rara0894

All about TaeTiSeo and GG

Dear Mom (Chapter 11)

128 Comments

Title       : Dear Mom

Author  : rara0894

Genre    : Family, gender bender

Cast       :

Seo Joo Hyun as Kim Joo Hyun

Tiffany Hwang/ Hwang Miyoung

Kim Taeyeon

Jessica Jung/ Jung Sooyeon

Kwon Yuri

And other cast

CYMERA_20140711_052021

 

 

Terima kasih atas semua yang appa dan ahjumma berikan padaku dan mungkin aku tidak akan bisa membalasnya.

Sekali lagi, terima kasih dan maaf untuk semuanya..

Kim Joo Hyun

          Tangan Taeyeon semakin bergetar dibuatnya, napasnya terasa begitu sesak setelah membaca isi dari surat yang Seohyun tuliskan untuknya. Tubuhnya terasa begitu lemah tak bertenaga. Taeyeon merasa masalah yang dihadapinya semakin rumit, ini benar-benar diluar kendalinya. Apa yang harus dilakukannya saat ini? Dia benar-benar tidak tahu. Saat ini dia tidak bisa berpikir jernih dengan apa yang sudah terjadi. Istrinya kini dalam keadaan koma dan anaknya kabur saat malam yang sudah semakin gelap. Kemarahannya pada Seohyun kini berubah menjadi kekhawatiran dihatinya. Takut terjadi sesuatu pada anak gadisnya itu.

” Joohyun-ah.. ” Taeyeon terisak yang semakin menggenggam erat kertas itu hingga kini membuatnya remuk tak berbentuk.

aku memutuskan untuk pergi seperti apa yang kau inginkan appa. Aku berjanji tidak akan pernah lagi untuk melihatkan wajahku dihadapanmu ‘

Taeyeon kembali mengingat sebuah kalimat yang tertulis dikertas itu.

“ Joohyun-ah.. Jeongmal mianhae.. “

‘ Jadi lebih baik kau pergi dari hadapanku sekarang. Aku tidak ingin melihatmu disini! Kalau kau ingin kepanti asuhan, minta ahjussi untuk mengantarmu ‘

” Mianhae.. ” Taeyeon menyesal atas perkataannya tadi pada Seohyun. Dia benar-benar berada diluar kendali saat Seohyun berada dihadapannya. Memang, ini sudah berkali-kali Taeyeon lakukan dan kini dia benar-benar menyesali semuanya. Setelah Seohyun tidak lagi berada dalam jangkauannya dan mungkin tidak akan pernah lagi dilihatnya. Tapi, Taeyeon tidak menginginkan itu. Dia tidak ingin kembali kehilangan buah hatinya, ini sebuah penyiksaan untuknya jika Seohyun kembali jauh dengannya. Cukup bertahun-tahun dia harus menderita karena kehilangan putrinya, dan sekarang dia tidak ingin jika itu terjadi untuk yang kedua kalinya.

          Taeyeon semakin terisak yang membuatnya sulit bernapas. Ini adalah sebuah tekanan untuknya. Apa tindakan yang harus dilakukannya sekarang? Apa yang harus dilakukannya agar Seohyun kembali terlihat olehnya? Hatinya gusar, bertanya-tanya apakah anaknya baik-baik saja diluar sana mengingat jika angka kejahatan di kota ini cukup tinggi dan dimana kebaradaannya saat ini. Di panti asuhan? Tapi Seohyun mengatakan jika dia tidak akan menemui Jessica. Langit sudah semakin gelap, Taeyeon memikirkan dimana Seohyun akan tidur malam ini. Apa dia sudah makan karena tadi Seohyun belum sempat makan malam, apakah lukanya baik-baik saja dan masih banyak pertanyaan diotaknya karena kecemasannya terhadap Seohyun. Sesaat, bisa didengar oleh Taeyeon jika hujan mulai membasahi tanah hingga lama kelamaan semakin lebat, ini membuat kekhawatirannya semakin menjadi-jadi. Memikirkan dimana anaknya akan berteduh, Taeyeon takut jika luka di kedua lutut Seohyun akan semakin parah jika terkena air dan pasti Seohyun juga kedinginan diluar sana. Dia tidak bisa jika hanya diam seperti ini. Dia harus melakukan sesuatu. Dengan segera dia mengambil ponselnya yang berada disaku kemejanya, seseorang harus segera dihubunginya.

***

          Seohyun terus saja melangkah tanpa tahu arah tujuan. Dia tidak tahu kemana kakinya akan berhenti melangkah untuk melepas lelah. Hari sudah semakin gelap, suhu semakin dingin. Dia tidak membawa apapun untuk bisa menghangatkan tubuhnya yang kini mulai gemetar. Udara yang begitu dingin dengan mudah menembus kulitnya hingga terasa ketulang. Benar-benar dingin. Sesaat kemudian Seohyun bisa merasakan setetes demi setetes air jatuh dari langit yang kini menyentuh kulitnya. Semakin lama sememakin banyak dan menimbulkan bunyi saat air itu mendarat ditanah yang semulanya kering. Hujan.. Gelap dan dingin. Itulah yang terjadi dan dirasakannya saat ini. Hujan yang kini lebat bukanlah sebagai penghalang baginya untuk terus melangkah. Seohyun terus berusaha untuk bisa mengurangi dingin yang dirasakannya, namun usahanya sia-sia. Bahkan merasa semakin kedinginan dengan bibirnya yang kini mulai memucat. Bukan hanya itu, kini luka di kedua kakinya mulai terasa perih kembali akibat air hujan yang menyentuh luka tersebut. Seohyun merasa tidak lagi sanggup untuk terus melangkah. Seohyun melihat diseberang jalan yang mulai lengang ada sebuah kedai yang bisa dikatakan cukup sederhana dan kecil yang kini ramai pengunjung. Ya, hanya tempat itu yang bisa dijadikannya untuk beristirahat dan berteduh walaupun kini dirinya sudah basah kuyup. Dengan sekuat tenaga Seohyun menyeberangi jalan itu dengan langkah gontai karena merasa tidak kuat, lukanya terasa semakin perih. Sesampainya disana Seohyun tidak berani untuk masuk ataupun mendekati pintu utama kedai tersebut. Dia memilih berjalan ke sudut kedai kecil itu dan duduk menyandar kedinding. Dengan hati-hati diselonjorkan kedua kakinya, ditatapnya luka dikedua lututnya yang masih terbalut perban yang kini basah seutuhnya.

” Appo.. ” Isaknya sambil memejamkan mata karena menahan kesakitan, dikepalkan kedua tangannya yang menyentuh lantai. Matanya kembali terbuka, dengan perlahan dibukanya perban yang membalut lukanya. Jika dibiarkan itu hanya membuat lututnya semakin perih dan mungkin luka itu akan semakin parah. Lalu, dia kembali menatap kearah pintu kedai. Bisa dilihatnya setiap orang  yang akan memasuki kedai itu menatapnya dengan tatapan yang berbeda-beda. Entahlah, dia tidak memikirkannya. Kini mata Seohyun menatap kedalam, terlihatlah orang-orang yang sedang menikmati ramyeon yang tersedia dimeja. Seohyun menelan ludah. Ya, perutnya terasa begitu lapar. Tapi dia tidak memiliki uang sepersen pun untuk bisa membelinya.

” Aku lapar.. ” Seohyun terisak menundukkan kepalanya dengan salah satu tangan menyentuh perutnya yang meronta meminta asupan. Tapi apa daya, Seohyun tidak memiliki apapun yang bisa membuatnya membeli seporsi makanan yang tersedia disana.

          Seohyun kembali menatap kedalam, bisa dilihatnya para pengunjung yang datang memancarkan raut kegembiaraan. Menikmati waktu senggang bersama keluarga dengan saling bercerita tentang apapun yang terjadi seharian. Tanpa terasa air matanya jatuh begitu saja untuk kesekian kalinya dalam sehari ini. Penyesalan dihatinya kembali muncul kepermukaan. Andai saja dia tidak terbutakan oleh kemarahan dihatinya tentang masa lalu yang kelam, andai saja dia tidak membuat ulah dan Tiffany tidak mengalami kecelakaan, mungkin saja dia juga merasakan apa yang dirasakan seorang gadis yang sedang bercengkrama dengan orang tuanya didalam kedai itu. Menikmati kasih sayang yang ditumpahkan oleh ayah dan ibunya. Menikmati makan malam bersama dengan kebahagiaan yang tidak pernah lagi dirasakannya setelah kedua orang tuanya berpisah. Seohyun merindukan saat-saat seperti itu. Setelah perceraian kedua orang tuanya dan setelah sang ibu mendapatkan pekerjaan, Seohyun tidak pernah lagi diperhatikan. Memang waktu itu ada Sunny sahabat ibunya dipanti asuhan, tapi tidak mungkin Sunny hanya terfokus pada Seohyun karena masih banyak anak asuh yang harus diperhatikannya. Dia benar-benar menyesal. Andai saja dia memperlakukan Tiffany dengan baik dan menerima semua kebaikan Tiffany selama ini padanya, pasti dia tidak akan merasa kesepian seperti apa yang dirasakannya kini. Menatap iri kearah gadis itu.

          Saat ini rasa pusing mulai menyerang kepalanya yang kini terasa berat. Kelopak matanya mulai terasa berat ditambah lagi kantuk yang melanda. Berkali-kali dia mengerjapkan matanya agar terus terjaga, namun terasa begitu sulit untuk ditahannya. Banyak rasa yang terasa ditubuhnya saat ini. Hatinya yang terasa kosong dan kesepian, tubuhnya yang kedinginan dan bergetar, pusing yang menyerang, perih dilutut yang terasa semakin kuat, perutnya terasa sedikit perih yang seharusnya sudah diisi makanan walaupun hanya sedikit saja. Lengkap sudah semuanya, yang bisa dilakukannya sekarang hanyalah menahan rasa kesakitan yang menyatu. Bercampur aduk. Karena tidak lagi kuat untuk menahannya, Seohyun memutuskan untuk memejamkan mata. Berharap dengan tidur dia bisa menghilangkan rasa kesakitannya walaupun hanya sementara. Sebelum itu, tangannya meraih dua buah kardus di sebelah tong sampah yang berada tidak jauh dari jangkauannya. Satu lembar kardus digunakan sebagai alas untuknya berbaring dan satunya lagi digunakan sebagai selimut untuk menutupi tubuhnya. Mudah-mudahan dengan itu bisa sedikit menghangatkan tubuhnya dan juga untuk menutupi lukanya yang sudah memucat dan basah agar orang-orang tidak melihat jijik lukanya tersebut. Setelah berbaring, dia perlahan memejamkan mata. Kemudian di tautkan kedua tangannya didepan dada. Memanjatkan sebuah doa..

“ Tuhan.. Sebuah doa kecil yang akan ku ucapkan. Sebuah harapan kecil yang aku inginkan. Tuhan, bisakah kau memutar kembali waktu untukku? Bisakah aku mengulang semuanya? Jika itu sebuah harapan yang mustahil untuk kau kabulkan, ada satu harapan lagi yang ku pinta padamu, semoga aku bisa kembali merasakan apa yang dirasakan gadis didalam kedai itu. Tapi, jika itu menurutmu tidak lagi pantas untukku dapatkan, hanya satu permintaan sederhanaku kini. Aku hanya meminta semoga kau menghilangkan rasa sakit yang kini terasa ditubuhku. Hanya itu.. Tuhan, namun aku begitu berharap jika kau mengabulkan harapanku yang sebelumnya. Karena hanya itu yang kini kuharapkan, yang ingin kembali kurasakan..”

          Akhirnya Seohyun tertidur dengan tangannya yang masih bertautan, walaupun sebelumnya begitu sulit untuknya tertidur dengan cepat. Dia harus merasakan sakit yang menjadi-jadi sebelum dia tidak lagi merasakan kesakitan untuk sementara. Tidurnya semakin dalam dengan napasnya yang semakin berat, dengan raut yang terlihat kesakitan walau kini tidak merasakannya karena sudah kehilangan kesadaran. Wajahnya yang dingin kini semakin pucat, seolah darah tidak lagi mengalir keseluruh tubuhnya.

” Nona, kenapa anda tidur disini? Nona.. ” Sedikitpun tidak ada pergerakan dari Seohyun saat seorang pria membangunkannya. Pria itu terus mencoba memanggilnya, bahkan kini membangunkannya dengan sentuhan fisik dibahunya, sedikit digoncangnya bahu kecil itu agar terbangun. Namun tetap saja , tidak ada respon darinya. Pria itu bisa melihat jika Seohyun yang masih menghirup udara walaupun terlihat berat.

” Kenapa dengan gadis ini? “ Batin pria itu.

***

          Yuri memasuki club malam yang begitu ramai dengan pasangan-pasangan yang ingin menyalurkan hasrat bejat mereka. Saling bercumbu tanpa mempedulikan orang-orang yang berada disekitarnya. Bisa dilihatnya setiap sudut begitu banyak pria hidung belang yang sedang mencumbu pasangannya dengan berbagai macam cara. Yuri menatap jijik. Memang dia pernah melakukannya dengan Jessica dan itu adalah sebuah penyesalan untuknya. bukan penyesalan telah melakukannya dengan Jessica, namun penyesalan karena dialah yang menghancurkan kebahagian Jessica. Wanita yang begitu dicintainya. Yuri terus melangkah, mencari Jessica yang kini sibuk dengan pekerjaannya. Sesaat senyumnya mengembang melihat sesosok tubuh yang kini terlihat semakin kurus dimatanya.

” Hei nona Jung ” panggilnya yang membuat Jessica membalikan tubuhnya.

” Kenapa kau kemari yul? ” Tanya Jessica yang mengerutkan dahinya.

” Wae? Apa aku tidak boleh kesini untuk menemuimu? ” Yuri balik bertanya.

” Bukan begitu, kau kan tahu jika aku sedang bekerja ” jawab Jessica yang kembali membelakangi Yuri dan kembali dengan pekerjaannya.

” Aku kan tidak menganggumu saat bekerja ” ujar Yuri sambil mengerucutkan bibirnya. Jessica tertawa kecil melihat tingkah Yuri saat dia menoleh kebelakang.

” Kau sudah makan? ” Tanya Yuri. Namun Jessica tak menjawab. ” Aku tahu kau belum makan dari tadi siang. lihatlah tubuhmu yang semakin kurus. kau harus bisa menjaga dirimu Sooyeon-ah ” Yuri kembali bersuara, namun Jessica masih saja tidak merespon perkataannya.

” Ya! Jung Sooyeon, kau tidak mendengarku? ” Ujarnya sedikit berteriak yang kini membuat Jessica kembali membalikkan tubuhnya.

” Itu yang kau katakan tidak mengangguku? ” Tanya Jessica dengan tersenyum tenang.

” Aku hanya ingin bertanya, aku tahu jika kau belum makan dari tadi siang dan aku mengkhawatirkanmu. Aku membawakan makan malam untukmu ” ujar Yuri dengan menatap lekat mata wanita yang begitu dicintainya itu. Jessica masih bisa merasakan tatapan hangat itu, tatapan yang masih sama saat mereka masih menjadi sepasang kekasih. Namun dengan segera Jessica menepis perasaan itu. Dia tidak ingin kembali masuk dalam lubang yang sama. Cukup sudah dengan penderitaanya yang sekarang, dia tidak ingin jika penderitaan itu semakin bertambah. Dia tidak akan sanggup menghadapinya.

“ bagaimana bisa kau membawa makanan kedalam yul? “ Ujar Jessica yang membulatkan matanya.

“ apa kau gila? Aku tidak akan membawa makanan kemari. Aku bisa mati konyol didepan pintu club ini. apa kau tega melihatku seperti itu? makanannya ada didalam mobilku “ ujar Yuri dengan raut kesal yang membuat Jessica tertawa lepas.

“ aku juga tidak bisa membayangkannya jika kau membawanya kemari, itu sangan memalukan. aku akan makan setelah pekerjaanku selesai. Apalagi aku tidak akan dibolehkan beristirahat sebelum jam kerjaku habis “ jawab Jessica dengan kekehan.

“ kau tenang saja, aku bisa melakukan sesuatu agar kau bisa beristirahat sejenak “ Ujar Yuri dengan semangat, kemudian beranjak dari duduknya meninggalkan Jessica.

“ Ya! Kau mau kemana? “ teriak Jessica yang melihat Yuri berlari kecil meninggalkannya yang masih bingung dengan tingkah pria yang sudah bertahun-tahun dikenalnya itu. “ aiigoo.. dia kemana? “ Kini Jessica merengut kesal karena Yuri meninggalkannya. Jujur, saat Yuri ada dihadapannya tadi, Jessica merasa senang. Sebuncah kebahagiaan timbul dari hatinya dan sekarang Yuri tidak lagi berada dihadapannya. Itu membuatnya lesu.

“ kenapa kau kemari jika kau kembali pergi begitu saja “ ujar Jessica dengan membersihkan gelas yang berada ditangannya dengan gemas.

“ Let’s go! “ Jessica terlonjak karena keterkejutannya dengan Yuri yang tiba-tiba saja datang kembali dihadapannya.

“ Ya! Kau ingin mati ya? “ Jessica mengeluarkan dead glare andalannya.

“ mianhae.. “ ujar Yuri yang tersenyum melihatkan deretan giginya. Mencoba untuk menghancurkan es yang ada didiri Jessica. “ kajja.. “

“ uh? “ Jessica bingung, tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Yuri.

“ aiish.. kau dibolehkan istirahat sebentar “ ujar Yuri dengan gemas. Jessica tertawa lepas, menganggap itu adalah lelucon dari Yuri.

“ Apa kau atasanku? Kau tahu, atasanku galak sekali Yul. Kau bisa mati konyol jika kau ketahuan membawaku pergi “ ujar Jessica dengan kekehan.

“ aku serius sooyeon-ah. Aku sudah memintanya mengizinkanmu untuk beristirahat “ ujar Yuri yang membuat Jessica mengerutkan dahinya. Tidak biasanya atasannya yang galak itu dengan mudah mengizikan bawahannya untuk keluar disaat jam kerja.

“ k-kau yakin? Bagaimana bisa?“ tanya Jessica yang tidak percaya.

“ aku yakin dan kau tidak perlu tahu bagaimana dia bisa mengizinkanmu beristirahat sebentar “ jawab Yuri dengan santai yang membuat Jessica semakin tidak percaya. Yuri pasti sedang mengerjainya.

“ aku tidak akan termakan dengan leluconmu itu Yul “ Jessica memutar bola matanya, kemudian kembali dengan kegiatannya.

“ kau tidak percaya? “ tanya Yuri yang hanya dijawab Jessica dengan mendelikan bahunya.

“ Kau boleh beristirahat sebentar Jessica-ssi “ ujar seseorang yang membuat Jessica membalikan tubuhnya.

“ Anyeonghaseyo Mr. Park “ Jessica membungkukkan tubuhnya dengan sopan pada atasannya tersebut.

“ pergilah dengan kekasihmu ini, aku mengizinkanmu untuk beristirahat sebentar “ ujar Mr.Park dengan nada yang berbeda. Biasanya atasannya itu selalu menganggap remeh bawahannya yang hanya bekerja sebagai bartender dan pelayan. Sesaat Jessica menatap kearah Yuri yang tersenyum menang.

“ Kajja “ Yuri berjalam mendekati kemudian menggenggam tangan Jessica. Menarik Jessica agar mengikutinya.

“ saya permisi Mr.Park “ Jessica kembali membungkukkan tubuhnya kemudian mengikuti Yuri yang terus menggenggam tangannya dengan erat.

***

          Diruangannya, Yoona menatap kesal pada Taeyeon yang kini duduk dihadapannya. Berkali-kali menghela napas untuk mengontrol emosinya setelah mendengar cerita Taeyeon mengenai Seohyun.

“ aku benar-benar tidak mengerti dengan cara berpikirmu oppa. Kenapa kau bicara seperti itu padanya? “ ujar Yoona dengan gemas. Menatap Taeyeon yang masih menunduk dengan penyesalan dan kekhawatiran dihatinya.

“ aku panik yoong dan aku begitu emosi dengan apa yang terjadi. Ini diluar kendaliku “ Jelas Taeyeon.

“ dan sekarang kau tahu kan apa akibatnya? “ Yoona memijit pelipisnya yang terasa sakit. Dia benar-benar khawatir dengan Seohyun yang kini tidak tahu keberadaanya.

“ apa kau tidak berpikir jika sesuatu terjadi pada anakmu? Anakmu itu perempuan oppa, Bagaimana jika ada orang jahat menganggunya? Dimana dia tidur? Dan sekarang hujan lebat, dimana dia akan berteduh? Tidakkah kau memikirkan itu semua? ” Yoona sedikit meninggikan nada suaranya, kembali menghela napas untuk kesekian kalinya. Baru kali ini Yoona berbicara dengan nada tinggi seperti itu pada Taeyeon.

” Semua itulah yang aku pikirkan Yoong ” lirih Taeyeon yang mengusap wajahnya. Kegusaran terus melanda dirinya.

” Lalu apa tindakan yang harus kita lakukan sekarang? Tidakkah kau melakukan sesuatu? “

” Aku sudah menyuruh orang untuk mencarinya. Mereka bisa dipercaya untuk mencari keberadaan Joohyun ” jawab Taeyeon. Mereka terdiam sejenak, bermain dengan pikiran masing-masing.

” Oppa, apa kau menyesal? ” Tanya Yoona yang kini kembali mengeluarkan suara.

” Ne, aku benar-benar menyesal Yoong ” ujar Taeyeon dengan lirih.

” Sudah berkali-kali kau mengatakan penyesalan, tapi kau terus saja melakukannya. Aku ragu jika kau benar-benar menyesal sekarang ” ujar Yoona sarkastik.  Seolah tidak lagi percaya dengan perkataan Taeyeon.

” Kau benar, aku sudah berkali-kali menyesal dengan apa yang telah kulakukan pada anakku tapi aku tetap saja menyakitinya. Tapi kali ini aku benar-benar menyesal yoong. Aku menyesal karena tidak lagi bisa merengkuh anakku yang kembali jauh dariku. Seperti dulu.. Aku menyesal. Aku tidak ingin Joohyun kembali pergi dariku yoong. Itu sebuah penderitaan yang tidak ingin aku hadapi lagi ” Taeyeon semakin terisak dan menunduk dalam. Mencoba mengatur napasnya yang sesak. Hanya didepan Yoona lah dia bisa seperti ini, menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayanganya. Yoona yang tadinya kesal pada Taeyeon kini menatap iba. Perlahan Yoona bangkit dari duduknya untuk menghampiri Taeyeon, kemudian memeluk Taeyeon dengan erat.

” Aku percaya padamu oppa, aku juga mengerti bagaimana perasaanmu. Sekarang yang harus kita lakukan adalah mencari keberadaan Joohyun. Teruslah berdoalah untuk keselamatan anak dan istrimu ” nasihat Yoona seraya mengusap lembut punggung Taeyeon yang bergetar. Mencoba untuk menenangkan.

” Ne, itu pasti. Gomawo Yoong, hatiku sekarang sedikit tenang karena kau mau mendengarkanku ” Taeyeon mengangkat kepalanya untuk menatap Yoona yang kini tersenyum lembut padanya.

” Oppa, ingat satu hal. Jangan lagi ini terulang kembali setelah Joohyun kembali. Jangan lagi menyakiti hatinya ” Yoona memperingatkan.

” Aku janji. Aku janji itu tidak akan pernah terjadi lagi. Tapi.. ” Taeyeon menggantungkan kalimatnya yang membuat Yoona bertanya-tanya.

” Wae? “

” Ba-bagaimana jika Joohyun tidak lagi bersamaku Yoong? Bagaimana jika aku tidak lagi bisa memeluknya? “

” Jangan berprasangka seperti itu. Yakinlah jika Joohyun akan kembali dan setelah itu kau harus berubah oppa. Taeyeon mengangguk pasti.

” Oppa, bagaimana dengan eonnie? “

” Wae? ” Taeyeon tidak mengerti dengan apa yang ditanyakan Seohyun.

” Bagaimana jika fany eonnie menanyakan Joohyun sewaktu sadar dari komanya? Seandainya saat itu Joohyun belum ditemukan ” tanya Yoona. Taeyeon terdiam, tidak sedikitpun terpikir olehnya tentang hal itu.

” A-aku.. Aku tidak tahu. Mungkin aku akan menceritakannya pada Tiffany ” Taeyeon menghela napasnya. Haruskah dia melakukannya jika itu benar-benar terjadi? Dia tidak tahu..

” Arraseo.. Menceritakan yang sebenarnya lebih baik daripada kau harus berbohong padanya ” Yoona membenarkan.

” Ya, aku tidak ingin mengambil resiko yang lebih berat lagi jika harus membohonginya Yoong ” Taeyeon tersenyum lemah. ” Baiklah, aku harus kembali ke kamar rawat Tiffany. Kau juga masih banyak pekerjaan bukan? ” Taeyeon berdiri dari duduknya.

” Ingat pesanku tadi oppa ” Yoona kembali mengingatkan.

” Ne eomma.. ” Ujar Taeyeon dengan suara yang dibuat seperti anak kecil.

” Ya! oppa! Ingat umur ” Yoona menepuk lengan Taeyeon yang terkekeh.

” Itu untuk sedikit menghibur kita yoong. Ya sudah, aku keluar. Anyeong ” Taeyeon melangkah keluar meninggalkan Yoona yang akan kembali melakukan aktifitasnya.

Taeyeon membuka pintu kamar rawat Tiffany dengan perlahan, menatap sedih kearah Tiffany yang masih setia menutup matanya dengan rapat. Perlahan Taeyeon mendekat, menggenggam tangan lembut Tiffany yang begitu lemah. Mata Taeyeon tidak beranjak sedikitpun dari wajah cantik Tiffany yang tertutupi selang oksigen. Sekali lagi, Taeyeon kembali mngeluarkan air mata untuk yang kesekian kalinya.

” Miyoung-ah.. Nan jeongmal saranghae.. ” Taeyeon mengecup dahi itu dengan sayang. ” Cepatlah sadar.. “

***

          Yuri dan Jessica sudah berada di tempat tujuan, mengunjungi taman yang berada ditepian sungai Han. Tidak banyak orang yang mengunjungi taman ini mengingat hari yang sudah semakin gelap dan hujan lebat. Rencana mereka yang akan duduk bersantai di kursi taman seraya melihat pemandangan yang indah itu akhirnya tidak terlaksana dan memutuskan untuk tetap berada didalam mobil.

” Huft.. Kita tidak bisa melihat pemandangan diluar ” Ujar Yuri dengan lesu.

” Tidak apa-apa Yul, dari sini kita juga bisa melihatnya ” jawab Jessica.

” Baiklah, kalau begitu kita makan disini saja ” Yuri menjulurkan tangannya kebelakang untuk menjangkau sebuah kantong plastik yang berisi dua kotak makanan. Kemudian diberikannya sekotak makanan itu pada Jessica.

” Selamat makan! ” Ujar Yuri dengan semangat seraya mengangkat sumpit ditangannya.

” Dork! ” Jessica memutar bola matanya melihat Yuri yang kembali bertingkah kekanakan. Kemudian memasukan sesuap makanan kemulutnya.

” Bagaimana bisa kau membuat Mr.Park mengizinkanmu untuk membawaku kemari? ” Tanya Jessica setelan menelan makananannya.

” Aku tidak melakukan apa-apa ” balas Yuri dengan santai yang membuat Jessica kesal.

” Aku tidak percaya jika kau tidak melakukan apa-apa Yul. Atasanku itu bukanlah orang yang dengan mudah memberikan izin bawahannya untuk beristirahat saat jam kerja. Jadi apa yang kau katakan padanya? ” Jessica mendesak Yuri untuk mengatakannya. Yuri pasti melakukan sesuatu pada atasannya itu.

” Apa aku harus mengatakannya? ” Tanya Yuri, sebenarnya dia juga ragu untuk memberitahu pada Jessica.

” Cepat katakan ” ujar Jessica dengan nada datar. Memperlihatkan wajah dinginnya yang membuat Yuri membeku.

” Arraseo.. Hmm.. ” Yuri memggantungkan kalimatnya seraya menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali.

” Haruskah aku menunggumu bicara hingga besok? “ Jessica yang berbicara dengan nada datar membuat Yuri semakin takut. Ditambah lagi tatapan Jessica yang mematikan.

“ i-itu.. aku hanya mengatakan kalau aku ingin membawamu sebentar “ Gelagat Yuri yang gugup membuat Jessica tidak percaya. Dia tahu Yuri sedang membohonginya saat ini.

“ apa yang harus ku lakukan untuk membuatmu berkata jujur? “ Yuri menelan ludahnya. Jessica benar-benar membuat Yuri membeku dengan ice princess yang dimilikinya. Jurus andalan Jessica yang akan membuat orang-orang akan merasakan seperti berada digunung es. Sebelum menjawab pertanyaan Jessica, Yuri harus menghancurkan es itu terlebih dahulu dengan aegyo andalannya. Tersenyum lebar dengan memperlihatkan gigi putihnya yang rapi. Berharap itu akan membuatnya terlepas.

“ cepat katakan “ Yuri menghela napasnya karena tidak bisa meruntuhkannya.

“ a-aku membayar gajimu hari ini sebagai gantinya “ ujar Yuri dengan gugup. memberanikan diri menatap Jessica yang masih memperlihatkan raut datarnya.

“ jadi kau pikir aku wanita bayaran untuk bisa menemanimu? “ Kini Jessica menatap Yuri dengan tajam. Inilah yang paling tidak disukainya. Yuri menganggap semuanya bisa dibeli dengan uang.

“ bagaimana bisa kau berpikir seperti itu tentangku? Kau tahu aku Sooyeon-ah, aku akan melakukan apapun jika itu menyangkut dirimu. Apapun akan ku korbankan jika itu bisa membuatmu bahagia “ Yuri balas menatap Jessica dengan lekat. Membiarkan mata mereka bertemu satu sama lainnya. Berusaha untuk membaca tatapan yang kini ditunjukkan, mencari tahu kebenaran tentang rasa yang terlihat. Tapi sekali lagi, Jessica menepis rasa itu. Berusaha untuk tetap pada pendiriannya untuk tidak termakan dengan perkataan laki-laki yang pernah menyakitinya. Bisa dikatakan itu adalah sebuah Trauma untuknya.

“ tidak semuanya yang bisa kau beli dengan uang Kwon Yuri. Termaksud aku! Ingat, kebahagiaanku tidak akan bisa kau bayar dengan uangmu yang melimpah itu! “ Jessica menekankan setiap kalimat yang terucap dibibirnya.

“ Sooyeon-ah, Please.. “ Yuri memiringkan tubuhnya agar bisa menatap Jessica lebih leluasa. Meraih tangan wanita itu dan menggenggammnya dengan erat. “ jangan salah artikan apa yang kukatakan “

“ itu memang kenyataannya. Kau tidak pernah berubah. Kau hanya mengandalkan semua kekayaanmu untuk mendapatkan apa yang kau inginkan. Kau tahu? Aku paling tidak suka dengan orang yang seperti itu. Hartamu itu tidak akan abadi Yuri-ssi “ mendengar kata-kata Jessica yang tajam membuat mata Yuri memanas. Bagaimana bisa Jessica berkata seperti itu padanya. Perih dihatinya yang kini terasa. Begitu bejatkah dia sampai-sampai Jessica berpikir yang tidak-tidak tentangnya? Ck, bagaimana bisa dia masih meragukannya setelah apa yang dilakukannya dulu terhadap Jessica.

” Soo- “

” Lebih baik kau antarkan aku kembali. Pekerjaanku masih banyak ” ujar Jessica yang tidak menghabiskan makanannya, menaruh kotak itu kembali kedalam kantong.

” Ta-tapi kau baru makan sedikit Sooyeon-ah. Habiskan dulu makananmu ” Yuri kembali mengambil kotak makan Jessica.

” Aku sudah kenyang ” jawab Jessica.

” Sooyeon-ah, aku mohon.. Jangan seperti ini. Sekali ini saja, turuti apa yang ku katakan. Ini juga untuk kebaikanmu. Tolong hargai apa yang aku berikan padamu Sooyeon-ah. Aku tidak ada maksud lain, aku seperti ini karena aku peduli dan khawatir padamu ” Yuri kembali menyodorkan kotak makanan itu pada Jessica yang terus menatap kedepan.

” Please.. ” Yuri kembali bersuara yang akhirnya membuat Jessica kembali menerimanya. Kembali memakan makan malamnya dengan perlahan tanpa suara. Keheningan tercipta, yang membuat Yuri tidak harus berbuat apa. Kini Yuri ikut diam karena tidak ingin memperburuk suasana. Tidak ingin Jessica semakin bersikap dingin padanya.

Setelah menghabiskan makan malamnya, Jessica meminta Yuri untuk kembali mengantarnya. Selama perjalanan hanya kebisuan yang terjadi, yang terdengar hanyalah deru mobil yang menyatu dengan mobil lainnya yang berlalu lalang. Beberapa menit kemudian mereka sudah berada diparkiran, dengan segara Jessica keluar dari mobil tanpa berkata sepatah kata pun.

” Sooyeon-ah ” Yuri berhasil mencegah Jessica yang hampir memasuki club.

” Apalagi? ” Balas Jessica dengan ketus.

” Apa kau benar-benar membenciku? Apa kau tidak ingin aku berada didekatmu? Apa aku pengganggu dikehidupanmu? ” Tanya Yuri dengan wajah yang yang menunduk. Berusaha untuk menyembunyikan air matanya yang ingin keluar. Apakah dia harus menjauh dari sisi wanita yang begitu dicintainya itu? Hatinya begitu berat untuk melakukannya, tapi disatu sisi dia memikirkan Jessica. Setiap kali dia berada disisi Jessica, pasti hanya akan membuat Jessica terus mengingat masa lalunya. Yuri tidak menginginkan itu. Tidak menginginkan Jessica yang terus terjebak dalam memori masa lalunya yang kelam. Apakah dia harus pasrah? Apakah dia harus melepaskan cintanya yang begitu besar terhadap Jessica?

“ apa dengan aku menghilang dari hidupmu itu akan membuat tidak lagi bersedih? Apa itu akan membuatmu bahagia? “ Jantung Jessica seolah berhenti berdetak dengan pertanyaan yang baru saja terucap dari bibir Yuri yang kini menatapnya dengan lekat. Sepertinya Yuri tidak main-main dengan perkataannya. tampak keseriusan dari pancaran mata yang menatapnya. Kini kegusaran yang timbul dihatinya, bagaimana jika Yuri benar-benar akan menghilang dari sisinya? Apakah itu akan membuatnya bahagia? Kebimbangan terus saja menggerogoti hatinya sehingga dia tidak tahu apa sikap yang harus dilihatkannya.

“ A-apa maksudmu? “ Napas Jessica terasa berat yang berusaha dikontrolnya. Tanpa sadar tangannya terkepal hingga buku-buku jarinya memutih.

“ kau sudah tahu Sooyeon-ah, aku akan melakukan apapun untukmu jika itu bisa membuatmu tidak lagi larut dalam kesedihan, jika itu bisa membuatmu bahagia “ Yuri berhenti sejenak, berusaha menghirup udara malam yang dingin sebanyak-banyaknya. Terasa begitu sulit untuknya bisa memenuhi paru-parunya itu. Hatinya begitu berat jika mengucapkan kalimat yang kini bersemayam dibenaknya.

“ jika dengan aku menghilang dari kehidupanmu bisa membuatmu bahagia dan tidak lagi membuatmu larut dalam kesedihan, aku akan melakukannya. Ya.. aku akan berusaha untuk tidak terlihat dalam pandanganmu “ Yuri begitu berat saat mengucapkannya hingga membuat suaranya bergetar. “ jadi, aku ingin mendengarnyta darimu. Apa kau benar-benar ingin aku pergi dari hidupmu? ”

Apakah jawaban yang akan terucap dari bibir Jessica? apakah dia akan melepaskan Yuri untuk pergi dari hidupnya atau bahkan menahan Yuri untuk tetap disisinya?

Disisi lain dikota Seoul, seorang pria menatap cemas kearah gadis yang belum juga membuka matanya.

“ kenapa dia belum juga sadar? “ suara berat itu terdengar jelas sangat mengkhawatirkan gadis yang kini terbaring tidak sadarkan diri.

To Be Continued..

Anyeong Readers.. #nyengirpolos

Hehe.. berapa lama ya gue ga update DM?? Aduh gue lupaa.. readers hitung sendiri aja yaa hahhaha. Seperti orang tak berdosa banget gue ngomongnya ya? Haha abaikaan..

Okay! Bagaimana dengan Chapter 11 ini? makin gregetkah atoo makin ga semangat bacanya?? Jangan ampe ga semangat yaa.. ntar gue ga semangat juga ngelanjutinnya. Gue minta maaf kalo gue selalu lama update DM nya, tapi gue punya alasan kenapa bisa kyk gitu hehe. biasalaah.. mahasiswa.. (mahasiswa sok sibuk) haha.. tapi emg kenyataannya gue sibuk koq. Otak gue buntu gara2 mikirin kuliah n tugas hingga DM terbengkalai.

Oh ya, adakah yang beda dengan kata-kata gue ga?? Coba liat 3 kata yang dicetak tebal diatas deeh 😀

Karena kemaren banyak yang kesal tuh dengan 3 huruf kapital “ TBC ” jadi gue berinisiatif untuk menggantinya dengan kata “ To Be Continued.. “ #Plaaaaak

Apa bedanya ya?? Haha anggap aja gue ga tau. Ada yang lagi ngasah golok ga? Gue mengajukan diri nih.. minta dibunuh 😀      abaikaan laagii..

Okeeh, udahan dulu ye gue ngocehnya.. gue mau ngilang dulu. Untuk readers jangan lupa tinggalkan komentar setelah baca yaa.. RSL CHAP 13 DAN DM CHAP 12.. COMING SOON!! Tunggu aja yaaa…

Anyeooong.. *bow

Advertisements

128 thoughts on “Dear Mom (Chapter 11)

  1. kasian seohyun, taeyeon tega banget sih, nyesel kan sekarang udah berbicara kaya gitu ke seohyun.. semoga nanti seohyun ketemu dan tiffany juga cepet sadar..
    siapa tuh cowo yang nolongin seohyun?

  2. Ehhh sp it yg nemuin hyunnie dpinggir jln?mdh2n dy org baik…amin
    ahhh taeng mahhh ngo doank mnyesal tp sll ngelakuin yg ngebuat hyunnie terluka
    fany cptn sdr donk,marahin taeng th
    gregetan bgt aq baca nya

  3. Taeng, Penyesalan emg dtngnya selalu terakhir…

  4. Seo di temuin sma siapa?
    Sica jangan lepasin yul,,

  5. Duhh…jessjung bikin penasaran aja sama perasaannya ke yuri?
    Eh,siapa itu di chap terakhir?

  6. Ini bener2 part2 galau. Seohyun kasian itu yaampun pengen nangis:( dan itu siapa yang nolongi seohyun? Orang baik kah? Ya semoga aja deh yaaa. Semoga orang suruhannya taeyeon bisa cepet2 nemuin seohyun yaa

  7. Kasihan Seohyun. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Berharap setelah badai yg dilalui seohyun, pelangi kebahagiaan akan menghampiri hidupnya. ><

  8. Gimana ya klu smpi fanny tau,dia kan sngt chayank ma seo,gak bs dibayangin
    Saaat seo di tampar aja fanny dah sangat dingin ma taeng,aplgi klu tau seo prgi.bs” tany hancur.

  9. hyunie.,.,.,kasian skli tidur dipinggir jln kyk orng gelandangan jah. , gmn klo diculik???
    fanny cepat bngun ksian taetae n hyunie, , , ,
    arghhhh yul oppa sudah frustasi,,,!!! cmn sich ktnya cinta npa gk diperjuangkan….
    waduh tambah terhanyut jah gwe neh, critanya mendramatisir hehe

  10. yulsic ada masalah lagi..
    taeny blom tau kedepannya gimana…
    karena pasti fany bakal marah besar kalo joohyun menghilang..
    joohyun..
    nggak tau bakal koment apa tentang dia..
    yang jelas saat ini dia yg paling menderita..

  11. Itu siapa yak yg sama seo? Semoga bukan org jahat 😥
    Trus sica bakal jawab tuh yak ke yul 😓
    Semoga tae bisa cepet nemuin seo 😢

  12. Siapa tuh yg bangunin seobaby?

  13. gmn nasibmu seo?smg qm brtmu dgn org yg baik? sica tentukn skrg jln hdpmu jgn dipermainkn. tae ini bs jd bhn renunganmu kmbli?

  14. nyesek liat keadaan joohyun.. begimana selanjutnya sp yg nemuin??

  15. ini ff bawaannya sedih trs kpn bahagianya wkwk

  16. nah lohhh..apa jawabanx sica tuh..apa dia mau yuri mnghilang??
    joohyun kasian amat ya..

  17. siapa ya pria yg bangunin seohyun? 😐

  18. Tae kejam bett sih ilah fany pasti marah kalo tau
    Nah loh yulsic:(
    Semoga seo bangun

Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s