rara0894

All about TaeTiSeo and GG

Love between Dreams (Chapter 10)

50 Comments

Title        : Love between Dreams

Author   : 4riesone

Genre     : Romance, Gender bender

Cast        : 

 Jessica Jung

 Kwon Yuri

 Kim Taeyeon

 Girls’ Generation members and other

LxD cover 2

Fever

Sica sedang berada di sebuah taman. Tangannya tergenggam erat oleh orang di sampingnya. Dia menyukainya. Genggaman hangat dari orang yang disayanginya.

“Sica.”

Sica mendongak dan bertemu dengan tatapan yang lembut. “Ya, Mom?”

“Apa lagi yang kau inginkan hari ini, sayang?” Wanita paruh baya itu tersenyum. Sica menyukai senyuman nya. Senyuman ibunya sangat menawan. Dan dia juga memiliki lesung pipi saat tersenyum. Walaupun dia sudah berumur 40 tahunan tapi masih saja terlihat sangat cantik.

“Hmm,” si gadis kecil berpikir. Dia memandang ke sekeliling taman dan melihat beberapa bayi angsa dalam kawanan. Sica menarik tangan ibunya dan menunjuk ke sisi taman tersebut. “Aku ingin cutie bird, Mom. Cutieee bird.” Sica berbicara dengan suaranya yang sangat imut.

Ibunya terkekeh. “Bagaimana kalau kita memberi mereka makan, Sica? Cutie bird pasti akan menyukainya.”

“Makanan? Sica akan memberi mereka makanan. A-YE, Mom. Let’s go!” Dia meloncat-loncat bahagia.

“Hati-hati, sayang,” kata ibu Sica sambil mengikuti putrinya di belakang. Si gadis kecil sedang sangat bersemangat walaupun mereka sudah keluar sejak pagi hari. Dia sangat bahagia.

“Ini, Sica. Beri mereka sedikit demi sedikit, ya?” Ibunya memberi Sica setengah potong roti yang mereka sudah beli sebelumnya.

“Iya, Mom,” Sica kecil menyeringai. Dia melempar beberapa potongan roti ke tengah-tengah kawanan dan melompat girang sambil memandangi bayi angsa yang lucu mengkonsumsi roti miliknya. “Cutie bird,” dia melempar beberapa potong lagi.

Ibunya tersenyum dan membelai rambut Sica. “You’re my cutie girl.”

Sica mendongak menghadap ibunya dan tersenyum lebar. Tetapi senyuman di wajahnya itu segera menghilang.

“Mom?”

Ibunya terlihat sedih dan menjauh. Dia berusaha untuk meraih tangan ibunya tetapi tidak berhasil. Ibunya pergi menjauh dan semakin jauh darinya. “MOM?!” Sica melangkah maju. Tetapi ibunya tetap berjalan mundur. Sica mulai berlari, mengejar ibunya. Namun itu semua percuma saja. Ibunya telah pergi. Begitu pula sekelilingnya yang tiba-tiba menjadi putih seluruhnya. Tidak ada apa-apa di sekitarnya.

“MOM! Dimana dirimu, Mom? Jangan tinggalkan aku! Aku mohon, jangan tinggalkan aku sendiri!” Dia mulai menangis.

Si gadis kecil menangis seorang diri dan terus memanggil ibunya di antara isak tangisnya itu. Hingga dia merasakan sesuatu menyentuh dahinya dan seseorang memanggil namanya dengan nada khawatir.

“Sica?”

Dia tidak dapat melihat apapun kecuali cahaya terang di hadapannya. Dia memejamkan matanya beberapa saat. Sentuhan itupun terasa semakin nyata saat ini. Begitu pula suara yang memanggilnya pun menjadi semakin jelas. Suara yang terdengar familiar di telinganya.

“Sica?”

Sica akhirnya membuka matanya dan bertemu dengan tatapan khawatir di hadapannya. Tapi dia tidak tahu siapakah itu. Kepalanya terasa sangat berat dan pusing. Seperti dunia sedang berputar-putar. Dia mengernyitkan matanya untuk mendapatkan pandangan yang lebih jelas namun yang tampak hanyalah kegelapan. Tak lama kemudian dia pun kembali tertidur.

***

Penonton bertepuk tangan meriah setelah pertunjukan selesai. Anak-anak berjalan turun dari panggung, beberapa dari mereka berlari kecil. Seorang gadis kecil yang mengenakan gaun pink berlari dengan seyuman di wajahnya. Dia disambut olh pelukan dari ayahnya.

“Bagaimana Dad?”

Ayahnya menepuk pelan kepalanya. “Sangat bagus.”

Si gadis kecil tersenyum sangat lebar. Senyuman bahagia. “Apa Dad menyukainya?”

Pria itu mengangguk. “Yup, tentu saja. Dad sangat bangga padamu sayang.”

Dia memerah. “Bagaimana unnie?” si gadis kecil memutar badannya dan menghadap gadis di samping ayahnya. Seorang gadis yang terlihat sangat mirip dengannya hanya saja lebih tinggi dibandingkan dirinya.

“Kau yang terbaik, Soojung-ah,” gadis yang lebih tua itu menunjukkan kedua jempolnya pada adiknya tersebut. Gadis kecil itu tersenyum menyerangai sebagai balasannya.

“Dad, bolehkah aku menjadi seorang penyanyi? Aku senang bernyanyi,” Krystal menghadap ayahnya kembali dengan senyuman yang sangat lebar terpasang di wajahnya.

“Penyanyi? Soojungie ingin menjadi seorang penyanyi?”

Dia mengangguk dengan bersemangat. “Iya, Dad. Seorang penyanyi. Bolehkah?” dia menunjukkan muka puppy nya, mencoba untuk melelehkan hati ayahnya.

Pria itu tertawa melihat gadis kecil manis itu. “Apapun yang kau inginkan sayang.” Dia memeluk putri bungsunya. Setelah itu, dia merasakan tarikan pada kemejanya. Dia mengalihkan kepalanya dan melihat putrinya yang lain sedang berdiri di sampingnya.

“Aku juga ingin, Dad.”

“Apa kamu ingin dipeluk?” ayahnya bertanya polos.

Gadis itu menggelengkan kepalanya. “Menjadi apapun yang aku inginkan.”

“Tentu saja boleh sayang.” Dia menatap putrinya lembut.

“Benarkah, Dad?”

Dia mengangguk. “Iya sayang. Come to papa. Dad ingin memelukmu juga.”

Gadis itu menyambut pelukan ayahnya dan melingkarkan lengannya di sekitar tubuhnya. Pelukan itu memerikan kehangatan di tengah-tengah udara yang dingin. Kehangatan yang dia sukai. Kehangatan yang akan dia rindukan. Semakin lama pelukan itu berlangsung, semakin terasa hangat tubuhnya. Hingga akhirnya terasa panas. Keringat sudah terbentuk di dahinya. Banyak sekali. Dia merasa sangat panas.

***

Sensasi dingin di dahi Sica membuatnya terbangun. Sica membuka matanya perlahan dan menatap ke atas. Putih. Terlihat sangat mirip dengan kamar tidurnya. Dia mengedipkan matanya beberapa kali. Rasa pusing yang dia rasakan belum hilang sepenuhnya. Dia mencoba untuk menyentuh kepalanya yang masih terasa pusing. Tangannya dapat merasakan sesuatu yang lembut di dahinya.

“Oh, kau sudah bangun.”

Suara ini.

Sica memutar kepalanya ke samping dan melihat dia. “Kau?” katanya lemah.

Dia tidak menjawab malah mengambil handuk dari dahi Sica dan menaruhnya di baskom. Sica mencoba untuk mendorong dirinya bangun tetapi gagal, tubuhnya masih terasa sangat lemas.

“Berbaring saja dahulu, Sica.” Dia meletakkan telapak tangannya di dahi Sica. Kemungkinan sedang mengecek suhu tubuhnya. “Suhu tubuhmu masih sangat panas. Diam saja dulu disini untuk sementara. Aku akan mengganti airnya terlebih dahulu.” Dia mengambil baskom yang berisi handuk itu dan pergi keluar dari ruangan.

Sica menuruti perkataannya dan diam di tempat. Dia mencoba untuk memijat kepalanya untuk menghilangkan rasa sakit namun sama sekali tidak memberikan efek baik apapun, jadi dia memutuskan untuk berhenti saja. Tangannya sekarang sedang mecari handphonenya di meja di sebelah tempat tidurnya. Dia menswipe layar handphonenya. Sudah jam 3 sore. Sudah berapa lama aku berbaring di tempat tidur? Dia bertanya pada dirinya sendiri. Lalu dia melihat beberapa notifikasi. Terlihat ada 50 panggilan tidak terjawab dan 35 pesan masuk. Sica membukanya dan seperti yang sudah dia duga, Yul lah yang mencarinya, hampir semua notifikasi itu, kecuali beberapa panggilan tidak terjawab dan pesan dari sahabatnya.

Yul. Dia pasti sangat khawatir.

Rasa bersalah dan kesedihan menyusup dalam tubuhnya hingga ke sarafnya. Aku sungguh minta maaf, Yul. Dia menutup matanya, mencoba untuk melawan air mata yang akan segera jatuh dalam sekejap.

Tapi kemudian sebuah kain yang dingin dan halus menyentuh dahinya kembali. Sica tahu dia sudah kembali ke ruangan tapi belum membuka matanya. Sica tidak ingin dia melihatnya menangis.

“Temanmu ada disini, Sica. Sebaiknya aku pergi sekarang. Istirahat yang baik ya dan cepat sembuh.”

Sica mengangguk pelan dan tidak lama kemudian mendengar pintu kamarnya tertutup. Dia segera membuka matanya dan menghapus air mata dari pelipisnya. Tidak seharusnya aku selemah ini.

“Sica!”

Suara temannya hampir saja membuatnya syok.

“Kamu benar-benar membuatku khawatir.”

“Maaf, Hyo,” Sica tersenyum lemah.

Temannya itu melihat dirinya dengan pandangan khawatir yang terlihat jelas. “Apa yang terjadi denganmu? Sudah berbabad-abad sejak terakhir kali dirimu sakit. Dan kau juga tidak pergi bekerja.”

Sica kembali tersenyum lemah. “Sepertinya aku demam parah.” Dia menyentuh handuk lembut di dahinya.

“Kau juga berkeringat banyak sekali.” Hyoyeon berhenti sejenak. “Apa tadi itu Taeng?”

“Yeah.”

Hyoyeon mengangguk. “Dia merawatmu?”

“Aku tidak tahu. Aku baru saja bangun kira-kira lima menit yang lalu dan dia sudah ada disini.”

“Dia terlihat baik.”

“Sudah aku bilang. Tipe ideal ayahku.”

“Ah, betul juga.”

“Bisakah kita tidak membicarakannya?”

“Maaf, terbawa suasana.” Hyoyeon menyeringai. Sica hanya mengeluarkan suara tsk sebagai balasannya

“Apa yang kamu rasakan sekarang?”

“Pusing, dan panas. Dan lemah?”

“Apa kau minum-minum tadi malam?”

“Yah, Hyo!” Sica mengeluarkan tatapan dinginnya.

“Santai, Sica. Santai. Aku cuma bertanya. Lagipula kita sudah cukup umur.”

“Bukankah kau tahu betapa bencinya diriku pada orang yang mabuk.”

Hyoyeon memukul kepalanya. Literally. “Ya ampun. Maaf. Otakku sedang tidak berfungsi dengan baik saat ini.”

“Memangnya pernah?” Sica menjulurkan lidahnya pada temannya itu.

“Yah, Sica! Apa maksudmu?”

“Bukan apa-apa,” dia tertawa.

Hyoyeon cemberut. “Hanya karena kau sedang sakit aku akan memaafkanmu sekarang.”

“Bagaimana kau tahu kalau aku sedang sakit? Aku bahkan belum menelepon kantorku.”

“Aku juga tidak tahu awalnya,” Hyoyeon menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terlihat gatal sama sekali.

“Jadi?”

“Yul meneleponku. Dia bilang kau tidak mengangkat teleponnya ataupun membalas pesannya. Dia memintaku untuk memeriksa keadaanmu.”

Hyoyeon melihat perubahan di wajah temannya. Dia bisa melihat kesedihan dan dukacita disana. Dia berharap bahwa apa yang dilihatnya itu salah.

“Apa kau ingin menceritakan sesuatu padaku?” Hyoyeon bertanya dengan lembut.

Sica menggelengkan kepalanya. “Belum, belum saatnya, Hyo.”

“Baiklah. Tapi kau tahu bukan kalau kau bisa menceritakan apapun padaku?”

Sica mengangguk. “Tapi sejak kapan kau menjadi begitu perhatian seperti ini? Selama ini kau selalu canggung dalam mengekspresikan perasaanmu,” Sica mengetuk-ngetuk dagunya.

“Yah, Sica. Kenapa kau merusak suasana. Dasar gadis nakal.” Hyoyeon mencubit lengan kanan Sica yang membuat korbannya mengeluarkan suara ‘ouch’.

Sica menatap tajam temannya itu tapi dia hanya tersenyum menyeringai. Sica mencoba untuk menahan ekpresinya tapi tidak mampu menahannya lebih lama. Mereka berdua akhirnya tertawa bersama.

Terima kasih, Hyo.

Suara dari perut Sica menghentikan tawa mereka berdua.

“Sepertinya seseorang sudah lapar.”

“Belum makan sejak semalam.”

“Aku akan mengambilkanmu makanan kalau begitu.” Hyoyeon berjalan pergi

“Aku tidak ingin, Hyo,” Sica menghentikannya di tengah jalan menuju pintu.

“Kau harus makan, Sica.”

“Tidak.”

“Harus. Kamu sedang sakit. Dan perutmu membutuhkan makanan. Tidak ada negosiasi,” Hyoyeon mengatakan dengan tegas.

“Tapi…”

“Tidak ada tapi. Makan saja, oke? Dan kau mungkin bisa menggunakan waktu selama aku pergi untuk menelepon seseorang.” Hyoyeon pergi keluar dan tidak lupa memberikan kedipan kepada wanita yang sedang sakit itu sebelum meninggalkan ruangan.

Sica menghela nafas. Haruskan aku menelepon? Lalu apa yang akan kukatakan padanya? Bagaimana bisa aku menjelaskannya?

Ketika Sica sedang berpikir dan mempertimbangkan, handphonenya bergetar dan terdengar lagu ringtone dari gadgetnya tersebut. Sica melihat identitas penelepon. Yul. Pada panggilan pertama, Sica tidak menjawabnya karena dia berpikir terlalu lama dan panggilan terlanjur sudah berakhir. Namun akhirnya dia mengangkat teleponnya di panggilan yang kedua.

“Sica, apakah itu dirimu?”

Sica menjawab ‘hmmm’.

“Oh syukurlah. Bagaimana keadaanmu? Apa kamu baik-baik saja?”

“Maafkan aku, Yul.”

“Untuk apa?”

“Aku sudah membuatmu khawatir.”

“Tidak, tidak apa-apa, sayang. Tapi aku mohon telepon aku atau kirim pesan atau apapun lain kali, oke? Aku hampir saja gila memikirkan sesuatu terjadi padamu. Aku mohon?”

Dia mengangguk.

“Aku tidak bisa melihatmu, Sica. Kita sedang berbicara lewat telepon sekarang.”

Sica terkekeh. “Oh benar juga.”

“Senang mendengarmu tertawa, Sica. Jadi apa sekarang kau baik-bak saja? Kamu tidak pergi bekerja.”

“I’m hot.”

“Hot? Yeah, tentu saja kau hot, sayang.”

Sica tertawa. “Aku demam, Yul.”

“Oooh,” Yul tertawa pada dirinya sendiri. “Apa kau sudah baikan? Apa Hyoyeon ada disana?”

“Iya, dia sedang di luar sekarang. Jangan khawatir, Yul. Aku akan segera sembuh.”

“Kau harus segera sembuh, Sica. Maaf karena aku tidak bisa menjengukmu dan ada disana untukmu.”

“Tidak apa-apa, Yul. Tidak apa-apa.” Sica mengerti, dia pun tahu mengapa. Semuanya karena dirinya juga. Situasi mereka, hubungan mereka yang tidak akan pernah direstui oleh ayahnya. Bahkan Yul pun tidak bisa datang ke rumahnya.

“Makanan sudah siap,” Hyoyeon berkata begitu dia membuka pintu kamar.

“Apakah itu Hyoyeon?”

“Yup, dia membawakanku makanan.”

“Makanlah kalau begitu. Nanti aku akan kembali menelponmu.”

“Oke.”

Sica menutup telepon dan meletakkan handphonenya di meja kembali. Dia kemudian berusaha untuk bangun dan duduk setelah sekarang mendapatkan sedikit tenaga. Hyoyeon cepat-cepat meletakkan nampan di meja dan membantunya untuk duduk.

“Terima kasih, Hyo.”

“Jadi kamu menelepon Yul?”

“Dia meneleponku.”

Hyoyeon mengangguk tanda mengerti. “Baiklah. Sekarang saatnya kamu makan.”

***

Hyoyeon pergi tidak lama setelahnya karena dia harus menghadiri rapat di kantornya. Sica pun sudah lebih baikan setelah memakan makanannya walaupun masih merasa sedikit pusing sehingga dia pun masih berbaring di tempat tidurnya sambil memegang handphone di tangannya. Dia menswipe layarnya tapi kemudian menguncinya kembali. Dia menswipe layar handphonenya dan menguncinya kembali. Dia melakukannya berulang kali.

Mengapa Yul tidak bertanya apapun? Bukankah seharusnya dia marah padaku? Dan bagaimana bisa Taeng ada di kamarku? Bagaimana dia bisa tahu?

***

Mata Taeng terpaku pada laporan yang sedang dia kerjakan. Laporan bulanan. Laporan keuangan bulan ini terlihat baik, meningkat tiga persen dibandingkan tahun yang lalu. Perusahaan sedang mengalami peningkatan semenjak dia pindah ke kantor utama ini. Tent saja pegawai yang lain mengkontribusikan bagian mereka masing-masing dengan seimbang namun kontribusi Taeng yang besar tidak dapat dipungkiri.

Dia mengerahkan usaha dan dedikasi yang besar pada pekerjaannya meskipun memiliki kehidupan percintaan yang berat. Para pegawai, terutama mereka yang berada dalam kepemimpinannya, sudah menunjukan peningkatan yang signifikan sejak manajemen yang lalu. Dan hal itu menyebabkan peningkatan di bidang penjualan pula. Walaupun Taeng termasuk muda di dunia bisnis, namun ada sesuatu dalam dirinya yang tidak dimiliki sembarangan orang yang mampu membuat banyak perbedaan di perusahaan. Manajemennya juga membawa kesegaran baru di kantor yang membosankan itu. Itulah mengapa banyak pegawai yang benar-benar menghormatinya.

Taeng menghentikan pekerjaannya ketika dia mendengar handphonenya berbunyi. Dia melihat ke jam dinding. Jam sembilang. Taeng sudah kehilangan jejak mengenai waktu. Dia biasanya sudah pulang namun karena tadi dia meninggalkan kantor selama berjam-jam di siang hari, dia memutuskan untuk lembur dan menyelesaikan sisa pekerjaannya.

Dia melihat identitas penelepon dan mengernyitkan dahi. Benarkah?

“Hello?”

“Hi. Apa aku mengganggumu?”

“Tidak, tidak, tidak. Lagipula aku sudah selesai.”

“Kau masih bekerja?”

“Kira-kira seperti itu. Jadi ada apa Sica? Bagaimana kondisimu?”

“Sudah lebih baik. Terima kasih untuk tadi siang.”

“Baguslah kalau begitu.”

Hening.

“Hmm.”

Taeng menunggu Sica untuk berbicara.

“Mengapa tadi kau datang?”

“Kau sakit, Sica.”

“Tapi bagaimana kau bisa tahu? Aku bahkan belum memberitahu siapa-siapa. Kita pun tidak bekerja bersama.”

“Aku punya sumberku sendiri, Sica.”

Taeng bisa mendengar Sica menghela nafas.

Baiklah.”Maaf jika kau merasa terganggu.”

“Kau tidak perlu melakukannya. Juga di masa yang akan datang.”

“Kenapa?”

“Kau tidak seharusnya memperhatikanku. Aku tidak memiliki apapun untuk membalasmu.”

“Aku tidak mengharapkan apapun, Sica. Aku hanya khawatir. Dan ketika aku melihat kondisimu tadi aku tidak bisa menahannya lagi. Apapun yang kau katakan, Sica. Aku akan selalu ada di sisimu. Tidak peduli apa kau menyukaiku ataupun tidak.”

Sica menghela nafas lagi. “Bukan sesuatu yang tidak aku perkirakan. Lagipula hidupku  sudah bukan hidupku lagi.”

Taeng dapat merasakan kepahitan di kata-katanya. Maaf.

“Tidak apa-apa. Sepertinya kau tidak seburuk yang kukira sebelumnya,” Sica melanjutkan.

Taeng tersenyum pahit. “Terima kasih sudah berbaik hati padaku.”

Setelah berbincang-bincang sebentar, Sica menhentikan panggilannya tanpa ada rasa sebal sama sekali yang memberikan kelegaan pada Taeng. Dia tahu bahwa Sica tidak menyukainya namun kebenciannya padanya sudah berkurang. Taeng seharusnya senang akan hal itu, namun jauh di dalam hatinya dia juga merasa menyesal. Menyesal karena membuatnya melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak dia inginkan. Taeng mengerti ini semua hanyalah perjodohan, namun dia akan melakukan apapun untuk membuat wanita yang dia cintai itu bahagia.

To be continued…

Wink to all Taengsic shippers out there hahaha Oke komen ya komen ^^ see ya next week. annyeong~

Advertisements

Author: 4riesone

SONE. Follow me on Twitter @4riesone for updates and questions

50 thoughts on “Love between Dreams (Chapter 10)

  1. Yaeeyy sica udah mulai ga galak ama tae . Taengsic yee 😀

  2. Huaaa knp malah bnyak taengsic moment,yulsicnya mna? 😥
    Sica sbar ya,yul jga mr.jung emg kjem bgt…
    Lanjutt thor

  3. apa ini cmn perasaan gw aja yaaa ko’ pendek gitu thor.. hehehe
    kurang thor kurang…. hehe *nasib TS shiper yaa kyk gini.. kelaparan bngt skrg. hahaha
    jgn php in gw ye thor.. pls bngt deh..

  4. aaaah galau gue… setuju banget taeng sama sica tapi kok kasiiaan liat yul coba 😦 tapi tapi tapi klo taengsic saling cinta tuh gmana gitu ya..hemmm, gimana klo tiff muncul untuk yul. hahahaha #ngarep 😀

  5. kangen sm taengsic moment, akhirnya muncul jg;-)
    tp kasian jg sm yul, kyknya hubngn yulsic gak akn prnah dpt restu dr mr.jung
    sica udh gak galak lg tuh, apa sica mulai membuka hatinya bwt taeng, tp yul nasibnya gmn??

  6. hmm akankah sica,jth cinta seiring sring mrk brtmu,,,ksian ding yul nya… huhhh yul trlalu baik y,,lnjut dong hehe

  7. annyeong ……

    Waaah,, how about YulSic ….???
    Hmmm ,, ak gk bsa komen apa”,aku bingung,, U,U dtunggu next chap nya aja …
    SEMANGAAAAAAAT

  8. Kasian taeng cintanya buat sica bener-bener tulus tapi sica dagh terlanjur suka ma orang lain

  9. Yah yul gk ada disaat sica sakit..Taengsic semua, Yulsicnya kmna?

  10. Pendek ya wkwkwkwk
    Yeyy sica udh ga gtu benci tae ^^
    TaengSic 💙💙💙💙
    Lanjut dah

  11. Yuhuuu memont taengsic’a banyakin doonnggg .hahaha
    Mdh”an sica nanti bisa luluh ..
    CepetLanjut …

  12. Yulsic ga ada moment huaaaaaaa

  13. haduh taeng… kalo emang situ beneran peduli ama sica, jauhi dia… menjauhlah dari kehidupan yulsic dan jangan kembali shuu shuu shuu~

  14. Klo taeng mau liat sica bahagia yah satu”nya cara nolak perjodohannya sama sica biar sica bahagia sama yul..

  15. yulsic please.. honestly i don’t like taengsic, sorry.

  16. Lumayan nih ada kemajuan, sica udah gak terlalu ngebenci taeng. Tapi jangan bikin sica cinta sama taeng ya thor kasian yuwree u.u kenapa om Jung gamau restuin hubungannya yulsic??padahal kan yul baik…

  17. Yaaah yulsic mana m0ga nanti yulsic tetap bersama yulsic yulsic.

  18. Taeng tw dr mna y klo sica skt?
    n bnr kt sica qo yuri g mrh?

  19. Taaaeeeeng sabaarrrr yaaaaaa,,,,
    Eh ada yg aneh jg dri sikap yul,,

  20. Im time traveler hahaha,skali lg nanya thor,np si rempong lemot blom da tanda2 kemunculanya ke permukaan

  21. Taengsic yuhuuu gue agak labil utk menentukan taengsic atau yulaic utk saat ini pasti yulsic.

  22. Jadi bener2 bingung saya.. ini main castnya yulsic.. tpi koq kebanyakan. Scennya taengsic…
    Hemmmm..

  23. huh..at least sica mw respon kebaikan taeng.oke…oke..

  24. oh?? taengsic udah ada kemajuan . terus yul gimana nih?

  25. taeng bersabarlah sedikit lagi. sica udah ga terlalu benci lagi ama taengoo…
    masih misteri kenapa jessi bisa sakt. dan bagaimana pertemuan nya dgn yuri

Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s