rara0894

All about TaeTiSeo and GG

Dear Mom (Chapter 12)

131 Comments

Title       : Dear Mom

Author  : rara0894

Genre    : Family, gender bender

Cast       :

Seo Joo Hyun as Kim Joo Hyun

Tiffany Hwang/ Hwang Miyoung

Kim Taeyeon

Jessica Jung/ Jung Sooyeon

Kwon Yuri

And other cast

CYMERA_20140711_052021

 

” Jadi, aku ingin mendengarnya darimu. Apa kau benar-benar ingin aku pergi dari hidupmu? “

       Apakah jawaban yang akan terucap dari bibir Jessica? Apakah dia akan melepas Yuri untuk pergi dari hidupnya atau bahkan menahan Yuri untuk tetap disisinya? Dengan jantung yang berdetak tidak karuan, Yuri dengan sabar menunggu jawaban dari Jessica yang masih diam membisu. Sedetik.. dua detik.. bahkan sudah satu menit berlalu. Karena tidak juga mendapat jawaban, Yuri beranggapan jika Jessica memang tidak lagi menginginkannya. Menyerah, itulah yang kini Yuri putuskan. Dia tidak lagi berharap. Tidak lagi meminta hati Jessica yang sudah tertutup rapat untuknya. Kini yang bisa dilakukan hanyalah melepas cinta pertamanya, cinta yang bertahun-tahun masih melekat dihatinya. Bahkan sampai sekarang. Sedikitpun tidak ada bagian yang luntur yang akan mengurangi kadarnya. Tapi dia akan menyerah. Bukan menyerah untuk tidak lagi mencintai, tetapi menyerah untuk kebahagian wanita yang dicintai. Biarlah rasa cintanya tidak terbalas dan dipendamnya sendiri. Memang menyakitkan, tapi mungkin inilah jalan terbaik.

       Yuri menghela napas, kemudian melihatkan senyuman terbaiknya untuk Jessica, mungkin untuk yang terakhir kalinya.

” Arraseo.. ” Yuri kembali menghirup udara malam yang dingin hingga memenuhi paru-parunya sebelum kembali dibuangnya.

” Aku tidak akan lagi meminta. Tidak akan lagi berharap. Aku akan melepasmu untuk kebahagianmu Sooyeon. Maaf atas perbuatanku dimasa lalu. Maaf karena aku tidak bisa memperbaiki semuanya seperti apa yang kukatakan sebelumnya. Sekali lagi.. maafkan atas semua kesalahanku “ Perlahan Yuri mendekati Jessica yang masih diam, menangkupkan tangannya di pipi putih wanita itu. Dengan lembut, Yuri memberikan kecupan pada bibir Jessica. Untuk yang terakhir kalinya. Jessica masih saja diam tanpa pergerakan. Dia terkejut dengan apa yang dilakukan Yuri hingga membuat jantungnya berdetak cepat. Apakah karena masih ada rasa? Sama seperti sebelumnya, Jessica masih merasakan dilema.

       Yuri kembali melihatkan senyuman hangat dengan lumuran cinta yang bisa dirasakan Jessica walaupun hanya dengan pandangan mata. Tapi Jessica kembali menepis, kembali membuang dari benaknya yang mengakui rasa. Dengan perlahan, Yuri melangkah mundur untuk melebur jarak yang akhirnya membalikan tubuhnya untuk semakin jauh dari pandangan Jessica yang terdiam dengan hati berkecamuk. Tidak tahu apa yang harus dilakukannya yang terus menatap punggung Yuri yang biasanya tegap. Apakah ini akhir dari mereka? Akhir dari segalanya? Manusia tidak akan pernah tahu rencana tuhan, tidak tahu apa yang sudah digariskan.

       Disisi lain kota Seoul, seorang pria menatap cemas kearah gadis yang belum juga membuka matanya.

“ kenapa dia belum juga sadar? “ suara berat itu terdengar jelas sangat mengkhawatirkan gadis yang kini terbaring tidak sadarkan diri.

“ Dokter mengatakan jika gadis ini sedang dalam pengaruh obat appa. Mungkin besok pagi dia akan terbangun dari tidurnya “ Jelas seorang gadis yang berstatus sebagai anak dari pria itu.

“ Syukurlah.. “ Pria itu bisa bernapas napas lega. Bagaimana dia tidak khawatir dengan gadis yang tidak dikenalnya yang kini terbaring di ranjang tidur anaknya yang tadinya tidak sadarkan diri disudut kedai.

Flash Back

       Kedai ramyeon itu begitu ramai pengunjung malam ini, pemilik dan beberapa karyawannya begitu sibuk melayani pelanggan yang akan memesan makanan yang tersedia. Membuat mereka harus bekerja ekstra agar tidak mengecewakan pelanggannya.

“ Ahjussi..!! Kim Ahjussi..!! “ teriak salah satu karyawan seraya berlari kearah pemilik kedai yang dipanggilnya ‘ Kim Ahjussi ‘ itu, membuat pria yang dipanggil menoleh kearah sumber suara. Terlihatlah karyawannya itu berlari tergesa dengan raut wajah yang terlihat tidak baik-baik saja.

“ ada apa? Kenapa kau berlari seperti itu? “ tanya Kim Ahjussi yang terlihat kebingungan.

“ i-itu.. “ karyawan tersebut tidak melanjutkan kata-katanya karena berusaha untuk mengatur napasnya yang tidak beraturan. Jantungnya berdegup kencang setelah apa yang dilihat oleh matanya.

“ Waeyo? Kwenchana? “ Sipemilik menepuk-nepuk punggung karyawannya yang terus mencoba menormalkan napasnya.

“ kau sudah merasa baikan? “ Tanya Kim Ahjussi yang mendapatkan anggukan sebagai jawaban.

“ Ahjussi, ikut aku.. i-itu.. seorang gadis kecil tidak sadarkan diri di depan kedai “ ujar sang karyawan yang menarik tangannya.

“ Mwo? “ Mereka pun berlari untuk melihat gadis tersebut.

“ Jiwoon-ah, katakan pada Nayeon untuk membukakan pintu kamarnya. Biar aku yang mengangkatnya kedalam “ dengan segera karyawan itu melakukan perintah atasannya. Dengan segera Kim Ahjussi menggendong tubuh gadis itu dan membawanya kedalam rumah yang menyatu dengan kedai yang dikelolanya. Tepatnya berada dibelakang kedai tersebut. Saat memasuki kedai, semua orang memandanginya dengan raut yang juga ikut khawatir melihat gadis kecil itu tidak sadarkan diri.

“ Jiwoon-ah, gantikan aku untuk mengontrol kedai. Biar aku dan Nayeon mengurusnya “ Jiwoon pun mengangguk dan keluar dari kamar Nayeon.

“ Nayeon-ah, tolong hubungi dokter yang ada di klinik seberang “ sang anakpun mengangguk dan berjalan cepat untuk menghubungi dokter.

Flash End

“ Sepertinya kau seumuran denganku.. apa yang terjadi denganmu hingga kau tidak sadarkan diri huh? “ ujar Nayeon yang khawatir. Dia iba melihat gadis yang kini tidur diranjangnya. Bahkan Nayeon juga sudah menggantikan pakaian gadis yang tidak dikenalnya itu. Tangan kecilnya meraba dahi yang terlihat mengerut. Sepertinya gadis itu merasakan kesakitan walaupun dalam keadaan tidur. “ suhu tubuhmu begitu panas, apa kau kedinginan? “ tanya Nayeon pada gadis kecil yang ternyata adalah Seohyun yang masih belum membuka matanya.

“ Semoga besok pagi kau sudah membuka mata dan baik-baik saja “ Nayeon merapikan selimut yang menyelubungi tubuh Seohyun yang panas, kemudian beralih membaringkan tubuhnya disamping Seohyun untuk tidur.

***

       Jessica melangkah pelan kearah taman yang dulu sering dikunjunginya beberapa tahun yang lalu. Disaat Seohyun masih berada dipelukannya, disaat Seohyun masih terlihat dipandangan matanya. Kini Seohyun tidak lagi terlihat, namun masih bersemayam dipikirannya. Wajah cantik Seohyun selalu muncul dibenaknya disetiap jantungnya yang masih berdetak, namun serasa mati.
Jessica menghentikan langkahnya, menatap bangku panjang taman yang sering didudukinya bersama Seohyun.

“ Joohyun sangat sangat mencintai eomma dan appa “

“ Eomma, Joohyun ingin bermain ditaman ini setiap hari libur bersama eomma dan appa “

“ Eomma, Joohyun ingin kita berfoto bertiga dengan appa ditaman ini. pemandangan disini sangat indah. Joohyun suka! Joohyun ingin berfoto disana, Joohyun ingin berfoto dengan bunga mawar itu!“

“ Eomma, nanti kalau Joohyun sudah besar Joohyun ingin menjadi penyanyi yang hebat. Joohyun ingin memiliki suara yang sangat bagus seperti eomma. Joohyun juga ingin menjadi seperti appa yang
selalu melindungi kita. Nanti Joohyun yang akan menggantikan appa untuk melindungi eomma dari orang jahat “

       Satu senyuman terukir diwajah Jessica saat kalimat-kalimat itu terngiang ditelinganya dengan begitu jelas. Seolah dia bisa melihat dirinya dan Seohyun sedang bercengkrama di bangku tersebut, bisa melihat raut wajah Seohyun yang begitu bahagia. Air matanya kembali membasahi pipi putihnya yang kini dingin diterpa udara malam.

“ Eomma, kenapa appa tidak mau ketaman ini? kenapa appa selalu sibuk dikantor? Appa tidak ingin lagi membawa Joohyun dan eomma jalan-jalan? “

“ eomma wae? Dari tadi eomma melamun “

“ Eomma Jangan menangis lagi. Joohyun sedih melihat eomma seperti ini “

       Air mata Jessica semakin deras dibuatnya yang membuat dadanya terasa sesak. Tanpa sadar dia sudah menduduki bangku itu sejak tadi. Sejak dia terjebak dalam memori masa lalunya. Jessica terus saja menangis. Berusaha untuk melepas semuanya, melepas beban yang dipikulnya. Namun tetap saja sia-sia. Sudah berkali-kali dilakukannya dengan cara yang sama, tetap saja tidak membuatnya lepas dari lingkaran kesedihan.

“ Joohyun-ah, bogoshippo.. “ Jessica terus terisak seraya memukul dadanya yang terasa semakin sesak. “ mianhae.. Jeongmal mianhae.. “ Jessica menunduk dalam, semakin mengeraskan tangisannya karena hanya itu yang bisa dilakukannya.

“ menyesal? “ satu suara membuat tangisannya sedikit mereda, dengan perlahan dia mengangkat kepalanya. Mencari tahu pemilik suara yang begitu dikenalnya.

“ Joo.. joohyun.. “ Napas Jessica tercekat melihat siapa yang kini berada dihadapannya. Apakah ini hanya halusinasi? namun ini terlihat nyata.

“ wae? eomma terkejut dengan kehadiranku disini? “ Tanya Seohyun dengan tenang, melihatkan sebuahnya senyuman yang tidak biasa. Sebuah Senyuman menyeringai yang terlihat seperti kebencian yang terpendam.

“ ba-bagaimana kau bisa berada disini? Ini sudah tengah malam, dengan siapa kau kemari? “ tanya Jessica yang penuh dengan perhatian pada Seohyun yang menatapnya tajam.

“ apa itu penting bagi eomma? Mati sekalipun eomma tidak akan lagi peduli padaku “ ujar Seohyun yang membuat hati Jessica serasa tersayat.

“ kenapa kau bicara seperti itu? kau itu sangat penting untuk eomma sayang “ Ujar Jessica yang berusaha selembut mungkin agar Seohyun tidak lagi melontarkan kata-kata tajam. Jessica melangkah untuk memperpendek jaraknya dengan Seohyun yang berdiri tegap. Tangannya terangkat untuk mengusap kedua pipi Seohyun, berharap itu bisa meredamkan emosi anaknya yang kini terus saja diam tanpa pergerakan. Tidak lama kemudian Jessica menarik tubuh kecil Seohyun untuk masuk dalam pelukannya. Memeluknya dengan erat, menyalurkan kerinduannya yang kini terobati. Namun tidak ada balasan dari Seohyun yang terus diam.

“ eomma merindukanmu.. sangat merindukanmu “ lirih Jessica yang terdengar jelas ditelinga Seohyun. Namun itu membuat Seohyun semakin emosi yang kini mengepalkan kedua tangannya hingga memutih. Seohyun tidak lagi tahan dengan situasi yang kini terasa dan melepaskan pelukan hangat Jessica dengan paksa.

“ Joohyun-ah.. “ Jessica terkejut dengan sikap anaknya. Jessica berusaha tenang, berusaha untuk tidak terganggu dengan sikap yang dilihatkan Seohyun terhadapnya. Tangannya terulur untuk menyentuh Seohyun, namun Jessica kembali mendapatkan perlakuan dingin. Seohyun menepis tangan Jessica dengan kasar.

“ Kenapa kau seperti ini pada eomma? “ tanya Jessica dengan suara yang bergetar, menahan tangisannya yang terasa ingin meledak.

“ kenapa? “ Seohyun balik bertanya. “ eomma masih bertanya kenapa aku seperti ini? Eomma tidak tahu kesalahan apa yang sudah eomma lakukan padaku? “ Pertanyaan Seohyun yang bertubi-tubi membuat Jessica menunduk karena perasaan bersalah. Ya, dia tahu apa kesalahannya. Bahkan itu yang selalu ada dibenaknya.

“ eomma tahu.. “ lirihnya. Jawaban itu membuat amarah Seohyun menambah.

“ apa eomma sudah melupakanku? Tidak lagi menginginkanku? “ tanya Seohyun dengan tenang. Kini Jessica kembali mengangkat kepalanya, menatap Seohyun dengan lekat. Dia bisa melihat mata cantik Seohyun yang kini memerah.

“ kau itu anakku Joohyun-ah, tidak akan mungkin aku melupakanmu “ jawab Jessica yang sudah berurai air mata.

“ Pembohong! “ Teriak Seohyun dengan emosi yang sudah meledak. Kini air matanya sudah membasahi pipinya. Bahunya naik turun karena dadanya terasa sesak, napasnya terasa tidak beraturan “ Kalau eomma tidak melupakanku, kenapa eomma tidak pernah sekalipun menemuiku?! Kenapa eomma tidak pernah menghubungiku?! Itu yang eomma sebut jika masih mengingatku?!“ Seohyun kembali bertanya dengan berteriak, dia melimpahkan semua emosinya yang tadi ditahannya. Air matanya semakin deras, dia menangis karena meluapkan semua apa yang tertahan dihatinya selama ini. Meluapkan semua kemarahannya terhadap Jessica.

” Jangan berpikir seperti itu sayang, semua itu tidak benar ” Jessica kembali mencoba mendekati Seohyun, ingin sekali memeluk anaknya itu. Namun setiap satu langkah Jessica maju maka saat itu juga Seohyun melangkah mundur.

” Aku tidak lagi percaya padamu ” ujar Seohyun yang membuat hati Jessica kembali terasa disayat. Begitu sakit.. Tapi Jessica tidak akan marah, mungkin ini pantas untuknya. Setara dengan apa yang sudah dilakukannya pada Seohyun. ” Dan aku membencimu ” kalimat terakhir Seohyun membuat perasaan Jessica semakin tak menentu. Tangannya terkepal kuat untuk pelampiasan perasaannya yang berkecamuk.

” Tidak apa-apa jika kau tidak lagi percaya padaku. Tapi jangan pernah membenciku karena aku tidak bisa menerima itu ” Ujar Jessica dengan napas yang menderu. Dadanya kembali sesak dengan apa yang terucap dari bibir mungil Seohyun.

” Aku tidak peduli, karena eomma juga tidak peduli lagi padaku ” jawab Seohyun dengan raut datar namun terlihat penuh dendam. Hati Jessica serasa ditusuk beribu jarum setiap apa yang terlontar dari bibir itu. Bertubi-tubi sakit yang dirasakannya.

” Eomma tenang saja, aku tidak akan lagi menganggumu. Mungkin malam ini adalah pertemuan kita yang terakhir karena aku akan menghilang dari hidupmu. Eomma tidak akan lagi menemukanku dalam pandanganmu ” ujar Seohyun yang mendapatkan gelengan keras dari Jessica sebagai jawaban.

” Andwe! Kau tidak boleh meninggalkan eomma Joohyun, kau boleh tinggal bersama ayahmu tapi jangan pernah kau meninggalkanku ataupun melupakanku. Aku tidak bisa menerimanya! ” Ujar Jessica dengan tegas, bergerak cepat untuk memeluk Seohyun yang begitu dirindukannya. Seohyun memberontak, berusaha untuk terlepas dari pelukan Jessica yang erat.

” Aku sudah katakan kalau aku tidak akan peduli! Sekarang lepaskan aku! ” Dengan sekuat tenaga akhirnya Seohyun bisa melepaskan pelukan Jessica ditubuhnya.

” Aku berjanji, tidak akan pernah lagi menemuimu eomma. Selamat tinggal ” Seohyun membalikan tubuhnya dan melangkah cepat untuk meninggalkan Jessica. Namun baru beberapa langkah Jessica menarik pergelangan tangannya. Memintanya untuk tidak pergi.

” Andwe! Tarik ucapanmu Joohyun-ah! Jangan lakukan itu padaku! Aku tidak kuat menghadapinya, jangan hukum aku dengan cara seperti ini. Aku mohon.. “ Seohyun tidak menghiraukan Jessica yang terus memohon sambil menangis.

“ Lepaskan! “ Seohyun sekuat tenaga untuk melepas lingkaran tangan Jessica ditubuhnya dan berhasil. Dengan segera dia berlari cepat untuk pergi dari taman itu.

“ Joohyun..!“ Dengan sekuat tenaganya, Jessica terus mengejar Seohyun yang berlari dengan cepat.

“ Joohyun awas..!! “ teriak Jessica yang semakin mempercepat larinya saat melihat sebuah mobil yang akan menghantam tubuh kecil Seohyun.

BRAAK

Deg!

       Jessica membuka matanya dengan jantung yang berdetak cepat, keringat dingin kini membahasi tubuhnya. Bahkan bajunya sudah basah karena keringatnya yang begitu banyak. Ternyata hanya sebuah mimpi namun seakan nyata. Napasnya menderu keras, dadanya masih terasa sesak sejak mimpi itu berputar dibenaknya. Apa maksud dari mimpi yang datang dalam tidurnya? Apakah Joohyun benar-benar membencinya didunia nyata? Mimpi itu seolah memberikan pesan jika Seohyun akan melupakannya.

“ Sooyeon-ah.. kwenchana?? “ Jessica menatap Sunny yang kini sudah berada disampingnya. Mengusap dahinya yang berkeringat. “ kau bermimpi buruk? “ Bisa Jessica lihat tatapan Sunny yang khawatir padanya. Mata Jessica terasa panas dan memerah saat mimpi itu kembali membayang. Dia pun bangkit dan memeluk Sunny dengan erat. Menumpahkan tangisannya dibahu sahabatnya itu yang membuat kekhawatiran Sunny semakin menjadi, tidak biasanya Jessica sampai seperti ini. Bahkan suhu tubuh Jessica saat ini berada diatas normal. Bisa dirasakannya saat tubuh itu bersandar ditubuhnya.

“ kau demam..sebentar, aku akan membawakan obat penurun panas untukmu “ saat Sunny ingin melepaskan pelukannya, Jessica langsung menahan Sunny dan semakin mengeratkan pelukannya. Meminta Sunny untuk tidak pergi dari sisinya.

“ apa yang terjadi? Kenapa kau bisa seperti ini? “ tanya Sunny dengan lembut sambil mengusap punggung hangat itu. mencoba untuk menenangkan Jessica yang terus saja menangis dibahunya. Bahkan kini sudah membahasi bajunya. Satu kata pun tidak terucap dari bibir Jessica untuk menjawab pertanyaan Sunny. Sebenarnya dia ingin mengatakan jika dia begitu merindukan Seohyun, namun sedikitpun tidak bisa diucapkannya dan terus saja menangis.

“ aku mengerti.. aku akan menunggu sampai kau siap menceritakannya. Aku akan mendengarkanmu. Sekarang lebih baik kau tidur kembali. Lupakan sejenak masalahmu, biar pagi nanti kau merasa lebih baik “ Sunny mengusap air matanya Jessica, kemudian menuntun Jessica untuk kembali berbaring.

“ temani aku disini “ Lirih Jessica yang mendapatkan anggukan dari Sunny.

“ arraseo.. tidurlah, aku akan menemanimu “ Sunny terus mengusap punggung Jessica hingga akhirnya Jessica tertidur pulas. Sunny terus menatap wajah Jessica yang terlihat sedikit pucat. Matanya memanas, setetes air keluar dari matanya yang kini sudah memerah.

“ kenapa hidupmu begitu keras? Kau benar-benar wanita yang kuat Sooyeon-ah. Aku janji, akan akan membantumu saat kau menghadapi masalah yang terus datang bertubi-tubi padamu. Aku akan membatumu semampuku “ batin Sunny, dia mengusap air matanya kemudian mengecup dahi Jessica dengan lembut. Sunny merapikan selimut Jessica dan memastikan apakah wanita yang sedang rapuh itu benar-benar sudah tertidur pulas sebelum dia kembali kekamarnya.

***

       Pagi kembali datang, matahari kembali memancarkan cahaya terang untuk menerangi kota Seoul yang sebelumnya gelap gulita. Orang-orang kembali disibukkan dengan aktifitasnya yang akan bermanfaat untuk dirinya maupun orang lain, karena itulah peran manusia sebagai makhluk sosial. Dikamar kecil di kedai itu, dua orang gadis yang seumuran masih tidur dengan lelapnya. Mungkin saja masih ingin menikmati mimpi indah yang datang dalam tidurnya. Namun apakah salah satunya bisa bermimpi indah? Tidak. Yang ada hanya kesakitan yang mendera tubuhnya. Tidak lama kemudian, salah seorang gadis itu mulai berada diambang kesadaran. Perlahan, matanya yang setia menutup rapat kini mulai terbuka. Pupil matanya berusaha untuk menyesuaikan cahaya yang menerangi kamar berwarna lembut itu. Seohyun mulai menyadari jika saat ini dia berada ditempat asing, itu membuatnya takut. Dia memikirkan yang tidak-tidak, bagaimana jika pemilik rumah ini adalah orang jahat, orang yang akan mencelakainya.

“ aakh “ Seohyun mengerang karena kepalanya terasa menyengat saat dia berusaha untuk duduk.

“ kau sudah bangun? Apa kepalamu terasa sakit? “ suara yang terdengar membuatnya membuka mata.

“ k-kau siapa? “ Seohyun kembali berusaha untuk duduk, namun gagal. Kepalanya terasa begitu berat.

“ kau tenang saja, aku bukan orang jahat. kemarin aku dan ayahku melihatmu tidak sadarkan diri dedepan kedai “ Seohyun terus menatap Nayeon, kini dia mulai percaya jika Nayeon adalah orang baik-baik. “ wae? Apa kepalamu terasa sakit? “ tanya Nayeon yang terlihat khawatir. Seohyun bisa bernapas lega, percaya sepenuhnya jika Nayeon memang tulus untuk menolongnya.

“ hanya sedikit menyengat. Tapi tidak apa-apa, mungkin nanti tidak akan sakit lagi “ Seohyun berusaha tersenyum walaupun terlihat lemah.

“ Lebih baik kembali tidur, kau masih terlihat pucat. Aku akan menyiapkan sarapan pagi dan obat untukmu “ Saat Nayeon ingin beranjak dari ranjang, Seohyun langsung menahannya.

“ tidak usah, aku akan pergi sekarang juga. Aku tidak ingin merepotkanmu “ Ujar Seohyun yang membuat Nayeon langsung menahan pergerakannya.

“ aku tidak akan membiarkanmu pergi sebelum kau benar-benar pulih. Aku tidak merasa direpotkan sama sekali. Bahkan aku senang jika kau berada disini “ ujar Nayeon. Saat itu juga seseorang membuka pintu kamar dan terlihatlah Kim ahjussi yang membawa nampan.

“ kalian sudah bangun? “ laki-laki itu terkejut melihat Seohyun dan Nayeon yang menatapnya. Kemudian dia berjalan mendekai dua gadis kecil itu dengan senyuman.

“ apa kau sudah merasa baikkan? “ tanya Kim ahjussi seraya meletakkan nampan itu disamping ranjang.

“ N-ne “ jawab Seohyun dengan gugup.

“ tidak usah takut. Kami bukanlah orang jahat “

“ Aku percaya, terima kasih karena tuan sudah menolongku “ Seohyun melihatkan senyuman lemahnya.

“ jangan panggil aku tuan, panggil saja Ahjussi. Namaku Kim Hyoyeon dan anakku ini Kim Nayeon. Namamu siapa nona? “ Hyoyeon balik bertanya.

“ A-aku Kim Seohyun “ ujarnya dengan gugup namun itu tidak membuat Hyoyeon curiga dengan gelagat Seohyun yang gugup

“ waah kau juga bermaga Kim “ ujar Nayeon dengan gembira seraya melihatkan senyumannya.

“ ne “ Seohyun membalas senyuman itu.

“ Seohyun-ah, kenapa kau bisa keluar sendirian disaat hari sudah tengah malam? Orang tuamu dimana? “ Tanya Hyoyeon yang begitu penasaran. Seohyun tidak menjawab, dia menundukkan kepalanya karena kembali teringat dengan masalah yang kini dihadapinya. Penyesalan kini muncul dihatinya. Wajahnya berubah mendung yang membuat Hyeoyeon dan Nayeon merasa bersalah.

“ a-aku melarikan diri dari rumah “ Ujar Seohyun dengan lirih.

“ mwo?? “ ayah dan anak itu membulatkan matanya.

“ ke-kenapa kau melariakan diri dari rumahmu? “ tanya Hyoyeon. Seohyun mengangkat wajahnya, kemudian menghapus air matanya sebelum menjawab pertanyaan pria itu.

“ aku sudah membuat kesalahan besar “ jawab Seohyun yang membuat Hyeyeon dan anaknya bingung.

“ maukah kau menceritakannya pada kami? “ Tanya Hyoyeon dengan hati-hati. Takut jika Seohyun merasa tersinggung.

“ mi-mianhe ahjussi, aku tidak bisa menceritakannya karena itu akan membuatku semakin merasa bersalah. Jika ahjussi dan Nayeon merasa tidak nyaman dengan kebaradaanku, aku akan pergi. Aku tidak ingin merepotkan kalian “ ujar Seohyun dengan sebuah senyuman. Dia tahu Hyeyeon dan Nayeon pasti merasa tidak nyaman karena menganggapnya seorang gadis yang tidak benar, menganggapnya seorang gadis berandalan.

“ bukan seperti itu. Kau pasti beranggapan jika kami menganggapmu seorang gadis yang tidak benar bukan? tidak seperti itu. Maaf jika pertanyaan ahjussi membuatmu tidak nyaman. Kami hanya ingin membantumu jika kami mampu. Benarkan Nayeon? “ Hyoyeon mengusap kepala Seohyun dengan sayang, berusaha untuk membuat Seohyun nyaman berada didekatnya ataupun didekat Nayeon.

“ benar Seohyun-ah. jadi kau tidak perlu merasa tidak enak pada kami. Buatlah dirimu nyaman dengan kami dan dirumah ini “ Nayeon menambahkan yang membuat Seohyun bersyukur karena orang yang menyelamatkannya adalah orang-orang yang baik hati.

“ Terima kasih Ahjussi, terima kasih Nayeon “ Seohyun memeluk Nayeon, dia beruntung bisa kenal dan berteman dengan Nayeon.

“ sama-sama “ jawab anak dan ayah itu serentak.

“ Seohyun-ah, ahjussi bukan bermaksud apa-apa. Ahjussi Cuma mengingatkan, eomma dan appamu pasti sangat mengkhawatirkanmu. Ahjussi hanya menyarankan jika kau segera pulang kerumahmu “ Pesan Hyoyeon.

“ ahjussi tenang saja, mereka tidak akan mengkhawatirkanku. Aku bisa pastikan itu “ ujar Seohyun. “ aku mohon, jangan lagi membicarakan masalah ini “ Seohyun memijit dahinya yang terasa menyengat yang membuat Hyoyeon mengerti.

“ lebih baik sekarang kau sarapan dan minum obatmu. Setelah itu kembali tidur. “ Seohyun mengangguk “ ya sudah, ahjussi harus pergi membeli bahan untuk masak. Nayeon-ah, jaga rumah dan juga Seohyun ya? “ Kini Nayeon yang mengangguk mengerti.

“ hati-hati appa “

“ sekali lagi terima kasih ahjussi “

“ tidak perlu terus berterima kasih seperti itu. Makanlah “ Hyoyeon pun keluar dari kamar Nayeon.

Satu bulan kemudian…

       Siang yang menyengat membuat tenaga terasa begitu terkuras karena keringat lebih banyak keluar disaat musim panas seperti sekarang. Namun itu tidak membuat Nayeon dan Seohyun mengeluh untuk melayani pembeli yang kini begitu ramai mengunjungi kedai Hyoyeon. Mereka tetap bersemangat walaupun tenaga mereka akan terkuras. Selalu melihatkan senyuman mereka saat melayani pembeli yang ingin memesan menu makanan yang tersedia agar merasa nyaman. Ya, Seohyun memutuskan untuk tinggal dirumah Hyoyeon karena pria itu melarangnya untuk pergi jika itu bukanlah kerumahnya. Merasa tidak enak dan selalu merepotkan, akhirnya Seohyun menolong Hyoyeon dan Nayeon di kedai karena hanya itu yang bisa dilakukannya untuk membalas kebaikan mereka. Membantu Nayeon dan karyawan lainnya untuk melayani pembeli. Selama satu bulan itu, Hyoyeon tidak pernah mengungkit masalah apa yang dialami Seohyun karena dia tidak ingin jika Seohyun kembali bersedih dan memutuskan untuk pergi. Hyoyeon tidak menginginkan itu karena akan membahayakan Seohyun jika berkeliaran diluar sana tanpa ada yang menjaga.

       Tidak terasa jika dua jam sudah berlalu, sekarang hanya ada beberapa pengunjung karena saat ini waktunya orang-orang kembali disibukkan dengan pekerjaannya. Disaat-saat seperti inilah Seohyun dan Nayeon menyempatkan diri untuk melepas penat yang melanda. Seohyun memilih untuk duduk disalah satu meja yang kosong, dia kini sedang tenggelam dalam pikirannya. Sudah satu bulan berlalu, bagaimana dengan keadaan Tiffany saat ini? apakah Tiffany sudah sadar dan pulang? Atau sebaliknya, apakah Tiffany dalam keadaan tidak baik-baik saja? Tidak, dia tidak boleh berpikiran yang tidak-tidak. Seohyun yakin jika Tiffany akan baik-baik saja. Tapi, apa dia harus pergi kerumah sakit untuk memastikan keadaan Tiffany? Dia masih menimbang-nimbang, dia takut jika keberadaannya dirumahsakit akan diketahui oleh Taeyeon.

“ Seohyun-ah “ satu panggilan membuat Seohyun tersadar dan menemukan Nayeon yang sudah duduk disampingnya.

“ kenapa kau melamun? “ tanya Nayeon yang mengerutkan dahinya.

“ ani, aku hanya merasa sedikit lelah “ Seohyun melihatkan senyumannya. Berusaha membuat Nayeon tidak banyak bertanya. Sampai sekarang Seohyun tidak ingin menceritakn masalah yang dihadapinya pada Nayeon yang kini menjadi sahabatnya. dia belum siap untuk menceritakan. Ya, dia menyadari kalau dia adalah seorang gadis yang sedikit tertutup.

“ kau seharusnya tidak perlu bekerja Seohyun-ah, kau bisa istirahat dikamar “ ujar Nayeon yang mendapatkan gelengan dari Seohyun.

“ aku senang melakukannya, dan inilah yang bisa kulakukan untuk mebalas kebaikanmu dan ahjussi “

“ kau tidak perlu seperti itu. Bahkan aku dan appa begitu senang dengan kehadiranmu bersama kami. Aku tidak lagi kesepian, aku bisa merasakan memiliki seorang saudara “ perkataan Nayeon membuat mata Seohyun berkaca-kaca. Dia teringat dengan cerita Nayeon yang tidak pernah melihat dan mendapatkan kasih sayang dari ibunya. saat Nayeon lahir kedunia, disaat itu juga dia harus kehilang ibunya. ya, sang ibu meninggal dunia saat melahirkannya. dengan cerita itu membuat penyesalan Seohyun semakin bertambah. bagaimana bisa dia mengabaikan kasih sayang Tiffany yang begitu menyayanginya. Seohyun menyadari dia adalah manusia merugi, dia yang dulu tidak bisa menerima keadaan membuatnya buta dengan segala kebaikan Tiffany dan Taeyeon padanya. Seohyun berterima kasih pada Nayeon karena dengan cerita itu  membuatnya semakin sadar tentang arti kasih sayang. Dia beruntung bisa bertemu dengan Nayeon yang begitu baik padanya. Bahkan Naeyeon sama sekali tidak marah jika Hyoyeon membagi perhatiannya pada Seohyun.

“ gomawo. Aku bersyukur bisa menemukan seorang teman sepertimu “ Seohyun memeluk Nayeon yang sudah dianggap seperti saudaranya sendiri.

“ nah, ini jatah kalian karena sudah bekerja keras hari ini “ ujar Hyoyeon yang membawa dua porsi makanan dan dua gelas minuman dingin untuk Seohyun dan Nayeon. Merekapun melepaskan pelukan mereka.

“ kenapa menangis? “ tanya Hyoyeon sambil mengusap aliran air mata dipipi Seohyun. Perhatian Hyoyeon itu membuatnya teringan dengan ayahnya, Kim Taeyeon. Bagaimana dengan keadaan ayahnya saat ini? jujur, dia begitu merindukan ayahnya itu.

“ aniyo, aku tidak apa-apa Ahjussi. Aku bahagia karena bisa mengenal kalian “ Seohyun melihatkan senyuman terbaiknya.

“ jangan menangis lagi, lebih baik sekarang kalian makan “

“ gomawoyo appa “ ujar Nayeon.

“ gomawoyo ahjussi “ ujar Seohyun. “ Ahjussi “ Hyoyeon yang akan melangkah untuk kembali kedapur mengurungkan niatnya.

“ wae? “

“ setelah makan, aku ingin izin sebentar untuk keluar. Aku ada keperluan “ Hyoyeon mengerutkan dahinya.

“ kau pergi dengan siapa? “ tanya Hyoyeon.

“ aku akan pergi sendiri “

“ kau mau aku temani? “ Nayeon mengajukan diri, namun Seohyun menggeleng.

“ tidak perlu. Aku bisa pergi sendiri. Apalagi kau harus membantu ahjussi bukan? sebentar lagi pasti akan ramai pengunjung “ Ujar Seohyun mengingat sebentar lagi adalah waktu dimana kedai Hyoyeon akan kembali ramai pengunjung. sama seperti sebelum-sebelumnya.

“ ta-tapi.. “

“ kau tidak perlu khawatir, aku hanya sebentar “ Seohyun memotong perkataan Nayeon yang begitu khawatir terhadapnya.

“ apa kau yakin? Nayeon bisa menemanimu “ Tanya Hyoyeon yang juga khawatir.

“ tidak apa-apa. Ahjussi tidak perlu khawatir. Aku janji, aku akan menjaga diriku “ Seohyun terus berusaha meyakinkan anak dan ayah tersebut. Hyoyeon menghela napasnya, berusaha untuk yakin jika Seohyun akan baik-baik saja.

“ baiklah, kau harus janji akan menjaga dirimu dengan baik. Kau harus pulang sebelum malam datang dan kau juga harus membawa ponsel Nayeon agar kami bisa menghubungimu. Kali ini ahjussi tidak menerima bantahanmu lagi “ Tegas Hyoyeon yang membuat Seohyun mengangguk mengerti.

“ Gomawoyo ahjussi. Aku janji dan akan mengingat pesanmu “ Seohyun memberikan hormat seperti seorang prajurit yang membuat Hyoyeon dan Nayeon tertawa melihat Seohyun mengeluarkan aegyonya.

“ baiklah, berhati-hatilah dijalan “ Hyoyeon pun kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya.

***

       Taeyeon melangkah perlahan memasuki ruang rawat Tiffany yang masih setia menutup matanya. Sudah satu bulan berlalu, namun tidak ada sedikitpun perubahan yang terjadi. Keadaan Tiffany masih sama seperti sebelumnya. Selama itu juga Taeyeon setia menunggu Tiffany, berharap Tiffany akan segera sadar dari komanya. Berharap agar Tiffany segera membuka mata. Namun sampai saat ini harapannya belum juga menjadi kenyataan dan Taeyeon tidak akan putus asa. Dia akan terus menunggu hingga Tiffany membuka matanya, terus berdoa untuk keselamatan Tiffany. Dia tidak akan sanggup jika harus kehilangan. Dia sudah kehilangan anaknya, dan Taeyeon tidak ingin untuk merasakan kehilangan lagi. Sudah satu bulan Seohyun menghilang dan Taeyeon sudah mencari Seohyun kemana-mana namun sampai saat ini anaknya itu belum juga ditemukan, begitu juga dengan orang suruhan Taeyeon yang belum mendapatkan petunjuk dimana keberadaan Seohyun. Taeyeon juga sudah menyelidiki kepanti asuhan, dan memang benar jika Seohyun tidak kembali kesana. Masih sama seperti sebulan yang lalu, kekhawatiran Taeyeon pada Seohyun masih begitu banyak. Bahkan semakin bertambah yang membuat kondisi fisiknya sering menurun karena memikir Seohyun, memikirkan Tiffany, memikirkan segalanya.

       Saat ini Taeyeon sudah duduk dikursi yang tersedia disamping ranjang pasien. Digenggamnya tangan Tiffany yan begitu lemah. Diletakkannya tangan yang terasa lembut itu dipipinya. Menyalurkan rasa rindunya terhadap Tiffany yang begitu besar. Ya, hanya itu yang selalu dilakukannya saat dia berada disisi Tiffany, mengusap kepala dan menggenggam tangan Tiffany. Memberikan sebuah kecupan sayang ketika dia datang dan pergi dari ruangan. Dia ingin Tiffany merasakan keberadaannya walaupun istrinya itu masih menutup matanya dengan rapat.

“ Miyoung-ah, kenapa kau belum juga membuka mata? Apa tubuhmu tidak lelah jika terus berbaring seperti ini? apa kau tidak merindukanku? Apa kau tidak merindukan orang-orang terdekatmu? Cepatlah sadar Miyoung-ah “ Hanya itu yang terus ditanyakan dan harapan Taeyeon untuk Tiffany. Taeyeon juga sering menceritakan bagaimana dirinya menjalani hari-harinya tanpa istrinya itu dan tanpa anaknya. Begitu sulit untuknya menjalani kehidupan yang kini terasa begitu hampa.

       Taeyeon terus saja berbicara tentang apapun yang muncul dibenaknya karena hanya itu yang bisa dilakukannya jika berada disamping Tiffany yang dia yakin jika istrinya itu bisa mendengarnya. Tidak lama kemudian, ponsel Taeyeon berdering. Ternyata sekretarisnya yang memberi tahukan jika Taeyeon harus pergi kekantor karena ada sesuatu hal penting yang harus diselesaikan. Taeyeon pun keluar untuk menemui Yoona, memberi tahu jika dia harus kekantor dan meminta Yoona dan dua orang perawat khusus yang dibayar Taeyeon untuk menjaga Tiffany selama dia pergi. Taeyeon dengan berat hati harus meninggalkan Tiffany disaat Taeyeon mencari keberadaan Seohyun dan jika memang ada hal yang begitu penting yang harus dikerjakannya dikantor. Taeyeon akan menitipkan Tiffany pada Yoona dan perawat-perawat yang khusus untuk menjaga Tiffany.

       Taeyeon terus melangkah menuju ruangan Yoona. Tanpa disadarinya seorang gadis kecil bersembunyi tidak jauh dari ruang rawat Tiffany sejak Taeyeon memasuki ruangan tersebut. Gadis itu adalah Seohyun. Dengan langkah tenang Seohyun mendekati ruang rawat Tiffany dan meminta dua orang perawat yang berjaga mengizinkannya untuk masuk. Dengan berbagai alasan, akhirya Seohyun diizinkan untuk bisa masuk keruang rawat Tiffany.

       Seohyun kini sudah berada diruangan, matanya memanas melihat keadaan Tiffany yang masih sama, masih dalan keadaan koma. Penyesalan kembali muncul, perasaan bersalah kembali dirasakan. Dialah yang memmbuat Tiffany terbaring lemah seperti apa yang dilihatnya saat ini. Perlahan Seohyun melangkah mendekati ranjang pasien. Tepatnya berada disamping Tiffany. Seohyun terus menatap Tiffany dengan air matanya yang terus mengalir tanpa henti. Tangannya terulur untuk menggenggam tangan Tiffany yang membuatnya begitu merindukan saat Tiffany menggenggam tangannya dengan erat. Membuatnya begitu merindukan pelukan hangat Tiffany yang dulu sering diabaikannya, yang tidak pernah dibalasnya. Seohyun begitu merindukan perhatian kecil yang dilimpahkan Tiffany untuknya. Ya, Seohyun begitu merindukan apapun yang dilakukan Tiffany untuknya.

“ Mianhaeyo.. Jeongmal mianhaeyo “ Seohyun tidak lagi menahan, dia melepaskan tangisannya dihadapan Tiffany walaupun wanita itu tidak bisa melihatnya. Seolah Seohyun menunjukan pada Tiffany jika dia benar-benra menyesal dengan semuanya.

“ aku menyesal ahjumma.. aku benar-benar menyesal dengan apa yang sudah kulakukan selama ini.. aku menyesal dengan sikapku yang kasar terhadapmu. Aku menyesal dengan kata-kata tajamku yang sering kulontarkan untukmu “ Napas Seohyun tidak beraturan, dia merasa begitu sulit untuk bernapas karena dadanya terasa begitu sesak. Air matanya semakin deras mengalir dipipi putihnya dengan tangisannya yang juga semakin menjadi-jadi.

“ Ahjumma, tolong maafkan aku. Aku benar-benar tidak kuat untuk memikul penyesalanku yang begitu berat. Aku tidak sanggup.. aku selalu bermimpi buruk, seolah penyesalan itu terus mengejarku, terus menghantuiku “ Seohyun terus saja menangis, menunduk dalam dengan air mata yang kini jatuh menyentuh kakinya.

“ Ahjumma, kau pasti membenciku. Maaf jika aku harus berada dihadapanmu kali ini. Aku yakin, ahjumma pasti tidak menginginkan keberadaanku disini. Tapi izinkan kali ini aku untuk berada disampingmu, hanya sebentar saja. Aku hanya ingin meyampaikan penyesalanku, menyampaikan permintaan maafku padamu karena hanya itu yang bisa kulakukan. Setelah itu aku akan pergi. Aku tidak akan melihatkan wajahku dihadapanmu. Ya, aku akan menghilang dari kehidupanmu dan appa. Aku- “

Deg!

Seohyun tidak jadi melajutkan kata-katanya. Jantung Seohyun serasa berhenti saat dia merasakan sesuatu ditangannya yang menggenggam tangan Tiffany. Matanya membulat karena keterkejutannya melihat apa yang terjadi pada Tiffany.

Apakah ini sebuah keajaiban?

To Be Continued…

Anyeong readers..

sebelumnya gue minta maaf karena selalu telat buat publish DM.. hehehe #nyengir

okeh, gimana dengan chapter 12 ini?? semakin menarikkah?? sama seperti sebelumnya pesan gue sama readers, jangan lupa tinggalkan komentar setelah baca 🙂

hanya itu cuap-cuap gue kali ini karena ga tau harus ngomongin apa lagi 😀

tunggu postingan selanjutnya di wp ini yaa 🙂

byebye *bow*

Advertisements

131 thoughts on “Dear Mom (Chapter 12)

  1. tunggu chapter selanjutnya yaa
    terima ksh sdh mampir 🙂

  2. nah fany kyk’a nunggu seo..next chap pasti dia sadar

  3. moga keajaiban emng bneran datang, moga aja kehdiran seo bs bwt panny sadar dr komanya
    yul udh ninggalin sica, eh sica jg mimpi seo pergi dn gak mau ktemu lg sm eommanya

  4. Tuhan selalu ada disekitar kita, apapun kesalahan yang pernah dilakukan seo nyatanya Tuhan masih memberikan petolongan pada seo lewat kebaikan Hyeyeon dan Nayeon.. Kok sica masih menahan egonya ya thor, padahal dalam hati ia masih mecintai yuri, inilah susahnya klu prinsip sama ego hati diutamakan kesalahan yg pernah dilakukan orang lain susah untuk dilupakan.. Hhhhmmm mommy panny mau nyadar dari komanya, berarti selama ini mommy panny menginginkan seo yg datang untuk menyadarkannya…

  5. yuups.. that’s right 🙂
    sica dilema, makanya ga tau harus ngapain wkwkwk
    okee tunggu next chap,makasii udh mmpir 🙂

  6. thor….met knl aq reader br..btw ku tgg yaa lanjutan DM ny…

  7. kyknya pany bntar lg sadar nih, pzt krn kdtngn seo…

  8. thor …anyeong..kpn update DM ya?uda ga sbr pgn tau lanjutannya…tlg update yaaa thor.tq

  9. apa tiffany nge respon apa yang seohyun omongin? semoga aja itu pertanda baik buat keadaan fany setelah ini, semoga fany bisa sadar..

  10. Ahhh author demen bgt bqn readers nya mnunggu 😦

  11. Fany sadar law seo da disampingnya… That is miracle

  12. Ternyata panny nunggu seo,,,

  13. Beuh…tbc datang disaat yang tak tepat.

  14. Tiffany udah mulai ngerespon ituuuuuuuu ini semua berkat joohyun dateng yaaa, emang bener tiffany sayang banget-banget sama si joohyun asli berhati malaikat banget mommy yg satu ini:’)

  15. Ternyata jessica mimpi saja. Kasihan kalo seohyun benar2 membencinya.
    Tiffany sadar? Kuharap itu benar2 keajaiban dan kebahagiaan segera menghampiri semua pemain di ff ini ><
    Nice ff, author. Daebakk… ^^

  16. kontak batin … fany sadar?

  17. Wlpn Fanny gal sadar to dia tau klu seo Ada didekat’y…
    Kasih sayang Fanny bust so bnr” sngt besar.
    Next part Fanny sadar.hehe 😊😊😢😢😢
    😉

  18. ceritanya ngenak yah, ijin baca thor (:

  19. deg,, ,??? fanyah ada respon hyunie , anak pintarr 🙂 :-)! 🙂

  20. fany nunjukin tanda2 kesadaran setelah joohyun dateng..
    sampe segitunya rasa sayang fany ke joohyun…

  21. Semoga bener itu sebuah keajaiban, fany akhirnya sadar karna ada seo di dekatnya fany ☺

  22. Weh seobaby ajaib 😂

  23. syukurlh seo ditmukn org yg baik n merwtny.sica hrsny qm g tggk diam,knp g pergi ktm am seo,ap qm g th ap yg trjdi dgn seo skrg?bhknnsica mmpi ttg seo.
    dgn dtgny seo jenguk fany, fany bs sdr.
    ya thor tmbh menarik critny.

  24. seo bersyukurlah ketemu dgn keluarga baik2 lg… aduhbg kuat bacanya nyesek mulu -.-

  25. makin rumit aja ni maslah kim family

  26. hhhhh..untung aja seohyun di rawat sama orang baik..
    :O
    ada kemajuan tuh sama fany..dia mulai bergerak..
    semoga aja fany sadar..

  27. yah sica jangan biarkan yul pergi dong -,-

    semoga itu tiffany udah siuman

Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s