rara0894

All about TaeTiSeo and GG

Dear Mom (Chapter 10)

133 Comments

Title       : Dear Mom

Author  : rara0894

Genre    : Family, gender bender

Cast        :

Seo Joo Hyun as Kim Joo Hyun

Tiffany Hwang/ Hwang Miyoung

Kim Taeyeon

Jessica Jung/ Jung Sooyeon

Kwon Yuri

And other cast

CYMERA_20140711_052021

TIIIIN TIIIIN

” AAAAAAA “

” ANDWEEEE “

          Seohyun membalikan tubuhnya saat pekikan keras terdengar oleh pendengarannya dan juga disaat mobil itu semakin dekat. Tubuhnya terasa beku tanpa mau diperintahkan otaknya untuk bergerak. Matanya terus menatap kearah jalan yang kini sudah berhasil diseberanginya. Dia hanya diam terpaku dengan napas tercekat saat detik-detik mobil itu akan menghantam tubuh itu.

BRUGH

” FANY-AH ! ” pekik Taeyeon dari jarak yang masih jauh dengan mereka.

          Tubuh ramping itu berhasil dihantam mobil hingga terlempar ketepi jalan. Tepat dihadapan Seohyun berdiri saat ini. Ternyata itu adalah tubuh Tiffany yang kini bersimbah darah pekat yang terus mengalir. Tergeletak lemah dihadapan Seohyun yang masih terpaku dengan apa yang dilihatnya. Benar-benar jelas tertangkap oleh pandangan matanya. Tubuhnya yang semula hanya diam membeku kini mulai bergetar. Setetes air lolos dari matanya saat melihat Tiffany yang tersenyum kearahnya. Walaupun itu terlihat jelas oleh Seohyun jika Tiffany dengan susah payah untuk memunculkan senyumannya. Hati Seohyun terenyuh, bagaimana bisa dengan keadaan seperti itu Tiffany masih saja tersenyum padanya, masih melihatkan kasih sayang yang terpancar dari matanya yang kini terlihat lemah. Bisa dikatakan jika Tiffany ditabrak juga karena dirinya yang terus berusaha untuk melarikan diri.

” Ka-ji-ma.. ” Ujar Tiffany dengan lirih sambil menatap Seohyun dengan air mata yang kini juga mengalir dari sudut matanya. Melihat itu membuat Seohyun semakin bergetar dan seketika tangisannya pecah. Dia tidak lagi bisa menahan, muncul rasa bersalah dan penyesalan yang begitu besar dalam dirinya. Kini Seohyun tidak bisa lagi berdiri, kakinya tidak kuat lagi menahan beban tubuhnya sehingga membuatnya luruh. Terduduk disamping Tiffany yang masih menatapnya sendu.

” Ul-ji-ma.. ” Tangan lemah Tiffany berusaha menyentuh pipi Seohyun yang sudah dibanjiri air mata. Berusaha untuk mengusap air mata yang terus saja mengalir dengan derasnya.

” Fany-ah! ” Tubuh Seohyun terdorong kesamping saat Taeyeon menghampiri mereka untuk merengkuh tubuh Tiffany yang tergeletak lemah. Taeyeon menangis sejadi-jadinya melihat keadaan Tiffany dan memeluk istrinya itu dengan begitu erat. “ ahjussi!! Panggil ambulance cepat!! “ teriak Taeyeon yang melihat penjaga rumahnya yang akan menghampiri mereka.

“ Tae.. “ panggil Tiffany yang mengernyit menahan sakit. Namun dia berusaha untuk tetap berbicara. “ uljima.. “ Tiffany begitu sulit untuk mengeluarkan suaranya. Tangannya terulur untuk mengusap air mata suaminya.

“ fany-ah, tahan sebentar ya? Sebentar lagi ambulance datang untuk membawamu kerumah sakit “ Taeyeon membersihkan darah yang ada diwajah Tiffany dengan tangan yang bergetar. “ kenapa kau bodoh sekali.. kenapa kau tidak hati-hati? “ Taeyeon berbicara disela tangisannya. Mengecup wajah istrinya itu berkali-kali. “ aku benar-benar tidak kuat melihatmu seperti ini sayang “ Tiffany tersenyum lemah mendengar perkataan Taeyeon.

“ Jangan menangis lagi “ Tiffany berusaha menangkupkan kedua tangannya di pipi Taeyeon, menatap mata suaminya dengan lekat. “ tae, ingat pesanku ini.. jangan sampai tanganmu menyakiti pipi Joohyun untuk yang kedua kalinya. Aku tidak suka itu jika kau sampai melakukannya. “ Ujar Tiffany dengan napas tersengal yang kembali mengernyit sakit sambil memejamkan matanya, dan itu membuat Taeyeon panik.

“ Fany-ah.. “ panggil Taeyeon lirih sambil menepuk lembut pipi istrinya. Perlakuannya berhasil yang membuat Tiffany kembali membuka mata. Kembali menatap matanya.

“ tae.. aku sangat mencintaimu dan Joohyun “ Kemudian Tiffany beralih menatap Seohyun yang masih diam menunduk dan menangis. Sedangkan Taeyeon tidak mempedulikan itu, dia terus menatap istrinya yang semakin lemah. “ kau tahu? Bisa hidup bersama kalian adalah anugerah paling terindah dalam hidupku. Aku sangat bahagia karena kau dan Joohyun terus ada disisiku “ Tiffany terus berbicara dengan terbata-bata. Ini sangat menyakitkan untuknya.

“ aku juga sangat mencintaimu Fany-ah.. tolong bertahan sebentar.. “ Taeyeon mengusap dahi Tiffany kemudian mengecupnya.

“ jika aku tidak bisa lagi untuk bersamamu- “

“ tidak! Kau akan terus bersamaku Fany-ah! kau akan baik-baik saja “ Ujar Taeyeon dengan penuh penekanan. Menggeleng keras kemudian mengecup bibir Tiffany agar tidak melanjutkan kata-kata yang akan membuatnya takut. “ kau akan baik-baik saja sayang.. jangan bicara seperti itu “ lirih Taeyeon dengan tubuh semakin bergetar. Isakannya semakin keras. Tiffany sedikit menarik kepala Taeyeon hingga hidung  dan dahi mereka saling bertemu, Tiffany yang lebih dulu sedikit memiringkan kepalanya untuk mengecup bibir Taeyeon dengan lembut. Kemudian melingkarkan kedua tangannya dileher suaminya itu, Taeyeon yang mengerti kembali memeluk Tiffany yang kini menyembunyikan wajahnya dileher Taeyeon.

“ Jeongmal.. saranghae.. “ Bisik Tiffany yang kini menutup matanya perlahan dan saat itu juga setetes air mengalir dari sudut matanya. Kedua tangannya yang tadi memeluk leher Taeyeon kini melonggar dan akhirnya terlepas begitu saja.

” Fany-ah.. ” Panggil Taeyeon, menepuk lembut pipi Tiffany yang terasa dingin. Berharap dengan cara itu Tiffany kembali membuka matanya. Namun tidak ada pergerakan sedikitpun dari Tiffany, tidak ada reaksi. Panik dan ketakutan, itulah yang dirasakan Taeyeon saat ini. ” Andwe! Miyoung-ah, ireona.. ” Taeyeon mengguncang bahu Tiffany, namun tetap saja tidak berhasil.

” Kau! ” Taeyeon menatap murka pada Seohyun yang kini mengangkat kepalanya untuk menatap Taeyeon. ” Sekarang kau sudah puas?! Apa kau senang?! ” Teriak Taeyeon pada Seohyun yang terdiam. Seohyun kembali menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Taeyeon.

” Jika terjadi sesuatu dengan istriku, aku tidak akan pernah memaafkanmu! ” Mendengar itu membuat Seohyun semakin menangis walaupun sekuat tenaga ditahannya, yang terdengar hanya isakannya dengan bahu yang naik turun dengan cepat. Saat itu juga ambulance yang akan membawa Tiffany ke rumah sakit datang menghampiri. Dengan segera Yoona dan beberapa perawatnya mengangkat tubuh Tiffany kedalam mobil. Meninggalkan Seohyun yang masih terduduk di aspal yang dingin. Taeyeon tidak menghiraukan Seohyun sedangkan Yoona sibuk menangani Tiffany didalam ambulance sehingga tidak ada niatnya untuk memikirkan yang lain. Hanya terfokus pada Tiffany. Tidak lama kemudian ambulance melesat pergi menuju rumah sakit dan meninggalkan Seohyun yang masih menangis, yang masih sama dengan posisi sebelumnya. Penjaga rumah, supir dan pelayan yang berada berseberangan dengan Seohyun hanya menatap iba kearahnya. Tidak berniat untuk mendekat, hanya memperhatikan dan berjaga-jaga agar tidak terjadi sesuatu ataupun Seohyun yang nekat melakukan sesuatu seperti apa yang dilakukan anak majikannya itu sebelum-sebelumnya.

” Mi-mianhae.. ” Seohyun menekan dada kirinya yang terasa sesak. ” Jeongmal mianhae.. ” lirihnya yang kini menangis tanpa harus lagi ditahan. Tidak sanggup lagi untuk menyembunyikan suara tangisannya yang ingin keluar. Ini adalah penyesalan terbesar yang pernah dirasakan dalam hidupnya. Suatu kesalahan besar yang dilakukannya. Dia terbutakan karena kebenciannya terhadap sang ayah dan akhirnya membuat Tiffany yang begitu baik padanya yang menjadi korban. Tersakiti karena ulahnya. Berkali-kali terluka dan yang paling parah dengan apa yang terjadi malam ini. Tiffany tidak sadarkan diri dengan bersimbah darah karena dihantam sebuah mobil yang kini tidak tahu keberadaannya. Pengemudi mobil itu pergi begitu saja tanpa meninggalkan tanggung jawab yang harus dilakukannya.

          Sudah 15 menit berlalu, Seohyun masih saja dengan posisinya yang tidak berubah, masih saja menangisi penyesalan yang telah dilakukannya. Sesaat kemudian dia bisa merasakan titik-titik air yang menghujam kulit putihnya, air yang jatuh dari langit yang kelam itu semakin ramai menyentuhnya. Hujan disertai udara yang semakin dingin kini terasa menusuk kulitnya hingga menembus kedalam raganya. Dia tidak peduli dengan hujan yang mulai deras, dipikirannya saat ini hanya ada Tiffany yang dulu tidak pernah terlintas dipikirannya. Bagaimana Tiffany yang tersakiti karena sikapnya selama ini, bagaimana kata-kata tajam yang terucap dibibirnya tertuju pada ibu tirinya itu. Pasti sangat menyakitkan. Ya, seperti apa yang pernah diucapkan ayahnya pada sang ibu dan dirinya. Seohyun menyadari itu dan juga pernah merasakan bagaimana rasa sakit dihatinya saat sang ayah berkata tajam padanya. Tapi, mungkin Tiffany yang lebih tersakiti karena wanita itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan masa lalu mereka. Tiffany hanya masa sekarang yang ada dikehidup ayahnya dan tidak bersalah sama sekali dalam masalah yang terjadi. Seohyun menyesali semua itu, merasa bersalah pada Tiffany yang kini tidak sadarkan diri.

” Nona, lebih baik sekarang kita masuk ” ujar sopir pribadi yang kini sudah berada dihadapannya dengan memegang sebuah payung. Seohyun tidak menghiraukan, terus menangisi penyesalannya yang dia tidak tahu bagaimana cara untuk menghilangkannya dan memperbaiki semuanya.

” Apa nona tidak ingin melihat nyonya dirumah sakit? Nyonya pasti menginginkan nona berada disampingnya ” Kini supir pribadinya itu menunduk, mengulurkan tangannya yang bertujuan membantu Seohyun untuk berdiri. Seohyun hanya menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dibaca. ” Kalau nona mau, ahjussi akan mengantarkan nona kesana. Tapi sebelum itu lebih baik nona membersihkan diri dahulu. Tidak mungkin nona kesana dalam keadaan basah seperti ini bukan? Nona juga bisa sakit jika terus hujan-hujanan. ” awalnya Seohyun masih diam, namun sesaat kemudian akhirnya Seohyun menerima uluran tangan dari supir ayahnya itu dan mengikuti mereka untuk memasuki rumah.

          Setengah jam berlalu, kini Seohyun sudah berada didalam mobil menuju rumah sakit dimana Tiffany dan Taeyeon berada saat ini. Selama perjalanan Seohyun hanya diam, menatap keluar kaca mobil dihadapannya dengan tatapan menerawang. Pikirannnya kacau, memikirkan semuanya. Memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa memperbaiki semuanya, bagaimana caranya agar kehidupannya kembali seperti semula. Dia tidak tahu dan dia juga tidak bisa berpikir jernih dengan pikirannya yang kacau saat ini.

‘Kalau memang wanita itu merindukan anaknya, dia pasti akan berusaha untuk bisa bertemu. Tapi apa? Sedikitpun tidak terlihat usaha darinya’

Perkataan Taeyeon saat beradu mulut dengan Tiffany tadi kembali terngiang olehnya.

” Apa itu benar? Apa eomma sama sekali tidak merindukanku? “ Batin Seohyun yang disertai matanya yang kini terasa memanas.

” Nona, kita sudah sampai ” Seohyun tersadar dan menoleh kearah supirnya yang mematikan mesin mobil dan keluar dengan langkah yang sedikit cepat membukakan pintu untuknya.

” Ayo nona ” ujar sang supir yang sudah berdiri didekatnya yang tetap duduk didalam mobil dan masih melamun. Apakah Taeyeon akan menerima keberadaannya nanti? Itu yang ada dipikirannya saat ini.

” Nona.. “

” Ne, gomawoyo ahjussi ” ujar Seohyun yang keluar dari mobil. Dalam perjalanan menuju emergency room tempat Tiffany ditangani saat ini, jantung Seohyun berdetak lebih cepat dari biasanya. Dia tidak tahu bagaimana bisa seperti itu, hanya saja ada ketakutan dihatinya. Takut terjadi sesuatu dengan Tiffany, takut jika Tiffany tidak baik-baik saja. Itu akan membuatnya semakin merasa bersalah. Dia juga takut jika Taeyeon akan murka saat dia muncul dihadapan ayahnya itu.

” Nona, Ahjussi menunggu disana saja. Kalau ada keperluan apapun, nona panggil saja ya ” Sang supir menunjuk kearah bangku-bangku yang berjejer rapi dari arah kiri mereka. ” Emergency room ada disebelah kanan, kemudian dipersimpangan belok kiri ” Seohyun mengangguk mengerti dengan penjelasan yang diberikan. Dengan langkah ragu dia berjalan kearah kanan. Degup jantungnya masih terasa cepat, berkali-kali dia menghela napas untuk menormalkannya dan juga untuk menghilangkan ketakutannya. ” Kau harus tenang “ Seohyun meletakkan salah satu tangan didadanya sambil mengambil napas sebanyak-banyaknya dengan menutup mata, kemudian kembali membuangnya. ” Ya.. Tenang.. “ Sekarang Seohyun melangkah dengan yakin untuk berjalan menuju arah emergeny room.

– Dear Mom –

          Taeyeon terduduk lemas di bangku yang disediakan dilorong rumah sakit, tepatnya dihadapan pintu emergeny room yang kini tertutup rapat. Kedua tangan Taeyeon menutup penuh wajahnya dengan siku yang bertumpu pada pahanya. Berkali-kali mengusap wajahnya yang kini terlihat berantakan. Pikirannya kalut saat ini, memikirkan Tiffany yang kini sedang berjuang didalam sana. Dalam hatinya, Taeyeon terus berdoa agar tuhan melindungi Tiffany. Tidak lama kemudian, Taeyeon yang masih menutupi wajahnya bisa mendengar langkah seseorang yang mendekatinya. Taeyeon mengangkat wajahnya dan terlihatlah Seohyun yang berjalan kearahnya. Seketika raut wajahnya berubah.

“ kenapa kau kemari? “ tanya Taeyeon dengan penuh penekanan, kemudian berdiri dari posisi duduknya. Amarahnya yang tadi sedikit meredam kini kembali meningkat. “ kau masih belum puas untuk mencelakai istriku? Apa kau ingin melanjutkan aksimu itu?! “ Suara Taeyeon meninggi dengan menatap tajam kearah Seohyun yang kini menunduk.

“ kalau itu niatmu untuk datang kemari, lebih baik kau pergi dari sini! “ ujar Taeyeon lirih tetapi penuh penegasan dan Seohyun masih saja diam.

“ sekarang terserah kau Joohyun-ah, aku tidak akan lagi menahanmu. Aku akan melepasmu. Kalau kau ingin kembali dengan eomma-mu, pergilah. Aku tidak akan lagi memohon-mohon padamu untuk tetap bersamaku. Mempertahankanmu hanya membuat istriku terus terluka. Membuat aku dan Tiffany makan hati karena sikapmu. Ini sudah keterlaluan, ini sudah diluar batas kesabaranku, dan aku tidak akan lagi membiarkan istriku terluka berkali-kali karenamu “ Taeyeon menghirup udara sebanyak-banyaknya sebelum kembali mengeluarkan suaranya. “ Jadi lebih baik kau pergi dari hadapanku sekarang. Aku tidak ingin melihatmu disini! Kalau kau ingin kepanti asuhan, minta ahjussi untuk mengantarmu “ napas Seohyun terasa sesak, seolah udara tidak bisa masuk keparu-parunya. Dadanya terasa sakit seperti tertusuk ribuan jarum yang tajam. Ini adalah perkataan Taeyeon yang paling tajam yang pernah terucap, yang pernah ditujukan untuknya. Seohyun mengepalkan kedua tangannya untuk menguatkan dirinya, menahan tubuhnya yang terasa lemas dan bergetar untuk tetap tegap menahan beban tubuhnya. Ditambah lagi luka dikedua lutunya kembali terasa sakit. Seohyun menutup matanya serapat mungkin, menahan air matanya sebelum mengalir dengan deras. Menahan kesakitan dihatinya sekaligus kesakitan dikedua lututnya.

“ Pergi! “ perintah Taeyeon dengan lirih namun tegas dan terus menatap Seohyun yang masih menunduk. “ kau tidak mendengarku? Pergi dari hadapanku “ begitu menyakitkan yang terasa dihati Seohyun. Dia tidak lagi bisa bertahan dengan sikap diamnya kini. Baiklah, jika itu memang keinginan Taeyeon saat ini. Benar, ini memang kesalahannya dan semuanya sudah terlambat. Dia tidak akan bisa memperbaiki semuanya. Menyerah, itulah yang dapat dilakukannya. Seperti apa yang diakatakan Taeyeon, lebih baik dia pergi dari hadapan ayahnya itu. Dengan perlahan Seohyun melangkah mundur dengan menatap ayahnya yang juga menatapanya, namun bukanlah tatapan kehangatan yang terlihat dari mata Taeyeon namun tatapan kebencian. Taeyeon menutup matanya saat melihat air mata Seohyun yang jatuh mengalir dipipi putihnya. Jujur, dia tidak bisa melihat air mata itu. Namun kali ini dia tidak akan lagi luluh. Tidak akan ada kata maaf. Sedangkan Seohyun yang masih menatap Taeyeon semakin deras mengeluarkan air matanya. mungkin memang Taeyeon sudah tidak ingin lagi melihatnya dan dia akan menerima karena ini semua murni kesalahannya.

“ baiklah jika itu yang kau mau… appa.. “ batin Seohyun yang kini membalikan tubuhnya dan menghapus air mata dengan punggung tangannya yang sudah membasahi pipinya. Baru kali ini kata-kata ‘ appa ‘ terucap walaupun dibatinnya setelah bertahun-tahun tidak pernah lagi diucapkannya. Dia berjalan gontai meninggalkan Taeyeon yang kini membuka matanya. Terus menatap punggung Seohyun yang semakin jauh dari hadapannya dan akhirnya menghilang saat dipersimpangan lorong rumah sakit.

“ apa keputusanku benar? Ya tuhan apa yang sudah kuucapkan “ Taeyeon terduduk lemas sambil memijit pelipisnya yang terasa sakit. Taeyeon mengelengkan kepalanya untuk menghilangkan rasa keraguannya, yang terpenting saat ini adalah Tiffany. Istrinya itu yang lebih penting saat ini.

Tanpa Taeyeon tahu, Seohyun ternyata masih berada dirumah sakit. Bahkan masih berada disekitarnya. Ternyata Seohyun bersembunyi saat berbelok dipersimpangan lorong, menyandar punggungnya di dinding berwarna putih itu yang sesekali mengintip Taeyeon yang duduk menunggu. Seohyun berjanji dia akan benar-benar pergi setelah tahu bagaimana keadaan Tiffany, memastikan jika Tiffany akan baik-baik saja.

          Satu jam berlalu, namun tidak ada tanda-tanda jika penanganan Tiffany didalam sana sudah selesai. Taeyeon terus saja duduk dengan gelisah yang kini sudah ditemani Sooyoung. Ya, Sooyoung sudah berada disamping Taeyeon setengah jam yang lalu setelah Taeyeon mengabari jika Tiffany mengalami kecelakaan. Saat Sooyoung datang, Seohyun dengan segera mencari tempat yang lebih aman untuk bersembunyi agar pamannya itu tidak menemukan dirinya yang sedang berdiri dibalik dinding, sebelum Sooyoung menyapanya dan menariknya untuk menemui Taeyeon. Itu hanya akan memunculkan masalah dan Seohyun tidak menginginkan itu. Saat Taeyeon dan Sooyoung duduk bersisian, Taeyeon menceritakan semuanya tentang apa yang terjadi sebelumnya. Sooyoung hanya bisa membungkam mulutnya seolah tidak precaya dengan apa yang diceritakan sepupunya itu. Sooyoung tidak bisa berbuat apa-apa selain menenangkan Taeyeon dan terus berdoa untuk keselamatan kakak iparnya, Tiffany. Tidak lama kemudian, akhirnya pintu emergency yang terbuat dari kaca itu terbuka, refleks Taeyeon menghampiri Yoona yang keluar dengan raut wajah yang tidak bisa dibaca oleh Taeyeon. Namun Taeyeon bisa merasakan hatinya yang gusar dengan raut yang ditampakkan Yoona dihadapannya.

” Bagaimana dengan Tiffany Yoong? Dia baik-baik sajakan? Tidak ada terjadi sesuatu dengannya kan? Apa dia sudah sadar? Apa aku boleh melihatnya? ” Taeyeon memegang kedua bahu Yoona dan mengguncangkan tubuh wanita itu sambil melontarkan pertanyaan dengan bertubi-tubi. Namun satupun tidak dijawab oleh Yoona yang hanya menatap Taeyeon dengan raut wajah yang masih sama. ” Jawab aku yoong, kenapa kau diam saja?! ” Sikap Yoona membuat hati Taeyeon semakin gusar, ditambah lagi melihat mata Yoona yang kini memerah dan berkaca-kaca. Seketika itu Yoona langsung memeluk Taeyeon yang kini membeku. Taeyeon terus meyakinkan dirinya bahwa Tiffany dalam keadaan baik-baik saja.

” Oppa.. ” Panggil Yoona disela isakannya. Saat ini Yoona menyembunyikan wajahnya dibahu Taeyeon.

” Katakan padaku, Tiffany baik-baik saja kan? ” Taeyeon kembali bertanya yang kini mendapatkan gelengan dari Yoona.

” Apa maksud dari gelengan yang kau tunjukan yoong? ” Tanya Taeyeon yang menatap lurus kearah pintu emergency room.

” Yoong, jelaskan pada kami bagaimana dengan keadaan Tiffany ” ujar Sooyoung yang mengusap lembut punggung Yoona yang bergetar. Dengan lembut Sooyoung menarik Yoona untuk berdiri tegap dan menjelaskan semuanya.

” Bicaralah ” ujar Sooyoung. Yoona menghirup udara sebanyak-banyak kemudian kembali membuangnya. Cukup berat untuknya mengatakan apa yang kini terjadi pada Tiffany.

” Fany eonnie.. sekarang dalam keadaan koma.. ” Lirih Yoona yang kini kembali terisak, sedangnya Taeyeon membeku dengan napas tercekat.

” Ti-tidak mungkin.. Kau lagi mengerjaiku kan yoong? Tiffany baik-baik saja kan? Aku mau masuk kedalam! ” Taeyeon yang akan melangkah memasuki emergency room langsung ditahan Yoona dan Sooyoung. Taeyeon akan memperparah keadaan kalau sampai masuk kedalam ruangan.

” Ya! Lepaskan! Aku ingin menemui Tiffany! ” Taeyeon berusaha melepaskan diri.

” Kau tidak boleh masuk kedalam taeng! ” Sooyoung terus menahan Taeyeon. Walaupun tubuh sedikit mungil dari pria-pria umumnya, tetap saja Sooyoung begitu kewalahan.

” Oppa! ” Yoona meninggikan suaranya pada Taeyeon yang seperti kesetanan. ” Aku yakin eonnie pasti akan segera sadar dari komanya, yang terpenting saat ini teruslah berdoa dan berada disisinya. Teruslah berkomunikasi dengannya, walaupun fany eonnie dalam keadaan tidak sadar tapi otaknya masih bekerja dengan normal. Eonnie pasti mendengar apa yang kalian katakan. Dan itu juga salah satu cara untuk merangsang agar eonnie cepat sadar ” jelas Yoona. Kini Taeyeon diam, lutunya terasa begitu lemah mendengar semuanya.

” Kau harus sabar oppa.. Yakinlah kalau tuhan akan melindungi fany eonnie. Yang harus kita lakukan adalah terus sabar menunggu dan terus berdoa. Aku akan berusaha yang terbaik dalam merawat eonnie. Aku janji oppa” Yoona kembali memeluk tubuh Taeyeon yang bergetar. Bisa terdengar olehnya isakan kecil dari Taeyeon. ” Kau bisa melihat eonnie setelah dipindahkan ke ruang ICU. Aku sudah memesankan ruangan yang hanya khusus untuk satu pasien. Kau tidak perlu memikirkan hal yang lain selain eonnie, aku yang akan mengurus semua administrasinya ” Yoona menepuk lembut bahu Taeyeon, mudah-mudahan dengan perlakuannya itu bisa membuat Taeyeon sedikit tenang.

” Gomawo yoong ” Yoona melihatkan senyuman lemahnya.

” Ne oppa. Ya sudah, aku tinggal sebentar. Kalian duduk saja disini dahulu sampai eonnie dipindahkan ” Yoona melangkah setelah mendapat anggukan dari kedua pria itu.

          Tidak jauh dari mereka, Seohyun terus menyimak apa yang mereka katakan. Koma, satu kata itu membuat Seohyun kembali menangis. Ternyata Tiffany tidak baik-baik saja. Itu semakin membuatnya merasa bersalah, membuatnya semakin menyesal dengan apa yang selama ini dilakukannya. Ya, penyesalan itu memang selalu datang terlambat dan Seohyun tidak tahu bagaimana cara menghilangkannya. Dengan memperbaiki semuanya mungkin saja bisa. Tapi, apakah dia mampu? Apa gadis sepertinya bisa termaafkan? Itulah yang ada dibenaknya. Mendengar langkah Yoona yang mendekat dengan segera Seohyun membungkam mulutnya dan bersembunyi ditempat yang aman agar Yoona tidak melihatnya. Setelah merasa aman Seohyun kembali ketempat awalnya. Kembali mengintip dari persembunyiannya untuk melihat Taeyeon yang kini kembali terduduk dan menunduk. Sooyoung yang berada disamping Taeyeon terus berusaha untuk menenangkan.

” Mi-mianhae.. ” Gumam Seohyun. Hanya itu yang bisa diucapkannya, dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya selain terus mengucapakan kata maaf.

” Tae, Joohyun oddiga? ” Terdengar oleh Seohyun pertanyaan yang diajukan Sooyoung pada Taeyeon yang membuatnya kembali menatap keduanya. Taeyeon tidak menjawab, dia hanya terus diam tanpa menghiraukan Sooyoung.

” Tae, aku bertanya padamu ” Sooyoung sedikit kesal karena sepupunya itu tidak menghiraukannya.

” Aku tidak tahu, mungkin saja dia ada dirumah. Jangan dulu membahasnya Soo, kepalaku pusing ” Sekali lagi, hati Seohyun kembali terasa seperti disayat. Perih yang dirasakannya saat ini. Setetes air kembali jatuh dari matanya yang kini sudah terlihat sembab. Apa dia benar-benar tidak termaafkan lagi? Apa dia tidak bisa diizikan untuk memperbaikinya? Apa Taeyeon tidak lagi bisa menerimanya kembali? Ya, mungkin tidak akan lagi ada kesempatan untuknya.

” Baiklah, kesalahanku memang tidak bisa dimaafkan dan keberadaanku tidak lagi diinginkan. Aku akan berubah dan menjadi anak yang penurut padamu appa. Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan, seperti apa yang kau katakan tadi. Tidak ingin lagi melihatku, dan.. aku akan menuruti perkataanmu itu ” Seohyun mengusap kedua pipi dan matanya yang basah dengan punggung tangannya. Mulai melangkahkan kaki dengan perlahan menuju lobby, bertujuan untuk meminta selembar kertas dan meminjam sebuah bulpoin di meja receptionis. Ada sesuatu yang harus dilakukannya sebelum benar-benar pergi. Setelah mendapatkannya, tangan Seohyun mulai menari di kertas itu. Menuliskan sesuatu yang entah apa isinya. Setelah selesai, Seohyun melipat kertas itu dengan rapi. Lalu kembali melangkah ketempat persembunyiannya setelah berterima kasih dengan tangan yang terus menggenggam kertas tersebut. Ternyata Taeyeon masih berada ditempat sebelumnya, jadi bisa dipastikan jika Tiffany masih berada di emergency room. Seohyun berpikir sejenak, menatap kertas yang terlipat rapi digenggamannya. Bagaimana caranya agar kertas itu berpindah tangan? Tepatnya ketangan Taeyeon. Dia tidak akan mungkin untuk melihatkan dirinya dihadapan Taeyeon kembali untuk memberikannya. Itu hanya akan membuat Taeyeon kembali emosi. Jadi cara ini bukanlah cara yang tepat untuk memberikannya. Beberapa menit sudah berlalu, namun dia belum juga mendapatkan cara. Membuatnya terus berpikir keras hingga seseorang memanggilnya.

” Joohyun-ah ” panggil orang itu dengan lembut yang menyentuh bahunya. Itu berhasil membuatnya terkejut, ditambah lagi siapa yang kini berada dihadapannya.

” A-aunty Yoong ” ujar Seohyun dengan terbata yang kini mencoba mengatur napasnya yang sedikit tidak beraturan karena keterkejutannya.

” Apa yang kau lakukan disini? Kau tidak menemui appa? ” Tanya Yoona dengan lembut.

” Hmm.. Itu a-aku.. “

” Kajja, kita temui appa. Kau ingin melihat mommy bukan? “ Saat Yoona mau melangkah dan menggandeng tangannya, Seohyun langsung menahan yang membuat Yoona mengerutkan dahi.

“ Wae? “ Tanya Yoona yang bingung dengan sikap Seohyun.

“ i-itu.. tadi aku sudah menemui appa “ ujarnya.

“ lalu? “ Yoona semakin bingung dibuatnya, ditambah lagi melihat keraguan dalam nada bicara Seohyun.

“ a-aunty, tolong berikan ini pada appa “ ujarnya sambil menyodorkan kertas yang dari tadi berada digenggamannya.

“ kenapa kau tidak langsung saja yang memberikannya? Bukannya appa berada didepan emergency room? “ tanya Yoona yang benar-benar bingung saat ini.

“ a-appa sedang dalam keadaan kurang baik saat ini. Jadi aku tidak ingin memberikannya diwaktu yang tidak tepat seperti sekarang dan aku harus pulang kerumah, ahjussi sudah menungguku “ ujar Seohyun. Ya, dia berkata bohong saat ini. tapi ini juga jalan yang terbaik. “ jadi apa aunty bisa memberikannya pada appa? “ tanya Seohyun.

“ baiklah “ Yoona menerima kertas yang disodorkan Seohyun, dia mengerti dengan situasi yang terjadi pada keluarga Taeyeon yang sudah dianggapnya seperti keluarganya sendiri.

“ Gomawoyo aunty, kalau begitu aku harus pulang sekarang “ Seohyun membungkukkan tubuhnya dengan sopan, saat Seohyun ingin berbalik Yoona langsung menahannya.

“ Joohyun-ah.. “ Yoona menyentuh kedua bahu Seohyun, sedikit menunduk agar bisa menatap keponakannya itu dengan lekat.

“ N-ne? “ perlakuan Yoona membuatnya sedikit gugup. Dia tidak ingin dengan sikapnya yang gugup Yoona tahu dengan mudah jika dia sedang berbohong saat ini.

“ Matamu sembab, apa kau menangis? “ tanya Yoona.

“ N-ne “ Kali ini Seohyun tidak bisa berbohong karena Yoona dengan mudah menerkanya. Dia benar-benar takut jika Yoona menanyakan hal yang lain dan itu membuat jantungnya berdegup sedikit kencang, namun tebakannya salah dan membuatnya bisa bernapas lega. Ternyata Yoona malah memeluknya dengan erat.

“ kau harus sabar, mommy pasti akan kembali sadar dari komanya “ bisik Yoona yang kini kembali membuat Seohyun terisak. Mendengar kata koma membuatnya kembali teringat dengan kesalahan besarnya. Tanpa disadari, Seohyun membalas pelukan Yoona. Melepaskan tangisannya yang tadi ditahannya. “ ssst.. uljima “ Yoona mengusap lembut punggung Seohyun dan mengeratkan pelukannya sebelum kembali melepasnya. Menghapus air mata yang kini membasahi pipi putih Seohyun dengan kedua ibu jarinya.

“ aunty janji akan merawat mommy dengan baik selama berada dirumah sakit ini. aunty akan berusaha untuk membuat mommy sembuh dan kembali berkumpul bersamamu dan appa. Yang terpenting saat ini, Joohyun harus terus mendoakan mommy agar cepat sadar dan sembuh. Ingat, jangan sampai sekolahmu terganggu. Saat disekolah lupakan sejenak tentang mommy, arraseo? “ nasehat Yoona panjang lebar. Seohyun tampak mengangguk ragu, namun sedikitpun Yoona tidak bisa merasakannya.

“ a-arasseo “ ujar Seohyun dengan ragu.

“ ya sudah, aunty harus kembali ke emergency room. Pulanglah ini sudah malam dan hati-hati dijalan ya? “ ujar Yoona yang kini mengusap lembut puncak kepala Seohyun kemudian megecupnya.

“ Ne “ jawabnya sambil mengangguk. Kini Seohyun terus menatap Yoona yang berjalan menjauhinya untuk menemui Taeyeon.

“ baiklah.. sekarang sudah waktunya untukku pergi “ gumamnya. sekali lagi, dia kembali menatap Taeyeon . Kemudian melangkah perlahan untuk keluar dari gedung tempatnya berpijak saat ini.

Yoona melangkah untuk mendekati Taeyeon, kemudian duduk disebelah pria yang kini terus menunduk.

“ kau sudah makan oppa? “ Tanya Yoona sambil mengusap punggung Taeyeon yang hanya menggeleng menjawab pertanyaannya.

“ makanlah dahulu, kau juga bisa sakit jika seperti ini “ ujar Yoona yang membuat Taeyeon kembali menggeleng.

“ apa yang dikatakan yoong benar taeng. Kau harus makan, bagaimana kau bisa menjaga Tiffany kalau kau seperti ini “ Kini Sooyoung yang mengeluarkan suaranya, tetap saja itu tidak membuat Taeyeon menuruti perkataan mereka.

“ aku tidak lapar. Yoong, kapan aku bisa melihat Tiffany? “ tanyanya pada Yoona.

“ setelah eonnie berada diruang ICU, tenang saja sebentar lagi eonnie akan dipindahkan “ Yoona menepuk lembut punggung Taeyeon. “ aku kedalam, aku harus kembali memeriksa keadaan eonnie “ Yoona kembali berdiri dan saat ingin melangkah, Taeyeon menahan pergelangan tangan Yoona.

“ Yoong, tolong berikan perawatan yang paling terbaik untuk Tiffany. Aku mohon.. “ Yoona tersenyum tenang dan menepuk punggung tangan Taeyeon yang berada dipergelangan tangannya.

“ kau tenang saja, aku akan memberikan perawatan yang paling terbaik untuk eonnie. Aku akan melakukan apapun agar eonnie segera sadar dan sembuh. Teruslah berdoa oppa “ Taeyeon mengangguk yang kini melepaskan genggamannya. Membiarkan Yoona menemui Tiffany didalam sanan.

“ bersabarlah.. “ ujar Sooyoung yang menepuk lembut bahu Taeyeon.

– Dear Mom –

          Kini Tiffany sudah dipindahkan dari emergency Room sejak satu jam yang lalu. Selama itu Taeyeon dengan setia untuk menjaga Tiffany yang terus menutup matanya dengan rapat. Taeyeon terus menggenggam tangan Tiffany dan sesekali mengecupnya, Terus menatap wajah cantik istrinya itu yang kini terlihat pucat dan tertupi masker oksigen. Sakit yang dirasakan hatinya melihat Tiffany yang terbaring tak sadarkan diri, yang sedang berjuang antara hidup dan mati

“ miyoung-ah.. “ lirih Taeyeon yang masih terisak. “ apa kau nyaman dengan seperti ini? cepatlah sadar sayang.. hatiku sakit melihatmu seperti ini “ isak Taeyeon yang semakin dalam. Diruangan itu yang terdengar hanya isakan Taeyeon yang berpadu dengan suara monitor yang ada disamping ranjang Tiffany. Monitor yang memperlihatkan garis-garis yang hanya bisa dimengerti oleh ahli dibidangnya. Taeyeon yang bukanlah seorang ahli kesehatan hanya tahu jika itu adalah pendeteksi detak jantung seseorang. Taeyeon terus menatap sedih kearah Tiffany hingga dia merasakan seseorang menyentuh bahunya. Taeyeon mangangkat kepalanya, terlihatlah Yoona yang tersenyum sedih kearahnya.

“ kajja, kita keluar oppa. Soo oppa membelikan makan malam untukmu. Kau harus makan “ ujar Yoona dengan lembut. Taeyeon mengangguk dan berdiri dari duduknya untuk keluar dari ruangan bersama Yoona.

“ oppa.. “ Yoona kembali memanggil seelah mereka keluar dan duduk untuk makan malam. Taeyeon mengerutkan dahinya melihat apa yang disodorkan Yoona.

“ kertas? “ tanya Taeyeon yang bingung.

“ ne. bacalah “ Yoona meletakkan kertas itu ditangan Taeyeon. “ aku harus keruanganku. Nanti aku akan kembali untuk memeriksa keadaan eonnie “ Yoona berdiri dan meninggalkan Taeyeon yang masih bingung. Taeyeon bingung dengan terus menatap kertas yang terlipat rapi ditangannya.

“ apa ini? “ gumamnya, tangannya dengan perlahan membuka lipatan kertas tersebut. Sesaat, Taeyeon mengenggam erat kertas yang ada dikedua tangannya itu karena membaca kata-kata awal yang tertulis rapi dikertas tersebut.

Appa..

ya, baru kali ini aku memanggilmu ‘ appa ‘ setelah bertahun-tahun aku tidak lagi pernah mengucapkannya. maaf jika aku harus meminta maaf padamu melalui surat ini karena aku tahu keberadaanku dihadapanmu hanya akan kembali membuat amarah dihatimu semakin besar.

Appa.. Jeongmal mianhae.. aku sekarang menyadari bagaimana kalian begitu mencintaiku, bagaimana kalian melakukan yang terbaik untukku. Aku benar-benar menyesal dengan apa yang telah kulakukan. Jujur, ini adalah penyesalan terbesar yang harus aku pikul untuk sekarang dan seterusnya. Aku benar-benar merasa bersalah appa. Aku yang bodoh ini dibutakan oleh semuanya sehingga tidak menyadarinya. Aku terbutakan karena amarahku karena masa lalu yang begitu pahit datang pada keluarga kita. Bukanlah yang sekarang, tetapi saat appa, eomma dan aku masih bersatu. Masih menjadi keluarga kecil yang utuh dan bahagia. Appa, sekali lagi aku meminta maaf padamu. Aku tahu, permintaan maafku tidaklah berguna untukmu. Bahkan mungkin kau menganggap kata maaf dariku adalah kata-kata sampah yang tidak berharga untukmu. Namun jujur, ini tulus dari lubuk hatiku yang terdalam. Ini bukanlah kata maaf belaka yang hanya untuk meminta maaf karena simpati dengan apa yang terjadi pada istrimu, atau bukan sekedar formalitas seperti yang dikatakan orang-orang. Aku meminta maaf untuk semua yang telah ku lakukan selama ini. Aku benar-benar tulus mengatakannya walaupun aku tidak akan pernah termaafkan.

Appa.. aku berjanji padamu akan merubah sikapku. Aku akan menjadi seorang gadis remaja yang baik dan akan menjadi gadis penurut seperti apa yang kau dan istrimu inginkan. Aku akan berubah walaupun sudah terlambat. Aku akan menurut dengan perkataanmu. Appa mengatakan kalau tidak lagi ingin melihatku dan appa sudah tidak lagi peduli padaku. Appa juga sudah mengatakan sekarang keputusan terserah padaku saja. Jadi, aku memutuskan untuk pergi seperti apa yang kau inginkan appa. Aku berjanji tidak akan pernah lagi untuk melihatkan wajahku dihadapanmu. Percuma aku berada disisimu jika aku hanya akan memunculkan masalah dikeluargamu yang sekarang. Aku hanya akan terus membuat istrimu terluka berkali-kali seperti apa yang kau katakan. Sama sepertimu, aku tidak akan lagi membiarkan itu terjadi kembali. Lebih baik aku pergi jauh daripada aku terus membuat masalah dikeluargamu. Tapi satu yang tidak bisa kulakukan, aku tidak akan kembali ke panti asuhan, aku tidak akan menemui eomma. Appa mengatakan jika eomma tidak pernah merindukanku karena tidak sedikitpun usaha yang tampak darinya. Sejenak aku berpikir dan aku menyadarinya. Benar, eomma tidak lagi merindukanku, tidak lagi menginginkanku. Jadi percuma jika aku berada disisinya jika aku hanya akan menyusahkannya. Lebih baik mulai sekarang aku hidup sendiri dan mencoba untuk hidup mandiri. Aku berusaha untuk mengurus diriku sendiri, aku tidak akan menyusahkan kalian lagi. Aku akan menanggung semuanya sendiri. Aku harus menebus kesalahanku. Aku sudah mengabaikan kasih sayang yang appa dan Fany ahjumma berikan. Jadi aku harus menerima jika aku tidak lagi mendapatkannya. Ini adalah hukuman untukku.

Appa.. katakan permintaan maafku pada fany ahjumma jika dia sudah sadar nanti. Katakan semua penyesalanku padanya dan katakan juga jika aku akan berubah. Jika kau tidak ingin menceritakan tentangku yang hanya akan membuatmu kembali emosi, katakan saja jika aku meminta maaf walaupun nanti istrimu juga tidak menerima permintaan maafku. Aku hanya ingin menebus kesalahanku dan aku berpikir hanya itu yang dapat aku lakukan walaupun untuk kalian itu bukanlah apa-apa.

Sebelum aku mengakhiri surat ini, aku ingin appa tahu. Jujur, aku tidak pernah membencimu dan istrimu. Bahkan aku tidak pernah bisa membenci kalian sedikitpun. Namun semua itu tertutupi karena aku selalu teringat dengan masa lalu. Itulah yang membuatku selalu bersikap buruk padamu. Jadi, sekali lagi appa.. aku meminta maaf padamu. Mungkin hanya ini yang bisa kulakukan. Terima kasih atas semua yang appa dan ahjumma berikan padaku dan mungkin aku tidak akan bisa membalasnya.

Sekali lagi, terima kasih dan maaf untuk semuanya..

Kim Joo Hyun

TBC

ANYEEOOOONG.. I’M BAAAAAACK..!!!

huft.. akhirnya publis juga chapter 10.. gue udah didemo oleh readers yang berada  digrup bbm gue.. haduuuh

bagaimana?bagaimna?bagaimana?? adakah yg mewek?? gue rasa ga ada.. gue ga dapet feel saat nulisnya. oh ya, disini kayaknya Yoona kurang cocok deh jadi dokter, bener ga? Yoong itu cocoknya seumuran dengan joohyun. tapi gimana lagi, gue udh terlanjur buat yoona seperti itu dari awal. satu lagi, gue sengaja agak panjangin dikit untuk permintaan maaf gue karena terlalu lama update. apa readers tahu, gue rasa ini chapter paling panjang.. chapter ini lebih dari 5000 karakter ching! hahaha

okee, hanya itu cuap2 guee kali ini.. jangan lupa tinggalkan komentar ya 🙂

oh ya, hampir lupa.. Happy Birthday to Tiffany Hwang

yaa.. walaupun terlambat tiga hari ngucapinnya hahaha 😀

DM Chapter 11 dan RSL Chapter 7… Coming soon!! (walaupun DM nya sering lama hahahah, tapi ttp gue usahain cepet deh )

Byebyeeee.. *bow

Advertisements

133 thoughts on “Dear Mom (Chapter 10)

  1. Sedih ya baca suratna seohyun T_T
    Nah loh dia pergi kemana tuh ?

  2. Waduh ni joohyun lok nggak pulang ktempat sica trus prgi kmna haduh hyunie plis jngan gtu dong ntar yg ngrawat kamu siapa nak kamu msih trlalu kcil #haiyah
    Plis taeng cpet kejar hyunie sbelum prgi dri rumah maafin hyunie taeng inget kta2 ppany 😦

  3. terima ksh sudah mampir 🙂

  4. nah loh fany lg yg kena..tae emosi’a udh memuncak n seo akhr’a kabur..waduh bocah sekecil itu kabur wew

  5. nih chap bikn sedih bnget:'(:'(:'(
    joohyun, km mo pergi kemn kl gak ke eomma mu?
    moga mommy panny cpt sadar
    duh taeng psti tambh pusing nih, istrinya lg koma eh anaknya malah pergi

  6. yaampun, chapter ini bikin sedih,, tapi setelah fany dapet musibah besar kaya gitu seohyun baru sadar.. coba aja seohyun nurut dan kembaliseperti seohyun yg dulu yg ceria pasti gak bakal tuh kejadian kaya gitu,, huaaaaaaa 😦
    tapi sukurlah seohyun sekarang udh sadar, tinggal tunggu aja fany siuman..

  7. hwaaaa bikin nangis nih baca ceritanya huhu
    jadi makin penasaran sama kelanjutannya

  8. Y Allah sx nya muncul bqn aq nangis huhuhuhuhuhu

  9. Sedih bca ni chap. Apalagi pas baca surat seo T_T

  10. Duuhhh,,, chap yang mengharu biru,,, hahahh
    Lah trs klo ga ke panti kmna doonk,, seo salah faham sma sica

  11. Yaampun ini fix sedih parah ahhhh nangis gini bacanya:'( tiffany koma dan taeyeon udah bener2 gak peduli lagi sama joohyun sampe2 joohyun pergi dan ninggalin surat itu yaampun ini nangis beneran bacanya:(

  12. Hiks…. author-nim, kenapa membuat chapter yg menguras airmata. Hiks…. kasian joohyun. Kasian tiffany juga. Taeyeon-ah, emosimu selalu saja menakutkan ><

  13. Hiks…. author-nim, kenapa membuat chapter yg menguras airmata. Hiks…. kasian joohyun. Kasian tiffany juga. Taeyeon-ah, emosimu selalu saja menakutkan ><
    Joohyun mau pergi kemana itu?

  14. yah yah yahhh seonya mau kemanaaaa? aduuhhh taenya emosian banget serem jugA KALAU punya orang tua begitu buseett

  15. T____T bngt baca pesan hyunie…
    Semua berantakan.
    Huffff…
    Kasihan keluarga taeng.
    Kpn semua berakhir.
    Krn ini dah larut malam,smpi disini dulu thor.
    Bsk mlm baru aku bc n coment.

  16. Hiks..hiks…sedih rasanya,,fanyah koma:'(
    trus hyunie pergi kmn????

  17. fany koma, joohyun pergi..
    tae gampang banget kepancing sama emosinya..
    trus sekarang joohyun pergi kemana???

  18. Omo yah seohyun-ah jangan pergi, tae cepet cari seo sebelum dia benar” pergi 😭😭😭

  19. Damn gue ikutan sedih sumpah baca surat dr seohyun
    Tp gue jg cekikikan grgr bygin klo d akhir surat itu seandainya seohyun nulis gini :
    Sekali lagi maaf dan terimakasih untuk semuanya

    Taetiseo leader, seohyun.

    😂😂😂😂😂

  20. OMG my miyoung knp jd sprti ini,ini yg q tkutkn dn trjdi.pnyesaln sll dtg blkngn hal itu yg trjd pd seo.seorg ank yg msh bth perhatian n ksh syg tp hrs jd korban keadaan.sygny ortu tdk sdri iti n slg mnylhkn.smg tae bs sdri ucpnny….

  21. merinding pas fany ketabrak dan sayangnya ke joohyun..
    sedih nyesek pas baca surat dr hyunie buat taeng appa..T.T

  22. seohyun sepertinya akan menghilang wkwk

  23. chapter yang sedih..:'(
    joohyun mau pergi,fany yang koma trus tae yg marah sama anakx..bener2 menguras air mata..

  24. yey akhirnya seobaby nyadar juga 😀

    penasaran sama reaksi tae appa setelah baca surat dari seobaby

Comment Please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s