Menikmati terpaan udara dingin yang terasa menyejukkan untukku. Tidak lama kemudian aku mendengar isakan seseorang yang membuatku kembali membuka mata, kuarahkan pandanganku kearah sumber suara. Saat itu juga aku reflek menegapkan tubuhku yang tadinya lesu seraya menatap nanar kearahnya. Bagaimana bisa?

“ Joo-joohyun “ Gumamku setelah melihat sesosok tubuh yang sangat ku kenal, ternyata Joohyun yang duduk dibangku taman yang tidak jauh dariku sambil menangis. Aku bisa melihat dengan jelas tubuh Joohyun yang bergetar. Dengan segera aku mendekati Joohyun kemudian merengkuh tubuh kecil itu untuk masuk kepelukanku. Sama seperti biasanya, sedikitpun tidak ada balasan darinya yang terus saja menangis.

“ apa yang terjadi sayang? Kenapa kau menangis dan kenapa kau bisa berada disini? “ Kuusap punggung Joohyun yang bergetar. Joohyun masih saja diam.

“ ceritakan pada mommy, apa yang terjadi hmm? “ Aku melonggarkan pelukannya untuk mengusap air mata yang membanjiri pipi putih gadis kecilku. “ wae? “ Kutatap Joohyun yang kini juga menatapku. Bisa kulihat jika terjadi sesuatu padanya. tatapan itu terlihat jelas jika dia sedang rapuh.

“ mianhe.. “ Lirih Joohyun yang bisa kudengar dengan jelas. Haah.. apa yang terjadi padanya?

“ mommy tidak mengerti, kenapa kau meminta maaf? “ Aku kembali bertanya

“ aku sudah membuat ahjumma terluka “ ujar Joohyun yang masih terisak. Terluka? Aku baik-baik saja.

“ terluka? Kau lihat, mommy baik-baik saja “ jawabku yang mengerutkan dahi, masih bingung dengan perkataannya.

“ aku sudah membuat ahjumma terbaring tidak sadarkan diri “

“ mwo? “ Mataku membulat karena keterkejutanku, aku semakin tidak mengerti dengan kalimat yang dilontarkan Joohyun.

“ maafkan aku “ Joohyun kembali berucap maaf seraya menundukkan kepalanya. Aku bingung dibuatnya, apa maksud dari perkataan Joohyun? kenapa Joohyun meminta maaf padaku seolah gadis kecilku ini membuat sebuah kesalahan?

“ apa maksudmu Joohyun-ah, apa yang kau katakan? Mommy baik-baik saja. Jika mommy terbaring tidak sadarkan diri, tidak akan mungkin mommy bisa bersamamu disini “ Aku menyentuh kedua bahu kecil Joohyun, menyuruh Joohyun untuk menatapku.

“ Joohyun-ah, please.. Katakan dengan jelas, apa yang terjadi? Aku benar-benar tidak mengerti dan kenapa kau terus menangis seperti ini? ” Tetap saja, hanya kata maaf yang terus terucap dari bibir Joohyun.

” Kau sudah selesai? ” Suara berat seseorang membuatku mengalihkan pandanganku. Seorang pria yang tidak kukenal kini berdiri dibelakang Joohyun. Menatap Joohyun yang masih menunduk dengan pandangan tidak bisa kumengerti. Tatapannya begitu datar yang terus menatap lurus kearah Joohyun. Itu membuatku khawatir, bisa saja pria itu bukanlah orang baik-baik. Aku beralih kembali menatap Joohyun saat dia mengangguk. Apa Joohyun menjawab pertanyaan pria itu? Apa Joohyun mengenal pria asing itu? Itulah pertanyaan yang muncul di benakku kini.

” Waktumu sudah tidak ada lagi, kita harus pergi ” Pria itu kembali berkata. Mwo? Apa yang dibicarakan pria ini? Harus pergi?

” A-apa maksudmu? ” Tanyaku pada Pria itu. Dia tidak menjawab pertanyaanku, hanya senyuman dingin yang diperlihatkannya yang membuat hatiku gusar dan amarahku semakin meningkat. Apa dia akan membawa Joohyun? Tidak! Itu tidak boleh terjadi!

” Dia sudah melakukan kesalahan besar ” jawab pria bersuara berat itu. Tidak puas dengan jawabannya membuatku kembali menatap Joohyun. Meminta jawaban darinya yang terus saja bungkam.

” Joohyun, kenapa kau diam saja?! Katakan sesuatu padaku! Apa maksud perkataanmu dan pria itu?! ” Aku meninggikan suaraku seraya mengguncang tubuh Joohyun dengan tidak sabaran. Sekali lagi, kata maaf yang kembali terucap.

” Kenapa kau terus meminta maaf?! ” Aku tidak lagi bisa menahan emosiku. Dari tadi aku sudah begitu sabar untuk menghadapi dan menunggu jawabannya.

” Ya, aku sudah melakukan kesalahan besar padamu. Aku sudah membuatmu celaka. Maafkan aku ” Joohyun berdiri dari duduknya yang membuatku refleks berdiri. Apa-apaan ini!

” Apa maksudmu Joohyun-ah? ” Tanyaku dengan gemas, suaraku bergetar karena menahan kegusaran dihatiku.

” Aku tahu, ahjumma pasti tidak akan bisa memaafkanku. Tapi aku benar-benar menyesal, aku menyesali semua apa yang sudah kulakukan padamu ” Aku mengusap wajahku, berusaha untuk mengatur napas ku yang menderu sedikit keras. Belum ada penjelasan yang kudapatkan dari tadi, yang dapat kumengerti.

” Ahjumma tenang saja, aku tidak akan lagi menganggumu. Aku tidak akan lagi membuatmu marah dan menangis karenaku ” Joohyun tersenyum, namun aku tidak bisa membaca arti dari senyuman yang diperlihatkannya. ” Sekali lagi, maafkan aku ” Joohyun membungkukkan tubuhnya dengan sopan. Kemudian melangkah mundur yang membuatku dengan cepat menahannya. Kenapa sikapnya berubah drastis seperti ini?

” Kau mau kemana?! Jangan bermain-main denganku! ” Kini tanpa sadar aku berteriak pada Joohyun yang melihatkan wajah bersalahnya. Aku tidak bermaksud meneriakinya, tapi aku sudah kehilangan kesabaran. Mataku terus menatapnya, aku bisa melihat raut wajah Joohyun yang sedang menanggung penyesalan yang begitu berat.

” Aku akan pergi. Aku akan pergi dari kehidupanmu dan appa, ahjumma. Seperti apa yang kukatakan tadi, aku tidak akan lagi menganggumu ” Joohyun kembali mundur yang membuatku semakin erat menggenggam pergelangan tangannya. Tidak! Ini tidak boleh terjadi! Aku tidak ingin kehilangannya, aku tidak bisa.

” Andwe! ” Aku menggeleng keras, menegaskan jika aku tidak bisa menerima ” Kau tidak boleh pergi dariku dan Taeyeon! Aku mohon, jangan pergi.. ” Kini aku menurunkan nada suaraku, bahkan lebih terdengar memohon. Berharap jika itu bisa membuat Joohyun berubah pikiran.

” Aku tidak bisa, aku tidak ingin membuat masalah yang lebih dari ini lagi. Aku sudah berjanji pada diriku untuk tidak membuatmu menangis lagi, tidak lagi membuatmu tersakiti ” Joohyun kembali mundur dan saat itu juga aku menarik tangannya. Disaat aku hampir saja bisa memeluk Joohyun, pria itu menarik Joohyun lebih kuat lagi yang membuat jarakku dengan anakku semakin jauh. Aku terus bertahan, mengeluarkan semua tenaga untuk mempertahankan Joohyun agar genggamanku tidak terlepas dari tangan gadis kecilku itu.

” Ya! Lepaskan anakku! Apa yang kau lakukan?! ” Pria itu benar-benar membuat emosiku memuncak. Aku berteriak pada pria yang terus melihatkan wajah datarnya. Pria itu terus menarik tubuh Joohyun sehingga membuat jarak kami semakin jauh. Sedangkan Joohyun tidak melawan, seolah pasrah dengan tarikan pria itu, dia hanya menangis dan terus menatapku.

” JOOHYUN-AH..! ” Akhirnya genggamanku terlepas. Aku ingin berlari mengejar Joohyun yang diseret paksa oleh pria itu. Namun entah kenapa kakiku tidak bisa bergerak, kakiku terasa beku. ” Aaakh.. YA!” Aku memukul kakiku sendiri, kenapa kakiku ini mati rasa? Aku tidak bisa merasakan apa-apa. Aku tidak peduli! Aku terus berusaha untuk menggerakkan kakiku, tetapi tetap saja tidak bisa. Apa yang harus kulakukan? Sekarang Joohyun sudah hilang dari pandanganku.

” Joohyun-ah ” Aku menangis, menutup mataku yang terus mengeluarkan air mata dan terus mengalir deras. ” Joohyun-ah ” aku tidak bisa lagi meneriaki namanya, dadaku terasa sesak yang membuatku sedikit sulit untuk menghirup udara. Aku tidak ingin kehilangannya. Aku sangat menyayanginya..

” Eonnie.. ” Aku mencoba untuk membuka mata, cahaya terang yang masuk membuat mataku menyipit dan terasa sakit. Aku begitu mengenali suara itu. Pandanganku masih mengabur, namun aku bisa menangkap sesosok tubuh yang berada disampingku. Aku menyadari, sekarang aku tidak lagi berada ditaman. Bagaimana bisa? Ini benar-benar membingungkan untukku.

” Eonnie, apa kau bisa mendengarku? Buka matamu ” Kepalaku terasa sakit, benar-benar sakit. Aku juga tidak dapat membuka mata karena belum bisa menerima cahaya yang begitu terang ditempat aku berada saat ini. Dari mana cahaya ini muncul?

” Aakh ” Aku mengerang kesakitan karena kepalaku semakin berdenyut, begitu luar biasa sakit yang kurasakan.

” Dia sudah sadar ” itu kata-kata terakhir yang bisa kudengar, setelah itu tidak ada lagi. Ini sangat aneh, aku tidak tahu apa yang terjadi.

AUTHOR POV

       Taeyeon berjalan dengan tergesa di lorong rumah sakit, bahkan hampir terlihat berlari. Tercetak jelas kekhawatiran diwajah yang biasanya kekanakan. ‘ Oppa, segeralah kerumah sakit ‘ itulah sebuah pesat singkat yang dikirim Yoona 10 menit yang lalu saat dia menghadiri rapat dikantornya. Sehingga membuatnya harus membatalkan rapat tersebut secara sepihak. Jantungnya berdetak cepat, dia begitu takut jika terjadi sesuatu pada istri tercintanya.

” Tiffany kenapa Yoong? ” Tanya Taeyeon dengan napas menderu saat dia sudah berada didepan kamar rawat Tiffany pada Yoona yang kini berada didepan pintu. Yoona menutup pintu itu dengan pelan sebelum menjawab pertanyaan Taeyeon. Namun, sikap yang diperlihatkan Yoona membuat Taeyeon semakin khawatir, Yoona memeluknya dengan erat seraya menangis pelan.

” Apa yang terjadi Yoong? Tiffany baik-baik saja bukan? ” Taeyeon melepaskan pelukan Yoona, jantungnya semakin berdetak cepat. apa yang terjadi dengan istrinya?

To Be Continued…

HAI HAAAAI.. I’M BAAAAACK..!!!

pertama, gue minta maaf karena udah lama banget ga update Dm.. hmm udah lebih dari sebulan! haha ini rekor baru gue.. rencananya gue mau buat rekor baru yang lebih dari ini #plaaaak #mintadibunuh

hmm… gue mau bicara apalagi ya?? tentang Jessica yang udah keluar?? tapi maaf gue ga mau bahas itu lagi dan gue yakin kalian pasti ga mau membahas itu juga kan? yang penting buat gue dan yang dipikiran gue,  Jessica tetap anggota soshi walaupun kenyataannya tidak lagi. Walaupun Jessica bukan lagi member soshi tetapi Jessica tetap bagian dari soshi. huuft.. sebenarnya berat banget menerima kenyataan, tapi kita memang harus menerima dan kita juga tidak bisa berbuat apa-apa selain terus mendukung mereka walaupun badai terus menerjang. kita adalah penguat mereka, kita adalah sone yang terus memberikan mereka kekuatan dan dukungan. Gue kesel dan kecewa banget mendengar ada sone yang menghujat delapan member yang mengatakan jika Taeyeon tidak becus untuk menjadi seorang leader dan mengatakan mereka hanya akting belaka dalam persahabatan. hidup bersama lebih dari 8 tahun, bisakah dikatakan hanya akting?? itu mustahil!! kalau itu memang hanya akting untuk didepan kamera, mereka tidak akan tahan untuk hidup bersama. itu menurut logika gue.. dan menurut gue itu memang benar!

uuups.. # nutupmulut

kenapa akhirnya gue jadi bahas ini ya?? haha tapi itu hanya sedikit apa yang ingin gue katakan.

chapter 14 akan dipublish besok malam(maybe).  gue belum bisa pastiin. yang pasti akan dipublish dalam minggu ini juga.  selama sebulan gue menderita karena diterror di grup bbm, dan untuk permintaan maaf gue chapter 14 bakal dipublish lebih cepat.

baiklah hanya itu cuap-cuap gue kali ini.. jangan lupa tinggalkan komentar setelah bacaa 🙂

oh ya, sorry.. moment yulsic ga ada di chapter ini.. hehe karena kebanyakan flashback kali yaa.. ga tau deeh yang penting tunggu aja moment taeny and Yulsic.. apakah hanya sampai disini atau mungkin akan berlanjut??

byebye *bow

Advertisements

64 thoughts on “Dear Mom (Chapter 13)

  1. Akhirnyaaa panny sadar,, tapi apa seo masi disitu?

  2. Err…ceritanya jd fany di alam mimpi kali ya 😁

  3. Oh ngert2 jadi fany kayak memasuki alam sadarnya gitu ya pas joohyun dateng, ah tapi akhirnya dia sadar juga yaa

  4. Tiffany sudah sadar tapi seohyun tidak ada disana. Iyakan?
    Aigo…. setiap chapter ff ini selalu sukses bikin aku nangis TT

  5. Fanny dah sadar kah?

  6. fanyah sadar !!! syukurlah, tp kmn hyunie….apa lngsung pergi???
    andwee hyunie!!!! mommy butuhkanmu nak hiks…
    trus hub. sica masa berakhir disini wajah thorrr, lanjut dung yulsicnya ya..ya..ya..:-) 🙂

  7. Omo apa yg terjadi sama fany? 😭😭😭

  8. Banyakin kim family aja gpp thor
    Wkwkwkk

  9. sehgtu bsrkn rasa cint fany thdp seo?dia menyayangi seo melbihi nyawany.tp sbnrny yg patut dikasihani seo,umur belia hrs hdpi maslh yg bgt berat dlm hdpny.n syukur krn memory itu fany bs sdr,tp ap yg trjdi klo fany th seo oergi dr hdp mrk?

  10. akhirnya fany sadar…. lanjuuutttt ..lanjut baca chap selanjutnya..

  11. kpn ini keluarga bahagia? wkwk

  12. akhirx fany sadar juga..
    😀
    😀

  13. joohyun hilang kemana tuh?

Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s